[FF/TWOSHOT] Become Undone – Already

c2tdnaiveaap18s

Author : Lideronyu

Cast : Kim Jonghyun || Otosaka Miwa (OC) || Kang Eunhyo (OC)

Genre : Romance, Friendship, Hurt

Length : Twoshot

Rate : PG-15

*Previous

~Happy Reading~

Jonghyun Side

Sudah tiga hari berlalu sejak pertemuanku dengan Miwa di Jepang. Namun, apa yang diucapkannya terakhir kali kerap membuatku selalu memikirkannya. Dia mengatakan kalau dia mencintaiku. Hal itu sungguh di luar dugaan.

Otosaka Miwa, gadis keturunan Jepang yang merupakan sahabat kecilku. Aku tak pernah menyangka kalau selama ini dia memiliki perasaan padaku, karena terakhir kali sebelum aku bertemu kembali dengannya di Seoul, dia terlihat membenciku. Dilihat dari perubahan sikapnya ketika kami naik ke kelas 2 SMA, dia menjadi lebih dingin padaku. Entah apa alasannya, tapi dia tidak seperti Miwa yang biasanya. Walaupun sifat dasarnya introvert, namun setidaknya dia selalu menimpali apa yang kuucapkan sebelumnya.

Ada satu hal yang dia tidak tahu. Aku sudah menyukainya sejak pertama kali kami bertemu. Saat itu aku melihatnya di upacara pemakaman ayahnya yang meninggal karena serangan jantung. Gadis kecil itu terlihat tak menangis sedikit pun, padahal orang yang disayangnya baru saja tiada. Aku sempat berpikir, apa dia tidak sedih ditinggal Ayahnya? Namun, aku salah. Saat melihatnya dari dekat, dia seakan menahan sesuatu. Dia mencoba untuk tegar, tapi aku bisa dengan jelas melihat iris bening itu mulai memerah. Dari situ aku mulai penasaran dengan sosok Miwa dan ingin mencoba dekat dengannya.

Miwa adalah tipe orang yang agak susah didekati. Sifatnya berbanding terbalik denganku. Aku hiperaktif sedangkan ia kurang suka bergaul dengan anak-anak seumurannya. Tapi karena kita tumbuh bersama sejak kecil, selalu sekelas sejak SD, dan sering pula aku berkunjung ke rumahnya, hingga akhirnya ia terbiasa dengan kehadiranku kemudian tanpa disadar kami sudah menjadi teman.

Aku sengaja tidak pernah memberitahukan perasaanku yang sebenarnya pada Miwa. Aku takut jika hal itu terlontarkan, ia akan menjauh dariku. Maka itu, aku memilih untuk menjaga hubungan persahabatan kita. Awalnya kupikir dengan dekat bersamanya saja sudah cukup bagiku, tapi yang ada perasaanku makin tumbuh membesar seiring dengan bertambahnya usia remaja kami. Aku ingin membendungnya, tapi aku tidak mau menjauh dari Miwa. Lalu aku memutuskan untuk mengalihkan perasaanku dengan cara mengencani gadis-gadis lain. Alih-alih membuatnya cemburu, dia malah sama sekali tidak peduli.

Aku sempat kecewa dengan pemikiran kalau dia tak menganggapku lebih dari seorang sahabat. Yah, mungkin aku harus menerima kenyataan bahwa hubungan kami tak akan pernah berubah. Sampai hari itu tiba, sikapnya berubah lebih dingin. Ia sering tak mengacuhkanku meski aku tetap berusaha untuk dekat dengannya. Dan puncaknya yang membuatku amat gelisah adalah saat ia benar-benar menganggapku seperti orang lain. Ia bahkan mengatakan padaku untuk berhenti memanggilnya ‘Mi-chan’—panggilan akrabku padanya sejak kecil—dan bilang kalau aku berhenti mengusiknya. Aku sungguh tidak mengerti, apa selama ini aku menjadi pengganggu untuknya? Pada akhirnya aku mengalah untuk tidak dekat-dekat dengannya lagi, aku tidak ingin ia semakin membenciku. Aku hanya memperhatikannya dari jauh, memastikan bahwa dia baik-baik saja. Hingga tiba untukku pindah kembali ke Korea, dan tak sempat pamit pada Miwa. Aku takut kalau ia masih tidak ingin melihat sosokku. Walaupun sebenarnya aku sangat-sangat merindukan gadis itu, bahkan sampai tahun-tahun setelahnya. Karena Miwa adalah cinta pertamaku.

***

Aku meneguk Rum dari lowball glass yang kelima. Rasa pening di kepala mulai menjalar. Mungkin yang kulakukan sekarang terbilang cukup gila, karena aku merupakan pribadi yang tak terlalu mengkonsumsi banyak alkohol. Namun, untuk sekarang aku ingin melepas semua kedilemaan yang hinggap sejak beberapa hari ini.

Tiga hari lagi aku dan Eunhyo akan melangsungkan ikatan janji suci antar sepasang kekasih. Tapi apakah ini keputusan yang benar di saat hatiku kini mulai bimbang? Setelah mengetahui perasaan Miwa padaku, tiba-tiba ada segunduk rasa bersalah jika aku tetap melanjutkan rencana pernikahan itu. Aku meragu jika hatiku ini sudah sepenuhnya diisi oleh Eunhyo atau masih ada tempat untuk Miwa. Hal ini membuatku goyah, bagaimana jika pada akhirnya aku hanya akan menyakiti Eunhyo? Aku tidak ingin egois, tapi aku juga tidak ingin menjalaninya dengan setengah hati seperti ini.

Dengan setengah sadar, aku melangkah keluar meninggalkan Pub yang sejak beberapa jam lalu menjadi tempat pelampiasan kegalauanku ini. Kulihat lambor putih yang sudah terpampang di depanku. Aku memasuki mobil itu, di dalamnya sudah ada seorang supir yang sebelumnya sengaja kusewa untuk mengantarkan ke suatu tempat. Setelah aku selesai memakai sabuk pengaman, supir itu melajukan kendaraan roda empat ini.

Dua puluh menit berlalu, supir sewaan itu menyerahkan kunci lambor padaku kemudian berbungkuk sebelum akhirnya pergi. Aku berjalan gontai menuju lift yang ada di basement sebuah apartemen, menekan tombol naik lift tersebut dan menunggu beberapa saat sampai pintu lift itu terbuka. Aku masuk ke dalam besi kotak tersebut, lalu menekan angka 8 yang membawaku ke tempat di mana Eunhyo tinggal. Sesampainya di lantai 8, aku melangkah menuju salah satu pintu apartemen. Tanganku terangkat untuk menekan bel pada ruangan bernomorkan 937.

Ting Tong

Masih tidak ada jawaban, aku menekan bel itu lagi. Benar-benar waktu yang tidak tepat untuk mengunjungi seseorang di jam seperti ini. Mungkin Eunhyo sudah terlelap mengingat sekarang jarum jam menunjukan pukul 2:00 pagi. Namun, setelah beberapa menit menunggu, akhirnya pintu itu terbuka. Dengan pandangan samar, aku melihat raut wajah Eunhyo yang tampak terkejut.

“Jjong?” pekiknya.

Aku berusaha untuk tersenyum meski keadaan fisik maupun psikisku sekarang sedang berjalan setengah sadar. Eunhyo mencoba membopongku masuk ke dalam apartemennya.

“Kau mabuk, ya?” Sepertinya ia mulai sadar setelah mencium bau alkohol yang menyengat di tubuhku.

Eunhyo membaringkanku di sofa ruang tivi, kemudian ia melangkah pergi entah kemana. Selang tak lama, sosoknya kembali dengan membawa segelas air putih.

“Minumlah,” ujarnya seraya membantuku meneguk air tersebut.

Tubuhku yang tadinya terasa panas akibat beberapa gelas rum, kini berangsur mereda. Meski pusing masih menjalari, tapi rasa mual sekarang tidak separah tadi.

Kurasakan tangan mungil Eunhyo menyeka sebulir keringat yang jatuh dari pelipis. Ia tidak bersuara lagi untuk bertanya kenapa aku bisa sampai di sini dalam keadaan seperti ini, alih-alih membopong tubuhku lagi menuju kamar tamu.

“Istirahatlah.” Eunhyo mengecup pipiku sekilas, sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruangan ini.

Bagaimana caranya aku menjelaskan semua ini pada Eunhyo, tentang tujuanku datang ke apartemennya untuk meminta membatalkan pernikahan kami? Eunhyo gadis yang sangat baik, maka itu aku tidak ingin membuatnya terluka dengan menikahinya setengah hati. Tapi apa ini keputusan yang benar? Aku telah berpacaran dengannya selama kurang lebih empat tahun, dan tentu saja aku mencintainya. Namun, pendirianku goyah setelah mendengar pernyataan cinta Miwa. Gadis itu menciumku dengan air mata yang berlinang dari iris coklatnya. Saat itu semua perasaan sesak, bergetar, dan pilu merambahi hatiku. Apa itu artinya aku masih mencintai Miwa? Jika iya, maka aku sungguh tak pantas untuk membawa Eunhyo ke pelaminan.

Beberapa memori terus berputar di benakku, entah itu tentang Miwa maupun Eunhyo. Lalu tanpa sadar mataku sudah mulai terpejam dan membawaku ke alam mimpi.

“Eunhyo, maafkan aku. Kita tidak bisa melanjutkan rencana pernikahan ini.”

“Apa? Kau bercanda, kan? Memang apa alasanmu?”

“Maaf…”

“Jjong! Jelaskan padaku! Kau gila? Pernikahan kita tinggal menghitung hari. Kau tidak mencintaiku?

“…”

~

“Jonghyun-ah, kau di mana? Tinggal beberapa menit lagi resepsi penikahanmu akan dimulai.”

tut.. tut…

Aku akan tetap menunggunya, Eommonim. Jonghyun pasti datang.”

“Saat ini mungkin Jonghyun sedang mempersiapkan kejutan untukku.”

“Kita masih bisa melangsungkannya, walaupun waktu resepsinya sudah lewat.”

“Aku yakin, sebentar lagi ia akan tiba.”

“Ia tak mungkin meninggalkanku ‘kan, Eommonim?”

“Aigo, Eunhyo-ah, maafkan anakku. Kibum dan Jinki sedang mencari keberadaan anak bodoh itu. Jadi, berhenti menangis sayang, make up-mu jadi luntur.”

“Eunhyo-ah!!! Eunhyo-ah, sadarlah!

~

“Hooosh…, hooosh….” Napasku memburu mengingat mimpi yang baru saja kualami.

Di alam itu aku melihat sosok cantik Eunhyo yang berbalut dengan gaun pernikahan berwarna putih gading. Ia menangis pilu bahkan sampai pingsan menantikan sosok diriku yang lari di hari pernikahan kami. Dadaku sesak mengingat mimpi itu, sangat sakit rasanya melihat Eunhyo menangis. Tapi bukankah ia akan lebih menderita jika menjalani pernikahan dengan seorang pria yang hatinya entah ke mana?

Krek

Suara decitan pintu kamar berbunyi. Aku melihat gadis yang masih berstatus sebagai calon istriku itu berjalan menghampirku. Ia duduk di tepi ranjang, bersebelahan dengan diriku yang masih nanap akan mimpi tadi.

“Sudah bangun?” sapanya, membuatku menoleh pada gadis itu.

“Kau baik-baik saja? Keringatmu banyak sekali. Kau sakit?” Ia bersuara lagi dengan nada khawatir seraya menyeka keringatku, percis yang dilakukannya semalam.

Aku tertegun. Melihat wajah Eunhyo, mengingatkanku pada mimpi dimana ia menangis karena diriku. Dengan bodohnya menungguku yang tak kunjung datang, yang meninggalkannya begitu saja. Kenapa di mimpi itu ia tidak membenciku, alih-alih berharap banyak pada pria brengsek ini? Kau tidak seharusnya memperlakukaku seperti ini, Eunhyo.

Aku berangsut memeluk tubuh Eunhyo, membuat gadis itu menghentikan aktivitasnya. “Maafkan aku, Kang Eunhyo.”

***

Suara musik jazz melantun pelan di sebuah kafe. Aku duduk di dekat jendela yang berhadapan langsung dengan jalanan. Kulirik jam tangan yang terpasang di lengan kiriku sambil menyesap satu cangkir macchiato. Masih ada waktu 15 menit lagi menuju pertemuanku dengan seseorang.

Ting

Pemberitahuan pesan masuk dari ponselku berbunyi.

From : Otosaka Miwa

Aku sudah sampai, kau di mana?

Aku melihat sesosok gadis berambut hitam panjang lurus tengah menelusuri pandangannya ke setiap sudut kafe dari arah pintu masuk.

To : Otosaka Miwa

Paling pojok, dekat jendela.

Setelah pesanku terkirim, ia terlihat mengecek ponselnya kemudian detik berikutnya mata itu menangkap sosok diriku yang kini sedang melambai ke arahnya. Ia berjalan mendekat sambil tersenyum tipis.

“Hai,” sapanya dengan nada yang terdengar sedikit kaku.

Aku tersenyum ke arahnya. “Mau pesan apa?” tawarku, mencoba bersikap seperti biasa agar ia tidak merasa terbebani. Ini merupakan pertemuanku kembali dengan Miwa setelah kejadian di Jepang tempo hari. Aku sengaja mengajak bertemu di sini karena ada sesuatu yang ingin kubicarakan.

“Tidak usah. Aku tidak bisa lama-lama karena satu jam lagi ada meeting dengan klien.”

“Ah, maaf sudah mengganggu waktumu.”

Ia menggeleng. “Tak apa. Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?” tanyanya langsung ke inti.

Aku menarik napas dalam lalu menghembuskannya dengan pelan. “Miwa…,”

“Gomen ne (Aku minta maaf), Jonghyun.” Tiba-tiba saja ia memotong ucapanku yang baru mengeluarkan satu kata. “Maaf, soal kejadian di Tokyo kemarin.”

Miwa menundukan kepala sambil menggigit bibir bawahnya. “Aku… tidak seharusnya melakukan hal itu,” tambahnya sesal.

Hening sejenak. Keadaan ini sempat membuat kami canggung.

“Kau tidak salah, Miwa. Terima kasih sudah mengatakan yang sebenarnya padaku.” Akhirnya aku membuka suara. Ia kini mendongkak ke arahku dengan pandangan nanar. “Boku mo, Miwa no koto sukida ta (Aku juga dulu menyukaimu, Miwa).”

Netra milik gadis di depanku tampak membesar. Sepertinya ia cukup terkejut dengan ucapanku barusan.

“Tapi saat ini, ada orang lain yang benar-benar kucintai.”

Ya, sejak mimpi itu menghampiriku, aku jadi sadar akan sesuatu. Sebenarnya sejak Miwa mengatakan perasaannya padaku, hatiku sudah tidak lagi terisi olehnya. Jika aku memperhatikannya lebih dalam tanpa membawa ego, maka akan lebih mudah menjawab perasaan ini. Meski sempat goyah akan kedilemaan hati, tapi sekarang aku yakin bahwa Kang Eunhyo adalah gadis yang saat ini sangat aku cintai, sedangkan Otosaka Miwa hanyalah cinta lamaku. Seiring berjalannya waktu, tanpa kusadari posisi Miwa sudah lama tergantikan sejak aku memulai pacaran dengan Eunhyo. Eunhyo yang mengisi hari-hariku dan mendampingiku selama empat tahun terakhir. Sebuah hubungan tidak akan berakhir lama jika tidak dilandasi oleh cinta, iya ‘kan?

Kulihat Miwa kini tengah mengulas senyum tipisnya. Ia kemudian berkata, “Aku sudah tahu itu. Sejak dua tahun lalu, saat aku datang dan bertemu lagi denganmu di tempat kerja, kau sudah menjadi pribadi yang dewasa. Terutama saat kau memperkenalkan kekasihmu padaku. Tatapan matamu seakan berbicara kalau kau sangat mencintainya. Dan saat itu juga, aku sudah mempersiapkan diri jika kenyataannya akan jadi seperti ini.”

Penuturan gadis ini sempat membuatku tertohok. Aku merasakan ketulusan kata-katanya dari seorang sahabat. Dia adalah sabahat kecil yang benar-benar mengenalku. Aku bersyukur pada kenyataan bahwa kita pernah saling mencintai walaupun baru terungkapkan dalam waktu yang telat. Namun, perasaan manusia bisa berubah elastis kapan saja seperti warna kulit seekor bunglon yang hinggap di tempat berbeda. Begitu juga dengan hatiku.

“Jadi, kita masih bersahabat ‘kan?” Miwa bersuara lagi.

“Ck,” Aku mendecak kecil mendengar pertanyaan bodohnya. “Tentu saja, baka (bodoh)!”

Tanganku terulur untuk menjitak kepalanya, namun dengan gerakan spontan ia bisa langsung menepisnya, lalu kami pun tertawa bersama.

“Aku turut bahagia atas pernikahanmu, Jonghyun. Semoga kalian langgeng sampai maut memisahkan.”

Aku tersenyum simpul dan Miwa balas tersenyum juga.

“Baiklah kalau begitu, aku harus pergi sekarang.” Ia mengecek ponselnya, kemudian beranjak dari kursi.

“Aku  juga selalu berdoa agar kebahagiaan selalu mengiringimu, Mi-chan.

Ia terlihat meringis mendengar panggilan yang paling dibencinya itu, sebelum akhirnya berlalu meninggalkan kafe ini.

Aku senang karena semua ini masih berjalan dengan baik. Dan ada satu hal yang kupahami pada akhirnya. Tentang apa yang dikatakan orang bahwa ‘sebagian besar’ persahabatan yang terjalin antara laki-laki dan perempuan itu tidaklah abadi. Entah dari pihak laki-laki, perempuan, maupun keduanya, pasti akan menyeret sebuah kata cinta dalam hubungan itu. Tak terkecuali yang terjadi padaku dan Miwa. Namun untungnya, hubungan persahabatan kami masih bisa dijaga meski tak harus saling memiliki. Setidaknya itulah makna persahabatan yang aku dan Miwa miliki.

—————————-END—————————

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s