[FF/TWOSHOT] Become Undone – When I…

bdee1d84298d31182f94394c45dd625f

 

Author : Lideronyu

Cast : Otosaka Miwa (OC) || Kim Jonghyun

Genre : Friendship, Romance, Hurt

Length : Twoshot/Universe(?)

Rate : PG-15 (Ada adegan kekerasan dikit—pembullyan)

A/N: gabisa bikin juduuul, ngasal aja ini judulnya. Alurnya juga gaje -_-

~Happy Reading~

Miwa Side

Aku berjalan menuju bangku taman Ueno yang sedang dihuni oleh seorang pria. Dia tengah menyesap kopi dari gelas kertasnya, kemudian menoleh ke arahku ketika langkahku kian mendekatinya. Pria itu tersenyum menyambut kedatanganku.

“Kau menunggu lama?” tanyaku sembari menerima satu gelas kopi lain dari tangannya.

Ia menggeleng masih dengan senyum manisnya. Senyum yang selalu menghangatkan hatiku sejak dulu. Pria di sampingku ini bernama Kim Jonghyun, sahabatku. Kami sudah berteman sejak lama, aku mengenalnya saat ia pertama kali menginjakan kakinya di tanah kelahiranku 17 tahun lalu. Kehadirannya telah mencairkan isi hatiku yang membeku.

Aku melihat foto Ayah yang terpampang di depan altar dikeliling oleh beberapa pajangan bunga. Di sebelahku, Ibu tak henti-hentinya mengeluarkan air mata sejak beberapa saat lalu. Beberapa orang berpakaian hitam kian bergantian memberikan penghormatan terakhir pada peti yang menjadi tempat peristirahatan terakhir Ayah. Sedang Aoi—adikku yang berumur 5 tahun di bawahku—hanya memberikan tatapan bingung berada di pelukan Ibu. Ia memang belum paham dengan apa yang terjadi saat ini, di umurnya yang baru menginjak 3 tahun, Aoi tak tahu kalau Ayah tidak akan kembali bersama kita lagi. Kenangannya bersama Ayah tidak begitu banyak dibanding dengan milikku. Meskipun hari-hari kedepannya aku ingin terus Ayah mengisi memori kehidupanku.

Aku berjalan keluar dari kerumunan orang, mengabaikan panggilan Ibu yang terdengar bergetar. Mencoba menahan apa yang sedang kurasakan, aku memilih duduk pada salah satu bangku di ruangan yang kini dihuni oleh pilu kesedihan tersebut.

“Kasihan sekali ya, Hana-san. Otosaka-san meninggalkan dirinya dan dua anaknya yang masih kecil secara tiba-tiba.”

“Benar, padahal ia masih muda, tapi penyakit jantung malah merenggut nyawanya dalam sekejap mata.”

Suara bisikan-bisikan tersebut terdengar samar di telingaku. Aku menarik napas, kemudian menghembuskannya dengan pelan. Ayah bilang, aku tidak boleh menjadi anak yang cengeng, jadi saat ini aku sedang berusaha untuk tidak mengeluarkan setetes air yang jatuh dari pelupuk mata. Sebagai anak tertua, aku harus bisa menjadi kebanggaan Ayah, seorang yang kuat seperti apa yang telah Ayah ajarkan. Bahkan dulu pernah saat pertama kali aku masuk TK, Ayah melihatku menangis karena jatuh tersandung lalu mengatakan padaku bahwa aku harus kembali berdiri sendiri, kemudian ia bilang kalau aku juga harus lebih hati-hati saat berjalan. Meskipun pada akhirnya Ayah tetap mengobati sikuku yang terluka.

Sreek…

Bangku di sebelahku bergerak. Aku menolehkan kepala, terlihat seorang anak laki-laki yang kuperkirakan berusia sama denganku tengah menatapku dengan pandangan yang sulit diartikan.

Daijoubu? (Kau baik-baik saja?)” tanyanya dengan aksen suara yang terdengar aneh. Sepertinya ia bukan orang Jepang.

Aku hanya menatapnya dengan datar sambil berpikir siapa sebenarnya anak laki-laki yang tak pernah kulihat sebelumnya ini.

“Kim Jonghyun-desu (Namaku Kim Jonghyun),” ujarnya lagi dengan tangan terulur di depanku, “aku baru pindah di sebelah rumahmu dua hari lalu.”

Tanpa menghiraukannya, aku mengalihkan pandanganku ke depan. Aku tidak bisa gampang akrab dengan orang asing, sedikit risih rasanya  jika seseorang berusaha sok dekat dengaku. Entahlah, sikap ini sudah mendarah daging sejak kecil—walaupun saat ini aku masih terbilang anak-anak juga. Saat Ayah bilang aku harus menjadi orang yang kuat, maka selama ini aku selalu berusaha sendiri tentang apapun tanpa menerima uluran tangan orang lain.

“Matamu terlihat memerah?” Anak laki-laki bernama Kim Jonghyun itu bersuara lagi, tidak menyerah rupanya. “Ambil ini, barangkali kau membutuhkannya.” Ia lalu menarik tanganku tanpa ijin, dan menaruh sebuah sapu tangan di telapak tanganku.

“Jangan ditahan,” katanya lagi, kemudian berlalu dari hadapanku.

Beberapa kelopak bunga berwarna putih kemerah-jambuan berjatuhan menghiasi aspal jalan. Musim dingin sudah berganti menjadi musim semi sejak sebulan lalu. Hiruk pikuk orang yang berlalu lalang terlihat kian menikmati mekarnya pohon sakura di taman Ueno. Bukan hal aneh lagi untuk sebagian orang, tak terkecuali diriku dan Jonghyun.

“Yang lain belum datang?” tanyaku pada pria di sampingku ini. Pasalnya kemarin Jonghyun mengabariku untuk mengajak keluar jalan-jalan mengelilingi Tokyo selepas selesainya pekerjaan di kota ini. Yah, meskipun Tokyo merupakan tanah kelahiranku, tapi sekarang aku tinggal dan bekerja di Seoul. Namun saat ini, perusahaan tempatku bekerja serta perusahaan tempat Jonghyun bekerja sedang mengadakan sebuah proyek bersama dimana kebetulan kita berdua—dan tim lainnya—ditugaskan untuk dinas ke negeri sakura ini.

“Tidak ada, aku hanya mengajakmu, Mi-chan.” jawabnya seraya mencubit pipi kiriku.

Aku menyingkirkan tangannya yang menempel di wajahku, “Jangan panggil aku dengan sebutan itu!” protesku sedikit ketus. Ia hanya tertawa melihat ekpresiku yang terkesan kurang menyukai panggilannya tadi. “Bukannya kemarin kau bilang kita akan jalan-jalan bersama untuk melepas penat?”

“Ya, benar, tapi hanya kau dan aku saja.” Jonghyun menghabiskan tegukan terakhir kopinya, kemudian ia kembali tersenyum sambil menatapku, “Kita sudah lama tidak menikmati suasana Tokyo bersama, ‘kan? Aku ingin kembali bernostalgia seperti dulu.”

Pria bermarga Kim itu beranjak dari duduknya kemudian menggiringku berjalan menapaki jalan taman terkenal di Jepang ini. Aku menyesap caffe latte yang tadi diberikan Jonghyun sambil menikmati pemandangan sekitar. Meski di Korea juga tumbuh pohon cherry bloosom, tapi kesannya tetap saja beda dengan yang ada di Jepang. Aku lebih suka pohon sakura yang mekar di sini, entahlah, mungkin karena aku sendiri berasal dari negara ini.

“Hey, bagaimana kalau berkunjung ke sekolah SMA kita dulu?”

“Eh?” Aku mengernyit mendengar ajakan Jonghyun. Ke sekolah SMA untuk apa? Bukankah berkeliling di sekitar area Ueno jauh lebih mengasikan?

Jonghyun tidak mengacuhkan keherananku dan malah menarik tanganku menuju sebuah taksi yang kebetulan berhenti tidak jauh dari kami.

***

Gerbang besar dengan ukiran nama ‘Kamiyama High School’ terpampang di hadapan kami. Hari ini akhir pekan, jadi tidak ada penghuni di tempat itu selain penjaga sekolah. Jonghyun membawaku ke arah belakang sekolah, karena jika kami mencoba masuk lewat gerbang depan, sudah pasti penjaga sekolah tidak akan mengijinkan masuk pada orang luar tanpa alasan tertentu. Ini merupakan kebiasaan lamanya saat dulu ia sering datang telat, anak ini pasti akan menerobos masuk melalui jalan pintas belakang tanpa sepengetahuan guru maupun penjaga.

Mataku menelusuri setiap sisi area sekolah ini. Tidak banyak yang berubah, hanya bertambah beberapa bangunan baru yang belum pernah kulihat semasa SMA dulu dan cat gedung yang berganti warna. Aku dan Jonghyun berjalan melewati koridor kelas lantai dua dan berhenti di kelas urutan ketiga dari arah tangga. Jonghyun membuka pintu kelas tersebut yang memang ternyata tidak terkunci dan aku mengikutinya dari belakang.

“Dejavu,” guman Jonghyun pelan namun masih bisa terdengar olehku. Ia duduk di kursi paling belakang dekat jendela. Itu merupakan tempat duduk Jonghyun saat pertama kali kami memasuki sekolah ini.

“Yah, sudah 10 tahun berlalu sejak saat itu,” sahutku seraya ikut duduk di sebelahnya. Memori tahun-tahun silam kembali berputar di otakku, dimana aku mulai mengetahui beberapa hal baru.

Oi, Mi-chan!!!” teriakan seseorang membuyarkan konsentrasiku yang tengah membaca sebuah novel. Orang itu dengan wajah cerianya berlari ke arahku, diikuti tatapan seisi kelas yang melihatnya dengan suara bisik-bisik. Mungkin karena orang tersebut punya raut wajah yang tampak asing dibandingkan rata-rata paras orang Jepang.

“Kau berisik sekali, Jonghyun,” cetusku, lalu kembali membaca novel yang tadi sempat terhenti.

“Kita sekelas lagi, bahkan tempat dudukku berada di sebelahmu!” serunya antusias. Aku melirik sekilas, dia terlihat agak sedikit aneh dengan setelan Gakuran (saat SMP kami mengenakan model seragam biasa) yah, walau tak menghilangkan kesan karismatiknya. Kuakui tetangga sekaligus temanku yang satu ini memang tergolong siswa laki-laki tampan yang digilai para gadis. Terbukti saat hari pertama masuk sekolah ini sudah banyak siswa perempuan yang berbisik-bisik sambil melirik genit ke arah Jonghyun.

“Hey, sepertinya siswa di sekolah ini banyak gadis-gadis cantiknya,” ocehnya lagi diiringi dengan cengiran jahil. Sedang, aku tak menanggapinya dan tetap fokus pada novelku.

Mungkin seperti yang orang bilang bahwa masa puber akan datang saat memasuki sekolah menengah pertama atau awal sekolah menengah atas. Namun, aku tidak merasakan perubahan apapun sampai saat ini. Tujuanku di sini adalah untuk mencari ilmu, bukan mengincar laki-laki tampan, kepopuleran, ataupun cinta.

“Benar, tidak terasa sudah berlalu sangat lama. Ah, tapi aku masih ingat! Saat pertama kali masuk sekolah, sudah banyak saja yang mengincarku, haha .…” Jonghyun berujar dengan tingkat kepercayaan diri yang tinggi.

Aku memutarkan bola mata, ia masih saja seperti Jonghyun yang dulu, sangat percaya diri. Walaupun dari sifatnya itu membuatnya memiliki banyak teman semasa sekolah. Berbanding terbalik denganku.

“Dan saat itu juga sifat playboy-mu mulai muncul,” cibirku.

Jonghyun malah tertawa dan bangkit dari duduknya, kemudian berjalan ke arah papan tulis. Ia mengambil sebuah kapur yang ada di sisi papan tulis lalu menulis-nuliskan sesuatu pada benda persegi panjang tersebut.

Aku menopangkan daguku di tangan yang bertumpu pada meja. Kulihat sahabatku itu kini tengah menggambar beberapa karakter komik, seperti kebiasaannya saat dulu. Kupikir tangannya adalah tangan seni, ia selalu menggambar dengan sangat bagus, namun sayangnya ia tidak tertarik menjadi mangaka ataupun seniman rupa.

“Kau sendiri malah makin penyendiri. Sejujurnya saat itu aku sangat khawatir kalau kau akan jadi anti sosial.”

Aku tersenyum kecut mendengar ejekannya. Dulu, kepribadianku dan Jonghyun sangatlah kontras. Hingga sekarang dia masih menjadi pribadi yang ceria dan mudah bergaul dengan siapa saja. Sementara aku lebih suka sendiri dan fokus pada hal yang kulakukan. Namun, seorang Kim Jonghyun tetaplah Kim Jonghyun. Seberapa dekat dengan yang lain, ia selalu mengutamakan diriku sebagai sahabatnya. Aku merupakan orang yang sangat tidak peduli pada keadaan sekitar, tapi ia selalu muncul di hadapanku mengajakku mengobrol, memaksaku bermain bersamanya meski tak jarang kuhiraukan. Hingga beberapa hal yang tak pernah kuinginnya terjadi bertubi-tubi.

Brakk!

Ouch!” Aku meringis saat merasakan punggungku terbentur tembok cukup keras. Kini di depanku ada empat orang gadis tengah menyeringai licik. Aku menatap kesal penuh tanya ke arah mereka. Apa-apaan menyeretku secara paksa ke belakang gedung sekolah, memangnya aku salah apa?!

“Hey, Miwa-san, jangan pernah coba dekat-dekat dengan Jonghyun-kun!” ujar salah satu diantara empat gadis itu. Ia mencengkram daguku dengan tangannya.

Hah? Apa katanya? Ck, jadi ini ada kaitannya dengan Jonghyun. Mungkin karena Jonghyun terlalu dikagumi oleh kaum hawa, jadi beberapa penggemarnya merecoki kehidupanku yang diketahui bersahabat dengan laki-laki itu. Atau lebih tepatnya karena Jonghyun selalu nempel bersamaku.

Aku menepis kasar tangan gadis itu, “Aku tidak mencoba, tapi memang aku sudah dekat dengannya sejak kecil,” ujarku menantang. Kudorong bahu gadis yang ada di depanku kemudian berlalu meninggalkan mereka.

~

Awalnya aku tidak terlalu peduli dengan kecemburuan para penggemar Jonghyun yang berusaha mengancamku. Kupikir mereka akan berhenti dengan sendirinya dan mengerti kalau aku dan Jonghyun hanyalah sebatas teman, tidak lebih. Karena Jonghyun sendiri sudah pasti tidak menganggapku sebagai perempuan—dalam arti romantis. Jadi kenapa mereka harus khawatir, huh?

“Mi-chan, maaf hari ini aku tidak bisa pulang bersamamu. Aku ada janji dengan Haruna. Kau tahu ‘kan, gadis tercantik seangkatan kita?” ujar Jonghyun kepadaku setelah bel pulang bunyi beberapa menit lalu.

Aku memasukan buku-buku ke dalam tas tanpa melihat ke arah Jonghyun. “Aku tidak minta ditemani pulang olehmu,” tuturku cuek.

Kulirik Jonghyun kini mengkerucutkan bibirnya. Sepertinya dia agak kecewa karena ketidakpedulianku. Diam-diam aku tersenyum geli melihat ekspresinya yang terlihat seperti anak kecil itu.

“Dia targetmu yang ke berapa? Kita baru melangsungkan satu semester, tapi kau sudah memacari banyak gadis di sekolah ini,” sindirku seraya beranjak keluar dari kelas.

Ia mengekor, lalu menyamakan langkahnya denganku.

“Memangnya salah, ya? Hey, jangan bilang kau sedang cemburu?”goda Jonghyun, ia mencolek daguku dengan seringai bodohnya.

Sontak aku menghentikan langkah dan menatapnya dengan sinis. Namun, dia malah tertawa terbahak-bahak. Apa ada yang lucu, huh?

“Haha … aku hanya bercanda. Tenang saja, walau aku punya banyak pacar, aku masih akan tetap menjadi sahabatmu, Mi-chan.” Jonghyun mengelus-elus puncak kepalaku seperti anak anjing, sebelum akhirnya lari meninggalkanku sendiri.

Aku mendengus mendengar ucapan terakhirnya. Semakin ia menyadari kepopulerannya, semakin tinggi pula tingkat kepercayaan dirinya. Aku bingung sendiri kenapa sejak masuk SMA ia jadi gesit sekali mendekati perempuan, padahal saat SMP dulu walaupun sudah banyak disukai, tapi ia tampak tak peduli dan malah membuntutiku ke mana-mana. Entahlah, pubertas mungkin.

Tak mau pusing memikirkannya, aku pun mulai berjalan lagi. Namun, baru saja beberapa langkah, aku merasa ada yang membekapku dari belakang dan menyeretku tanpa ijin. Tanpa mengetahui siapa pelakunya, aku sontak meronta. Tapi perlawananku kalah telak karena sepertinya orang yang menyerangku lebih dari satu.

Ketika mencapai belakang gedung sekolah, mereka menghempaskanku ke tanah dengan kasar. Aku baru bisa melihat dengan jelas saat mereka berdiri tepat di hadapanku. Rupanya mereka adalah para penggemar Jonghyun yang tempo hari mengancamku.

Aku meniup poniku jengah, “Apa lagi kali ini?” tanyaku to the point pada keempat gadis itu.

Plakk!

Sebuah tamparan mulus mendarat di pipi kananku.

“Itu untukmu karena masih berani dekat-dekat dengan Jonghyun.”

Plakk!

“Dan itu untukmu yang tak mendengar perintah kami.”

Kini kedua pipiku memanas akibat tamparan dari tangan nista milik gadis di depanku. Aku mencoba berdiri, mendongkak tanpa rasa takut, “Kenapa kalian selalu menyerangku? Aku hanya sahabat dekat Jonghyun, tidak ada hubungan romantis diantara kita!”

“Justru itu! Karena kau sahabat Jonghyun-kun, maka kau akan terus berada di dekatnya. Kita semua tahu kalau Jonghyun-kun selalu menjalin hubungan dalam waktu singkat dan dia akan kembali padamu sebagai peredanya. Kau pasti memanfaatkan situasi itu, kan?!”

Aku berdecak mendengar penuturan penggemar Jonghyun itu. Lantas mereka ingin menjadikan Jonghyun milik bersama? Pemikiran yang bodoh!

“Terserah kalian, aku sudah mengatakan yang sejujurnya. Kalau kalian bukan pecundang, seharusnya kalian menyatakan perasaan kalian langsung pada Jonghyun, dibanding menyudutkanku seperti ini. Such an useless thing!” desisku sarkastis.

Empat pasang mata itu menatap murka ke arahku. Salah satu tangan gadis berambut sebahu di sampingku—yang sedari tadi tak membuka suaranya—kini berangsut menjambak rambutku dengan kasar. Aku meringis seraya berusaha melepaskan tangan gadis itu, tapi salah satu teman yang ada di sebelahnya malah mencengkram kedua tanganku. Lalu tanpa kuduga gadis lain yang berambut ikal dengan tinggi semampai menumpahkan isi kaleng jus jeruk—yang tadi sempat ia minum—ke kepalaku. Mereka terus menindasku sampai aku sudah tidak bisa berkutik meski saat ini emosiku kian memuncak. Bisa ditebak siapa yang menang diantara empat lawan satu.

“Berani sekali kau menggurui kami. You will be better get lost, slut!” gadis yang sejak awal menjadi juru bicara mereka itu mendorongku hingga terjungkal. Aku tidak sempat menyeimbangkan diri hingga kepalaku bertabrakan dengan sebuah besi tumpul yang berada di sebelah kananku. Kurasakan setetes cairan anyir mengalir dari pelipis, kepalaku mendadak pening. Kemudian dengan samar aku melihat keempat gadis itu pergi dengan senyuman puas.

Sampai saat ini Jonghyun masih tidak tahu soal aksi pem-bully­-an yang dilakukan penggemarnya terhadapku. Aku sengaja tidak mengatakannya agar tidak memperpanjang masalah. Walau merasa jengah pada gadis-gadis itu, aku lebih memilih untuk jaga jarak dengan Jonghyun agar hidupku tenang seperti sebelumnya. Yah, meski ada alasan lain dibalik itu yang sangat-sangat kuharap Jonghyun tidak akan pernah mengetahuinya.

“Hey, jangan tunjukan ekspresi seperti itu, aku benar-benar khawatir padamu, tahu! Saat naik kelas 2, aku merasa kau semakin menjauhiku. Yah, walaupun itu karena kita tidak sekelas lagi. Tapi kupikir kau sengaja melakukannya?” Mata Jonghyun terlihat memicing ke arahku.

Aku berpaling menghindari kontak mata dengannya, lalu sambil berdehem aku berjalan menghampirinya.

“Kau tahu sendiri, dulu semasa SMA aku ini orangnya dingin dan lebih suka menyendiri,” kataku, berusaha mengelah. “Sudahlah, sekarang mending kita pergi saja ke tempat lain!”

***

Kali ini aku menyarankan Jonghyun agar kami pergi mengunjungi Shibuya. Sekeluarnya dari stasiun, aku dan Jonghyun berjalan menuju patung Hachiko yang berada tak jauh dari stasiun Shibuya. Kami mengabadikan moment bersama dengan berfoto di dekat patung anjing tersebut. Dulu, saat SMP kami juga pernah melakukannya. Meskipun aku kurang suka keramaian, tapi Jonghyun selalu memaksaku untuk ikut bersamanya. Dia bilang pada awal beberapa tahun pertamanya tinggal di Tokyo, ia belum sempat berkeliling kota ini untuk bersenang-senang bersama seorang teman. Makanya ia terus-terusan mengajakku.

Setelah puas ber-WeFie ria, aku dan Jonghyun berkeliling distrik yang merupakan kiblat fashion di negara Jepang ini. Masih seperti dulu, Shibuya selalu dipenuhi keramaian, baik warga dalam maupun turis asing. Sesekali kami berhenti di toko-toko yang menarik perhatian mata. Sambil mengingat beberapa hal saat dulu kami berkeliling Shibuya, aku tertawa mendengar lelucon Jonghyun. Apapun yang dilontarkannya pasti selalu menaikan suasana hati.

“Miwa, ayo kita cari makan! Perutku sudah mulai keroncongan rupanya.”

Aku melihat jam tangan yang terpasang di lengan sebelah kiriku. Masih pukul 15:45 sore, tapi sejak siang kami berdua memang belum makan apa-apa selain  cemilan tadi sepanjang perjalanan. Akhirnya aku mengangguk setuju, kemudian kami berlalu mencari tempat makan.

Setibanya di sebuah kedai dengan papan nama ‘Ichiran Ramen’, aku dan Jonghyun langsung memesan makanan yang tertera pada buku menu. Seorang pelayan menghampiri kami lalu mencatat pesanan kami, kemudian dengan sopan ia meminta kami untuk menunggu pesanannya dibuat.

“Apa kau masih sering ke sini setelah aku pindah ke Korea lagi?” tanya Jonghyun membuka pembicaraan.

 Aku menoleh, kemudian berpikir sebentar. “Sepertinya tidak. Kau tahu sendiri kalau aku tidak berteman dengan siapapun kecuali denganmu, bahkan sampai lulus. Dan saat kuliah di Nagoya pun, aku tidak sering datang ke Tokyo.”

Saat kelas 2 SMA tepatnya di semester dua, keluarga Jonghyun beserta dirinya memutuskan untuk kembali ke Korea karena urusan bisnis ayahnya. Ketika itu juga aku merasa kehilangan sosok yang selalu ada untukku.

“Lalu saat kuliah apa kau masih seperti di SMA, menyendiri?”

Aku menggeleng, “Ada sesuatu yang membuatku sadar setelah kau pergi meninggalkan Tokyo.”

Jeda sesaat, ia sempat tertegun mendengar jawabanku.

“Tidak selamanya aku bisa melakukan sesuatu sendiri, jadi aku mulai bersosialisasi pada umumnya dan menjadi seperti sekarang,” lanjutku.

Kulihat Jonghyun menyunggingkan senyum. “Ya, aku bahkan sempat terkejut oleh perubahanmu saat kau tiba di Seoul.”

Jonghyun tidak tahu betapa menderitanya aku setelah kepergiannya ke Korea. Bahkan aku sangat menyesali sikapku yang selalu menghindarinya tanpa tahu ia tidak akan lama lagi berada di Jepang.

Tuk

Sebuah nampan terpampang di meja dengan makanan yang kami pesan di atasnya. Pelayan itu menyodorkan satu mangkuk ramen ke hadapanku dan satu mangkuk lain ke hadapan Jonghyun.

“Selamat menikmati,” ucap sang pelayan, kemudian berbungkuk kecil dan berlalu meninggalkan kami.

Jonghyun menyisihkan potongan putih telur dari mangkuknya, lalu meletakan putih telur itu di mangkukku. Dan aku sendiri memberikan kuning telur milikku kepada Jonghyun. Hal yang biasa kami lakukan saat dulu mampir ke kedai ini. Itu karena aku tidak menyukai kuning telur sejak kecil, sedangkan Jonghyun bukanlah tipe pemilih makanan, namun ia berpikir tidak adil jika hanya aku yang memberinya kuning telur, jadi ia berinisiatif untuk menukar dengan putih telur miliknya.

Kami berdua menikmati ramen tersebut. Beberapa kali terdengar suara ‘sluurppp’ dari mulut kami.  Rasa ramennya masih seperti dulu, sangat enak. Kedai ini merupakan kedai ramen yang terkenal di Shibuya, tidak heran banyak pelanggan yang datang ke sini.

“Omong-omong, kenapa kau mendadak mengajakku keliling Tokyo hari ini? Bukankah lebih baik istirahat selepas pekerjaan yang baru terselesaikan kemarin? Belum lagi nanti malam kita sudah harus kembali ke Seoul,” ujarku di sela-sela makan.

“Sudah kubilang ‘kan sebelumnya, aku ingin bernostalgia mumpung kita sedang ada di sini. Lain waktu belum tentu kita bisa melakukannya, mengingat hari pernikahanku tinggal seminggu lagi,” tuturnya santai namun sukses membuat sumpitku berhenti tepat di depan mulut tanpa langsung memasukannya.

“Kenapa?” Jonghyun mendelik bingung ke arahku yang tiba-tiba mematung.

Aku menggeleng sambil tersenyum tipis kemudian melanjutkan suapan ramen ke mulutku.

Untuk sesaat aku lupa bahwa Jonghyun sudah terikat sebuah hubungan dengan seorang gadis di negeri ginseng sana. Mereka bahkan berencana untuk melangsungkan pernikahan yang terhitung beberapa hari lagi. Semakin bertambahnya usia, manusia semakin sadar akan keberadaannya. Tak terkecuali Jonghyun, kini ia sudah tidak seperti dulu lagi yang sering berganti-ganti pacar. Kupikir kali ini ia benar-benar serius menjalin hubungan, bahkan setahuku saat ini adalah waktu pacaran terlama yang ia jalani dengan kekasihnya yang sekarang.

Aku tersenyum miris. Sampai kapan pun Jonghyun akan tetap menjadi sahabatmu, Miwa, tidak lebih.

***

Matahari mulai bersembunyi di ufuk barat, langit yang tadinya biru berganti warna menjadi oranye. Sekarang pukul 17:40 waktu Tokyo, aku dan Jonghyun berada di sebuah kapal wisata yang berlayar di atas sungai Sumidagawa. Semilir angin berhembus menerpa rambutku yang tergerai. Aku mengambil sebuah kunciran dari saku coat, kemudian mencepol asal rambutku ke atas.

Hening. Tidak ada pembicaraan diantara kita, hanya menikmati udara senja yang mendingin namun juga sejuk. Lampu-lampu kota mulai terlihat menyala dari kejauhan. Sepertinya bulan sudah bersiap untuk menggantikan tugas si raja api. Dan masih ada waktu tiga jam lagi untuk pemberangkatan ke Seoul.

“Miwa .…” Jonghyun bersuara.

“Hmm?” sahutku singkat dengan mata terpejam.

“Ada yang ingin kutanyakan.”

Aku membuka mata dan menoleh ke arahnya. Dia terlihat tengah memandang lurus ke arah lampu perkotaan di sebrang sana.

“Soal apa?” tanyaku balik.

“Aku penasaran saat dulu kau tiba-tiba menghindariku .…”

DEG

“… Apa aku punya salah padamu? Kau bahkan bersikap sangat dingin padaku.” Jonghyun menatap ke arah bola mataku.

Mulutku terbuka sedikit, entah harus bagaimana aku menjawabnya. Aku tidak pernah menyangka kalau Jonghyun akan membahas soal ini. Terlebih lagi mempertanyakan alasan dibalik aku menghindarinya dulu. Pem-bully-an para penggemar Jonghyun mungkin menjadi salah satu alasannya, tapi ada hal lain yang membuatku melakukan itu. Hal yang menyadariku akan sesuatu.

“Mi-chan, aku punya kupon diskon Mac. Ayo kita ke sana sepulang sekolah!”

“Mi-chan, kemarin kenapa kau tak datang? Aku menunggumu di depan gerbang, tapi kau tak kunjung keluar, kucari di kelas pun tidak ada.”

“Hey, kenapa lagi dahimu? Dan ujung bibirmu juga memar … kita ke ruang kesehatan!”

“Aoi bilang kau berangkat pagi-pagi sekali sampai kau melupakan sarapanmu. Ini, kubawakan onigiri.”

“Kau kenapa sih selalu tidak mengacuhkanku belakangan ini? Ah, jangan bilang sebenarnya kau sedang mencari perhatianku? Haha … bercanda, jangan menatapku seperti itu! Oh iya, hari ini Naomi-senpai mengajakku berkencan, aku sudah resmi pacaran dengannya kemarin.”

Setiap hari tanpa bosan Jonghyun selalu datang ke kelasku selama jam istirahat. Sejak naik ke kelas 2, kami berada di kelas yang berbeda. Ia berada di kelas ujung berbatasan dengan area kelas 3 lantai bawah, sedang aku berada di lantai tiga. Namun, walaupun aku berusaha jauh dari Jonghyun—karena ulah penggemarnya yang selalu mengusikku—,laki-laki itu tetap saja mendekat. Entah itu hanya sekedar berceloteh tentang gadis-gadis yang didekati, atau memperhatikan luka kecil di wajahku akibat kelakuan penggemarnya, dan bahkan hal-hal tak penting lainnya. Aku memang menyukai sikap baiknya, tapi terkadang aku risih juga dengan hal tertentu.

Suatu hari Jonghyun tidak datang ke kelasku untuk menunggu pulang bersama. Biasanya ia selalu sudah berdiri di depan pintu kelas, sesaat setelah bel pulang berbunyi. Yah, mungkin saat ini dia sedang ada jadwal kencan dengan salah satu gadis. Aku menghela napas, setidaknya hari ini aku bisa bebas tanpanya.

Aku berjalan sepanjang koridor kelas, bersenandung kecil seperti burung yang baru keluar dari sangkar. Ketika sampai di belokan loker sepatu, mataku seketika membulat melihat sepasang manusia tengah berciuman. Aku kenal betul salah satu diantara dua mahkluk itu, dia adalah Jonghyun. Tubuhku tiba-tiba membeku, bahkan sampai tak bisa bereaksi apa-apa. Mereka berdua masih asik beradu bibir tanpa sadar akan adanya seseorang yang sedang memperhatikan. Suasana sekitar memang sudah sepi hanya ada aku, dan dua orang itu. Namun, setelah beberapa detik berlalu, si gadis—lawan main Jonghyun—yang kebetulan menghadap ke arahku tersadar, dan aku dengan cepat berlari dari tempat itu.

Keesokan harinya Jonghyun mulai datang lagi ke kelasku. Aku masih mengabaikannya. Terlebih lagi setelah kejadian kemarin, saat aku tidak sengaja melihatnya berciuman di loker sepatu. Entah kenapa sekarang ini saat melihat wajah dan bahkan mendengar suaranya saja bisa membuatku emosi.

Jonghyun seperti biasa berceloteh di depanku tanpa menyadari ekspresiku yang kian mendingin. Kupasang sebuah earphone di telingaku, memutar musik sekencang-kencangnya agar tidak bisa mendengar suaranya. Kemudian aku mengambil novel untuk dibaca. Aku harus konsentrasi… lupakan kejadian kemarin!

Tiba-tiba earphone yang menempel di telingaku dilepas begitu saja oleh satu tangan. Kutatap tajam orang yang berada di depanku itu.

Merasa ada yang janggal, Jonghyun terlihat mengerutkan dahi, kemudian berkata, “Kau ini kenapa, sih?”

Aku tak menimpali ucapannya. Kurebut earphone-ku yang ada di tangan laki-laki itu dan berlalu meninggalkannya. Namun, sepertinya ia belum menyerah, bahkan mengikutiku dari belakang. Dengan pendengaran yang samar dibalik suara musik, telingaku masih bisa menangkap suara Jonghyun yang berbicara. Aku meningkatkan volume Ipod-ku sambil berjalan cepat.

Saat kupikir Jonghyun tidak lagi mengekoriku, buru-buru aku masuk ke dalam perpustakaan. Mungkin tempat ini aman untuk melarikan diri darinya. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa harus melakukan hal ini. Sebelumnya aku memang sering mengabaikannya, tapi tak separah seperti sekarang. Aku… hanya merasa benci ketika mengingat kejadian kemarin yang terus berputar di benakku.

“Apa aku punya salah padamu?”

Aku terkesiap kala melihat Jonghyun yang tiba-tiba sudah ada di sampingku.

“Mi-chan, aku minta maaf jika aku sudah membuatmu kesal.” Suaranya terdengar sangat lirih.

Hatiku serasa ditusuk. Kenapa ia selalu memberi tatapan seperti itu? Kenapa ia selalu menceritakan gadis-gadis yang sedang ia dekati? Apa ia tidak punya teman lain untuk dicurhati? Kenapa harus aku? Kenapa dia selalu menyimpan perhatian padaku walau sedikit bahkan dengan hatinya yang telah diisi oleh gadis lain? Kenapa…

“Berhenti memanggilku dengan sebutan itu!” bentakku.

“Apa?” Jonghyun mengernyit.

“Jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi!”

Aku hendak melangkah pergi, namun tangan besar Jonghyun menahan lenganku, “Hey, jelaskan sebenarnya ada apa? Kenapa semakin hari kau semakin bersikap dingin padaku?”

“Aku benci kau selalu mengusikku, Kim Jonghyun! Jangan pernah muncul lagi di hadapanku!”

Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulutku dan perlahan cengkraman tangan Jonghyun di lenganku melonggar. Saat itu juga aku berlari meninggalkannya.

Setelah kejadian itu Jonghyun sudah tak pernah lagi datang ke kelasku. Bahkan aku sudah tak pernah melihatnya di daerah rumah kami. Aku hanya mendengar kabarnya lewat bisik-bisikan gadis di kelasku yang membicarakannya. Entah gosip tentang pacarnya sekarang siapa, atau tentang pertandingan basket yang dijuarinya minggu-minggu kemarin, dan sebagainya. Hari-hariku mulai tenang tanpa ada yang mengusik lagi, baik penggemarnya maupun Jonghyun sendiri. Namun, di satu sisi hatiku terasa sangat sakit seperti ada sesuatu yang hilang. Egoku berkata tidak, tapi dalam hati seakan berteriak bahwa aku merindukan sosok laki-laki itu.

Hingga beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar kalau Jonghyun pindah ke Korea. Aku melihat rumah yang berdiri di sebelah rumahku sudah tampak kosong—tak berpenghuni lagi. Ia pergi begitu saja tanpa pamit padaku. Tidak, ini memang salahku yang memintanya untuk tak muncul di hadapanku lagi.

Aku menangis, menyesali apa yang kuperbuat. Aku bahkan belum sempat mengatakan kalau aku menyukainya. Yah, aku sadar kalau aku menyukai Jonghyun, sahabatku. Rasa ini muncul entah sejak kapan. Mungkin saat ia mulai tak datang lagi ke kelasku. Bukan, tapi aku yakin itu pada saat melihatnya ciuman dengan seorang gadis. Aku merasa tidak suka, aku cemburu, jadi aku melarikan diri untuk menepis perasaanku. Kim Jonghyun, dia adalah cinta pertamaku.

Jonghyun masih menatapku, menantikan jawaban yang keluar dari mulutku. Aku benci, tapi juga suka pada mata bening itu. Mata yang selalu membuatku terhipnotis dan membuat jantungku berdegub kencang.

Suki dakara (Karena aku menyukaimu),”

“Eh?”

Entah ada bujukan dari mana yang sontak membuat tubuhku berjinjit mendekati wajah Jonghyun. Ia sempat terkesiap kala aku menyatukan bibirku dengan miliknya. Perasaan ini meluap begitu saja bersamaan dengan air mata yang kini mengalir dari iris coklatku. Pada akhirnya, aku merasa ‘sakit’ sekaligus lega telah mengungkapkan semua yang kupendam selama ini.

—————————–TBC—————————–

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s