[FF/ONESHOT] Goblin’s Curse

gomeihuatemp_mh1486271058225

Author : Lideronyu

Cast : Lee Taemin || Park Sungrin (OC)

Genre : Fantasy, Romance, Adventure

Length : Oneshoot

Rate : PG-15

A/N: Terinspirasi dari drama Goblin dan movie Kimi no Nawa (Your Name). Ada beberapa unsur cerita yang sengaja ditulis sama, sisanya pureee imajinasi gue. Tbh, gue baru nonton drama Goblin sampe ep. 4 doang, jadi gatau aslinya ending cerita itu kayak gimana wkwk. Happy reading!

ps : ini ff taemin yang gue janjiin buat shara dari jaman baheula haha //padahal orangnya juga kagak inget//

~Goblin’s Curse~

Suara decitan spidol yang bergerak pada papan tulis terdengar samar di telinga Park Sungrin. Gadis itu menggeliat kecil seraya menggaruk-garukan pipinya dengan mata terpejam, membiarkan rasa kantuk menguasai dirinya untuk sementara waktu.

Tuk! Tuk!

Gadis yang tengah terlelap di mejanya itu dengan malas menegakkan badan, mendongkak ke arah orang yang baru saja menepuk pundaknya dengan sebuah benda.

“Sudah selesai tidurnya, Park Sungrin?”

Sungrin terbelakak kaget saat didapati gurunya sudah berdiri di sampingnya dengan penuh amarah. Sepasang mata itu kini menatap tajam Sungrin, membuat gadis berumur 18 tahun itu bergidik. Ia hanya bisa menunduk, menghindari kontak mata dengan gurunya yang mengerikan itu. Sebelumnya Sungrin memang tidak berpikir panjang dulu untuk terlelap pada jam pelajaran matematika yang kini tengah berlangsung, ia kira guru yang menjelma jadi nenek lampir di sampingnya ini tidak akan memergoki aksinya. Bodoh, rutuknya dalam hari.

“Sekarang kerjakan semua soal pada bab 3 di papan tulis!” perintah sang guru pada Sungrin.

Mau tidak mau Sungrin membangkitkan badannya untuk menuruti perintah nenek lampir itu. Sebelum beranjak, Sungrin sempat melirik pada satu pasang mata lain yang sedari tadi ia yakini terus mengawasinya. Laki-laki yang duduk di sebelah Sungrin itu tersenyum miring, mengejeknya.

Awas saja kau, Lee Taemin!

“Tunggu apa lagi, Park Sungrin? Cepat!” bentak guru yang Sungrin sebut nenek lampir itu.

“Maaf, Bu, tapi sebelumnya apa boleh saya ijin ke toilet dulu? Saya rasa saat ini perut saya mendadak sakit.” Sungrin pura-pura mengiris sambil memegangi perutnya.

“Kau tidak sedang mencari alasan untuk kabur dari tugas ini, kan?”

“Tidak kok, Bu, sungguh.”

Guru itu menghela napas, kemudian membiarkan Sungrin untuk meninggalkan pelajarannya sejenak. Sekeluarnya dari kelas, Sungrin benar-benar berjalan menuju toilet. Ia tidak sepenuhnya bohong karena memang niat awalnya adalah cuci muka untuk menyegarkan wajah. Meskipun kalau boleh jujur Sungrin lebih ingin melanjutkan tidurnya lagi daripada mengerjakan tugas yang diberikan oleh si nenek lampir. Salah dirinya juga sih, akibat semalaman ia begadang untuk nonton drama maraton hingga kini membuatnya terkantuk-kantuk saat pelajaran di kelas.

Sesampainya di toilet, Sungrin merasakan perutnya tiba-tiba terlilit. “Aduh, duh, apa aku kualat, ya?” tanyanya pada diri sendiri seraya ngibrit ke salah satu bilik toilet.

Lima belas menit setelah selesai Sungrin mengeluarkan zat-zat sisa dari perutnya, ia bernapas lega kemudian keluar dari bilik toilet. Kakinya berjalan menuju wastafel, merogoh beberapa tetes sabun cair lalu membuka keran dan membasuh tangannya dengan air. Daebak, apa yang ia katakan pada gurunya tadi benar-benar jadi kenyataan! Kenapa perutnya tiba-tiba saja sakit saat hal itu hanya dijadikan sebuah alasan agar Sungrin bisa keluar dari cengkraman nenek lampir? Sungrin jadi terkekeh memikirkannya. Setidaknya sekarang ia memang tidak berbohong pada gurunya itu.

Sungrin berjalan menelusuri koridor kelas selepasnya dari toilet. Suasana sekitar terlihat sepi mengingat jam pelajaran masih berlangsung setengah jam lagi menuju jam istirahat. Entah ada angin dari mana yang mendorong langkah Sungrin menuju tangga yang membawanya ke gedung paling atas di sekolah. Harusnya tadi sungrin berjalan melewati tiga kelas lagi untuk sampai di kelasnya, tapi tiba-tiba setan merasuki tubuhnya, membujuk agar ia lari dari tanggung jawab yang tadi sempat diberikan oleh gurunya.

Gwaenchana, lagipula sebentar lagi jam istirahat tiba,” ujarnya sambil nyengir, “aku akan melanjutkan tidurku di atap.”

Ini pertama kalinya bagi Sungrin membolos. Ia memang bukan tipikal siswa yang terlalu rajin, tapi bukan juga siswa nakal yang sering membuat ulah. Hanya saja hari ini ia ingin mencoba sesekali jadi siswa nakal. Sungrin memilih atap sekolah sebagai tempat pelariannya karena tempat itu jarang didatangi oleh guru ataupun kebanyakan siswa. Sebenarnya pihak sekolah melarang siswa untuk masuk ke atap, tapi sebelumnya Sungrin sudah sering mendatangi tempat itu dan pastinya tidak ketahuan oleh guru. Bagi Sungrin atap sekolah merupakan tempat favoritnya untuk beristirahat. Di sana angin menerpa bebas, jauh dari suara bising orang-orang, dan pastinya sangat nyaman.

Saat kakinya tiba di undukan anak tangga paling akhir, gadis yang sedang menjalani tahun akhir di sekolahnya itu membuka pintu atap yang terkunci dengan gembok rusak. Namun, bukannya langsung masuk ke dalam atap itu Sungrin malah ternganga melihat pemandangan mengejutkan di depannya. Ia melihat seorang siswa laki-laki yang sedang berlutut meringis kesakitan dengan sebuah pedang transparan yang menancap di tubuhnya. Pedang itu mengeluarkan efek cahaya berwarna toska, mengingatkan Sungrin pada drama Goblin yang semalam ditontonnya.

“A-Apa ini…?”

Suara Sungrin menyadarkan siswa laki-laki yang tengah kesakitan tadi. Ia membulatkan matanya saat melihat Sungrin menatapnya terkejut. Detik berikutnya siswa laki-laki itu jatuh tergeletak di lantai bersamaan dengan bias pedang yang menghilang dari pandangan mata.

“Lee Taemin!!!”

***

Taemin membuka perlahan kelopak matanya yang terasa berat. Pandangannya masih mengabur saat pertama kali dilihat objek yang kini ada di depannya. Ia kemudian mengerjapkan beberapa kali indera penglihatannya itu untuk menyadarkan diri. Ketika nyawanya sudah sepenuhnya terkumpul, Taemin terkesiap melihat wajah Sungrin yang hanya berjarak beberapa senti dari pandangannya. Laki-laki bertubuh kurus itu dengan spontan bangun dan menatap penuh tanya ke arah Sungrin.

Gwaenchana?

Suara Sungrin sontak menyadarkan Taemin bahwa beberapa saat lalu gadis itu sempat memergoki kejadian yang tak seharusnya dilihatnya. Eh, tapi ‘kan itu artinya…

“Kau bisa melihatnya?” Taemin mencengkram bahu Sungrin, alih-alih menjawab pertanyaan gadis itu, ia kini malah bertanya balik.

Sungrin memiringkan kepalanya sambil mengernyit bingung. Melihat? Maksudnya kejadian tidak masuk akal tadi? Tunggu… Taemin menanyakan hal tersebut, itu berarti apa yang dilihatnya tadi sungguhan? Dengan ragu Sungrin menganggukan kepalanya pelan.

“Haaah, jadi itu kau.” Taemin melepaskan kedua tangannya yang tadi menempel di bahu Sungrin.

“…”

Melihat Sungrin yang clueless, Taemin hanya bisa menghela napas berat. “Park Sungrin, karena memang kau orangnya, jadi akan kuceritakan semuanya. Aku adalah manusia dengan keturunan 10% Dokkaebi dan kau adalah patnerku.”

“A-Apa?! Kau bilang apa?” Masih belum paham, Sungrin menepuk-nepuk kedua daun telinganya, “Apa kau ingin dianggap mirip Gong Yoo? Haha… Jangan bercanda, Lee Taemin!” seru Sungrin sambil terkekeh garing. Ini bukan lelucon yang sedang Taemin buat, kan? tambahnya dalam hati.

Taemin memutarkan bola matanya kesal, kemudian menatap Sungrin datar.

“Eh? K-Kau benar-benar seorang Dokkaebi? dan aku pengantinmu?” Sejujurnya Sungrin tidak ingin percaya dengan apa yang Taemin katakan, tapi sepertinya laki-laki itu benar-benar serius. Ditambah dengan apa yang dilihat Sungrin beberapa saat lalu, ketika Taemin kesakitan karena pedang transparan yang menancap di tubuhnya. Hal itu percis seperti yang ada di adegan drama berceritakan tentang seorang Goblin yang hidup abadi dan mencari pengantinnya untuk melepas pedang tersebut.

“Aku bukan Dokkaebi¸ tapi keturunan 10% Dokkaebi. Satu lagi, kau bukan pengantinku, melainkan patnerku!” sanggah Taemin menegaskan.

“Hah? Maksudmu?” Sungrin semakin tak mengerti dengan apa yang Taemin katakan.

“Makanya jangan terhanyut oleh sebuah drama!” sunggut Taemin mengejek, “semua yang kaulihat di tivi hanya bualan semata. Sesungguhnya tidak ada yang namanya Dokkaebi, yang ada hanya kutukannya saja.”

Sungrin berdecak, Taemin bodoh atau bagaimana, sih? Ia juga tahu kalau drama itu memang cerita fiksi yang tentu saja diragukan kebenarannya. Sungrin jadi sangsi, mungkin di sini malah Taemin yang sedang membual.

“Sejak dulu turunan keluargaku dikutuk menjadi titisan 10% Dokkaebi. Seorang raja di jaman kerajaan Goryeo membunuh leluhurku dengan sebuah pedang karena ia menganggap leluhurku seorang pengkhianat. Namun, leluhurku itu tidak mati melainkan ia tidak bisa melepaskan pedangnya. Orang-orang tidak tidak bisa melihat pedang tersebut, kecuali satu—seseorang yang bisa melihatnya akan mampu membantu melepaskan pedang kutukan itu. Keturunan 10% Dokkaebi tidak hidup abadi, tetapi dampak dari tusukan pedang itu akan membuat tersiksa seperti sama halnya dengan ditusuk sungguhan.”

Pemaparan Taemin yang amat panjang membuat Sungrin terperanga, sejujurnya hanya setengah yang ia pahami. Gadis itu mencoba mencari celah kebohongan dari sosok Lee Taemin yang kini entah kenapa jadi pandai mengarang cerita seperti seorang novelis. Namun, yang ada malah Sungrin hanya bisa melihat mimik muka Taemin yang begitu serius. Terlebih lagi laki-laki itu terlihat agak frustrasi setelah ia menceritakan kisah kutukan keluarganya. Seperti menderita, mungkin?

“Jadi sekarang, kau harus membantuku untuk melepas pedang ini, Park Sungrin!”

“Heh? Maksudmu aku harus jadi pengantinmu? Menikah denganmu, begitu?”

Ptukk!

Taemin menjitak kepala Sungrin, membuat gadis itu meringis kecil sambil mengusap-usap kepalanya yang jadi korban.

“Bodoh, Sudah kubilang kau bukan pengantinku! Hey, atau jangan-jangan kau masih berharap kalau aku akan menerima penyataan cintamu itu, ya?”

Pertanyaan Taemin sontak membuat Sungrin membulatkan mata dan menjadikan pipinya yang sekarang sudah berubah warna seperti kepiting rebus. Ia malu sekaligus kesal, pasalnya Sungrin memang pernah mengakui perasaannya pada Taemin, tapi itu sudah berlalu setahun lalu. Dan saat laki-laki yang mempunyai julukan flower boy di sekolahnya itu menolaknya mentah-mentah, perasaan hati Sungrin kini berbalik menjadi benci. Kenapa? Tentu saja karena Sungrin dendam setengah mati pada Taemin yang menolak pernyataan cintanya di depan banyak orang dengan dinginnya.

“Park Sungrin, ini milikmu, kan?” Taemin mengacungkan sebuah surat dengan amplop merah jambu ke hadapan Sungrin yang sedang bercengkrama bersama dua temannya. Saat itu jam istirahat sedang berlangsung, suasana kantin yang sekarang di huni beberapa orang termasuk Sungrin dan Taemin seketika menghening. Semua pasang mata terpusat pada Taemin yang diketahui sebagai laki-laki populer dengan sikapnya yang dingin kini sedang membuat interaksi dengan seorang gadis di depannya. Meskipun tampan, pintar, dan kaya, tapi semua orang di sekolah tahu bahwa Taemin merupakan siswa anti sosial, terlebih lagi dengan perempuan. Namun, kali ini hal langka terjadi hingga membuatnya menjadi perhatian.

“Ya, benar, itu milik Sungrin. Jadi bagaimana jawabanmu, Taemin?” Raena, salah satu teman Sungrin dengan polosnya melontarkan pertanyaan tersebut pada Taemin. Saat itu juga Sungrin merutuk temannya yang terkenal ceplas-ceplos itu. Masalahnya adalah sekarang ini semua mata sedang tertuju padanya, bikin malu saja. Walaupun sejujurnya dalam hati Sungrin, ia penasaran setengah mati menantikan balasan apa yang akan Taemin berikan. Ini merupakan pengalaman pertama Sungrin menyatakan perasaannya pada seseorang, lebih tepatnya pada laki-laki bernama Lee Taemin yang sudah memikat hatinya sejak pertama masuk sekolah.

Taemin tersenyum miring lalu melemparkan surat cinta Sungrin ke depan meja yang kini di huni pemiliknya. “Norak,” ujar laki-laki kurus tinggi itu, kemudian berlalu meninggalkan kantin yang kini mulai dipenuhi oleh bisikan-bisikan.

Menerima penolakan kasar dari Taemin, pipi Sungrin menjadi merah padam. Rasa sesak menusuk hatinya. Bukan karena kecewa saja, tapi juga malu setengah mati dengan kenyataan yang baru saja terjadi. Raena menutup mulutnya tak percaya, ia jadi menyesali perbuatannya tadi, merasa bersalah pada Sungrin. Sedangkan teman Sungrin yang satunya lagi—Jinhya—hanya bisa mengelus punggung Sungrin, mencoba menenangkan gadis yang kini berusaha menahan air matanya keluar itu.

Kejadian nista yang tidak ingin Sungrin ingat kembali berputar di benaknya. Ia juga sudah bersumpah tidak akan menyukai Taemin lagi. Namun, nyatanya sekarang laki-laki itu malah meminta menjadi patnernya.

“K-kau gila, ya? Aku sudah tidak menyukaimu lagi, tahu!” sanggah Sungrin, ia tidak ingin diinjak-injak harga dirinya lagi oleh Taemin. “Lagi pula percaya diri sekali kau kalau aku akan membantumu,” tambahnya lagi dengan nada mencibir.

“Kau memang harus membantuku!” paksa Taemin.

“Tidak mau!”

“Kenapa? Kau menginginkan balasan sebagai gantinya? Menjadi pacarku begitu?”

Sungrin mendengus kesal, Taemin benar-benar membuatnya naik pitam. Seenaknya saja berasumsi, sudah jelas-jelas tadi Sungrin bilang kalau ia tidak menyukainya lagi. Rasanya Sungrin ingin sekali menjambak rambut hitam pekat milik laki-laki di depannya ini.

“Aku tidak mau tahu, pokoknya kau harus membantuku! Besok minggu jam 8.00 pagi kutunggu kau di halte Gyeong-gu.” Taemin beranjak dari duduknya, kemudian berjalan pergi meninggalkan Sungrin sendirian.

“Hey! Kau pikir aku akan datang, huh? Jangan harap!”

***

Matahari tersenyum cerah didampingi oleh kesetian awan-awan putih. Pagi cerah di musim panas ini sinar si raja api tampak memancar tanpa malu-malu menemani aktivitas manusia di kota Seoul. Sungrin berlari terpogoh-pogoh melewati trotoar jalan, ia hendak menghampiri seorang laki-laki yang sedang berdiri angkuh dengan melipatkan kedua tangannya di depan halte. Ketika tiba pada tujuannya, laki-laki itu menoleh pada Sungrin yang sedang mengatur napasnya karena kelelahan akibat lari tadi.

“Lambat! Aku sudah menunggumu sejak 30 menit lalu,” geram laki-laki di depan Sungrin.

“Maaf, aku telat bangun tadi.” Masih menetralkan deruan napasnya yang memburu, Sungrin mengambil sapu tangan dari saku overall-nya, kemudian menyibakan beberapa tetes keringat di dahinya dengan benda berbahan kain itu.

Tak lama selang beberapa menit, sebuah bis berhenti di depan halte. Semua orang yang berada di tempat tersebut berbondong-bondong memasuki kendaraan persegi panjang itu. Sungrin mengikuti langkah laki-laki tadi—yang tak lain adalah Taemin—dari belakang dan masuk ke dalam bis. Pada akhirnya Sungrin malah menjilat lidahnya sendiri karena kini ia mengikuti apa yang Taemin minta beberapa hari lalu. Bukan hanya itu, Sungrin bahkan membawa ransel besar berisikan persediaan makanan yang Taemin suruh. Kata laki-laki itu, mereka berdua akan melakukan perjalanan panjang, jadi setidaknya stok makanan harus siap sedia. Walaupun Sungrin sendiri tidak tahu tujuan mereka ke mana, tapi ia tetap menurutinya.

Sungrin dan Taemin duduk berdampingan di bangku paling belakang. Tidak ada obrolan diantara mereka sepanjang perjalanan karena Taemin langsung menjumputkan sepasang headset ke telinganya. Sementara Sungrin hanya bisa bersungut dalam hati, selain tidak diacuhkan oleh Taemin, ternyata ia juga dikerjai oleh laki-laki itu. Bagaimana bisa Taemin menyuruhnya membawa banyak makanan dengan ransel besar sedangkan dia sendiri hanya membawa tas selempang kecil. Hey, apa Sungrin seorang masokis, huh?

Bis melaju dengan kecepatan sedang, suasana jalan raya Seoul hari ini tidak begitu macet. Setelah 40 menit dalam perjalanan Taemin dan Sungrin sampai pada tujuan. Situasi masih seperti sebelumnya, Sungrin mengekori Taemin dari belakang karena ia memang masih belum tahu mau dibawa ke mana oleh laki-laki itu.

Kaki panjang Taemin berhenti di depan pintu masuk taman ria, lalu ia dengan ringan mengembangkan senyum manisnya yang bisa membuat para gadis terpesona melihatnya. Sungrin sempat terpana sesaat, namun kemudian menggeleng cepat di detik berikutnya.

Ia terheran-heran, kenapa Taemin membawanya ke sini? Jangan bilang tujuan sebenarnya ingin mengajak Sungrin kencan?! Pipi gadis bermarga Park itu tiba-tiba saja memanas. Mustahil!

“Taemin-ah, untuk apa kita ke taman ria?” Sungrin mulai membuka pembicaraan.

Taemin menoleh pada gadis yang tingginya terpaut lumayan jauh dari dirinya. “Tentu saja menjalankan misi kita,” jawabnya ringan, kemudian berjalan menuju loket tiket. Tunggu, sejak kapan laki-laki itu mengubah status mereka menjadi ‘Kita’?

Saat Sungrin hendak mengeluarkan beberapa lembar uang dari dompet biru miliknya, tangan besar Taemin menyanggahnya lebih dulu. “Karena aku yang mengajakmu, jadi biar aku saja yang bayar.”

Sungrin menahan senyumnya, langka sekali melihat Taemin yang terkenal dingin kini mendadak baik.

Mereka berdua masuk ke dalam taman ria yang disambut langsung oleh pemandangan berbagai macam wahana permainan serta beberapa gundukan taman bunga lily yang terlihat begitu indah. Iris milik Sungrin menjelajahi sekeliling area sekitar, saat indera penglihatannya itu menangkap sebuah biang lala besar yang kini sedang berputar, wajahnya berubah cerah seketika.

“Taemin-ah, ayo kita naik itu!” seru Sungrin excited sambil menunjuk ke arah biang lala. Matanya tampak berbinar seperti anak kecil yang baru saja diberi hadiah.

Flick!

Taemin mengetuk dahi Sungrin menggunakan jari tengah dan jempolnya. “Kita ke sini bukan untuk main-main, Park Sungrin.” ujarnya, lalu meninggalkan gadis yang kini tengah mengkerucutkan bibirnya itu.

***

Dua pasang kaki milik anak manusia tersebut berhenti di area permainan bertuliskan ‘White Water Rafting’. Sungrin paham benar kenapa Taemin mengajaknya ke situ, laki-laki itu memang punya hobi olahraga ekstrim. Hal itu Sungrin ketahui dari profil Taemin yang dulu sempat dicarinya saat ia masih menyukai laki-laki berwajah manis tersebut. Curang sekali, padahal tadi Sungrin yang ingin naik biang lala malah dibilang main-main, tapi lihat sekarang Taemin justru seenaknya memilih wahana permainan kesukaannya. Well, walaupun yang bayar tiket masuk ke taman ria ini memang Taemin, sih.

Saat itu kebetulan belum ada yang mengantri—selain mereka—untuk wahana permainan tersebut, karena Sungrin dan Taemin merupakan pengunjung yang terbilang datang cukup pagi ketika taman ria itu baru saja buka. Mereka berdua pun akhirnya naik ke sebuah boat—setelah sebelumnya memakai perangkat persiapan—yang sudah terpampang di depan mata diikuti oleh sang pemandu.

“Hey, apa bisa kita menaiki ini hanya berdua saja?” tanya Sungrin ragu dengan apa yang Taemin ingin lakukan. Setahunya permainan White Water Rafting biasa dilakukan oleh lima orang atau lebih. Tapi karena tidak ada lagi pengunjung lain yang ingin menaiki wahana tersebut, jadilah hanya tersisa mereka berdua.

“Tenang saja. Arus sungai di sini tidak terlalu deras, lagi pula kita menggunakan boat yang lebih kecil. Kau bisa mendayung, kan?”

Sungrin mengangguk, ia memang pernah beberapa kali mencoba permainan ini sebelumnya.

Selepas pemandu memberikan arahan kepada Taemin dan Sungrin, boat yang ditumpangi mereka pun meluncur mengikuti aliran sungai. Taemin mengayuh dayung ke sebelah kiri, sementara Sungrin melakukan ke arah sebaliknya. Arus yang mengalir memang tidak terlalu deras, mengingat sungai di tempat tersebut hanyalah sungai buatan. Namun, pompaan air yang mengalir terasa layaknya sungai alami karena lintasan sungai tersebut berkelok-kelok beriringan dengan arus. Ditambah lagi, pemandangan sekitar sungai berupa pepohonan tropis asri yang membuat suasana menjadi sejuk di musim panas ini.

This is so much fun!” seru Taemin menikmati permainan wahana tersebut. Tangannya terus mengayuh kencang benda panjang berbahan kayu tersebut.

Sungrin sendiri cukup menikmatinya, tapi ia masih mempertanyakan tujuan Taemin sebenarnya. “Hey, Taemin, kau bilang kita akan menjalani misi soal kutukan Dokkaebi-mu itu, tapi kenapa malah naik White Water Rifting?” tanya Sungrin setengah berteriak, takut laki-laki yang ditanyanya itu tidak mendengar karena suaranya beradu dengan suara arus sungai.

“Kita sedang melakukannya,” jawab Taemin dengan suara tak kalah kencang. Namun, tak sedikit pun gadis itu paham, jadi ia hanya mengedikan kedua bahunya.

Boat yang mereka tumpangi masih berjalan mengikuti aliran sungai yang berliku-liku melewati beberapa batuan yang menempel di sungai tersebut. Semakin jauh  berlaju, semakin nyata pula suasana yang disuguhkan. Ada sebuah air terjun yang meluncur dari atas tebing, serta beberapa tanaman merambat. Sungrin jadi merasa takjub pada orang yang merancang area untuk wahana White Water Rifting ini, benar-benar terlihat sungguhan.

Setelah meninggalkan pemandangan air terjun tadi, arus sungai yang mengalir semakin mengecil, dan tanpa sadar boat mereka berhenti di tepi dekat daratan. Tidak, Taemin dan Sungrin bukannya sudah selesai bertempur dengan olahraga ekstrim itu dan kembali ke tempat awal, melainkan mereka masih berada di daerah sungai yang terlihat seperti di dalam hutan. Taemin melepaskan perangkat kemudian turun dari boat yang memang sudah menempel dengan daratan. Dan mau tak mau Sungrin lagi-lagi mengikutinya, meskipun kini kening gadis itu berkerut bingung.

“Kenapa kita berhenti di sini?”

Taemin tidak mengacuhkan pertanyaan Sungrin, ia malah merogoh saku celana jeans-nya dan mengambil sesuatu dari situ. Sungrin yang penasaran akhirnya mengintip benda berbahan kertas berwarna coklat yang sedang dilihat Taemin. Tiba-tiba saja kertas coklat polos itu dengan ajaibnya tergambar sendiri membentuk sebuah arah mirip seperti peta. Sungrin yang melihatnya jelas langsung membulatkan mata.

Yes! Berhasil!” seru Taemin membuat Sungrin semakin tak mengerti.

“I-itu…, kok bisa? Yaa! Lee Taemin, aku butuh penjelasan ini semua! Kenapa kita di sini dan kertas itu…” Sungrin tak melanjutkan kata-katanya karena masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya tadi.

Taemin menoleh ke arah gadis yang sejak tadi menunjukan tampang penuh tanya—setelah sebelumnya memperhatikan dengan seksama peta ajaib tersebut.

“Kita sekarang sedang berada di Jepang, tepatnya di desa Itomori,” ujar Taemin, “peta ini akan terlihat setelah kita sampai pada tujuan awal, dan menunjukan arah ke mana kita akan mencari sebuah benda yang bisa memusnahkan pedang Dokkaebi-ku.”

Mwo?!” Sungrin memekik keras, “apa kau bilang? Jepang? Itomori?”

Taemin hanya mengangguk mengiyakan.

“Kau bohong, kan? Kenapa tiba-tiba kita bisa ada di Jepang terlebih lagi Itomori? Unbelieve!”

Itu sungguh mustahil karena Sungrin masih ingat benar bahwa Itomori merupakan nama sebuah desa fiktif di film animasi yang sekarang ini sedang mem-booming, ‘Kimi no Nawa’. Lagi pula bagaimana bisa sampai ke Jepang hanya dengan menggunakan boat? Teleportasi, huh? Maldo andwae! pikirnya.

“Sebaiknya sekarang kita cari tempat untuk istirahat dulu,” ajak Taemin seraya menarik lengan Sungrin yang masih terbengong-bengong.

***

Taemin dan Sungrin masuk ke sebuah hutan yang memang berbatasan dengan sungai tadi. Setelah berjalan beberapa meter, mereka memutuskan untuk duduk di bawah salah satu pohon tinggi yang berada di tengah hutan. Gadis dengan rambut hitam kecoklatan itu membuka resleting ranselnya, kemudian mengeluarkan beberapa makanan ringan serta minuman yang telah ia siapkan dari rumahnya.

Satu bungkus Honey Butter ukuran besar dibuka oleh Sungrin, ia mencomot lalu memasukan makanan itu ke dalam mulutnya. Irisnya masih menatap penuh tanya ke arah Taemin yang saat ini sedang meneguk minuman isotonik kemasan kaleng. Jakun laki-laki itu bergerak naik-turun menikmati kesegaran tetesan air yang mengalir di tenggorokannya. Sungrin yang melihat hal itu jadi menelan ludah. Entah kenapa Taemin jadi kelihatan seksi, ditambah lagi background pancaran sinar matahari yang masuk dari celah pohon menerpa wajah mulus laki-laki itu, membuatnya terlihat seperti karakter ikemen di manga-manga.

Sadar akan tatapan seseorang, Taemin menyudahi tegukan minumannya kemudian mendelik bingung ke arah Sungrin yang kini dengan khusyuknya sedang menganga.

Klik!

Taemin menjentikan jarinya di depan wajah Sungrin membuat gadis itu akhirnya tersadar. Sungrin pun hanya bisa berdeham sambil memalingkan pandangannya dari Taemin karena malu.

“Wajahmu terlihat bodoh jika sedang menganga seperti tadi,” kata Taemin setengah mengejek.

Sungrin mendengus sebal mendengarnya, salah sendirinya juga sih sempat terpana oleh pesona Taemin. Sejujurnya ia benci mengakui fakta bahwa semakin hari laki-laki itu semakin terlihat tampan, apalagi saat minum tadi. Tidak! sadarlah Park Sungrin! Dia sudah pernah mempermalukanmu sekali!

“Ehm, ngomong-ngomong setelah ini kita mau ke mana lagi?” tanya Sungrin berusaha mengalihkan pikirannya.

Taemin duduk bersender pada batang pohon, meluruskan kaki panjangnya lalu mengambil beberapa chips Honey Butter dari tangan Sungrin. “Gua yang ada di lembah gunung,” jawabnya singkat sambil mengunyah makanan ringan tersebut.

Hening. Masing-masing dari mereka menikmati makanannya dalam diam. Sebenarnya masih banyak pertanyaan yang ingin Sungrin ajukan, namun setiap bertanya Taemin hanya menjawab setengah-setengah tanpa memberi penjelasan yang cukup untuk sampai ke otak Sungrin. Ya sudahlah, memang sulit bicara dengan orang dingin, batin Sungrin.

Setengah jam berlalu, mereka pun melanjutkan perjalanan. Untungnya hutan di sini tidak seseram seperti hutan biasanya. Pohon-pohon yang tumbuh tampak berdiri dengan asri, tidak ada sampah selain beberapa daun yang jatuh—mengingat musim gugur belum tiba—dan dari arah sisi hutan juga terlihat sebuah danau biru cukup besar yang sangat indah.

Sungrin memperhatikan peta coklat ajaib milik Taemin, gadis itu menggaruk-garukan pelipisnya bingung. Ia tidak paham dengan petunjuk arah yang ada di peta itu. Hanya terlihat simbol hutan kemudian diikuti garis lurus menuju simbol gunung, lalu garis miring ke bawah menuju simbol lembah. Sungguh tidak bisa dimengerti, sama seperti hal-hal yang terjadi belakangan ini pada Sungrin.

BRUKK!

“Aaaaw!!!” pekik Sungrin keras, gadis itu rupanya tidak sadar saat tadi kakinya bertubrukan dengan batu yang ukurannya cukup besar hingga kini membuatnya terjatuh.

“Pwahahahaaa!” Tawa Taemin pecah melihat tingkah bodoh Sungrin. Posisi gadis itu sekarang sungguh tidak mengenakan untuk dilihat, yakni tengkurap di tanah seperti hewan melata.

Sungrin meniup udara kosong di depannya, ia merutuki dirinya sendiri yang benar-benar ceroboh. Dengan menahan rasa nyeri di lututnya yang kini agak lecet, Sungrin berusaha untuk bangun dari jatuh. Gadis itu menyibak-nyibakan debu tanah yang menempel di baju short overall-nya.

“Makanya kalau jalan hati-hati!” Taemin mengeluarkan sesuatu dari tas selempanganya lalu berjongkok di depan Sungrin. Ia meniup pelan luka di lutut Sungrin, kemudian memasangkan beberapa plester. Sungrin sempat tertegun melihat perlakuan Taemin yang tiba-tiba.

Setelah selesai diobati oleh Taemin, Sungrin mencoba berjalan. Namun, baru bergerak satu langkah ia langsung mengernyit ngilu merasakan perih di lututnya. Taemin yang melihat itu kini malah berjongkok kembali membelakangi Sungrin. “Naiklah,” titahnya.

“Eh?”

“Kakimu sakit, kan?”

“Tapi….” Dengan ragu Sungrin naik ke punggung Taemin. Laki-laki itu berdiri dan mulai berjalan dengan Sungrin yang kini ada gendongannya. Tubuh gadis itu tidak tergolong berat mengingat perawakannya yang mungil meskipun dia sudah berstatus sebagai siswa SMA tingkat akhir. Taemin pun tidak merasa terlalu terbebani saat satu tubuh manusia itu menempel di bagian badan belakangnya.

Namun, hal yang kontras terjadi pada Sungrin. Ia sangat gugup, jantungnya tiba-tiba berdetak cepat tanpa diperintah. Situasi seperti ini benar-benar di luar dugaannya. Sungrin pikir saat melihat tawa Taemin yang mengejek tadi, laki-laki itu akan mengacuhkannya, tapi siapa sangka kalau Taemin malah mengobati lukanya bahkan menawarkan piggy back.

“Taemin-ah, kenapa kau memilih aku sebagai patnermu?” Sungrin mencoba bersuara demi mengalihkan pendengaran Taemin yang barangkali bisa memperhatikan suara detak jantungnya.

“Aku tak memilihmu, ini hanya permainan takdir,” timpal Taemin.

Sial, kata-kata Taemin barusan malah membuat detak jantung Sungrin semakin meliar. Hanya dengan satu kata—takdir—bisa membuat gadis itu terbawa perasaan. Takdir? Apa mungkin Sungrin itu takdir Taemin?

“…Kalaupun bisa, aku tak’an memilih gadis aneh sepertimu,” tambahnya lagi dengan nada sarkastis.

Huft… Sungrin harusnya sadar kalau sekarang dia sedang berhadapan dengan seorang Lee Taemin yang bernotabenkan laki-laki paling dingin di sekolahnya. Hal tadi hanya membuat Sungrin terbang sesaat lalu dihempaskan begitu saja ke bumi. Ia harus terbiasa menghadapi laki-laki bertipe-S yang kini sedang menggedongnya.

“Yang aneh itu kau, makhluk yang tidak pernah bersosialisasi dengan orang lain. Apa karena kau seorang Dokkaebi, jadi kau tidak mau bergaul dengan manusia?” balas Sungrin mencibir.

Taemin tampak menghela napas berat, “Sudah kubilang berapa kali kalau aku hanya keturunan 10% Dokkaebi. Itu artinya 90% dari jiwaku ini tetaplah manusia.”

“Kalau begitu kenapa kau…”

“Aku hanya lebih suka menyendiri,” potong Taemin bahkan sebelum Sungrin sempat menyelesaikan pertanyaannya, “berurusan dengan orang lain itu merepotkan. Seperti yang terjadi sekarang, kau dengan cerobohnya jatuh dan membuatku menggendongmu.”

“Ck, udik sekali jalan pikiranmu. Manusia itu saling membutuhkan, jika tidak kau akan mati kesepia— Uwaaa!”

Sungrin hampir saja terjatuh lagi saat Taemin tiba-tiba saja melepas gendongannya. Untungnya gadis itu bisa langsung mendarat dengan kedua kakinya yang spontan berdiri menginjak tanah. Ia pun hanya bisa mengangkat kepalan tangannya dengan geram ke arah laki-laki yang kini sudah berjalan meninggalkannya.

“Hey, tunggu! Kau tidak akan bisa berhasil memusnahkan pedangmu tanpa bantuanku!” teriak Sungrin seraya mengejar langkah Taemin yang kian menjauh. Luka dilututnya pun sudah tidak dirasakan lagi saking kesalnya.

Setelah beberapa langkah terlewati, jalan yang kini mereka tapaki terasa agak condong ke atas. Sepertinya jika dilihat dari tempat Taemin dan Sungrin berpijak kini, arah jalannya menuju sebuah bukit atau mungkin gunung seperti yang ada di peta.

Secerca cahaya menyambut mereka setelah keluar dari hutan. Dua pasang kaki itu berjalan menapaki batuan berundak sampai pada titik puncak pegunungan. Sungrin merentangkan tangannya sambil memejamkan mata, menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya. Sepanjang perjalanan tadi ia merasa sedikit lelah karena kakinya sudah berjalan ribuan langkah. Ini merupakan sebuah pengalaman langka untuknya, naik boat kemudian berjalan di hutan, lalu sekarang mendaki gunung, benar-benar seperti klub pecinta alam saja.

“Akhirnya selangkah lagi,” Taemin membeo, matanya menelusuri pemandangan bawah gunung. Sungrin mengikuti arah pandang laki-laki itu, dan ia baru sadar kalau di hadapannya kini terpampang sebuah lembah hijau yang cukup luas melingkari pegunungan sekitar.

“Taemin-ah,” panggil Sungrin, tangan kiri gadis menggapai lengan kemeja denim milik Taemin. “Apa kita akan menuju tempat badan dewa kuil Miyamizu itu?” tanyanya dengan pandangan menerawang lurus ke depan, tepat pada sebuah gua kecil yang berdiri di tengah-tengah lembah.

“Ya, sepertinya kau benar.”

Hhh… Kejutan apa lagi ini? Kenapa mereka benar-benar ada di Itomori yang jelas secara logika itu tidak nyata? Hey-hey, tunggu…, apa kini Sungrin dan Taemin sedang menjelma menjadi Mitsuha dan Taki—karakter utama di film animasi ‘Kimi no Nawa’—? Yang benar saja! Taemin ‘kan keturunan 10% Dokkaebi, bukan tokoh kartun! “Aku pasti sudah gila!” guman Sungrin frustrasi.

“Kakimu masih sakit?”

Suara Taemin memecahkan lamunan Sungrin. Gadis itu menoleh dengan mengerjap-ngerjapkan mata setengah sadar. “Eh? Ah ya, sudah tidak apa-apa,” jawabnya kikuk.

“Baguslah kalau begitu. Sekarang ayo kita lanjutkan lagi perjalanan!” ajak Taemin.

Mereka berdua turun ke lembah yang agak jorong itu. Pikiran Sungrin berkecamuk, sesekali ia mencubit pipinya memastikan bahwa yang dilihatnya kini nyata atau bukan.

“Taemin-ah, apa benar ini tempatnya? Kenapa cerita kehidupanmu sama seperti cerita fiksi, sih?” Merasa gusar, akhirnya Sungrin melayangkan pertanyaan untuk ke sekian kali pada laki-laki yang kini berjalan di sampingnya.

Taemin menaikan sebelah alisnya, “Maksudmu?”

“Ya habisnya, kau bilang kalau kau itu seorang keturunan 10% Dokkaebi, lalu memintaku untuk menjadi patnermu agar bisa menghilangkan kutukanmu itu. Dan sekarang tempat yang kita datangi malah sama percis seperti tempat yang ada di film animasi favoritku. Ini seperti dunia yang sudah melupakan logika!”

Mendengar penuturan Sungrin, Taemin menjawabnya dengan enteng, “Mungkin hanya kebetulan.” Ia terdiam sejenak sebelum akhirnya melanjutkan, “Maaf sebelumnya karena telah melibatkanmu. Aku sudah menunggu selama hampir 18 tahun untuk mencari seorang patner yang ditakdirkan untuk membantu memusnahkan kutukan bodoh ini. Tak kusangka kalau itu kau, satu-satunya manusia yang bisa melihat pedang yang menancap di tubuhku.”

Hati Sungrin sempat mencelos, ternyata selama ini Taemin menahan beban yang berat dari kutukannya.

“Apa setiap anggota keluargamu menerima kutukan tersebut?”

“Hanya anggota laki-laki saja. Sebelumnya, kakakku juga mengalami hal sama, bahkan ia hampir frustrasi tidak menemukan patnernya di penghujung usia 20 tahun. Itu merupakan batas usia untuk memusnahkan kutukan, jika tidak maka kutukan tersebut akan  terus berlangsung sampai akhir hayat.”

“Memangnya kapan kutukan itu bereaksi? Kau bilang efeknya membuat kesakitan seperti ditusuk sungguhan, tapi aku baru pertama kali melihatmu kesakitan saat berada di atap gedung sekolah.” Sungrin bertanya lagi, masih penasaran dengan teka-teki kutukan Dokkaebi.

“Setiap menuju bulan purnama tiba, tapi waktunya tak tentu. Entah itu pagi, siang, sore sebelumnya, atau bahkan pada malam hari tepat saat bulan purnama itu muncul.”

Sungrin mengangguk-angguk. Kini ia mulai sedikit memahami kenapa Taemin tidak mau bersosialisasi dengan yang lain. Laki-laki itu mungkin tak ingin dianggap aneh jika orang lain melihatnya kesakitan akibat pedang tak kasat mata yang sewaktu-waktu menancap tubuh kurusnya itu. Namun, Sungrin juga tak pernah menduga kalau ia akan jadi seseorang yang Taemin tunggu selama ini. Yah, meskipun sebelumnya ia sempat kesal karena pernah ditolak dengan sangat menyakitkan.

“Park Sungrin, terima kasih sudah mau membantuku.” Taemin tersenyum hangat ke arah Sungrin, senyum tulus yang bisa membuat siapa pun akan meleleh melihatnya.

DEG!

Sekali lagi desiran hebat itu kembali menjelajahi tubuh Sungrin. Tuhan, aku mohon jangan biarkan seorang Lee Taemin membodohiku lagi….

***

Sebuah gua berpondasikan batu tua tampak berdiri kokoh di sebelah pohon tropis besar. Sungrin dan Taemin masuk ke dalam gua tersebut. Keadaan gua itu tampak gelap, Taemin menyalakan tombol senter pada ponselnya untuk membantu menerangi jalan. Sementara Sungrin bergidik ngeri melihat suasana sekitar yang menurutnya agak menyeramkan, ia mecengkram keras tas selempang milik laki-laki di depannya.

“Di sini tidak ada hantunya, kan? Atau monster? Atau kumpulan kelelawar yang akan menghantam kita?” gumannya ketakutan.

Taemin menarik tangan Sungrin, menggenggamnya lalu berjalan ke gua lebih dalam.

Setelah lumayan jauh melangkah, terlihatlah sebuah kuil kecil dari kayu yang membuat kedua pasang mata Taemin dan Sungrin seketika berbinar, “Ketemu!” serunya bersamaan.

Taemin mengambil benda yang terlihat seperti botol tua penuh lumut dari kuil kecil tersebut. Ia kemudian membuka tutup botol itu dimana di dalamnya terdapat sebuah cairan.

“Itu pasti Kuchikamizake, sake yang dipersembahkan kepada dewa pelindung. Taemin-ah, kau harus meminumnya! Mungkin itu akan membantumu menghilangkan kutukan Dokkaebi.

Dengan yakin Taemin menuangkan sake itu ke tutup botol sebagai cangkirnya, kemudian ia meneguk cairan persembahan dewa pelindung tersebut.

Satu detik

Dua detik

Tiga detik

Dwaaaar!!!

Sebuah pedang dengan efek cahaya toska muncul seketika menancap tubuh Taemin.

“AAAAAAAAAKH!” Taemin memekik kesakitan, tubuhnya meringsut jatuh berlutut, peluhnya bercucuran keringat. Sungrin yang melihat hal itu mendadak panik sekaligus kaget.

“Taemin-ah, kau tidak apa-apa?” ujarnya sembari mengguncangkan tubuh Taemin. Ia takut kalau seandainya sake tadi malah memperburuk kutukan taemin, atau bahkan bisa membuatnya mati.

“Taemin-ah…, Lee Taemin, sadarlah!” Sungrin semakin panik saat mendengar deruan napas Taemin yang tersenggal-senggal menahan sakit.

“Le..pas…,” suara Taemin nyaris tak terdengar, “tolong kau lepaskan pedangnya.”

Mendengar apa yang Taemin minta, Sungrin lekas berdiri. Ia mengumpulkan keyakinannya bahwa ia bisa menyentuh pedang kasat mata itu lalu mencabutnya untuk membantu Taemin menghilangkan kutukan Dokkaebi. Dengan perlahan kedua tangan Sungrin terjulur ke arah pedang tersebut, dalam hati ia berdoa semoga apa yang diharapkannya terkabul.

Hap!

Sungrin berhasil memegang pedang itu. Tanpa ragu-ragu ia mencoba menarik pedang yang tertancap di tubuh Taemin. Namun di luar dugaan, pedangnya tak kian terlepas. Dengan mengumpulkan semua tenaganya, gadis itu masih mencoba untuk melepas pedangnya.

“Ke…ras…,” tukas Sungrin seraya bertahan menarik pedang tersebut, sementara Taemin makin meringis dengan wajahnya yang kini memucat.

Ayolah, kau pasti bisa, Park Sungrin!

Tangan mungil Sungrin mulai memerah akibat menarik kencang pedang yang tak kunjung lepas itu, tapi ia tak menyerah dan terus berusaha untuk menariknya sekuat tenaga.

Sreeeng…

Pedangnya bergerak sedikit. Sungrin yang sadar akan hal itu terkesiap sejenak, lalu ia semakin menarik dan terus menarik keras pedang Dokkaebi itu hingga akhirnya…

Praaang!!!

Brukk!!!

Sungrin terjatuh bersamaan dengan hilangnya pedang yang tadi menancap di tubuh Taemin. Berhasil! pekiknya senang dalam hati.

Dilihatnya Taemin yang kini tak sadarkan diri tergeletak tak jauh dari tempat ia berada. Sungrin pun beringsut menghampirinya.

“Taemin-ah, gwaenchana? Lee Taemin!” Sungrin mengangkat kepala Taemin dipangkuannya seraya menepuk-nepuk pelan pipi laki-laki itu.

Perlahan Taemin membuka kelopak matanya, dengan samar ia melihat wajah Sungrin yang kini sedang menyambutnya dengan senyum lega.

“Kau sudah sadar?”

Taemin bangun dari pangkuan Sungrin, ditatapnya lekat gadis itu. “Apa kutukanku sudah hilang?”

Sungrin mengangguk mantap, “Mulai sekarang kau tak’an merasakan sakitnya lagi,” ujarnya hangat. Entah kenapa bahagia menjuluri raganya setelah ia berhasil membantu Taemin menghilangkan kutukan Dokkaebi itu.

Taemin yang mendengar hal itu secara kontan mengukir bibirnya membentuk bulan sabit. Ia lalu meraih wajah Sungrin dengan tangan kirinya, mendekatkan wajahnya dengan wajah gadis itu. Semakin dekat sampai Sungrin bisa merasakan hembusan napas Taemin yang hanya berjarak beberapa senti saja. Jantung Sungrin berdetak cepat dengan irama yang tak menentu, dengan refleks ia mengatup kedua kelopak matanya.

 “Sungrin-ah! Park Sungrin, kau ada di dalam?”

Sungrin terkesiap kala mendengar suara seseorang yang memanggilnya. Ia menyadarkan diri dengan menggelengkan kepalanya seraya mengerjapkan mata, lalu mengelap cairan yang jatuh dari sudut bibirnya. “Hoaaam, sudah berapa lama aku tertidur di sini?”

—————————–END——————————-

 

Epilog

Sungrin melangkah keluar dari bilik toilet setelah beberapa saat ia sempat tak sengaja tertidur di toilet paska mengeluarkan isi perutnya yang sakit. Dilihatnya kini Choi Jinhya—sahabat Sungrin—yang sedang menggeleng-geleng heran, menatapnya dengan kedua tangan yang menyilang di dada.

“Ck, sudah kuduga kau di sini,” Jinhya berdecak gemas menghampiri Sungrin, sementara orang tersebut hanya memamerkan cengiran tanpa dosa. “Kau tahu, Kim-saem benar-benar marah besar saat sadar kau tak kembali di jam pelajarannya!” tuturnya pada Sungrin.

“Ya, aku tahu itu akan terjadi. Tapi mau bagaimana lagi, aku kepalang ngantuk, jadi ketiduran di toilet deh, hehe…,” sahut Sungrin polos.

Gadis bernama lengkap Choi Jinhya itu hanya bisa menghela napas melihat tingkah sahabatnya, “Ya sudah, sekarang sudah jam istirahat, lebih baik kita makan siang.”

“Hmm, kau duluan saja. Aku mau basuh muka dulu agar lebih segar.”

“Baiklah kalau begitu. Kau tunggu di tempat biasa ya, biar nanti aku dan Reana menyusul.”

Selepasnya Jinhya keluar meninggalkan dirinya, Sungrin jadi teringat kembali akan mimpi yang menghampiri tidur dadakannya tadi. Mimpinya serasa begitu panjang dan benar-benar tak masuk akal. Apa lagi yang dimimpikannya itu Lee Taemin, seseorang yang tak ingin Sungrin bawa ke alam delusinya. Ini pasti gara-gara dirinya terlalu banyak nonton drama dan film, jadi saja bunga tidurnya ngaco begitu.

Sungrin membuka keran wastafel toilet, kemudian mengambil beberapa tetes sabun cair dan membasuh tangannya dengan air. Setelah mengeringkan tangannya dengan alat pengering tangan yang terpajang di sisi wastafel, Sungrin melangkah pergi meninggalkan toilet.

Dengan was-was kaki Sungrin berjalan mengendap-endap melewati area sekitar. Mata bulat gadis itu melirik kanan kiri, barang kali ia menemukan sosok nenek lampir alias Kim-saem yang akan menerkamnya karena sudah berani kabur saat jam pelajarannya berlangsung. Ketika hanya mendapati beberapa siswa yang berkeliaran sepanjang koridor kelas, ia bernapas lega. Akhirnya dia bisa mengahabiskan jam istirahatnya dengan tenang.

Sungrin berjalan menapaki anak tangga menuju gedung atap sekolah—tempat yang Jinhya janjikan tadi, sekaligus tempat favoritnya. Gadis itu mencapai puncak tangga, ia membuka pintu atap yang terkunci dengan gembok usang yang sudah rusak. Ketika Sungrin hendak melangkah masuk ke dalam atap, ia disuguhkan oleh pemandangan mengejutkan yang membuat mulutnya menganga lebar.

Seorang siswa laki-laki dengan paras tampan tengah berlutut mengiris kesakitan akibat sebuah pedang transparan dengan efek cahaya toska yang menancap di tubuhnya.

“Lee Taemin!!!”

———————————-END——————————–

  • Dokkaebi : Goblin
  • Daebak : Hebat
  • Gwaenchana : Tidak apa-apa
  • Yaa! : Hey!
  • Mwo : Apa
  • Maldo andwae : Tidak mungkin
  • Ikemen : co-gan
  • Tipe-S : Sadis (lawannya Tipe-M : masokis)
  • Kuchikamizake : Sake edisi terbatas yang dipersembahkan u/ dewa

*sisanya yang english gak diperlu diartiin lagi yaa :p

Huwaaa… akhirnya selesai juga ff gaje ini. Sejujurnya gue ngakak pas bikin adegan di gua itu, sumpaaah gak ahli banget buat cerita-cerita fantasi macem gini wkwk. Well, Silakan tinggalkan komeeeeen bagi (peminat) yang sudah membaca^^

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s