[FF/ONESHOT] The Tiramisu You

tiramisu

Author       :     Lideronyu

Cast           :     Kim Kibum (Key) || Han Youngmi (OC)

Genre        :     Romance

Length       :     Oneshot

Rate           :     PG 15

A/N           :     Halo~~~ lama tak jumpa di dunia per-ff-an 🙂 terakhir kali bikin FF taun 2013, dan sekarang udah taun 2017 aja hoho. Well, I know thesedays fanfic isn’t popular around fangirl activity anymore. Tapi entahlah kesambet setan mana gue tetiba pengen bikin ff (setelah baca lagi ff-ff lama tentunya). Abis belakangan ini owe gada aktifitas sih hehe. Btw, ff kali ini merupakan REMAKE dari komik karangan Yamamori Mika-sensei, dengan judul SUGARS yang punya subjudul sama dengan ff ini. Awalnya pengen bikin ff cerita orisinal, tapi entah kenapa ide-ide buntu gitu aja dan karena tetep ngebet pengen bikin, jadilah cerita remake’an ini hehe. Okelah, happy reading~!!!

—The Tiramisu You—

“Kau yakin mau turun di sini saja?” tanya Jonghyun pada Key yang kini turun dari motornya.

Key melepas helm yang sedari tadi menempel di kepalanya dan menyerahkan benda itu pada empu pemiliknya. Sore ini, sepulang kuliah Key ikut nebeng bersama teman kampus yang baru ia kenal beberapa minggu lalu Kim Jonghyun, yang rumahnya memang kebetulan searah dengan apartemen Key.

“Ya, tak apa, lagipula apartemenku tak jauh dari sini. Thanks, Jjong!” seru Key sembari merapihkan rambut cokelatnya yang tadi sempat berantakan karena tertutupi helm. Jonghyun mengacungkan jempol, kemudian kembali menyalakan mesin motornya dan melesat meninggalkan Key.

Key berjalan memasuki gang menuju apartemen. Pikirannya tiba-tiba berkenala pada kejadian minggu lalu saat ia ditolak oleh seorang gadis teman sekampus sejurusannya. Awalnya Key berpikir kalau itu sebuah takdir yang mempertemukannya kembali dengan cinta pertamanya saat junior high school. Ia tak menyangka kalau gadis itu juga kuliah di tempat yang sama, bahkan satu jurusan. Namun, nyatanya cinta tidak selalu manis seperti apa yang ada di cerita fiksi. Oh, baiklah, tidak seharusnya Key menyamakan kehidupan nyata dengan kisah-kisah roman ilusi yang sering dibacanya itu.

Hembusan angin sore menerpa tubuh kurus Key, pemuda itu menggeleng pelan. Untuk apa ia meratapi kisah cintanya yang lagi-lagi memilukan. Tidak, bukannya Key memiliki wajah buruk rupa ataupun tipe laki-laki yang tidak disukai para gadis. Dengan wajah tirus, hidung mancung, dan perawakan yang lumayan tinggi, ia pernah berhasil menggaet gadis yang ia sukai sebelumnya. Namun, mungkin untuk saat ini ia belum lagi bertemu jodohnya.

Key menghela napas berat, saat langkahnya kunjung mendekati apartemen kecil yang ia tempati sejak pindah dari Daegu ke Seoul, ia melirik sebuah toko kue yang berdiri tepat di sebelah apartemennya. Key memperhatikan toko kue itu, sempat terpikir sejenak kalau ia belum pernah berkunjung ataupun mencoba beli kue di toko itu. Dilihatnya bangunan yang dikonsep dengan nuansa kebaratan itu, tembok dengan ornamen kayu balok serta hiasan pot tanaman anggrek yang menempel pada dinding halaman depan tersebut. Kalau tidak ada papan bertuliskan ‘Dolce Vita Bakery’ di atas atap toko tersebut, mungkin orang lain akan mengiranya sebuah rumah, bukan toko kue.

“Apa aku coba liat-liat ke sana, ya?” guman Key tanpa menyadari kakinya mulai melangkah memasuki toko kue itu. Rasa penasarannya muncul begitu saja, mungkin setelah masuk ia tertarik untuk membeli kue di situ.

“Selamat datang.”

Key melihat sekeliling, tidak terlalu banyak pengunjung hanya 3 meja saja yang terlihat berpenghuni. Pemuda dengan nama asli Kim Kibum itu menjelajahi pandangannya pada etalase yang memampangkan beberapa jenis kue. Seperti toko kue pada umumnya, kebanyakan menu di sana adalah kue berjenis manis dengan bentuk yang berbeda-beda. Pilih yang mana ya? haaah…, bahkan untuk memilih kue saja ia tak tahu apa yang ingin dimakannya, meskipun jika orang lain ada di posisi Key, sudah pasti mereka langsung tergiur pada kue-kue lucu yang ada di depannya. Key tidak benar-benar yakin apa yang dijalani pada kehidupannya belakangan ini.

“Mau pesan yang mana?” ujar seorang gadis dengan rambut kuncir ekor kuda yang berada di depan Key, hanya etalase kue yang memisahkan jarak mereka berdua. Key terkesiap, ia menoleh pada gadis yang diasumsikan sebagai penjaga toko kue tersebut.

“Eh? Ah…, itu,” Key menjawab dengan kikuk. Apa ia terlalu lama memandangi kue-kue itu, atau mungkin karena ia sambil melamun sehingga tak sadar penjaga toko kue itu memperhatikan bahkan sampai menegurnya. “Aku pilih puding itu,” tambahnya sembari menunjuk puding jeruk di etalase mini atas, padahal ia tadi melihat-lihat kue di etalase utama.

Gadis itu mengambil puding yang dipilih Key, lalu memasukannya ke dalam plastik bening kecil sebagai pembukus sebelum akhirnya dimasukan lagi pada paper bag mini bertuliskan ‘Dolce Vita’ .

“5000 won.” Dengan wajah datar gadis itu menyerahkan bungkusan puding itu pada Key. Key merogoh isi dompetnya lalu menyerahkan lima lembar uang 1000 won, “Terima kasih.”

Key tersenyum sopan pada penjaga toko kue tersebut meskipun tak ada balasan sama sekali dari lawannya. Kenapa orang seperti itu dipekerjakan? tidak ada ramah-ramahnya sama sekali, pikir Key sembari melenggang keluar dari toko itu.

***

“Yo, Kibum!” sahut Jinki yang dikenal sebagai pemilik kamar apartemen di sebelah kamar Key. Keduanya keluar bersamaan dari kamar masing-masing.

“Yo, Hyung!” Key menimpali sahutan lelaki yang berumur dua tahun diatasnya itu.

“Kau baru bangun? Tidak ngampus?”

Key menggeleng, “Aku sudah bangun dari jam 9 tadi, dan hari ini tidak ada kelas.”

Jinki mengangguk paham, pantas saja Key hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek yang terkesan santai saat awal tadi dilihatnya keluar kamar. Mereka berdua melangkah menuruni anak tangga menuju lantai dasar. Oh, perlu diketahui bahwa keduanya tinggal di lantai dua di apartemen kecil itu. “Kau mau cari makan siang?” tanyanya lagi.

“Hmm, mungkin aku akan mampir ke toko kue.”

“Oh, yang di sebelah itu, ya? Sepertinya belakangan ini kau sedang suka makan yang manis-manis.”

“Entahlah, haha…,” jawab Key sambil terkekeh kecil. Ia tidak begitu yakin, mungkin apa yang dibilang Jinki ada benarnya, dengan memakan yang manis-manis bisa sedikit meningkatkan suasana hati.

“Ngomong-ngomong Kibum, apa kau punya pacar?” Key mengernyit bingung mendapatkan pertanyaan aneh dari Jinki. “Ah, maksudku kalau kau sedang jomblo mau ikut denganku ke kencan buta?” tambah Jinki cepat melihat raut wajah Key yang sempat salah paham dengan pertanyaannya.

Key tampak berpikir cukup lama sebelum akhirnya ia mengiyakan ajakan Jinki itu.

***

Ruangan yang dihiasi lampu kelap-kelip berwana dengan pajangan layar LCD berukuran 32 inci di hadapan sofa panjang diikuti beberapa meja kecil itu kini dihuni oleh dua orang pemuda dan dua orang gadis. Satu gadis diantaranya tengah melantunkan sebuah lagu mengikuti lirik yang terpampang pada layar LCD, sementara satu gadis lainnya dan satu orang pemuda bersorak-sorak ria. Di sisi lain, Key yang termasuk dalam salah satu penghuni di ruangan itu, hanya bisa bertepuk-tepuk tangan dengan canggung mengikuti suasana yang sedang berjalan. Walaupun tidak biasa dengan kencan buta seperti ini, setidaknya ia harus menghargai Jinki dan dua orang teman perempuannya.

Gadis yang bernyanyi tadi telah menyelesaikan lagunya, kemudian ia berbungkuk dan kembali duduk di sofa diiringi tepuk tangan riuh dari tiga orang di ruangan itu. Key menuangkan bir yang mereka pesan tadi ke gelasnya sebelum akhirnya meminum alkohol itu dengan sekali teguk. Saat bahunya merasa ditepuk, Key mengalihkan pandangannya pada orang tersebut.

“Kibum-ssi, kau mahasiswa jurusan seni ya, di Universitas Chungwoo? Apa kau sudah punya kekasih?” tanya gadis berambut ikal sebahu yang ada di sebelahnya.

“Oh? Ya, benar. Aku tidak punya, hehe…,” jawabnya diiringi kekehan garing. Ugh, ini sangat canggung, batinnya.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita bertukar nomor ponsel?”

“Ah, maaf hari ini aku tidak bawa ponsel,” ujar Key bohong. Raut wajah gadis itu tampak kecewa saat mendengar jawaban dari Key yang jelas terlihat menolaknya secara tak langsung. Ia hanya tersenyum kaku dan beranjak menghampiri Jinki serta satu orang temannya yang sedang bernyanyi di depan.

***

Acara kemarin membuat Key sedikit lelah. Jujur saja sebenarnya Key kurang suka dengan pertemuan kencan buta. Menurutnya, cinta itu harus didapatkan secara alami, bukan direncanakan seperti itu. Namun, tidak ada salahnya mencoba, meskipun hasilnya sesuai dengan apa yang Key sudah perkirakan. Di saat kelelahan seperti ini, Key butuh sesuatu yang manis-manis. Ia melenggang masuk ke toko kue yang belakangan ini sering ia kunjungi, ‘Dolce Vita Bakery’.

“Selamat datang. Mau pesan apa?” sambut penjaga toko kue di sana. Key mendongkak, ia melihat gadis yang waktu itu lagi–saat pertama kali Key menginjak toko kue ini. Beberapa waktu lalu gadis itu sempat tak terlihat di toko tersebut, karena Key dilayani oleh penjaga lainnya. Mungkin kali ini kebetulan dengan shift kerja gadis itu.

Sama seperti sebelumnya gadis itu masih berekspresi datar. Namun, tidak menghilangkan aura wajahnya yang manis. Sayang sekali senyumnya tak pernah diumbar, ah… atau mungkin Key saja yang belum pernah melihatnya.

“Ehm, satu Panna Cotta, take away.” Key memang tidak pernah makan di tempat sebelumnya, ia lebih sering membawanya pulang lalu dimakan di apartemennya sembari mengerjakan tugas kuliah.

***

Sesampainya di apartemen, Key membuka laptop untuk melanjutkan tugasnya yang sempat tertunda. Sambil menunggu booting pada laptop, ia meraih paper bag kue yang tadi ia beli, dibukanya bungkus kue itu.

“Huh?” Key mengernyit heran saat dilihatnya bukan kue yang dipesannya tadi–Panna Cotta. “Ini kan Tiramisu, apa dia salah memasukan?” gumannya bingung.

“Yah, tak apalah.” Key tak peduli, ia menyuapkan Tiramisu itu dengan sendok kecil ke dalam mulutnya.

Key terkesiap saat kue asal Italia itu menancap indera perasanya. “Wah, Daebak! Igeo mwoya? Apakah Tiramisu biasanya seenak ini?!” pekiknya takjub masih mengunyah kue beraroma kopi berbalut keju tersebut dengan mata berbinar. Key lupa kapan terakhir kali ia makan Tiramisu, kali ini ia rasa kue itu benar-benar enak. Teksturnya sangat lembut, meski bahan dasarnya biskuit yang dicelupkan pada cairan dari bubuk kakao yang biasanya pahit, namun tak menghilangkan kesan menarik saat hinggap di indera pengecap. Sepertinya besok ia harus beli lagi!

***

“Permisi aku mau pesan Tiramisu satu.”

“Maaf, tapi stok Tiramisu-nya sudah habis,” ujar gadis penjaga toko.

“Benarkah? Ah, sayang sekali.” Key menghela kecewa.

Pull me up.”

“Eh?” pekik Key kaget. Apa tadi dia mengatakan sesuatu? tanyanya dalam hati.

“Itu arti kata dari ‘Tiramisu’,” jelas gadis itu yang kini membuat Key ber-oh-ria. “Apa suasana hatimu terangkat setelah makan Tiramisu?”

“…” Key bergeming. Tidak disangka gadis yang punya ekspresi datar itu mengajaknya bicara, ditambah lagi kata-katanya barusan tidak sungguh salah. Ia menjadi lebih ringan setelah memakan Tiramisu.

“Ah, kalau begitu aku pesan yang ini saja dan yang itu,” ujar Key mengalihkan pertanyaan gadis itu. Ia tidak mengerti kenapa gadis di depannya mengatakan hal semacam itu. Hingga Key berpikir seperkian detik dalam benaknya, memorinya mengulang kejadian-kejadian yang pernah ia alami sebelumnya. Tanpa sadar Key membuka mulutnya lagi, “Gadis yang kusukai…, menghindariku setelah aku menyatakan cinta padanya.”

Gadis penjaga toko itu menghentikan aktivitasnya yang hendak membungkuskan kue pesanan Key. Keningnya berkerut ketika mendengar pemuda di depannya mengucapkan sesuatu yang tidak ia pahami.

“…Dan gadis terakhir yang kupacari sudah menipuku, lalu gadis yang sebelumnya lagi yang menjadi incaranku malah menyukai sahabatku. Salah satu temanku pernah bilang kalau hal-hal seperti itu memang biasa terjadi di kehidupan ini, tapi entah kenapa semua itu membuatku sedikit tertekan.” Key menghela napas sejenak atas pemaparannya yang panjang, tak lama kemudian ia melanjutkan lagi, “Sepertinya aku sudah tidak punya dorongan lagi untuk mencintai seseorang, tapi tidak mungkin ‘kan aku melanjutkan sisa hidupku tanpa jatuh cinta?” Pemuda bermata rubah itu mengangkat wajahnya sembari menatap nanar ke arah lawan bicaranya yang kini bergeming mendengarkan kata-kata Key.

“…Ini memang bukan salah siapapun atau aku sedang iri pada orang-orang yang punya kisah cinta indah, tapi aku baru sadar kalau belakangan ini aku terlalu terpuruk oleh hal itu. Aku benci pada diriku yang seperti itu.” Key tersenyum pahit mengingat kisah cintanya yang selalu berjalan tidak mulus. Ia mengutuk dirinya kenapa harus selemah ini terhadap permasalahan semu.

Buangiorno (Halo).

Tiba-tiba Key terlonjak mendengar suara seseorang yang berasal dari arah pintu masuk. Mukanya berubah memerah seketika saat dirinya sadar apa yang telah dilakukannya barusan, yakni bercerita soal kisah cintanya pada seorang gadis yang bahkan baru ia temui beberapa kali.

“A-Ah, m-maaf semua yang kukatakan tadi itu bohong! Ini uang untuk kuenya,” Key berkata dengan gugup. Ia menyerahkan beberapa lembar uang di atas etalase kue kemudian mengambil bungkus kue di tangan gadis penjaga toko itu. Key bahkan tak tahu kapan gadis itu selesai membungkus pesanannya saking fokusnya bercerita, yang pasti beberapa menit lalu kue itu sudah terbungkus rapih di tangan si gadis.

Key ngibrit lari keluar toko kue dengan rasa malu. Ia tidak percaya kenapa bisa mulutnya mengeluarkan kata-kata absurd, terlebih lagi soal kehidupan pribadinya pada orang asing. Yah, walaupun jauh dalam hatinya ia ingin seseorang–siapa saja–bisa menjadi pendengarnya.

“Kim Kibum pabbo!” rutuknya pada diri sendiri.

Sementara di tempat lain–di dalam toko kue ‘Dolce Vita Bakery’–, seseorang yang baru masuk ke dalam toko, yang tak lain adalah wanita tua berparas setengah kebaratan itu mendelik bingung. Ia menghampiri gadis penjaga toko yang sedang merapihkan tatanan kue di etalase dan berseru, “Mi scusi (Maaf/Permisi).”

Non si preoccupi (Tidak apa-apa),” sahut si gadis penjaga toko sambil tersenyum ke arah wanita tua itu, senyum yang bahkan tak sempat Key lihat.

***

Key melangkah ragu keluar dari apartemennya, sekarang pukul 9:15 malam dan tentu saja Key sudah menyantap makan malamnya dua jam lalu. Namun, hasratnya memerlukan sesuatu yang manis untuk diicip, apalagi yang dilakukannya selain bukan melesat ke toko kue sebelah apartemen. Pemuda dengan tinggi 177 cm itu mengigit bibir bawahnya, rasa gugup masih hinggap jika mengingat kejadian kemarin di toko kue itu.

Saat hendak berbelok melihat tempat yang ditujunya sudah gelap dan bertuliskan “Close” di depan pintu utama, Key hanya bisa mengusap tengkuknya canggung. Memalukan sekali dengan niatan terselubungku yang ingin meminta maaf di saat pengunjung mulai sepi, tapi malah keburu tutup. Besok saja deh, pikir Key kemudian mulai beranjak dari pijakannya. Namun, saat pintu toko kue itu terbuka ia mengurungkan niatnya.

Pupil mata Key membesar saat dilihatnya seseorang yang awalnya ingin ia temui. Eh? Key ingin menemuinya, benarkah? Atau hanya ingin sekedar minta maaf? Key membalikan badan gugup, bagaimana ini?

Gadis itu baru saja berjalan satu langkah, tiba-tiba dilihatnya seorang laki-laki yang membelakanginya. Ia menyipitkan mata, mempertajam penghilatannya, Penguntit? pikirnya asal. Gadis itu menggeleng, kemudian berjalan mendekati orang tersebut seraya menyisipkan sisi rambutnya ke belakang telinga sebelah kiri. Kali ini ia tampak menggeraikan rambut sepunggungnya, terlihat semakin manis dibanding dengan kuncir ekor kuda biasanya.

Tap!

Gadis itu menepuk pundak Key, “Hey, kau!”

“Uwaaa!!!” Key menjerit kaget, sejak beberapa saat ia terlalu lama berpikir rupanya, hingga kini tiba-tiba saja gadis itu sudah ada di belakangnya.

“Oh, kau pelanggan yang kemarin lupa mengambil uang kembalian, kan?” ujar gadis itu.

“Eh?” bingung Key, ia tidak sadar kalau kemarin membayarkan lebih kuenya.

“Aku akan memberikan uang kembalianmu sekarang.” Gadis itu meroggoh isi tasnya, mencoba menemukan di mana ia menyelipkan dompetnya.

“Uhm, tidak apa-apa lain kali saja,” kata Key dengan nada canggung.

“Lho, ternyata tokonya benar-benar sudah tutup.”

Key membeku seketika mendengar suara baru dari arah belakang. Ia hafal benar pemilik suara itu. Detik berikutnya Key menarik lengan si gadis penjaga toko kue dengan langkah cepat, kemudian bersembunyi di balik tiang listrik besar yang berdiri di antara toko kue dan apartemen.

“Padahal aku lagi ngidam kue di toko itu.”

Suara tadi berbeo lagi, Key mencoba mengintip dari balik tiang dan benar saja seperti dugaannya, kalau suara tadi itu milik seorang gadis berambut pendek dengan penampilan kasual yang memberinya kesan agak tomboy. Gadis itu merupakan orang yang menolak pernyataan cinta Key dua minggu lalu, atau bisa disebut juga cinta pertama Key saat junior high school.

“Ya sudah, besok lagi saja kita ke sini.” Kali ini bukan suara gadis tadi, melainkan teman perempuannya yang ada di sampingnya.

Ketika bayangan kedua gadis itu mulai menghilang, Key menghela napas dan keluar dari persembunyiannya. Sedangkan ia lupa kalau kini ada seorang gadis lain sedang menyernyit bingung menatapnya.

“Ah…, maaf, maaf!” Key melepaskan genggaman tangan dengan si gadis penjaga toko kue. Tanpa ia sadari kenapa juga harus melibatkan gadis di depannya.

“Tidak apa-apa, ini uang kembalianmu.” Gadis itu menyerahkan dua lembar uang 1000 won kepada Key.

“Eh? Ya, terima kasih.” Key menerima uang itu dengan kikuk. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan dan hanya bisa menggarukan kepalanya yang tak gatal. Entah kenapa suasananya menjadi canggung.

“Kalau begitu aku duluan,” pamit gadis penjaga toko kue itu seraya berbungkuk kecil di depan Key, kemudian melenggang pergi. Namun, belum jauh langkahnya menapak, Key memanggilnya kembali.

“Hey!”

***

Key tidak menyangka kalau beberapa menit lalu ia mengatakan pada gadis yang kini ada di sampingnya bahwa ia akan mengantarkan gadis itu ke depan halte bus. Ini sungguh bukan seperti dirinya yang gampang akrab dengan orang asing, tapi entah kenapa Key tak tega membiarkan seorang gadis jalan sendirian di malam hari, atau mungkin malah dirinya yang tak ingin sendirian eh? Entahlah yang pasti hati Key sempat bergejolak lagi setelah tadi melihat gadis yang menolak cintanya terakhir kali.

“Mencintai seseorang bisa membuatmu menderita.”

Ditolehnya gadis penjaga toko kue itu yang tiba-tiba bersuara memecahkan keheningan antar dua anak manusia tersebut. “Kalau tidak menderita bukan cinta namanya, tapi yang menderita selalu datang dari orang yang mencintai. Itu kutipan milik Woody Allen,” lanjutnya dengan pandangan lurus ke depan, sementara Key mendengarkannya dengan seksama. “Yah, bagaimanapun hal yang berkaitan dengan cinta pasti akan menyakitkan.”

Jeda sebentar, baik Key maupun gadis itu tidak ada yang mengeluarkan kata-kata dalam hitungan detik terakhir. Namun, setelah mencerna ucapan gadis itu tiba-tiba saja wajah Key merona. Apa dia mencoba untuk menghiburku? pikirnya.

“Menyantap yang manis-manis saat dirimu sedang menderita itu sangat luar biasa,” si gadis penjaga toko kue membeo lagi.

“Benar. Kali ini kutipan milik siapa?” Key mulai menimpali, ia bisa melihat mata gadis itu meliriknya dan sedetik kemudian menoleh.

“Itu teoriku sendiri,” jawabnya sembari menjulurkan lidah ke arah Key.

Tanpa disadari mereka sudah sampai di depan halte bus. Suasana sekitar belum terlalu sepi mengingat saat ini masih jam 09.40 malam. Ada sekitar lima orang yang berada di halte tersebut, ditambah lagi jalan raya masih dipenuhi oleh kendaraan yang berlalu-lalang.

“Terima kasih sudah mengantarku ke halte,” ucap gadis itu pada Key.

“Hehe, tidak masalah. Hmm, kalau begitu sampai jumpa.” Key membungkuk sembari terkekeh canggung. Tak lama bus yang dituju pun tiba di depan halte. Gadis itu balas berbungkuk pada Key, ia berjalan menuju pintu masuk bus. Namun, belum sampai pada tujuannya Key menarik lengan gadis itu, menahan langkahnya.

“Seharusnya aku yang bilang terima kasih!” seru Key, “besok aku akan datang lagi ke ‘Dolce Vita Bakery’!”

Gadis itu tertegun, ia membeku sejenak.

“Besok ‘Dolce Vita Bakery’ akan tutup untuk sementara,” ucap gadis penjaga toko kue itu seraya tersenyum. Ya, ini pertama kalinya ia memamerkan senyumnya di depan Key yang entah kenapa membuat laki-laki itu terpaku. “Mungkin setelah hari esok, atau esoknya lagi. Pasti!”

Kemudian gadis itu melenggang memasuki bus yang menunggunya, membiarkan Key yang masih terpana oleh senyum manis gadis itu.

***

Siapa namanya? Umurnya berapa? Apa dia lebih muda atau lebih tua dariku? Apa film kesukaannya?

Segelincir pertanyaan tertaut dalam benak Key. Seharian ia tak bisa lepas dari bayangan gadis penjaga toko kue itu. Kemarin malam adalah waktu terlama Key bercengkrama dengan gadis itu. Namun, bodohnya ia tidak sempat bertanya hal kecil seperti namanya siapa atau tinggal di mana dan semacamnya. Pikir Key masih ada hari esok jadi mungkin ia bisa perlahan menjadi temannya. Lagi pula tempat kerja gadis itu sangatlah dekat dengan apartemen tinggalnya, Key bisa datang kapan pun ke ‘Dolce Vita Bakery’ untuk melihat gadis itu. Yah, walaupun untuk hari ini toko kue itu tutup sementara.

Satu hal yang Key ketahui, ternyata saat senyum gadis itu terlihat seperti anak kecil, sangat polos dan ia menyukainya. Key bukannya sedang jatuh cinta atau pun naksir tiba-tiba, tapi rasanya gadis itu agak membuatnya tertarik dengan kepribadian yang tak terduga. Mata yang tak terlalu sipit, hidung mancung yang panjang, pinggangnya yang ramping, serta rambut yang terjatuh lurus. Meski hanya ekspresi datar yang sering ditunjukan, namun saat mengobrol dengannya banyak kata-kata bijak yang keluar dari mulutnya. Pokoknya besok Key harus ke toko kue itu, bertemu dengannya!

***

“P-Permisi.” Key masuk ke dalam toko kue ‘Dolce Vita Bakery’. Masih belum ada pengunjung saat dilihatnya sekitar tampak sepi. Tentu saja, sekarang baru jam 9.00 pagi dan Key terlalu bersemangat untuk niatan terselubungnya itu.

“Selamat datang.”

Lho? Key mendelik heran. Sambutan barusan bukan dari si gadis penjaga toko kue, melainkan seorang wanita tua berparas campuran yang pernah Key lihat di tempat ini juga–Orang yang mengejutkan Key tiba-tiba saat ia sedang curhat colongan pada tempo hari.

“Maaf, gadis yang biasa jaga toko di sini kemana, ya?” tanya Key blak-blakan pada wanita tua itu.

“Oh, maksudmu cucuku?”

Mata Key membulat terkejut, Heh? Jadi wanita tua ini neneknya?

“Kenapa?” tanya lagi wanita tua itu setelah melihat raut wajah Key yang tiba-tiba terkejut. “Oh! aku yakin ini pasti buatmu anak muda.” Wanita tua atau yang sekarang Key ketahui sebagai neneknya si gadis itu merogoh sesuatu dari laci kasir.

Key menerima sebuah surat dari tangan si nenek.

“Youngmi bilang kalau hari ini ada seorang pemuda datang ke sini, aku disuruh untuk memberikan itu padanya.”

 ‘Untuk laki-laki bermata rubah dengan rambut cokelat’

Senyum terkulum di wajah Key. Eh, tapi kenapa gadis itu harus menuliskan surat segala untuknya?

“Ah, Halmonie, ngomong-ngomong kemana dia? Apa sedang sakit?”

“Lho, Youngmi tidak memberitahumu?”

***

Untuk laki-laki bermata rubah dengan rambut cokelat

Aku berangkat menuju tempat Ayahku di Naple, Italia untuk menlanjutkan kuliah di sana.

Ngomong-ngomong soal Woody Allen, ada satu hal lagi yang belum kuceritakan padamu.

Dia menikahi anak adopsi dari kekasihnya, dia benar-benar tidak biasa, ya? Tapi kupikir hal itu sungguh menakjubkan.

Dia benar-benar mempertaruhkan hidupnya untuk mencari kebahagiaan.

Yah, walaupun setelah itu hubungan dengan kekasihnya menjadi buruk.

Hal itu terasa seperti dipukul oleh batu.

Kau tahu? Orang tuaku bercerai.

Saat itu aku dengan sengaja menukar pesananmu dengan Tiramisu.

Tiramisu berwujud Tiramisu.

Walau begitu, semua kepahitan yang ada di dalam hatiku mempunyai arti tersendiri.

-Han Youngmi-

Key meremas surat yang telah selesai dibacanya. Ia termenung memikirnya semua isinya. Entah ada makna apa dibalik surat yang ditulis oleh gadis penjaga toko kue ‘Dolce Vita Bakery’, atau yang Key ketahui sekarang dengan nama Han Youngmi.

“Italia, ya…,” gumannya pelan, “ini bukan secuil cerita roman picisan, kan?”

“Mungkin setelah hari esok, atau esoknya lagi. Pasti!”

Ucapan Youngmi tempo hari terngiang di benak Key. Meski sedikit kecewa, tapi Key yakin suatu hari dan/atau di mana pun ia akan bertemu kembali dengan gadis itu. Kemudian, saat waktu itu tiba, Key akan membalas kebaikan gadis itu yang telah mengenalkan pahit-manisnya Tiramisu.

—————————–END————————–

huweee tbh author kurang paham sama bagian isi suratnya wkwk tapi sudah terlanjur dibikin jadi yoweslah! entahlah ff ini ada yang baca atau nggak, yang penting udah dipublish aja. semoga kalo ada yang baca bisa berniat komentar memberikan saran serta masukan buat tulisan ini kkk~^^

Iklan

2 pemikiran pada “[FF/ONESHOT] The Tiramisu You

  1. awalnya kupikir ini ONkKEY story…
    ternyata stragiht… dan sosok si cewek aku ngebayangin wajahnya Yagi Arisa. appanya dia juga orang Itali.. 😀
    OH YA….
    ini udah end gitu?
    yahhh… dibuat sequelnya dong…
    when they meet again… ?
    😀

    • waaah ada yang baca ternyata haha~ bukan kok bukan Arisa kalo visualisasi aku sih, malah gak kepikiran ke Arisa wk emang appa-nya arisa italia kah? france bukannya? eh atau UK? entahlah xD
      Iya niatnya sih pengen di-sekuelin hehe.
      btw, makasih udah baca^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s