[ONESHOT] GONE NOT AROUND

FX_TEASER_04

Title                     : Gone Not Around

Author                  : @Astridvitaa

Main Cast             : Kim Jongin (KAI), Kwon Na Young (OC)

Length                  : Oneshoot

Genre                   : Romance, Angst (perhaps)

Rating                  : PG-15

Annyeong, this is my first time to publish my story..

Hope you will like it and enjoy this whole (foolish) story dan terima kasih buat author yg udah mau ngeshare ff abal-abal ini *hikz, terharu*

Anyway, jgn lupa like dan commentnya ya guys..

*PS: Recommended song for this story (Lee Hi – Dream)

 

******

 

Never say something that you will regret in the future. So, think twice before you speak up.

“Jadi, mulai saat ini kita berkencan begitu? “, tanya gadis berperawakan tinggi dengan rambut panjang bergelombangnya itu. Namun jika dibandingkan dengan lelaki dihadapannya ini, tubuh tinggi gadis itu hanya menyentuh pucuk hidung lelaki berwajah dingin itu.

“Bisakah kau pelankan suaramu itu? Kau ini berisik sekali.”, ucap laki-laki itu kemudian berlalu pergi meninggalkan gadis itu yang masih bertahan ditempatnya dengan tatapan tidak percaya.

“Kim Jongin, chakkaman!”, pekik gadis itu kemudian menarik lengan baju pemuda tadi. Dengan terpaksa pemuda itu menghentikan langkah kakinya dan kembali menghadap gadis itu.

“Apa lagi? “, pemuda itu menggertakkan giginya menahan gemuruh emosi dalam dadanya. Berkali-kali lelaki itu perlu mengingatkan tujuan awalnya menawari gadis itu untuk menjadi kekasihnya. ‘Tahan Kim Jongin, tahan! Ingat tujuan awalmu. Bayangkan indahnya liburan diresort mewah di Jeju dengan para gadis cantik.’, bisik pemuda bernama Kim Jongin itu dalam hatinya berkali-kali.

“Emm, kau tidak bercanda kan? Ini serius kan?”, tanya gadis itu masih tidak percaya. Gadis itu masih tidak percaya dengan apa yang baru saja telinganya tangkap ketika beberapa menit yang Kim Jongin, pria idaman seluruh wanita dikampusnya ini memintanya untuk menjadi kekasihnya. Note it, kekasihnya! ‘Mimpi apa aku semalam sampai bisa mujur begini?’ tanya gadis itu dalam hati.

Tanpa diduga pria bernama Kim Jongin itu membelai lembut pipi gadis itu. Pipi dari gadis yang bahkan baru ia ketahui namanya tidak kurang dari enam jam yang lalu dan telah ia ajak berpacaran dengannya kurang dari tiga menit yang lalu.

“Selama bibir mungilmu ini masih bisa terkunci rapat, kurasa aku benar-benar serius berpacaran denganmu Miss Kwon Nayoung.”, bisik Jongin tepat ditelinga gadis itu. Pantas saja laki-laki brengsek itu berani melakukannya, terang saja mereka sekarang sedang berada di koridor kelas yang sepi. Hampir semua kegiatan perkuliahan telah selesai beberapa jam yang lalu dan hanya menyisakan mereka berdua dan beberapa gelintir orang yang entah dimana keberadaannya sekarang.

Semburat kemerahan mulai menghiasi pipi halus gadis itu. Jantungnya berdetak lebih cepat ketika jarak mereka sekarang sangat dekat sekali. Bahkan gadis itu bisa mendengar deru nafas Kim Jongin.

Kim Jongin yang tahu gadis dihadapannya itu mulai menahan malunya, kemudian berlalu meninggalkan gadis itu. Pemuda itu hanya ingn menggoda gadis bernama Kwon Nayoung itu saja. ‘Bukankah perempuan di dunia ini memang sama saja? Mereka semua membosankan. ‘Apalagi kau Kwon nayoung, kau sangat membosankan.’, dengus Kim Jongin sambil melirik gadis yang masih berdiri mematung ditempatnya tadi dan berlalu meninggalkannya tanpa menoleh lagi untuk menatap gadis itu.

Setelah kepergian Kom Jongin barulah gadis bernama Kwon Nayoung itu dapat mengatur detak jantungnya yang berdebar tak karuan dan menghirup nafas sebanyak mungkin untuk memberi otaknya pasukan udara yang cukup untuk bekerja.

‘See, tak ada yang sia-sia kan kedatanganku kesini?’, kemudian senyuman cerah pun menyinari wajah gadis itu. Kwon Nayoung, itulah nama gadis itu. Banyak sekali hal menarik yang ada pada diri gadis ini. Otaknya yang cerdas menjadikannya dengan mudah diterima sebagai salah satu mahasiswi di Seoul University di bidang College of Humanity. Program yang sama yang sudah ditempuhnya selama kurang lebih setahun di Swiss.

Bukankah Swiss lebih baik daripada di Seoul? Lalu kenapa gadis itu justru memilih pindah ke Seoul dan meninggalkan kedua orang tuanya di Swiss? Entahlah, mungkin gadis itu terlanjur rindu dengan kampung halaman ibunya itu atau ia sudah terlalu bosan dengan kehidupannya di benua Eropa. Yang jelas, ketika gadis itu membaca mengenai adanya scholarship program yang diadakan universitasnya di Swiss, ia langsung optimis mengikutinya bahkan tanpa membicarakannya lebih dahulu kepada orang tuanya.

Jadilah, keadaan drama dari Ibu Nayoung yang berat melepas kepergian anak tunggal mereka untuk merantau ke negeri ginseng itu terjadi. Walaupun Ibu Nayoung hanyalah ibu rumah tangga biasa namun Nayoung tahu Ayahnya lebih membutuhkan Ibunya daripada dirinya membutuhkan beliau. Profesi Ayah Nayoung sebagai konsulat untuk negara-negara membuat kehidupan keluarga kecil mereka sudah terbiasa hidup secara nomaden. Dan Nayoung lelah hidup berpindah-pindah terus seperti itu. Bukankah terkadang gadis itu juga ingin hidup normal dan menetap seperti orang lain?

Dan jadilah perantauan Nayoung di negeri ginseng itu dimulai. Semuanya berjalan dengan baik sampai detik ini. Tidak terasa gadis itu telah memasuki tahun keduanya hidup di Korea Selatan. Menjalani studinya dari pagi hingga sore dan apabila ia senggang di akhir pekan makan ia dan temannya Park Minji akan menyabet pekerjaan paruh waktu sebagai alternatif uang jajan bagi mereka.

Bukankah Ayah Nayoung yang bekerja sebagai konsulat itu bahkan bisa memberi anaknya uang saku kapanpun Nayoung mau? Tentu saja bisa dan itulah yang sempat Ayah Nayoung lakukan pada awal kehidupan anak gadisnya di Korea yang langsung ditolak mentah-mentah oleh gadis itu. Ia ingin belajar hidup mandiri dan menghargai apapun yang ia dapat beradasar dari usahanya sendiri. Bukankah gadis bernama Kwon Nayoung itu memang cukup aneh karena menolak kiriman uang saku dari Ayahnya dan lebih memilih bekerja paruh waktu tiap minggunya?

Dan jika kau mulai menebak-nebak jika Kwon Nayoung jatuh cinta pada namja bernama Kim Jongin pada pandangan pertama saat gadis itu baru sampai di Korea Selatan, maka kau salah besar. Cinta Nayoung pada lelaki tengik itu bahkan telah tumbuh sebelum ia menginjakkan kakinya di Seoul. Tepatnya saat itu Nayoung baru berumur dua belas tahun. Kala itu ia tengah duduk-duduk di taman kosong dekat flathouse dimana mereka tinggal. Pada saat itu musim panas tengah menyengat langit kota Kanada. Nayoung kecil yang sedang malas terkurung dalam ruang flathouse mereka yang pengap akhirnya memilih duduk ditaman bermain itu. Semuanya tampak lengang dan normal hingga langkah kaki asing itu masuk kedalam hiduonya.

Langkah kaki terseok-seok milik anak laki-laki itu berhenti dan malah menyenderkan tubuhnya di kursi kososng disamping Nayoung. Baju anak laki-laki yang tampak seumuran dengan Nayoung itu tampak berantakan. Kausnya kusut, belum lagi dengan rambutnya yang panjang dan acak-acakan telah sukses menutupi wajahnya.

Nayoung kecil yang sangat ingin tahu, memberanikan dirinya mengamati sosok disampingnya ini. Merasa diperhatikan, bocah laki-laki itu menolehkan kepalanya menghadap Nayoung. Menjadikan seluruh bekas perkelahian yang tercetak jelas diwajah bicak laki-laki itu menjadi terpampang jelas.

“DO STAY HERE AND DON”T MOVE! I’LL BE BACK. “, perintah Nayoung kepada anak laki-laki itu. Baru beberapa langkah kakinya menjauh dari kursi itu dan Nayoung kembali lagi. “REMEMBER, DON’T MOVE!”, ingat Nayoung lalu secepat kilat berlari menuju flat housenya. Secepat mungkin menyambar kotak p3k yang masih lengkap dan mengisi saku celana pendek longgarnya dengan sandwich buatan ibunya. Ibu Nayoung rupanya menurun sifat Nayoung yang selalu bertindak dan menghadapi sesuatu secara berlebihan. Sebutlah sifat mereka ini sebagai sifat yang terlalu mendramatisir.

Nayoung kecil menghela nafas ega ketika menemukan anak laki-laki tadi masih berada ditempatnya tadi meninggalkannya. Mendengarkan perintahnya dengan patuh. Bahkan ketika jemari kecil Nayoung bergerak lincah unk membersihkan luka dan mengobati luka-lukanya, anak laki-laki itu tetap saja diam. Deru nafas teratur dari anak laki-laki itulah penanda bahwa ia sedang tertidur sedari ia menunggu Nayoung tadi.

Setelah Nayoung selesai mengobati semua luka anak laki-laki itu, tanpa bermaksud meggangu tidur nyenyaknya Nayoung menyelipkan sandwich tuna buatan ibunya kedalam lipatan tangan anak laki-laki itu. Dan tangan anak laki-laki itu menahan pergelangan tangan Nayoung ketika gadis itu akan berbalik pergi.

“Why did you help me? You don’t even know me before, right? “, tanya anak laki-laki itu. Ah, kini setelah rambut anak laki-laki itu tak lagi menutupi wajahnya barulah Nayoung bisa melihat wajah anak itu dengan jelas. Jika dilihat sekilas, dapat ditebak umur bocah ini bahkan lebih muda beberapa bulan dari Nayoung. Wajah yang penuh dengan jiwa ingin selalu bebas dan tanpa kekangan. Itulah penilaian Nayoung sebelum kedua bola mata hitam milik lelaki itu mengunci pandangannya. Membuatnya benar-benar terpaku dan terjerumus masuk kedalamnya. Nayoung terus saja diam hingga bocah lelaki itu mendorong pelan tubuh Nayoung untuk menyingkir dari hadapannya dan pergi begitu saja. Meninggalkan Nayoung yang masih diam dengan penuh tanda tanya bercokol dalam kepalanya.

Hey, I haven’t asked he his name! Aaa, Nayoung neomu-neomu paboya!’ rutuk gadis kecil itu pada dirinya sendiri. Hanya ada satu petunjuk yang dimiliki oleh Nayoung kecil saat itu mengenai identitas bocah laki-laki yang sudah membuat jantung melompat-lompat tak karuan itu. Thanks God karena pada jaman itu sedang sangat populer sekali menggunakan kalung dengan liontin nama mereka. “Kalau tidak salah tadi liontinnya bertuliskan Kai. Kai, apakah itu namamu eoh? “, tanya Nayoung kecil pada dirinya sendiri.

Dan semenjak saat itulah Nayoung kecil menghabiskan waktunya selaa satu tahun di Kanada. Tidak peduli musim apapun itu, ia akan tetap duduk di taman bermain itu untuk menunggu pangerannya yang bernama Kai datang. Sementara sosok yang selalu Nayoung tunggu justru tak penah lagi menampakkan batang hidungnya lagi di taman bermain itu.

Namun ada satu yang tak pernah berubah mulai dari saat itu dalam kehidupan Nayoung. Posisi kai dihati gadis itu yang tak pernah tergantikan. Mungkinkah itu bisa disebut sebagai cinta pertama Nayoung? Dan walaupun Nayoung telah beberapa kali menjalin kasih dengan beberapa lelaki, namun posisi Kai dalam hati Nayoung tidak bisa ia geser begitu saja.

Dan selama itu pula Nayoung memanjatkan doa agar Tuhan dapat mengabulkan doanya. Dan mungkin Tuhan telah merencanakan agar ini semua terjadi disaat yang tepat. Tepat ketika Nayoung tengah berbincang dengan sahabatnya di junior school dan disaat itulah nayoung bisa mendapat informasi mengenai nama asli Kai dan keberadaan namja itu yang berada di Korea.

Tangan takdir pun kembali ikut campur dalam kehidupan dua anak manusia ini hingga mereka kembali bertemu di Seoul University satu tahun yang lalu. Namun apakah kali ini juga merupakan tangan takdir ketika mereka berdua bertemu di bench yang menghadap langsung ke arah pepohonan hijau universitas mereka?

Awalnya Nayoung mengira itu semua takdir dan ia sangat yakin jika Kai dapat mengingatnya. Apakah kalian semua tahu bahwa namja bernama Kai yang telah mengisi hati Nayoung selama lima tahun terakhir ini adalah namja tengik bernama Kim Jongin yang terkenal playboy dan sangat suka mempermainkan hati dan tubuh wanita. Sehingga jangankan untuk mengingat Nayoung beserta dengan insiden yang mempertemukan mereka berdua dilangit Kanada lima tahun yang lalu jika untuk mengingat siapa nama gadis yang telah ia ajak untuk one stand semalam saja ia tidak ingat.

Apakah semua kenangan itu memang harus diingat? Kalau iya, maka semua kapasitas otak manusia dibumi ini hanya akan dipenuhi dengan sampah saja. Maka dari itu, otakku sudah kuprogram untuk MEMBUANG berbagai macam KENANGAN TIDAK PENTING dari dalam ingatanku.”, ucap Kai menutup pembicaraan awal mereka sekaligus memupuskan semua usaha dan harapan yang telah Nayoung pupuk sejak lima tahun lalu.

Apakah kali ini takdir justru mempermainkan nasib kedua anak manusia ini? Well, at least we’re here to watching them.

***

Semenjak saat itulah Kwon Nayoung berusaha mengenal lebih jauh mengenai sosok Kai atau bisa juga disebut sebagai Kim Jongin. Tentunya Nayoung tidak dengan bodohnya menanyakan langsung semua pertanyaan yang bercokol didalam otaknya kepada laki-laki itu secara langsung. Apalagi Kai selalu terlihat berkumpul dengan para sahabatnya atau sedang sibuk dikerumuni para fansnya. Selama dua tahun penuh Nayoung hanya dapat mengamati dari kejauhan kebiasaan yang sering dilakukan Kai dan sebisa mungkin membuat laki-laki itu menyadari kehadirannya walaupun tampak mustahil.

Mungkin kita bisa tambahkan bahwa Nayoung sangat mahir untuk menampakkan pokerfacenya dihadapan Kim Jongin. Terlebih jika tanpa sengaja Nayoung memergoki laki-laki itu tengah mencium mesra seorang gadis entah itu dilorong sepi kelas ataupun tengah mengeluarkan suara yang aneh dari toilet wanita. Bukankah berpura-pura jika kau baik-baik saja itu lebih mudah daripada menampakkan wajah sedih dan menjelaskan alasan kenpa kau bersedih? Cukuplah dunia ini meihat senyuman diwajah kita. Dunia tidak perlu tahu luka apa yang tengah kita rasakan bukan?

Terkadang Nayoung pun bertanya-tanya dalam hati kecilnya, apakah mencintai seseorang itu harus sebegini sakitnya? Well, mungkin jika orang yang kau cintai itu sedikit waras atau lebih sopannya bukanlah Kim Jongin si playboy tengik itu, mungkin mencintai seseorang tidak akan sebegini sakitnya, Kwon Nayoung.

Ada satu kebiasaan Nayoung yang bahkan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun. Salah satu (lagi) sifat yang ia warisi dari ibunya, ketulusan hati.

Nayoung akan tetap memperhatikan Kim Jongin, tak peduli seberapa kerasnya lelaki itu telah meremukkan hatinya. Namun Kwon Nayoung akan tetap memberikan perhatiannya kepada playboy tengik itu. Selalu membuatkan Kai bekal makan siang dikala laki-laki itu tampak pucat dan berkeliaran tak tentu arah selama seharian dikampus. Selalu memberikan playboy tengik itu jawaban yang benar apabila Park gyosunim tiba-tiba menanyainya (hal ini hanya dapat terjadi ketika Nayoung dan Kai satu kelas dan itupun hanya berlaku pada satu atau dua mata kuliah tertentu). Dan gadis itu akan dengan setia merawat luka-luka diwajah Kim Jongin yang entah bagaimana caranya selalu ia dapat beberapa hari setelah bekas lukanya yang lain mulai menghilang dan mengering. Membuat Nayoung mau tak mau menjadikan tas ranselnya sebagai tas p3k berjalan sekaligus tas ajaib yang berisi barang-barang yang mungkin Kai butuhkan sewaktu-waktu.

Sudah menjadi kebiasaan mereka berdua menjadikan bench yang menghadap langsung ke arah pepohonan tempat mereka pertama kali bertemu di Seoul University itu sebagai tempat mereka untuk bertemu. Dengan tanpa banyak kata Nayoung akan membersihkan luka yang berada diwajah Kai dan memberikannya obat.

Seperti saat ini. Setelah ajakan pacaran yang diutarakan Kai padanya kemarin yang sangat mendadak – dan sukses membuat Nayoung tidak bisa memejamkan matanya sama sekali dari kemarin saking shocknya – tangan Nayoung telah kembali disibukkan dengan luka dipelipis Kai. Lukanya tak terlalu parah, hanya sebuah goresaan kecil saja. Sehingga setelah membersihkannya, Nayoung hanya perlu menutupnya dengan plester.

“Mana makan siangku? “, todong Kai tanpa tedeng aling-aling.

“Eung? Makan siang apa? “, tanya Nayoung dengan kedua matanya yang membulat sempurna seakan menyuarakan kebingunganya dengan ucapan Kai barusan.

“Aish, kau ini! Bukankah setiap hari sebelum kau jadi pacarku kau sudah sering membawakanku makanan? Harusnya sekarang setelah kau jadi pacarku, kau wajib membawakanku makanan setiap hari! “, omel Kai panjang lebar lalu bergegas pergi meninggalkan Nayoung.

Oh Tuhan, dosakah aku jika aku melempar batu atau apapun ke kepala playboy tengik ini? Mungkin itu bisa membuat otaknya kembali ke posisi yang seharusnya.

“Hey, wait! “, panggil Nayoung menarik lengan baju Kai yang langsung dapat menghentikan langkah kaki pria arogan itu. Dengan pandangan meremehkan dan acuh tak acuh, Kai menatap kekasih barunya itu. Mengamati rambut hitam kemerahan dan bergelombang gadis itu yang tengah menutupi wajahnya. Membingkai wajah mungil gadis itu dengan sempurna.

“I haven’t said anything and you just left?”, omel Nayoung yang membuat bibir mungilnya bergerak-gerak lucu seperti ikan koi. Hal ini pun tidak luput dari pandangan playboy tengik itu. Membuat Kai sejenak terpana dan tergoda untuk mengecup bibir mungil berwarna pink muda itu. Oh, demi dewa-dewi yang telah tenang disurga, kumohon ambillah saja playboy tengik ini sebagai tukang bakar di neraka.

“This is for you. Hope you will like it. So sorry, only sandwiches for today. Aku belum mengambil gajiku dan hanya itu yang tersisa untuk kuolah. Jadi, makanlah sandwich itu dengan baik Tuan Kim! “, perintah Nayoung menyodorkan kotak makannya yang berwarna biru tua kehadapan Kai.

Kai menahan senyumnya ketika melihat kotak makan yang disodorkan oleh Nayoung. Siapa sih yang tidak bahagia jika terus-terusan mendapatkan jatah makan gratis? Selama dua tahun berturut-turut pula!

“Daripada tidak ada yang bisa kumakan, apa boleh buat. “, nada suara Kai terdengar malas-malasan. Ekspresi wajahnya menunjukkan keterpaksaan yang sangat saat harus menerima kotak makan itu. Bukankah akting pria ini sudah cukup hebat untuk mengantarkannya menjadi nominasi di Piala Oscar?

Semua orang memang bisa saja tertipu dengan akting yang sering dikeluarkan lelaki itu, namun tidak dengan Nayoung. Gadis itu sudah sangat hafal kebiasaan laki-laki dihadapannya ini. Selalu berputar mengelilingi pria itu kemanapun ia pergi membuat gadis itu dapat menghafal semua detail yang ada pada diri pria itu. Kebiasaannya, hal yang ia sukai, hal yang dibenci lelaki itu, serta seluruh ekspresi yang dimunculkan Kai akan dengan mudah dapat Nayoung ketahui maknanya. Hanya ada dua hal yang gadis itu tak pernah tahu. Isi kepala lelaki brengsek itu dan bagaimana cara menyentuh hati lelaki dingin bernama Kai itu.

Termasuk saat ini. Ketika Kai berpura-pura tidak berminat pada makanan yang dibawakan Nayoung, ia tahu dengan sangat bahwa laki-laki itu pasti akan menghabiskan makanan itu sesaat setelah gadis itu pergi.

“Ah, Kai oppa aku pergi dulu ya. Aku ada kelas. Jangan lupa kau makan sandwich itu! Annyeong. “, lalu Nayoung melangkahkan kakinya menjauh dari bangku itu. Tidak, gadis itu tidak sepenuhnya kembali ke kelasnya. Justru sebetulnya hari ini Nayoung tidak memiliki jadwal kuliah sama sekali. Namun, hanya untuk membawakan lelaki macam Kim Jongin itulah Nayoung masuk kuliah dan berpura-pura ada kelas.

Dan disinilah gadis itu sekarang. Bersembunyi dibalik batang pohon besar yang mampu menutupi tubuhnya dengan baik namun memberinya sudut pandang yang bagus untuk mengamati sosok laki-laki yang perlahan mulai menikmati bekal makanan di sudut salah satu bangku itu.

Ya, beginilah yang selalu gadis itu lakukan selama kurang lebih dua tahun ini. Walaupun Nayoung tidak memiliki jadwal kuliah hari itu, namun gadis itu akan tetap datang ke kampus sambil membawakan bekal makanan untuk Kai kemudian bersembunyi dibalik pohon ini. Menikmati dalam diam semua ekspresi wajah Kai saat laki-laki itu memakan dengan lahap bekal buatan tangan Nayoung sendiri.

Pernah gadis itu berkeras menemani Kai untuk menghabiskan makanannya. Tapi, yang didapat oleh Nayoung malah cacian dan makian laki-laki itu terhadap masakannya dan sesekali memuntahkan makanan yang dibuat oleh Nayoung tepat dihadapannya. Semenjak saat itulah Nayoung memiliki akal untuk menikmati seluruh ekspresi wajah Kai saat memakan bekalnya dibalik pohon ini. Cukup dari balik bayangan pohon ini gadis itu dapat tersenyum bahagia menikmati ekspresi wajah Kai saat ia makan. Apakah cinta sebegitu hebatnya hingga membuat gadis sebaik Nayoung dapat dengan sabar memahami dan mengerti seluruh keegoisan Kai?

***

                        Entah sudah pukul berapa sekarang. Gadis itu sudah kelewat lelah untuk menengok jam tangan yang membelit pergelangan tangannya. Saat ini musim dingin tengah menyelimuti langit kota Seoul, membuat banyak orang enggan untuk berada diluar ruangan dan memilih bergelung didalam rumah dengan penghangat ruangan yang menyala sebagai pilihan yang bijak. Tapi, lihat apa yang gadis itu tengah lakukan. Ia malah berdiri ditengah hujan salju tanpa berniat untuk sesegera mungkin kabur dari tempat itu dan mencari sesuatu untuk menghangatkan tubuhnya yang sudah terasa membeku seperti es.

Berkali-kali gadis itu membisikkan kepada dirinya sendiri kalimat penghiburan “Ia pasti datang. Kai oppa pasti datang.”, terus menerus hingga kalimat itu berubah menjadi sebuah kalimat tanya bahkan untuk indera pendengar gadis itu sendiri. ya, lagi-lagi Nayoung seperti orang keledai bodoh yang ditipu mentah-mentah oleh rubah licik macam Kai.

Nayoung bahkan telah me-cancel jadwal kerjanya hari ini khusus agar ia dapat pergi bersama dengan Kai sesaat setelah gadis itu mendapat pesan dari pria itu yang tiba-tiba mengajaknya berkencan. Bertemu di Namsan Tower merupakan janji yang diucapkan oleh Kai. Dengan menyiapkan pakaian serta penampilan terbaiknya, gadis itu menunggu Kai dengan senyum manisnya. Siapapun orang yang melewatinya pasti akan berdecak kagum menatap paras Nayoung kala itu. Membuat gadis ini bertanya-tanya dalam hati ekspresi macam apa yang akan dikeluarkan kekasihnya, Kai ketika melihatnya nanti.

Cahaya harapan dalam hati Nayoung perlahan meredup seiring dengan hujan salju yang makin menderas dan sosok Kai yang tak kunjung mucul bahkan batang hidungnya saja tidak tampak. ‘Apakah terjadi sesuatu pada oppa?’ ‘Apakah ia baik-baik saja?’ adalah pertanyaan yang sering muncul dalam benak gadis itu. Berkali-kali ia mencoba menghubungi nomor handphone Kai namun tak pernah mendapat jawaban dari pemiliknya. Membuat air mata gadis itu hampir siap menetes ketika ia memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa menimpa kekasihnya itu. Namun jika saja aku menjadi Nayoung, aku justru mendoakan agar laki-laki brengsek itu benar-benar mengalami semua kejadian buruk.

Empat jam sudah gadis itu berdiri dibawah bangunan Namsan Tower. Dengan hawa dingin musim dingin serta hujan salju deras yang setia menemaninya. Membuat gadis itu nampak sangat memprihatinkan sekali. Keyakinannya bahwa kekasihnya akan datang untuk menjemputnya, membuat Nayoung malah jauh terlihat lebih menyedihkan.

Hampir genap lima jam sudah Nayoung berdiri disana. Dengan mendesah pasrah gadis itu melirik jarum jam tangannya yang menunjuk angka sebelas tepat sebagai penunjuk waktu baginya. Pukul sebelas malam dan gadis itu masih saja berada ditengah hujan salju kota Seoul. Dengan airmata yang menggenang di pelupuk mata dan kekecewaan yang menohok hati hingga mencapai dasar perutnya, gadis itu akhirnya memutuskan untuk pulang.

Baru beberapa langkah kaki panjang gadis itu berjalan. Otot-otot kakinya terasa kaku dan ngilu, mungkin itu efek karena terlalu lama berdiri ketika gadis itu mendengar suara tawa meremehkan yang sangat ia kenal.

“Akhirnya kau menyerah gadis bodoh? “, tanya Kai sedikit berteriak ditengah derasnya salju. Nayoung membalikkan tubuhnya agar dapat melihat sosok kekasihnya itu lebih jelas. Memastikan bahwa indra pendengarnya tidak mempermainkan kesadarannya.

Sebuah bola salju dengan sukses mendarat di wajah Nayoung ketika gadis itu berbalik sempurna. Sementara Nayoung masih mengumpulkan kesadarannya tentang siapa yang melempar bola salju ini padanya, sekelompok orang tak jauh dari tempat Nayoung berdiri tengah tertawa terbahak-bahak. Dengan langkah kaki gemetar, Nayoung bergerak mendekati kerumunan itu hingga jarak pandangnya dapat menangkap dengan jelas siapa sosok yang telah melemparinya tadi.

“Ka..Kai op..pa? A…”

“Kenapa? Apa bola saljuku kurang keras mengenai wajahmu, chagi(sayang)?”, terdengar nada yang sangat mengejek terutama pada akhir kalimat yang Kai ucapkan. Kai bahkan seolah jijik untuk mengatakan kata chagi pada kekasihnya ini.

“A…, apa maksudmu?”, tanya Nayoung yang benar-benar tidak mengerti maksut dari semua ini. Otak cerdas yang selama ini gadis itu andalkan, tiba-tiba menolak bekerja sama dengannya untuk berpikir saat ini.

“Kau itu bodoh atau sok bodoh sih Kwon Nayoung, eung?”, cibir gadis yang tengah berada dalam rangkulan Kai itu makin mempererat pelukannya pada Kai seakan ingin menjelaskan apa yang tengah terjadi.

“Wait, I’m not understand with this. “, tolak Nayoung. Sebenarnya Nayoung sudah mulai mengerti dan dapat membaca apa yang tengah terjadi saat ini. Hanya saja ia tidak mau mengakuinya. Setengah berharap bahwa akan ada keajaiban dimana Kai akan mengatakan padanya bahwa ini semua hanyalah bagian dari surprise di first date mereka. Setidaknya harapan itu masih dapat membuat Nayoung berdiri dengan keyakinannya, hingga…

“Dia itu bukan hanya bodoh, chagi. Tapi juga idiot. “, jawab Kai menjawil dagu gadis yang berada dalam rangkulannya itu kemudian mengarahkan pandangannya kepada gadis yang sekarang berada tiga meter dihadapannya. “Ya, Kwon Nayoung! Ternyata otak cerdasmu memang hanya berguna untuk menghadapi buku-buku saja ya. Kau itu terlalu munafik! Apa kau masih belum sadar juga, hem? “, Kai mengeraskan suaranya dengan sengaja. Mengundang kekehan penuh ejek dari gerombolan kecil dibalik punggungnya.

“Aku memang bodoh Tuan Kim Jongin! Jadi, jelaskan padaku sekarang apa yang terjadi! “, kata Nayoung tajam. Kali ini matanya terasa sangat panas. Suhu yang dingin seakan menarik air mata Nayoung untuk segera menetes. Tapi ditahan mati-matian oleh Nayoung. kedua tangannya ia kepalkan kuat-kuat di sisi tubuhnya, berharap dengan begitu ia akan mendapat kekuatan untuk mendengar apa yang akan ia ucapkan.

“Well, mudahnya begini. Aku hanya menjadikanmu sebagai bahan taruhan kami. And see? Kau ternyata sangat mudah didapatkan Kwon Nayoung. Terlalu mudah bahkan! Baru sekali kutawari untuk menjadi kekasihku dan kau langsung mengiyakannya! “, Kai mendengus senyum miring penuh ejekan telah terpasang diwajahnya. “Tapi terima kasih. Berkatmu, aku jadi mendapatkan paket liburan gratis ke Jeju bersama kekasihku yang cantik ini dari teman-temanku. “, lanjut Kai sembari mengedikkan bahunya ke arah sekelompok pria yang ikut bergerombol dalam kelompok kecil dibalik punggungnya itu dan mengeratkan rangkulannya pada gadis kurus nan mungil disampingnya.

“Sayang sekali, harusnya aku sempat untuk menyicipi tubuhmu. Hanya saja waktu jadian kita yang hanya bertahan dua minggu dan sikap sok sibukmu itu menyulitkan semuanya. Harusnya… “.

PLAK!

Tamparan Nayoung melayang dipipi mulus Kai. Entah mendapat kekuatan atau bisikan dari mana sehingga Nayoung nekat melakukannya. Dan kali ini, air mata Nayoung turut ikut campur membasahi wajah gadis itu. Pertahanan gadis itu telah hancur kali ini, benar-benar hancur.

“YA! Dasar gadis jelek murahan! Beraninya kau menampar pacarku dengan tangan kotormu, hah?! “, tak terima gadis dalam rangkulan Kai itu kini telah bergerak untuk meraih bagian tubuh Nayoung manapun yang mampu ia gapai. Cakaran, jambakan serta tamparan tak henti menyentuh wajah dan tubuh Nayoung. Semua energi dalam tubuh Nayoung seakan menguap begitu saja darinya.  Membuat Nayoung bahkan tidak bisa membalas satupun perbuatan gadis yang bertubuh lebih mungil darinya itu. Tubuh dan hati Nayoung sudah terlalu lelah untuk mengadakan sebuah perlawanan. Bahkan otaknya tidak dapat memberikannya instruksi apapun.

“Cukup, sayang! Hentikan! Kau tidak perlu mengotori tanganmu untuk menghajar gadis tidak berguna seperti dia!”, Kai menghentikan pergulatan sepihak yang terjadi antara kekasihnya dan Nayoung dengan menarik pergelangan tangan kurus milik kekasih barunya. Sementara tangannya sudah tersampir kembali dibahu mungil kekasih barunya, mata Kai bergerak mengamati keadaan Nayoung. Wajah Nayoung yang semula putih bersih kini telah berubah merah padam bekas tamparan. Ditambah dengan bekas cakaran dan airmata yang ikut memperparah penampilannya saat itu. Rambut panjang hitam kemerahannya yang semula telah Nayoung tata rapi kini telah acak-acakan, sekilas membuatnya tampak sehabis diterjang angin putting beliung.

“Dan mulai sekarang, kita putus Kwon Nayoung! Harusnya kau sadar dari awal, bahwa gadis jelek dan naif sepertimu itu tidak pantas untuk bersanding, ah tidak, bahkan untuk bermimpi bersanding dengan pria sempurna dan tampan sepertiku pun kau tidak pantas! Mengerti?”, dengan pandangan merendahkan,  Kai berjalan menjauhi Nayoung yang masih terduduk ditempatnya.

“Dan mulai sekarang aku tidak mau melihatmu lagi berada di sekitarku, Kwon Nayoung.”, ucap Kai dengan nada mengejek dan senyum kepuasan tampak jelas dimatanya ketika ia mengatakannya. Ketika Kai akan melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti, ia mendapati helaan nafas seseorang telah menahan langkahnya.

“Kau tidak perlu khawatir Kim Jongin-ssi. Mulai sekarang, kau tidak akan lagi melihatku berkeliaran disekitarmu lagi. “, ucap Nayoung dengan tenang namun terdengar sangat tajam. Entah mengapa, kata-kata yang dilontarkan Nayoung membuat dada Kai terasa sesak. Seperti ada ketidak relaan dalam hatinya ketika gadis itu mengucapkannya.

Kai segera menepis jauh-jauh perasaan-perasaan aneh dalam dadanya. Gelayutan manja dilengan Kai lah yang menyadarkannya untuk tetap berjalan menjauh dari tempat Nayoung. Jauh dan semakin jauh hingga sosok Nayoung tak dapat lagi ia tangkap dalam penglihatannya.

                        ***

                Jangan tanyakan lagi bagaimana kondisi Nayoung saat ini. Mungkin keadaan mayat jauh lebih baik daripada gadis itu. Setelah kejadian malam itu, dimana Nayoung telah dipermalukan dihadapan seluruh teman Kai yang merupakan junior dan beberapa senior di kampus mereka, Nayoung praktis menjadi bahan ejekan dan cemoohan ketika ia berada di kampus.

Sekilas, tak ada yang berbeda tampak dari gadis itu. Nayoung masih menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Ia bahkan masih bisa tertawa dan bergurau dimanapun ia berada. Tapi, jika kau melihat lebih dekat kedalam sorot matanya kau akan terkejut mendapati tak ada lagi sinar kehidupan disana. Kasarnya, gadis itu telah benar-benar mati dari dalam. Ia adalah mayat hidup yang nyata berkeliling. Berusaha menyibukkan tubuh dan pikirannya agar tak kembali menangisi cinta bodohnya yang sia-sia selama bertahun-tahun itu.

Dan semua pertahanan yang gadis itu miliki sayangnya hanya dapat berfungsi ketika matahari berada bersamanya. Ketika Kai berada dalam tempat yang sama dengannya, maka topeng ‘I’m fine’ milik gadis itu terpasang apik. Namun ketika cahaya bulan mulai menggantikan tugas matahari untuk menyinari langit kota maka topeng itu akan runtuh dan Nayoung akan menunjukkan sosoknya yang benar-benar rapuh. Meringkuk di atas kasurnya yang lapang sambil memeluk kedua kakinya dan mulai menangis ketika rekaman dalam otaknya mulai berputar. Begitulah Nayoung menghabiskan waktunya kala malam datang hingga fajar menyapanya.

Luka yang masih basah dihati Nayoung masih harus ditambah lagi ketika secara tidak sengaja ia memergoki Kai tengah bermesraan atau bahkan berciuman panas di hadapannya. Entah disengaja ataupun tidak, namun sorot mata Kai selalu berkilat ketika ia melakukan itu semua di hadapan Nayoung. Dan Nayoung? Gadis itu akan cepat-cepat memalingkan wajahnya kemanapun selama ia bisa menghindari tatapan matanya dari pemandangan yang menyesakkannya.

Dan jika kau bertanya apakah Nayoung masih membuatkan bekal makanan untuk Kai? Tidak, lebih tepatnya Nayoung hanya berhenti beberapa hari setelah kejadian yang meremukkan hatinya itu. Namun setelahnya, Nayoung tetap membuatkan laki-laki brengsek itu bekal makanan. Bedanya hanyalah, kali ini gadis itu meninggalkan begitu saja bekal makanan itu di bench tempat mereka biasa bertemu dan menunggu dibalik pohon dimana ia biasa bersembunyi. Apakah Nayoung terlalu polos ataukah ia terlalu pemaaf sehingga masih memikirkan nasib perut pria yang bahkan sudah sukses membuatnya menjadi seperti mayat hidup sekarang.

Sebutlah itu kebetulan yang amat sangat tepat atau kesempatan yang sangat bagus ketika kedua orang tua Nayoung menawarkan gadis itu untuk kembali tinggal bersama mereka di Swiss. Bukankah gadis itu sudah sering mengatakan bagaimana rindunya ia akan hidupnya yang tenang di Swiss? Menikmati hidup yang hanya berisikan omelan penuh perhatian Ibunya, tingkah laku konyol Ayahnya dan gonggongan manja Choco, anjing kesayangannya. Ya, semua itu terasa sangat ia rindukan saat ini. Kehidupannya yang normal.

Maka tanpa pikir panjang, Nayoung segera mengiyakan ajakan kedua orang tuanya tersebut. Seluruh konsentrasi Nayoung hanya tercurah kepada pengurusan semua dokumen-dokumen yang ia perlukan untuk mengurus program penerusan studinya di universitas asalnya di Swiss. Beruntung sekali Ayahnya dapat membantunya untuk mengurus segala tetek bengek yang diajukan universitas asalnya di Swiss.

Dan mungkin karena rasa rindu kepada anak tunggal mereka benar-benar tak tertahan lagi, karena sekarang Nayoung hanya dapat tertegun menatap email dari Ibunya yang mengatakan bahwa mereka telah memesankannya tiket penerbangan pertama dari Seoul menuju Swiss. Dan itu untuk penerbangan untuk akhir minggu ini, yang berarti Nayoung hanya memiliki waktu kurang dari empat hari untuk membereskan berbagai macam urusannya di Seoul!

Sh*t! bahkan Nayoung belum selesai mempacking semua barang-barangnya! Jadilah, gadis berperawakan tinggi itu membujuk rekan kerja sekaligus sahabat satu-satunya yang ia miliki selama ia berada di Seoul, Jung Jihyun. Jadilah kedua gadis itu melalui beberapa hari kedepan yang dipenuhi dengan bunyi kardus yang selesai dipak, kertas-kertas yang berceceran diseluruh ruangan dan tawa keduanya. Mengirim sebagian barang lewat paket pos internasional, mengurus surat pengunduran dirinya dari tempat kerja paruh waktunya, hingga memutuskan oleh-oleh apa yang harus diberikan untuk kedua orang tuanya, Nayoung dan Jihyun lakukan bersama. Setidaknya kesibukan mereka membantu Nayoung untuk dapat melupakan luka hatinya akan Kai, pikir Jihyun. Dengan semakin minimnya frekuensi mereka bertemu, bukankah berdampak lebih baik pada gadis itu?

Sebagai tanda terima kasih Nayoung kepada sahabatnya Jihyun, maka gadis itu memutuskan untuk mengajak Jihyun jalan-jaan sekaligus mentraktir Jihyun. Pasar Myeong-dong menjadi tujuan kedua gadis itu untuk menghabiskan malam terakhir Nayoung di Korea. Dengan tingkah layaknya anak kecil, kedua gadis itu melihat-lihat setiap toko yang menjual barang dagangan mereka dan mencobai satu-persatu barang yang mereka rasa menarik. Baru saja Jihyun dan Nayoung keluar dari tempat photobox dan saling menertawai hasil foto dengan ekspresi mereka ketika tanpa sengaja bahu Nayoung menabrak bahu mungil seorang gadis di depannya.

Apa dunia ini terlalu kecil ataukah benang takdir mereka memang selalu terbelit satu sama lain? Karena gadis yang bahunya baru saja ditabrak oleh Nayoung barusan ternyata bahu kekasih Kai. Bukan, bukan gadis yang beberapa bulan lalu menyerang Nayoung secara membabi buta didepan Namsan Tower. Sepertinya laki-laki brengsek ini telah menemukan mangsa barunya. Terbukti gadis yang tengah bersungut menahan amarah dalam rangkulan Kai itu wajahnya jauh lebih cantik daripada gadis yang dulu itu. Tapi satu yang bisa ditarik benang merah dari mereka semua. Paras mereka cantik, tubuh mereka sangat indah tapi, tempramen dan perilaku mereka sangat buruk. “Hei, matamu buta ya? “, teriak pacar baru Kai yang entah baru dalam nomor keberapa. Wanita berhati buruk untuk lelaki brengsek, serasi bukan?

“Kau saja yang tidak punya mata. Makanya jangan sibuk pacaran! Jalan saja sampai tidak lihat! “, Jihyun membalas teriakan kekasih baru Kai tanpa gentar sedikitpun. Nayoung yang merasa risih dan malu karena menjadi pusat perhatian ditengah keramaian pasar menarik-narik lengan baju Jihyun untuk menyuruhnya berhenti. Nayoung hanya tidak ingin memiliki masalah sebelum keberangkatannya menuju Swiss terutama masalah dengan Kai. Gadis itu hanya ingin pergi dengan tenang.

Sementara Kai, pria itu tidak tertarik dengan keributan kecil yang disebabkan kekasih barunya itu. Mata hitamnya justru tengah sibuk menatap gadis yang tengah menarik-narik takut lengan baju temannya yang sedang sibuk berdebat dengan kekasih barunya.  Terdapat kilatan yang tidak dapat dijelaskan ketika laki-laki itu menatap Nayoung. Seakan pria itu akan menelan Nayoung hidup-hidup saat itu juga.

Entah sudah berapa lama kedua anak manusia ini tidak saling bertemu satu sama lain. Namun Kai cukup teliti untuk dapat menangkap perubahan besar dalam diri Nayoung. Tubuh Nayoung tampak mengurus dari terakhir mereka bertemu. Pipi chubbynya juga turut menyusut, digantikan dengan tulang pipinya yang nampak sedikit menonjol di kulit wajahnya yang putih. Serta terdapat lingkaran hitam yang samar terlihat dibawah mata coklat gadis itu.

Belum tuntas Kai mengamati penampilan gadis yang telah menjauh dari hidupnya semenjak tiga bulan yang lalu, ketika teriakan manja gadis yang memeluk pinggangnya mulai sampai ke gendang telinganya dan membuatnya tersadar. “Oppa, kenapa kau diam saja? Cepat beri pelajaran kepada gadis tidak tahu aturan ini! “, rengek gadis dalam pelukannya itu dengan manja.

“Memberi kami pelajaran? Cih, harusnya yang patut diberi pelajaran itu namja chingumu itu! Jadi, dia bisa tahu bahwa perasaan manusia itu adalah sesuatu yang berharga untuk dijaga bukannya mainan yang bisa ia mainkan sesuka hatinya! “, Jihyun yang sudah terlanjur emosi tidak menggubris sama sekali bisikan dan tarikan Nayoung yang memintanya untuk berhenti. Sejak awal Jihyun mendengar cerita Nayoung tentang apa yang telah Kai perbuat padanya saja sudah membuat Jihyun gemas setengah mati. Membuat Jihyun bersumpah pada dirinya sendiri untuk meninju wajah laki-laki sok sempurna bernama Kai – atau Kim Jongin atau terserah siapa namanya – ketika mereka bertemu. Such a good time to punch him now, isn’t it?

Spontan, Kai membuka tutup kaleng bir yang baru saja dibelinya dan..

SPLASH!

Dengan suksesnya cairan bir itu menyiram tubuh Nayoung. mulai dari rambut hingga kaus bagian depannya sukses terbasahi oleh bir milik Kai. Bau khas bir mulai tercium dari tubuh Nayoung.

“Itu, karena kau gagal menepati janjimu untuk tidak lagi berada disekitarku. Aku sudah mengatakan berkali-kali bukan bahwa aku tidak ingin melihatmu lagi disekitarku, huh? Telingamu tuli atau….”.

“Maaf Kim Jongin-ssi. “, kata Nayoung menundukkan kepalanya lebih dalam. “Tapi, kupastikan ini adalah terakhir kalinya kau melihatku Kim Jongin-ssi. “, janji Nayoung mantap dan menatap tajam kedua manik mata Kai. Mengabadikan secara cepat pahatan wajah laki-laki yang telah ia cintai selama bertahun-tahun ini dan menyimpannya dalam salah satu sudut di otaknya.

“Kami permisi dulu. “, pamit Nayoung dengan nada keras didalamnya. Ekspresi wajah gadis itu tetap menampakkan ketenangannya dihadapan Kai yang kembali menghancurkan hati dan harga dirinya. Secepat dan sekuat mungkin menarik Jihyun untuk mengikutinya pergi dari hiruk-pikuk pasar Myeong-dong.

***

                Ada yang aneh dengan hari itu. Tidak biasanya laki-laki itu sudah terbangun saat fajar baru menyapa seperti ini. Bahkan kekasih barunya masih tertidur dengan pulas disampingnya, dibawah selimut yang menutupi tubuh polos keduanya.

Kai, begitu laki-laki itu sering dipanggil. Ia terkenal sebagai lelaki berwajah angkuh namun dapat dengan mudahnya meluluhkan banyak hati wanita. Tak terhitung lagi sudah berapa banyak wanita yang berhasil ia jerat dengan pesonanya dan berhasil ia bawa untuk bercinta dengannya. Belum lagi gadis yang telah melakukan one-stand dengannya, itu jauh tidak dapat ia hitung.

Membosankan.

Ya, itulah kesan yang Kai dapatkan ketika ditanya pendapatnya tentang seorang wanita. Baginya, semua perempuan sama saja. Mereka sangat mudah untuk didapatkan. Dengan bermodal wajah yang tampan serta rayuan maut, maka semua wanita akan dapat dengan mudah bertekuk lutut dihadapannya. Kurang lebih begitulah isi otak dari laki-laki ini.

Namun akhir-akhir ini is otak Kai tengah kacau karena seseorang. Seorang gadis yang berhasil menghentak dunianya beberapa bulan terakhir ini. Seorang gadis yang membuatnya dapat melakukan berbagai hal bodoh hanya untuk menarik perhatian gadis itu namun selalu berujung dengan penyesalan karena sebenarnya ia justru menambahkan luka gadis itu. Seorang gadis yang membuatnya sadar betapa ia sangat membutuhkan kehadirannya disisinya. Seorang gadis yang akhir-akhir ini selalu mengisi pikirannya dengan berbagai ekspresi yang sering dikeluarkan gadis itu. Seorang gadis yang membuatnya selalu merasakan dua hal secara bersamaan, antara menyakitinya dan membuat dadanya sendiri sesak tiap kali mendengar jawaban yang dikeluarkan gadis itu dari bibir mungilnya atau mengamati gadis itu secara diam-diam seperti yang ia lakukan selama dua bulan terakhir ini dan menikmati perasaan tenang dan nyaman tiap kali ia melihat gadis itu tersenyum. Namun keduanya selalu membuatnya makin ingin untuk memiliki gadis itu. Memiliki gadis itu lagi lebih tepatnya.

Kwon Nayoung. Itulah nama gadis yang telah berhasil mengguncang dunia Kai. Gadis yang telah mengelilingi Kai selama dua tahun belakangan ini. Gadis yang tak peduli betapa keras Kai telah melukainya, akan tetap memberikan senyumannya pada Kai. Akan tetap memberikan perhatiannya pada Kai walau tak sekali pun Kai pernah membalas segala bentuk perhatiannya.

Jika boleh jujur, Kai sangat membenci situasi seperti sekarang. Ketika tak ada sesuatu yang bisa ia lakukan dan membuatnya harus sendiri dengan isi pikirannya, maka nama Nayounglah yang akan tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Membuatnya selalu berakhir dengan mengerang frustasi karena tidak dapat menghapus sedikit pun bayangan gadis itu dari otaknya.

Tanpa perlu diperintah lagi, otak Kai tengah sibuk memutarkan kembali kejadian semalam ketika ia bertemu dengan yeoja itu. Setelah hampir dua minggu Kai gagal menemukan sosok gadis itu di seluruh kampus, mereka justru bertemu ditengah padatnya pasar Myeong-dong. Awalnya ia merutuki setengah mati ajakan kekasih barunya – bahkan Kai saja sudah lupa dengan nama gadis itu – yang merengek padanya untuk pergi jalan-jalan ke pasar yang kepadatannya tak pernal mengenal waktu itu. Dengan malas-malasan Kai menuruti keinginan kekasihnya itu. Kai benar-benar mengeluarkan semua kemampuan akting terbaiknya dihadapan kekasihnya, ia selalu berusaha menampakkan wajah bahwa ia turut menikmati kencan mereka kali itu. Bahkan ditengah keramaian seperti ini, pikiran Kai masih bisa melayang kepada hubungan singkatnya dengan Nayoung. Hanya satu bulan mereka berpacaran – sesuai dengan perjanjian taruhan yang ia sepakati – dan ia teringat bahwa ia dan Nayoung nyatanya tak pernah benar-benar berkencan sekalipun. Kenangan itupun kembali berputar dalam ingatan Kai.

                Kali itu dapur di rumah keluarga Kim tidak seperti biasanya nampak menunjukkan aktifitas disana. Terdapat bunyi pisau yang beradu dengan papan pemotong dan bunyi gemersak kantung plastic yang berisikan bahan belanjaan.

                Sementara itu, di dinding penyekat antara dapur dengan ruang makan disebelahnya tengah berdiri anak pemilik rumah itu, Kim Jongin atau biasa dipanggil Kai mengamati kesibukan yang tengah terjadi. Matanya menatap tertarik dengan aktivitas yang tengah dilakukan oleh gadis yang baru beberapa hari ini menjadi kekasihnya. Merasa diamati, gadis berambut panjang itupun membalikkan tubuhnya dan mendapati sosok Kai tak jauh dibelakangnya.

                “What are you doing there? “, tanya gadis itu. Ya, gadis itu adalah Kwon Nayoung. rambutnya yang panjang telah ia ikat rapi sementara lengan bajunya telah ia gulung sampai ke siku. Tak ada jawaban dari Kai atas pertanyaannya membuat gadis itu kembali melanjutkan aktivitasnya.

                “Kau sedang masak apa? “, tanya Kai tiba-tiba sudah berdiri disamping Nayoung dan melihat bahan-bahan yang sudah ditata Nayoung urut sesuai proses pengolahannya.

                “Nasi goreng dan omelette. Kau suka tidak? “, tanya Nayoung memastikan.

                Sambil berpikir, Kai nampak mencari-cari sesuatu diantara bahan yang sudah tertata rapi di counter dapur itu.

                “Ya! Kau ini cari apa sih? “, tanya Nayoung gemas karena merasa terganggu dengan Kai yang mulai mengacak-acak susunan bahannya.

                “Kimchi. Mana kimchinya? Kau kan mau masak nasi goreng, jadi harus pakai kimchi juga kan? “, tanya Kai balik sedikit gemas dengan kelambatan berpikir kekasihnya ini. Katanya mau membuat nasi goreng, tentunya harus pakai kimchi kan? Semua orang di Korea juga tahu itu.

                “Wait, wait, wait.”, tangan Nayoung menghentikan pergerakan tangan Kai yang sepertinya akan mengacak-acak isi dapur. “Aku sedang membuat nasi goreng, tapi ini nasi goreng dari Indonesia. Jadi, tidak perlu menggunakan kimchi, oppa. “, terang Nayoung dengan sabar.

                “Nasi goreng Indo… apa? “, tanya Kai bingung.

                “Nasi goreng Indonesia, oppa. Nasi goreng khas Indonesia itu sedikit berbeda dengan nasi goreng Korea. Nasi goreng Indonesia tidak menggunakan kimchi dan bumbunya lebih sederhana.”, penjelasan Nayoung membuat Kai menganggukkan kepalanya pertanda mengerti dan berhenti mengacaukan susunan bahan yang telah ditata Nayoung.

                “Young-ah, dari mana kau tahu resep itu? “, tanya Kai mengambil kembali posisinya dibelakang Nayoung untuk mengamati kesibukan gadis itu.

                “Eommaku berasal dari Indonesia,  sementara appaku campuran Indonesia-Korea. Aku lahir di Indonesia. Tapi, sejak aku sekolah dasar kami mulai berpindah-pindah tempat tinggal. “, ucap Nayoung. Mata dan tangan Nayoung tengah terfokus pada masakannya sementara telinganya berusaha ia siagakan untuk menangkap ucapan Kai.

                “Nomaden maksudmu?”, tanya Kai tertarik. Mengingatkannya dengan salah satu tokoh vampire yang pernah ia tonton.

                “Emm, kurang lebih begitulah. Kami hanya akan pindah sesuai dengan perintah tugas Ayahku. Terakhir kami pindah ke Swiss sampai sekarang. Kau oke kan dengan semua jenis sayur? ”, tanya Nayoung sebelum memasukkan baskom kecil berisi potongan sayur-sayuran kedalam wajan penggorengan. Merasa anggukan kepala Kai sebagai jawabannya, Nayoung menuang seluruh potongan sayur-mayur itu kedalam wajan dan mengaduknya.

                “Memang apa profesi ayahmu sampai kalian harus hidup berpindah-pindah begitu? “, tanya Kai penasaran.

                “Konsulat Indonesia untuk negara-negara lain. Ya, hampir seperti duta besar tapi konsulat posisinya dibawah duta besar. “, kata Nayoung sibuk memindahkan nasi goreng yang sudah matang keatas piring saji.

                “Lalubagaimana dengan ibumu? “, tanya Kai membantu Nayoung membawakan piring saji itu ke meja makan disamping dapur.

                “Ibuku hanya ibu rumah tangga biasa. Jadi, ketika Ayah bekerja dan aku sedang liburan biasanya aku dan Ibuku akan berkeliling kota Swiss dengan bus lalu kami akan menikmati tea time di kedai Uncle Jo. “, ucap Nayoung tersenyum riang mengingat-ingat kenangannya di Swiss.

                “Apa yang kau lakukan, oppa? “, pekik Nayoung ketikaia melihat Kai sedang sibuk memakan nasi goreng buatannya langsung dari piring sajinya.

                “Kau masak lama sekali, lagipula perutku sudah lapar sekali. Kau mau aku mati kelaparan? “, tanya Kai balik dengan nada menyebalkannya.

                Nayoung hanya dapat menghela nafas panjang kemudian ikut duduk disamping Kai dan menyodorkan piring kecil berisi omelette kornet. “Makanlah.”, perintah Nayoung mengamati namja chingu didepannya kini makan dengan rakus.

                “WHOA! Mashita (enak)!”, puji Kai setelah mencoba omelette kornet buatan Nayoung dan setelahnya kedua orang ini kembali terdiam. Kai sibuk dengan dua makanan lezat dihadapannya, sementara Nayoung sibuk memperhatikan cara makan Kai.

                “Ah! Aku kenyang!”, ucap Kai dengan senyumnya yang seperti anak kecil ketika makanannya telah habis. Nayoung ikut tertawa disampingnya.

                “Young-ah”.

                “Eung? “.

                “Apakah kau sudah berkeliling kota Seoul? “, tanya Kai.

                “Belum semuanya sih, baru beberapa. Wae? “, tanya Nayoung menatap Kai dengan kedua matanya yang indah.

                “Kalau begitu, ayo kita kapan-kapan berkencan mengelilingi kota Seoul. Kau dan aku, bagaimana?”

                Bahkan Kai tidak pernah menyangka bahwa dirinya akan mengucapkannya apalagi kepada gadis yang tengah berada menatapnya sekarang ini. Apakah ia telah terhipnotis kedalam mata cokelat milik gadis itu? Entahlah, yang jelas anggukan  kepala dari gadis itu telah mampu membuat kupu-kupu dalam perut Kim Jongin berterbangan.

Kai tersenyum kembali mengingat kejadian beberapa bulan yang lalu itu. Saat itu adalah pertama kalinya ia tahu sedikit-banyak tentang gadis bernama Kwon Nayoung. Namun, sampai saat ini pun janji yang ia berikan pada Nayoung tak kunjung ia tepati. Selama berpacaran Kai dan Nayoung bahkan bisa dikatakan tidak pernah kencan karena bagi Kai bertemu dengannya setiap hari tentunya sudah merupakan kencan bagi Nayoung. Dan Nayoung pun tak pernah mengungkit-ungkit tentang janji itu. Seulas senyum terlukis di wajah Kai. Ia merindukan bagaimana suasana dapurnya yang menjadi lebih ramai ketika gadis itu datang. Merindukan masakan lezat yang selalu gadis itu buatkan untuknya. Merindukan…

“Oppa? “, erang gadis yang tengah berbaring memeluk lengan Kai. Membuat Kai mau tak mau memandang gadis itu.

“Sudah bangun? “, tanya Kai lembut. Kai menundukkan kepalanya sedikit agar dapat mengecup sekilas bibir gadis yang namanya bahkan sudah Kai lupa. “Good morning. “, ucap Kai yang berbalas senyuman di bibir gadis itu.

Gadis itu beringsut mendekati Kai dan memeluk tubuh lelaki itu. Apakah gadis itu lupa bahwa mereka berdua saat ini tengah telanjang? Bukankah dengan begitu sama saja ia membangkitkan hasrat Kai sebagai laki-laki normal?

‘Oh, God!’, dengus Kai berusaha menahan gejolak nafsunya ketika kepala gadis itu menelusup didada bidangnya dan makin mengaitkan pelukannya.

“Oppa? “, panggil gadis itu manja.

“…eung?”, susah mati playboy tengik itu menahan nafsunya untuk membalikkan tubuh gadis itu dan menindihnya lagi. Setidaknya jangan dulu sampai ia mendengar ucapan yang akan dikatakan gadis ini.

“Semalam kau terus-menerus menyebut nama Nayoung saat kita bercinta. Nayoung itu siapa, oppa? “, pertanyaan gadis itu sukses membuat tubuh Kai membeku. Apakah benar semalam ia terus menyebut nama Nayoung bahkan saat ia tengah bercinta dengan gadis lain?

“Mana mungkin chagi. Kau pasti salah dengar. “, sangkal Kai berusaha terdengar tenang namun tidak bisa menutupi rasa gugup dalam hatinya.

Bahkan ketika kau mendengar nama gadis itu, jantungmu berdegup lebih cepat. Apa kau tidak kunjung menyadarinya juga Kim Jongin?

***

                        Kai masih memegangi pipi kanannya ketika berjalan memasuki gerbang kampusnya. Kulit pipinya masih terasa sedikit perih. Bagaimana tidak terasa perih? Namja playboy itu baru rasa mendapatkan tamparan dari kekasih barunya– aniya lebih tepatnya mantan kekasihnya sejak beberapa menit yang lalu –karena gadis itu kembali menanyakan siapa Nayoung yang ia sebut berkali-kali disaat mereka bercinta. Karena lelah berkelit dan bosan mendengar rengekan manja gadis itu, jadilah Kai mengakui bahwa Nayoung adalah nama mantan kekasihnya dan hasilnya, tamparan dipipinya itu adalah hadiahnya. Kaki Kai berjalan otomatis pada bench tempat Nayoung biasa menunggu dan mengobati lukanya.

Dengan malas, Kai melempar tasnya ke bench itu dan menyusul menjatuhkan pantatnya disana. Tak peduli dengan tatapan sekitarnya, Kai memilih untuk rebahan dan menutup kedua matanya. Sepertinya laki-laki bodoh ini akan kembali membolos mata kuliah Jung gyosunim. Matanya masih terlalu letih untuk dapat terbuka akibat aktifitasnya semalam. Belum lagi isi pikirannya yang sering kacau beberapa bulan belakangan ini membuatnya makin jarang tidur dengan nyenyak. Dan hembusan angin yang bersemilir seakan menghantar Kai ke alam tidurnya, membuatnya dengan patuh memejamkan matanya.

Semilir angin yang berhembus seperti menggelitik wajah Kai. Membangunkan namja pemalas itu agar segera bangun dari tidur singkatnya. Seakan ada tangan halus yang telah menggantikan fungsi semilir angin untuk membangunkan laki-laki tukang tidur ini. Rupanya cukup efektif karena begitu merasakan ada tangan halus yang membelai-belai lembut pipinya, Kai perlahan membuka kedua matanya walaupun dengan sangat berat hati.

‘Apakah ini mimpi ataukah ini benar-benar nyata? ‘, tanya Kai dalam hatinya ketika ia melihat sosok dihadapannya saat ini. Sosok yang telah memenuhi pikirannya beberapa minggu ini. Sosok yang telah membuatnya hampir kesulitan bernafas ketika ia melakukan tindakan bodoh dengan melukai gadis itu dan membuat air mata gadis itu menggenang di pelupuk matanya. Sosok gadis yang telah membuatnya mempertanyakan kewarasan dan keahlian sistem kerja otaknya.

Kwon Nayoung. Gadis itu tengah berdiri dihadapan laki-laki bernama Kai dengan dress broken white yang sedikit pendek diatas lututnya membuat gadis itu tampak terlihat cantik. Rambut hitam kemerahannya yang selama ini selalu ia biarkan terurai acak-acakan kali ini telah tersisir rapi. Wajahnya yang mungil nampak semakin manis dengan senyuman yang tersungging di bibir mungilnya, membuat Nayoung nampak seperti sosok angel.

Kai bahkan perlu berkali-kali mengedipkan kedua matanya untuk meyakinkan apa yang tengah indera penglihatnya tangkap sekarang. Ingin sekali Kai mennyentuh Nayoung, memberi pembuktian pada dirinya sendiri bahwa ini semua nyata. Ia perlu meyakinkan pada dirinya sendiri bahwa ia tidak gila. Ia perlu bukti bahwa yang dilihatnya saat ini bukanlah hasil dari fatamorgana akan kerinduannya dengan sosok gadis dihadapannya ini. Ia harus yakin bahwa gadis ini…

“I’m Kwon Nayoung, Jongin-ah”, jawab Nayoung dengan lembut tersenyum padanya. ‘Dan sejak kapan pula gadis ini bisa membaca pikiranku?’, merupakan pertanyaan yang langsung berdentang dalam otak Kai. Untuk menjawab pertanyaan Kai, Nayoung berjalan mendekati laki-laki itu kemudian mengambil tempat duduk disamping Kai. Tempat dimana ia biasa duduk di bench favorit mereka.

Bibir tebal Kai yang biasa ia gunakan untuk mengobral rayuan kepada semua gadis mendadak bisu. Tak ada sepatah katapun yang dapat ia ucapkan kepada gadis dihadapannya itu kali ini walaupun otaknya terdengar sangat berisik dengan berbagai macam pertanyaan dan kata-kata yang ingin ia ucapkan kepada gadis itu.

“Yo… Young-ah.”, panggil Kai sedikit gemetar. Bukankah tampak sangat menggelikan, playboy semacam Kai dapat gugup dan bergemetar ketika dihadapkan pada salah satu mantan korbannya yang terakhir baru ia sadari, telah diam-diam mencairkan gunung es dalam hatinya.

“Eung? “, tanya Nayoung balik sambil menatap Kai.

Kali ini kedua mata Kai dapat menatap gadis itu lebih dekat. Mengamati kecantikan alami gadis itu yang selama ini tak pernah ia sadari sebelumnya. Membuatnya menyesali berbagai macam cacian yang telah ia lontarkan kepada gadis itu kurang lebih empat bulan yang lalu.

“I forgive you, Kim Jongin-ssi. “, ucap gadis itu cepat seakan bisa membaca pikiran Kai. Dan Kai kembali diam mematung ditempatnya. Kedua mata hitamnya tak pernah lepas memandang mata coklat hangat milik Nayoung. Kenapa baru sekarang laki-laki bodoh ini menyadari semuanya sih?

“Aku hanya ingin bertemu denganmu, Kim Jongin. Dan maafkan aku yang tidak menepati janjiku untuk tidak akan pernah datang lagi dalam kehidupanmu. Aku janji ini yang terakhir.”, ucap Nayoung cepat. Kali ini memohon lewat matanya untuk meminta Kai mendengarkan segala ucapannya. Karena Nayoung telah cukup mendengarkan segala ucapan Kai selama ini, sekarang saatnyalah untuk didengar.

“Aku minta maaf jika selama ini aku telah mengganggumu dan kehidupanmu dengan sikapku yang annoying. Maafkan aku. Maafkan aku juga yang tidak dapat menepati janjiku padamu untuk membuatkanmu bekal setiap hari. Maaf. “, perkataan Nayoung terputus karena kekehan pelan Kai. Kai yang menyadarinya buru-buru meminta maaf lewat pandangan matanya dan menggamit kedua tangan Nayoung kedalam genggamannya.

“Dan maafkan aku yang sering membuatmu kesal, kecewa ataupun marah padaku. Maafkan aku yang telah lancing mencintaimu. Maafkan aku atas semua kebodohanku yang sering membuatmu malu. Aku benar-benar minta maaf, Kim Jongin. Maafkan aku. “, kata Nayoung menundukkan kepalanya setelah selesai mengungkapkan semua isi hatinya pada laki-laki yang telah bertahun-tahun ia cintai. Kedua tangannya terkepal erat, menandakan gadis itu sedang berusaha tangisnya.

Kai bisa merasakan betapa eratnya gadis itu mencengkram kedua tangannya dalam genggamannya. Perlahan, Kai berusaha melepaskan cengkraman tangan Nayoung dan menelusupkan jemarinya dalam sela-sela jari Nayoung. “Bukankah begini rasanya lebih nyaman, eoh? “, tanya Kai memperhatikan tautan jemari mereka. Kulit kecoklatan mereka berdua tampak serasi dan sela-sela jemari yang mereka miliki sangat pas satu dengan yang lainnya.

Nayoung hanya menatap tautan jemari mereka dengan tatapan sendu dan penuh haru. Entah mengapa gadis yang biasanya selalu tampak kuat itu kali ini nampak sangat rapuh. Beberapa kali tetes air mata pun telah lolos dari pelupuk matanya.

“Uljima(don’t cry).”, bisik Kai sambil menghapus airmata di pipi Nayoung dengan kedua ibu jarinya. Melihat gadis itu menangis saja mampu membuas hati Kai terasa sesak ketika melihatnya, apalagi kali ini Nayoung bahkan menangis untuk kesalahan yang tidak ia lakukan. Membuat hati Kai seakan ikut teremas dan sesak sekaligus. Kali ini bahkan Kai telah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah lagi membuat gadis dihadapannya ini meneteskan air mata karenanya.

Kai menempelkan kedua kening mereka, berharap dengan begitu dapat menenangkan Nayoung. Saling memejamkan mata dan menghela nafas bersama, itulah yang mereka lakukan. Walaupun irama jantung Kai berdetak sedikit diatas normal, namun perasaannya tak pernah setenang ini. Baru kali ini laki-laki semacam Kai merasakan kenyamanan saat bersama seorang gadis. Sangat kuat keinginan dalam hati Kai untuk menarik lagi Nayoung kedalam pelukannya dan memperbaiki kembali hubungan mereka. Menjalani hubungan normal dimana ia hanya akan mencintai satu orang gadis yang berarti dalam proses bagaimana jantungnya berdetak dan normalnya ia bernafas mulai tergambar dalam pikiran Kai.

“I want you to know that I love you, Kai. “, bisik Nayoung sebelum Kai mengungkapkan keinginannya mengenai hubungan mereka. Ketika Kai membuka matanya ia telah mendapati sepasang bola mata berwarna dark brown hangat milik Nayoung tengah menatapnya. Angin yang berhembus mulai menerbangkan rambut panjang Nayoung. Menguarkan aroma khas Nayoung yang sangat disukai Kai, perpaduan antara madu dan coklat. Membuat Kai menghirup dalam-dalam aroma tersebut yang terasa bagaikan oksigen pribadinya.

“I…”, baru saja Kai akan membalas ucapan Nayoung ketika dari belakangnya ia dapat mendengar teriakan dari beberapa suara berat khas lelaki disusul dengan derap langkah kaki yang cepat dan banyak.

“KIM JONGIN!”.

“Ya Kai, kau dari mana saja? Kami mencarimu kemana-mana. “, suara protes dari kedua laki-laki yang lebih tua beberapa tahun darinya itu menginterupsi kegiatan dan ketenangan yang Kai rasakan. Dengan sangat terpaksa Kai membalikkan tubuhnya untuk melihat siapa kedua orang yang telah menginterupsinya tadi.

“Asal kalian tahu ya, kalian itu menggangguku dengan… Nayoung? Dia, dia kemana? “, tanya Kai balik kepada dua laki-laki tadi ketika mendapati sosok Nayoung yang tiba-tiba menghilang dari sampingnya.

“Nayoung? Maksudmu Kwon Nayoung? “, tanya pria bernama Baekhyun itu kepada Kai yang dijawab cepat dengan anggukan kepala Kai.

“Dia barusan saja duduk disini bersamaku. Aish, kemana dia? “, erang Kai frustasi sambil berkacak pinggang.

“Ka, kau pasti bercanda kan? “, kali ini Kyungsoo yang juga merupakan senior Kai nampak meragukan pernyataan Kai barusan.

“Aku berani bersumpah, hyung! Aku tadi sedang duduk disini bersamanya. Dia tadi datang kemari untuk bertemu denganku! Aku tidak bohong! “, Kai makin frustasi dan mulai mencari Nayoung ke balik pohon tempat Nayoung biasa bersembunyi untuk mengawasinya. Namun nihil, disana Kai tidak menemukan apapun. Rambutnya pun menjadi sasaran kegusaran Kai. Laki-laki itu mengacak-acak rambut coklat kemerahannya itu dengan frustasi. ‘Kau kabur kemana, Nayoung? Kumohon kembalilah!’, pinta Kai dalam hatinya.

“Kau, ikut kami! “, kali ini tanpa basa-basi kedua hyungnya itu menyeret tubuh Kai untuk mengikutinya. Dengan memegang masing-masing bahu Kai, mereka berdua menyeret Kai menuju hall fakultas mereka yang tengah ramai dengan mahasiswa yang berlalu-lalang. Berhenti tepat dibawah televisi yang tengah menyiarkan laporan kecelakaan yang baru saja terjadi di jalan menuju bandara internasional Incheon.

Kai menahan pertanyaan yang akan meluncur dari mulutnya ketika melihat ekspresi kedua hyungnya. Baekhyun dan Kyungsoo seperti memerintah melalui mata mereka agar Kai tetap diam dan memperhatikan berita yang akan sedang disampaikan.

“Saat ini kami sampaikan telah terjadi kecelakaan lalu lintas di daerah radius dua kilometer tol di tol menuju Incheon International Airport yang melibatkan mobil van dan taksi. Dilaporkan bahwa mobil van tersebut melaju dengan kecepatan diatas 100km/jam. Terdapat indikasi bahwa pengemudi mobil van mengemudi dalam kondisi dibawah pengaruh alcohol. Sementara masih dilakukan penyelidikan lebih mendalam terhadap pengemudi mobil van tersebut. Lebih lanjut, peristiwa kecelakaan ini menelan dua korban dari pengendara taksi yang bernama Joo Ji Suk beserta seorang penumpang taksi tersebut yang bernama Kwon Nayoung. Sementara, kedua korban dilarikan ke rumah sakit terdekat dan sedang mendapatkan perawatan intensif karena kondisinya yang kritis. …“, dan selebihnya Kai tidak dapat menangkap lagi apa yang sedang diucapkan oleh pembaca berita tersebut.

Kaki Kai seperti kehilangan kekuatan untuk menopang tubuh atletis dan sexy yang selalu dibanggakan oleh pemiliknya itu ketika ia tiba-tiba rubuh dilantai tempatnya berdiri. Nafas Kai semakin tak teratur. Udara disekitarnya terasa begitu pekat dan terbatas baginya kali ini. Membuatnya berkali-kali harus membuka mulutnya untuk membantunya menghirup sebanyak mungkin oksigen di udara. Berharap dengan begitu dapat meredakan rasa nyeri yang begitu menusuk dadanya.

‘Tidak, itu tidak mungkin. Berita itu bohong. Mereka bohong. Bagaimana mungkin Nayoung terlibat kecelakaan sedangkan lima menit yang lalu aku maih melihatnya bahkan duduk disampingnya?’, sangkal Kai. Kedua tangannya telah menutup rapat-rapat kedua telinganya, menolak untuk mendengarkan siaran lanjutan mengenai kronologi kecelakaan yang dialami gadis yang mencintainya. Gadis yang baru ia sadari telah masuk kedalam hidupnya, mengindap-indap masuk kedalam otaknya dan telah cukup lama bersembunyi dalam hatinya namun baru hari ini ia sadari keberadaannya. Apakah kini sudah terlalu terlambat bagi seorang Kim Jongin untuk menyadari itu semua?

Kai menolak membuka tangkupan tangan di kedua telinganya sehingga membuat Baekhyun dan Kyungsoo harus menarik dan mendorong tubuhnya yang kaku bagaikan batu itu.

“Kai, dengar.. “, ucap Kyungsoo dengan nada sabarnya berusaha menenangkan Kai yang mendadak berontak.

“KALIAN SEMUA PEMBOHONG! DIA TIDAK MUNGKIN TERLIBAT KECELAKAAN! Tidak. Kalian pasti menyembunyikannya kan? IYA KAN? CEPAT JAWAB AKU DIMANA KALIAN MENYEMBUNYIKAN PACARKU, BRENGSEK!”, teriak Kai sembari mencengkram kerah baju Kyungsoo.

BUGH!

Kepalan tangan lentik dari Baekhyun mampu melepaskan cengkraman Kai pada Kyungsoo. Membuat Kai tersungkur. Terdapat sedikit bercak darah disudut bibirnya.

“KAU HARUS TENANG, KIM JONGIN! TENANGKAN DIRIMU DULU!”, teriak Baekhyun yang biasanya terkenal dengan sosoknya yang lembut dan romantis mendadak berubah seratus delapan puluh derajat.

“Dia tadi masih bersamaku, hyung. Dia tadi masih bersamaku…”, dan tak ada lagi kata yang dapat Kai ucapkan ketika Kyungsoo membawanya masuk kedalam pelukannya. Membuat Kai menumpahkan semua rasa frustasinya kedalam pelukan sahabat yang telah ia anggap sebagai kakaknya sendiri ini dan bahunya mulai bergetar. Menyiratkan betapa terguncang jiwanya ketika mendengar berita buruk itu. dengan tepukan menguatkan Baekhyun pada punggung Kai, membuat namja itu melupakan semua egonya dan mengeluarkan semua emosinya.

Ya, laki-laki yang terkenal selalu sukses mematahkan hati seluruh wanita cantik di Seoul University itu kini malah bernasib sama dengan para wanita yang pernah dan dengan sengaja ia sakiti semata untuk kebahagiaan sesaatnya. Laki-laki itu menangisi seorang gadis yang bahkan kehadirannya saja tak pernah ia anggap sebelumnya. Menangisi seorang gadis yang telah ia sia-siakan. Menangisi gadisnya yang tengah terbaring kritis di rumah sakit. Kim Jongin menangisi seorang Kwon Nayoung, gadis yang sealu ia sebut tak lebih dari sekedar pembantu dalam hidupnya.

***

                        “Hyung, cepatlah sedikit.”, rengek Kai tak sabar dibangku penumpangnya.

“Iya, tapi lampunya bahkan masih belum berubah warna Jongin-ah. “, jawab Kyungsoo tenang dibangku penumpangnya. Sementara Baekhyun yang sedari tadi tenang di jok belakang hanya bisa menghela nafasnya dengan kasar.

“Biar..”, tercetus kembali ide yang sudah Kai sarankan bahkan sebelum ketiga laki-laki ini memasuki mobil sport keluaran terbaru ini.

“No way! “, jawab Kyungsoo dan Baekhyun bersamaan menolak ide gila Kai yang juga sudah mereka ungkapkan sedari tadi. Jika dalam keadaan tenang saja Kai bisa menyetir secara ugal-ugalan dengan jarum speedometer yang terus menunjuk arah paling ujung di sudut kanan, apalagi jika Kai menyetir dalam keadaan kalut dan kacau seperti ini? Sepertinya headline ‘TIGA PEMUDA TEWAS DALAM KECELAKAAN MOBIL SAAT PERJALANAN MEREKA MENUJU RUMAH SAKIT” sepertinya bukanlah judul headline yang terdengar keren disandang mereka bertiga.

Sehingga, ketika lampu lalu lintas berubah warna dan kerumunan pejalan kaki telah menyingkir, Kyungsoo langsung menjejak pedal gas dalam-dalam. Membuat Baekhyun berpikir untuk mendaftarkan dirinya beserta kedua sahabatnya ini masuk jaminan asuransi.

Bagaimana dengan Kai? Bahkan otak cupat milik Kai sekarang benar-benar kehilangan fungsinya! Pikirannya benar-benar blank. Yang ada hanya satu nama dalam pikirannya. Kwon Nayoung. Hanya nama gadis itu yang terus menerus memenuhi otaknya. Menghantarkan gelombang ketenangan sekaligus kecemasan kepada seluruh sistem tubuhnya. Mata Kai bahkan terus berair dan sesekali air matanya lolos. Bukankah menyedihkan nasib laki-laki ini? Setelah membuang dan mencaci maki gadis sebaik Nayoung hingga pergi dari hidupnya kini, ia malah berlari mencari gadis itu kembali setelah ia menyia-nyiakan banyak waktunya hanya untuk menyadari ia tidak bisa bertahan tanpa gadis itu disekelilingnya.

‘Tuhan, kumohon kali ini. Aku tau aku sangatlah jarang berdoa dan memohon padaMu. Tapi kali ini kumohon Tuhan, selamatkan dia. Berikan aku kesempatan sekali lagi untuk kembali padanya. ‘, doa Kai dalam hati.

Dan Tuhan memanglah mendengar setiap do’a umatNya. Namun, apabila goresan takdir telah berkata lain, masihkah Ia bersedia mengabulkan doamu, Kim Jongin?

Setelah membanting pintu mobil sport terbaru milik Kyungsoo, Kai berlari bak orang kesetanan menuju meja resepsionis rumah sakit.

“Adakah pasien bernama Kwon Nayoung dirawat disini?”, diiringi dengan tatapan tidak suka beberapaorang yang mengantri lebih dulu darinya, Kai menatap suster dihadapannya dengan tak sabar.

“CEPAT KATAKAN DIMANA..”, bersamaan dengan gebrakan keras di atas meja di depannya, Kai merasakan seseorang mendorong dadanya untuk mundur.

“Apakah pasien Kwon Nayoung benar dirawat disini? “, Baekhyun langsung menggantikan posisi Kai untuk bertanya pada suster yang sudah gemetar ketakutan karena bentakan Kai tadi. Sementara Kyungsoo berdiri di hadapan Kai untuk menenangkan namja itu. “Aku tahu kau khawatir, tapi please tenanglah sedikit Kim Jongin. “, Kyungsoo kembali mengingatkan dongsaengnya entah untuk yang keberapa kali hari ini.

“Bagaimana aku bisa tenang jika orang yang berharga bagiku sedang meregang nyawa dan tak ada seorang pun disini yang membantuku untuk menunjukkan dimana ia berada, hyung? “, bisik Kai tajam menatap tajam siapapun yang kebetulan bertatapan dengannya.

“This way. “, ucap Baekhyun menolehkan kepalanya untuk mengarahkan Kai dan Kyungsoo. Berusaha tidak mengganggu pasien beserta dokter dan perawat yang tengah hilir mudik ketiga namja tampan ini hanya berjalan cepat untuk memacu langkah mereka agar cepat sampai. Kaki Kai yang gatal ingin segera berlari masuk ke dalam ruang dimana Nayoung dirawat hanya bisa mendecak sebal. Memilih mengikuti kedua hyungnya yang berjalan cepat – yang baginya langkah cepat mereka bahkan sama dengan jangkauan kakinya ketika ia berjalan santai – daripada ia mengambil resiko tersesat atau lebih parah diusir dari rumah sakit ini dan gagal bertemu Nayoung. Ia harus bersabar. Sebentar lagi aku akan bertemu dengannya, pikirnya ketika tangannya mulai bergetar dan irama jantungnya makin tak menentu. Sensasi ini sudah sangat dihafal Kai sebagai pertanda bahwa gadisnya tak jauh darinya, gadis itu tengah berada dalam ruangan yang sama dengannya. Makin lama langkah kaki Baekhyun membawa mereka ke salah satu ruangan nampak tenang. Beberapa deret kursi nampak berjejer disana menunjukkan bahwa siapapun yang tengah berada disitu wajib dengan sabar menunggu sembari duduk di atas kursi tunggu itu. Lampu hijau bertuliskan EMERGENCY penanda operasi tengah berlangsung nampak menyala.

Mungkin Kai bisa saja mendobrak pintu operasi itu dan memaksa masuk kedalam untuk melihat kondisi Nayoung. Memastikan dengan matanya sendiri bagaimana kondisi gadisnya. Namun itu semua urung ia lakukan. Kai lebih memilih menyandarkan tubuhnya didepan pintu kaca operasi itu dan menyentuh kaca pada pintu itu dengan jemari tangannya yang panjang, seakan berusaha menyentuh seseorang yang tengah terbaring lemah di atas meja operasi itu.

Dan kali ini Kai mengerti untuk sejenak apa yang dirasakan gadis itu selama ini. “Menunggu dalam ketidak pastian, penuh dengan rasa khawatir, rasa sesak yang tak kunjung berhenti menggelayuti setiap tarikan nafas. Apakah itu yang dulu kau rasakan Nayoung eung? Apakah itu yang kau rasakan saat kau menungguku? Bahkan saat kita berada dalam satu ruangan yang sama, ketika aku bahkan tak bisa menyentuhmu atau berada dekat denganmu, apakah dadamu juga akan merasakan sakit seperti ini, sayang eung?”, tanya Kai lirih seperti berbisik pada dirinya sendiri.

Kali ini tak banyak kata penghiburan ataupun kata yang dapat ia ucapkan pada dongsaeng kesayangannya itu. Hanya remasan tangannya pada bahu Kai yang dapat Kyungsoo berikan kepada dongsaengnya itu. Berusaha mengalirkan sedikit ketenangan dan kekuatan pada Kai untuk menghadapi apapun yang mungkin terjadi.

Tak lama, lampu hijau itu meredup dan terdengar suara gerendel pintu yang terbuka. Menyadarkan Kai dari posisinya saat ini yang memblokir akses keluar-masuk ruangan itu.

“Bagaimana kondisinya, Dok? “, tanya Kai langsung begitu ia melihat pria berpakaian steril warna hijau lengkap dengan masker yang baru saja dibuka untuk menutupi hidungnya keluar dari ruangan dimana gadisnya berada.

“Anda keluarga dari pasien tersebut? “, tanya dokter itu dengan suaranya yang dalam.

Spontan Kai menganggukkan kepalanya yang diikuti dengan anggukan Kyungsoo. Mungkin membaca ketidak yakinan yang tercermin diwajah dokter paruh baya tersebut, Baekhyun segera menjawab. “Dia tunangannya, Dok. Apa kami bisa mengetahui kondisi pasien? “.

“Benar Dok, saya tunangannya. Bagaimana kondisinya saat ini? “, walaupun sedikit terkejut dengan pernyataan Baekhyun namun jika dengan berbohong seperti ini dapat membuatnya bertemu dengan gadisnya lebih cepat, maka tanpa pikir panjang Kai akan melakukannya.

“Berhubung anda adalah keluarga terdekat dari pasien maka akan saya sampaikan dengan berat hati. “, lalu diam. Ada jeda panjang yang diciptakan dokter itu, membuat Kai ingin berteriak saking frustasinya. Tangan dokter itu telah berpindah dibahu Kai. Meremas keras bahu Kai seolah mengucapkan penyesalannya lewat tindakan sederhana itu. “Pasien mengalami benturan yang sangat keras dikepalanya sehingga membuat keadaannya sangat kritis ketika dibawa kemari. Maaf, kami telah berusaha semaksimal mungkin. “, kemudian dokter itu pergi dengan guratan penyesalan diwajahnya. Entah sudah keberapa kali dokter itu mengalami kejadian seperti ini sepanjang karirnya. Dimana ia kehilangan nyawa pasien yang ia tangani dan lebih berat lagi, menjadi orang pertama yang harus memberitahukan hal tersebut pada keluarga pasien. Dan hal itu telah beliau lakukan beberapa menit lalu kepada seseorang yang mengaku sebagai tunangan dari pasiennya.

“Tidak mungkin. “, bisik Kai menolak fakta yang telah disampaikan dokter tadi padanya. Segera ia mendorong pintu kaca itu hingga menjeblak terbuka dan masuk kedalam. Mencari dimana gadisnya berada dengan airmata yang mulai menggenang dimatanya. Tak perlu bersuah payah mencari gadisnya, karena gadis itu tengah terbaring ditengah ruangan itu. Nampak tenang dalam selimut hijau yang masih menyelimuti tubuhnya. Beberapa suster nampak meninggalkan mereka berdua. Menyisakan Kai yang masih menatap tak percaya akan pemandangan dihadapannya ini.

“Na…young-…ah”, panggil Kai sambil berjongkok disisi ranjang Nayoung. Memposisikan dirinya sedekat mungkin dengan gadisnya. Kali ini tak ada jawaban dari sang pemilik nama.

“Nayoung-ah, ireonna(wake up). Aku sudah datang. “, bisik Kai didekat telinga Nayoung. menyentuhkan jari telunjuknya pada pipi Nayoung yang tirus.

“Ireonna ppali(quickly, wake up). Pangeran Kim Jonginmu sudah datang. “, bisik Kai masih menatap Nayoung dengan penuh harap. Dengan senyuman tolol diwajahnya, Kai menunggu reaksi yang mungkin akan ditunjukkan Nayoung dihadapannya.

Kai tak pernah menyadari sebelumnya bahwa Nayoung ternyata memiliki wajah yang manis. Sungguh sangat khas jika dibandingkan dengan kebanyakan wanita disini. Kai pun tak pernah menyadari selama ini terdapat bulu mata panjang nan tebal yang membingkai mata berwarna dark chocolate milik Nayoung yang selalu menjadi favoritnya.

“Sayang, aku sudah disini. Kenapa kau masih saja tidur, eung? Apakah kau tidak merindukanku? “, dengan sangat perlahan dan sangat halus Kai menangkupkan wajah Nayoung dalam genggamannya. Seakan wajah itu dapat hancur seketika jika Kai menekannya terlalu keras. Bersamaan dengan makin banyaknya air mata yang lolos dari matanya, Kai berusaha memfokuskan penglihatannya yang sedikit memburam.

Kenapa baru kali ini Kai sadar bahwa ternyata gadisnya ini memiliki bibir mungil yang menggemaskan? Kai masih ingat bagaimana manisnya bibir mungil itu dalam lumatannya. Bagaimana dengan bibir mungil seperti itu, Nayoung dapat berbicara panjang lebar tanpa merasa lelah sama sekali. Dan mengapa Kai baru sekarang sadar bahwa Kwon Nayoung, gadisnya ini tak kalah cantik jika dibandingkan dengan semua yeoja yang pernah ia kencani sebelumnya? Kwon Nayoung bahkan cantik dengan caranya sendiri, dengan wajah polosnya yang sangat jarang ia pulas dengan make-up. Belum lagi dengan wajah khas Indonesianya, harusnya itu semua cukup menyadarkan mata buaya laki-laki bernama Kim Jongin ini kan?

“Hei, kalau kau tidak mau bangun aku akan menciummu Kwon Nayoung! “, seperti orang tolol Kai memberikan tatapan menggoda ke arah Nayoung. Setengah berharap jika ia melakukannya, kekasihnya itu akan kembali membuka matanya dan memasang wajah cemberutnya yang biasa membuat Kai gemas. Rasanya sekarang ini bagi Kai, sekecil apapun ekspresi maupun gerakan yang Nayoung buat untuk menunjukkan kehadirannya di dunia yang sama dengan Kai mampu membuat laki-laki itu melompat kegirangan. Namun sayanganya, tak kunjung ada pergerakan yang dibuat Nayoung. Tidak akan pernah ada gerakan yang dapat Nayoung tunjukkan lagi pada Kai untuk menunjukkan tanda bahwa ia hidup, karena nyatanya nyawa gadis itu bahkan sudah hilang semenjak ia dibawa ke rumah sakit.

Pertahanan emosi Kai pun turut jebol juga menyusul jebolnya tanggul air mata Kai. Putus asa, Kai mengguncang bahu Nayoung. “Dear, it’s not funny at all. Please, wake up. Don’t make me angry, Kwon Nayoung! “, desis Kai mengguncang kembali bahu Kwon Nayoung dengan sedikit lebih keras.

Masih tak ada pergerakan.

“Kwon Nayoung, irreona ppali! “, nada suara Kai terdengar sedikit lebih keras. Tangan Kai mencengkram erat bahu gadis itu. Dapat ia rasakan tulang yang menonjol dibalik permukaan kuliat gadisnya dibalik cengkraman tangannya. Sebenarnya seberapa banyak kesedihan yang telah ia berikan pada gadis sebaik Nayoung ini?

“Kau janji padaku Nona Kwon Nayoung bahwa kau tidak akan pernah pergi meninggalkanku kan? Kenapa sekarang kau justru diam-diam meninggalkanku seperti ini HAH? CEPAT BANGUN DAN JAWAB AKU, NAYOUNG!”, teriak Kai tepat dihadapan wajah Nayoung. Namun Kai tahu, itu semua sudah tidak berarti lagi. Gadis itu bahkan tidak akan sanggup lagi untuk sekedar menjawab pertanyaannya apalagi menepati janjinya itu.

Ketika Baekhyun akan mencegah Kai untuk melakukan tindakannya, tangan Kyungsoo telah terulur menghalanginya dan memberikannya pandangan ‘biarkan ia mengeluarkan semua emosinya’ yang membuat Baekhyun mau tak mau menurut.

“KENAPA KALIAN DIAM SAJA DISANA? KENAPA KALIAN TIDAK PANGGILKAN SUSTER ATAU DOKTER? TUBUH NAYOUNG BAHKAN MASIH HANGAT, DIA BELUM MENINGGAL! “, teriak Kai kepada kedua sahabatnya itu. Kemudian beralih lagi menatap Nayoung yang telah damai terbaring dalam cengkaraman tangan Kai. “Kau belum pergi meninggalkanku kan, sayang? Aku mohon jangan pergi. Masih ada sesuatu yang ingin aku katakana padamu, Young-ah. Aku mohon. “, pinta Kai melepaskan cengkraman tangannya dan membiarkan wajahnya jatuh dalam lekukan leher Nayoung. Membiarkan tangisnya pecah disana hingga ia terisak-isak layaknya anak kecil yang kehilangan ibunya.

“Kau tidak boleh meninggalkanku, Kwon Nayoung. Kau tidak boleh. … aku masih sangat membutuhkanmu disampingku, sayang. Bangun, sayang… “, mohon Kai disela tangisnya. Laki-laki itu bahkan tak pernah menangis sebelumnya. Ia telah bersumpah pada dirinya sendiri bahwa ia tak akan sudi menjatuhkan setetes pun air matanya untuk gadis manapun. Namun, hari ini Kai melanggar janjinya sendiri. Ia mengeluarkan semua persediaan air matanya untuk gadis bernama Kwon Nayoung yang telah ia sakiti selama ini. Hari ini Kai menjatuhkan air matanya atas kebodohannya sendiri yang telah menyia-nyiakan seseorang yang dengan tulus mencintainya dan kini pergi meninggalkannya selamanya.

“SINGKIRKAN TUBUMU DARINYA, BRENGSEK! “, pekikan Jung Jihyun dibarengi dengan pukulan bertubi-tubi melayang mengenai tubuh Kai. Kai dapat merasakan pukulan Jihyun ditubuhnya, namun perasaannya terlalu kebas untuk memberitahunya bahwa seharusnya ia kini kesakitan dengan pukulan Jihyun yang notabanenya adalah pemegang sabuk hitam karate. Ini semua bahkan terasa tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang sudah dengan sengaja Kai goreskan pada Nayoung. Sungguh. Ia bahkan rela jika Jihyun harus memukulinya sampai ia mati asalkan Nayoung dapat memaafkannya dan memberinya kesempatan kedua.

“Jihyun, Jihyun, sudah hentikan. Nayoung tidak akan suka jika kau melakukannya. “, terdengar suara berat seorang pria bertubuh jauh lebih jangkung daripada Kai dengan wajah tenang berusaha menenangkan Jung Jihyun.

“MANA BISA AKU MEMBIARKAN PRIA BRENGSEK SEPERTI DIA BERADA DEKAT-DEKAT DENGAN SAHABATKU, OPPA? DIA ADALAH LAKI-LAKI TIDAK TAHU DIRI YANG SELALU MEMBUAT NAYOUNG-IE MENANGIS DAN TERLUKA! PUAS KAU KIM JONGIN SETELAH KAU MEMBUAT NAYOUNG MENINGGAL SEPERTI INI, HAH? PUAS KAU HAH? “, ledakan amarah Jihyun bahkan tak kunjung mereda walaupun laki-laki bertubuh jangkung bernama Oh Sehun itu telah memeluk tubuh gadis itu sebisa dan sekuat mungkin. Mata Oh Sehun berkilat ketika Jung Jihyun, kekasihnya, itu mengatakan bahwa ternyata pria yang tengah meringkuk memeluk raga Nayoung itulah penyebab dari kesengsaraan Nayoung selama ini. Oh Sehun juga merupakan sahabat Nayoung. Bahkan berkat Nayoung-lah laki-laki bernama Sehun itu bisa berpacaran dengan Jihyun. Sehun dan Jihyun bahkan telah menganggap Nayoung sebagai saudara kandung mereka. Tak heran bagaimana terkejut dan bencinya mereka ketika mendapati penyebab semua tangisan Nayoung itu kini malah tengah menangis tersedu-sedu meratapi tubuh Nayoung yang sudah tak bernyawa.

Perlahan Kai bangkit dari pelukannya pada Nayoung, namun masih berada disamping tubuh gadis itu. Ia tak ingin lagi dijauhkan dari gadisnya itu. Tidak lagi.

“Bunuhlah aku kalau begitu. BUNUH AKU! Setidaknya aku bisa menyusul Nayoung disana. Bunuh aku cepat!”, tak ada keraguan lagi dalam suara Kai kali ini. Ia bahkan sudah siap jika kematian memutuskan untuk memanggilnya kali ini. Toh semangatnya untuk hidup juga telah hilang. Satu-satunya alasan bagi Kai untuk hidup telah pergi meninggalkannya. Kwon Nayoung telah pergi meninggalkannya. Jadi, apa lagi yang menjadi alasan Kai untuk hidup di dunia ini? Apa?

“Membunuhmu? Cih! Itu bahkan masih terlalu baik untukmu, Kai-ssi. Kau harusnya merasakan betapa sakitnya sepeninggal Nayoung noona. Dengan begitu kau akan tahu bagaimana perasaan Nayoung noona selama ini kepadamu. “, jawab Oh Sehun tajam. Tanpa menghiraukan Kai yang masih berdiri disamping tubuh Nayoung, Sehun mendorong tubuh Kai untuk menyingkir darinya dan Jihyun.

Perkataan Sehun barusan membuat gelombang penyesalan kembali menenggelamkan Kai. ‘Apakah seperti ini Nayoung, sakit yang harus kau rasakan? Apakah sesakit ini perasaan yang harus kau tanggung selama ini? Kenapa? Kenapa kau bisa bertahan sendiri menanggungnya? Jika sesakit ini mengapa kau tak menyerah saja dan temukan orang baru yang bisa membahagiakanmu? Bukan laki-laki tolol sepertiku yang bisanya hanya menyakitimu.’.

Apakah sekarang kami, maksudku takdir dapat mentertawakanmu, Kim Jongin atas kebodohanmu dan egomu itu? Sekarang kau dapat melihat sendiri bukan, bagaimana karma dapat menyentuhmu dengan sangat manis?

***

                        Hari itu langit kota Seoul seakan ikut berduka. Mendung menggelayuti langit kota Seoul yang biasanya cerah. Seakan awan pun turut berdatangan untuk menyatakan kehilangan mereka dengan perginya gadis itu. Terdapat satu nisan baru menghiasi pemakaman itu hari ini. Upacara pemakaman bahkan baru saja selesai. Dan hujan menjadi penutup dari pemakaman gadis bernama Kwon Nayoung. Masih terdapat empat orang yang bertahan didepan nisan batu dengan nama Nayoung terukir diatasnya.

Ayah dan Ibu Nayoung langsung memesan tiket begitu mendapat kabar anaknya terlibat dalam kecelakaan lalu lintas di Seoul. Ibu Nayoung bahkan langsung menangis histeris ketika melihat tubuh anaknya yang telah terbujur kaku. Pertemuan terakhirnya dengan Nayoung hanya pada saat perayaan Thanksgiving beberapa bulan yang lalu. Dan saat ini mereka dipertemukan kembali dengan keadaan seperti ini. Hati orang tua mana yang tidak pilu? Sementara Ayah Nayoung hanya dapat turut menangis tanpa suara disamping Ibu Nayoung. Sesekali menepuk pelan punggung Ibu Nayoung untuk menenangkannya. Satu-satunya anak yang mereka miliki malah pergi meninggalkan kedua orang tuanya, hati orang tua mana yang tidak hancur?

Setelah menangis meraung-raung melihat tubuh anaknya, Ibu Nayoung langsung menghampiri Kai yang terus menerus berdiri di sudut ruangan dengan matanya yang terpancang lekat menatap tubuh tak bernyawa Nayoung.

Sebuah tamparan melayang mengenai pipi mulus Kim Jongin. Menciptakan bekas telapak tangan merah dipipinya. Hari ini ia mendapat banyak luka fisik, namun tetap saja Kai merasa kebas. Karena yang terluka sebenarnya bukanlah fisiknya, namun hatinya. Hatinya jauh, jauh, jauh lebih sakit dibandingkan bagian tubuhnya yang manapun.

“KAU!! Jangan pernah lagi berani menampakkan dirimu dihadapan kami! Karnamu Nayoung mengejar beasiswa ke Korea! Karnamu, anakku harus mengalami kecelakaan! Karnamu Nayoungku harus pergi selama-lamanya! Terkutuklah kau, Kim Jongin! “, sumpah serapah dengan derai air mata Ibu Nayoung  hanya dapat Kai telan mentah-mentah. Kai hanya dapat diam dan menerima semua caci dan makian itu karena itu semua memang salahnya. Dan memang ini semua karena ulahnya yang bodoh!

Entah sudah berapa lama Kai bersembunyi dibalik pohon besar itu. Ia hanya bisa mengamati dari jauh proses pemakaman Nayoung karena kedua orang tua Nayoung telah memerintahkan bodyguard untuk menghalau pemuda itu memasuki kompleks pemakaman ini.

Dengan kemeja hitam lengan panjang yang ia lipat asal sampai ke siku dan telah basah terkena siraman air hujan ditambah dengan kondisinya yang tak membawa payung membuat tubuh Kai basah kuyup. Air matanya luruh bersamaan dengan air hujan yang turun ke bumi. ‘Bahkan untuk turut mengantarkanmu ke peristirahatanmu pun aku tidak diperbolehkan Young-ah. Apakah aku seburuk itu? Tak bisakah waktu bergerak mundur sehingga aku dapat memperbaiki semuanya? Memperlakukanmu lebih baik, mengatakan yang sejujurnya padamu bahwa aku sangat mencintaimu, mengumumkan pada seluruh dunia bahwa kau adalah gadis paling sempurna dan hanya satu milikku. Apakah aku terlalu terlambat untuk itu semua Young-ah? Aku bahkan tak tahu bagaimana caraku untuk bernafas tanpamu. Mengetahui kau bernafas di tempat yang berbeda denganku telah membuatku kesulitan untuk menarik nafasku. Apalagi sekarang ketika kau bahkan telah pergi dan berada di dunia yang berbeda dariku. Apa yang harus kulakukan Nayoung? ’, bisik Kai ditengah lebatnya hujan yang makin menyamarkan sosoknya.

***

                        “Dasar bodoh! “, ejek gadis itu ketika merasakan sepasang tangan yang telah melingkar dipinggangnya yang ramping dan helaan nafas teratur yang berasala dari wajah yang tengah tenggelam sempurna dilekukan lehernya.

“Kau mau bilang aku bodoh seribu kalipun aku terima Young-ah. “, bisik laki-laki itu makin mengeratkan pelukannya pada pinggang gadis itu. Menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu gadis itu. Merasakan kembali bagaimana caranya bernafas dengan benar ketika gadis itu berada didekatnya.

“Karena berkat kebodohanku itu, sekarang aku dapat bersama denganmu. “, ucap laki-laki itu tulus. Laki-laki itu membalikkan tubuh gadisnya sehingga ia dapat kembali melihat wajah yang sudah ia rindukan satu tahun belakangan ini.

“I love you, Kwon Nayoung. “, bisik laki-laki itu sambil mengunci wajah gadisnya dengan kedua tangannya.

“I love you too, Kim Jongin. “, balas gadis itu dengan senyuman manis diwajahnya ketika merasakan wajah kekasihnya itu makin mendekat.

Kedua bibir itu kembali bertemu. Saling melepaskan rindu antara satu dengan yang lainnya tanpa perlu saling menutupi satu dengan yang lainnya. Namun ketika ciuman itu menjadi semakin menuntut dan panas, Nayoung buru-buru menarik wajahnya menjauhi Kai yang masih tampak tidak rela nayoung menyudahi ciuman mereka secepat itu.

“Kenapa tiba-tiba berhenti, Young-ah? “, protes Kai pada gadis didepannya kini.

“Mana ada arwah berotak mesum sepertimu? Cuci dulu sana otakmu supaya lebih bersih. “, ejek Nayoung mencubit gemas pipi Kai. Sementara Kai malah menggembungkan pipinya, tahu dengan begitu kekasihnya akan makin gemas dengannya.

“Biar saja, toh ya kau juga mencintaiku kan? “, ejek Kai balik mengacak-acak rambut Nayoung yang telah bertambah panjang semenjak terakhir kali mereka bertemu. Sambil mendecak sebal, Nayoung berdiri agak jauh dari Kai. Hal itu tak urung membuat Kai tekekeh geli. Bukankah harusnya sedari dulu saja ia melakukan hal menyenangkan seperti ini bersama gadisnya?

“Hei, hei, jangan marah. Kau tidak tau apa bagaimana perjuanganku untuk bisa bertemu denganmu lagi, hem? “, kata Kai memeluk kembali kekasihnya itu dari belakang. Sesekali Kai menghirup aroma madu dan cokelat yang menguar dari tubuh gadisnya itu dalam-dalam. Menikmati rasa lega dalam hatinya karena akhirnya ia tahu bagaimana paru-parunya seharusnya bekerja dengan baik terlebih menggunakan oksigen pribadinya.

“Iya aku tahu. Kau bahkan rela menabrakkan dirimu sambil berkata ‘Nayoung, aku datang sayang’. Hahaha”, ejek Nayoung sambil merentangkan kedua tangannya di udara menirukan bagaimana pose Kai ketika melakukannya.

“Oh, kau mau dihukum ya? “, tanya Kai sambil menyeringai licik. Belum sempat Nayoung sadar, ketika ia merasakan tangan Kai sudah bergerilya disekitar perut dan pinggangnya. Kai menggelitiki seluruh tubuh Nayoung yang membuat gadis itu terkikik kegelian sementara ia sendiri turut tertawa bersama gadisnya. Bukankah pemandangan ini lebih baik daripada melihat dua anak manusia yang saling bermurung diri dan menyesali kebodohan mereka masing-masing?

Sementara jauh di sana, lebih tepatnya dibawah langit kota Seoul tercetak dengan jelas headline dari sebuah koran yang diterbitkan khusus dari universitas itu sebulan sekali. Di headlinenya tercetak tebal judul berita yang rasanya mampu membuat semua yeoja cantik dikampus itu patah hati saat itu juga atau bahkan ikut melakukan tindakan bodoh serupa. Entahlah.

Bersamaan dengan headline itu, terdapat foto Kai dengan senyum mengejek andalannya disana. Tertulis :

“SEORANG ICON MAHASISWA DITEMUKAN TEWAS DALAM PERCOBAAN BUNUH DIRI DENGAN MELOMPAT DARI KAMAR APARTEMENNYA”

Dan ketika para yeoja yang mengaku sebagai fans Kai itu sedang menangis, tanpa mereka sadari di atas sana Kai, laki-laki depresi itu justru tengah menikmati kebahagiaan yang bisa ia rasakan lagi. Bertemu dengan pasangan jiwanya, Kwon Nayoung dan kembali merasakan menjadi jiwa yang utuh walaupun ada pengorbanan besar yang harus mereka lakukan.

3 thoughts on “[ONESHOT] GONE NOT AROUND

  1. patah hati banget kalo sad ending….
    dan ternyata happy ending , walau merrka bukan sebagai manusia-_-v
    ohya, harusnya sih ini diisi komedi aja thor. pas bagian d.o baekhyun sama kai di mobil terus bahas headline itu lucu abis wkwk

Komentar ditutup.