[FF/ONESHOT] For 500 Times

Author : Lideronyu

Cast : Choi Jinhya (OC), Lee Jinki

Genre : Life, Drama

Length : Oneshot

Rating : G

A/N : Ini bukan FF onew – jinhya yang biasanya. FF ini aku bikin pas tanggal 25 sebenernya, pas onew ngetweet tentang shinee 5 anniv, tapi malah jamuran sampe hari ini -_- Maaf buat Ai eonni, rima, sama shara belom aku bikinin FF buat kalian yang aku janjiin huhuhu mian tapi aku akan usahain secepatnya kok *semoga* 

Happy reading^^

“Aku menyukaimu Jinki sunbae,”

“Kau menyukaiku?” Lee Jinki melihat gadis di depannya. Seorang gadis yang bernotabane adik kelasnya. Gadis berambut sebahu itu mengangguk sambil menunduk. Mungkin orang berpikir apa yang sedang dilakukannya kini termasuk perbuatan yang memalukan. Untuk khalayak umum, pernyataan cinta banyak lakukan oleh kaum pria kepada wanita, bukan kebalikan seperti yang gadis ini lakukan.

Jinki menyunggingkan senyumnya saat dilihat gadis itu masih tertunduk dengan muka memerah. Ia bahkan tak mengenal siapa gadis ini yang tiba-tiba saja menyatakan cinta padanya.

“Siapa namamu?“

Gadis itu mendongkakkan kepala ketika Jinki mengajukan pertanyaan kedua untuknya. Dengan pandangan intens, dia menatap paras tampan Jinki yang membuatnya kecanduan. Tepat beberapa minggu setelah ia tercatat sebagai mahasiswa Universitas Chungwoon, dimana awal gadis itu melihat Jinki yang membuatnya semakin memikirkan lelaki itu setiap hari. Hingga datang hari ini ia putuskan untuk mengungkapkan langsung perasaannya.

“Choi Jinhya,” ungkap gadis itu masih dengan tatapannya dalam ke arah Jinki. Entah kenapa ia sangat suka bola mata hitam milik lelaki di depannya.

Jinki tampak berguman sambil memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya. Baru kali ini ada orang yang menyatakan cinta kepadanya. Ia memang termasuk mahasiswa populer dengan wajah tampan dan memiliki IQ di atas rata-rata. Tapi sejauh ini, hanya gadis di depannya kini yang berani menyatakan rasa suka kepada Jinki.

“Sudah berapa lama kau menyukaiku?”

“Lima puluh hari!” jawab Jinhya cepat seraya menunjukan jarinya yang membentuk angka 50. “Aku menyukaimu sejak pertama kali aku melihatmu,”

Jinki mengkerutkan kening. Berpikir sebentar dan mencoba memahami ada yang sebenarnya terjadi pada gadis ini. 50 hari merupakan waktu yang sangat singkat untuk menyukai seseorang. Meski Jinki tidak mahir menafsirkan sebuah kata cinta, tapi ia yakin bahwa ini hanyalah sebuah pengaguman. Kalau begitu gadis ini salah.

“Lalu selanjutnya apa aku harus menjawab pernyataanmu?” lelaki bermata sipit itu berkata setelah ia menemukan ide yang terlintas di otaknya.

Gadis itu terkejut kecil. Sebenernya Jinhya hanya ingin mengungkapkan perasaannya, bukan meminta Jinki menjawabnya. Ia pernah mendengar perkataan salah satu temannya, jika kau menyukai seseorang maka ungkaplah meski kau tak bisa memiliki orang itu. Setidaknya itu akan membuatmu merasa lebih nyaman. Lalu sekarang Jinki memberikan kesempatan untuk memberikan jawaban apakah ia akan lari? Bukanlah suatu hal yang komplit jika menyukai seseorang serta memilikinya? Oh tunggu, Jinhya belum memahami benar apa yang Jinki maksud, sebuah jawaban bisa saja “Ya,” atau bisa saja “Tidak,” kan?

“Begini saja aku akan memberimu waktu 500 jam untuk kau memahamiku lebih dalam. Carilah 500 hal tentang diriku yang kau ketahui dalam waktu tersebut dan aku akan menerimamu, setuju?” Jinki mengulurkan satu tangannya ke arah Jinhya.

500 jam berarti kurang lebih 21 hari atau 3 minggu. Jinhya tak mengerti apa maksudnya. Apakah ini sebuah permainan? Apakah ia harus mengikuti apa yang Jinki tantang? Oh, ayolah sesuatu yang menarik akan hilang jika Jinhya lewati begitu saja.

Setelah berpikir sejenak Jinhya menerima jabatan tangan Jinki dengan yakin.

“Baiklah, Choi Jinhya, aku akan mengingatmu. Sampai jumpa 500 jam kemudian.” Jinki melepaskan jabatan tangannya dan tersenyum sebelum akhirnya ia melangkah pergi meninggalkan Jinhya yang mematung sendiri di perpustakaan.

—– For 500 times —–

Cukup dalam waktu 500 menit Jinhya menemukan 50 hal tentang Lee Jinki. Bukan sesuatu yang begitu sulit namun dibalik itu, ia mempunyai waktu 20,5 hari lagi untuk menemukan sisa-sisa hal
tentang Jinki.

—– For 500 times —–

Lima hari berlalu. Jinhya tak berusaha untuk mengusik kehidupan pribadi Jinki. Ia cukup memandangnya dari jauh untuk mencari hal lebih tentang laki-laki itu. Ini menarik bukan? Tentu saja Jinhya masih melakukan aktifitas seperti biasa, walaupun waktu luangnya kini tersita untuk mencari apa saja yang ada dalam diri Jinki.

—– For 500 Times —–

Menghitung mundur kini waktu yang dimiliki Jinhya menyisakan 5 hari kedepan, dan ia telah menemukan 355 hal tentang Jinki. Lelah? tentu saja tidak! Jinhya sangat menikmati semua itu. Ia menjadi lebih tahu sosok Jinki walau tidak secara langsung. Lee Jinki biasa dipanggil Onew oleh teman dekatnya, mempunyai tinggi 177cm, berat 63kg, gemar membaca buku berbau ilmu arsitektur, makanan favorit ayam, merupakan anak tunggal keluarga Lee, warna kesukaan kuning, dan banyak lagi hal yang sudah Jinhya catat dalam note “All about Lee Jinki“ yang telah dia buat.

—– For 500 times —–

Hingga hari itu tiba ketika 500 jam sudah berlalu, ia mengingat benar bahwa Jinki sudah berjanji akan bertemu lagi di tempat yang sama sebelumnya bersama Jinhya.

Jinhya melangkahkan kakinya menuju ruang perpustakaan kampus. Suara decitan sepatu kets terdengar saat ia memasuki gudang kumpulan buku tersebut. Keadaan di sana tidak terlalu ramai hanya ada beberapa mahasiswa saja yang terlihat sedang memfokuskan kegiatan membaca ditemani suasana sunyi di dalamnya.

Jantung gadis itu berdegup cepat saat ia semakin mendekati arah yang tuju. Bukan gugup karena ia akan bertemu Jinki, namun itu karena ia belum tuntas menjawab tantangan dari Jinki. Jinhya hanya mampu menemukam 455 hal tentang Jinki, itu berarti tersisa 5 hal yang belum ia dapatkan. Tidak dapat menyelesaikan sempurna, itu berarti Jinki akan menolak perasaan Jinhya. Sia-siakah perjuangannya?

Saat Jinhya tiba di tempat yang telah dijanjikan, ia tidak menemukan sosok Jinki. Apakah laki-laki itu belum datang? Entahlah… ia memutuskan untuk duduk menunggu sambil memikiran 5 hal lagi tentang Jinki yang belum ia ketahui.

5 menit

25 menit

50 menit

Aish…“ Jinhya mendesah. Ia tidak bisa menemukan 5 hal itu, ditambah lagi Jinki tak kunjung datang. Bahkan perpustakaan ini hanya tersisa dirinya, Pak tua penjaga perpustakaan, dan seorang laki-laki yang tak Jinhya kenal sedang membaca sebuah buku dengan khusyuk di depannya.

Heol, ini sebuah permainan atau Jinhya yang dipermainkan?

Dengan enggan Jinhya berdiri dari duduknya, dimasukan note itu ke dalam tasnya, sebelum akhirnya ia segera berniat untuk pergi dari perpustakaan itu.

Chogiyo,“

Jinhya mengurungkan niatnya beranjak ketika seseorang memanggilnya. Seorang lelaki berpostur kurus tinggi yang sejak tadi duduk di depan Jinhya kini ikut berdiri di hadapan gadis itu.

“Ya?” Jinhya menjawab dengan malas.

Laki-laki itu melepas earphone yang menggantung di telinganya, lalu mengkatupkan buku yang sedari tadi ia baca.

“Apakah kau Choi Jinhya?” tanya laki-laki itu.

Eh?” kening Jinhya mengkerut. Darimana laki-laki tau namanya? seingatnya ia tak sepopuler di kampus ini sehingga banyak yang mengenalnya. Dan ia tak memakai nametag yang mengantung di baju sebelah kanannya. Oh, baiklah ini universitas bukan sekolahan.

“Ya benar, aku Choi Jinhya.”

“Apa kau sedang menunggu Lee Jinki?“ tanya lagi laki-laki itu. Hey, apakah orang ini peramal?

O,“ jawab Jinhya sekenanya.

Selanjutnya laki-laki berparas manis itu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. “Ini ada pesan untuk untukmu,“ ia menyodorkan smartphone-nya kepada Jinhya.

Jinhya menerima alat komunikasi multifungsi milik orang di depannya dan detik kemudian ia menyentuh layar benda persegi panjang itu.

Hai Choi Jinhya-sshi, sebelumnya aku minta maaf karena aku tidak bisa menemuimu hari ini di perpustakaan. Ada hal penting yang harus aku kerjakan. Selama 500 hari ke depan aku ditugaskan oleh kampus untuk pertukaran mahasiswa ke luar negeri. Ah! apa kau sudah menyelesaikan tantangan dariku? Aku yakin kau belum menuntaskannya, iya kan? Sebagai pertimbangan aku akan memberimu lagi kesempatan 500 hari lagi untuk menemukannya. Kau bisa mengorek-ngorek tentangku dari apa yang kutulis di twitter. Setidaknya itulah cara seberapa jauh kau mengenalku. Deal? Sampai jumpa!“

Jinhya menghela nafas berat setelah melihat pesan video dari Jinki. Kenapa keadaannya jadi seperti ini? Ia bisa saja berhenti sampai di sini dan tidak melanjutkan apa yang diinginkan oleh Jinki. Apakah untuk memiliki seseorang harus seribet ini? Namun sejak awal Jinhya sudah berjalan satu langkah, sia-sia saja jika ia mundur kembali.

—– For 500 Times —–

Musim semi berganti musim panas, musim gugur berganti musim dingin. Beberapa musim terlewati hingga hari ini cuaca di Korea Selatan kembali pada musim panas. Jinhya menenggelamkan wajahnya pada salah satu meja cafetaria di dekat kampus. Tak berminat sedikitpun untuk menyantap banana ice cream favoritnya. Pikiran terusik oleh beberapa tanda tanya yang melintas di otaknya. Harus seberapa jauhkah ia berpikir? Sejujurnya ia mulai jenuh dengan semua teka-teki yang dikeluarkan Jinki melalui akun twitternya. Isinya terlalu sulit untuk dipahami.

“Kau masih saja mimikirkan tweet-tweet aneh Jinki sunbae?“ Seorang gadis di depan Jinhya tengah asik mencomot kentang goreng lalu memasukannya ke dalam mulutnya.

Jinhya tak menghiraukan, ia mendesah sambil mengacak rambutnya frustasi. “tweet-tweet aneh Jinki sunbae“. Memang benar yang dikatakan Sungrin, gadis di depan Jinhya. Ia kesal sendiri, mengapa namja yang ia sukai mempunyai sifat yang aneh. Maksudnya, Jinhya sering tak mengerti makna dari postingan yang Jinki keluarkan di twitternya. Atau memang
lelaki penggila ayam itu terlalu jenius hingga orang-orang sulit menebaknya?

Ada beberapa yang Jinhya bisa tebak. Saat Jinki menulis kalimat dengan makna terbalik seperti “Somebody off me“ yang berarti kebalikan somebody adalah no one, off kebalikan dari on, dan me kebalikan dari you. Kemudian setelah berpikir selama 500 detik, Jinhya menemukan bahwa arti dari kalimat itu adalah “No one on you = Nowon Onew“. Nowon adalah salah satu kota di negara Jepang. Dan Onew adalah nama lain Jinki. Kesimpulannya mungkin saat itu Jinki sedang berada di Nowon ketika pertukaran mahasiswa berlangsung. Selanjutnya dari 50 perbaharuan, Jinhya hanya bisa menjawab 5 tweets. Ah, bahkan ia tak mengerti ketika Jinki melakukan mentioning pada dirinya sendiri. Dasar laki-laki aneh! Lalu kenapa bisa Jinhya menyukainya huh?

“Seharusnya dia tahu, tidak semua orang suka berpikir! Aku iba melihatmu tersiksa dalam hal bodoh seperti ini.“ ujar Sungrin yang kini sukses membuat Jinhya mendongkak. “Lusa dia akan kembali, kan? Harus dipastikan dia menerimamu! Kalau tidak itu berarti ia benar-benar mempermainkanmu Choi Jinhya.“

—– For 500 Times —–

“Annyeong, apa kabarmu Jinhya-sshi? Lama tak berjumpa, Ayo kita bertemu di Myeondong akhir pekan ini!“

Jinhya masih menatap sebuah pesan dari Jinki. Ia menebak dari mana Jinki mengetahui nomor ponselnya. Selama ini hanya Jinhya yang menyimpan nomor Jinki, dan itupun Jinhya tak pernah mehubungin laki-laki itu lewat telpon. Yeah, mungkin saja Jinki tahu itu dari Lee Taemin yang merupakan sepupunya sekaligus kekasih Park Sungrin – sahabat Jinhya.

Baiklah itu bukan pembahasan yang penting. Kini yang tak Jinhya bias pungkiri adalah ia sangat senang mendapat pesan itu. Entah sudah berapa kali ia membacanya sambil tersenyum. Akhir pekan di bulan juni merupakan 500 hari kembalinya Jinki. Dan tunggu, Jinki mengajaknya bertemu di Myeondong? Apakah ini sebuah kencan?

Jinhya semakin tersenyum lebar, ini benar-benar membuatnya gila!

—– For 500 times —–

Seorang Lelaki berkacamata dengan jaket baseball yang dikenakannya berbungkuk kecil kepada Jinhya. Senyum khas malaikat terukir, eyes smile di mata sipitnya membuat banyak gadis terpikat oleh paras inosen laki-laki itu.

Jinhya menatap lelaki yang ia sukai itu dengan perasaan rindu. Setelah beberapa kali memimpikan orang itu, pada akhirnya hari ini dia bertemu dengannya. Meskipun Jinhya tak tahu apa Jinki merindukannya juga atau tidak.

“Bagaimana kabarmu Choi Jinhya-sshi?“ Jinki memulai pembicaraan sambil mengiring langkah mereka di sepanjang jalan Myeondong.

“Cukup baik, sunbae-nim?“

“Ya, aku juga baik.“ jawab laki-laki berumur 4 tahun di atas Jinhya itu. “Hari ini aku ingin mengajakmu ke suatu tempat, tapi sebelumnya bagaimana jika kita makan ayam dulu?“

Jinhya terkekeh mendengar perkataan Jinki. Kemudian ia mengangguk dan mengikuti langkah Jinki yang terlebih dahulu berjalan menuju restoran ayam.

Mungkin hari ini bisa menjadi hari bahagia untuk seorang Choi Jinhya. Setelah makan bersama Jinki mengajaknya berkeliling Myeondong, mengambil foto bersama di photobox, membeli cemilan, dan tertawa terbahak karena lawakan Jinki. Dan saat bulan mulai menggantikan tugas matahari untuk menerangi bumi, Jinki mengawali langkah mereka menuju suatu tempat pinggir Myeondong. Beberapa bukit kecil ditapaki oleh dua pasang kaki yang kini memandang hamparan luas warna-warni penerangan Seoul di malam hari. Jinhya terkesiap ketika ia melihat pemandangan indah tersebut. Sedangkan Jinki hanya tersenyum puas saat tempat rahasia yang ditemukannya sejak lalu menjadi kekaguman bagi orang lain.

Jinki duduk di atas rerumputan bukit tersebut dengan arah pandang yang menyapu suasana kelap-kelip lampu kota Seoul.

“Duduklah,“ ujarnya pada Jinhya.

“Wah, bagaimana bisa kau menemukan tempat ini?“ Jinhya masih memandang takjub pemandangan indah itu.

Keduanya duduk terdiam untuk beberapa waktu. Jinhya tak henti-hentinya mengulas senyum bahagia yang ditimbulkan oleh orang di sampingnya. Ia puas sendiri perjuangan selama 500 hari 500 jam menghasilkan moment indah seperti hari ini. Jinki memang belum membahas tentang hal-hal mengenai 500 waktu yang lalu itu. Namun setidaknya dari sinyal-sinyal yang diberikan Jinki hari ini sudah terlihat jelas apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka berdua.

“Jinhya-sshi, ngomong-ngomong apa yang membuatmu menyukaiku?“

Jinhya menoleh saat Jinki bersuara melayangkan pertanyaan.

Gadis berumur 20 tahun itu berpikir sejenak sebelum akhirnya ia menjawab. “Aku menyukai semua tentangmu. Kau tampan, pintar, berkharisma, ramah, populer, dan kau juga pandai membuat lelucon.“ papar Jinhya dengan antusias.

Jinki hanya mengangguk-angguk memahami apa yang dipaparkan oleh Jinhya.

“Apa kau tak ingin tahu hasil tentang tantanganmu yang kau berikan kepadaku?“ kini Jinhya yang bertanya.

“Tidak,“ jawab Jinki singkat. Jinhya menaikan alisnya menatap laki-laki yang masih asik memandang suasana lampu terang di depannya. “bukankah sudah kau jawab barusan?“

Jinhya masih tak mengerti. Kemudian Jinki menoleh-menatap lawan bicaranya.

“Apa yang kaukatakan barusan adalah sesuatu yang sama bukan dengan apa yang kautulis tentang 500 hal tentang diriku?“

Gadis bermata bulat itu semakin bingung, ia melihat detik itu Jinki tersenyum manis.

“Sebenarnya sejak awal aku sudah mengetahui tentang perasaanmu terhadapku itu hanyalah sebuah pengaguman,“ Jinki kembali menatap lurus ke depan, memalingkan padangannya dari Jinhya. “hanya saja kau tak sadar itu. Kau terlalu larut dari perasaan kagummu sehingga kau salah memaknainya.

Terkadang sulit membedakan rasa kagum dengan rasa cinta. Kadang kesalahpahaman itu terjadi ketika hatimu mulai bimbang. Aku hanya tak ingin kau menyesal di kemudian hari dan malah tersakiti. Maka itu meluruskan hal ini adalah yang terbaik.“

Ucapan terakhir Jinki membuat hati Jinhya memcelos, dan entah kenapa itu membuat daerah di sekitar matanya memanas. Inikah balasan atas perjuangan Jinhya selama ini? Benarkah apa yang dikatakan Jinki bahwa ia hanya mengaguminya? Lalu apa maksud perlakuan Jinki sepanjang hari ini? Pemaparan laki-laki itu membuatnya dilema.

“Aku berharap kau dapat meyakini perasaanmu di kemudian hari. Terima kasih telah mengagumiku, Choi Jinhya-sshi.“ Jinki beranjak dari duduknya

“Tunggu,“ seru Jinhya, dan ia mulai berdiri menghadap Jinki. “Tidak bisakah kau memberiku kesempatan lagi? 500 minggu atau 500 bulan untuk meyakinkan perasaanku terhadapmu? apa kau berkata seperti tadi karena kau tidak mempunyai perasaan yang sama denganku? dengan cara seperti itu, eoh?“ Jinhya terengah-engah mengeluarkan kata-kanya pada Jinki. Beberapa tetes cairan bening jatuh dari pelupuk matanya.

“Jinki-sshi, aku yakin kau hanya butuh waktu kan? aku bisa menunggumu bahkan sampai 500 tahun!“ jika logika berkata mungkin Jinhya sudah termasuk bagian dari manusia yang benar-benar bertingkah bodoh. Dunia tidak salah, ia hanya ingin melakukan apa kata hatinya.

Jinki menumpukan kedua tangannya di bahu Jinhya. Ia menatap nanar gadis itu, membiarkan keadaan tenang untuk beberapa detik.

“Maaf.“ Jinki tertunduk, setelah kata itu ia meninggalkan Jinhya dalam kebekuan.

——————————————–END————————————–

EPILOG

(Lee Jinki)

500 weeks later…

Perasaan manusia kadang menjadi statis saat ia tidak menyadari ketika hatinya sudah berubah seiring berjalannya waktu. Banyak hal yang tak aku mengerti disebabkan oleh faktor yang belum aku pahami sebelumnya. Waktu berjalan dengan cepat setelah 10 tahun aku meninggalkan negara kelahiranku ini untuk menempuh cita-cita yang aku impikan. Satu dekade lalu aku memutuskan menetap di negara paman sam untuk melanjutkan studi yang disarankan oleh kampusku sebelumnya. Setelah lulus aku meminta ayah dan ibu untuk tinggal di sana bersama menjalani kehidupan baruku sebagai arsitek muda yang terikat dalam satu perusahaan besar di Amerika.

Hidupku tidaklah cukup sempurna meski kini aku menjadi pria matang dengan usia 34 tahun yang menuai karier sukses tanpa adanya pendamping hidup. Aku tidak tahu kenapa aku masih betah dengan status singleku hingga membuat ibu dan ayah berusaha mencarikan calon-calon wanita yang pantas menemani kesendirian ini. Jika fisikku terlihat sibuk menjalani aktivitas yang kini aku kerjakan, namun siapa yang tahu hati ini justru merindukan seseorang yang tak bisa kau duga. Tepat 500 minggu lalu setelah waktu terakhir bersamanya aku pergi bersama raga dan perasaan menghindar gadis itu. Kepekaan hatiku sangat lama untuk disadari bahwa sebenarnya aku juga membutuhkan dia. Tahun-tahun berjalan membuat perasaanku semakin kuat menghapus kemunafikan diriku yang lalu. Ya, aku menyukai gadis itu. Gadis yang mempunyai kenangan dengan 500 waktu. Mengingat hal lalu aku jadi berpikir apa kekuatan cintanya sangat besar hingga ia rela melakukan hal bodoh yang aku suruh dalam waktu 500 jam, kemudian menunggu jawaban yang ternyata mengecewakan selama 500 hari. Siapapun akan merasa kecewa dan sakit dipermaikan dalam waktu selama itu. Ah, kenapa aku bisa sejahat itu di masa lalu? Dan apabila sekarang aku memintanya untuk bersama memulai kenangan indah, maukah dia? Masihkah perasaannya tidak berubah seperti dulu? Aku berharap dia masih menyimpan janji yang dikatakan 500 minggu lalu saat ia bilang bahwa akan menungguku bahkan sampai 500 tahun. Yah, semoga.

Pandanganku menyapu ke sekeliling bandara Incheon yang kini aku pijaki sekarang. Hiruk-pikuk beragam etnis yang walaupun masih dominan orang Korea kudapati begitu mataku menyisir keramaian di depan. Seorang pria muda berambut coklat melambaikan tangannya ke arahku. Aku berjalan mendekati orang itu-Lee Taemin, yang tak lain adalah sepupuku.

Hyung!“ Taemin berhambur memelukku membuat tubuhku agak bergoncang ketika tenaganya terlalu kuat. “Bogoshipeo, hyung!“

Aku menarik kedua sudut bibirku. Bertemu dengan bocah ini rasanya baru kemarin ia menjadi mahasiswa, namun kini yang terlihat adalah pria dewasa yang tampan bahkan sudah berstatus sebagai ayah.

“Bagaimana kabarmu, hyung? Ah, lihat di umurmu yang tua kau bahkan masih terlihat seperti yang dulu haha,“ ujarnya memuji dengan penekanan kata ‘Tua’ yang tidak mengenakan untuk didengar.

“Aku baik Taemin-ah, kau sendiri bagaimana?“

“Ayah!“

Belum sempat Taemin menjawab pertanyaanku, seorang anak perempuan yang aku perkirakan berumur tiga tahun berlari memeluk kaki Taemin. Detik itu juga Taemin menggendong anak itu.

Ah, anakmu?“ tanyaku seraya melihat anak kecil berparas inosen itu.

Ne. Taejin beri salam pada Jinki ahjussi,“ titah Taemin pada malaikat kecilnya.

Annyeonghaseyo, Lee Taejin imnida.“

Aku mengelus lembut rambut anak sepupuku “Annyeong, senang berkenalan denganmu Taejin.“

Anak kecil itu tersenyum manis menuruni warisan ayahnya. Padanganku kembali pada sang ayah. “Aku tak menyangka kau mendahuluiku satu langkah Taemin-ah,“ ujarku diiringi kekehan kecil.

“Maka itu kau harus cepat-cepat mencari pendamping hidupmu hyung. Dan kenapa saat pernikahanku kau tidak datang?“

“Ah, mianhada. Tahun itu aku sedang benar-benar sibuk untuk proyek besar perusahaan.“ memang ketika empat tahun lalu aku mendapat kabar dari keluarga di Korea bahwa Taemin akan menikah, namun karena jadwalku yang tak memungkinkan hanya ayah dan ibuku saja yang menjadi perwakilan. Seingatku dulu Taemin berpacaran dengan seorang gadis bernama Park Sungrin yang tak lain adalah sahabat dari gadis yang kucintai. Namun berita buruk terjadi satu tahun setelah aku menetap di Amerika, Taemin mengabarkan bahwa sungrin meninggal dalam kecelakaan. Selanjutnya aku hanya mengetahui Taemin sudah menemukan pengganti Sungrin yang dibilang adalah seorang gadis berprofesi sebagai penulis yang kini jadi pendampingnya.

“Ngomong-ngomong di mana istrimu?“

“Dia tadi pergi ke toilet,“ Taemin menurunkan gendongan Taejin lalu mengedarkan padangannya. “Oh, itu dia!“ ujarnya menunjuk ke arah di belakangku.

Aku berbalik dan melihat seorang wanita muda anggun berjalan ke arah kami. Semakin dekat aku seperti mengenali paras wanita itu. Wajahnya terlihat familiar di benakku.

Wanita itu tiba di depan kami, ia berbungkuk dan tersenyum ke arahku. Dalam detik itu juga aku tersentak. Kini aku benar-benar yakin mengenali wanita cantik ini. Sosok yang menjadi alasan mengapa aku kembali ke Korea.

Annyeong Lee Jinki-sshi, aku Choi Jinhya, isteri Lee Taemin.“ sapaan itu membuatku terdiam beberapa detik. Gadis itu bahkan sudah menjadi wanita dewasa sekarang. Ia bahkan terlihat semakin cantik. Dan beruntungnya si pemilik wanita itu adalah sepupuku. Terlambatkah aku? Yah, tentu saja. Aku terkadang sempat memikirkan ketika waktu berputar maka semuanya akan berubah. Hanya ada di cerita fiksi saat seseorang bilang akan menunggu cintanya hingga 500 tahun. Menunggu adalah suatu hal yang menjenuhkan, kan? Aku kira dia mengalaminya.

Hyung!“ telapak tangan Taemin mengibas-ibas di depan wajahku. Menghentikan lamunan tentang sebuah penyesalan.

Ah, annyeong Jinhya-sshi. Maaf telat, tapi selamat atas pernikahan kalian.“ aku berucap dengan canggung. Sekali lagi wanita muda itu tersenyum ke arahku. Bukan senyum seperti 500 minggu yang lalu, ia seakan memberi penghormatan terhadap tamunya. Tidak ada lagi tatapan antusias saat melihatku. Dia seperti tak mengenali sosokku. Apakah ia hilang ingatan?

“Terima kasih Jinki-sshi. Sudah lama juga tak berjumpa setelah sepuluh tahun.“ dan ucapannya barusan membuat asumsiku salah.

Kajja, hyung! emmonim dan aboji sudah menunggu di rumah.“ Taemin menggenggam tangan kiri anaknya diikuti oleh Jinhya yang berada di sebelah kanan kemudian keluarga kecil bahagia itu berjalan mendahuluiku yang masih merenung dalam kebodohan.

Ini bukan salahnya. Ia berhak mengubur rasa sakit yang ditimbulkan olehku dan memiliki kebahagian bersama pria lain. Aku yang melepasnya pergi terlebih dahalu, membiarkan pintu hatinya terbuka untuk orang lain. Mungkin dari ini takdir mengajarkanku untuk tidak menyia-nyiakan sesuatu sebelum akhirnya menjadi penyesalan.

KKEUT!

94 thoughts on “[FF/ONESHOT] For 500 Times

  1. eonnie, mian bru bca n comment skrg😦 sya fokus ke UKK dlu..
    keren eonnie ff nya!!! semuanya berkaitan dengan 500 times🙂
    kerennn!!😀 sukses bkin sya nyesek dan senyum2 sendiri -_-
    d tunggu ff2 eonnie yg lainnya!🙂

    Hwaiting!!🙂

  2. annyeong eonni, lama gak mampir kkkkk~
    sumpah ngakak liat foto onew di poster, kirain ini ff lawak tapi kok yeoja di sebelahnya mukanya galau gitu. ehhhh taunya -____-
    sempet kesel sih pas jinki php setelah 500times. awalnya pengen mencak2 kalo nggak ada epilog, ehhh udah seneng2 ada epilog taunya sad end kirain happy *authornya php juga* tp jinhya php juga sih katanya may nunggu sampe 500 tahun. jadi intinya cerita ini php #langsungdiusir

    seriusan keren kepikiran ide kayak gitu, miapa suka aja ff bermodelkan syarat syarat kea gini. tapi alurnya kecepetan sih ya, ya namanya juga oneshoot. oke deh eonni keep writing

  3. ini nyesek. sebenernya dari sebagian logika ini mikirnya bakal happy ending, diliat dari bahasanya yg kayaknya gak berat sejenis ff angst biasanya. tapi ragu juga nunggu 500minggu itu lama. dan…bener. jinki lama, hiks. jadi sedih. yang sabar ya jinki….

  4. Ok, fine this is tragis story… Ya bnar wanita mengatakan dengan emosi, dan dia lebih memilih kepastian daripada yang meragukan i likeit. Ya onew kamu menyesal sekarang, kayk film when romance meets destiny tpi sbar ya kmu juga perlu melanjtkan hiduphyung ok. Hwaiting

  5. wah baru pertama kali baca ff disini,keren.
    memang seharusnya kita ga pernah menyia-nyiakan kesempatan yg ada,daebak…
    salam kenal yah^^

  6. kakkkkkkkk ini so nyesek-est story ever. jadi kesimpulannya? kita ga boleh nyia2in kesempatan ya? wkwk aduh kaka dapet pemikiran dari mana sih tentang 500 times itu? huhu so sweet bgt tau gak?? btw, aku reader baru. salam kenal ya kak^^

  7. annyeong aq reader baru eonni,.. aq kira bakalan ma jinki… aq sering salah bc jinhye jd jihye*pabo ahiru* aq suka bgt..penyesalan emang dtng belakangan

  8. anyeong jinhya ssi hihi
    uhuk agak curcol kayaknya pas part awal-tengah😀
    daebak deh ff nya ya walau agak nyesek pas part akhir
    dari pada jadi perjaka tua mending jinki sama aku ajaa haha
    oh iya mungkin maksudnya udah nemu 495 kali buka 455, kan katanya sisa 5 lagi :p

    • ohoo~ dari pertama publish belom pernah diedit ni ff dan banyak typo, dari sekian banyak reader cuman elu yang merhatiin tu angka salah prok prok prok *kasih koin 100* cancer jjang! july birth jjang!!! onew’s wife jjang!!!!! LOL

      Sent from Samsung Mobile

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s