[FF/CHAPTERED/1] Exchange of Destiny

Author : @LIDERONYU

Main Cast :

  • Kim Kibum (Key)
  • Choi Minho
  • Shin Maeri (OC)
  • Song Yoojin (OC)

Support Cast :

  • DO Kyungsoo (EXO)

Genre : Life, Romance, Fantasy, AU

Length : 1 of  ?

Rating : General

 2012 © Lideronyu


Suara musik rock bergema kencang di sebuah ruangan bernuansa putih yang cukup luas. Seorang pemilik ruang –atau yang biasa disebut kamar- itu semakin mengeraskan volume tape yang sedang ia setel hingga full. Namun seberapa kencang musik itu berdegung, daun telinga laki-laki itutetap masih bisa mendengar aduan mulut dua orang di lantai bawah.

Minho membaringkan dirinya di kasur, membenamkan bantal di atas wajahnya, berusaha agar ia tak mendengar lagi kata-kata makian antara ayah dan ibunya.

Aish..” laki-laki itu  mendesah. Bahkan walaupun ia mencoba menghindari suara-suara yang tak ingin didengar, bayang-bayang kedua orang tuanya malah menggerogoti otaknya.

Minho bangun dari tempat tidur, lalu menyambar jaket kulit yang bergantung pada hanger di dinding kamarnya. Ia melangkah keluar kamar tanpa mempedulikan tape yang masih menyala kencang. Dituruninya anak tangga dengan langkah cepat untuk menuju lantai bawah.

PLAAK

“Dasar istri tak tahu diri! Tidak cukupkah aku memberimu banyak uang tapi kau malah bermain-main dengan pria lain hah?!”

“Cih, kau yang seharusnya sadar, kau lebih mementingkan bisnis ketimbang anak dan istrimu! Kau betah berlama-lama di kantor karena sekretarismu yang jalang itu kan?!”

Seketika dua manusia yang masih berdebat saling membentak itu sadar akan hadirnya anak mereka yang berjalan melewati tanpa berbicara sepatah kata pun.

“Choi Minho, mau kemana kau?”

Minho yang hendak membuka kenop pintu menoleh sekilas pada ayahnya yang memanggil.

“Hhh, peduli apa kau?”

Ayah Minho tampak tersentak atas pertanyaan balik Minho yang dianggap kurang sopan, “Baiklah terserahmu, asal kau kembali saja pada acara pertunanganmu minggu depan”

Minho tersenyum sinis, disaat keadaan seperti ini ayahnya masih bisa memikirkan tentang pertunangannya? Ah itu bukan pertunangan, lebih tepatnya Minho dijodohkan.

“Aku tidak ingin bertunangan dengannya. Jika kau mau harta keluarga Song, kau saja yang bertunangan dengan anak mereka” ujar Minho tanpa mempedulikan ayahnya yang sudah menatap dengan kemarahan.

“Ya! Kau mulai kurang ajar sekarang, kau..” belum sempat ayah Minho meneruskan ucapannya, ibu Minho langsung memotongnya.

“Bahkan kau memanfaatkan Minho untuk mendapatkan harta? cih, ayah macam apa kau?”

Mendengar hinaan dari istrinya, ayah Minho semakin geram dan melemparkan satu tamparan lagi ke wajah sang istri. Minho yang melihat itu hanya bisa mengepalkan tangan, giginya sudah menggertak kesal. Ini perseteruan yang sering terjadi antar ayah dan ibunya. Namun sekeras apapun Minho tetap membenci keadaan seperti ini, ia muak dengan semuanya.

Tanpa menghiraukan orang tuanya yang masih beradu mulut, Minho melangkah keluar sebelum ia membanting pintu rumah dengan kencang meninggalkan ketidaktenangan yang melanda hatinya.

****

“Kibum-ah, cepat antarkan lobak ini ke restoran tuan Kang!”

Seorang laki-laki berumur 20 tahun yang sedang asik mendengarkan musik melalui headset itu tiba-tiba merasa terganggu oleh teriakan kencang yang memanggil dirinya. Dengan terpaksa ia bangun dari ranjang kecil tempat dimana ia tidur kemudian melangkah keluar menghampiri orang yang sempat mengganggu aktivitasnya tadi.

Ia mengerang kecil melihat seorang wanita paruh baya di depannya sedang berkaca pinggang seraya menggeleng-gelengkan kepala.

“Ckck, kerjaanmu hanya bermalas-malasan saja. Cepat antarkan ini!” orang yang berstatus sebagai ibu dari laki-laki itu berseru sambil menyerahkan beberapa dus lobak yang ada di depannya ke hadapan sang anak – Kibum atau biasa disebut Key (panggilan untuk dirinya sendiri, karena menurutnya nama ‘Kibum’ itu terlalu pasaran).

Key hanya dapat menghela napas, sampai kapan hidupnya seperti ini terus? Ia merasa bosan dengan takdir yang dijalankan selama ini. Dengan enggan anak laki-laki itu mengambil satu persatu dus lobak dan membawanya keluar menuju sepeda miliknya, sepeda yang biasa digunakan untuk mengantar sayuran.

Keluarga Key yang terdiri dari Ibu, kakak laki-laki, serta dirinya hanyalah keluarga kecil yang tidak berkecukupan. Ayah Key sudah menuju rumah Tuhan saat Key duduk di bangku sekolah dasar. Sang ibu hanya seorang pedagang sayur yang membuka toko kecil di depan rumah, membuat kehidupan mereka serba kekurangan. Sedangkan kakak Key bekerja sebagai pelayan di sebuah cafe kecil yang penghasilannya hanya cukup untuk memenuhi hidupnya sendiri. Sedangkan Key, ia hanya membantu-bantu saja ibunya di rumah, atau sekedar mengantarkan sayuran ke beberapa restoran di kota, yeah mereka memang tinggal di pinggrian Seoul.

“Sebelumya cek dulu lobak-lobak itu, jangan sampai tuan Kang komplen pada kita!” ujar ibu Key yang kini sedang memrapihkan dagangannya.

Ne,” Key hanya menimpalinya dengan singkat. Tiga dus sudah laik-laki itu meletakan lobak pada boncengan jok belakang sepedanya. Ia melihat ke sebrang rumahnya, di sana terlihat beberapa orang pemuda dengan motor-motor mewahnya. Terkadang Key sangat iri pada mereka, hidupnya yang membosankan ini membuatnya lelah.

Pemuda-pemuda berpenampilan menarik itu membonceng beberapa gadis cantik, lalu melesat pergi meninggalkan sorotan mata Key yang masih sangat berharap bisa seperti mereka. Kibum mengacak-ngacak rambut belakangnya sambil mendengus. Ia melihat dirinya sendiri di depan kaca yang kebetulan terpampang di depan toko.

“Benar-benar seorang laki-laki biasa” gumannya pelan, ia melihat pantulan dirinya yang menggunakan kaos putih kusam kebesaran serta celana jins belel yang bahkan sudah robek di bagian lutut. Key tersenyum miris dengan apa yang dilihatnya.

“Sebenarnya aku ini tampan kan?” gumannya lagi, kini ia merapihkan rambut pirang jadi-jadian yang dulu ia sengaja cat agar terlihat keren seperti artis-artis di tv. “Yeah, aku tidak buruk, hanya keadaan yang membuatku seperti ini”

“YA!! Kau malah bercermin, cepat antarkan pesanannya!” teriakan sang ibu membuat Key mendesah kesal. Tidak bisakah ibunya tak mengusik Key dalam ketenangannya sebentar saja?

Arraseo umma, akan segera ku antarkan” sahut Key, ia lalu memakai sepatu kets lusuhnya. Kali ini ia harus mengantarkan lobak ke Seoul. Perjalanan dari rumah menuju Seoul lumayan jauh, dan ibunya hanya memodalkan sebuah sepeda tua untuk Key. Tapi apa mau dikata, Key tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menuruti permintaan ibunya, walau sebenarnya hati Key sering merasa kesal.

Key berdiri setelah selesai memakai sepatu. Ia menelusuri setiap inci bagian sepeda tuanya. Jari-jari roda yang berkarat, rem yang blong, jok yang lusuh, dan bahkan cat bagian sepedanya sudah memudar. Lesu rasanya melihat kendaraan itu.

Sebelum menaiki sepeda itu, Key menoleh ke arah ibunya. Lalu dengan ragu ia menghampiri sang ibu.

“Apa lagi?” tanya ibu Key yang masih tetap sibuk merapihkan sayuran tanpa menoleh ke arah anaknya.

“Enngg.. umma, tidak bisakah kau membelikanku motor? Eerr.. maksudku untuk mengantarkan dagangan kita, kau tahu sendiri Seoul itu jauh hehehe” ucap Key sukses membuat ibunya menatap murka ke arahnya.

GEPLAAAKK..

Ibu Key memukul kepala anaknya “Apa kau bilang? Membeli motor?”

Key meringis kesakitan sambil mengusap-ngusap kepalanya yang menjadi korban.

“Dasar anak bodoh, masih beruntung kita bisa makan. Cepat antarkan lobaknya dan jangan bicara yang tidak-tidak!” seru ibu Key hampir memukul Key lagi, namun dengan cepat laki-laki itu melesat pergi sebelum ibunya menghantam dengan amukan besar.

‘sepertinya aku salah berkata pada umma’

****

Minho mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Pikirannya sedang kusut, namun ia berusaha konsentrasi saat menyetir. Ia tak tahu harus membawa lajuan mobilnya kemana, permasalahan hidupnya terus mengusik. Hal biasa yang dialami manusia, tapi Minho sungguh tidak sanggup lagi untuk menjadi dirinya, menjadi anak keluarga Choi.

Keluarga Choi memang salah satu keluarga terkaya di kota Seoul. Banyak cabang-cabang perusahaan otomotif di beberapa daerah. Mungkin Minho beruntung memang dalam hal finansial, apa yang diinginkan dengan cepat ia dapatnya. Ayahnya seorang direktur utama dari perusahaan yang di kelola, sedangkan sang ibu seorang jurnalistik terkenal. Namun siapa sangka dibalik itu Minho mendapatnya kesengsaraan. Dari kecil Minho selalu ditinggal kerja oleh kedua orang tuanya, sehingga kasih sayang pun kurang ia rasakan. Akibat kesibukan orangtuanya, bahkan kedua dari mereka jarang bertemu menimbulkan kecurigaan antara hubungan suami istri tersebut.

Keadaan itu menjadikan korban untuk anak. Minho merasa dirinya tak ada dan tak dianggap. Ketika ibunya di rumah ayahnya tak ada, begitu pula sebaliknya. Namun ketika keduanya ada disaat bersamaan maka timbul lah perang dunia ketiga. Mulai dari permasalahan kecil yang dibesar-besarkan, kedua orang tua Minho memang mempunyai ego yang sama keras. Bahkan tak jarang sang ayah memperlakukan istrinya seperti binatang. Ketika Minho kecil ia sering menangisi kejadian yang dilihatnya, buruknya orang tua Minho tak mempedulikan tangisan anak tunggalnya. Saat remaja pun Minho sering melakukan ulah nakal agar dapat menarik perhatian orang tuanya, tapi semua yang dilakukan sia-sia. Orang tua Minho malah mengabaikan tingkah anaknya dengan memberi materi lebih dibanding afeksi.

DAMN!” Minho memukul setir mobil, ia menancapkan gas dengan menambahkan kecepatan laju mobilnya. Kenapa takdirnya begitu buruk? Menjadi anak orang kaya dengan keluarga yang hancur. Ya, Minho tahu benar cepat atau lambat orang tuanya akan berpisah.

Ddrrrtttt……

Suara getar ponsel terdengar, Minho mengambil benda itu yang ia letakan di dasbor. Diusapnya layar ponsel oleh ibu jarinya,  terlihat satu buah pesan dari seseorang yang baru Minho kenal seminggu lalu.

Song Yoojin :

Bisakah kau temui aku sekarang di restoran dekat apgujeong? Ada suatu hal yang ingin ku bicarakan.

Minho mendesah, dengan terpaksa ia membalik arah putarannya menuju Apgujeong.

****

Cekiiiiiiiiiitttttttttttt………

Key mengerem sepedanya secara mendadak. Baru saja beberapa meter ia mengayuh, namun seorang gadis berambut pendek malah menghadang jalannya, membuat Key terpaksa berhenti karena tak mau menabrak gadis itu.

“YA! Hilangkan kebisaanmu itu!” seru Key setengah berteriak pada gadis itu. Gadis itu malah tersenyum tiga jari dengan tampang polos. Key mengkerutkan kening, ia memang kenal gadis ini. Dia adalah teman Key sejak kecil – Shin Maeri. Memberhentikan Key saat bersepeda secara tiba-tiba adalah kebisaannya.

“Aku membawa banyak pesanan, tidak ada tumpangan untukmu” ujar Key, dia yakin gadis itu ingin ikut bersamanya mengantarkan lobak ke Seoul.

Maeri mengangguk-ngangguk, lalu ia berlari ke arah gang kecil dekat persimpangan jalan. Key heran, temannya itu semakin hari semakin aneh. Ia berdecak kemudian memulai untuk menjalankan lagi sepedanya, ia ingin cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya lalu kembali tidur dan bersantai-santai di rumah.

“Key-ah, chakkaman!!” panggil seseorang yang ternyata gadis tadi. Jika tadi Maeri hanya mengenakan kaos lengan pendek berwarna hijau dan celana jins abu-abu, kini ia melapisi bajunya dengan mantel tebal berwarna coklat. Ia membawa sepeda, namun sepeda itu tidak terlihat tua seperti punya Key. “Kau akan ke Seoul kan? Aku ikut! Hehe”

“Ya, Maeri-ah, darimana kau dapatkan sepeda itu huh?” tanya Key pada gadis itu, setahunya temannya itu tidak mempunyai sepeda.

“Eoh? Ah ini aku pinjam dari Han ahjumma, kajja! kajja!”

Key hanya mengangkat kedua bahunya mendengar penjelasan Maeri. Kemudian keduanya mulai mengayuh sepeda masing-masing menelusuri jalan untuk menuju Seoul.

——-

Beberapa daun kering berjatuhan dari pohon di sepanjang jalan, itu karena musim panas telah berakhir dan musim gugur akan segera tiba.  Angin berhembus pelan namun siapapun dapat merasakan bahwa cuaca hari ini tidak terlalu bagus.

Key mendesah, kenapa ia tadi tak ganti baju dulu sebelum pergi. Kini ia merasa udara bergerak itu menembus pada kaos tipisnya. Beda dengan gadis yang ada di sebelahnya,  Maeri merasakan hangat karena ia beruntung menggunakan mantel tebal. Gadis itu bersenandung ria seraya mengayuh sepeda pinjamannya.

Perjalanan mulai memasuki Seoul. Suasana ramai mulai terlihat, jika sebelumnya yang Key dan Maeri lewati adalah tempat-tempat kumuh pinggiran Seoul, kini di kota sekarang nampak asri, tidak ada sampah yang terbuang sembarang. Bebarapa mobil mewah banyak melintas di jalan raya, gedung-gedung besar berjajar memperlihatkan kemewahan kota Seoul.

Maeri menerawang beberapa toko yang dilewatinya, ini memang bukan pertama kalinya ia ke Seoul, namun kekaguman pada daerah Apgujeong ini tak pernah hilang.

“Maeri-ah, jangan memalukan ketika berada di Seoul, norak sekali kau”

Mendengar Key yang berujar, Maeri menggetok kepala sahabatnya dengan tangan kiri, membuat laki-laki itu meringis.

Setengah jam berlalu Key dan Maeri sampai di restoran dengan papan nama “Hanilkwan”. Kedua anak itu turun dari sepedanya. Maeri membantu membawakan satu dus lobak, dan Key mengangkat dua dus lobak kemudian berjalan memasuki restoran lewat pintu belakang.

Setelah meletakan lobak-lobak di dapur restoran, seorang pria yang nampak mengenakan baju koki menghampiri mereka. Key dan Maeri pun berbungkuk pada orang itu.

“Ah pesanannya sudah tiba rupanya” seru pria itu, yang dikenal sebagai koki sekaligus pemilik restoran ini.

Ne, tuan Kang. Aku membawa tiga dus lobak sesuai pesananmu” timpal Key seraya tersenyum.

“Ah ye, ini pembayarannya” tuan Kang memberi beberapa lembar won kepada Key “jika kalian ingin soondubu jiggae, minta bungkuskan saja pada Kyungsoo. Aku akan memasak pesanan pengunjung dulu”

Ne!” Key dan Maeri pun menjawab serempak.

Key melangkah menuju counter restoran diikuti Maeri. Beberapa pelayan terlihat sibuk melayanin pengunjung. Terlihat diantaranya Kyungsoo, salah satu pelayan yang cukup dekat dengan Key dan Maeri.

“Wah, Hanilkwan tampak ramai rupanya” seru Maeri melihat beberapa pengunjung hampir memadati restoran, Key mengangguk mengiyakan ucapan Maeri. Restoran tuan Kang memang terkenal di Apgujeong, tak heran jika orang-orang berminat untuk makan di tempat ini.

Ketika Key menerawang keadaan restoran, tiba-tiba saja matanya menangkap siluet seseorang. Ia mencoba untuk mempertajam penglihatannya, sedetik kemudian Key bersembunyi di balik badan Maeri. Gadis itu terkejut kecil, namun tak lama ia paham setelah melihat seorang gadis cantik yang berada di meja dekat jendela restoran.

Aish, sekarang bukan hari sabtu kan? Kenapa dia datang?” pekik Key masih bersembunyi di belakang Maeri, tangannya menarik-narik mantel Maeri membuat gadis itu risih.

Ya! Bukannya kau senang jika dia kesini huh?” timpal Maeri seraya memutarkan bola matanya

“Dia.. semakin cantik ya” Key menatap gadis yang kini sedang menompangkan dagu seraya menggembungkan pipi putihnya. Gadis cantik yang Key kagumi, gadis itu memakai dress selutut dengan motif bunga serta cardingan putih lengan pendek yang melapisi bagian atas. Rambut coklat panjang terurai membuatnya semakin menarik.

Mulut Key terbuka sambil terus memperhatikan gadis itu dari jauh. Oh betapa sempurnanya ciptaan Tuhan itu, andai saja Key bisa memilikinya.

Maeri mengkatup kedua bibir Key yang menganga dengan tangannya. Laki-laki ini seperti kucing yang melihat ikan asin saja, pikirnya.

“Hey, stop bersembunyi di belakangku!” ujar Maeri yang semakin risih dengan sikap Key. Temannya ini terlalu berlebihan jika menyangkut gadis cantik yang dilihatnya.

“Maeri-ah, diamlah. Hari ini aku memakai pakaian jelek, malu jika dia melihatku!”

“Cih, memang seperti apa dirimu sebenarnya? Biasa juga seperti ini. Ingatlah Key, dia sangat berbeda denganmu!”

Aish, aku bosan dengan kata-katamu itu” dengus Key, kemudian ia melihat mantel Maeri yang terlihat lumayan juga untuk menutupi kaos belelnya. “AH! Aku pinjam ini!” Key menarik paksa mantel coklat yang dipakai Maeri, kemudian ia memakainya. Kini Key mengambil cermin kecil di saku celananya – cermin yang biasa ia bawa. Dirapihkannya rambut pirang itu, berkaca sambil mengelap wajahnya yang agak kusam gara-gara bersepeda tadi.

“Nah, ini baru tampan” Key berkata dengan percaya diri. Maeri hanya bisa menatap jijik sahabatnya itu.

Michyeoso!” Maeri berlalu meninggalkan Key yang kini bertumpang dagu di counter dan meneruskan aktivitasnya memandang gadis cantik tadi.

Langkah kaki Maeri membawanya keluar dari restoran itu. Semakin ia melihat sikap Key tadi, semakin pula Maeri kesal. Tidak bisakah sahabat laki-lakinya itu melihat keadaan? Melihat bahwa terlalu tinggi ia bermimpi?

Key memang mengenal gadis yang duduk di restoran tadi. Ah tidak! bukan mengenal, namun ia hanya mengetahui saja. Sejak dua bulan lalu ketika Key mengantarkan sayuran ke Hanilkwan, ia melihat gadis itu sering berkunjung setiap hari sabtu. Key terus memperhatikannya, melihat kesempurnaan pada gadis itu, hingga ia menyukainya. Yeah, menyukai gadis berlatar belakang berbeda dengan dirinya. Dan Maeri? tentu saja ia juga tahu, setiap Key mengantar sayuran ke Seoul, Maeri selalu ikut. Tak jarang juga Key sering bercerita dan memuji-muji gadis pujaannya itu pada Maeri. Sebenarnya Maeri tak begitu suka, entahlah perasaan Maeri selalu mengganjal setiap Key menyebut nama gadisnya itu.

Maeri menghela nafas, caranya ini benar bukan? Ia hanya tak ingin sahabatnya itu menjadi sakit kelak nanti. Bagaimanapun Maeri sangat peduli pada Key. Andai saja Key bisa sadar bahwa ada seseorang yang selalu memperhatikannya, yang selalu melihat dirinya. Maeri memang sudah mengenal Key sejak lama, ia tahu Key berlalu terobsesi pada suatu hal yang tak mungkin. Namun Key tak pernah mendengar nasehat Maeri, membuat gadis itu kesal.

Aish, dasar namja pabo!” Maeri menggerutu tak jelas, kaleng minuman yang tergeletak di jalan menjadi korban kekesalannya, ia menendang kaleng itu tanpa mempedulikan keadaan sekitar.

PLUUUUNG…

Seseorang laki-laki yang berada tak jauh dari Maeri tampak meringis. Orang itu rupanya terkena timpukan kaleng yang Maeri tendang tadi. Ia mengusap kepalanya yang sedikit nyeri. Dilihatnya tersangka yang membuat kepalanya menjadi korban.

Laki-laki itu memicingkan mata ke arah gadis berambut pendek yang berjalan gontai di hadapannya, rupanya gadis itu tak sadar atas kelakuannya yang membuat sang korban sukses membuatnya kesal. Dengan sorotan dingin, laki-laki itu menghampiri Maeri.

Maeri yang tadi berjalan dengan tatapan kosong, ia tersadar bahwa ada seseorang yang berhenti di depannya. Gadis itu mendongkakan kepalanya melihat laki-laki dengan perawakan tinggi yang kini melemparkan tatapan beku dibalik kacamata hitamnya.

ada yang salah dengan orang ini?’ guman Maeri dalam hati.

Maeri tetap diam dan menunggu reaksi dari laki-laki itu, keduanya beradu mata. Maeri tak tahu maksud dari laki-laki ini, ia bahkan tak mengenal orang ini.

Agassi, apa kau tak mempunyai sopan santun?”

Pertanyaan laki-laki itu membuat Maeri menaikan sebelah alisnya. Kurang ajar sekali laki-laki ini, seenaknya saja mengataiku, batin Maeri.

“Apa maksudmu?” sahut Maeri bertanya balik.

Laki-laki itu tampak mendesah. Ia baru menemukan gadis yang sangat tak peka, benar-benar bodoh.

“Kaleng minuman yang tadi kau tendang mengenai kepalaku nona!” ujar lagi laki-laki itu sambil menunjukan luka di keningnya yang tak membekas.

Maeri memiringkan kepalanya bingung, apa yang dikatakan laki-laki ini? Maeri menendang kaleng? Kapan ia melakukannya? Oh ayolah bahkan ia tak sadar kalau tadi sempat menendang kaleng minuman, pikirannya terlalu dipenuhi oleh sosok sahabatnya.

“Apa aku melakukannya?” baiklah itu pertanyaan bodoh yang dilontarkan Maeri, dan laki-laki itu tampaknya semakin geram.

Dengan tampang tanpa dosa, Maeri mengendikan bahu lalu berjalan kembali sebelum akhirnya laki-laki yang menjadi korbannya itu menyahut kembali.

“Sepertinya kau gadis kampung” ujar laki-laki itu sukses membuat Maeri membalik dengan tatapan tajam.

‘memangnya kenapa kalau aku gadis kampung? orang ini ingin mencari masalah rupanya’ kata Maeri dalam hati.

“Seharusnya setelah kau melakukan itu, kau minta maaf padaku!”

Maeri yang tadi sudah berjalan beberapa langkah kini ia mendekat ke arah laki-laki itu.

Mwo?”

Laki-laki itu tersenyum miring, “Apakah sulit mengatakan permintaan maaf, masih mending aku tak menuntutmu”

Maeri tampaknya ikut geram juga, ia meniup udara kosong di depannya “Baiklah tuan, aku tahu tahu maksudmu apa. Pertama aku benar-benar tak tahu kalau aku pernah menendang kaleng lalu mengenai kepalamu. Kedua kau jangan seenaknya mengataiku tak punya sopan santun. Ketiga aku memang gadis kampung, lalu ada yang salah dengan itu?” ujar Maeri berusaha membela dirinya.

Laki-laki itu melepaskan sunglass memperlihatkan mata keroronya. Untuk sedetik Maeri sempat terkesiap, namun tatapan dingin yang terulas pada laki-laki itu membuat Maeri kembali sadar.

“Yang salah adalah gadis kampung selalu tidak mempunyai etika, dan itu terbukti olehmu”

YA!” Maeri berteriak emosi oleh apa yang dikatakan laki-laki tampan yang sombong ini. “dasar orang kaya sombong, bisanya merendahkan rakyat kecil!!” bentak Maeri, bicaranya tampak ngelantur. Laki-laki itu berdecak, susah juga bicara dengan orang kampung.

Mungkin sampai waktu berlalu Maeri tak akan sadar dan tak ingin meminta maaf. Laki-laki itu pun berusaha mengabaikan hal kecil ini. Ia sadar waktunya telah terbuang sia-sia berdebat dengan gadis kampung. Kemudian laki-laki itu berlalu meninggalkan Maeri yang masih kesal sambil berteriak tak jelas seperti wanita yang ditinggal kekasihnya.

‘Michyeoso yeoja’

****

“Key Hyung?”

Sebuah suara membuyarkan lamunan Key yang sedari tadi terus memandangi gadis cantik yang ia pujai. Key menoleh ke orang tersebut, dia adalah Kyungsoo.

“O’ kau” Key meneruskan lagi memandang gadisnya setelah tadi terganggu oleh panggilan Kyungsoo. Sungguh Key tak pernah bosan memandang paras cantik itu. Ia seakan sudah terhipnotis. Ingin sekali rasanya Key menghampiri gadis itu, mengajaknya berkenalan lalu kemudian berkencan. Ah sangat disayangkan karena takdir berkata lain. Seandainya Tuhan memberi garis bagus untuk Key, menjadi pria kaya yang rapih dan tampan, bisa memikat semua orang, diagungi. Key pasti dengan mudah dapat mengambil hati gadis itu.

Kyungsoo mengikuti arah pandang Key, sedetik kemudian Kyungsoo mengangguk-ngangguk paham kenapa Key betah sekali menatap ke arah jendela restoran.

“Setertinya kau semakin menyukainya hyung?” tanya Kyungsoo

Key menghentikan aktivitasnya, lalu menengok ke arah Kyungsoo. “Kau benar D.O, aku semakin menyukainya. Aigoo.. Yoojin-ssi, betapa sempurnanya kau” seru Key memuja gadis itu yang tak lain bernama Song Yoojin. Ia tahu nama gadis itu tentu saja dari Kyungsoo. Yoojin memang pelanggan lama restoran ini (Hanilkwan), jadi tak heran beberapa pelayan sudah mengenalnya. Selain sering mendatangi Hanilkwan, Yoojin juga merupakan anak tunggal keluarga Song yang terkenal sebagai pemilik perusahaan terbesar di Korea. Dan Key, seorang laki-laki miskin menyukai gadis itu. Baiklah Key tahu dunia pun akan menertawainya.

“Apa sebaiknya aku hampiri saja dia?” Key meminta saran pada Kyungsoo, laki-laki dihadapan Key itu tampak terbelakak kaget.

Mwo? Kau gila? Yang benar saja hyung! Dia itu putri, dan kau hanya cinderella. Lihat penampilanmu, ckck bahkan celanamu sudah sobek-sobek, dan matel ini juga terlihat kusam hahaha”

Pletaakk

Satu jitakan mulus mendarat di kepala Kyungsoo, anak itu meringis kesakitan.

Aish, menyebalkan kau!” tapi dalam hati Key berpikir, apa yang dikatakan Kyungsoo memang suatu kebenaran.

“Huft..” Key menghela napas berat “Kau tahu D.O, aku ini lelaki tampan namun sayangnya aku kurang beruntung” Key menunduk lemas, Kyungsoo pun merasa iba melihat Key. Memang suatu hal yang berat jika menginginkan sesuatu yang besar.

“ckck kau harus sabar ya hyung” Kyungsoo menepuk-nepuk bahu Key dengan kepeduliannya

“D.O, apakah tuan Kang membuka lowongan untuk pekerja baru? aku ingin menjadi pekerja disini. Setidaknya aku bisa terus melihat Yoojin!”

“Ah sangat disayangkan, pembukaan pekerja baru hanya akan dibuka ketika musim semi”

Key mendesah kecewa. Tak ada sedikit harapan untuknya.

“Ngomong-ngomong kau datang sendirian hyung? Maeri noona tak ikut?” tanya Kyungsoo yang biasanya hapal Key selalu bersama sahabatnya jika pergi ke Seoul.

“Ah bocah itu! sepertinya dia marah setelah aku merebut mantelnya. Aku harus segera pulang D.O, annyeong” Key pergi menuju jalan belakang untuk pulang. Ia memang suka mengabaikan Maeri jika sudah sibuk memandangi Yoojin di Hanilkwan.

Tak lama setelah Key berlalu, Kyungsoo melihat seorang laki-laki jangkung menghampiri Yoojin. Gadis itu tampak tersenyum manis ke arah sang lelaki.

‘apakah dia kekasih Yoojin?’ Kyungsoo menyerit, ia menoleh ke belakang hendak memanggil Key, namun Key sudah berlalu jauh.

****

Minho memasuki sebuah restoran yang ia janjikan bersama seseorang. Ia melihat seorang gadis melambaikan tangan ke arahnya. Minho menghampiri gadis yang terbilang sangat cantik itu, gadis yang sebentar lagi berstatus sebagai tunangannya.

“Ada apa?” tanya Minho to the point.

“Duduk saja dulu, biar aku pesan minuman” ujar gadis itu sambil tersenyum, dan akhirnya Minho pun menuruti walau tak berminat.

Setelah memanggil dan memesan minuman, tak lama seorang pelayan membawakan 2 cangkir capuccino ke meja Minho beserta gadis itu.

“Jadi apa tujuanmu memanggilku kesini?” tanya Minho dengan nada dingin. Minho memang sering bersikap seperti itu pada setiap gadis.

Yoojin berdehem setelah sebelumnya gadis itu menyeruput capuccinonya. “Kau serius sekali Minho-ssi, minumlah dulu!” ucap gadis itu

“Dan kau terlalu bertele-tele”

Walaupun Minho masih merespon dingin, namun Yoojin masih tetap mengukirkan senyum pada laki-laki di hadapannya. Minho mengakui, bahwa Yoojin memanglah cantik, sangat cantik. Dia adalah gadis yang baik namun ia tetap tidak bisa menerima perjodohan konyol ayahnya, Minho sama sekali tak mencintai Yoojin.

“Baiklah singkat saja. Sepertinya kau tidak setuju dengan pertunangan kita ne?” tanya gadis itu dengan nada lembut, Yoojin memang dari kalangan atas sehingga ia bisa mengontrol emosinya.

“Iya, dari awal memang aku tak setuju. Mungkin saat hari H aku tak akan datang” jawab Minho membuat Yoojin sedikit kaget. Laki-laki ini benar-benar tidak peduli, padahal awalnya Yoojin mengira bahwa anak keluarga Choi itu sangat tampan, namun ternyata hatinya sangat dingin.

“Kau.. benar-benar ingin melakukan itu?” tanya lagi Yoojin

Ne, mianhae” balas Minho singkat

“Huft.. sebenarnya aku pun tak ingin di jodohkan. Aku ingin bebas memilih pendampingku sendiri, namun aku sudah menuruti segala perintah appa dan umma sejak kecil, sehingga sampai saat ini aku sangat sulit untuk menentang mereka”

Minho menatap gadis di hadapannya, rupanya ia memang senasib dengan Yoojin. Walaupun keluarga Song itu harmonis tidak seperti keluarganya. Tak ada yang buruk dari gadis itu, tapi tetap saja Minho tidak bisa.

Minho berdiri kemudian melangkah pergi meninggalkan Yoojin yang menatap punggungnya hingga jejaknya tak terlihat lagi dari restoran.

“Jika perjodohan adalah takdir, maka takdir masih tetap memerlukan cinta” guman Yoojin menunduk kecewa.

****

Malam hari dengan angin semilir menyelimuti. Tempat itu gelap, namun Minho masih bisa melihat keadaan disana. Laki-laki itu berjalan sempoyongan di sebuah atap gedung yang entah ia tak tahu dimana. Badannya sudah bau dengan alkohol, dan kepalanya terasa pening walau sedikit ia dapat sadar.

Setelah meninggalkan Yoojin di restotran sore hari, Minho pergi ke salah satu kelab. Dia meminum beberapa gelas wishky yang membuatnya kini setengah sadar. Minho ingin bebas dari bebannya, ia terlalu sulit menerima kenyataan yang ada.

“AAAAAAAAAAAARRRGG…” Minho berteriak dengan keadaan mabuk, ia mengacak-ngacak rambutnya frustasi “Tuhan, kenapa kau memberiku takdir ini? Kenapa??!!”

Laki-laki itu meneteskan air mata, ia terisak. Kecewa, marah, kesal dengan keadaan. Kenapa takdir membuatnya seperti ini? Menjadi anak dari keluarga hancur? Ayah yang gila harta, ibu yang berselingkuh dengan pria lain, sangat muak mengingat itu. Bahu Minho bergetar, ia menangisi takdirnya yang buruk “Tuhan, apa dosaku sangat besar hingga kau membuatku seperti ini?” cairan bening itu masih keluar dari pelupuk mata Minho.

Langkah Minho semakin mendekati ujung atap. Kini ia mengangkat kakinya pada tepi atap gedung. Bisa Minho rasakan ketinggian pada atap itu, tapi persetan dengan semuanya ia tak takut. Siapa yang peduli jika dirinya meningkalkan dunia? Ia bahkan merasa tak punya siapa-siapa yang mengerti perasaanya.

“Seandainya kau bisa menukar takdirku entah dengan siapapun, aku rela walaupun menjadi orang miskin. Aku benci takdirku sebagai Choi Minho! Aaaaaarrrggghh!!!”  Minho tiba-tiba merasa sangat pusing, pandangannya menjadi kabur, jika selangkah lagi Minho berjalan mungkin dirinya akan jatuh dari gedung tinggi itu.

Minho mengerang sambil memejamkan mata menahan sakit di kepalanya, ia sudah tidak dapat lagi berdiri dengan seimbang dan..

BRUUKK

****

Key merabahkan tubuhnya di kasur lupuk miliknya. Kedua tangannya diletakkan di bawah kepala. Wajah cantik Yoojin terus menggentayangi pikirannya. Sedetikpun Key tak pernah lepas dari bayang-bayang gadis itu.

“Bukan hal yang salah kan jika aku menyukaimu?” guman Key sambil tersenyum-senyum tak jelas. Ia berkhayal bisa berkencan dengan Yoojin anak orang kaya itu. Key sangat berharap kalau Yoojin dapat meliriknya. “Sudi kah Yoojin menerimaku? Seorang Kim Kibum anak kampung yang miskin, kendaraan pun tak punya, baju-bajuku bahkan tak layak pakai. Yang ku punya.. hanya cinta Yoojin-ssi”  ucapnya miris

“Tuhan, bisakah kau mengabuli permintaanku? Aku sudah bosan hidup seperti ini” Key memejamkan mata. Hari memang sudah malam dan lebih baik tidur, kali saja ia mendapatkan mimpi indah bersama Yoojin.

****

BYUUUUUUURRRR…..

Minho tersentak begitu hujan dadakan mengguyuri tubuhnya. Ia mencoba membuka matanya secara perlahan. Dapat dirasakan silau cahaya matahari yang menyelinap dari celah-celah jendela mengenai penglihatannya. Setelah matanya terbuka, ia melihat jelas dirinya ada di tempat asing dan lensanya menangkap seorang ahjumma yang kini sedang menatap dengan geram, ahjumma itu membawa ember yang sepertinya digunakan sebagai hujan dadakan tadi. Minho menyirit bingung.

“YA! KIM KIBUM! Mau sampai kapan kau tidur hah? Ini sudah jam 10!” ahjumma itu berseru menggertak

Kim Kibum?”

——————————TBC—————————

Hallo~ baru sekarang lagi nih aku bikin sequel. Kali ini aku nyoba bikin karakter Key jadi gembel bwahahahaha. Abis bosen biasanya kan Key dapet peran anak orang kaya yang sombong, sekali-kali di melasin dikitlah wkwk. Nama OC aku ambil lagi dari blog sebelah kekeke pinjem yaa^^V

Yang udah baca silakan komen~~~~ ^^

 

 

 

11 thoughts on “[FF/CHAPTERED/1] Exchange of Destiny

  1. Choi Minho = Kim Kibum? apa mereka terlihat serupa? ataukah… #kebanyakanontondrama #kepojadinya hahaaha baru liat karakter Minho yang begitu dingin hhhmmm😀 tapi aku sudah menebak siapa jodoh mereka pada akhirnya🙂

  2. Huwaaaaa, begitu baca paragraf terakhir langsung mikir-mikir ntar si Key bakal ngapain sama tubuh Minho yg bentar lagi bakal tunangan sama Yoojin! Kkkakakkaka, ntar juga gimana pas Minho -dlm tubuh key- ketemu sama Maeri!!!! Waaah, bakal seru ini.. Next chap sooooon!!!!

    Fighting!😄

  3. Thyaaa aku mampirr😀
    ini ceritanya minho tukeran tubuh sama key ya?
    Wawawa baru2 ini aku juga baru nntn drama yg ceritany ttg tukeran jiwa, judulnya Big =D
    awalnya udah bagus nih. Aku suka karakternya maeri :3
    aku bayangin key pake baju kusut gitu rasanya aneh tp bagus juga sih, jarang yang bikin cerita kaya gitu.
    Bagus kok, ayo dilanjutin yaa.
    Kabarin aku klo lanjutnnya udah keluar, pengen baca :3

  4. keren. latar belakang keluarga minho sama key beda jauh dan drastis. minho yg kehidupannya enak malah keluarganya yg agak. … . sedangkan key yg keluarganya “biasa aja”, malah kehidupan (ekonominya) yg agak susah. keren ya.. seorang almighty key menjadi “gembel”😄

    kim kibum? jangan jangan ahjuma tadi ngira si minho itu key? OMO!!!! >_<
    ceritanya keren thor. seriusan!!!

  5. keren. latar belakang keluarga minho sama key beda jauh dan drastis. minho yg kehidupannya enak malah keluarganya yg agak. … . sedangkan key yg keluarganya “biasa aja”, malah kehidupan (ekonominya) yg agak susah. keren ya.. seorang almighty key menjadi “gembel”😄

    kim kibum? jangan jangan ahjuma tadi ngira si minho itu key? OMO!!!! >_<
    ceritanya keren thor. seriusan!!!

    sukses thor..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s