[FREELANCE] Secret – Part 13

Title                         : Secret – Part 13

Author                   : Kim Nara a.k.a Nandits

Beta-Reader        : Neni

Main Cast             : Kim Jonghyun, Han Yunji (OC)

Support Cast      : Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Choi Minho, Lee Taemin, Yoon Insa, Kim Jongmin

Length                    : Sequel

Genre                       : Life, Romance, Friendship

Rating                      : PG-15

SECRET – Part 13

Kim Nara©2012

Living Room, Onew’s House, 09.46 AM

Pagi ini Yunji terbangun dengan perasaan bingung karena ia sudah terbaring di ranjang dengan selimut lembut milik Jonghyun. Sejauh yang gadis itu ingat, semalam ia dan Jonghyun sama-sama tidak bisa tidur. Kemudian mereka berdua memutuskan untuk mengobrol, di mana obrolan mereka berakhir dengan sendirinya ketika mereka berdua tertidur. Berarti Jonghyun yang memindahkannya semalam? Memikirkannya saja sudah membuat wajah Yunji terasa memanas.

Ada hal lain selain masalah Jonghyun yang menyita pikiran gadis itu begitu ia terbangun dari tidurnya dan hal itu adalah kemarahan Key semalam. Apakah Key benar-benar marah? Bagaimana ia harus bersikap nanti di depan Key? Jika ia bersikap bahwa ia mengerti dengan apa yang dirasakan Key, ia merasa tidak enak dengan Jonghyun. Jika ia bersikap bahwa ia mengerti dengan apa yang dilakukan Jonghyun, ia merasa tidak enak dengan Key karena bagaimana pun sesungguhnya ia mengerti betul perasaan keduanya. Yang membedakan adalah Yunji dapat dengan cepat melihat dari sudut pandang Jonghyun sehingga ia tidak perlu emosi dan tetap berpikir jernih untuk bisa menemukan solusi terbaik untuk Jonghyun.

Kecemasan Yunji tidak berlangsung lama karena sarapan pagi di rumah itu nyatanya tidak terasa canggung sama sekali. Sekarang keadaan justru membaik dan sehangat biasa. Menurut apa yang diceritakan Taemin padanya, pagi-pagi sekali sebelum gadis itu terbangun, Jonghyun dan Key sudah berbicara empat mata. Sepertinya Key sudah bisa menerima alasan kenapa Jonghyun menyembunyikan kesulitannya selama ini. Key memang kecewa, tapi ia sadar tidak ada hal yang lebih baik dilakukan dibandingkan dengan ikut membantu sahabatnya itu memikirkan jalan keluar terbaik untuk masalah ini.

Seluruh penghuni rumah itu berpindah ke ruang TV untuk sekedar menonton acara pagi dan menikmati buah sebagai dessert yang disediakan oleh Yunji. Mata mereka semua memang tertuju pada layar televisi, namun tidak dengan pikiran mereka. Mereka tenggelam dengan pikiran masing-masing. Semua hanya berdiam diri sampai terdengar suara bel. Onew langsung berdiri dan beranjak untuk membukakan pintu tanpa melihat dari interkom siapa yang datang sepagi ini. Setengah jam yang lalu ia memberitahu Insa seluruh peristiwa yang telah terjadi. Gadis itu bersikeras untuk datang pagi ini walaupun Onew lebih suka kekasihnya itu istirahat lebih dulu di apartemennya karena ia tahu gadis itu baru beranjak tidur dini hari tadi karena deadline tugas.

Ketika Onew membuka pintu rumahnya, ia menemukan senyum manis yang menghiasi wajah yang memiliki kecantikan yang tidak akan pernah membuatnya bosan seumur hidup. Tanpa perlu diperintah bibir Onew pun otomatis melengkung dengan sempurna untuk membalas senyuman Insa yang terlihat sangat menawan di mata pria itu.

Ketika Onew mengulurkan tangannya yang besar dan hangat, Insa menyambutnya tanpa ragu. Seolah sedang menyerahkan seluruh hidupnya ke pria di hadapannya, pria yang selalu membuatnya merasa bukan hanya ribuan kupu-kupu tapi juga ribuan godzilla di dalam perutnya.

Insa hendak melangkah masuk ke dalam ketika ia merasakan genggaman di tangannya menguat dan menariknya dengan lembut seperti mencegahnya untuk melanjutkan langkah. Ia menoleh dan mendapati wajah Onew yang memancarkan rasa khawatir.

Onew mengamati wajah Insa dengan seksama. “Kau kurang tidur.” Katanya singkat namun penuh dengan rasa tidak suka dan rasa khawatir yang begitu kuat terasa.

“Gwaenchanha.” Ujar gadis itu lembut sambil mengelus pelan pipi namja yang memiliki senyum indah itu.

“Jangan memaksakan dirimu. Arasseo?”

“Arasseo.” Insa menatap Onew langsung di kedua bola mata pria itu, ingin meyakinkannya untuk jangan terlalu khawatir. “Kaja.” Gadis itu pun menarik tangan pria itu dengan lembut dan mengajaknya untuk segera masuk ke dalam.

“Noona wasseo?” ujar Taemin ceria ketika melihat Insa datang, membuat semua pasang mata mengalihkan pandangannya dari TV ke arah Insa yang sedang tersenyum ramah di sebelah Onew.

Insa segera menghampiri Jonghyun yang telah berdiri dari duduknya kemudian memeluk namja itu seperti memeluk adiknya sendiri. “Seharusnya kau melakukannya dari dulu.” Bisik Insa di telinga Jonghyun, penuh dengan perasaan lega karena setidaknya Jonghyun tidak perlu lagi menanggung beban ini sendirian. Ia juga lega karena akan ada banyak tangan yang membantu Jonghyun ketika Jongmin sedang kambuh. Bukan secara fisik memang tapi setidaknya ada yang membantu Jonghyun secara mental.

“Kau tidak perlu khawatir lagi, Noona.” Ujar Jonghyun sambil tertawa kecil.

“Ya! Sudah, jangan terlalu lama memeluknya!” Onew melepaskan tangan Jonghyun yang melingkar di pinggang kekasihnya.

“Mwoya? Noona duluan yang memelukku. Kau sendiri juga melihatnya.” Jonghyun menjulurkan lidahnya kepada Onew dan membuat semua yang ada di ruangannya itu tertawa melihat tingkah laku Onew.

Insa memukul pelan lengan Onew sambil menutup mulutnya dengan punggung tangan. Bukan karena malu tapi karena merasa tingkah laku Onew sangat lucu. Onew jarang sekali menunjukkan kecemburuannya, bahkan seingatnya tidak pernah sama sekali. Memang yang baru saja dilakukan Onew tadi lebih tepat dikatakan sebagai bahan bercanda saja dari pada dikatakan sebagai rasa cemburu. Tapi tetap saja, bahkan ketika Onew ‘pura-pura’ cemburu, masih saja terlihat cute di mata Insa. Kadang namjanya itu tidak bisa diprediksi.

Insa mengalihkan pandangannya ke gadis yang berdiri di sebelah belakang Jonghyun. Gadis itu membungkukkan badan kemudian tersenyum manis kepadanya. Insa pun berjalan melewati Jonghyun dan lagi-lagi memberikan pelukan hangatnya, kali ini kepada Yunji. “Terima kasih kau tetap di sisi pria bodoh itu.” Ujar Insa lembut.

“Gomawo juga Eonni karena sudah membantu Jonghyun Oppa selama ini.” Yunji balas memeluk Insa dengan hangat.

“Aaaaah sudahlah jangan terlalu melankolis seperti itu. Mataku sudah berair sekarang.” Kata Key keras sambil mengambil tissue dan mengelap ujung-ujung matanya. Kali ini justru tindakan Key yang membuahkan tawa dari yang lainnya. Padahal sebelumnya mereka semua juga merasa tersentuh.

“Kau ingin minum apa?” Tanya Onew sambil bersiap beranjak ke dapur.

“Tidak usah. Biar nanti aku ambil sendiri.” Insa menarik tangan Onew untuk duduk di sebelahnya. Setelah melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Jonghyun telah berhasil melepaskan diri dari belenggu Jongmin, tidak terluka parah dan akhirnya bisa kembali dengan Yunji, Insa pun akhirnya bisa bernapas lega. Meski karena hal itu juga tiba-tiba ia dapat merasakan dengan jelas rasa lelah di tubuhnya karena rasa tegang yang sebelumnya dirasakan oleh gadis itu berangsur menghilang. Ia hanya berharap dengan Onew berada di sampingnya, dapat merasakan hangatnya kulit pria itu bersentuhan dengan kulitnya sendiri, dan juga dengan melihat senyum menawan pria itu, dapat membuat rasa lelah itu menguap begitu saja.

“Yunji-ya, tinggal bersamaku saja bagaimana? Mau? Aku akan sangat senang jika kau bersedia.” Insa memandang Yunji dengan senyum dan ekspresi khasnya yang lembut, yang selalu disukai Onew.

“Ne?” Yunji terkejut dengan ajakan Insa. Gadis itu tidak menduga ajakan itu bisa datang dari Insa. Bagaimana pun juga Yunji masih merasa canggung dengan gadis yang sedang digenggam tangannya oleh Onew itu, mengingat kesalahpahaman yang pernah menimpa mereka beberapa bulan yang lalu. Insa memang terlihat tidak marah –bahkan gadis itu sama sekali tidak mengambil pusing- tapi Yunjilah yang merasa tidak enak dan masih sedikit canggung. “Ani.. Apa tidak merepotkan?” lanjut Yunji.

“Tentu saja tidak. Justru aku senang karena aku tidak sendirian lagi di apartemenku. Terkadang agak membosankan selalu sendiri, terutama di malam hari.” ucap Insa excited.

Onew melirik Insa dengan pandangan kenapa-tidak-bilang lalu berbisik di telinga gadis yang duduk di sampingnya itu. “Kalau saja aku tahu bahwa kau kesepian, tiap malam aku pasti akan mengunjungi apartemenmu.”

“Omo.” Insa memukul pelan lengan Onew sambil memelototi kekasihnya itu. Gadis itu tidak marah karena nyatanya bibir merah mudanya menyunggingkan senyum. Onew memang selalu seperti itu. Selalu ingin konversasi yang terjadi antara mereka berdua memang hanya mereka sendiri yang tahu. Onew bukan tipe orang yang suka mengobral kontak fisik yang berlebihan maupun kata-kata manis menjurus gombal di depan orang banyak. Bagi pria itu, apa pun yang terjadi antara dirinya dan Insa, biarlah menjadi konsumsi mereka berdua.

Dan Onew suka dengan ekspresi Insa yang malu-malu seperti ini. “Wae? Aku kan hanya ingin menemanimu. Apa yang kau pikirkan, hm?” godanya lagi.

“Dunia hanya milik mereka berdua, orang lain hanya menumpang saja.” Celetuk Taemin yang baru datang dari dapur dengan membawa makanan ringan.

Sontak semua orang yang ada di ruangan itu kembali tertawa karena ucapan Taemin. Jonghyun sampai memegangi perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa. Di sela-sela tawanya Yunji memperhatikan wajah Jonghyun yang terlihat berseri-seri dan detik itu juga ia merasakan kebahagiaan yang memenuhi hatinya. Inikah rasanya mencintai seseorang dengan tulus? Ada suatu kehangatan yang diam-diam merambat di hatimu hanya dengan melihat betapa bahagianya orang yang kau sayangi. Begitu juga sebaliknya, kau akan merasa lebih sakit tatkala orang yang kau sayangi itu tersakiti.

Jonghyun mengusap matanya yang berair ketika tawanya mereda. Ia berpaling ke sampingnya dan menemukan mata coklat indah favoritnya. Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Ketika semakin hari justru pria itu semakin yakin bahwa ia tidak bisa hidup tanpa gadis yang ada di sampingnya. Jonghyun tersenyum hangat kepada Yunji kemudian merangkulnya dan berbicara lembut hingga gadis itu dapat merasakan hembusan napas Jonghyun itu di pipinya. “Ku rasa tawaran Insa Noona itu jalan keluar yang terbaik.”

“Jonghyun benar Yunji-ya. Kau bisa pindah ke apartemenku mulai malam ini. Pasti kau merasa canggung kan tinggal serumah dengan lima namja?” tanya Insa.

“Ne? Noona, kami ini pria baik-baik dan Yunji tidak perlu merasa canggung.” Sahut Minho.

“Ya ya ya, pikiran pria siapa yang tahu?” Tandas Insa sambil mengangkat bahu acuh tak acuh, yang diikuti oleh anggukan Yunji.

Spontan para pria dalam ruangan itu langsung memprotes apa yang diucapkan Insa, termasuk Onew. Padahal Insa dan Yunji hanya bercanda mengatakannya. Tentu saja mereka berdua tahu tidak ada satu pun pria di dalam ruangan ini yang berani macam-macam dengan seorang gadis. Mereka semua adalah tipe pria yang sangat menghargai perempuan.

“Hmm.. baiklah aku akan menerima tawaran Eonni. Semoga aku tidak banyak merepotkan Eonni nantinya.” Ujar Yunji sambil membungkuk kepada Insa sebagai tanda terima kasih.

“Geurae Yunji-ya, kau tidak usah sungkan. Pasti ada banyak hal yang bisa kita bagi. Membayangkannya saja aku sudah sangat senang.”

***

3 Days Later

Insa’s Apartment, 06.24 AM.

TOK TOK

“Eonni, apa kau sudah bangun? Bukankah Eonni harus berangkat jam 7 hari ini?”

Ini hari ketiga Yunji tinggal bersama dengan Insa. Pada awalnya Yunji masih sedikit canggung memang. Tapi karena Insa sangat ramah dan senang mengobrol, Yunji dapat dengan mudah dan cepat merasa nyaman. Hari di mana Yunji mulai tinggal di apartemen Insa, gadis cantik itu langsung mengajak Yunji untuk berbelanja ke supermarket terdekat kemudian mereka memasak bersama. Saat itulah kecanggungan Yunji kepada Insa berangsur menghilang.

Insa dan Yunji sama-sama anak tunggal. Mereka memang sudah terbiasa dengan kesendirian dan hal itu bukan lagi menjadi masalah besar bagi mereka berdua. Tapi ada kalanya mereka iri ketika melihat orang-orang di sekitar mereka yang membicarakan saudara laki-laki maupun saudara perempuan. Kedua gadis itu sependapat bahwa rasanya akan lebih menyenangkan jika ada seseorang –dalam hal ini yang memiliki hubungan darah- sebagai tempat berbagi. Oleh karena itu, mereka sama-sama merasa senang ketika sekarang mereka tinggal bersama. Yunji mulai melihat Insa sebagai kakak perempuannya dan Insa mulai melihat Yunji sebagai adik perempuannya.

Dua hari belakangan ini mereka hanya bisa bertemu di malam hari karena mereka disibukkan dengan kegiatan kampus masing-masing. Terutama Yunji yang sibuk berlatih untuk mengisi acara ulang tahun kampusnya, Yonsei University, minggu depan. Sedangkan Insa masih disibukkan dengan tugas akhir semester yang sedikit lebih rumit dari biasanya sehingga gadis itu harus tidur terlambat. Yunji selalu mengingatkan Insa untuk istirahat sejenak dan tiga hari ini gadis itu menemani Insa mengerjakan tugas meski tidak sampai selesai.

Setengah jam yang lalu Yunji sudah mengetuk kamar Insa satu kali tapi ia tidak mendengar jawaban dari gadis itu. Yunji berpikir mungkin Insa membutuhkan sedikit waktu tidur lagi, maka gadis itu pun memutuskan untuk membangunkan Insa setengah jam kemudian.

Setengah jam sudah berlalu dan sekarang ia mengetuk kamar Insa lagi.

Hening.

Yunji mengerutkan keningnya ketika ia mengetuk untuk yang kedua kalinya tapi tetap tidak ada suara.

TOK TOK.

“Eonni, aku masuk ya.”

Begitu Yunji membuka pintu kamar Insa, ia merasakan hawa yang dingin sekali. Sepertinya sejak semalam ACnya dinyalakan dengan temperatur yang rendah. Kamar Insa terlihat sangat elegan di mata Yunji. Gadis itu sampai berpikir kalau kamar itu sangat mirip dengan kepribadian dan sikap Insa.

Pertama kali masuk ke kamar Insa dua hari yang lalu, Yunji merasa nyaman berada di dalamnya. Dinding kamarnya berwarna coklat sangat muda, hampir mendekati kuning gading. Sedangkan perabotnya didominasi oleh warna putih dan diberi sedikit sentuhan warna merah pada bantal dan sofa yang terletak di sudut lain dari ruangan itu. Ada sebuah cermin full body dan di sampingnya ada meja televisi lengkap dengan DVD player yang terletak tepat di rak bagian bawah. Tepat di samping tempat tidur terdapat sebuah meja kecil dengan lampu tidur.

Yunji mendekati Insa yang membungkus tubuhnya dengan selimut tebal hingga ke dagunya. Gadis yang lebih tua tiga tahun dari Yunji itu terlihat pucat dan ada titik-titik peluh yang membasahi keningnya. Yunji memegang kening Insa dan gadis itu tersentak karena suhu badan Insa yang panas.

Gadis itu kemudian duduk di tepi tempat tidur kemudian menggoyangkan bahu Insa lembut. “Eonni.. Eonni.. Sejak kapan kau demam?”

Insa membuka matanya yang berat dan menemukan ekspresi khawatir yang terpancar dari wajah Yunji. Insa menyunggingkan senyumnya sekilas “Yunji-ya, kau sudah mau berangkat?” ujarnya dengan suara serak. Gadis itu berniat bangun dari tidurnya tapi kepalanya sangat pusing, membuatnya harus kembali merebahkan tubuhnya sebelum seluruh dunia terasa terbalik.

“Eonni sebaiknya istirahat saja. Aku akan membuatkan bubur untukmu dan setelah itu kau harus minum obat.” Yunji merapatkan selimut yang membungkus tubuh Insa karena gadis itu terlihat sedikit menggigil. “Ah Eonni, kenapa bisa sakit begini?” gumamnya.

“Gwaenchanha Yunji-ya. Kau harus berangkat pagi untuk latihan kan? Pergilah, aku akan baik-baik saja.”

“Aku akan pergi setelah memastikan Eonni makan bubur, minum obat dan memanggil Onew Oppa ke sini. Aku tidak bisa pergi begitu saja dan meninggalkan Eonni dalam keadaan seperti ini seorang diri.” Sahut Yunji sambil mengambil remote AC di meja kecil samping tempat tidur Insa kemudian menekan tombol off.

Insa meraih tangan Yunji, bermaksud menahannya. “Jebal Yunji-ya, jangan beritahu Onew kalau aku sakit. Dia pasti akan marah. Lagi pula hari ini dia harus melakukan satu presentasi yang penting. Aku tidak ingin konsentrasinya terpecah dan presentasinya menjadi gagal karena aku.”

Yunji menghela napas lalu berkata pasrah. “Baiklah.” Meski dalam hati gadis itu berniat akan tetap menghubungi Onew, tepat ketika pria itu selesai presentasi. Ia rasa Jonghyun dapat membantunya untuk hal itu.

***

Insa’s Apartment, 11.03 AM.

Onew mengatur napasnya yang sedikit terengah-engah sejenak ketika ia sampai di depan pintu apartemen Insa, setelah tadi pria itu memutuskan untuk menaiki tangga darurat dengan setengah berlari karena lift yang penuh. Sambil memencet angka di alat yang memiliki fungsi serupa dengan kunci rumah yang menempel di daun pintu, dalam hati ia bersyukur Insa pernah memberitahukan kombinasi angka yang digunakannya sebagai sandi untuk bisa masuk ke dalam apartemennya.

Masih terekam jelas dalam memorinya bagaimana terkejutnya ia ketika mengetahui bahwa Insa sakit. Ia sempat kesal dengan Jonghyun yang baru memberitahunya setengah jam yang lalu padahal Insa sudah ketahuan sakit sejak tadi pagi. Entah kenapa rasanya ia rela meninggalkan presentasinya begitu saja jika ia tahu bahwa Insa sakit. Rasa khawatir itu terlalu mengganggunya, terlalu menyiksanya, dan belum bisa mereda sebelum ia berada di samping gadis itu untuk menjaganya.

Onew meletakkan tasnya begitu saja di lantai dekat pintu kamar dan melangkah ke arah ranjang tempat Insa sedang tertidur. Posisi tidur gadis itu terlihat seperti sedang meringkuk akibat kedinginan, padahal Onew sudah mengecek terlebih dahulu bahwa pendingin ruangan sudah dalam keadaan mati. Dengan hati-hati pria itu sedikit membungkuk untuk membenarkan letak selimut yang sedikit merosot, menarik benda lembut itu sampai ke leher Insa. Tangannya terangkat ke atas kemudian menyentuh kening gadis itu ringan untuk memastikan suhu tubuh gadis itu.

Onew menghela napas berat ketika dirasakannya suhu tubuh Insa belum juga normal. Menurut informasi yang didapatnya dari Yunji, suhu tubuh kekasihnya itu tadi pagi mencapai 39 derajat. Meski sekarang sepertinya sudah sedikit turun tapi tetap saja belum normal. Pria itu pun menyiapkan baskom kecil berisi air dan handuk kecil untuk mengompres Insa. Onew mengambil kursi kemudian menempatkannya di sisi tempat tidur Insa, untuk memudahkannya merawat gadis itu. Ia memeras handuk kecil kemudian melipatnya menjadi persegi panjang. Sebelum ia mengompres kening gadis itu, disibakkannya terlebih dahulu rambut yang menutupi kening Insa.

Onew menyentuh pipi gadis itu dan membereskan beberapa helai rambut Insa yang lain yang menjuntai dan menutupi sebagian pipinya. Kulit Insa terasa panas di punggung tangannya, wajahnya juga terlihat pucat dan tidak sesegar biasanya. Onew tidak suka kenyataan bahwa ia harus menyaksikan kekasihnya terbaring lemah karena sakit. Sesungguhnya ia bahkan tidak suka ketika ada sedikit lecet di kulit gadis itu. Ia hanya ingin Insa baik-baik saja. Selalu baik-baik saja.

***

Insa’s Apartement, 01.34 PM.

Insa membuka matanya yang berat. Ia masih merasa pening meski tidak separah tadi pagi. Gadis itu merasakan sesuatu yang lembut di keningnya dan ketika ia ingin mengangkat tangannya untuk mengambil benda itu, ia baru sadar ada sebuah tangan besar dan hangat yang sedang menggenggam tangannya. Insa sedikit menggeser tubuhnya dan menemukan wajah damai Onew yang sedang tertidur. Onew merebahkan kepalanya menyamping di atas tangan kiri yang bersilangan dengan tangan kanannya, tangan yang sama dengan tangan yang mengenggam tangan Insa.

Insa tersenyum kemudian ia merubah posisi tubuhnya dan mendekatkan wajahnya dengan wajah Onew, ia ingin memperhatikan lebih lama wajah yang selalu membuatnya nyaris lupa bernapas. Wajah Insa tidak berhadap-hadapan sejajar dengan wajah Onew tapi justru berhadapan secara terbalik. Dagu Onew sejajar dengan kening Insa sedangkan kening Insa sejajar dengan dagu Onew. Insa memperhatikan wajah Onew yang entah kenapa menjadi beribu kali lipat lebih tampan ketika ia sedang tidur.

Insa menyentuhkan jari telunjuknya yang lentik ke alis Onew dengan hati-hati. Alis tebal itu adalah salah satu bagian wajah Onew yang ia sukai. Kemudian jari itu turun ke mata sipit Onew yang tidak berkelopak, yang justru terlihat menawan di matanya. Hidungnya yang mancung, sudut bibirnya yang sangat menawan ketika tersenyum, dan rahangnya yang tegas. Oh baiklah Insa suka semua bagian dari pria itu. Seluruhnya.

Gadis itu merubah posisinya lagi sehingga matanya sejajar dengan mata Onew dan gadis itu tidak heran dengan kekasihnya yang tidak terbangun meski ada banyak gerakan di tempat tidur itu sejak tadi. Onew memang sangat suka tidur meski tidak separah Minho. Insa melirik ke tangannya yang masih digenggam oleh pria itu dan entah kenapa bahkan pergelangan tangan Onew terlihat sempurna di mata gadis itu.

Insa masih mengamati wajah Onew ketika pria itu bergerak sedikit dan akhirnya membuka matanya. Pria itu sedikit terkejut ketika mendapati ada sebuah mata cokelat indah yang menatap langsung ke manik matanya sendiri, kemudian tersenyum lembut ketika menyadari pemilik mata itu adalah Insa. “Gwaenchanha?” tanyanya pelan sambil menyentuhkan punggung tangannya ke kening gadis itu. Demamnya sudah reda.

“Hm. Gwaenchanha. Aku langsung merasa lebih baik hanya dengan memandangi wajahmu.” Insa tidak mencoba untuk menggombal, ia memang merasakan hal itu. Gadis itu pun takjub bagaimana tubuhnya membaik dengan sendirinya hanya dengan menemukan kenyataan bahwa Onew berada di sampingnya untuk merawatnya ketika ia sakit. Hanya dengan menemukan kenyataan yang membuatnya merasakan dengan jelas bagaimana rasa sayang Onew terhadapnya. Bagaimana menjelaskannya? Seolah Onew adalah satu-satunya obat ampuh yang bisa menyembuhkannya dalam waktu yang cepat. Obat pribadinya.

“Kau tidak merasa aneh melihatku seperti ini?” tanya Insa kepada Onew.

“Seperti apa?” Onew murni tidak paham dengan pertanyaan yang diajukan gadis itu.

“Wajah pucat, mata dengan lingkaran hitam, bibir kering, dan sedikit berkeringat. Sesungguhnya aku malu membuatmu melihatku dalam kondisi seperti ini.” Untuk pertama kalinya sejak berada dalam posisi seperti itu, Insa mengalihkan pandangannya ke arah yang lain. Sebelumnya ia selalu berusaha tampil manis di depan Onew. Bukankah semua pria akan senang jika gadisnya mempercantik diri hanya untuk mereka?

“Kau yakin ini wajah teraneh yang bisa kau perlihatkan kepadaku?” Ekspresi Onew belum berubah, masih tersenyum dengan manis yang sekarang justru terlihat aneh di mata Insa.

“Apa kau sakit juga?” Insa mengulurkan tangan dan menyentuhkannya ke kening Onew. Tidak panas.

“Aku baik-baik saja.” Kata pria itu dengan ekspresi yang polos. “Dan kau tidak aneh. Kau tetap terlihat sama di mataku.” Lanjutnya lagi. Ya, ya, anggaplah dia sudah tidak waras tapi ia merasa benar-benar seperti itu. Di matanya Insa tetap sama. Tetap memukau.

Tidak ada satu pun dari sepasang kekasih itu yang berinisiatif untuk merubah posisi mereka. Mereka berdua masih merasa nyaman dengan jarak wajah masing-masing yang hanya terpaut sekitar 10 cm. Terutama Onew. Rasanya menyenangkan ketika kau membuka mata dan menemukan mata favoritmu setiap saat. Mendadak Onew ingin melihat mata Insa setiap kali ia bangun tidur.

“Yoon Insa.” Bibir Onew bergerak dengan sendirinya untuk memanggil gadis itu. “Ayo menikah.”

Insa langsung bangun dan duduk di kasurnya dengan mata yang terbelalak. “MWO?”

Onew juga menegakkan tubuhnya dan kembali duduk. Pria itu sempat merasakan pegal di punggungnya karena posisinya tubuhnya yang tidak ergonomis sejak tadi. “Aku sudah memikirkannya sejak lama. Aku juga sudah membicarakan dengan kedua orang tuaku serta ibumu, dan mereka setuju. Hanya saja aku meminta untuk jangan memberitahukan kepadamu terlebih dahulu sampai aku yang akan meminta kepadamu.”

Insa semakin terkejut ketika mendengar sejauh mana Onew telah bertindak untuk hal ini. “Apa? Ibuku setuju?” ulangnya tak percaya dan disambut oleh anggukan dari Onew.

Insa terdiam, mencoba mencerna apa yang sebenarnya sedang terjadi. Seketika isi kepalanya seakan menjadi putih, seperti selembar kertas yang belum ditulis apa pun. Dan kata-kata berikutnya yang keluar dari bibir Insa adalah “Kau melamarku, di kamarku, ketika aku sedang sakit, belum mandi seharian, dengan wajahku yang seperti zombie, dan dengan cara yang sama sekali tidak romantis. Kau serius, Lee Jinki?”

Onew menatap Insa sambil berkedip dua kali kemudian mengangguk dengan polos.

“Jinjja?” Insa kembali bertanya karena di matanya Onew terlihat tidak serius sama sekali.

YES.” Onew menjawab dengan lantang lengkap dengan senyum lebarnya. “Ada yang salah dengan itu? Kau sendiri tahu kan aku tidak pandai bersikap atau berkata romantis. Itu bukan gayaku.”

“Ani.. Hanya saja aku..” Sesaat Insa terlihat bingung bagaimana menjelaskan perasaannya yang terkejut dan bingung. “Aigoo..” Akhirnya hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya.

“Oh baiklah. Sepertinya aku harus melakukan ini.” Onew merogoh kantung celana jeansnya kemudian menggenggam sesuatu yang Insa sendiri tidak tahu apa karena tidak terlihat oleh matanya. Pria itu kemudian menggenggam lembut jemari lentik Insa yang duduk di pinggir ranjang, kemudian berlutut di hadapannya.

Will you marry me?

…Menikahlah dengan seseorang yang membuatmu tidak bisa hidup tanpanya…

Insa teringat nasehat yang pernah ibunya katakan kepada gadis itu. Dan ketika ia menatap langsung manik mata Onew, ia menjadi yakin bahwa satu-satunya pria yang membuat Insa tidak bisa hidup tanpanya adalah Onew.

Yes.” Jawabnya mantap.

***

Insa’s Apartement, 06.04 PM.

Yunji menarik napas panjang, lalu mulai mengenakan mini dress soft pink yang cocok dengan kulit putihnya itu. Jika bukan karena pesta ulang tahun Onew, mungkin ia tidak akan pernah memiliki kesempatan memakai pakaian formal seperti sekarang, kecuali di hari pernikahannya nanti mungkin. Yunji belum pernah sama sekali ke pesta formal sampai harus mengenakan pakaian formal seperti ini. Beruntung Hyeji mau menemaninya berbelanja dan memberikan saran untuknya. Yah.. kalau dipikir-pikir perlu juga memiliki pakaian formal seperti ini. Oleh karena itu Yunji rela memakai sedikit uang tabungannya untuk membeli mini dress dan sepasang stiletto.

Yunji ingin berdandan se-natural mungkin. Ia tidak ingin mencoba gaya dandanan yang heboh, spektakuler, maupun up-to-date seperti di majalah-majalah remaja masa kini. Sedikit pulasan cream eye shadow nuansa soft pink, blush on, dan lip gloss baby pink hampir transparan dirasakan cukup dalam mendukung penampilannya. Ia bersyukur setidaknya ia bisa menggunakan make-up meski dengan sederhana dan tidak perlu tergantung pada Insa. Apa jadinya jika ia tidak bisa menggunakan make-up sementara Insa harus pergi terlebih dulu? Insa sudah pergi sejak siang tadi untuk membantu persiapan ulang tahun Onew sehingga di apartemen itu hanya ada Yunji seorang.

Gadis itu berkaca sekali lagi untuk mengecek penampilannya, kemudian ia mengambil tas tangan di atas meja rias. Tepat ketika Yunji akan menggunakan stilettonya yang berwarna senada dengan mini dressnya, terdengar bel apartemen berbunyi.

“Nuguseyo?” Yunji berteriak dari dalam tanpa melihat ke interkom.

“Tebak siapa?” Yunji tersenyum. Sudah pasti itu Jonghyun dan ia sudah sangat mengenal suaranya.

“Jamkkanmanyo, Oppa.” Yunji mempercepat proses pemakaian stilettonya. Ketika ia membuka pintunya, terlihat Jonghyun sedang bersandar pada salah satu tiang penyangga, dengan mata yang nampak sedang menikmati indahnya semburat cahaya lembayung pada langit yang tengah memasuki malam.

Profil Jonghyun dari samping nampak tenang sekali, membuat Yunji ingin tenggelam juga di dalamnya. Jonghyun mengenakan dark-gray suit serta sepatu hitam. Penampilannya gagah dan classy, membuat Yunji sangat bersyukur karena ia memakai gaun yang tidak kalah dari setelan rapi itu.

Merasa ditatapi lama seperti itu, Jonghyun menoleh ke arahnya, lalu tersenyum –senyum khas ‘I know you would look like that’ yang selama ini amat familiar bagi Yunji.

“Hey…” ucapnya pelan sambil berjalan ke arah Yunji.

“Hai…” Tiba-tiba Yunji merasa kedua lututnya lemas dan ia amat terhanyut dengan intense-nya suasana ini.

Kedua tangan Jonghyun memegang pinggang Yunji, memperhatikan wajahnya lama, lalu mengecup lembut kening gadisnya ini sambil menghirup wangi parfum khas Yunji yang seolah sudah menjadi candu baginya. Yunji telihat jauh.. jauh lebih cantik dan anggun dari yang pernah Jonghyun ingat sebelumnya. “Kau sangat gorgeous… seperti angel.”

Yunji tersenyum grogi yang berkembang menjadi tawa kecil. “Oppa juga rapi sekali. Kau tampan..”

Jonghyun meraih jemari Yunji kemudian menariknya perlahan “Kaja.” Sesampainya di tempat parkir, Jonghyun mengeluarkan remote key dari saku celananya. Alarm kecil KIA K7 warna abu metalik pun menyala, tanda pintu tidak terkunci.

Yunji menatap heran mobil mewah yang ada di hadapannya ini. “Oppa, ini mobil siapa?”

“Onew Hyung. Ia meminjamkan mobil barunya ini untuk menjemputmu. Tidak mungkin, kan, aku menggunakan motor untuk menjemputmu yang memakai mini dress seperti ini?” jawabnya sambil membukakan pintu penumpang untuk Yunji.

Jonghyun setengah berlari memutari mobil itu, tak berapa lama kemudian ia sudah duduk manis di belakang kemudi. Ia memakai seat beltnya, menoleh ke arah Yunji untuk sekedar mengecek apakah kekasih mungilnya itu sudah memakai seat belt atau belum, setelah itu ia menyalakan mesin mobil dan mulai melaju menuju pesta Onew.

Alunan lembut lagu Honesty yang dibawakan boy band terkenal SHINee mengisi keheningan yang terjadi di antara keduanya. Jonghyun terfokus pada jalanan di depannya, sedangkan Yunji sepertinya memang menikmati lagu itu.

“Oppa, ada berapa banyak orang yang datang?” Pertanyaan Yunji memecah keheningan di sepasang kekasih itu.

Jonghyun memiringkan kepalanya, masih terfokus pada jalan, mencoba mengingat. “Hmm.. kira-kira 50 orang? Yang diundang memang hanya teman dekat. Tapi karena ayah dan ibu Onew Hyung juga datang, makanya pesta ini dibuat formal.”

“Pasti banyak yeoja-yeoja cantik yang datang. Jangan coba-coba melirik mereka ya.” Yunji berkata dengan mimik serius sekali meski sebenarnya ia hanya bercanda.

“Mwo? Hei, tidak semudah itu aku melirik yeoja lain kalau ada angel di hadapanku. Apa kau belum percaya kepadaku?”

Sesungguhnya Yunji sangat puas dengan jawaban Jonghyun tapi ia masih saja ingin menggodanya “Belum! Oppa sering melirik yeoja-yeoja yang—“

Yunji tidak berkata-kata lagi, ketika sebuah tangan menggenggam erat jemarinya lalu sebuah kecupan yang cepat dan sedikit keras mendarat di bibirnya. Jonghyun kembali melihat ke depan, ke jalanan, sambil tersenyum-senyum sendiri. Senang bisa membalas kejahilan Yunji dengan telak.

***

Unknown Place, 10.19 PM

“AAAARRRGGGHHH..”

Seorang pria bangkit mendadak dari posisi berbaringnya. Ia terduduk di ranjangnya dengan napas yang tersengal-sengal. Mimpi lagi. Mimpi yang sama, bisikan-bisikan yang sama, semua itu selalu menghantuinya. Bahkan kali ini frekuensinya lebih sering dari yang biasanya.

“Hyung.. gwaenchanhayo?” Ada suara serak yang memasuki gendang telinganya.

Siapa? Pikirnya. Pria itu menyapukan pandangannya ke sekeliling ruangan dan terhenti ketika melihat seorang pria dengan rambut pirang tengah terduduk sambil menatapnya dengan mata mengantuk.

“Suara-suara itu terdengar lagi..” Bisik pria itu.

“Apa Hyung?” Pria berambut pirang itu kembali bertanya karena tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh orang yang disebutnya ‘Hyung’ itu.

Entah bagaimana, mendadak ada gambar-gambar yang berkelebat dalam otaknya: gambar mobil yang ringsek di sana-sini, gambar ambulance lengkap dengan suara sirine, dan gambar dua tubuh yang berlumuran darah. Lalu semua gambar itu seakan direwind. Ia melihat ada dua orang pria dan wanita paruh baya dihadapannya yang tersenyum sambil mengusap kepalanya. Wanita itu berkata ‘Eomma dan Appa harus menjemput dongsaengmu, Jonghyun, dulu ya. Kau jaga rumah dengan baik. Arachi?

Pandangan pria itu terlihat kosong. Beberapa saat kemudian ia terlihat ingin berkata-kata, tetapi lidahnya seperti terjepit. Ia hanya menggerak-gerakkan bibirnya seperti orang bisu. Namun akhirnya gerakan bibir itu pecah menjadi bisikan halus.

“Jemput dongsaengmu, Jonghyun… Jemput dongsaengmu, Jonghyun…”

Pria itu memegangi kepalanya yang terasa pusing. Ia memejamkan matanya erat-erat sambil menutup kupingnya, berharap agar semua gambar dan semua suara itu menghilang. Ia menggeleng kuat.

“INI SEMUA KARENA JONGHYUN!!”

TBC

 

A/N : Maaf sekali untuk update yang lama ini. Aku sibuk kuliah dan emang lagi kena writer’s block untuk FF ini. Hahahaha tapi palingan gak ada yang nungguin juga :p Oh iya mungkin aku akan pasang target sendiri untuk part ini bakal ada berapa comment dalam jangka waktu tertentu. Kalau misalnya comment di FF ini dibawah target yang aku tentukan, aku akan melanjutkan publish hanya di wp pribadi aku. Mian ya, harap dimaklumi🙂

6 thoughts on “[FREELANCE] Secret – Part 13

  1. omoooo.
    akhir na ada juga lanjutan na.
    hyaaa aku ngecek tiap minggu loh author buat liat updatean secret.
    kyaaaa
    lanjutin yah yah yah.

    banyak adegan onew na. hyaaa
    joha.
    jjong so sweet bgt d sini tapi tetep lebih tampan onew. huehehehe
    kya na bakal seru ni part selanjut na.
    aku menunggu part dan karya mu selanjut na.
    fighting!

    • wah ternyata ada juga yang nungguin hehehe.
      masalah lanjutin, yang pasti aku bakal bikin ini sampe end kok. tenang aja😀
      tinggal kalian para reader aja yang menentukan apakah aku publish hanya di wp ku atau di sini juga hehehe.
      untuk kamu, makasih lhooo udah mau baca dan ninggalin comment juga🙂

  2. Attention!!
    Dengan ini aku putuskan untuk melanjutkan publish FF Secret 14 sampai tamat di WP aku saja *ketok palu 3 kali*
    Makasih buat yang udah baca selama ini, khususnya buat yang udah mau ninggalin comment😀
    Annyeoooong~ *menghilang*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s