[FREELANCE] Secret (Part 12)

Title                      : Secret – Part 12

Author                : Kim Nara a.k.a Nandits

Main Cast          : Kim Jonghyun, Han Yunji (OC)

Support Cast   : Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Choi Minho, Lee Taemin, Yoon Insa

Length                : Sequel

Genre                   : Life, Romance, Friendship

Rating                  : PG-15

Thanks To        : Neni as my Beta-Reader

Inspired by       : Playing A Boy Is Not Fun by dbskgirl4ever

A/N                      : Sorry for the late update. Setelah menyelesaikan Secret Part 11 kemaren aku tiba-tiba jadi kehilangan semangat dan mood untuk nulis. Jadi aku ngumpulin semangat dulu sambil cari-cari inspirasi. Dimaafkan yaaa? Hahaha tapi gak ada juga yang nungguin FF ini :p Makasih banget buat Yuyu yang udah bantu aku untuk menemukan semangat aku lagi. Jangan lupa untuk meninggalkan masukan yaa buat aku. Happy reading🙂

 

SECRET – Part 12

Kim Nara©2012

 

Yunji’s Apartment, 09.55 PM

Tanpa menghentikan ciuman mereka, Jonghyun melangkahkan kakinya menuju apartemen Yunji, membuat gadis itu melangkah mundur dan mendorong pintu yang memang tidak tertutup dengan punggungnya. Begitu mereka berada di dalam, Jonghyun menutup pintu dengan satu gerakan dari kakinya.

Mereka sudah berada di dalam apartemen meski belum beranjak terlalu jauh dari pintu masuk.. Tangan kanan Jonghyun menarik pinggang Yunji lebih dekat sementara tangan kirinya memegang tengkuk gadis itu, Jonghyun benar-benar memapas jarak di antara mereka. Yunji sampai harus sedikit berjinjit karenanya.

Bibir Jonghyun bergerak lembut di bibir Yunji, bukan ciuman yang terlalu menuntut tapi merupakan ciuman yang sarat emosi; kekalutan, kerinduan dan rasa tidak ingin kehilangan. Yunji baru saja akan memperdalam ciumannya ketika Jonghyun malah melepaskannya dan meringis kesakitan.

“Sssshhh ouch..” Tangan Jonghyun yang tadinya berada di tengkuk Yunji pun beralih memegang sudut bibirnya.

“Wae geurae, Oppa?” Yunji menatap Jonghyun dengan bingung, namun langsung mengerti ketika melihat posisi tangan Jonghyun. “OMO, your wound! Mianhae Oppa, ayo kita obati dulu.”

“Kau ganas sekali, Han Yunji.” Jonghyun menyunggingkan senyum miringnya meski raut kesakitan belum hilang dari wajahnya.

Wajah Yunji langsung memerah mendengar ucapan Jonghyun, terlebih dengan ekspresi yang ditunjukkan oleh namja itu. Yunji mendorong tubuh Jonghyun yang masih berdiri terlalu dekat dengannya sehingga membuatnya sulit untuk bergerak.

Jonghyun pun bergerak satu langkah ke belakang ketika Yunji mendorongnya dan gadis itu pergi begitu saja ke dalam apartemennya. “You look cute when you are blushing, Honey!” ujarnya sedikit lebih keras sambil membuka sepatunya kemudian memakai slipper yang sudah tersedia.

Shut up!” Yunji membalas dengan suara yang tidak kalah keras dan yang terdengar kemudian adalah suara tawa Jonghyun yang merdu di telinganya, tawa yang dirindukannya.

Jonghyun tahu betul sekarang ini ia sedang menggoda Yunji. Bukan sikapnya yang biasa memang. Tapi ia sangat merindukan kekasihnya itu sehingga ia ingin melakukan apa pun untuk bisa kembali melihat berbagai ekspresi yang sering ditampilkan oleh Yunji dalam waktu singkat. Karena ia merasa begitu banyak hal yang dilewatkannya ketika beberapa minggu tidak berada di samping gadis itu.

Yunji kembali dengan kotak first aid dan segelas cokelat kemudian menghampiri Jonghyun yang telah duduk manis di ruang tamu apartemennya. Yunji tersenyum tipis ketika namja itu tersenyum kepadanya. Jujur saja suasana canggung masih sangat terasa, terlebih untuk Yunji. Kedatangan Jonghyun, pelukan, dan ciuman yang mereka lakukan, semuanya begitu tiba-tiba dan belum ada penjelasan apa pun yang keluar dari mulut Jonghyun. Tapi Yunji tidak dapat menyangkal rasa bahagia yang dirasakannya sekarang.

“Mendekatlah.” Gadis itu sudah memegang kapas yang telah diberikan alkohol dan bersiap untuk membersihkan luka Jonghyun.

Jonghyun mendekat kemudian Yunji membersihkan luka di sudut bibir dan tulang pipinya dengan sangat perlahan, takut membuat Jonghyun merasa kesakitan jika ia menyentuh lukanya terlalu keras. Jonghyun menatap wajah Yunji yang sedang serius mengobati luka-lukanya. Pesona gadis itu hampir membuatnya melupakan rasa perih ketika lukanya disapu oleh kapas beralkohol.

Yunji merasa sedang diperhatikan, kemudian ia menatap Jonghyun langsung ke bola matanya dan ia hampir tidak bisa bergerak karena terlalu hanyut di dalamnya. Ia dapat merasakan hembusan napas namja itu yang hangat. Tangannya terhenti di udara, tidak lagi mengobati luka di wajah Jonghyun.

Jonghyun mendekatkan wajahnya dengan perlahan sambil terus memandangi tiap lekuk wajah gadis itu. Ia melihat bola mata Yunji yang bergerak-gerak gelisah dan sedikit membulat, semburat merah pun muncul di pipinya. Itu terlihat sangat lucu di mata Jonghyun. Dan ketika wajah Jonghyun semakin mendekat ke arahnya, Yunji mengigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya erat. Tanpa sadar tangan gadis itu mencengkeram kemejanya sendiri, tepat di bagian dadanya.

Jonghyun memundurkan wajahnya dan memperhatikan Yunji yang masih menutup matanya dan tidak bergerak. Namja itu melihat bagaimana eratnya tangan gadis itu mencengkeram kemejanya sendiri. Jonghyun pun tersenyum kemudian mendaratkan sebuah kecupan lembut di kening yeoja itu. Yunji membuka matanya cepat dan malu sendiri dengan tingkah lakunya yang dipicu oleh pikiran-pikiran aneh semacam Jonghyun akan menciumnya lagi atau… melakukan hal yang lebih dari sekedar ciuman. Han Yunji Pabo, makinya dalam hati.

“Hahaha, apa yang kau pikirkan, Yunji-ah?” tanya Jonghyun sambil menyentuhkan jari telunjuknya di kening Yunji kemudian mendorongnya pelan.

“A-ani..” Yunji memalingkan wajahnya yang semakin memerah karena ketahuan ia telah berpikir macam-macam.

“Ingin tahu sesuatu?” Jonghyun menyandarkan tubuhnya di sofa sambil melirik Yunji di sampingnya dan ketika Yunji menatapnya dengan tatapan penuh tanya, ia pun melanjutkan. ”Aku ini pria yang tradisional, Yunji-ah. Aku mempunyai prinsip untuk menjaga kehormatan seorang wanita yang aku cintai sampai nantinya benar-benar sah.”

“Oh..” Yunji sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Jonghyun. Ia memainkan jari-jarinya dan menunduk untuk menghindari tatapan Jonghyun. “Well, it’s super good. Tapi.. kenapa kau mengatakan ini padaku, Oppa?”

Jonghyun menggaruk tengkuknya. “Aku juga tidak tahu kenapa aku mengatakan ini padamu haha.” Namja itu terlihat salah tingkah selama beberapa detik namun ia melanjutkan dengan ekspresi yang lebih serius. “Well, it means the only one I love is you, no one else.”

Yunji terhenyak mendengar kata-kata Jonghyun, ia sangat tersentuh. Ia tersenyum sambil mengamati setiap inci wajah Jonghyun. Gadis itu mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Jonghyun dengan lembut. “Gomawo Oppa. Nado.. saranghae..”

Sesuatu yang mengganggu pikiran Yunji sejak tadi membuat gadis itu bertanya-tanya dalam hati apakah ini waktu yang tepat untuk menanyakannya kepada Jonghyun. Ia terlihat berpikir sebentar, tapi akhirnya ia bertanya kepada namja di hadapannya sekarang juga. Yunji menarik ujung baju Jonghyun kemudian meremasnya perlahan. “Oppa, aku ingin bertanya sesuatu. I hope it won’t break the good atmosphere now.”

“Marhaebwa.” Jonghyun mengubah posisi duduknya, tanda bahwa ia memperhatikan apa yang ingin Yunji tanyakan.

“Sebenarnya.. apa yang membuat Oppa memutuskan hubungan kita waktu itu?” tanya Yunji sambil menatap mata Jonghyun. “Karena aku merasa alasan yang Oppa utarakan waktu itu bukanlah alasan yang sebenarnya.” Lanjut Yunji.

Jonghyun menghela napasnya. Ia tahu cepat atau lambat ia harus menceritakan semuanya kepada Yunji. Selama ini ia bungkam bukan karena ingin berbohong kepada sahabat-sahabatnya ataupun Yunji, ia hanya tidak ingin mereka terlalu mengkhawatirkannya dan tidak ingin mereka terlibat. Hanya Insa yang selama ini tahu dan Jonghyun pun sebenarnya merasa tidak enak karena hal ini hanya menambah beban pikiran Insa.

Tapi ternyata menyembunyikannya pun tidak menghasilkan suatu yang baik baginya, Yunji ataupun sahabat-sahabatnya. Ini malah menimbulkan kesalahpahaman dan kerumitan. Rasanya akan lebih baik ia menceritakan semuanya, menceritakan rahasia hidup yang selama ini ditutupnya rapat-rapat.

Jonghyun meraih tangan Yunji kemudian menautkan jemarinya dengan jemari gadis itu. “Geurae. Aku akan menceritakan semuanya kepadamu. Tapi sebelumnya aku ingin meyakinkanmu bahwa aku tidak akan memaksamu untuk terus berada di sampingku. Setelah kau tahu semuanya, kau bebas untuk tinggal ataupun pergi dari sisiku. Ingatlah aku tidak akan memohon apalagi memaksa, aku akan menerima apa pun keputusan yang akan kau ambil. Arasseo?”

Yunji mengangguk sekali, namun berbagai hal yang tak ia mengerti masih berkecamuk di pikirannya. Sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh namja ini hingga ia berkata aneh seperti itu? Separah apa hal yang menjadi alasan ia memutuskan hubungan mereka hingga sekarang pun Jonghyun terkesan pasrah dan tidak ingin memaksa Yunji terus berada di sampingnya? Rahasia apa yang selama ini Jonghyun simpan?

“Hmm hidupku tidak pernah semulus seperti yang terlihat di luar, Yunji-ah…” Jonghyun memulai ceritanya. Yunji merubah posisi duduknya menjadi berhadapan dengan namja itu, ia menatapnya dengan penuh atensi.

Ketika Jonghyun bercerita, namja itu lebih banyak menunduk dan menghindar dari tatapan mata Yunji. Bukan karena apa-apa tapi karena ia takut ia akan melihat sorot ketakutan dari mata gadis itu.

“… Aku tersadar ketika Jongmin Hyung mulai melibatkanmu dan saat itulah aku berpikir bahwa aku tidak boleh membiarkan hal ini terus berlarut-larut. Aku memang sempat mengambil keputusan yang kurang tepat. Tapi kali ini aku tidak akan membiarkan ia menyentuhmu meski itu hanya seujung rambut, kau terlalu berharga untuk itu.” Jonghyun mengakhiri ceritanya dan menatap wajah kekasihnya yang telah basah oleh air matanya. “Jadi.. jika setelah mendengar ceritaku, kau merasa lebih baik pergi dan meninggalkanku, aku sama sekali tidak keberatan. Aku tidak pernah bisa jika harus melihatmu terluka karena diriku. I’m sorry to put you in a dangerous situation.

Selama Jonghyun menceritakan semuanya, Yunji berpikir dan bertanya kepada dirinya sendiri. Apakah ia akan mundur setelah mengetahui penyebab tubuh Jonghyun yang kini penuh luka? Apakah ia mempunyai cukup kekuatan untuk menguatkan bukan hanya dirinya sendiri tapi juga Jonghyun? Dan yang paling penting adalah, apakah nantinya ia akan bisa menjalankan hidupnya dengan benar jika ia mengambil keputusan untuk meninggalkan namja itu?

Yunji menyeka sisa air mata yang mengalir di sudut mata dengan ujung jari telunjuknya kemudian ia tersenyum sambil menatap langsung ke mata cokelat Jonghyun yang indah. Gadis itu kemudian menggenggam kedua tangan Jonghyun dengan dua tangan halusnya. “I just want you, that’s it. All of your flaws, mistakes, smiles, giggles, jokes, sarcasm. Everything. I just want you.* I’m not going anywhere.” Ujar gadis itu mantap.

Jonghyun menunduk sesaat ketika merasakan matanya memanas. Ia terharu dengan keyakinan Yunji yang ditunjukkan kepadanya. Namja itu kemudian merengkuh Yunji dan memeluknya erat. “Gomawo, Chagiya, karena kau bersedia berada di sisiku. I realize now that the only way I can protect you is to be with you. Aku tidak tahu harus melakukan apa jika aku berpisah denganmu sementara Hyung tetap melakukan hal serupa dengan apa yang akan ia lakukan hari ini.” bisik Jonghyun lembut.

Drrrttt.. Drrrttt..

Mereka berdua melepaskan pelukannya ketika ada sesuatu yang bergetar di saku jeans Jonghyun. Namja itu menggerutu pelan karena merasa hal itu merusak moment manis yang sedang dinikmati bersama gadisnya. Sementara Yunji hanya tertawa kecil melihat kekasihnya menggerutu seperti itu. She thinks that he is cute.

“Yeob—“

“YA! NEO JIGEUM EODI YA?!”

Jonghyun menjauhkan ponsel itu dari telinganya ketika ia mendengar suara super cempreng yang memekakkan telinga. Yunji pun sampai-sampai terbelalak kaget karena bisa mendengarnya padahal Jonghyun tidak mengaktifkan loudspeaker di ponselnya. Yunji tahu betul siapa yang saat ini sedang menelepon Jonghyun.

“YA! I’m your Hyung. Kau seharusnya bertanya dengan sopan and don’t use banmal!” Jonghyun balik berteriak kepada orang itu. Kini ia mengaktifkan loudspeaker di ponselnya karena Yunji yang memintanya.

“I don’t care! Yang penting beri tahu aku sekarang kau ada di mana?? Kau ingin membuat kami cemas hah? Lihatlah sudah ada berapa missed calls di ponselmu. Apa-apaan itu, tiba-tiba pergi dengan ekspresi menakutkan ketika makan malam tadi. Kau membuat aku dan Taemin hampir terkena serangan jantung, ara?!”

Sedetik kemudian Jonghyun malah menyunggingkan senyum bodoh dan dengan tanpa rasa bersalah ia berkata, “Aku sedang di apartemen Yunji.” Katanya sambil melirik gadis di sebelahnya.

“Hyung ini sudah terlalu—Eh? WHAT? Kenapa tidak bilang dari tadi? Kalau begitu kan aku tidak akan mengganggu. Tenang saja, kau tidak perlu pulang kok. Bersenang-senanglah dan nikmati malam yang indah ini hahaha.” Suara Key tiba-tiba berubah menjadi kalem dan cenderung ceria ketika mendengar keberadaan Jonghyun saat ini.

Jonghyun dan Yunji malah terbelalak mendengar jawaban dari Key. Apa? Tidak perlu pulang? Apa anak itu sudah gila? Pikir Jonghyun dalam hati. Jonghyun langsung mematikan loadspeaker kemudian kembali berbicara kepada Key. Sedangkan Yunji langsung merubah posisi duduknya dan menghadap ke depan sambil memainkan jemarinya. Mereka berdua terlihat salah tingkah. Jika Key dan yang lainnya melihat, pasti mereka akan digoda habis-habisan.

“Akan aku ceritakan nanti.” Jonghyun menyudahi pembicaraannya dengan Key kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku celana jeansnya lagi. Ia melihat Yunji masih salah tingkah akibat mendengar apa yang Key ucapkan tadi.

Meski Jonghyun juga salah tingkah karena hal itu, ia lebih memilih untuk mengutarakan apa yang terlintas di benaknya setelah mengakhiri pembicaraannya dengan Key tadi. “Setelah mendengar apa yang Key ucapkan tadi aku berpikir ada benarnya juga.”

Jonghyun kemudian segera memperjelas maksud ucapannya ketika dilihatnya Yunji memandangnya dengan ekspresi terkejut. “MAKSUDKU, ada baiknya jika kau tidak tinggal sendirian. Harus ada orang yang menemanimu, paling tidak satu orang teman perempuan. Kau tidak akan pernah tahu hal apa yang… yang akan terjadi padamu setelah ini.” Tenggorokan Jonghyun sedikit tercekat ketika membayangkannya.

Yunji terdiam dan dia terlihat berpikir. Jonghyun membereskan beberapa helai rambut Yunji yang menutupi wajahnya kemudian mengaitkannya ke daun telinga gadis itu. “Mian, aku tidak bermaksud menakutimu. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untuk melindungimu.”

Gadis itu menggeleng kuat-kuat. “Aniya, Oppa. Aku sama sekali tidak takut karena aku tahu Oppa akan melakukan apa pun untuk melindungiku. Aku hanya berpikir bagaimana caranya agar aku tidak tinggal sendirian tanpa harus menghubungi kedua orang tuaku. Aku bisa saja meminta Hyeji menginap di sini tapi tidak bisa terus menerus karena Hyeji kan punya rumah sendiri.”

“Lagipula malam ini pun tidak mungkin meminta Hyeji untuk menemanimu, iya kan? Sudah larut malam begini.” Ujar Jonghyun sambil melihat jam dinding yang menunjukkan hampir pukul setengah 11 malam.

“Baiklah. Lebih baik kau ikut aku pulang ke rumah. Ku rasa itu akan lebih baik daripada kita berdua di sini.” Jonghyun pun langsung memutuskan apa yang dipikirnya akan menjadi solusi terbaik untuk saat ini.

“Tapi bagaimana mungkin aku tinggal di sebuah rumah dengan lima namja??” Yunji menolak keras ketika mendengar ide gila kekasihnya itu.

“Tidak ada cara lain Yunji-ah. Setidaknya untuk malam ini saja. Besok pagi bisa kita bicarakan jalan keluar yang lebih baik bersama yang lainnya. Oke? Tenanglah mereka juga pasti akan mengerti.” Jonghyun mencoba meyakinkan Yunji yang terlihat kurang suka dengan idenya. Tapi sungguh ia tidak bisa membiarkan Yunji lepas dari pengawasannya untuk saat ini. Ia tidak pernah tahu apa yang akan dilakukan Jongmin selanjutnya setelah mendapat perlawanan keras dari Jonghyun.

Yunji menatap mata kekasihnya. Gadis itu terlihat menimbang-nimbang saran dari Jonghyun. “Baiklah..” Akhirnya ia pun menyetujuinya.

***

 

Onew’s House, 11.35 PM

Jonghyun dapat melihat emosi yang bercampur dari tatapan yang diberikan keempat namja yang duduk di hadapannya ketika ia baru saja selesai menceritakan kisah hidupnya yang selama ini ia sembunyikan dari semuanya, kecuali Insa. Semuanya diam dan melemparkan pandangan mereka ke arah lain. Sesungguhnya mereka bingung harus bersikap seperti apa. Mereka kecewa karena Jonghyun ternyata tidak cukup mempercayai mereka untuk berbagi semua kesulitannya; mereka marah karena luka di tubuh Jonghyun itu ternyata lebih banyak dari apa yang pernah mereka lihat dan itu ditinggalkan oleh kakaknya sendiri; mereka sedih karena ternyata mereka tidak tahu apa-apa ketika Jonghyun harus berjuang melewati semuanya sendirian; dan mereka pun bingung harus mulai dari mana untuk membantu Jonghyun.

Tiba-tiba saja Key bangkit dari duduknya dan berjalan cepat ke lantai dua, tidak lama kemudian terdengar suara bantingan pintu yang cukup keras.

Yang lainnya hanya mampu menghela napas berat, terutama Jonghyun. Ia merasa bersalah dengan Key karena sesungguhnya selama ini ia lebih banyak mengungkapkan perasaannya kepada Key meski bukan mengenai permasalahan berat yang selama ini disembunyikannya. Sikap Key sekarang ini sangat wajar menurut Jonghyun dan juga yang lainnya.

Yunji tidak tahu harus bersikap ataupun berkata apa dalam situasi seperti ini. Sesungguhnya ia pun merasa serba salah. Ia mengerti apa yang Onew, Key, Minho dan Taemin rasakan tapi ia juga mengerti tujuan Jonghyun menyembunyikannya. Ia pun hanya duduk rikuh di samping Jonghyun dan mengelus punggung namja itu pelan untuk menenangkannya. Jonghyun melemparkan senyum lemahnya ketika ia menemukan Yunji sedang menatapnya dengan cemas.

“Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Onew akhirnya memecah keheningan. Ia pikir bukan saatnya untuk mendebatkan kenapa Jonghyun menyembunyikan rahasianya rapat-rapat meski persahabatan mereka sudah berjalan hampir tiga tahun. Ekspresi Onew memang tidak terlalu baik, ada riak kekecewaan dan kesedihan di sana, tapi ia selalu terkendali dan tidak meledak-ledak.

“Saat ini yang penting aku ingin memastikan bahwa Yunji baik-baik saja dan tidak tinggal sendirian. Untuk sementara aku ingin meminta kepada kalian…” Jonghyun menatap Onew, Minho kemudian Taemin. “…untuk mengizinkan Yunji menginap di sini selama beberapa hari sampai akhirnya aku mendapatkan jalan keluar yang benar-benar aman untuk Yunji.” Lanjutnya lagi.

“Masalah Yunji Noona tinggal di sini, aku rasa kau tidak meminta izin kepada kami pun, kami justru yang akan mengajaknya untuk tinggal di sini selama yang ia mau. Iya kan, Hyung?” Taemin menatap Onew dan Minho yang disambut oleh anggukan mantap dari kedua namja itu.

“Mwo? Selama yang ku mau?? Tapi dari awal aku benar-benar keberatan dengan ide Jonghyun Oppa untuk mengajakku tinggal di sini, Taemin-ah.” Yunji mengibas-ngibaskan tangan di depan dadanya sebagai tanda penolakan.

“Tapi ku pikir keputusan Jonghyun Hyung adalah yang terbaik untuk saat ini.” Minho yang sejak tadi hanya berdiam diri pun akhirnya ikut angkat bicara.

“Ani.. aku hanya tidak ingin orang lain berpikir yang tidak-tidak tentangku yang tinggal di rumah namja.” Yunji menundukkan kepalanya sambil memainkan jemarinya.

Jonghyun meraih tangan Yunji kemudian menggenggamnya dengan kedua tangannya. “Tenang saja, ini kan hanya sementara. Aku akan mencarikan jalan keluar untukmu. Arasseo?”

Yunji mengangguk dan menyunggingkan senyumnya. Dalam hati ia bersyukur memiliki kekasih yang bisa diandalkan seperti Jonghyun. Tapi kemudian ia teringat sesuatu dan ekspresinya berubah cemas. “Bagaimana dengan Key? Apa dia marah dengan mu, Oppa? Bagaimana kalau dia tidak setuju jika aku tinggal di sini untuk sementara?”

“Jangan terlalu menghiraukan Key, Yunji-ah. Aku yakin tadi itu hanya emosi sesaat. Ia hanya bingung harus bagaimana sehingga ia bersikap seperti itu. Aku yakin besok dia sudah baik lagi.” ujar Onew menenangkan sambil memamerkan senyumnya yang menawan kepada Yunji.

***

 

Jonghyun’s Room, 01.38 AM

Yunji menurunkan selimut, yang semula menutupi seluruh badannya dari ujung kepala sampai ujung kaki, hingga sejajar dengan dagunya. Berkali-kali ia mengganti posisi sampai akhirnya gadis itu mencoba untuk menghitung domba tapi tetap saja ia tidak bisa tidur. Aroma tubuh Jonghyun yang menempel di selimut yang dipakainya, sejak tadi menggelitik indera penciumannya. Menenangkan, namun sekarang aroma familiar itu tidak mampu membuatnya tertidur dengan tenang.

Banyak hal yang melintas di pikirannya saat ini dan semua hal itu meminta perhatian Yunji. Sedangkan gadis itu pun sesungguhnya masih bingung untuk menentukan jalan keluar mana yang paling baik dan paling aman, bukan hanya untuknya atau hanya untuk Jonghyun tapi juga untuk semua pihak. Belum lagi ia harus segera menemukan alasan yang masuk akal untuk kedua orang tuanya jika suatu saat ia ketahuan pindah dari apartemennya yang dulu. Tentu saja ia tidak akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada orang tuanya, ia tidak ingin kedua orang tuanya sampai tidak menyetujui hubungan mereka hanya karena latar belakang keluarga Jonghyun. Ia lebih memilih menutupnya rapat-rapat sehingga orang tuanya tidak pernah tahu peristiwa yang terjadi belakangan ini. Dan yang paling banyak menyita pikirannya saat ini adalah : bagaimana nanti dengan Jonghyun? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Apa Jonghyun bisa kembali merasakan bagaimana hangatnya sebuah keluarga dari kakaknya suatu saat?

Yunji pun memutuskan untuk keluar kamar. Mungkin udara luar dapat membantunya untuk menenangkan pikiran dan membangkitkan rasa kantuknya. Yunji menutup pintu kamar Jonghyun perlahan agar tidak mengganggu yang lainnya. Ia menatap pintu kamar Minho yang tertutup rapat dan lampu kamar yang sudah dimatikan. Apakah Jonghyun Oppa bisa tidur dengan baik? Semoga saja, kata Yunji dalam hati. Berhubung kamar Jonghyun digunakan oleh Yunji, namja itu pun tidur di kamar Minho untuk sementara. Yunji sempat merasa tidak enak karena merepotkan semuanya terutama Jonghyun dan Minho yang harus sekamar berdua. Tapi setelah di yakinkan oleh Minho bahwa Minho sendiri pun tidak keberatan, Yunji baru merasa sedikit tenang.

Gadis itu menuruni tangga dan berbelok ke dapur. Ia membuat secangkir cokelat hangat kemudian membawanya ke beranda luar. Biasanya secangkir cokelat hangat akan membuatnya tidur dengan nyenyak jika ia meminumnya di malam hari sebelum ia tidur. Ia melewati ruang TV kemudian membuka pintu kaca yang terletak di sisi ruangan tersebut. Pintu itu menghubungkan antara ruang TV dengan halaman samping. Oh baiklah, rumah Onew ini bahkan punya tiga halaman : halaman depan, halaman belakang dan bahkan ada halaman samping. Ada banyak lahan kosong untuk mengadakan pesta barbeque, mendirikan tenda dan camping, bahkan ada lahan khusus untuk mengadakan pesta api unggun.

Angin malam yang justru terasa sejuk itu menyapu kulit putih gadis itu. Kemudian Ia menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata, dilengkapi dengan senyum damai yang melengkung sempurna di bibir mungilnya. Ia meletakkan cangkir cokelatnya yang masih mengepul di meja kemudian ia duduk bersandar di kursi panjang. Memandangi langit malam yang bertabur bintang dengan bulat sabitnya yang terlihat sangat indah. Gadis itu begitu tenggelam menatapi keindahan langit malam sehingga ia tidak menyadari ada seseorang yang sedang mengamatinya dengan intens.

“Kenapa belum tidur?”

Yunji sedikit terkejut dan serta merta menoleh ke arah sumber suara. Dan gadis itu hampir lupa bagaimana caranya bernapas ketika ia melihat senyum menawan yang menghiasi wajah pria itu. Yunji mengerjapkan matanya berkali-kali untuk mengembalikan kesadarannya yang terenggut sejenak akibat Jonghyun yang entah kenapa terlihat terlalu tampan malam ini di mata Yunji. Padahal Jonghyun hanya menggunakan kaus hitam polos dan celana training panjang berwarna putih. Jonghyun duduk di sebelah Yunji kemudian mengusap kepala gadis itu dengan lembut. Kemudian ia mengalihkan pandangannya ke langit malam yang tadi membuat kekasih mungilnya terhipnotis.

“Oppa sendiri kenapa terbangun?” Yunji ikut memandangi langit. Sekarang kedua orang itu duduk bersebelahan namun tidak ada yang menatap satu sama lain ketika berbicara. Keduanya hanya memfokuskan pandangan ke hamparan bintang yang menghiasi langit malam.

“Aku tidak bisa tidur.” Beberapa saat kemudian Jonghyun menatap wajah Yunji sambil mengerutkan keningnya. “Kenapa kau menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lagi?”

Yunji tertawa bodoh sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. “Sebenarnya aku juga tidak bisa tidur.”

“Mian…” Yunji sontak menoleh kemudian menatap Jonghyun dengan pandangan penuh tanya ketika ia mendengar satu kata itu meluncur dari bibir pria yang duduk di sebelahnya dengan nada yang lemah.

“Maaf untuk apa, Oppa?”

Jonghyun menundukkan kepalanya sesaat. Meski namja itu tidak menunjukkan gejolak emosinya secara terang-terangan, namun Yunji dapat melihat dan merasakan kesedihan dan kebimbangan yang Jonghyun rasakan.

“Maaf karena semua masalah yang terjadi ini menambah beban pikiranmu dan akhirnya mempengaruhi hidupmu juga.” Ujar Jonghyun pelan, merujuk kepada Yunji yang harus pindah tempat tinggal. Ia menghela napasnya kemudian melanjutkan. “Aku tidak tahu harus berapa kali aku meminta maaf kepadamu. Tapi kalau aku bisa menemukan hal yang lebih dari kata maaf mungkin akan aku bawakan untukmu.”

Yunji meraih tangan Jonghyun kemudian menautkan jemarinya dengan jemari pria itu. Gadis itu tersenyum kecil ketika menyadari bahwa memang jemari Jonghyunlah yang paling pantas mengisi ruang di sela-sela jemarinya.

Jonghyun mengamati apa yang dilakukan oleh Yunji. Ia terpana sesaat ketika melihat senyum yang menghiasi wajah manis gadis itu. Bagaimana mungkin ia masih saja merasa seperti itu? Seolah-olah ia berulang kali jatuh cinta kepada Yunji setiap harinya. Karena sampai saat ini pun gejala yang ditunjukkan oleh tubuhnya masih saja sama seperti saat ia pertama melihat Yunji. Detak jantung yang tidak karuan, perutnya yang bergejolak, bahkan sengatan yang terasa ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit halus gadis itu.

“Pokoknya aku tidak akan memaksa kau untuk terus di sampingku, Yunji-ah. Aku tidak akan menahanmu jika kau ingin pergi dan menjalani hidup dengan lebih baik.” Sebenarnya Jonghyun benci sekali mengatakan hal ini lagi. Ani, bukan benci, ia takut jika Yunji benar-benar meninggalkannya. Tapi ia tidak ingin dan tidak akan pernah membiarkan gadis itu terus berada di sampingnya jika karena terpaksa atau karena rasa simpati, bukan lagi karena keinginannya sendiri.

Yunji sedikit menghadapkan tubuhnya ke arah Jonghyun sehingga mereka setengah berhadapan. “Bagaimana mungkin kau terus mengucapkan hal itu seolah-olah kau tidak membutuhkanku?” Bertolak belakang dengan Jonghyun yang terlihat tegang dan bimbang, Yunji justru terlihat lebih tenang. Ia menggerutu kepada Jonghyun dengan mengerucutkan bibirnya.

“Ani.. Bukan begitu… Aku hanya..” Entah kenapa Jonghyun merasa gugup sekaligus terkejut dengan reaksi Yunji.

“Jadi kau membutuhkan aku atau tidak, hm?” Yunji memiringkan kepalanya dan manik matanya memancarkan binar yang penuh rasa penasaran. Samar-samar Jonghyun juga menangkap sorot jenaka dari mata Yunji, seolah gadis itu memang ingin menggodanya.

Akhirnya Jonghyun tersenyum lebar hingga matanya membentuk eye smile yang selalu disukai oleh Yunji. “YES YES, I really need you.” Ujarnya keras sambil menarik Yunji ke pelukannya.

Yunji pun tertawa puas karena berhasil membuat Jonghyun mengakui bahwa namja itu membutuhkan dirinya. Ia melingkarkan tangannya di sekeliling tubuh Jonghyun dan ia dapat merasakan ketika namja itu mengecup lama puncak kepalanya. Yunji menenggelamkan wajahnya dalam dada Jonghyun sambil menghirup aroma tubuh kekasihnya itu. Gadis itu dapat mendengar detak jantung Jonghyun, suara yang selalu disukainya karena menandakan bahwa namja itu masih ada di dunia ini, masih bersamanya sampai sekarang.

“Oppa.” Yunji menengadah dan menemukan rahang Jonghyun yang tegas. Oh ya ampun, ia baru menyadari bahwa ia menyukai seluruh bagian tubuh dari namja itu. Bahkan alisnya pun terlihat menawan.

“Hm?” Jonghyun menunduk dan melihat langsung ke mata cokelat gadis yang ada di dekapannya saat ini. Dalam hati ia bersyukur karena bukan keraguan yang ia temukan di sana, melainkan rasa kasih sayang yang membuncah untuknya. Overflowing love.

Yunji melepaskan pelukannya dan menatap Jonghyun dengan serius. “Nyanyikan sebuah lagu untukku.”

“Eh? Kenapa tiba-tiba?” Jonghyun terkejut dengan permintaan Yunji itu.

“Tidak apa-apa. Aku ingin mendengar suaramu sekarang. Ya? Ya?” Yunji memamerkan senyum semanis mungkin lengkap dengan puppy eyes yang membuat Jonghyun tidak berkutik sama sekali.

“Arasseo. Kau ingin mendengar lagu apa?”

“Hmm… Lagu Dynamic Duo yang Be My Brownie.”

“Hadiah untukku apa?” Jonghyun mengulurkan tangannya ke arah Yunji.

“Nanti saja setelah Oppa bernyanyi.” Kata Yunji sambil mendorong tangan Jonghyun.

Jonghyun melipat kedua tangannya di depan dada kemudian menatap lurus ke depan. “Aku tidak mau menyanyi kalau kau tidak memberiku hadiah lebih dulu.”

Yunji mengerucutkan bibirnya. Kenapa Jonghyun malah meminta hadiah kepadanya? Gadis itu memutar otaknya untuk memikirkan hadiah apa yang harus diberikan kepada Jonghyun. Tak lama kemudian Yunji menunjukkan senyum jahilnya.

“Ini, ambil hadiahmu.” bisik Yunji di telinga Jonghyun.

Dan ketika Jonghyun menoleh, ada sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Mata Jonghyun terbelalak ketika menyadari bahwa Yunji sedang menyapukan bibir mungilnya ke bibir Jonghyun. Namja itu masih terbelalak kaget meski Yunji sudah melepaskan ciumannya dan menatap Jonghyun dengan tawa yang tertahan. Jonghyun merasakan wajahnya memanas dan pasti sekarang wajahnya sudah memerah karena apa yang dilakukan oleh Yunji.

“Ayo sekarang bernyanyi!” Ujar Yunji dengan riang sambil memeluk lengan Jonghyun dan bersandar di bahu kekasihnya itu.

Jonghyun tersenyum kecil sambil mengusap tengkuknya. “Arasseo.” Katanya singkat. Jonghyun pun mulai bernyanyi. Dan entah kenapa ketika mendengar suara Jonghyun yang begitu indah, rasa bimbang Yunji semakin menghilang dan hatinya menjadi lebih tenang. Dengan pikiran yang semakin rileks itu, rasa kantuk pun mulai datang. Tidak ada yang lebih nyaman dari pada bersandar di bahu Jonghyun sambil mendengarkan suara merdunya. Perlahan-lahan gadis itu pun memejamkan matanya.

 

Wae beolsseoga neo wae beolsseoga

(Why are you leaving already, why are you leaving already?)

 

Nan jibe gagi shirheunde

(I don’t want to go home)

 

Cause I wanna be with you

 

Oneul bameun gachi itgo shipeunde

(I want to be with you toninght)

 

Neoneun naeui jageun cheonsa

(You’re my little angel)

 

Could you be my brownie, baby?

 

Jonghyun tersenyum hangat ketika mengetahui Yunji telah tertidur di bahunya. Lalu Jonghyun menyandarkan kepalanya di atas kepala gadis itu dan mulai memejamkan matanya juga. Menurut Jonghyun tidak ada yang lebih nyaman dan hangat dibandingkan mengetahui bahwa orang yang begitu berharga di dalam hidupnya masih terus berada di sampingnya dalam keadaan tidak kurang suatu apa pun.

***

 

Kitchen, Onew’s House, 03.02 AM

Key berjalan perlahan sambil menuruni tangga dengan mata yang masih setengah tertutup. Di tangannya terlihat sebuah gelas kosong yang dipegangnya dengan longgar. Ia sangat benci ketika harus terbangun di tengah tidurnya yang nyenyak dan menemukan gelasnya telah kosong padahal ia kehausan.

Ia menyalakan lampu dapur kemudian mengisi gelasnya. Tuhan, ia sangat mengantuk. Key bahkan tidak bisa benar-benar membuka matanya. Mungkin nanti ia bisa jatuh tertidur di ruang TV jika ia sudah tidak mampu untuk naik kembali ke kamarnya.

Tiba-tiba Key merasakan ada angin yang berhembus. Dengan mata yang masih setengah tertutup namja itu mengerutkan keningnya. Aneh, pikirnya, kenapa ada angin yang berhembus cukup kencang? Seperti ada jendela atau pintu yang terbuka.

Angin berhembus kembali dan akhirnya Key menyadari bahwa pintu menuju beranda samping telah terbuka lebar. Key berdecak kesal kemudian beranjak dari dapur untuk menutup pintu kaca itu. Ia sudah memasang reminder di otaknya untuk mengomeli siapa pun yang lupa menutup pintu beranda.

Namja itu hendak menutup pintu beranda ketika dilihatnya ada dua orang yang tertidur di kursi beranda. Key mengucek matanya untuk memperjelas penglihatannya. Key hampir berteriak untuk mengomeli Jonghyun dan Yunji yang tidak tidur di kamar, namun ia mengurungkan niatnya ketika ia melihat wajah polos sepasang kekasih itu. Wajah mereka berdua begitu damai.

Key tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia masuk selama beberapa saat kemudian keluar lagi dengan membawa sebuah selimut lalu menyelimuti kedua sahabatnya.

 

TBC

 

 

7 thoughts on “[FREELANCE] Secret (Part 12)

  1. Huaaah…makin seru aja nih ff^^
    Penasaran sama jongmin,ntar ngapain lagi dia..
    Ngakak pas yunji’y nutup mata,ngegigit bibir bawah,megang kemejanya !! Thingking of yadong,ㅋㅋㅋ
    Key ! Key !
    Walaupun ngambekan,tpi tetep baik yah :*

  2. hwaaaa keren. . . .
    aku suka karakter Jonghyun nya.
    couple romantis
    like this couple, ,

    penasaran, lanjut post ny ya thor ^^
    klo bisa sih secepat nya. .
    haha

  3. ugh.. key… tuh kan.. sebengis(?)nya dia… key baik..huaaaa jd inget pas di rehersal musicalnya.. huaaaa

    ayo lnjut..
    udh mau end ato bkl ad konflik yg bkin nyesek lgi nih?? hahHaha

  4. kim raena : heits don’t thinking yadong-yadong, itu tidak boleh Yunji-ah hahaha

    aitha : huaa aku lagi kena writers block nih jadi gak tau bakal bisa update cepet atau gak huhu. ditunggu aja ya. aku gak berhenti nulis Secret kok🙂

    michella : hahahaha umma!

    dubudino : hope🙂

    mybabyLiOnew : key bengis? hmm ya bisa juga sih wakaka. spoiler! bentar lagi ending kok eon kekekekeke~

    thanks banget buat semua yang masih ngikutin FF ini dan masih berbaik hati untuk meninggalkan comment. semoga kalian bisa ketemu bias kalian yaaa (aku juga!) amiiin😀 maaf atas keterlambatan dalam membalas comment kalian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s