[FREELANCE] Secret (Part 11)

Title         : Secret – Part 11

Author        : Kim Nara a.k.a Nandits

Main Cast     : Kim Jonghyun, Han Yunji (OC)

Support Cast  : Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Choi Minho, Lee Taemin, Yoon Insa

Length        : Sequel

Genre         : Life, Romance, Friendship

Rating        : PG-15

Thanks To     : Neni as my Beta-Reader

A/N                  : Annyeonghaseyo… ada scene di part ini yang terinspirasi dari novel Seluas Langit Biru karya Mbak Sitta Karina, terus masih terinspirasi juga dari idenya Yuli Eonni. Kritik dan saran yang membangun diterima banget lho. Happy reading :)

SECRET – Part 11

Kim Nara©2012 93Lines Blog, Freelance Author

..I crave you, I want you

Every cell in my body needs you

‘Cause I want you, and I know that you want me

So let’s stay close like we supposed to be..

India Arie – Chocolate High

 

Next Day

Corridor, Yonsei University, 09.40 AM      

Yunji mempercepat langkah kakinya, tidak peduli dengan Hyeji yang sejak tadi kesulitan mengejarnya. Ia tidak sabar untuk menemui namja itu. Ya, ia berniat untuk segera menemui dan membuat namja itu kembali ke sisinya, bagaimana pun caranya. Harapan baru yang muncul begitu saja melalui Insa, dengan luar biasanya mampu membuat Yunji tidur nyenyak malam ini.

“Han Yunji! Tidak bisakah kau mendengarkanku sekali ini saja?” Hyeji sudah berkali-kali memperingatkan dirinya untuk tidak menggantungkan harapan terlalu tinggi. Karena jika sekali lagi harapan itu jatuh, maka Yunji tidak akan mampu lagi untuk bertahan. Tapi entah kenapa ada suatu firasat kuat yang mengatakan bahwa kali ini ia bukan hanya berharap, tapi memang benar begitu adanya! Entah dari mana datangnya perasaan seperti itu, yang jelas ia merasa bahwa Jonghyun sedang melindunginya. Melindungi dari sesuatu yang sesungguhnya Yunji pun tidak tahu apa. Kalian tahu kan seringkali feeling dirasakan lebih kuat dan lebih berpengaruh daripada logika? Itulah yang Yunji rasakan sekarang.

Itu dia!

Yunji melihat Jonghyun sedang bersandar di salah satu tiang koridor sambil mendengarkan musik melalui headset putih yang dipasangnya, sedangkan namja itu tidak menyadari Yunji yang berjalan ke arahnya karena Jonghyun sama sekali tidak memperhatikan sekeliling. Beberapa langkah lagi Yunji sampai di depan Jonghyun tapi Hyeji kembali menarik tangan Yunji hingga mau tidak mau langkahnya harus terhenti.

“Yunji-ah, jebal. Kau harus berpikir jernih saat ini. Jangan hanya karena kata-kata Insa atau siapalah itu, kau menjadi seperti kehilangan akal seperti ini. Kemana harga dirimu sebagai seorang yeoja, eo?” Bukannya Hyeji ingin mematahkan semangat sahabatnya ini. Ia hanya tidak ingin Yunji tersakiti lagi hanya karena suatu asumsi yang belum ada bukti konkretnya sama sekali. Bukankah lebih baik menyelidiki kebenarannya terlebih dahulu?

Yunji mengalihkan pandangan dari Jonghyun ke wajah Hyeji dengan malas, seolah waktunya akan terbuang sia-sia jika ia harus melihat hal lainnya selain wajah menawan namja itu. “Aku tidak peduli dengan harga diri, Hyeji-ah. Aku punya firasat yang kuat mengenai hal ini. Tolonglah, setidaknya bantu aku untuk menemukan kebahagiaanku kembali.”

Yunji kembali memfokuskan pandangan ke tempat di mana Jonghyun sedang berdiri. Degup jantungnya berangsur meningkat dan kedua tangannya terasa dingin ketika ia bertemu pandang dengan Jonghyun. Yunji pun bisa menangkap dengan jelas perubahan ekpresi wajah namja itu yang semula datar menjadi sedikit terkejut dengan kehadiran Yunji yang tak jauh dari tempatnya berdiri.

Jonghyun menegakkan tubuhnya, terlihat seperti ingin melangkahkan kaki dan pergi dari tempat itu. Tapi ia tidak jadi melakukannya ketika tiba-tiba Jessica sudah menghampirinya dan bergelayut manja di lengan namja itu. “Kim Jonghyun, ku dengar kau sudah mengakhiri hubunganmu dengan Yunji ya?” Jessica memainkan jari telunjuknya di tulang rahang Jonghyun dan nada bicaranya sangat asing di telinga namja itu. Ia tidak suka dengan suara Jessica. Jonghyun sedikit risih namun ia segera menguasai dirinya. Timing yang tepat, pikir Jonghyun.

Hyeji belum menyadari apa yang terjadi di belakangnya dan masih saja berusaha mencegah Yunji untuk menemui Jonghyun “Tentu saja aku akan melakukan apa pun untuk membuatmu bangkit lagi Yunji-ah, aku mempedulikanmu lebih dari Kim Jonghyun yang sudah mencampakkanmu seperti ini. Aku….”

Suara Hyeji –dan orang-orang yang ada di sekitarnya- mendadak menjadi samar ketika Yunji menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri, Jonghyun mendaratkan kecupan lama di bibir Jessica dengan rangkulan yang kian erat di pinggang yeoja itu. Adegan yang terlalu menyakitkan bagi matanya, apalagi hatinya. Luka baru sukses tertoreh di hatinya yang bahkan belum sepenuhnya sembuh, membuatnya berdarah lagi. Bahkan lebih banyak.

***

 

In Front Of Yunji’s Apartment, 09.29 PM

Jonghyun sadar betul bahwa apa yang dilakukannya pagi ini akan membawa guncangan yang besar untuk Yunji. Ani, lebih tepatnya kehancuran yang besar. Karena sama halnya yang terjadi pada Yunji, apa yang ia lakukan justru membawa kehancuran bagi dirinya sendiri. Ketika Jonghyun melihat cairan bening melesat turun dari mata indah gadis kesayangannya, hal itu lebih menyakitkan dari luka yang pernah ia dapatkan di sekujur tubuhnya. Lebih menyakitkan dari pukulan yang diberikan Minho tempo hari.

Tapi Jonghyun melakukan itu bukan tanpa alasan, bukan juga karena ia menginginkan Jessica. Ia hanya ingin Yunji membenci dan menjauh dari dirinya, dari hidupnya yang berbahaya. Lebih baik ia yang menderita sendiri daripada Yunji ikut terseret di lingkaran setan ini.

Menjauhkan Yunji dari hidupnya.

Seolah sudah menjadi takdir bagi seorang Kim Jonghyun untuk melindungi Han Yunji, bagaimana pun cara yang harus ditempuhnya. Tapi sudut hatinya yang lain merasa bimbang, apakah menyakiti Yunji seperti tindakannya pagi ini harus dilakukannya juga? Berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa hal yang dilakukan sudah benar, jika tujuannya demi kebaikan Yunji. Detik di mana dia melihat Yunji berlari meninggalkan koridor kampus sambil menangis, mulai detik itu juga rasa bimbang hampir tidak pernah berhenti menghantuinya.

Karena itulah kini Jonghyun menjalankan motornya dengan kecepatan yang belum pernah dicobanya, 15 km/jam. Namja itu mengikuti Yunji yang berjalan sempoyongan dari belakang, mematikan lampu depan motornya agar gadis itu tidak menyadarinya. Dia sendiri sadar betul seharusnya ia tidak melakukan ini, tapi dia cemas dengan emosi yang seperti itu Yunji akan melakukan hal yang tidak-tidak atau bisa saja terjadi sesuatu yang membahayakan nyawanya dalam perjalanan pulang. Jonghyun sudah mengikuti Yunji sejak ia melihat gadis itu berjalan keluar kampus seorang diri dan hampir saja ia menarik tangan yeoja itu ketika ia melihat Yunji sudah menenggak sepuluh gelas soju.

Yunji terduduk di undakan tangga di depan pintu masuk apartemennya. Jonghyun mematikan mesin motor kemudian memarkirkannya beberapa meter sebelum apartemen Yunji. Ia sengaja tidak turun dari motor dan tidak melepaskan helm sekedar untuk mempersulit dirinya yang ingin berlari dan menghambur ke arah gadis itu kemudian memeluknya.

HOEK… UHUK UHUK… HOEK..

Ketika Jonghyun melihat Yunji akhirnya muntah efek dari terlalu banyak minum soju, runtuhlah semua usahanya untuk menahan diri. Tanpa pikir panjang Jonghyun langsung membuka kemudian melempar helmnya asal dan berlari menghampiri Yunji yang menjulurkan sebagian tubuhnya ke tanaman di samping tangga tersebut.

“Sudah tahu tidak bisa minum, kenapa kau menenggak soju sebanyak itu, Han Yunji?!” Begitu khawatirnya Jonghyun saat ini sehingga tanpa sadar ia berbicara dengan nada tinggi. Tapi raut wajahnya terlihat cemas. Ia menepuk-nepuk pelan punggung yeoja itu, sesekali memijat tengkuknya juga.

Dengan masih terbatuk-batuk Yunji mengerutkan keningnya, merasakan sensasi hangat dari tangan yang sedang menyentuhnya. Ia mengenalnya. Ya, ia mengenal tangan yang sedang menyentuhnya dengan lembut. Ia mengenal suara yang sedang mengomelinya, suara yang sangat dirindukannya. Apakah aku berhalusinasi? Apa ini hanya mimpi? Tanpa diperintah, air matanya mengalir begitu saja membasahi kedua pipinya.

Dengan terhuyung, Yunji mencoba menemukan keseimbangannya dengan berpegangan kepada handrail kemudian membalikkan badannya. Sial, sial, kenapa semuanya berbayang? Ia tidak bisa melihat wajah yang ingin dilihatnya. Ia tidak bisa menatap mata penuh kasih yang selalu disukainya. Tapi ia bisa merasakan lengannya dipegang oleh tangan itu, tangan Jonghyun. Yunji meraih jaket yang dipakai Jonghyun kemudian mencengkramnya dengan kuat. Tepat ketika ia mulai mendekat dan hampir memeluk namja di hadapannya itu, semuanya berangsur gelap. Kesadarannya menghilang.

Dengan sigap Jonghyun merengkuh tubuh yang melemas itu ke dalam pelukannya. Ya Tuhan, dia rindu sekali dengan wangi rambut gadis ini!­

Lima menit saja.

Ya, lima menit saja. Dia akan mempertahankan posisi ini lima menit saja untuk mengisi paru-parunya yang sudah lama sekarat mencari ‘oksigen’nya. Jonghyun berjanji kepada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan mengulangi tindakannya hari ini, baik tindakannya untuk menyakiti Yunji ataupun tindakannya memeluk gadis itu seperti sekarang. Keduanya tidak akan berakhir baik bagi mereka berdua. Setidaknya jika Jongmin masih berkeliaran dengan bebas. Karena selama ia mengenal Jongmin, ia tahu kakaknya bukan tipe yang akan bermain-main dengan apa yang diucapkannya.

Jonghyun mendudukkan Yunji perlahan kemudian berbalik dan menarik tangannya hingga ia menggendong gadis itu di punggungnya. Pipi Yunji yang dingin bersentuhan dengan tengkuk Jonghyun hingga ia bisa merasakan nafas teratur gadis itu. Jonghyun berjalan pelan sekali. Tidak bisakah waktu berhenti agar ia bisa mengenggam tangan gadis itu atau memeluknya selama yang ia mau?­

Jonghyun membuka pintu apartemen, meletakkan tas Yunji, kemudian membuka sepatunya. Semuanya dilakukan dengan perlahan dan hati-hati, tidak ingin Yunji terbangun dan semuanya menjadi berantakan. Lebih baik Yunji mengira ini semua hanya mimpi daripada membuat yeoja itu terus berharap kepadanya. Jonghyun tidak pernah ingin memberikan harapan sia-sia kepada Yunji jika itu akan menyakiti hatinya lebih dalam.

Jonghyun membaringkan Yunji dengan hati-hati di ranjang, melepaskan sneakersnya kemudian menyelimuti tubuh gadis itu. Namja itu memperhatikan wajah Yunji dengan tatapan yang sulit diartikan. Tatapan sayang dan rindu bercampur dengan rasa tersakiti dan khawatir yang begitu besar.

Setetes air mata meluncur begitu saja dari mata Yunji yang tertutup. Bahkan di dalam tidurnya gadis itu menangisi apa yang telah terjadi. Jonghyun menutup mulutnya dengan punggung tangan, matanya mulai panas dan berkaca-kaca. Ia nyaris menggigit kulit tangannya sendiri untuk menahan isakannya. Ia menengadahkan kepalanya dan memandang langit-langit, berharap tindakannya itu dapat mencegah air matanya mengalir lebih deras dan meredam isakannya.

Jonghyun menatap wajah Yunji untuk terakhir kalinya sambil mengusap air mata yang mengalir di wajah gadis itu dengan lembut. “Mianhae..” bisiknya di telinga Yunji sesaat sebelum ia mengecup lama kening Yunji, menghirup aroma yang sebentar lagi hanya akan menjadi kenangan untuknya.

***

 

Café, 10.10 PM

Jonghyun memakai jaket dan tasnya kemudian berpamitan kepada semua teman-temannya di café. Ponsel di sakunya menimbulkan getaran ketika baru dua langkah ia keluar dari pintu depan café. Nomor tidak dikenal tertera di layar ponselnya.

“Yeoboseyo?”

“Kau serius sekali menanggapi kata-kataku tempo hari Jonghyun-ah, sampai mengakhiri hubungan dengan yeojachingumu.”

Jonghyun mengenal suara itu. Ia memegang erat ponselnya kemudian berdecak. “Katakan saja apa yang kau mau. Asal jangan sekali pun kau menyentuh sehelai rambut gadis itu.”

“Kekeke~ aku tidak akan menyentuhnya selama kau masih menuruti kemauanku. Bisakah lusa aku mengambil jatahku?”

Jonghyun memutar bola matanya, benci dengan bunyi tawa yang dikeluarkan oleh namja itu. “Hei, belum genap sebulan kau meminta honorku. Sudah pasti sekarang aku belum menerima honorku bulan ini.”

“Jaga bahasamu ketika berbicara denganku, Kim Jonghyun.” Desis namja itu dengan nada rendah.

“Baiklah.” Jonghyun menghembuskan napas pelan. “Bisakah kau menunggu lima hari lagi? Saat itu akan aku serahkan uang yang kau minta.” Jonghyun merapatkan giginya ketika mengucapkan kalimat itu. Ia memperbaiki nada dan bahasa yang digunakan meski ia setengah mati tidak ingin lagi menggunakan sopan santun kepada orang itu.

“Jalhanda uri dongsae-i. Geurae, aku akan menunggu selama lima hari. Aku akan menepati janji jika kau juga menepati janjimu.”

“Aku tidak akan ingkar janji.” Ujar Jonghyun mantap. Meski ia tahu konsekuensi apa yang harus ditanggungnya jika ia mengikuti apa yang dikatakan Hyungnya itu : tidak akan bisa kembali kepada Yunji.

***

 

Elevator, Yonsei University, 08.23 AM

Dua hari yang lalu Yunji terbangun dengan kepala yang sangat pening dan rasanya sangat mengerikan. Gadis itu bersumpah tidak akan menyentuh soju melebihi ambang batasnya lagi. Ia sampai tidak bisa menghadiri kelas hari itu padahal ada tugas yang harus dikumpulkan. Jadi, mau tidak mau hari ini Yunji harus ke kampus hanya untuk mengumpulkan tugas. God! Padahal hari ini ia ingin bersantai di apartemennya. Oh ralat, lebih tepatnya ia tidak ingin ke kampus jika artinya ia harus melihat Jonghyun dan Jessica sedang bermesraan seperti dua hari yang lalu.

Entahlah, firasatnya tetap mengatakan bahwa semua yang Jonghyun lakukan untuknya memang demi kebaikan dirinya. Tapi kenyataannya yang terlihat sekarang justru menyakitinya. Yunji pun tidak mengerti apa yang dirasakannya terhadap Jonghyun setelah kejadian tempo hari. Pernah tidak kalian merasakan sangat tersakiti oleh seseorang tetapi kalian tidak bisa membencinya sama sekali? Yunji merasakan itu. Ia tersakiti oleh Jonghyun hingga membuatnya berpikir untuk benar-benar merelakan berakhirnya hubungan mereka. Tapi di sisi lain ia juga tidak bisa membencinya dan tidak rela melihat dia bersanding dengan gadis lain.

Yunji mencoba mengenyahkan pikiran-pikiran tidak berguna itu dengan mempercepat langkahnya ke arah lift di lobby. Kenapa ruangan dosen itu harus berada di lantai tujuh sih? gerutunya dalam hati. Fortunately, mata kuliah sudah mulai jam delapan tadi jadi sekarang tidak terlalu banyak yang menggunakan lift.

TING

Pintu lift terbuka. Yunji masuk ke dalam lift kemudian menekan tombol dengan angka tujuh. “Semoga tidak ada yang memakai lift lagi selain aku.” Gumamnya. Semakin cepat urusannya selesai akan semakin baik karena memperkecil kemungkinannya berlama-lama di kampus.

TING

Sial. Yunji tahu doanya tidak terkabul ketika ia mendengar bunyi menyebalkan itu tepat di lantai tiga. Gadis itu mengangkat wajahnya untuk melihat siapa yang berani merusak keinginannya untuk menyendiri. Pintu lift terbuka dan seseorang dengan postur yang sangat ia kenal terlihat menggunakan hoodie dan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket biru lorengnya. Wajah namja yang semula tidak berekspresi itu menjadi terkejut dan mematung di depan lift.

Tanpa mengalihkan pandangan dari wajah namja itu, Yunji menekan tombol agar pintu lift tetap terbuka. Ada perdebatan antara hati dan pikiran Jonghyun; haruskah ia masuk ke dalam lift dan menghabiskan waktu yang singkat bersama Yunji atau haruskah ia pergi dan mengacuhkan gadis itu? Nyatanya Jonghyun melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift itu. Hatinya menang.

Suasana canggung tak dapat terelakkan, meski sesungguhnya mereka berdua ingin sekali memeluk erat tubuh satu sama lain dan merasakan aroma tubuh yang sama-sama mereka rindukan.

“Apa kabar…?” Yunji memberanikan diri untuk membuka suara terlebih dahulu. Tapi hanya pertanyaan basa-basi bodoh saja yang mampu keluar dari mulutnya, terlebih suaranya terdengar bergetar dan tidak stabil.

Jonghyun membasahi bibirnya yang mengering. Sejujurnya ia hanya mengulur waktu untuk mengatur nafas dan detak jantungnya yang tidak karuan.

“Baik.” Jonghyun berharap jawaban singkat itu dapat membuat Yunji berhenti bersuara dan mempermudah semuanya. Jonghyun tidak dapat menjamin ia akan mampu mengendalikan diri jika terlalu sering berinteraksi dengan gadis itu. Alih-alih mengacuhkan Yunji, bisa jadi Jonghyun malah menarik gadis itu ke pelukannya dan tidak akan melepaskannya sama sekali. Itu malah akan membuat Yunji dalam keadaan yang berbahaya.

Keduanya tidak saling memandang, hanya menatap ke depan dengan kaku. Yunji memainkan jari tangannya seperti biasa, kebiasaannya ketika sedang dalam keadaan yang sangat gelisah. Sedangkan Jonghyun berusaha mengendalikan kegelisahannya agar tidak memancar keluar dengan membuang pandangannya ke samping sambil menggigiti bibirnya.

“Apa yang kau sembunyikan dariku, Oppa?” Akhirnya Yunji dapat menanyakan apa yang mengganggu pikirannya selama ini. Tentu saja setelah berkali-kali menarik dan membuang napasnya.

Jonghyun memandang Yunji sekilas namun segera mengalihkan pandangannya lagi. Ia harus berhasil berakting tidak menyayangi gadis itu lagi meski hal itu terasa sulit. “Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan dan aku pun tidak peduli. Lebih baik lupakan saja semuanya.”

Yunji menarik lengan jaket Jonghyun, membuat namja itu mau tidak mau bertemu pandang dengan Yunji. “Jangan bohong! Dari awal ini semua tidak masuk akal dan begitu tiba-tiba. Tatap mataku dan bilang bahwa semuanya tidak berarti apa-apa, bahwa kau tidak mempedulikanku jika aku mati sekali pun.” Gadis itu mencengkram jaket Jonghyun dengan erat, ia menatap manik mata Jonghyun yang coklat dengan mata yang berkaca-kaca.

TING

Namja itu hampir hanyut dalam pesona wajah cantik Yunji yang memerah karena tangis yang ditahannya. Dan ia sangat bersyukur karena bunyi itu berhasil membawanya kembali ke logikanya.

Jonghyun tidak bisa mengulang ucapan Yunji. Ia tidak mungkin bisa menerima kenyataan jika gadis itu menghilang dari dunia ini. Sekarang saja ia sudah menderita karena tidak bisa terlalu sering melihat gadis itu dalam jarak pandangnya.

Jonghyun memegang tangan Yunji yang memegang jaketnya kemudian melepaskannya, tidak dengan keras namun tidak juga dengan lembut. “Hiduplah dengan benar setelah ini. Kau akan menemukan orang yang lebih baik dariku. Hubungan kita sudah berakhir dan tidak bisa diperbaiki lagi.” ujarnya sambil menatap mata Yunji. Kemudian Jonghyun pun melangkahkan kakinya keluar dari lift itu.

“Aku percaya.” Gumam Yunji yang mengikuti Jonghyun keluar dari lift. “Aku percaya ucapanmu di kamarmu saat itu.”

..Aku sempat berpikir untuk membenci dirimu, tapi itu sulit. Apalagi ketika aku melihatmu membuka pintu kamarku dengan keras, ditambah dengan wajah yang habis menangis. Detik itulah aku sadar bahwa yang selalu ingin kulihat dan kuharapkan adalah dirimu. Kalau aku diberi kesempatan mencintai seseorang dengan sungguh-sungguh, kenapa aku harus menyingkirkannya?..

Jonghyun menghentikan langkahnya tanpa berbalik, ia enggan menatap Yunji. Ia ingat ucapan seperti apa yang dimaksud gadis itu. Jonghyun memejamkan mata sambil mengepalkan tangan di sisi tubuhnya, ia tetap memunggungi Yunji. “Itu adalah sebuah kesalahan. Jangan mengingat apalagi mempercayai apa pun yang kuucapkan saat itu. Berhenti… Berhentilah mengganggu hidupku.” Jonghyun melanjutkan langkahnya dan meninggalkan Yunji.

Jonghyun merasa setiap inci tubuhnya terasa sakit ketika ia mengucapkan kata-kata kejam itu kepada Yunji, gadis yang paling disayanginya di dunia ini.

***

 

Dining Room, Onew’s House, 09.00 PM

Jonghyun sedang (dipaksa) menikmati late dinnernya ditemani oleh Key dan Taemin. Belakangan ini mereka selalu memaksanya untuk makan malam meski Jonghyun bilang ia sama sekali tidak lapar. Key dan Taemin sampai harus menyaksikan sendiri makanan di piring Jonghyun habis di makan oleh Hyungnya itu. Mereka hanya akan menemani Jonghyun makan dengan lambat dan tidak berselera.

Seperti yang terjadi saat ini. Jonghyun memakan japchae yang dimasak oleh Key, sedangkan Taemin dan Key menungguinya hingga makanannya habis. Mereka sangat cerewet mengenai berat badan Jonghyun yang menurun itu.

Jonghyun sudah menghabiskan setengah piring japcae miliknya ketika ponselnya bergetar. Ia melihat nomor yang tidak dikenal lagi dan entah kenapa ia memiliki firasat yang kurang baik.

“Yeoboseyo?”

“Bisakah.. kau.. memberi uang padaku.. sekarang?” Suara yang didengar Jonghyun terdengar terengah-engah, seperti kehabisan napas setelah berlari jarak jauh.

Rahang Jonghyun mengeras, diliriknya Key dan Taemin di depannya yang sedang asyik membaca komik milik Taemin.

“Tidak.” Ujar Jonghyun pelan, namun tegas.

“Tolong aku Jjong.. Tolong.. Aku butuh barang itu sekarang juga.”

“Tidak.” Jawaban Jonghyun kali ini keras meski tidak sampai berteriak, membuat Key dan Taemin mengalihkan pandangan mereka dari komik yang sedang dibacanya.

“Tidak ada cara lain Jjong.. sshh.. aku.. aku tahu siapa yang.. ssshh.. bisa memberiku uang. Jangan menyesal.. uhuk uhuk.. karena kau tidak membantuku.”

Key dan Taemin menyadari ada yang tidak beres ketika melihat Jonghyun membelalakkan matanya seperti telah mendengar sesuatu yang mengejutkan, ekspresi wajahnya juga berubah marah.

“Hyung, apa yang…” Key belum sempat menyelesaikan kalimatnya dan terhenti begitu saja karena dengan tiba-tiba Jonghyun mendorong mundur kursinya dan berlari menuju garasi.

“HYUNG!” Taemin ikut berdiri dan berlari mengikuti Jonghyun, diikuti oleh Key di belakangnya. Tapi mereka terlambat. Begitu sampai di garasi, Jonghyun sudah pergi mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.

***

 

Yunji’s Apartment, 09.23 PM

Jongmin memaksakan kakinya untuk terus melangkah meski langkahnya itu sudah tidak stabil. Seluruh tubuhnya terasa sakit, kepalanya pusing dan perutnya mual. Ia membutuhkan barang itu segera untuk menyembuhkan rasa sakitnya.

“Hyung, sebenarnya kita mau ke mana? Kenapa kau tidak pergi ke tempat adikmu untuk mengambil uangnya seperti biasa?”

Ah, Jongmin hampir lupa. Ada namja berambut pirang yang selalu mengikutinya ke mana pun dia pergi. Teman setia? Bagi Jongmin, dia hanyalah pengikut tidak berguna yang terlalu banyak tanya.

“Si brengsek itu tidak mau memberikan uangnya padaku. Lihat saja apa yang akan aku lakukan untuk membalasnya. Dia sama sekali tidak pantas bahagia.” Desis Jongmin.

“Apa benar yang Hyung bilang bahwa adikmu yang membunuh kedua orang tuamu? Hmm.. rasanya tidak bisa dipercaya. Dia terlihat baik sekali.”

Jongmin menghentikan langkahnya dan berbalik dengan tiba-tiba, si pirang hampir saja menubruk lelaki yang sedang sakau itu. “Jika aku bilang bahwa ia membunuh kedua orang tuaku, maka itulah yang terjadi. Suara itu yang memberitahuku dan semuanya benar-benar terjadi. Arasseo?!”

Si pirang menganggukkan kepalanya berkali-kali dengan eskpresi ketakutan. Jongmin bisa menjadi sosok yang menakutkan seperti ini hingga ia pun tidak berani bernapas. Adiknya tidak terlihat seperti apa yang dituduhkan Jongmin Hyung. Bahkan dia terlihat seperti anak yang baik-baik. Apa pikiran Hyung terganggu? Banyak pertanyaan yang terlintas di kepala si pirang tapi ia tidak pernah berani mengungkapkannya.

Jongmin menyipitkan matanya ketika ada lampu motor yang menyilaukan terarah kepadanya. Seorang namja turun dari motor dan berjalan cepat ke arahnya sambil membuka helm yang sebelumnya menyembunyikan wajah tampan dengan ekspresi kemarahan yang meluap-luap itu. Kim Jonghyun melemparkan helmnya ke tanaman hias yang tumbuh indah di pekarangan apartemen di mana Yunji tinggal.

Jonghyun menyambar kerah baju Jongmin, membuat namja yang sedang sakau itu terdorong keras dan menghantam dinding luar apartemen. Jongmin tidak mampu menyembunyikan keterkejutannya dengan tindakan adiknya ini. Ia pikir bocah itu akan memohon dan menangis padanya. Tapi nyatanya… unexpected.

“Kau melanggar janjimu dan aku tidak akan tinggal diam.” Desis Jonghyun dengan nada yang mengancam. Jongmin melihat mata adiknya itu… seperti ingin mengulitinya hidup-hidup.

Tapi Jongmin tidak gentar kemudian memamerkan senyum meremehkan. “Kau sudah berani, Jonghyunnie~?”

Jonghyun mengeratkan cengkramannya di kerah Jongmin. “Aku tidak akan membiarkan hidupku diatur olehmu lagi. Sudah cukup dan sekarang waktunya kau untuk sadar.”

“Hei kau! Lepaskan Jongmin Hyung!” Si Pirang menarik tangan Jonghyun dengan kuat hingga cengkramannya terlepas.

BUK.

Si Pirang tersungkur ketika tinju Jonghyun menghantam wajahnya dengan telak. Jonghyun kembali menghampiri kakaknya yang bersandar di dinding yang masih menyunggingkan senyum meremehkan. Bahkan dia tidak mencoba untuk menolong temannya sendiri. Benar-benar tidak punya hati.

Meski Jongmin cukup terkejut tapi ia sama sekali tidak takut setelah melihat apa yang dilakukan Jonghyun tadi. Menurutnya Jonghyun akan kembali patuh padanya. Ia hanya perlu mengeluarkan satu kata ancaman untuk yeoja itu dan semuanya akan beres. Atau… perlukah ia benar-benar melakukan sesuatu pada gadis itu?

“Kau salah langkah Jonghyun-ah. Apa yang kau lakukan sekarang justru menambah keinginanku untuk mengenal yeoja itu. Siapa namanya? Han Yunji? Menarik. Aku pasti – “

BUK!

Jonghyun tidak ingin mendengar racauan kakaknya lebih jauh lagi. Hal berikutnya yang terjadi adalah tubuh Jongmin menghantam dinding dengan amat keras, lalu sebelum ia jatuh bersimpuh, sebuah tangan meninju perut namja itu.

Jongmin meringkuk sambil memegangi perutnya yang kesakitan, ia masih kesulitan bangkit. Jonghyun mengulurkan tangannya ingin meraih kerah Jongmin tapi terhenti di udara karena ada seseorang yang menarik bahunya keras kemudian melayangkan tinju ke wajahnya. Bibirnya kembali sobek dan mengeluarkan darah, padahal luka yang ditimbulkan oleh pukulan Minho di tempat yang sama tempo hari baru saja sembuh.

Jonghyun menarik kerah si Pirang kemudian menghajarnya dengan dua kali pukulan. Ia tidak ingin terlalu banyak melukai orang ini, dia hanya orang luar yang tidak tahu apa-apa. Tapi pukulan Jonghyun ternyata cukup membuat penglihatan si Pirang menjadi kabur. Ia tergeletak begitu saja karena rasa pusing yang menjalari kepalanya.

BUK! BUK!

Begitu Jonghyun berbalik, dua pukulan kembali menghantam wajahnya. Kali ini Jongmin yang melakukannya. Dua lawan satu. Memang tidak pernah mudah berkelahi dengan jumlah yang tidak seimbang seperti ini.

Bukan hanya bibir Jonghyun yang terluka tapi di bagian sekitar tulang pipinya pun timbul luka baru akibat dari tinju Jongmin. Untuk ukuran orang yang sedang sakau, Jongmin masih mampu mengeluarkan tenaga yang kuat. Jonghyun saja sampai terjatuh akibat pukulan Jongmin.

Jongmin menghampiri Jonghyun yang belum berdiri. Rasa peduli terhadap adiknya sudah terkikis habis bahkan hanya sebatas rasa kasihan pun tidak ada. Dan Jonghyun tidak pernah mengetahui dengan pasti apa yang menyebabkan kakaknya berubah 180 derajat setelah kematian orang tua mereka. Ia juga tidak pernah mengerti kenapa Jongmin menuduhnya membunuh kedua orang tuanya, sesuatu yang sangat tidak masuk akal bagi Jonghyun. Pasalnya, bukan hanya Jongmin saja yang merasa kehilangan tapi Jonghyun juga. Mereka bedua sama-sama merasa tersesat dan tidak punya pegangan saat itu.

Jonghyun tidak kehabisan akal meski ia masih belum bangkit dan berada dalam posisi yang tidak menguntungkan. Ia menyandung kaki Jongmin sehingga namja itu terjatuh dengan keras. Jonghyun segera bangkit dan mengapit tubuh Jongmin dengan kedua kakinya membuat Jonghyun dalam posisi menduduki tubuh. Jonghyun sudah mengambil ancang-ancang untuk memukul kakaknya ketika ia lihat tubuh Jongmin gemetar, matanya berair dan mengeluarkan banyak keringat.

Sakau.

Jonghyun tahu sekarang Jongmin sudah berada di tingkat terparah sakaunya. Tapi Jonghyun sama sekali tidak ada niat untuk menolong kakaknya dengan memberikan uang untuk membeli barang haram itu. Ia pun bangkit kemudian menghampiri si Pirang.

“Hei, bisa kau bawa dia ke rumah sakit?” Jonghyun menatap si Pirang yang sedang balik menatapnya dengan ekspresi cemas.

“Aku tidak punya uang.” Suara si Pirang terdengar bergetar.

“Aku akan memberimu uang tapi kau harus membawanya ke rumah sakit. Jangan belikan dia barang haram itu. Aku akan meminta security apartemen ini untuk menemani dan mengawasimu. Arasseo?”

Setelah melihat anggukan samar dari si Pirang, Jonghyun segera berlari ke tempat security dan meminta bantuan. Memang tempat mereka berkelahi terletak agak jauh dari pos jaga sehingga sampai ketika Jonghyun meminta bantuan, tidak ada satu pun security yang menyadari telah terjadi sesuatu. Tidak lupa Jonghyun memberikan sejumlah uang untuk biaya pengobatan kepada security itu.

Jonghyun meninggalkan lokasi kejadian dan bergegas masuk ke dalam apartemen untuk menemui Yunji. Ia sudah tidak sabar untuk menghambur ke gadis kesayangannya itu dan memeluknya erat.

Jonghyun menekan tombol di interkom dan terdengar suara bel yang mengalun. Beberapa lama ia menunggu tetapi ia tidak mendengar jawaban. Jonghyun kembali menekan tombol itu, kali ini dua kali dan lebih panjang.

“Nuguseyo?” Terdengar suara serak seperti baru saja bangun tidur. Meski begitu, suara itu tetap terdengar indah di indera pendengaran Jonghyun.

Jonghyun memang tidak berdiri di depan interkom sehingga Yunji tidak bisa melihat siapa yang datang ke apartemennya malam-malam begini. Oke, belum terlalu larut memang tapi ia sudah hampir tertidur.

It’s me, Yunji-ah.”

Lagi-lagi hening dan Jonghyun tidak mendengar jawaban apa pun untuk beberapa waktu yang lama.

“Nu-nugu?” Suara Yunji terdengar bergetar dan ada rasa tidak percaya yang terselip di nada bicara yang terdengar. Yunji kembali bertanya bukan karena benar-benar tidak mengetahui siapa yang datang. Dia kenal betul suara yang baru didengarnya, namun ia hanya ingin memastikan apakah yang datang benar-benar namja itu atau jangan-jangan ia hanya berhalusinasi saja.

“Jonghyun.”

CKLEK

Sedetik setelah Jonghyun melisankan namanya, pintu apartemen Yunji terbuka begitu cepat, begitu tiba-tiba dan memperlihatkan siapa yang ada dibalik benda persegi yang terbuat dari kayu itu.

Yunji tidak peduli dengan rambutnya yang sedikit berantakan dan wajahnya yang terlihat sedikit kusut karena habis bangun tidur. Dan kewarasan Jonghyun pun perlu dipertanyakan karena dalam kondisi seperti ini pun Yunji tetap terlihat menawan di matanya.­

Mata indah gadis itu terlihat berkaca-kaca semenjak ia membuka pintu apartemennya, mungkin sudah seperti itu adanya ketika ia mendengar suara Jonghyun pertama kali. Tapi tak lama kemudian alisnya berkerut dan air mukanya berangsur panik ketika memperhatikan wajah namja yang sedang tersenyum hangat kepadanya.

“Oppa, apa yang terjadi dengan wajahmu? Bibirmu berdarah!” Tanpa sadar Yunji menghambur ke arah Jonghyun, ingin melihat lebih dekat kondisi mantan kekasihnya itu. Ia bahkan melupakan persoalan yang sedang mereka hadapi.

Jonghyun menyukainya. Sangat menyukai ketika Yunji mengkhawatirkan keadaan dirinya. Ia merasakan kehangatan yang berbeda, suatu rasa kasih sayang yang tulus. Bukan berarti sahabat-sahabatnya tidak pernah memberikan kehangatan dan kasih sayang kepadanya, hanya saja hal itu akan terasa berbeda rasanya jika diberikan oleh seorang gadis terlebih gadis yang sangat disayanginya.

Jonghyun memperhatikan mata Yunji yang memancarkan kekhawatiran yang besar. Mata coklat indah itu menelusuri luka di wajahnya dan bibir mungilnya berkali-kali menggumamkan kata‘Eotteokhae?’.

Demi Tuhan, Jonghyun tidak sanggup lagi menahan kerinduannya yang meluap-luap. Ia pun menarik tubuh gadis itu dan mengikis jarak diantara mereka, membawa tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. Jonghyun menenggelamkan wajahnya pada ruang diantara pundak dan leher gadis itu, menghirup wangi tubuh yang nyatanya telah menjadi candu untuknya.

Yunji mematung mendapatkan perlakukan seperti itu dari Jonghyun, bahkan ia masih ragu untuk membalas pelukan itu meski ia sangat ingin melakukannya. Ia membiarkan tangannya terhenti di udara. Aroma tubuh Jonghyun menyeruak masuk ke dalam indera penciumannya dan membuat kehangatan menelusup ke dalam celah hatinya. Sesungguhnya ia masih terkejut dengan kedatangan namja itu ke apartemennya. Bukankah dia bilang ingin berpisah dengannya dan melupakan semuanya? Lalu kenapa sekarang ia datang dalam kondisi cukup babak belur dan dengan tiba-tiba menariknya ke dalam pelukan hangat namja itu?

“Mianhae.” Bisik Jonghyun lirih di telinga Yunji.

Yunji tersentak ketika ia merasakan tubuh Jonghyun bergetar pelan. Menangiskah? Oh tidak, ia sudah setengah mati menahan air mata yang menggenang di pelupuk matanya tapi sekarang ia tidak mampu menahannya lagi ketika ia tahu namja itu menangis. Perlahan tapi pasti, Yunji mengangkat tangannya kemudian membalas pelukan Jonghyun. Yunji mengeratkan pelukannya sambil meremas pakaian namja itu.

“Mianhae.” Lanjut Jonghyun lagi.

Mereka berdua menangis. Bukan tangis kesedihan tapi lebih kepada tangis karena perasaan lega. Mereka tidak perlu merasa tersakiti lagi dan tidak perlu berpura-pura mereka akan baik-baik saja ketika mereka berpisah. Karena pada kenyataannya mereka tidak ingin berpisah lagi.

Jonghyun melepaskan pelukannya meski tidak benar-benar melepaskannya karena tangannya masih melingkar longgar di pinggang gadis itu. Jonghyun menangkap manik mata gadisnya yang bergerak bingung. Ia pun merengkuh wajah Yunji dengan satu tangan kemudian mengelusnya perlahan. Yunji merasakan kasih sayang dari sentuhan ringan itu dan membuat hatinya yang semula masih bimbang langsung yakin dan membaik begitu saja.

Yunji melingkarkan tangannya di leher Jonghyun tanpa aba-aba kemudian mengecup bibir namja itu dengan lembut. Kedua mata Jonghyun membulat karena dia pikir harusnya dialah yang melakukannya, namun Yunji sudah mendahului begitu saja. Jonghyun memeluk tubuh Yunji tanpa ragu dan membalas ciuman lembut gadis itu dengan ciuman yang sarat emosi, tumpahan dari semua kerinduan yang menyakitkan dadanya.

Tanpa menghentikan ciuman mereka, Jonghyun melangkahkan kakinya menuju apartemen Yunji, membuat gadis itu melangkah mundur dan mendorong pintu yang memang tidak tertutup dengan punggungnya. Begitu mereka berada di dalam, Jonghyun menutup pintu dengan satu gerakan dari kakinya.­

TBC

13 thoughts on “[FREELANCE] Secret (Part 11)

  1. Waahhh…finaly kluar jga ni ff. Udah ku tunggu”.hahaha.
    Yippiy jongyunji’y udah balikan lge.senang aku.hahahahaha.
    Ok lanjut terus thor. Daebak dah…

  2. Maaf ya bru mampir skarang Lg sbk bgt soal’y.
    Alhamdulilah ya sesuatu akhirnya Jong c0meback jg.
    Jiah next part yadong nich keke~ *readers yadong*

  3. akhirnyaaa !!
    gilaa makin tegang aja ..
    next chapter pasti udah gitu yahh ..
    ahahhaahha ..
    daebak dehh ..
    ditunggu yah next chapternya ..

  4. @Choi Yoonji : iyaa makasih udah comment🙂

    @Nam Hyun Young Eonni: hmmm gimana ya Eon? maunya gimana? *teasing* kekeke~ makasih udah sempetin baca ya Eon🙂

    @Michella: “udah gitu” gimana? haha. thanks for your comment🙂

  5. ahh.. bru sempat baca..
    wahh.. wahh.. wahh.. makin seru aja nih ceritax..
    aduh jgn maen cium2 dlu donk, obatin jjong oppa dlu napa.. *jealous mode on
    next partnya ini pasti agak2 yadong deh… hihihi..🙂

    ditunggu kelnjutanx saeng…😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s