[FREELANCE] Love at Bus Stop

Title           : Love at Bus Stop

Author          : Kim Nara a.k.a Nandits

Main Cast       : Choi Minho, Park Ha Neul (OC)

Length          : Oneshot

Genre           : Romance

Rating          : PG-15

Thanks To       : Neni as my Beta-Reader

A/N                  : Annyeoooooong.. I’m back with my first Oneshot! Gatau deh ini bener-bener epic fail! Ceritanya ngalor ngidul ga jelas banget. Aku tuh ga bisa banget bikin oneshot😦 Ini sebagai selingan juga sih sambil nunggu Secret Part 11, belum ku edit lagi huhu. Btw sebenernya aku dapet ide pertama kali karena inget VCR Bus Stopnya SHINee pas SWC. Tapi entah kenapa makin ke sini ceritanya makin beda haha. Aku mau ngucapin makasih banget buat pemberi inspirasi aku yaitu Yuli Eonni, ada juga beberapa adegan yang terinspirasi setelah baca FFnya dia. Tapi tenang aja, aku ubah seperlunya kok. Nah buat para reader, kritik dan saran yang membangun diterima banget lho🙂

 

Love at Bus Stop

Kim Nara©2012

“OH!” Namja yang baru saja memasang headset di telinganya terkejut ketika dilihatnya sebuah bus sudah tiba di halte yang sedang ditujunya. Ia melihat jam yang melingkar di tangan kanannya, jarum jam sudah menunjuk di angka delapan dan ia harus cepat jika tidak ingin terlambat di hari pertamanya memasuki semester lima masa kuliahnya. Dalam hati ia masih menyesali kenapa ia tidak berhati-hati ketika mengendarai motor kesayangannya sehingga harus mengalami kecelakaan tiga hari yang lalu. Motornya sudah menginap di bengkel selama tiga hari dan masih belum selesai diperbaiki.

Kemudian ia mulai berlari sambil melambai-lambaikan tangannya, mengabaikan rasa sakit pada luka di lutut kanannya.

“AHJUSSI GIDARYEO!!”

“AHJUSSI GIDARYEO!!”

Eh? Namja itu terkejut ketika ada suara feminim yang terdengar dari belakang tubuhnya yang terdengar bersamaan dengan suara maskulinnya. Ia yang sudah berdiri di depan pintu bis pun secara otomatis menyingkir dan memberikan jalan untuk seseorang yang ia yakin adalah seorang yeoja.

Ia nyaris tidak menemukan kata-kata yang pas untuk mendeskripsikan betapa cantiknya yeoja yang kini berjalan melewatinya sambil tersenyum sopan. “Kamsahamnida” Begitu katanya. Dan ia hanya mampu mengangguk masih dengan tatapan yang tidak lepas dari gadis itu, dia sangat terpana. Gadis itu memakai summer dress selutut berwarna biru lembut dengan sentuhan rimpel dan model yang sederhana membalut pas tubuh rampingnya, membentuk lekuk-lekuk tubuhnya di tempat yang tepat. Rambut panjang ikalnya dijalin longgar di bagian samping kepalanya, memamerkan lehernya yang putih dan jenjang. Sesaat namja itu melupakan bagaimana caranya menarik napas dengan benar.

“Cheogiyo, kau jadi naik atau tidak?” Ia tersadar dari lamunannya ketika supir bis menegurnya karena ia masih terdiam dan tidak kunjung masuk ke dalam bis.

“Ah N-Ne..”

Choi Minho. Seorang namja dengan tubuh tinggi, atletis tapi cenderung langsing. Terlihat begitu sporty dan fresh dengan gaya berpakaiannya yang kasual. Standar namja kuliahan di Seoul. Yang tidak biasa adalah wajahnya yang tampan dengan hidung mancung dan mata yang besar, tipe yang banyak disukai perempuan Korea. Tidak heran jika banyak yeoja yang melirik kagum ke arahnya.

Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru bis yang padat. Hanya ada satu kursi penumpang yang tersisa dan kursi itu berada di sebelah yeoja tadi. Hati kecil Minho bersorak tapi ia tidak membiarkan kesenangannya itu memancar keluar, ia cukup pintar mengontrol ekspresi wajahnya.

Ketika Minho duduk di kursi penumpang yang tersisa itu, ia bertemu pandang dengan gadis yang sempat membuatnya terpana. Mereka saling melemparkan senyum. Jantung Minho hampir melompat keluar melihat senyumnya yang sangat manis itu. Mata indah berwarna coklat muda itu pun tidak luput dari penglihatan Minho.

Gadis itu melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Tak lama kemudian bola matanya membesar, tangan lentiknya menutup mulutnya yang sedikit terbuka karena terkejut. “OMO, lututmu kenapa?”

“Hm?” Minho memandang gadis itu dengan bingung. Ia mengikuti arah pandang gadis itu dan ia melihat sesuatu yang membasahi celana panjangnya, sesuatu berwarna merah.

Aish, luka jahitnya terbuka, rutuknya dalam hati. Ia heran sendiri kenapa ia tidak menyadarinya? Bahkan rasa sakitnya pun baru terasa setelah gadis itu memberitahunya.

Minho meringis kecil merasakan lukanya yang berdenyut-denyut. Gadis itu menyadari Minho yang sedang kesakitan. Tiba-tiba ia berdiri kemudian berkata kepada Minho.

“Ayo kita ke rumah sakit.” Katanya sambil menunjuk bangunan putih yang tidak jauh dari halte bis.

Minho memiringkan kepalanya, bingung dengan sikap gadis itu. Ia melemparkan tatapan bertanya melalui mata keroronya kepada gadis yang saat ini malah tersenyum ke arahnya sehingga membuatnya pusing karena terlalu menyukai senyum itu.

Tidak sabar dengan Minho yang belum beranjak dari tempat duduknya, ia meraih tangan namja itu kemudian menariknya pelan, menyuruhnya untuk segera berdiri. Seperti dihipnotis, Minho pun berdiri dan segera turun dari bis. Ia tidak mampu berpikir, tidak di saat kulit halus gadis itu bersentuhan dengan kulitnya.

Dengan keadaan yang seperti itu, Minho tidak bisa berjalan dengan benar. Namja tinggi itu terpincang-pincang sambil sesekali meringis merasakan perih di lututnya. Tiba-tiba tangan halus yang tadi memegang pergelangan tangannya beralih melingkar di lengannya, terlihat seperti memeluk lengan kokoh Minho. Tadinya gadis itu ingin melingkarkan tangan Minho di lehernya tapi namja itu tinggi sekali! Pasti akan kesulitan berjalan kalau seperti itu. Tubuh gadis itu kan hanya setinggi dada Minho.

Minho mengamati wajah gadis yang sedang memapahnya itu. Dari jarak yang sedekat ini, ia bisa merasakan aroma parfumnya yang sangat lembut. Meski ia tidak begitu mengerti tentang parfum wanita, samar-samar dia dapat merasakan wangi bunga mawar yang menggelitik rongga hidungnya.

Merasa diperhatikan, gadis itu pun menatap namja di sampingnya. Tapi Minho langsung membuang mukanya dan kembali menatap lurus ke depan. Wajahnya datar sekali, tanpa ekspresi. Setidaknya itulah yang terlihat dari luar.

“Hmm..” Sepertinya gadis itu ingin mengatakan sesuatu tapi terdengar sedikit ragu di telinga Minho. Ia pun memberanikan diri menatap gadis yang sedang menatapnya juga.

“Park Ha Neul imnida.” Katanya sambil mengulurkan satu tangannya yang bebas.

“Choi Minho imnida.” Kali ini Minho tidak bisa menahan senyum yang mengembang begitu saja di bibirnya dan menyambut uluran tangan gadis itu dengan mantap.

***

 

Minho tidak mengerti dengan dirinya yang sekarang tengah berdiri di halte bis. Motornya telah selesai diperbaiki sejak seminggu yang lalu tapi sejak seminggu yang lalu pula, ia masih saja menggunakan bis sebagai alat transportasinya untuk ke kampus.

Meski banyak yeoja yang jelas-jelas mengejarnya, seorang Choi Minho bukanlah tipe namja yang mudah jatuh cinta. Seumur hidupnya selama 20 tahun ini, ia belum pernah benar-benar tertarik dengan seorang yeoja. Minho punya banyak sekali teman dan dia senang berada di antara teman-temannya, namun pada dasarnya ia lebih menikmati kesendiriannya. Ani, bukan menikmati, lebih tepatnya ia merasa lebih nyaman.

Ia bukan seseorang yang vocal tapi ia lebih banyak mendengar. Ia mempunyai prinsip “listening is more than not talking”. Teman-temannya sering mengolok-oloknya karena pembawaannya yang terkadang terlalu tenang, terlalu diam. Tapi justru hal itulah yang membuat yeoja di sekitarnya tertarik. Minho terlihat misterius, begitu pendapat beberapa yeoja.

Ingin bertemu dengan Park Ha Neul, itulah alasan utamanya terus menggunakan bis sebagai alat transportasinya untuk pergi ke kampus. Dia selalu berharap bisa bertemu lagi dengan yeoja manis itu. Otaknya sudah berhasil merekam setiap ekspresi gadis itu tatkala mereka menghabiskan waktu singkat yang berharga saat di bis dan berlanjut di rumah sakit.

Tapi Minho hanya mampu berharap. Ia belum bertemu Ha Neul sekali pun sejak tujuh hari yang lalu. Ia sendiri hampir frustasi, tapi entah kenapa kakinya terus membawanya ke halte bis ini. Tempat pertama kali detak jantung seorang Choi Minho bekerja terlalu cepat hanya karena senyum seorang gadis. Dan mata coklat muda itu, membuat ia tidak mampu berlama-lama menatap langsung karena takut tenggelam di dalamnya.

Minho tidak pernah percaya dengan sesuatu yang bernama cinta pada padangan pertama. Tapi ada yang aneh dengan gadis itu dan ia tidak tahu apa. Sesuatu itu membuat Minho ingin mengenalnya lebih jauh dan ingin membuat gadis itu tetap berada disisinya. Ada sesuatu yang membuat Minho merasa terikat ketika melihat gadis itu.

Dan di tempat ini pula pertama kalinya seorang Choi Minho yang tidak mengenal kata menyerah, hampir menanggalkan gelar kompetitifnya karena tak kunjung bertemu dengan Park Ha Neul. Padahal ia sudah melakukan apa pun untuk bisa menemukan gadis itu. Bahkan ia bertanya kepada orang-orang sekitar. Ia menunduk dan bahunya merosot karena terlintas di benaknya bahwa ini sudah saatnya ia menyerah.

“Choi Minho-ssi?”

Minho terbelalak dengan wajah yang masih menunduk. Oh tidak! Bahkan sekarang ia sudah mulai berhalusinasi mendengar suara bening dan lembut yeoja itu.

“Hmm.. Kau Choi Minho-ssi kan? Maja?”

Minho mengangkat wajahnya dan terkejut. Ia begitu tidak percaya, seperti baru merasakan ghostly wind yang melintasi dirinya. Namun, sungguh semua itu real. Se-real rintikan hujan yang merecah di hati keringnya. Menyejukkan, namun juga mengejutkan. Dan dalam rentang waktu singkat ini, memori manis tujuh hari yang lalu menguap kembali, membanjiri pikirannya begitu saja.

“Akhirnya aku menemukanmu.” Tanpa sadar kalimat itu meluncur begitu saja dari mulut Minho bersamaan dengan senyuman lembut yang melengkung sempurna di bibirnya.

***

 

Minho dan Ha Neul berjalan beriringan setelah turun dari bis. Tidak seorang pun dari mereka yang mempercepat langkahnya seolah mereka memang ingin berjalan dengan pelan agar bisa memperpanjang kebersamaan mereka.

Sudah sebulan mereka selalu naik dan turun bus bersama. Entah kenapa, salah satu dari mereka akan menunggu jika yang lainnya belum pulang. Kebiasaan mereka itu sudah menjadi perjanjian yang tidak tertulis dan keduanya memang selalu memenuhinya.

Dan selalu begitu. Minho akan mengantarkan Ha Neul pulang dengan berjalan kaki sampai di depan toko bunganya. Ah iya, Eommanya Ha Neul membuka toko bunga yang letaknya tidak jauh dari rumahnya yang berbeda hanya satu blok saja.

Memang awalnya Ha Neul menolak dengan halus ketika Minho menawarkan diri untuk mengantarnya pulang. Tetapi ada suatu kejadian yang membuat Minho berjanji pada dirinya sendiri untuk selalu mengantar gadis itu pulang dengan selamat. Minho merasakan jantungnya mencelos ketika melihat Ha Neul hampir saja diganggu beberapa orang yang terlihat sedang mabuk. Dalam sekejap mata ia sudah menjadi benteng dan berdiri di depan Ha Neul, membuat gadis itu sedikit merasa nyaman dengan bersembunyi di balik punggung namja tinggi itu. Dan sejak saat itu Minho tidak pernah sekalipun membiarkan Ha Neul pulang seorang diri.

Belum. Minho belum mengambil langkah apa pun untuk menyatakan perasaannya pada Ha Neul. Dia bukan tipe yang terburu-buru. Menurutnya waktu satu bulan bukanlah waktu yang cukup untuk mengenal seseorang, setidaknya ia pun harus memberi waktu pada Ha Neul untuk merasa nyaman dan yakin dengan seorang Choi Minho.

Mereka berdua masih berjalan dengan langkah lambat-lambat. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara gaduh yang berasal dari tikungan jalan. Segerombolan orang tengah berlari ke arah mereka berdiri sekarang untuk mengejar seseorang yang diteriaki pencuri. Dengan sigap Minho menarik Ha Neul merapat ke tembok supaya tidak tertabrak orang-orang itu kemudian ia sengaja membentangkan kakinya untuk membuat pencuri itu terjatuh.

Sedetik kemudian ada banyaaaak sekali orang yang berlari ke arah pencuri yang telah jatuh itu, Minho sampai harus merapatkan tubuhnya ke pinggir. Tapi saat menyadari posisi Minho dan Ha Neul saat ini, kedua orang itu membeku di tempat. Ha Neul bersandar di tembok, tangan Minho terletak di tembok tidak jauh dari pinggang yeoja itu, sedangkan tangan yang lain di atas kepalanya. Setiap orang yang melihatnya mungkin akan mengira mereka sedang bercumbu.

Ha Neul menatap dada Minho yang hanya berjarak sepuluh senti dari matanya, lalu mendongak perlahan. Dapat dilihatnya dengan jelas garis rahang Minho yang tegas, membuatnya tersihir selama beberapa detik. Ada sesuatu yang berdetak tak karuan di dada Ha Neul. Dan sebelum gadis itu dapat menguasai suasana hatinya, tiba-tiba pandangan mereka bertemu. Lalu ia tersadar ketika Minho telah menjauhkan tubuhnya. Namja itu mengusap tengkuknya pelan, kemudian melihat wajah Ha Neul yang terlihat memerah. “Hmm gwaenchanha?”

Ha Neul mengangguk pelan sambil menunduk. Ia selalu melihat mata namja itu ketika berbicara tetapi kejadian tadi sungguh merusak akal sehatnya. Ha Neul sampai tidak tahu harus bersikap seperti apa hingga ia hanya mampu menunduk dengan harapan dapat menyembunyikan warna wajahnya.

Tak ada bedanya dengan keadaan jantung Ha Neul saat ini, jantung Minho pun hampir saja memberontak keluar dari rongga dadanya ketika ia berdiri sedekat itu dengan Ha Neul. Aroma mawar yang ia suka dari tubuh yeoja itu membuatnya merasa pusing sesaat tapi entah kenapa ada rasa nyaman yang menelusup ke celah hatinya.

***

 

Ha Neul tidak bisa menjelaskan dengan gamblang seperti apa hubungannya dengan Choi Minho. Sesungguhnya dia pun tidak mengerti. Pada awalnya Choi Minho hanyalah orang asing yang tiba-tiba masuk di dalam kehidupannya. Namun setelah sebulan mengenal namja kalem itu, ia merasakan kenyamanan yang belum pernah ia rasakan terhadap seorang namja kecuali Appa dan Oppa kandungnya.

Ha Neul bukan tipe orang yang dengan mudahnya dapat berkenalan dengan orang asing di bis. Sulit untuknya berinteraksi dengan orang baru. Bukan karena dia pemalu, hanya dia tidak tahu harus berbicara dan bersikap seperti apa. Tapi secara mengejutkan dia berhasil berkenalan dengan seorang namja tampan yang terluka di perjalanannya menuju kampus, di dalam sebuah bis!

Choi Minho adalah namja yang pertama kali membuat jantung seorang Park Ha Neul berdesir. Tatapan singkat yang diberikan namja itu kepadanya ketika membiarkan gadis itu masuk ke bis lebih dulu sangatlah jujur. Ha Neul menatap Minho karena namja itu jelas-jelas sedang menatapnya dan menelusuri tiap jengkal wajah Ha Neul. Mata itu tidak terlupakan. Ha Neul berpikir bahwa ia menyukai mata itu, menyukai cara namja itu menatapnya.

Dan ia tidak pernah merasakan keraguan apa pun ketika bersama Minho. Dia selalu merasa semua akan baik-baik saja, dia merasa aman dan terlindungi. Padahal perasaan seperti itu hanya pernah dirasakan ketika ia bersama Appa atau Oppanya. Ha Neul dapat merasakan dengan jelas betapa Minho selalu menjaganya, tatapannya selalu memastikan tidak ada satu benda pun yang dapat melukai tubuh Ha Neul. Dan itu semua nyata, rasa aman dan terlindungi itu memang nyata.

Ketika bis yang mereka tumpangi sedikit padat dan mereka tidak mendapatkan tempat duduk, Minho akan membimbing Ha Neul untuk merapat ke tiang atau sisi bis kemudian namja itu akan membentangkan kedua tangannya agar Ha Neul tidak terhimpit oleh penumpang lainnya. Ketika turun dari bis, Minho selalu mengingatkan gadis itu untuk memperhatikan langkahnya agar tidak terjatuh. Bahkan Minho selalu mengingatkan untuk melihat kanan dan kiri ketika menyeberang, padahal hal itu sering sekali dikatakan oleh ibu guru ketika masih TK atau SD sehingga Ha Neul seharusnya sudah sangat mengingatnya tanpa harus diingatkan kembali.

Suatu ketika Ha Neul pernah bertindak ceroboh dan saat itu ia melihat betapa marahnya Minho. Namja itu marah karena mengkhawatirkannya.

“Astaga Park Ha Neul! Apakah kau tidak lihat lampunya sudah hijau? Bagaimana kalau kau tertabrak?” seru Minho sambil menarik tangan gadis itu yang bermaksud untuk menyeberang. Ha Neul sedikit kehilangan keseimbangannya karena tindakan Minho yang tiba-tiba sehingga namja itu harus merangkulnya untuk menyeimbangkan tubuh Ha Neul lagi.

Ha Neul mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengembalikan kesadarannya yang hampir hilang, tapi tidak berhasil. Tidak di saat tangan pria itu masih melingkar di tubuhnya. Ada pikiran yang tiba-tiba melintas di benaknya.

Dekapan itu terasa hangat dan Ha Neul merasa nyaman di dalamnya.

***

Minho turun terlebih dulu dari bis kemudian membantu Ha Neul dengan memegang tangan gadis itu.

Skinship. Hubungan mereka sudah berkembang sampai melakukan skinship yang sederhana. Seperti bergandengan tangan ataupun merangkul. Tapi hal itu dilakukan hanya di waktu tertentu saja. Minho akan menggandeng tangan Ha Neul ketika menyeberang jalan, begitu sudah sampai di seberang Minho akan melepaskan gandengannya. Tiba-tiba Ha Neul juga akan merasakan rangkulan protektif Minho ketika bis yang padat tiba-tiba berguncang.

Hanya sebatas itu. Tapi sensasi yang dirasakan Ha Neul tidak pernah bisa ia lupakan. Sampai saat ini pun fungsi otaknya masih sering macet dan jantungnya malah bekerja terlalu berlebihan dalam memompa darah sehingga detaknya terasa begitu keras.

“Apa kau lapar?” Ha Neul tersadar dari lamunannya ketika ada suara namja yang akhir-akhir ini menjadi candu bagi indera pendengarannya.

“Iya. Apa kau lapar juga?”

“Sangat.” ujar Minho mantap sambil mengangguk sekali. Namja itu menggandeng tangan Ha Neul lagi, membuat gadis yang masih belum mampu mengontrol tubuhnya ketika kulitnya bersentuhan dengan kulit Minho itu terkesiap pelan.

Mereka berjalan dalam diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tiba-tiba langkah Ha Neul melambat, ia melihat ke bangunan di seberang jalan.

Minho ikut berhenti ketika ia merasakan tarikan pelan di tangannya, seperti ada yang menahannya untuk berjalan lebih jauh. Dilihatnya Ha Neul yang berada sedikit di belakangnya, sedang menatap ke arah seberang jalan. Minho mengikuti arah pandang Ha Neul kemudian tersenyum mengerti.

“Kau mau?”

“Bolehkah?” Mata coklat yang sangat disukai Minho itu terlihat berbinar. Namja itu hampir saja menarik Ha Neul ke dalam pelukannya karena terlalu gemas. Fortunately, otaknya masih menjalankan fungsinya dengan baik untuk mencegahnya melakukan hal itu di tempat umum. Ya, Minho tidak terlalu suka memperlihatkan kontak fisik yang terlalu berlebihan di depan umum.

“Geurom.” Minho pun menarik Ha Neul ke tempat penyeberangan terdekat, berpindah ke sisi kanan gadis itu karena mobil datang dari arah kanan. Ketika lampu tanda menyeberang telah hijau, Minho menggandeng tangan Ha Neul erat.

Mereka masuk ke bangunan yang tadi ditunjuk oleh Ha Neul yang ternyata adalah sebuah restaurant Italy. Mereka memilih duduk di sudut restaurant yang tidak terlalu ramai dan terlihat tenang. Minho memesan pasta dan Ha Neul memesan spaghetti carbonara. Ketika mereka sedang menunggu pesanan, Minho melihat ada penjual bunga keliling yang kebetulan lewat di depan restaurant itu. Entah dorongan dari mana, Minho segera keluar dan menghampirinya.

Tanpa banyak tanya dan menawar lagi, Minho membeli setangkai bunga lili putih. Ia masuk kembali ke dalam restaurant dan langsung memberikan bunga itu kepada Ha Neul. Rasa terkejut gadis itu belum sembuh akibat tindakan tiba-tiba Minho yang berlari keluar restaurant dan sekarang ia harus terkejut lagi dengan tindakan manis Minho yang tiba-tiba memberikannya setangkai bunga lili putih yang indah.

Ha Neul tidak bosan-bosannya memainkan bunga lili di tangannya itu. Kebahagiaan murni yang terpancar di wajahnya membuat mood Minho meningkat hingga level tertinggi. Minho menatapi Ha Neul lama, menyelami pesona gadis itu yang akhir-akhir ini membuat Minho susah tidur.

Aktivitas Minho memandangi Ha Neul harus berhenti sebentar tatkala pelayan restaurant membawakan pesanan mereka yang terlihat sangat lezat, membuat kedua orang itu secara tidak sadar menelan ludahnya sendiri. Mereka pun segera melahap hidangan yang tersaji di meja mereka.

Minho mengamati table manner Ha Neul dan ia merasa sangat senang. Ha Neul makan dengan suapan yang kecil dan anggun, tapi tetap menghabiskan hidangannya. Minho pernah makan siang bersama teman yeojanya di kampus dan ia sering merasa gemas karena mereka tidak pernah menghabiskan makanannya hanya karena mempedulikan manner. Padahal saat itu mereka hanya makan di McDonald’s. Dan baru kali ini Minho puas mentraktir seorang yeoja karena makannya benar-benar dihabiskan.

Selesai makan, pelayan membawakan desert yang mereka pesan. Sebenarnya desert itu es krim yang dipilih sendiri oleh Ha Neul sendiri. Satu hal lagi yang Minho tahu tentang Ha Neul, ternyata gadis itu suka sekali makanan Italy dan juga es krim.

Minho tertawa kecil ketika melihat es krim itu mengotori sudut bibir Ha Neul. Gadis itu memiringkan kepala dengan mata bertanya.

“Ada es krim di sudut bibirmu.” Ujar Minho sambil menyentuh bibirnya sendiri untuk menunjukkan bagian mana yang harus dibersihkan. Ha Neul pun menyentuh bibirnya untuk membersihkan es krim tapi dia salah tempat. Minho kembali memberikan intruksi kepada Ha Neul. “Bukan, bukan, agak ke kiri, ani… sedikit lagi.”

Lelah karena Ha Neul tak kunjung menemukan tempat yang tepat, Minho pun langsung memajukan badannya dan mengulurkan tangannya untuk membersihkan sudut bibir gadis itu, langsung dengan jarinya sendiri. Ha Neul membulatkan matanya, terpaku melihat wajah Minho yang hanya beberapa senti dari wajahnya sendiri. Ada keinginan ganjil yang melintas di benaknya, ia berharap Minho memajukan wajahnya dan menciumnya.

Dan keinginannya memang terkabul karena sedetik kemudian namja itu melakukannya.

Ha Neul mengerjapkan matanya sesaat dan matanya langsung terbelalak kaget mendapati kenyataan bibir Minho sudah menyentuh bibirnya, persis seperti yang diinginkannya. Bukan ciuman yang terlalu serius tapi ciuman itu terasa ringan. Minho hanya menyentuhkan bibirnya saja ke bibir Ha Neul di mana namja itu menyukai sensasi menenangkan sekaligus mendebarkan saat bibir mereka bertemu. Mengingat itu adalah ciuman pertama mereka.

Minho menjauhkan tubuhnya kemudian menatap Ha Neul dengan senyum lembut yang melengkung di wajahnya yang sempurna itu. Ha Neul dapat merasakan wajahnya memanas, pasti sudah muncul semburat merah yang aneh di pipinya. Gadis itu menunduk malu.

“Park Ha Neul.” Gadis itu mengangkat wajahnya ketika Minho melisankan namanya dengan lembut. “Bagaimana kalau aku menjadi namjachingumu? Bolehkah?”

Alih-alih menjawab, Ha Neul tersenyum manis sekali kemudian mengecup pipi Minho. “Itu jawabanku.”

 

END

 

#Pic 1 found in tumblr : sweethamster

Pic 2 credit as tagged

13 thoughts on “[FREELANCE] Love at Bus Stop

    • seru kah?? wah makasih ya udah dibaca. sempet ga pede sih karena aku ga masukin konflik di dalemnya.
      gomawo untuk commentnya juga🙂

  1. Wah suka banget sama pendiskripsian dan pemilihan kata katanya. Ringan n Enak dibaca…. Udh kyk bhs novel novel haha😀

    ah, suka banget deh klo ff tentang bus kyk gini, abis kesan rmtisnya khas aja gitu…
    Tapi eonn, aku ngerasa konfliknya ga timbul ya? Agak Kurang berasa aja gitu hehe. Tapi udah puas lah sama couple ini. Mungkin memang yg mau ditonjolin sisi rmntisnya ato pdkt minho haneul.

    Pokonya aku suka bahasanya, suka sama scene yg di bus apalagi pas minho mangap mangap ngeliat haneul, suka juga sama minhonya ><
    keep writing unnie

  2. so sweet bgt ceritanya,
    setuju sama komen yang di atas, cara penulisan kata-katanya bagus. gampang dimengerti+enak dibaca(?)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s