[FREELANCE] Secret (Part 10)

Title         : Secret – Part 10

Author        : Kim Nara a.k.a Nandits

Main Cast     : Kim Jonghyun, Han Yunji (OC)

Support Cast  : Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Choi Minho, Lee Taemin, Yoon Insa, Han Sang Hee (Yunji’s Eomma)

Length        : Sequel

Genre         : Life, Romance, Friendship

Rating        : PG-15

Thanks To     : Neni as my Beta-Reader

A/N                  : Annyeonghaseyo.. di part ini aku pinjem ide Yuli Eonni dan Diyawonnie dalam mendeskripsikan suatu feel. Kalau udah pernah baca karya author-author itu pasti nyadar hehe. Kritik dan saran yang membangun diterima banget lho. Happy reading🙂

 

SECRET – Part 10

Kim Nara©2012 93Lines Blog, Freelance Author

Jonghyun:

Skinned knees are easier to heal than a pained heart *

Yunji:

I can’t even eat and just swallow my tears **

 

Jonghyun’s Room, 05.24 AM

Hal pertama yang Jonghyun pikirkan setiap kali ia terbangun dari tidurnya yang sangat singkat adalah: Apa yang sedang dilakukan Yunji saat ini? Bagaimana hidupnya? Apakah dia tersenyum dengan benar? Apa dia selalu makan sebanyak 3 kali sehari? Apakah dia sanggup berdiri tegak setelah terhempas begitu keras? Dan Jonghyun harus selalu menelan kekhawatirannya sendiri karena namja itu pun tidak berusaha, ani, lebih tepatnya menahan dirinya untuk mencari tahu. Ketika ia sadar bahwa ia tidak menemukan cara lain untuk melindungi Yunji, ia terus berharap agar ada sebuah keajaiban yang terjadi padanya sehingga ia bisa memutar waktu dan memperbaiki semuanya.

Penyesalan terbesar untuknya bukanlah mengapa ia harus bertemu Yunji, seseorang yang dicintainya namun juga seseorang yang secara tidak langsung merenggut nyawa kedua orang tuanya, tapi mengapa ia hanya berdiam diri dan pasrah ketika hidupnya dikendalikan oleh Jongmin. Sikap Jonghyun yang selama ini tidak melawan sama sekali bukan karena rasa takut tapi ia tidak mau menyakiti Jongmin yang notabene adalah seseorang yang pernah menjadi orang terdekatnya, pernah menjadi orang paling menyayanginya dan juga keluarganya yang tersisa satu-satunya.

Kini, perlahan-lahan ia mulai sadar bahwa ia tidak mungkin membiarkan Jongmin terus mengobrak-abrik hidupnya begitu saja dan ia harus mulai bertindak, bahwa ia pun berhak untuk bahagia. Setelah bertemu dengan Yunji, ia baru menemukan alasannya untuk terus bernafas, untuk terus hidup dan berada di samping yeoja itu. Yunji adalah seseorang yang paling berharga yang sekarang ia punya.

Tapi itu semua terlambat, penyesalan itu tidak ada gunanya. Ia tidak mungkin bisa bersama-sama lagi dengan Yunji. Yang bisa Jonghyun lakukan adalah melindungi Yunji sekuat tenaga. Setidaknya itulah hal terakhir yang bisa ia lakukan untuk gadis yang begitu berarti di dalam hidupnya. Dan satu-satunya cara untuk melindungi Yunji adalah dengan meninggalkannya.

Jonghyun menatap langit-langit kamarnya sejenak kemudian bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk di tempat tidurnya. Hari masih sedikit gelap tapi ia sama sekali tidak bisa tidur dengan nyenyak. Selama dua minggu ini di malam hari, ia terus memejamkan mata seolah-olah sedang tidur tapi nyatanya pikirannya tak henti-hentinya bekerja. Jam tidurnya rusak total. Meski hari masih terlalu pagi, ketika ia ingin menutup matanya lagi dan berharap bisa tidur nyenyak, ia selalu kembali terbangun dan akhirnya tidak akan tidur meski sebenarnya ia pun baru bisa memejamkan matanya setelah pukul satu dini hari.

Hampir satu setengah jam ia terduduk di kasurnya ketika ada ketukan di pintu kamarnya.

“Jonghyun Hyung, bangunlah. Kau ada kuliah jam 8 kan?”

Dan selalu seperti ini, ia akan terbangun dari tidurnya yang singkat, terduduk sambil melamun di tempat tidurnya dan baru akan beranjak ke kamar mandi jika Key sudah mengetuk pintu kamarnya untuk membangunkannya. Jonghyun menyeret langkahnya yang berat ke kamar mandi kemudian membasahi kepalanya dengan harapan bisa mengenyahkan wajah Yunji yang selalu berputar-putar di kepalanya.

“Han Yunji, what have you done to me? Actually I really can’t go on without you. Aku tidak sekuat itu sekarang, tanpa kau di sampingku. Aku hancur… and I can’t fake it..”

***

 

Dining Room at Onew’s House, 07.40 AM

Key meletakkan sepiring omelet dan segelas susu di meja yang masih kosong, kemudian duduk di bangku sebelahnya. Tiga bangku lainnya sudah terisi. Tidak terdengar suara sedikit pun, namja-namja itu masih terdiam dan larut dalam pikirannya masing-masing.

Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga. Keempat namja yang sedang duduk di ruang makan itu menoleh dan mendapati Jonghyun sedang menuruni tangga dengan senyum tipis yang terlihat di paksakan.

Jonghyun langsung duduk di tempat yang tersisa dan memotong sedikit omelet dengan garpu, memasukkan ke dalam mulutnya kemudian mengunyahnya pelan, sangat tidak berselera. Onew, Key, Minho dan Taemin belum menyentuh sarapannya sama sekali, mereka masih memperhatikan Jonghyun yang terlihat seperti mayat hidup seminggu belakangan ini.

Merasa risih dengan tatapan yang datang dari empat pasang mata itu, Jonghyun mengangkat wajah zombienya kemudian menatap sahabatnya satu per satu. “Wae?”

“Ah, ani..” Onew langsung terlihat panik karena tertangkap basah sedang memperhatikan Jonghyun, sehingga ia pun langsung mengambil garpu dan memotong omeletnya. Begitu juga dengan Minho dan Key. Sedangkan Taemin langsung meraih gelas susunya dan meminumnya sambil melemparkan pandangan ke samping.

Jonghyun terlihat tidak peduli dan kembali melanjutkan makannya dengan lambat. Belum sampai lima menit berlalu, Jonghyun pun berdiri dari duduknya setelah meneguk sedikit susu yang telah disediakan oleh Key. Ia menatap keempat sahabatnya dengan datar kemudian berkata “Aku pergi duluan ya, ada kuliah jam 8 pagi ini. Annyeong.”

“Hati-hati berkendara, Hyung!” Taemin sedikit berteriak kepada Jonghyun yang telah berbelok di sudut ruangan menuju pintu utama rumah itu. Sedangkan Onew, Key dan Minho hanya mampu mengangguk dan memandang punggung Jonghyun yang terkesan dingin tanpa berkata apa-apa.

Hening.

Keempat namja itu masih belum beranjak dari ruang makan. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Hingga akhirnya Taemin menghela nafas berat sambil menyenderkan tubuhnya ke bangku, membuat ketiga Hyungnya menoleh ke arahnya dengan tatapan ingin tau.

“Waeyo, Taeminie?” Minho akhirnya membuka suara.

Taemin menyapu pandangan lelahnya ke wajah tiga Hyung yang sedang menatapnya. “Memangnya kalian tidak khawatir dengan keadaan Jonghyun Hyung? Apa kalian tidak sadar dengan kantung matanya yang menghitam dan wajahnya yang pucat?”

“Tentu saja kami khawatir Taemin-ah. Aku bahkan seperti tidak mengenali Jonghyun Hyung. Dia seperti mayat hidup!” Ujar Key sedikit histeris.

“Oleh karena itu lakukan sesuatu Hyung!” Taemin hampir menggebrak meja karena merasa frustasi dengan keadaan menegangkan yang terjadi setiap pagi. “Seingatku Jonghyun Hyung tidak pernah tersenyum dengan benar sejak seminggu yang lalu. Dia bahkan hanya menghabiskan seperempat omeletnya. Sebesar apa energi yang dia dapat dari secuil omelet?” Lanjutnya dengan ekspresi sedih.

“Sebenarnya kenapa Jonghyun Hyung dan Yunji mengakhiri hubungannya?” Minho memandang ketiga sahabatnya satu per satu, berharap kali ini ada yang sudah berhasil mengetahui hal itu. Namun Minho harus menelan kekecewaan karena lagi-lagi ketiga namja itu menggeleng pelan dengan ekspresi lelah. “Aku tidak bisa menemukan Yunji di mana pun selama seminggu ini, di kampus atau pun di apartemennya. Aku tidak bisa bertanya padanya seperti rencana awal kita. Bahkan Hyeji pun tidak tahu di mana Yunji sekarang.”

“Jonghyun tidak pernah mau menceritakannya padaku sesering dan sekeras apa pun aku mendesaknya.” Onew menutup mulutnya dengan punggung tangan, terlihat berpikir. “Andai saja Insa sedang ada di Seoul, mungkin kita bisa meminta bantuannya.”

“Kapan Insa Noona pulang dari Gwangju?” tanya Key sambil membereskan piring dan gelas, dibantu oleh Taemin.

“Dua hari lagi.” Bersamaan dengan jawaban yang dilontarkan Onew, timbul harapan di hati masing-masing keempat namja itu. Semoga mereka bisa menemukan cara untuk menghidupkan Jonghyun kembali.

***

 

Incheon, Yunji’s House, Backyard, 05.15 PM

Sore yang begitu tenang dan damai seharusnya bisa dinikmati Yunji dengan hati penuh suka cita, mengingat Yunji selalu menyukai warna oranye yang dibiaskan matahari, ketika bintang besar itu dengan perlahan tapi pasti bergerak ke kaki langit di sebelah barat. Ketika matahari berpulang ke peraduannya, mengantarkan malam pada bulan yang setia menunggu.

Yunji masih betah duduk di halaman belakang rumahnya yang nyaman dengan gelas di genggamannya. Kepulan uap yang keluar dari gelas berisi coklat itu kini sudah berkurang, menandakan cairan itu sudah tidak sehangat ketika ia membawanya ke sini, salah satu tempat favorit di rumahnya selain kamar tidurnya sendiri.

Kini bagi Yunji setiap pergeseran jarum jam rasanya sangat menyakitkan. Semakin sering jarum jam itu bergerak, semakin membuatnya sadar bahwa tidak ada lagi sosok namja itu di sampingnya. Jangan tanya bagaimana hati Yunji, bahkan seluruh organ tubuhnya seakan tidak berfungsi dengan benar. Matanya belum terbiasa dengan kealpaan sosok Jonghyun. Telinganya belum terbiasa dengan menghilangnya suara Jonghyun yang dulunya merupakan melodi indah bagi Yunji. Hidungnya masih belum mampu menemukan oksigen yang tepat untuk mengisi rongga parunya selain wangi tubuh namja itu. Tidak ada tubuh yang lebih pas dan lebih hangat dari tubuh Jonghyun ketika memeluknya. Dan ketika Yunji menatap ruang di sela-sela jari tangannya, dia berpikir tidak ada yang lebih pantas mengisinya selain jari tangan Jonghyun. Semua hal tentang namja itu mempengaruhi sistem kerja organ tubuhnya.

Jadi bisa bayangkan bagaimana hati Yunji sekarang? Hancur berkeping-keping, hampir tidak ada yang tersisa. Mungkin bentuknya seperti vas bunga keramik milik eomma yang terjatuh dari balkon lantai dua rumahnya.

..Jangan pernah memberikan seluruh hatimu untuk seorang namja, Yunji-ah. Bagaimana jika ia pergi dan membawa seluruh hatimu? Apa yang akan tersisa? Berikan setengah dan kau akan mampu bertahan dengan sisa setengah hati yang masih ada di genggamanmu. Lama kelamaan setengah hati itu akan kembali menjadi utuh ketika kau menemukan belahan jiwamu..

Benar Eomma… tapi setengah hati yang tersisa ini sudah terluka, bahkan tidak berbentuk lagi. Lagipula bukankah lebih baik hati yang utuh daripada hati yang tersisa setengah? Terlebih lagi Yunji takut, tanpa disadarinya ia telah memberikan seluruh hatinya untuk namja itu. Lalu apakah saat ini ia tidak memiliki hati sama sekali karena seluruhnya telah dibawa pergi oleh Jonghyun?

Yang lebih menyakitkan lagi adalah dia tidak bisa, lebih tepatnya lagi tidak ingin, menunjukkan kesedihannya di depan kedua orang tuanya. Dua hari setelah berakhirnya hubungannya dan Jonghyun, Yunji diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Ia bersikeras ingin pulang ke rumah orang tuanya dengan dalih ia sangat rindu dengan suasana rumahnya. Padahal ia ingin menjauhkan diri sejenak dari Seoul, kampusnya, dan apa pun yang berhubungan dengan Jonghyun. Selama seminggu ini dia terus menampilkan senyum termanis di depan kedua orang tuanya dan ia yakin itu berhasil, meski sebenarnya hatinya menangis darah. Mungkin Yunji bisa mendapatkan nilai cumlaude jika masuk jurusan akting bersama Minho karena kemampuan aktingnya yang bagus.

“Han Yunji.” Suara lembut yang keibuan terdengar bersamaan dengan usapan lembut di rambut Yunji yang tergerai begitu saja menyentuh punggungnya.

Yunji sedikit tersentak dengan kehadiran ibunya yang tiba-tiba, kemudian ia memperbaiki ekspresinya dan menyunggingkan senyum –yang ia pikir- terbaiknya. “Ne, Eomma.”

Han Sang Hee duduk berdampingan dengan putri kesayangannya kemudian mengenggam tangan itu. “Mwo hae? (What are you doing?)”

Yunji menaruh kepalanya di pundak ibunya kemudian memejamkan mata. “Tidak ada Eomma, hanya berpikir saja.”

Yunji merasakan ibunya mencium puncak kepalanya kemudian berkata. “Waktunya bangkit, Sayang. Sudah waktunya kau menata hidupmu kembali. Apa pun yang terjadi, Eomma dan Appa akan selalu ada untukmu.”

Yunji sedikit terkejut tapi hanya sejenak. Karena detik berikutnya ia menyunggingkan senyum pasrah. “Aku memang tidak pernah bisa menyembunyikan apa pun dari Eomma. Gomawo Eomma.” Ujarnya pelan sambil melingkarkan lengannya di sekeliling pinggang wanita itu, memeluknya lembut.

***

 

Some place, 01.57 PM

Jonghyun kembali ke tempat ini. Hampir setiap hari dalam seminggu belakangan ia mengunjungi tempat yang selalu didatanginya ketika ia berada dalam situasi terburuk. Ketika pertama kali orang tuanya meninggal, ketika pertama kali ia merasakan perubahan dalam diri kakaknya, ketika pertama kali Jongmin melakukan kekerasan kepadanya, dan kali ini…. ketika pertama kali ia merasakan kehancuran yang amat sangat karena seorang gadis.

Wajah Yunji masih terus muncul setiap kali jantungnya memompa darah ke otaknya, entah dalam keadaan sadar atau tidak. Alam bawah sadarnya pun masih menghadirkan Yunji melalui mimpi-mimpinya setiap malam. Setiap senyum Yunji hadir di pelupuk matanya, ada kesedihan tak terucap yang menusuk-nusuk hatinya. Kesedihan itu disertai dengan kerinduan yang tak terbendung, membuat hatinya lebih sakit dan berdarah lebih banyak.

There you are.”

Jonghyun refleks menoleh ke arah suara feminim itu. Hampir saja ia mengira suara yang muncul adalah suara Yunji mengingat indera pendengarannya seringkali memutar suara gadis itu tanpa diminta sekali pun. Tapi tempat ini hanya diketahui oleh satu orang. Yoon Insa.

Jonghyun melemparkan senyum yang terlihat tidak bernyawa di mata Insa. Seperti biasa wanita itu terlihat cantik dan anggun, setiap langkahnya penuh dengan rasa percaya diri. Namun kali ini raut wajahnya tidak selembut biasa. Kekhawatiran terpancar kuat dalam ekspresi wajah cantik Insa.

Langkah kaki wanita itu melambat dan akhirnya berhenti di samping Jonghyun, kemudian memeluk erat namja yang telah dianggapnya seperti dongsaengnya sendiri. “Marhaebwa. (Tell me)” Bisiknya di telinga Jonghyun.

Jonghyun melepaskan diri dari pelukan Insa dengan lembut. Kemudian menatap Insa dengan senyum lemah. “Kau baru pulang dari rumah ibumu dan langsung mencariku. Iya kan? Apa Onew Hyung tidak akan cemburu karena itu?”

Insa menatap Jonghyun dengan tajam tapi binar kekhawatiran terpancar kuat dari sana. “Hentikan bersikap seolah kau baik-baik saja, Jonghyun-ah.” Insa melipat kedua tangannya di dada kemudian menunjuk badan Jonghyun dari atas hingga bawah. “Berat badanmu menurun drastis kan? Tampak luar saja sudah berantakan seperti ini, apalagi yang di dalam sini?” ujarnya sambil menyentuhkan telunjuk lentiknya ke dada kiri Jonghyun, seolah menunjuk ke dalam hatinya.

Jonghyun meraih pagar besi, kemudian mengalihkan pandangannya ke air laut dan tebing yang terhampar indah di depannya. “Mereka mengkhawatirkan ku kan? Karena mereka tidak bisa mengorek informasi apa pun dariku, mereka mengirimmu untuk berbicara denganku. Iya kan, Noona?”

“Berhenti bertele-tele, Kim Jonghyun!” Insa sedikit menaikkan nada bicaranya, namun tatapannya masih sama : khawatir. “Kau tidak perlu merahasiakan apa pun kepadaku. Aku bukan orang asing di sini. Jadi katakanlah padaku apa yang sebenarnya terjadi.”

Masih memandang hamparan air laut biru yang indah namun terlihat hambar di matanya, Jonghyun berkata pelan. “Pernahkah kau merasa ingin berada di samping seseorang seumur hidup tapi justru yang terjadi adalah kebalikannya? Kau justru harus meninggalkannya meski kau tahu bahwa hal itu sama saja dengan membunuhmu perlahan karena semua fungsi organmu akan menurun. Meninggalkannya… demi melindunginya agar terhindar dari bahaya kemudian melihatnya hidup tenang dan ku harap… dia akan bahagia. Pernahkah, Noona?” desis Jonghyun tertahan.

“Musun soriya…?” Insa meraih pagar besi yang sama dengan Jonghyun, untuk membantunya menjaga keseimbangan yang hampir hilang ketika menyadari maksud dari semua ucapan Jonghyun. Punggung tangannya menutup mulutnya, ekspresi dari rasa terkejut Insa. “Sesange..” bisiknya tidak percaya. Insa menggelengkan kepala perlahan kemudian menggigit bibirnya. “Jongmin mengancammu…?” katanya ragu. Ia berharap prediksinya salah besar.

“Tindakanku benar kan, Noona?” ujarnya sangat pelan. Pandangan Jonghyun masih terpaku pada air laut yang biru, meski pandangan itu terlihat kosong.

Insa hampir menarik Jonghyun ke dalam pelukannya ketika ada seorang gadis kecil yang terjatuh tak jauh dari tempat mereka berdiri. Jonghyun hampir menghampiri gadis kecil itu tapi tidak jadi dilakukannya karena ibunya lebih cepat menghampiri anaknya yang menangis keras.

Masih menatap anak gadis yang kini berada dalam dekapan ibunya, Jonghyun berkata dengan suara pelan. “I miss being a kid. Skinned knees are easier to heal than a pained heart.” Mata Jonghyun berair dengan sendirinya dan cairan yang ada di matanya itu melesat turun, tepat ketika Insa menariknya ke dalam pelukannya.

***

 

Cafetaria, Yonsei University, 12.25 PM

..Waktunya bangkit, Sayang. Sudah waktunya kau menata hidupmu kembali..

Kalimat yang diucapkan ibunya dua hari yang lalu terus terngiang-ngiang di telinga Yunji. Geurae, ia sudah memantapkan hatinya untuk segera bangkit meski harus dengan susah payah dan tertatih-tatih karena hatinya yang hancur berkeping-keping itu tidak banyak membantunya. Kau tahu apa yang terjadi ketika Voldemort kehilangan horcruxnya satu persatu? Ia melemah. Yunji pun seperti itu.

Hyeji masih memandangi Yunji yang menunduk memandangi tteokpokki di hadapannya dengan tidak berselera. Yunji hanya memegangi garpu dan menusuk-nusukkan benda itu ke makanannya.

Hyeji menghela nafas kemudian berkata kepada zombie di depannya ini. “Aigooo.. kau pikir dengan hanya memandangi dan menusuk-nusuknya dengan garpu, makanan itu akan habis begitu saja? Kau harus memasukkan ke mulutmu, mengunyahnya kemudian menelannya, Yunji-ah.”

Yunji mengangkat wajahnya kemudian melirik Hyeji yang sedang menatapnya seakan ia adalah makhluk langka satu-satunya di dunia. “Eo?” hanya itu yang keluar dari mulut Yunji untuk menanggapi omelan panjang dari sahabatnya itu.

“Mwo? ‘Eo’ katamu? Makan tteokpokkimu sebelum dingin, Han Yunji pabo!” Entah kenapa tiba-tiba Hyeji menjadi kesal. Yang jelas ia tidak bisa melihat sahabatnya yang ceria menjadi murung seperti ini. Setelah Yunji kembali dari rumah orang tuanya, gadis itu sudah menangis habis-habisan di pelukannya ketika menceritakan apa yang telah terjadi. Hyeji ingin sekali memaki namja brengsek berlabel Kim Jonghyun itu tapi ia tidak melakukannya karena ia tidak ingin membuat sahabatnya semakin sedih. Yang dibutuhkan Yunji adalah orang yang mendukungnya dan mendorongnya untuk kembali bangkit. Hyeji rasa tindakan memaki Kim Jonghyun tidak akan membantu sama sekali.

Dan Yunji sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menatap kembali hidupnya. Yunji harus selalu mengingat untuk memejamkan matanya tepat waktu sesuai jam tidurnya supaya lingkaran hitam di bawah matanya tidak bertambah parah. Ya, memejamkan mata. Ia belum bisa benar-benar tertidur karena otaknya terus bekerja dengan sendirinya. Ia selalu mengingatkan dirinya untuk selalu fokus dan tidak melamun, karena itu hanya akan membuat denyut-denyut kesakitan di hatinya semakin terasa. Dan ia pun harus memaksakan dirinya untuk makan dengan teratur meski nafsu makannya menguap entah kemana.

Yunji pun akhirnya memasukan potongan tteokpokki -makanan yang seharusnya adalah makanan kesukaannya- ke dalam mulutnya kemudian mengunyahnya pelan. Sial, tteok ini terasa hambar. Bahkan lidahnya tidak menjalankan fungsinya dengan benar. Saat ini Yunji makan tiga kali sehari hanya untuk bertahan hidup, bukan lagi untuk menikmati cita rasa makanannya itu.

“Han Yunji, kau sudah kehilangan kesadaranmu? Katanya kau ingin bangkit, bersemangatlah sedikit. Dua hari ini aku seperti berteman dengan zombie, kau tahu? Ayolah, namja di dunia ini bukan hanya…” kata-kata Hyeji terhenti ketika handphone miliknya bergetar dan menimbulkan bunyi yang cukup bising karena bersinggungan dengan sumpit yang letaknya berdekatan.

Dilihatnya nama yang tertera di layar handphonenya. Hyeji mengangkat sebelah alisnya. Choi Minho? Buat apa teman si brengsek Kim Jonghyun ini meneleponku? Katanya dalam hati.

“Yeoboseyo?!” Nada kekesalan mengalir begitu saja dari bibir Hyeji. Padahal jelas-jelas ia tahu Choi Minho tidak terlibat sama sekali dengan berakhirnya hubungan Jonghyun dan Yunji.

“Apa Yunji bersamamu? Ku dengar dia sudah masuk kuliah.”

“Eo. Dia ada bersamaku sekarang. Wae?” Hyeji melirik Yunji yang terlihat sama sekali tidak peduli meski dirinya sedang menjadi topik pembicaraan Hyeji dan Minho

“Eodi? Aku akan ke sana.”

Hyeji mengerutkan keningnya. “Cafetaria. Memangnya ada apa sih?”

“Najunge.”

Tidak lama kemudian sambungan telepon diputus secara sepihak oleh Minho, membuat Hyeji membelalakkan matanya dan mengutuk-ngutuk makhluk bernama Choi Minho. “Aishh setidaknya jawab pertanyaan ku dulu baru menutup teleponnya.”

Hyeji mengalihkan pandangannya ke arah Yunji kemudian bertanya. “Kenapa Choi Minho mencarimu?”

“Hm? Molla.” Yunji berkata cuek. Ia sama sekali tidak peduli dan tidak merasa penasaran sedikit pun.

“Aigooo igeobwa, kau benar-benar kehilangan minat.” Cibir Hyeji sambil merogoh tas dan mengambil dompetnya. “Tunggu di sini, aku ingin membeli jus jeruk. Kau mau?”

Strawberry milk.”

Hyeji mengangguk-angguk dengan ekspresi yang sedikit lega. “Setidaknya kau tidak melupakan minuman kesukaanmu.” Ujarnya sambil berlalu.

Yunji merasa sudah kenyang, ani, lebih tepatnya sudah lelah menggerakkan rahangnya untuk sekedar mengunyah sepotong tteok. Hal yang belum bisa Yunji lakukan sepenuhnya adalah tidak melamun. Ia masih kesulitan mengatasi hal yang satu itu. Mungkin gadis itu sudah bisa memejamkan mata ketika waktunya tiba atau makan tiga kali sehari, tapi dia masih kesulitan untuk berkonsentrasi.

“Yunji-ah.”

Suara itu hampir bersamaan dengan munculnya kedua namja yang duduk di hadapannya begitu saja: Minho dan Key.  Yunji mengangkat wajahnya kemudian menganggukkan kepala. “Annyeong.” Katanya singkat.

Minho dan Key bertukar pandangan sambil menggelengkan kepala. Ternyata keadaan Yunji hampir tidak ada bedanya dengan keadaan Jonghyun. Sama-sama seperti mayat hidup. Jika mereka tidak bisa hidup dengan baik ketika berpisah, kenapa juga mereka harus mengambil keputusan seperti itu?

Key menaruh kedua tangannya di atas meja kemudian memajukan badannya. Sedangkan Minho hanya duduk diam sambil menyenderkan punggungnya di kursi dan melipat kedua tangannya di dada. “Apa yang terjadi dengan kau dan Jonghyun Hyung?” ujar Key.

BLETAK!

“ARGH, NUGUYA?!” Key berteriak keras. Kesal karena ada orang yang seenaknya memukul kepalanya, ditambah pukulannya sangat menyakitkan. Mata keroro Minho terbelalak kaget karena kejadian yang begitu tiba-tiba.

“INI AKU! Wae??” Hyeji menggeser kasar kursi yang masih kosong, kemudian meletakkan dompet yang tadi dipakainya untuk memukul Key dan minuman yang dibelinya dengan gusar. “Teman macam apa kalian? Bukankah seharusnya kalian menanyakan kabar Yunji terlebih dahulu?”

“Aish.. kau tidak perlu memukulku sekeras itu.” Key ingin berteriak kembali, namun ciut ketika melihat ekspresi Hyeji yang menakutkan. “Dasar yeoja kasar..” gumamnya pelan.

Sayangnya Hyeji mendengar apa yang dikatakan Key dan menghasilkan cubitan keras di lengan namja itu. “Apa kau bilang?!”

“Aw appoooo!” Desis Key sambil mengusap-usap lengannya yang memerah akibat cubitan Hyeji. Minho hanya menggeleng-gelengkan kepala karena pusing dengan kelakukan dua orang itu. Ia memilih memakan tteokpokki milik Yunji yang masih tersisa.

“Kau juga Choi Minho! Bisanya hanya makan saja.” Hyeji melemparkan tatapan laser yang tidak kalah menyeramkan dari Key, sehingga Minho segera meletakkan garpunya kemudian menyeka sudut bibirnya dengan tisu yang tersedia.

“Shikeuro.” Yunji memandang tiga orang yang sedang bertengkar di depannya dengan malas. “Kalian berisik sekali, ara? Lebih baik cepat katakan apa yang kau inginkan dariku Choi Minho, Kim Kibum.” Lanjutnya sambil memandang Minho dan Key bergantian.

Minho dan Key terpana sejenak. Woah, Yunji berbeda sekali. Saat ini aura kelam memancar kuat dari tubuhnya. Minho yang tersadar lebih dulu dari keterkejutannya mengganti posisi duduk kemudian berdehem. “Apa yang terjadi dengan kau dan Jonghyun Hyung?”

Ekspresi Yunji masih terlihat malas dan tatapan matanya cenderung hampa. Tapi Minho dapat melihat kesedihan yang mendalam dari mata Yunji, bahkan semua kesedihannya terpancar keluar melalui bahasa tubuhnya. Tanpa sadar Yunji menggigit bibirnya.

“Jjong…” Yunji merasa tenggorokannya kering, ia tidak mampu menyebut nama namja itu. “Dia.. tidak menceritakan apa pun kepada kalian?”

Minho dan Key sama-sama menggeleng. Kemudian Key angkat suara. “Dia tidak pernah mau menceritakannya kepada kami. Awalnya kami tidak ambil pusing, mungkin itu sudah menjadi keputusan kalian. Tapi kami tidak tahan melihatnya seperti mayat hidup. Setiap hari hanya sarapan sedikit sekali kemudian menghilang begitu saja hingga malam tiba. Begitu sampai rumah ia langsung beranjak ke kamarnya dan tidak keluar lagi. Ia selalu menolak jika ku ajak makan malam bersama. Kau tahu? Tubuhnya semakin kurus, pipinya semakin tirus dan lingkaran hitam di bawah matanya semakin jelas terlihat. Kacau sekali.” Key mengakhiri penjelasan panjang lebarnya dengan helaan nafas berat yang terdengar lelah.

Yunji termangu lama. Kosong. Lupa akan rasa sakit hatinya. Entah kenapa ada kehangatan yang muncul di hatinya yang meski sangat sedikit, namun dapat terasa oleh Yunji. Bisakah dia berasumsi bahwa setidaknya Jonghyun merasakan kehilangan yang sama dengannya? “Benarkah seperti itu?” bisik Yunji sambil menatap Minho dan Key yang panik dengan ekspresi Yunji yang terlihat akan menangis.

Hyeji menggenggam tangan Yunji, berharap dapat memberikan kekuatan bagi sahabatnya. Entahlah, meski saat ini dia sangat membenci Kim Jonghyun tapi jauh di lubuk hatinya yang terdalam ia mengakui tidak ada namja yang lebih pantas bersanding dengan Yunji selain Jonghyun. Sejak pertama kali Yunji menceritakan semuanya, Hyeji pun berpikir ada sesuatu yang janggal meski ia tidak tahu apa.

“Bisakah kau ceritakan kepada kami, Yunji-ah? Kau yakin tidak ada salah paham di sini?” Minho kembali bertanya kepada Yunji.

Hyeji sudah terlalu lama menahan dirinya dan sekarang ia sudah tidak tahan. Akhirnya ia yang menceritakan semuanya. “Salah paham bagaimana? Kim Jonghyun sendiri yang memutuskan hubungannya dengan Yunji. Ada dua alasan yang diutarakan  namja itu pada Yunji.”

“Hyeji-ah..” Yunji menarik tangan Hyeji, berharap ia berhenti berbicara.

Hyeji memandang Yunji tajam. “Biarkan aku bicara Yunji-ah, mereka harus tahu seberapa brengseknya teman mereka ini.” Ia pun mengalihkan pandangan kepada dua namja yang ekspresi wajahnya menegang, kemudian melanjutkan kata-katanya. “Alasan pertama, ia bosan. Alasan kedua, setiap kali ia melihat Yunji, ia selalu teringat kematian kedua orang tuanya.”

Key terkejut bukan main, ia menutup mulut dengan telapak tangannya. Rahang Minho mengeras dan ekspresinya menakutkan. “Ijjashigi..” desisnya. Detik itu juga Minho berdiri sambil mendorong mundur kursi yang didudukinya dengan keras. Ia melangkah lebar-lebar dengan kakinya yang panjang dan menghambur keluar dari cafetaria.

Yunji, Hyeji dan Key tersentak dengan tindakan Minho yang tiba-tiba dan mereka sudah tahu apa yang akan dilakukan namja tinggi itu jika bertemu dengan Jonghyun nanti. Mereka segera berlarian keluar cafetaria untuk mengejar Minho.

“Ya Choi Minho! Mwo haneungoya? YA!” Teriakan Key yang menggema di koridor kampus diabaikan begitu saja oleh Minho.

***

 

Yonsei University, 02.36 PM

“KIM JONGHYUN!” Jonghyun mengalihkan pandangannya dengan malas karena merasa terusik dengan suara yang memanggilnya. Ia melihat Minho sedang berjalan ke arahnya. Tapi kenapa ekspresi mukanya menyeramkan seperti itu?

Beberapa meter di belakang Minho terlihat ada tiga orang yang mengejarnya yaitu Key, Hyeji dan…. Yunji?

Jonghyun sulit mendeskripsikan apa yang dirasakannya sekarang ketika melihat gadis itu untuk pertama kalinya, setelah 12 hari yang lalu dia mengakhiri hubungan mereka berdua. Rasa rindu yang terlalu besar hampir membuatnya berlari menghampiri gadis itu dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. Dan dari jarak yang cukup jauh ia mampu melihat wajah Yunji yang pucat, tidak secerah biasanya. Anggaplah dia gila, tapi di mata Jonghyun dengan kondisi berantakan sekalipun Yunji tetap terlihat cantik. Wajahnya memancarkan ekspresi kesedihan dan terluka, membuat Jonghyun ingin membunuh dirinya sendiri karena penyesalan yang begitu menyesakkan dadanya.

Pandangan Jonghyun masih terpaku kepada Yunji yang terlihat cemas ketika tiba-tiba ia merasakan ada seseorang yang menarik kerah kemejanya dengan kuat dan membuatnya berdiri dengan paksa. Meski enggan mengalihkan pandangan dari wajah yang dirindukannya, akhirnya Jonghyun bertemu pandang dengan mata besar yang sedang menatapnya dengan marah.

“Laki-laki macam apa kau mempermainkan perasaan seorang gadis seperti itu hah?!”

Kau pikir itu keinginanku, Choi Minho? Kata Jonghyun dalam hati. Tapi alasan sebenarnya mengapa ia memutuskan untuk meninggalkan Yunji tidak boleh sampai diketahui oleh siapa pun selain Insa.

Jonghyun memandang Minho tanpa ekspresi. “Kalau kau menyukainya, ambil saja.” Katanya singkat.

“Mwo? Brengsek kau!” Dalam hitungan detik, Minho melayangkan tinjunya ke wajah Jonghyun dan membuat Jonghyun sedikit terhuyung. Tepat setelah itu, terdengar pekikan tertahan yang berasal dari mulut tiga orang yang baru sampai di lokasi kejadian.

Key melemparkan ponselnya ke arah Hyeji, berlari mendekati Minho dan Jonghyun sambil memberikan intruksi. “Hubungi Onew Hyung supaya cepat ke sini.” Ujar Key disambut anggukan dari Hyeji.

Yunji melihat Key kesulitan melerai Minho dan Jonghyun. Baru pertama kali ia melihat Minho semarah itu dan memang sangat menyeramkan. Akhirnya ia memutuskan untuk membantu Key melerai kedua namja itu. Yunji tidak ingin jika Jonghyun sampai terluka lebih parah.

Baru tiga langkah ia beranjak dari tempatnya berdiri, tapi langkahnya harus terhenti ketika mendengar bentakan seseorang yang membuatnya terpaku di tempat. “Jangan ikut campur, Han Yunji! Tetap berdiri di tempatmu!” Suara itu… suara yang sangat dirindukan indera pendengarannya. Yunji tidak menghiraukan bahwa itu adalah sebuah bentakan, yang penting ia bisa mendengar suara itu.

Sedangkan Key maupun Minho terbelalak mendengar nada bicara Jonghyun yang menurut mereka sangat tidak biasa. Kim Jonghyun yang mereka kenal akan selalu memperlakukan wanita dengan baik meski ia tidak menyukai wanita tersebut, lihat saja apa yang terjadi dengan Jessica waktu itu. Tapi sekarang? Benar-benar aneh.

“Kenapa kau berpisah dengannya kalau kau masih mempedulikannya, kalau kau justru tidak bisa hidup dengan benar setelah perpisahan itu terjadi?!” Dan Minho tidak bisa menahan kesabarannya lagi. Ia melayangkan tinju berikutnya ke wajah Jonghyun yang menghasilkan bibir namja itu sobek dan mengeluarkan darah.

“HENTIKAN CHOI MINHO, KIM JONGHYUN!” Tanpa diketahui kapan Onew datang, namja itu sudah berdiri diantara Minho dan Jonghyun. Key membantu Jonghyun berdiri sedangkan Onew memegangi Minho yang masih terlihat emosi. Insa terlihat sudah bergabung dengan Yunji dan Hyeji. Jonghyun menyeka sudut bibirnya yang berdarah kemudian melangkah pergi begitu saja.

“Hyung! Eodiga?” Key terheran-heran melihat sikap Jonghyun yang justru tidak melawan sama sekali ketika Minho memukulinya. “Hyung…”

“Biarkan Key.. biarkan dia sendiri.” Key mengangguk tanda mengerti ketika Insa mencegahnya mengejar Jonghyun. Key yakin pasti Insa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

***

 

Another Place of Yonsei University, 03.05 PM

Enam orang itu masih membisu. Tidak ada kata-kata berarti yang keluar dari mulut masing-masing. Mereka terlalu shock dengan apa yang baru saja terjadi. Key yang paling tidak betah dengan suasana canggung seperti ini akhirnya memulai pembicaraan.

“Noona, kenapa kau bisa ada di sini?”

Pertanyaan Key yang ditujukan padanya, membuat Insa secara otomatis menyunggingkan senyumnya yang manis. “Tadi aku menemani Jinki untuk meminjam buku di perpustakaan kampus dulu, karena setelahnya kami berencana mengunjungi orang tua Jinki.”

“Mianhae Hyung.. Noona.” Ujar Minho setelah mendengar apa yang dikatakan Insa. Ia merasa bersalah karena mengacaukan rencana mereka dengan tindakan bodohnya.

“Sebenarnya apa yang kau pikirkan, Minho-ya? Aku…” Onew tidak melanjutkan kata-katanya ketika Insa meremas tangannya pelan.

“Gwaenchanha.” Ujar Insa lembut.

Hyeji masih tidak tahu harus berkata apa dalam situasi seperti ini, apalagi Yunji. Yang gadis itu pikirkan sekarang adalah siapa yang akan mengobati luka-luka Jonghyun? Yunji teringat apa yang Key katakan ketika di cafetaria tadi mengenai keadaan Jonghyun yang hancur. Itu benar. Yunji melihatnya dengan jelas wajah Jonghyun yang pucat, pipi yang tirus dan lingkaran hitam dibawah matanya.

Dan ketika Jonghyun membentaknya.. Yunji tidak melihat itu dari sisi yang negatif, justru yang ia lihat adalah Jonghyun masih mempedulikannya. Kenyataan itu membuatnya merasa sedikit lega. Setidaknya Jonghyun tidak benar-benar membencinya. Boleh ‘kan ia berasumsi seperti itu? Boleh ‘kan ia sedikit berharap?

“Apa dia akan baik-baik saja, Eonni?” Yunji hampir tidak mengenali suara serak yang terasa asing di telinganya sendiri. Ia memandang Insa penuh harap, ia tidak peduli lagi dengan kelenjar air matanya yang sudah siap bekerja.

“Dia akan baik-baik saja, Yunji-ah. Tenanglah.” Insa menggenggam kedua tangan Yunji kemudian tersenyum. Yunji melihat ada emosi yang bercampur di ekspresi wajah Insa ketika tersenyum. Seperti mengisyaratkan baik-baik saja namun di sisi lain tidak baik-baik saja.

“Sejujurnya aku masih tidak mengerti dengan keputusan Jonghyun Hyung.” Key menyandarkan punggungnya di kursi sambil menatap Insa, berharap wanita itu menceritakan apa yang ia ketahui.

Pandangan Insa beralih dari Key lalu ke Yunji. Ia bisa melihat betapa hancurnya Yunji karena perpisahannya dengan Jonghyun. “Yunji-ah. Jika seseorang membuang kita di saat kita jatuh, hanya ada dua opini mutlak untuk menjelaskan tindakan itu: dia benar-benar brengsek atau dia seperti itu karena ingin melindungi kita—setidaknya menjaga perasaan kita. Menurutmu Jonghyun yang mana?”

Yunji, dan juga yang lainnya, berusaha berpikir dengan baik ketika Insa melemparkan pertanyaan seperti ini. Yunji masih merasa sesak, tapi ia tahu Insa berusaha memberikan pandangan yang objektif, walau Jonghyun adalah sahabatnya selama sembilan tahun.

“Aku mengganggap diammu itu tanda mengerti. Jika dipikirkan secara logis, dengan Jonghyun yang selalu mencemaskanmu, selalu ingin melindungi, dan menyayangimu melebihi dirinya sendiri. Bahkan ia mampu menerima dengan lapang dada bagaimana orang tuanya meninggal.. apakah mungkin Jonghyun dengan begitu tiba-tiba mencampakkanmu yang terbaring di rumah sakit? Tidakkah kau, atau kalian, penasaran ada apa di balik semua ini?”

Lima orang lainnya terdiam sejenak, kemudian saling memberikan tatapan terkejut ketika menyadari maksud dari kata-kata Insa.

Masih ada harapan! Kata Yunji dalam hati

 

TBC

 

*) credit goes to Lia Indra Adriana dalam Khokkiri

**) unknown

Pic 1 and 2 found on : weheartit

Pic 3 found on : google

21 thoughts on “[FREELANCE] Secret (Part 10)

  1. Makin seru aj nih critax..
    Q bisa byangin prsaan yunji yg dtnggal jjong oppa psti sakit bnget..
    Minho sbar donk.. Jjong bkan pria brengsek kok.. Jgn dpukul lagi, *poor jonghyun…
    *jdi trbwa suasana..

    Wahh.. Ditunggu lnjutanx saeng..

  2. Aaaaaa aku kira part ini mereka bkal’n comeback tp trnyata??
    Aigooo Minhoya~ jaga emosimu chagy, Jonghyun jg gak mau ini trjadi kok.
    Arrgghh lama” gue mutilasi jg tuh si Jongmin *ngasah golok breng Jong
    next part I hope JongYun comeback.
    Jebaaalll~

  3. annyeong aku reader baru.
    baca secret di shiningstory nemu blog ini deh.
    aaaah suka banget ma nih ff sampe kebut karna g sabar ma ceritanya n baru komen di part ni.
    author minta pw ff secret dooonk.
    penasaran ni ma part yang dipw. n ditunggu ya kelanjutan na.

    • selamat dataaaaang~
      ah iya sebenernya kemaren ada kesalahan di SF3SI, harusnya gak publish di tanggal itu jadinya ditarik dari peredaran dulu hehe.
      makasih banget lho mau muter-muter nyari sampe nemu di sini, terus ninggalin comment lagi🙂

      kamu ada twitter? usernamenya apa? nanti aku kirimin passwordnya🙂

  4. heee~
    aku g sabar c klo baca ff jadi nya pengen sekalian.
    wah aku g punya twitter.
    makasi y pw udah dikirimin lewat email.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s