[FREELANCE] Secret (Part 9)

Title                     : Secret – Part 9

Author               : Kim Nara a.k.a Nandits

Main Cast         : Kim Jonghyun, Han Yunji (OC)

Support Cast  : Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Choi Minho, Lee Taemin, Yoon Insa, Han Sang Hee (Yunji’s Eomma)

Length               : Sequel

Genre                  : Life, Romance, Friendship

Rating                 : PG-15

Thanks To       : Neni as my Beta-Reader

A/N                        : Ada tiga adegan di part 9 ini yang terinspirasi dari novel Mbak Sitta Karina, drama Scent of A Woman dan FF karya Diyawonnie dengan judul We Walk. Kritik dan saran yang membangun diterima banget lho. Happy reading🙂

SECRET – Part 9

Kim Nara©2012 93Lines Blog, Freelance Author

A Café around Gangnam, 09.27 PM

Setelah puas membungkuk sopan kepada penonton, Jonghyun mengantar Yunji kembali ke tempat duduknya. Baru saja Jonghyun ingin duduk di sebelah Yunji, matanya menangkap sosok yang dikenalnya, berdiri angkuh di salah satu sudut café. Seringai yang terbentuk di bibir sosok itu membuat Jonghyun bergidik ngeri. Seketika, ekspresi muka jonghyun mengeras. Tanpa sadar tangannya mengepal keras.

Yunji yang sedang menyeruput milkshake dengan asyiknya sempat melirik Jonghyun dari sudut matanya dan menangkap ekspresi tegang yang terpancar dari wajah namja itu.

“Oppa, waegeurae?” Tanya Yunji masih dengan sedotan yang terselip di bibir merah mudanya.

“Ne? Ah ani.” Jonghyun mengontrol ekspresinya sesegera mungkin dan tersenyum sambil menatap Yunji. “Yunji-ah jamkkanman gidaryeo (tunggu sebentar ya). Aku harus menemui Jaemin Hyung dulu.”

“Jaemin itu siapa, Oppa?” Yunji memiringkan kepalanya bingung, merasa asing dengan nama yang baru disebutkan oleh Jonghyun.

“Dia pemilik café ini, Chagi.” Jonghyun berkata lembut kepada Yunji namun sesekali matanya menjelajah tiap sudut café.

“Oh. Geurae. Pergilah Oppa. Aku akan menunggu di sini.”

Tiba-tiba handphone Jonghyun bergetar menandakan ada sms masuk.

From : Jongmin Hyung

Apa kau tidak akan mengenalkan yeoja itu kepadaku? Atau kau mau aku yang datang dan mengenalkan diriku kepada calon adik iparku? Geurae, tunggu aku ya kekeke

Jonghyun terdiam. Di dalam otaknya sudah banyak kemungkinan-kemungkinan buruk yang melintas begitu saja. Ia pun langsung mengirim sms balasan untuk kakaknya itu.

To : Jongmin Hyung

Jangan sekali-kali kau menyentuhnya.

 

Tidak bisa. Jonghyun berpikir ia harus membuat Yunji pulang terlebih dahulu sebelum Jongmin melakukan hal-hal yang tidak diinginkan di depan mata kekasihnya. “Hmm Yunji-ah, begini, sepertinya urusan Oppa dan Jaemin Hyung akan berlangsung lama karena ini menyangkut acara bulanan café. Daripada kau bosan menunggu, lebih baik kau pulang duluan saja ya? Aku antar sampai kau naik taksi.” Jonghyun berkata hati-hati sambil mengelus rambut Younji dengan lembut.

“Oh, geurae. Tapi kenapa aku harus naik taksi? Biasanya juga aku naik bus sendiri tidak apa-apa.” Yunji berkata sambil mengerutkan keningnya karena bingung.

“Ani, sekarang kan sudah malam dan aku tidak bisa mengantarmu sampai apartemen. Aku tidak ingin terjadi apa-apa denganmu dalam perjalanan pulang. Makanya aku ingin kau naik taksi. Tenang saja, aku yang bayar.” Kata Jonghyun berusaha untuk sedikit bercanda. Dibalik sorot matanya yang bersinar jenaka, Yunji dapat melihat sedikit kilatan amarah dan kecemasan di mata kekasihnya itu.

“Oppa, apa yang terjadi? Aku merasa kau sedang mencemaskan sesuatu.” Kata Yunji sambil menyentuh jemari Jonghyun.

Jonghyun sedikit terhenyak. Sudah begini dalamkah ikatan batin antara dirinya dan Yunji? Hingga Yunji dapat merasakan kecemasan yang setengah mati ia sembunyikan. Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada peri mungilnya ini, meski harus mempertaruhkan nyawanya sekalipun. Jonghyun pun –sekali lagi- tersenyum untuk meyakinkan Yunji, ia mengenggam kedua tangan Yunji yang mungil.

“Gwaenchana Yunji-ah, jangan khawatir. Sebaiknya kau pulang sekarang sebelum malam semakin larut. Oke?” Jonghyun tidak bisa menghiraukan sms yang tadi dikirimkan oleh Jongmin. Ia tidak akan membiarkan bajingan itu menyentuh Yunjinya yang berharga. Yeoja itu tidak tahu apa-apa tentang masa lalunya dan Yunji tidak boleh terlibat di dalamnya. Jonghyun harus segera mengirim kekasihnya pulang.

“Yunji-ah, ayo kuantar kau sampai naik taksi. Aku sudah ditunggu oleh Jaemin Hyung. Kajja.” Katanya sambil menuntun Yunji untuk segera pulang.

Yunji hanya mengangguk dan mengikuti jonghyun. Meski ia percaya dengan kata-kata Jonghyun, namun hatinya merasa tidak nyaman. Langkah kakinya pun terasa berat, ada firasat tidak enak yang merasukinya. Ia merasa Jonghyun menyembunyikan sesuatu. Tapi ia akhirnya mencoba untuk menghiraukan semua perasaan tidak enak itu.

Jonghyun mencarikan taksi untuk Yunji. Setelah dapat, Jonghyun langsung membukakan pintu untuk yeojachingunya, lalu berkata kepada supir taksi “Ahjussi tolong antar Agassi ini sampai rumahnya dengan selamat ya. Ini uangnya saya bayar dimuka.” Katanya sambil menyerahkan beberapa lembar uang. Supir taksi itu pun mengangguk dan bersiap untuk jalan.

“Oppa jaga dirimu ya.” kata Yunji sambil menarik ujung kemeja Jonghyun.

“Ya, bukankah seharusnya aku yang mengatakan itu padamu? Haha. Ahjussi hati-hati berkendara yaa.” Kata Jonghyun dengan ceria, sambil mundur beberapa langkah bersiap untuk pergi.

“Annyeong Chagiya” kata Jonghyun dengan senyum cerianya.

Jonghyun mengawasi taksi yang dinaiki Yunji hingga menghilang dari pandangannya. Ia mengawasi sekelilingnya hingga ia mendengar suara seseorang memanggilnya.

“Mencariku, Jonghyun-ah?” Terdengar suara yang sangat dikenal oleh Jonghyun dan tentu saja sangat dibencinya. Dalam hatinya ada rasa lega karena ia bisa mengirim Yunji pulang tepat waktu. Telat sedikit saja, bajingan ini pasti sudah mengingat wajah Yunji dan akan mengganggunya terus.

Jonghyun memamerkan senyum sinisnya. Sungguh ia sangat jijik dengan lelaki di hadapannya ini. Tercium olehnya bau alkohol yang menyengat dari tubuh lelaki itu.

“Bisakah kau memberitahuku apa yang bisa kau lakukan selain mabuk? Hampir setiap kali aku bertemu denganmu dalam keadaan kau sedang mabuk berat.”

“Jangan mulai menasehatiku Kim Jonghyun. Kau sama tidak berartinya denganku dan kau telah merenggut semua kebahagiaanku. Tentu saja aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia dengan yoejachingumu.” Jongmin berkata dengan suara rendah yang mematikan.

“Jangan pernah melibatkannya. Ia hanya orang luar dan tidak tahu apa-apa tentang hal ini.” Jonghyun tidak mengerti dengan jalan pikiran orang yang ada di hadapannya ini. Dia sempat berpikir beberapa kali, apakah orang ini mengalami gangguan jiwa?

“Dwaesseo.” Jongmin mengibaskan tangannya di udara. “Kau pasti mendapatkan uang banyak dari bosmu karena melakukan pertunjukkan murahan yang menjijikan tadi. Berikan padaku.” Jongmin berjalan ke arah Jonghyun dengan langkah yang tidak terlalu stabil. Ia mabuk tapi masih cukup sadar untuk bisa meminta uang kepada Jonghyun.

“Aku belum menerima gajiku. Aku baru bisa memberikannya padamu dua minggu lagi.” Jonghyun berkata dengan ekspresi datar namun sebenarnya ia cemas setengah mati. Untuk mengalihkan perhatian Jongmin dari Yunji, tidak ada cara lain lagi kecuali menuruti semua keinginannya. Sialnya Jonghyun tidak bisa langsung memenuhi keinginan Jongmin. Jonghyun terus berdoa dalam hati semoga Jongmin bisa mengerti.

Jongmin mengangkat alisnya kemudian tersenyum meremehkan. “Arasseo, aku akan menagih janjimu dua minggu lagi, kalau tidak…” Jongmin terlihat berpikir sebentar, memilih salah satu dari berbagai macam ancaman yang berkelebat di otaknya. “Yeojachingumu tidak akan bisa hidup dengan tenang.”

Tanpa sadar tangan Jonghyun yang berada di sisi tubuhnya mengepal keras. Kilatan amarah di matanya semakin terpancar. “Jangan. Pernah. Menyentuhnya.” Jonghyun mengucapkan tiga kata itu dengan penuh tekanan. Kalau ia tidak ingat bahwa namja itu adalah keluarganya yang tersisa satu-satunya, pasti Jonghyun sudah menghajarnya habis-habisan.

Jongmin melewati Jonghyun tanpa sepatah kata pun, hanya seringaiannya yang terlihat sekilas membuat Jonghyun semakin berang. “Kau,” ia hanya melirik Jonghyun dari ekor matanya. Tubuhnya membelakangi sang adik. “sama sekali tidak berhak bahagia sebelum kau menebus semua kesalahanmu. Kau tidak berhak bahagia karena telah membunuh Eomma dan Appa.”

ARE YOU INSANE?!! Kejadian itu tidak pernah ada hubungannya denganku. Bahkan aku tidak berada di lokasi kejadian saat itu.” Jonghyun seolah berteriak kepada angin karena dilihatnya Jongmin telah berlalu dan meninggalkannya begitu saja, meninggalkan kekalutan yang amat sangat di hatinya.

***

Yonsei University, 02.15 PM

Kejadian 10 hari yang lalu tidak pernah bisa membuat Jonghyun tenang meninggalkan Yunji seorang diri. Ia akan selalu memastikan Yunji aman di mana pun yeoja itu berada. Sikapnya yang tiba-tiba menjadi over protective ini tak luput dari pengamatan Yunji, ia merasakan betul perubahan yang terjadi dengan Jonghyun dan itu membuatnya bingung karena Jonghyun selalu saja dapat berkelit ketika ia bertanya langsung. Padahal Yunji tahu betul bahwa Jonghyun sedang mencemaskan sesuatu.

Jonghyun melangkahkan kakinya menuju Student Centre yaitu tempat di mana para mahasiswa berdiskusi ataupun mengerjakan tugas. Ruangan yang luas itu hanya berisi meja-meja dan hampir selalu terisi penuh. Handphone Jonghyun bergetar pertanda ada sms masuk ketika ia baru saja menjejakkan kakinya di ruangan itu.

From: Song Hyeji

Sunbae, sebenarnya aku tidak diizinkan oleh Yunji untuk memberitahumu hal ini.

Tapi sepertinya maag Yunji sedang kambuh.

Dia menolak ketika aku mengajaknya ke ruang kesehatan.

Sebaiknya kau yang membujuknya, Sunbae. Dia sedang di kelas.

Jonghyun mengetik cepat balasan untuk Hyeji, kemudian ia segera berjalan –ani- setengah berlari ke kelas Yunji. Kelas yang baru saja bubar itu terlihat kosong, hanya ada Yunji yang duduk sambil meringis dan memegangi perutnya.

Jonghyun menghampirinya dengan ekspresi yang cemas luar biasa. “Yunji-ah, gwaenchanha? Kenapa kau tidak pernah memberitahuku kalau kau punya maag?”

Yunji terkejut karena tiba-tiba Jonghyun sudah berdiri di sampingnya. “Aish Song Hyeji.” Umpatnya pelan, namun Jonghyun masih bisa mendengarnya.

Yeoja itu tersenyum dan menggeleng. “Ani Oppa, sudah tidak apa-apa.” Yunji terpaksa berbohong, tidak mau membuat namjachingunya lebih panik.

Jonghyun menggeleng. “Tidak apa-apa bagaimana? Kita ke rumah sakit sekarang. Jangan membantahku.” Jelas-jelas ia melihat wajah Yunji yang pucat dan bulir-bulir keringat yang membasahi keningnya.

Yunji berdiri dari tempat duduknya dan menyandangkan tas di bahunya, Jonghyun refleks memegangi lengan Yunji untuk membantunya berdiri. “Tidak Oppa, tidak usah ke rumah sakit. Hmm.. lebih baik antar aku– ouch…. ke rumah.“ kata-kata Yunji sempat terhenti ketika rasa perih di perutnya semakin parah. Lututnya sampai lemas dan membuatnya harus bersandar pada meja yang ada di belakangnya. Ia sedikit membungkuk sambil memegangi perutnya.

Jonghyun yang berdiri dekat sekali berhadapan dengan Yunji, semakin cemas melihatnya kesakitan seperti ini. Ia memegang kening, leher, kemudian tangan Yunji. “Kenapa tubuhmu dingin begini? Berapa lama kau menahan sakitnya? Tidak bisa begini. Ayo kita ke—“ Jonghyun terdiam ketika tiba-tiba tubuh Yunji melemah dan kepala yeoja itu terkulai, membentur dadanya pelan. Ia langsung melingkarkan tangannya di tubuh Yunji agar tidak jatuh.

Jantung Jonghyun rasanya seperti jatuh ke tanah ketika menyadari Yunji pingsan di pelukannya. Ia segera menggendong Yunji dengan bridal style dan bergegas ke tempat parkir mobil. Pantas saja perasaannya tidak enak dan entah kenapa pagi ini ia memaksa Onew untuk bertukar kendaraan dengannya.

“Bertahanlah Chagiya. Sebentar lagi kita akan sampai.” Khawatir dengan keadaan Yunji membuat Jonghyun mengemudikan mobil Onew dengan kecepatan di atas rata-rata.

Tiba-tiba ia merasakan ada tangan mungil yang meremas pelan lengannya yang sedang memegang setir mobil dengan tegang. “Drive.. slowly.. Oppa.” Yunji berbisik lemah namun Jonghyun masih dapat mendengarnya dengan jelas. Seakan tersihir dengan kata-kata Yunji, Jonghyun pun sedikit mengendurkan pijakan kakinya pada pedal gas.

***

Yonsei Severance Hospital, 05.00 PM

Jonghyun menatap Yunji yang terbaring lemah di hadapannya. Di tangan kanan Yunji sudah terpasang infus. Jonghyun duduk di samping ranjang Yunji sambil menggenggam tangan mungil yeoja itu. Wajahnya sudah tidak sepucat ketika di kampus tadi. Hampir tiga jam berlalu, tapi kenapa Yunji belum juga siuman?

Jonghyun tidak pernah suka dengan semua hal yang berhubungan dengan rumah sakit. Semuanya. Cat putih dindingnya, koridornya, aromanya, suasananya.. itu hanya mengingatkannya pada kenangan menyakitkan yang sampai saat ini pun masih sering membuatnya menangis dalam diam: kematian orang tuanya. Baginya rumah sakit adalah tempat di mana kau akan merasakan suatu penderitaan dan rasa kehilangan yang mendalam.

Tok.. Tok..

Jonghyun mengalihkan pandangannya dari wajah Yunji ke arah sumber suara yang datangnya dari pintu yang semula tertutup. Lelaki paruh baya dengan jas putih tersenyum ramah dan masuk ke dalam ruangan. Dilihatnya sebuah nametag yang tersemat di dada bagian kanan jas putihnya.

Jonghyun bangkit dari posisi duduknya dan membungkukkan badan kepada Lee Donghae, dokter yang menangani Yunji.

Donghae balas membungkuk sambil tersenyum ramah. “Orangtuanya belum datang?”

Jonghyun menggeleng sekilas. “Belum, Dokter Lee. Mereka masih dalam perjalanan.”

Donghae mengangguk mengerti. Kemudian pandangannya beralih ke arah Yunji “Hmm.. Yunji-ssi belum siuman juga ya?” Dokter muda itu berkata-kata lebih kepada dirinya sendiri, namun masih dapat terdengar oleh Jonghyun.

“Bukankah penyakit Yunji adalah maag? Kenapa ia pingsan lama sekali? Apakah ada yang salah?” Begitu banyak pertanyaan yang meluncur dari bibir Jonghyun. Kekhawatiran tergambar sangat jelas di wajah tampannya.

Donghae menggerakkan tangannya, memberi isyarat kepada Jonghyun untuk duduk di sofa bersamanya. Entah kenapa Jonghyun merasa ini hal yang serius. “Detak jantungnya normal, tidak ada yang salah dengan itu. Paru-parunya juga menjalankan fungsinya dengan baik. Semuanya baik-baik saja, kecuali mungkin lambungnya yang sedikit luka. Namun aku sudah memberikan obat dan seharusnya rasa sakit di lambungnya berangsur menghilang.” Jelas Donghae.

“Tapi kenapa Yunji belum siuman juga, Dok?”

“Tubuhnya kurang istirahat, mungkin ia sering tidur terlalu larut. Pola makannya pun berantakan, terlihat dari luka di lambungnya. Prediksiku, ia juga mengalami sedikit stress. Sekarang dia tertidur lebih lama karena tubuhnya ingin istirahat. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Dia hanya perlu istirahat lebih.” Donghae menepuk pundak Jonghyun, berharap dapat sedikit menenangkan namja itu.

Donghae bangkit dari duduknya dan membereskan jas putihnya yang sedikit kusut. “Kalau Yunji-ssi sudah bangun tolong beritahu aku ya. Geurom.” Donghae pun menganggukkan kepalanya dan beranjak pergi.

Jonghyun ikut bangkit dan membungkuk sopan. “Ne, kamsahamnida Dokter Lee”

Jonghyun berjalan pelan dan duduk kembali di samping Yunji. Ia termenung memikirkan kembali apa yang Dokter Lee bilang. Kenapa Yunji yang kelelahan bisa luput dari perhatiannya? Ia mencoba mengingat apa saja kegiatan Yunji belakangan ini dan ia tidak ingat satu pun kegiatan Yunji yang terlalu berat. Yunji pun selalu makan siang bersamanya. Bahkan ketika malam hari pun Jonghyun selalu mengingatkan kekasihnya untuk tidak melewatkan jam makannya. Dan… stress? Karena apa?

Entah kenapa Jonghyun merasa gagal. Ia selalu berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan menjaga dan melindungi Yunji, tidak ingin melihat apalagi membuatnya terluka. Tapi kini ia malah melihat Yunji terbaring lemah di hadapannya. Rasanya Jonghyun ingin menggantikan posisi Yunji sekarang.

Kepala Jonghyun sedikit pening. Semalam ia harus mengerjakan tugas hingga jam empat pagi dan sialnya ia ada kuliah jam delapan pagi. Jonghyun pun hanya punya kesempatan untuk tidur tidak lebih dari tiga jam. Ia menunduk dan menopangkan kepalanya dengan kedua tangannya. Jonghyun memejamkan mata, berharap dapat mengusir rasa pening yang entah kenapa tiba-tiba menyerangnya.

“Oppa..” bisikan halus yang disertai usapan lembut di rambutnya membuat Jonghyun menegakkan kepalanya seketika. Yunji sudah sadar! Sorakan di hati Jonghyun digantikan dengan sebuah ekspresi bahagia dan senyuman lembut yang ia lemparkan kepada Yunji.

Yunji bangkit dari tidurnya dan duduk bersandar di ranjangnya dengan bantuan Jonghyun. Kemudian namja itu meraih tangan Yunji dan mengenggamnya, sementara tangannya yang lain mengusap lembut rambut kekasihnya itu. “Eottae? Gwaenchanha? Eodi apa? (Bagaimana? Apa kau baik-baik saja? Mana yang sakit?)”

Yunji tersenyum sekilas sambil menggeleng pelan. “Aniya Oppa. Sudah tidak sakit lagi.”

“Seharusnya kau menjaga kesehatanmu sendiri. Orang tuamu kan jauh dan aku tidak bisa selalu mengawasimu. Jangan membuatku khawatir lagi, Chagiya” Nada suara Jonghyun terdengar sangat lembut namun matanya memancarkan kekhawatiran yang mendalam.

“Mianhae Oppa sudah membuatmu khawatir. Aku akan lebih mempedulikan kesehatanku.”

“Yaksok?” Jonghyun menyodorkan jari kelingkingnya ke arah Yunji.

“Yaksok!” Wajah Yunji yang masih sedikit pucat berangsur cerah ketika sebuah senyuman manis tersungging di bibirnya ketika ia menyambut pinky-swear itu.

***

Yonsei Severance Hospital, 08.57 PM

Malam harinya tiba-tiba Yunji demam tinggi. Dokter Lee mengatakan penyebabnya karena infeksi lambung yang ia alami. Pada hari itu, dari malam sampai pagi harinya, Jonghyun terus menemani Yunji di rumah sakit bersama dengan kedua orang tua Yunji yang baru tiba tadi sore. Yunji jadi tidak enak hati karena namjachingunya harus bertemu kedua orangtuanya di rumah sakit. Padahal Yunji ingin mengenalkan Jonghyun dalam suasana hangat dan kekeluargaan, sambil menikmati teh di sore hari ataupun makan malam, bukan dalam keadaan sakit seperti ini.

Yang paling membuat Yunji merasa tidak enak adalah selama semalaman itu Jonghyun tidak tidur. Padahal Yunji tahu bahwa Jonghyun sendiri pun kurang tidur di malam sebelumnya karena mengerjakan tugas kuliah. Yunji yakin, namja pasti itu lelah sekali. Meski Yunji meminta kekasihnya untuk pulang lebih dulu untuk beristirahat, Jonghyun tetap bersikukuh untuk menemani Yunji saat ia demam.

“Oppa pulang saja dulu, kau kan belum tidur.” Yunji meneliti wajah Jonghyun yang sedikit pucat, terlihat tidak secerah biasanya. Diraihnya jemari Jonghyun, membuatnya bertautan dengan jemarinya sendiri.

Jonghyun menggeleng sekilas. “Nanti saja. Kalau aku sudah bisa memastikan bahwa kau baik-baik saja.”

“Andwae. Oppa juga harus istirahat. Lihat wajahmu sudah terlihat pucat.”

Jonghyun terlihat ingin membuka mulutnya lagi untuk membantah Yunji saat terdengar suara lembut yang sangat keibuan.

“Pulanglah Jonghyun-ah, ada aku dan ayahnya Yunji di sini. Jadi kau tidak perlu khawatir.” Han Sang Hee, ibu Yunji berjalan ke sisi lain dari ranjang Yunji dan meletakkan buah-buahan yang baru dibelinya. Mengecup pipi Yunji sekilas sambil mengelus rambut anak perempuannya, kemudian tersenyum ke arah Jonghyun. “Jangan sampai kau juga jatuh sakit.” Lanjutnya.

“Tuh Eomma bilang kau harus pulang dan istirahat.” Yunji merasa menang karena ibunya sependapat dengannya. Lebih mudah membuat Jonghyun pulang kalau eommanya yang menyarankan.

Jonghyun mengusap tengkuknya sekilas. “Hmm.. baiklah Ahjumma. Aku pulang dulu, besok aku akan ke sini lagi.” Jonghyun bangkit dari duduknya, membungkuk dalam ke Yunji Eomma, kemudian mengusap lembut pipi kekasihnya. “Aku pulang dulu ya, jaga dirimu. Annyeong.”

Yunji tersenyum manis sekali — yang hampir membuat Jonghyun mengurungkan niatnya untuk pulang- kemudian mengangguk mengerti. “Hati-hati Oppa.”

“Jamkkanman Oppa!” Tangan Jonghyun yang terulur ke gagang pintu terhenti begitu saja di udara ketika mendengar Yunji memanggilnya kembali. Jonghyun menatap Yunji dengan pandangan bertanya. “Besok tolong bawakan laptopku ya? Ya?” Yunji berkata pada Jonghyun dengan tatapan yang memelas.

“Ish, aku kira kau ingin mencegahku pulang.” Jonghyun pura-pura memasang wajah kesal tapi kemudian mengangguk. “Arasseo.” Bagaimana bisa Jonghyun menolak keinginan Yunji jika wajah gadis itu sangat menggemaskan seperti tadi?

Yunji melemparkan sesuatu yang bergemerincing kepada Jonghyun. Namja itu menangkapnya tanpa kesulitan, ketika ia membuka tangannya terlihat ada sebuah kunci dengan gantungan strawberry yang imut sekali. “Itu kunci apartemenku Oppa.”

“Oke. Aku pulang dulu ya Yunji-ah.” Jonghyun melambaikan tangannya ke arah Yunji kemudian membungkuk kepada ibunya Yunji. “Annyeonghigyeseyo Ahjumma.”

“Ne, berhati-hatilah di jalan.” Wanita paruh baya itu pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.

***

Yunji’s Apartement, 07.45 AM

Kamar kamu cantik sekali, Yunji-ah, puji Jonghyun dalam hati ketika membuka pintu kamar itu dengan perlahan. Dan wangi… semerbak wangi campuran mawar dan rempah-rempah yang lembut. Mirip aroma tubuh Yunji yang dikenalnya.

Jonghyun tidak langsung masuk. Ia hanya berdiri di muka pintu sambil menebarkan pandangan takjub ke seluruh sudut ruangan. Di mana-mana terbentang nuansa warna coklat dan krem yang lembut. Di dindingnya ada beberapa foto; saat Yunji masih balita, SD, sampai perpisahan SMP-nya. Di samping tempat tidurnya ada sebuah TV layar datar dan ada dua lampion merah yang tergantung sebagai lampu kamar.Lalu ada sebuah couch berwarna merah yang sangat mencolok dengan dua bantal warna senada berbentuk strawberry di sudut ruangan lainnya. Jonghyun tersenyum lembut, ia tahu gadis itu suka sekali dengan strawberry.

Wah kyeopta, batin Jonghyun seraya mengambil sebuah bingkai foto yang dihiasi ornamen strawberry dan kupu-kupu. Di foto itu Yunji sedang tersenyum lebar dengan memakai kostum angel pada pesta halloween bersama teman-teman masa kecilnya.

Di meja belajarnya yang simple, terdapat sebuah bingkai foto lagi. Fotonya close-up dan menggambarkan wajah Yunji yang Jonghyun kenal kini, saat Yunji mulai kuliah. Lalu disebelahnya ada foto Jonghyun dan Yunji beberapa hari yang lalu saat mereka mengadakan makan malam di rumah Onew. Key yang senang sekali bermain dengan kamera, memaksa dua sejoli yang malu-malu itu untuk berfoto. Saat itu, Jonghyun sendiri tidak peduli dengan hasil fotonya. Ia bahkan lupa kalau pernah foto seperti itu dengan Yunji. Tapi melihat hasil jepretan Key tersebut, ia tidak menyangka pose mereka berdua akan sealami dan selucu itu.

“Curang, aku tidak dikasih..” Ucap Jonghyun tersenyum, seraya menyentuh halus foto itu dengan ujung jarinya. Kemudian pandangannya beralih ke benda berwarna merah di samping foto mereka dan ia pun terbelelak kaget. Ia mengambil jam weker strawberry itu untuk memastikan pandangannya tidak salah. Ya ampun sudah jam 8 dan ada kuliah jam 10 pagi ini! Seru Jonghyun dalam hati.

Jonghyun pun langsung mengambil laptop yang tergeletak di salah satu sisi meja belajar kemudian bergegas keluar kamar Yunji. Tidak lupa ia menguncinya kembali. Ia harus bergegas karena ia harus mampir terlebih dahulu ke rumah sakit.

Jonghyun setengah berlari menuruni undakan tangga di depan apartemen Yunji. Tapi kemudian langkahnya melambat hingga akhirnya berhenti, ketika ia menyadari ada seseorang yang tengah bersandar di tiang listrik persis di seberang tempat ia berdiri sekarang.

Jonghyun menengok ke gedung yang menjulang di belakangnya kemudian ke depan lagi. Ia sama sekali tidak bisa menyembunyikan rasa terkejutnya ketika mengetahui siapa yang sedang berdiri di sana, tepat di SEBERANG apartemen Yunji!

Orang itu terkekeh pelan sambil membuang dengan asal puntung rokok yang telah habis dihisapnya, kemudian berjalan dengan pelan menghampiri Jonghyun yang masih membeku di tempatnya berdiri.

“Ini baru 12 hari.” Desis Jonghyun geram. Meski wajahnya masih terlihat terkejut, tapi tidak tergambar rasa takut di situ, yang ada hanya kilatan amarah yang meluap-luap dari mata coklatnya. Tanpa sadar tangannya mengepal keras di kedua sisi tubuhnya.

Namja itu mendengus meremehkan. “Ara, aku hanya ingin mengingatkanmu saja. Jangan sampai kau melupakan janjimu.” Jongmin mengalihkan pandangannya kemudian sedikit melongokkan kepalanya ke belakang tubuh Jonghyun. “Apartemen yeojachingumu, ya? Wah besar sekali.”

“Apa yang kau lakukan di sini? Are you a stalker?!” Nada suara Jonghyun semakin meninggi seiring dengan kemarahan yang dirasakannya. “Ku peringatkan kau jangan pernah menyentuhnya….”

“A-a.” Jongmin menahannya untuk berbicara lebih lanjut dengan jari. “Aku belum selesai bicara. Marah bukan opsi yang bijaksana, naui dongsaeng. Tinggal pilih, memberi semua uangmu kepadaku dan gadis itu selamat, atau mengacuhkanku seperti sampah… dan gadis itu akan merasakan semua ganjarannya.”

Jonghyun terbelalak ngeri. “Dia tidak ada hubungannya dengan urusan kita. Lagipula..” Jonghyun terhenti sejenak, hatinya bimbang apakah dia harus mengatakan ini? “Lagipula, kami sudah tidak… tidak berhubungan lagi. Aku hanya– !”

Really? Ku harap kau tidak berbohong padaku.” Jongmin menaikkan sebelah alisnya. “Consider you have been warned, Brother. Kau cukup pintar untuk memintaku tidak melakukannya, kan?” Tepat sebelum Jongmin berbalik dan pergi, ia melemparkan senyuman liciknya kepada Jonghyun yang wajahnya telah kehilangan warnanya.

***

Yonsei Severance Hospital, 08.52 AM

Yunji memalingkan wajahnya dari buku yang sedang dibacanya ketika mendengar suara pintu yang terbuka. Jonghyun sudah kembali dengan membawa tas berukuran sedang yang Yunji tahu pasti isinya laptop kesayangan miliknya.

Tanpa sadar senyum lebar tersungging di bibir merah mudanya. Penawar rasa bosannya sudah datang. Ani, bukan Jonghyun tapi laptop yang dibawa Jonghyun kekeke~. Yunji sudah rindu sekali dengan laptop beserta isinya.

“Oppa waesseo? Wah kau membawakan laptopku. Gomawooo~” Yunji bangun dari tempat tidurnya kemudian segera menghampiri Jonghyun dengan semangat.

“Cheonman” katanya pelan, suaranya hampir tanpa emosi. Setelah memberikan laptop kepada Yunji, ia melirik yeoja itu dan menyunggingkan senyum manis, tapi entah kenapa Yunji menangkap kesan lain. Matanya tidak memancarkan senyum itu dan Yunji tak mampu membalas senyumnya.

Yunji merasa ada sesuatu yang aneh dengan Jonghyun dan ia tidak menyukai itu. Wajah Jonghyun yang tanpa emosi, nada suara yang kelewat datar, ditambah senyumnya tidak setulus biasanya. Ini tidak normal.

“Oppa, ada apa?” Yunji menatap Jonghyun dengan bingung. “Apa terjadi sesuatu?” lanjut Yunji.

“Ada yang harus aku bicarakan, Yunji-ah.” Jonghyun memandangi Yunji. Ekspresinya tidak terbaca.

Yunji memiringkan kepalanya, terlihat semakin bingung dengan sikap Jonghyun yang entah kenapa sangat dingin. Tiba-tiba Yunji merasa panik dan mengapa ketakutan lambat laun merasuki hatinya?

“Apa yang ingin Oppa bicarakan?”

Yunji terus menatapnya dan menunggu pembicaraan macam apa yang membuat Jonghyun terlihat sangat… sangat tidak terbaca.

“Hubungan kita tidak berjalan baik.”

Yunji terhenyak, hampir saja laptop yang dipegangnya meluncur dan menghantam lantai. “Boleh kutahu di bagian mana? Seingatku kita bahkan belum pernah bertengkar.” Suara Yunji mulai bergetar dan sejujurnya Jonghyun tidak menyukai itu

“Aku… bosan. Jangan salahkan aku mengenai hal ini, tapi pikirkan aku sebagai orang yang kadang sampai pada titik kejenuhan. Sesungguhnya ada hal yang entah kenapa tidak kau sadari sampai saat ini. Aku.. memang seperti apa yang digosipkan di kampus. Aku tidak betah berlama-lama berhubungan dekat dengan hanya satu orang gadis.” Jawaban Jonghyun membuat Yunji bingung. Gadis itu memandangi Jonghyun, berusaha memahaminya.

Jonghyun balas menatap Yunji dingin.

Dengan perut yang tiba-tiba mual, sialnya Yunji memahami maksud Jonghyun. Yunji menggeleng-gelengkan kepala dengan bodoh. Berusaha menjernihkan pikiran sedangkan Jonghyun menunggu, ekspresinya terlihat tidak sabar.

Walaupun Yunji sudah tahu kemana arah pembicaraan mereka, Yunji tetap bertanya. “Lalu apa yang kau inginkan?”

“Kita… berpisah saja. Aku tidak menginginkanmu lagi, Yunji-ssi.” Butuh perjuangan keras bagi Jonghyun untuk mengatakan hal itu. Demi Tuhan ia tidak pernah rela sama sekali untuk mengatakan hal-hal semacam itu.

Yunji-ssi? Jonghyun memanggilnya seperti itu. Luka baru sukses terstempel di hati Yunji saat itu juga. Yunji sangat berharap di bulan ini ada ‘Desember mopp’, tapi nyatanya itu tak akan dan tak pernah ada.

“Bukankah kau bilang kau mencintaiku?” Yunji teringat saat pertama kali Jonghyun mengucapkan ‘saranghae’ dari bibirnya sendiri. Yunji tidak peduli lagi jika pertanyaannya ini terkesan memohon.

Yunji tidak marah, melainkan memohon dan itu membuat Jonghyun berada di posisi yang sulit. Wajah gadis itu memucat dengan ekspresi yang sangat menyakitkan hati siapa pun yang melihatnya.

Jonghyun berpikir keras mencari alasan yang logis. Ia menemukan satu dan sepertinya memang inilah satu-satunya cara untuk bisa membuat Yunji tersakiti sehingga gadis itu akan segera melepaskannya.

“Cinta? Bukankah cinta seharusnya menghasilkan suatu kebaikan? Tapi ini sebaliknya. Kau..” Jonghyun menelan ludah seperti dipaksa menelan racun. “Kau yang menyebabkan orang tuaku meninggal. Apakah itu sebuah kebaikan?” bisik Jonghyun dingin.

Tepat sasaran. Ini alasan yang sangat logis. Terbukti dengan ekspresi Yunji yang amat sangat tersakiti dan terlihat bersalah. Mata dan hidungnya memerah. Jonghyun ingin sekali mengakhiri tingkah konyolnya ini dan segera memeluk Yunji. Tapi ia tidak bisa.

“Oppa aku―“

“Hubungan kita tidak akan pernah berhasil. Lebih baik kita sudahi saja. Kehadiranmu benar-benar membuatku selalu mengingat masa kelamku,” Jonghyun mengucapkannya lambat dan jelas. Matanya tampak dingin saat memandang Yunji, sementara Yunji menyerap semua perkataannya.

Sunyi sejenak.

“Ma-maafkan…” bisik Yunji, suaranya terdengar sangat kecil. Ia menunduk sambil mendekap laptopnya dengan erat.

“Jangan,” sela Jonghyun. “Jangan meminta maaf lagi. Aku muak.” Yunji terkejut mendengar pernyataan Jonghyun. Rasa sesak itu tiba dan sangat menyakitkan.

Yunji membuka mulut, namun pada akhirnya mengatupkannya kembali. Seperti itu berulang-berulang dalam beberapa waktu. Sampai akhirnya ia mencoba sekali lagi, “Ka-kalau itu yang kau inginkan―”

Jonghyun mengangguk sekali dan pergi meninggalkan Yunji, di saat kalimat yang diucapkannya belum berakhir. Yunji merasa tubuhnya lumpuh dan tak dapat merasakan apapun. Punggung yang perlahan semakin menjauh itu memberikan rasa sakit ekstra kepada hatinya. Tapi Yunji bahkan tak dapat menangis, ia berusaha untuk memendamnya.

Jonghyun terus melangkahkan kakinya menjauh dari kamar Yunji dan berhenti di taman rumah sakit. Napasnya tersengal-sengal walau jarak tempuhnya pendek, tapi itu karena ia menahan rasa sakit yang bergemuruh di dadanya. Jonghyun tidak ingin seperti ini. Rasanya ia ingin kembali dan memeluk Yunji, lalu berkata bahwa semua yang ia katakan tadi tidak benar. Tapi sekali lagi, ia tidak bisa.

 

TBC

 

#picture 1 found 0n weheartit

picture 2 found on google

17 thoughts on “[FREELANCE] Secret (Part 9)

  1. Makin complicated masalahnya, berarti jauh utk penyelesaiannya?
    Kayaknya di part ini jjong benci bgt sama jongmin, perasaan gue di part sebelumnya jjong ngerasa takut dan gamau nyakin jongmin.
    Dan yg donghae bilang “aku tunggu” dia kan orang jauh alias dokter alis orang yg gak akrab sama jjong, berarti pake bahasa formal kan? gue bingung pas lagi nulis ff korea, kalo bahasa formal ‘aku’ itu bkn ‘saya’ ya? ‘Saya’ di ff korea jarang bgt dipake, tapi kalo pake ‘aku’ kurang formal jatohnya.
    Oyia, pas jjong mutusin yunji disitu gada ortunya yunji kah?

    • Untuk pertanyaan tentang sikap Jonghyun ke Jongmin, pas banget jawabannya ada di part 10. Tenang aja gue udah memikirkan semuanya kok hahaha.

      Sebenernya pas bikin scene putus itu gue ga mikirin sama sekali keberadaan orang tuanya Yunji haha. Yaaa anggap aja gini: kalo ada orang tuanya mah Jonghyun ga bakal mutusin. Punya nyali sebesar apa dia mutusin anak orang di depan orang tuanya? Mau dibacok? haha

      Daaaan makasih banget ini gue baru nyadar lho dengan apa yang lo bilang tentang penggunaan ‘saya’ dan ‘aku’. Yang lo bilang bener banget. Untuk ke depannya akan gue perbaiki. Sekali lagi makasih yaaa🙂

  2. Emosi jiwa baca part yg ini..
    Jongmin bner2 troublemaker deh..
    o(¬ ¬”)–o *hakdesh jongmin..

    Yunjii sbar yh, jjong oppa psti bkal kmbli..

    Ditunggu part slanjutx saeng..🙂

  3. Mwo??berpisah??haruskah Jonghyun memilih cara sperti itu?andwae. . .
    Knp Jongmin gak d bkn mati aja.d rcun kek atau apa gt?
    Glek *reader sadis*
    part brikut’y mreka baikan lg kan?ya kan ya kan? *colek” bju author*
    d tnggu part brikut’y
    Fighting_

  4. Aahhkk. Sedih jong pisah ma yunji. Tpi nti balikan lge kn.
    Duh jdi pnasaran lnjutan’y. D tunggu yah thor. Tpi jngn lma2. Hehehehe.
    Daebak..lanjut thor…:-)

  5. jjong udh sembuh.. skrg giliran yunji yg sakit… aiiisshh jjong.. gemeeeesss knp g cerita aj sm yunjiiiiii…. pngen.nyubit nandits….

    itu jg gara2 jongmin sih… aduuhh knp g dipenjara aj dy itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s