Between Two Heart

Title                              : Between Two Heart

Author                        : Choi Haerin a.k.a Arien

Main Cast                  : Choi Haerin, Lee Donghae, Choi Minho

Support Cast           : Lee Jinki (Onew), Choi Jinhya

Length                         : Oneshoot

Genre                           : Life, Romance, Friendship

Rating                          : PG-15

A/N                  : Annyeonghaseyo.. sebenernaya aku gag tega buat publish ni FF, kekeke~ berhubung sudah tuntutan kerja yah apa boleh buat(?). ini FF pertama ku yang aku tulis sendiri,jadi harap maklum yah kalo FF ini sungguh ancur. hajiman,untung saja ada nandit eonni (Kim Nara) yang bantu ngerapiin ni ff kalo gag gag tau deh apa jadinya. Buat nandit eonni jeongmal gamsahaeyo J . Sebelumnya aku sudah nulis FF hey! I’am kim ki bum bareng sii Tya a.k.a Choi Jinhya dan juga FF Story fan’s Boy IU yang aku tulis bareng Tya sama Dian a.k.a Kim Yura. Kritik dan saran sangaaaaaaaaaaattttt akuh butuhkan . happy reading *bow

AUTHOR POV

“A- Aku… ingin mengatakan sesuatu kepada Sunbae.“  ucap yeoja itu dengan gugup.

“Mwo?” tanya namja yang bernama Lee Donghae itu.

“Saranghae.” ucap yeoja itu spontan. Ia sedikit berteriak sambil memejamkan matanya untuk mengurangi rasa gugup yang dirasakannya.

Hening.

Tidak ada suara yang terdengar dari Donghae. Yeoja itu pun membuka matanya. Donghae hanya menatapnya dingin dengan ekspresi wajah yang datar.

“Mian. Aku seorang bintang sekolah dan kau bukan tipeku.” Donghae berhenti sejenak, masih menatap yeoja itu dengan tatapan dinginnya. “Dan juga, aku tidak suka dengan sikapmu selama ini yang sangat menggangguku. Mulai saat ini jangan pernah menggangguku lagi. Ara?” lanjutnya lagi.

JLLLEEBBBBB!!!!

Bagaikan ditusuk ribuan jarum, hati yeoja itu remuk berkeping keping. Bulir-bulir air mata pun jatuh dari mata yeoja itu.

“Mianhae.. kalau sikapku selama ini membuatmu tidak nyaman. Jika itu memang yang Sunbae inginkan, aku akan berhenti… berhenti melakukan itu semua dan berhenti menyukai Sunbae. Mianhae..” Setelah mengucapkan itu semua Haerin langsung berlari dengan air mata yang membanjiri wajah manisnya menuju atap sekolah, tempat favoritnya ketika dia merasa sedih.

“Hiks… hiksss.. kenapa kau menolakku dengan cara seperti ini Oppa? Aku tahu aku bukan yeoja yang cantik, kaya dan populer seperti yeoja yang berada disekitarmu. Tapi setidaknya aku mempunyai cinta yang tulus untukmu, yang belum tentu diberikan oleh yeoja lain.” isak yeoja itu.

“Apa yang kurang dari perjuangan kerasku selama ini? Kenapa kau melupakanku begitu saja?” ucap yeoja itu disela-sela tangisnya.

Flashback

“Jamkkanmanyo chingudeul!” teriak seorang gadis kecil kepada teman-temannya sambil berlari di taman. Tiba-tiba…

BRUK

“Aaaaaawwww.” gadis kecil itu tersungkur dan lututnya mengeluarkan darah.

“Hwaaaa~~ darah… Eommaaaaaaaa….. huhuhu.” teriak yeoja kecil itu disertai airmata yang sudah membanjiri wajah lucunya.

“Neo..  gwaenchanha?” Tanya seorang namja kecil  yang kira-kira 1 tahun lebih tua.

“Aku takut darah.. hiks dan juga lututku sakit… hiks aku juga di tinggal teman-teman huhuhuhu.” ujar gadis kecil itu panjang lebar dan terbata-bata karena tangisannya. Namja kecil itu tersenyum kecil melihatnya.

“Kajja.” Namja kecil itu berjongkok di depan gadis kecil itu.

“Ha?“ Gadis kecil itu membulatkan matanya tanda tak mengerti.

“Naiklah, aku antar pulang. Lututmu kan terluka, pasti akan sulit sekali berjalan.“ Jelas namja kecil itu sambil menepuk-nepuk punggungnya sebagai tanda agar gadis kecil itu segera naik.

Dengan ragu, gadis kecil itu pun naik ke punggung namja kecil itu,

“Gomawo” bisiknya.

“Berpeganganlah yang erat.” Perintah namja kecil itu.

“Ne.” jawab yeoja kecil itu dengan senyum yang tulus.

“Rumahmu di mana?”

“Rumahku di kompleks SHINee no. 25.”

“Oh.. berarti tidak jauh dari sini.”

“Umurmu berapa? Tanya yeoja kecil itu

“Aku berumur 8 tahun.”

“Wah berarti aku harus memanggilmu Oppa karena aku berumur 7 tahun.” ucap yeoja kecil itu dengan semangat.

“Memang siapa yang tanya umurmu??”  Goda namja kecil itu sambil menahan tawa, membuat gadis kecil itu mengerucutkan bibirnya.

Kyeopta, batin namja kecil itu.

“Ah ya.” Gadis kecil itu teringat sesuatu. “Namamu siapa, Oppa?” Tanya yeoja kecil itu dengan ceria.

“Kau panggil saja Hae. Nama lengkapku Lee Donghae. Bagus bukan namaku? Hahahaha.”

“Hahaa dasar namja narsis. Ah igeo!! Itu rumahku, Oppa” Gadis kecil itu menunjuk ke sebuah rumah megah berwarna putih

“Jja.. sudah sampai. Masuklah.” Kata Donghae ketika menurunkan gadis kecil yang ditolongnya itu.

“Ne~ gomawo.“

“Ne ne~ dari tadi kau berterimakasih terus.” Katanya sambil mengacak-acak rambut gadis lucu di hadapannya ini.

“Igeo.” Gadis kecil itu mengulurkan sebuah gelang  dengan inisial “CH” pada Donghae kecil.

“Mwoya?” Donghae memiringkan kepalanya dengan tatapan bertanya.

“Ini sebagai tanda terima kasih karena kau telah menolongku. Simpan baik-baik ya, jangan sampai hilang. Itu gelang kesayanganku. Yaksok? “ Yeoja kecil itu mengulurkan jari kelingkingnya ke Donghae.

“Yaksok.” Donghae pun melingkarkan jari kelingkingnya ke jari yeoja kecil itu disertai dengan senyum menawannya. “Kalau begitu ini untukmu. Terimalah” Donghae melepaskan kalung dengan bandul yang bertuliskan “FISHY” dan menyerahkan pada gadis kecil yang bernama Haerin.

“Gomawo Oppa.” ucap Haerin yang kemudian mencium pipi Donghae kilat. Donghae mematung sambil memegangi pipinya. Memanfaatkan kesadaran Donghae yang belum pulih sepenuhnya, Haerin pun segera berlari ke dalam rumah. Tentu saja karena gadis kecil itu malu.

Setelah kejadian itu, Haerin selalu ke taman, tempat pertama kali ia bertemu dengan Donghae. Ia terus menunggu kehadiran Donghae tetapi namja kecil itu tidak pernah muncul.

Gadis kecil itu baru mengetahui kemudian kalau ternyata Donghae telah pindah ke Seoul.

Flashback end

8 tahun kemudian.

“Eomma,  Haerin berangkat dulu ya. Eomma annyeong.” Kata Haerin kepada ibunya.

Ya, Choi Haerin nama yeoja itu. Ia adalah siswi di SM High school. Haerin memutuskan pindah sekaligus bersekolah di Seoul demi seorang namja kecilnya….. Lee Donghae .

Haerin selau mencari info tentang Donghae selama ini, hingga setelah lulus SMP dia memutuskan untuk bersekolah di Seoul, tepatnya di sekolah yang sama dengan Donghae.

Haerin tumbuh menjadi yeoja yang kuat dan ceria, sangat berbeda 360 derajat dibandingkan haerin kecil yang manja dan cengeng.

Sejak masuk ke sekolah yang sama dengan Donghae, Haerin selalu mengikuti semua info yang ada hubungannya dengan Donghae. Jelas saja mudah mendapatkan info tentang Donghae karena ia adalah siswa yang sangat populer.  Semua yeoja mengelu-elukannaya dan memperebutkan hati Donghae. Dimana ada Donghae selalu ada yeoja-yeoja yang mengelilinginya.

BRRUUUKKKK ~!!!

“Aduh… mian, mian.”  Ucap Haerin seraya membetulkan pakaian yang berantakan tanpa melihat siapa yang ia tabrak.

“Ah sudahlah gwaechanha.. Aku tidak apa-apa.” kata Donghae cuek dan langsung meninggalkan Haerin yang mematung.

Mata Haerin melihat sebuah gelang yang tak asing baginya, tergeletak begitu saja di lantai. Gelang berinisial “CH”.

“Cheogiyo, apa gelang ini punyamu?”

Seketika Donghae menoleh dan menghampiri Haerin.

“Ne. Ini punyaku.“ Namja itu mengambil sebuah gelang di tangan Haerin.

“CH?? Apa itu nama inisialmu, Sunbae?” tanya Haerin

“Bukan. Ini inisial seseorang.” Jawabnya singkat.

“Yeojachingumu? Tanya Haerin bersemangat               .

“Itu bukan urusanmu.” Donghae menjawabnya dengan ketus karena merasa terganggu dengan Haerin yang terlalu banyak tanya.

Tapi Haerin tak pantang menyerah. Ia terus membuntuti Donghae dengan pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkannya. Hal itu terjadi tidak hanya hari itu saja, tapi di hari-hari selanjutnya Haerin selalu menemui Donghae. Ia bercerita lucu, melakukan hal konyol dan melakukan hal lain yang tidak penting. Itu semua ia lakukan hanya untuk menarik perhatian namja kecil yang selama ini sangat dirindukannya.

Meskipun Donghae selalu cuek dan terlihat sedikit risih karena sikap Haerin yang mengganggu, tapi Haerin tak mempedulikan itu semua. Tak jarang juga Haerin menunjukkan perhatiannya kepada Donghae. Sikap dingin Donghae membuat Haerin merasa tertantang untuk bisa merebut hati Donghae. Namja itu sangat terganggu dengan sikap Haerin yang selalu mendekatinya sehingga Donghae selalu mengabaikannya. Padahal Haerin sendiri sangat tulus kepada Donghae. Seperti hari ini. Meski hari ini Haerin terlambat, ia menyempatkan diri ke kelas Donghae untuk sekedar mengucapkan selamat pagi.

HAERIN POV

“Hosh hosh..” Nafasku menderu mengiringi langkahku menuju kelas Donghae Oppa.

“Annyeong Sunbae~ selamat pagi . Apa semalam tidurmu nyenyak?” Aku menyunggingkan senyum terbaikku ketika menyapa Donghae Oppa.

“Cih mau apa kau pagi-pagi ke sini dengan tampangmu yang tidak karuan begitu? Dan sama sekali bukan urusanmu apakah semalam aku tidur dengan nyenyak atau tidak.” Jawab Donghae Oppa ketus.

“Hehehe..”  Aku hanya terkekeh sambil memperlihatkan gigi kelinciku. Walaupun sebenarnya hatiku merasa sakit T.T

“Ah! Ini untuk Sunbae” Aku memberikan kotak makan dan sepucuk surat yang secara tidak sadar telah menjadi rutinitasku setiap pagi, sejak dua minggu yang lalu. Karena  dua minggu yang lalu adalah hari di mana aku memutuskan untuk mengejar cintaku .

Setelah memberikan bekal dan surat, aku langsung menuju kelasku .

Tap. Tap. Tap. Bunyi sepatuku menggema di lorong sekolah ketika aku terburu-buru menuju kelasku. Dengan terengah-engah aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru kelas. “Fiuh ternyata Kang Seonsaengnim belum datang.” Kataku sambil menghembuskan napas lega lalu berjalan gontai ke tempat dudukku.

“Ya ! Apa kau habis menemui Sunbae songong dan sok tampan itu lagi? ” tanya Jinhya, salah satu sahabatku selain Minho.

“Dia memang tampan, Jinhya.” Belaku.

“Cih, masih sempat membela namja sok itu. Lihat penampilanmu yang benar-benar berantakan. Dan itu semua karena namja pujaanmu itu.” Jinhya berkata dengan gusar.

“Aish sudahlah Jinhya-ya. Aku yakin suatu saat Hae Sunbae akan mempunyai perasaan yang sama denganku.”

“Kapan? Nunggu lebaran monyet?.”

“Ya! Mana ada lebaran monyet? Ish kau ini, bukannya memberi semangat malah mengejek. Dasar. Kau temanku atau bukan sih?” Jinhya hanya terkekeh mendengar umpatanku. Aish jinja, teman macam apa dia T.T kataku dalam hati.

HAERIN POV END

**

DONGHAE POV

Ring Ding Dong Ring

Bel istirahat berbunyi . Aku memasukan buku-buku yang di atas meja dan pandanganku tertuju pada amplop berwarna sapphire blue yang terjatuh di samping kakiku .

Kubuka surat itu dan ternyata isinya tetap sama.

[ Donghae Sunbae joahae J]

Hah! Dasar yeoja pabo. Tapi entah mengapa kedua ujung bibirku tertarik ke atas membentuk seulas senyum kecil .

“Ya! Hae~a kenapa kau, huh? Kajja kita ke kantin.” Ajak Eunhyuk sambil menyeret tanganku paksa.

“Aish jinjja, dasar monyet! Seenaknya saja menarikku.” Umpatku kesal.

DONGHAE POV END

**

AUTHOR POV

“Sunbae!” seru Haerin ketika melihat Donghae memasuki gerbang sekolah.

“Aigooo bocah ini lagi.” keluh Donghae.

“Ini untuk Sunbae. Kau pasti belum sarapan kan?” Ujar Haerin seraya menyodorkan kotak bekal kepada Donghae.

“Gomawo.” Donghae mengucapkan satu kata itu dengan nada suara yang dingin dan ekspresi datar, kemudian meninggalkan haerin begitu saja. Haerin menghela napas, tapi kemudian ia tersenyum tulus.

**

“Minho~ya.” Haerin menghampiri teman sebangkunya sekaligus sahabatnya itu.

“Mwo?“ Minho menatap Haerin dengan mata keroronya sambil membuka botol minum lalu meneguk isinya.

“Aku ingin menyatakan cintaku ke Donghae Oppa besok.”

“uhuk … uhukkk…” Minho hampir menyemburkan air yang berada di dalam mulutnya karena terlalu terkejut dengan pernyataan Haerin.

“Kau serius??” Tanya Minho tak percaya.

“Ne~~ duarius malah hahahaa.”

Keesokkan harinya

“Sunbae bisakah kau datang ke belakang sekolah waktu istirahat nanti?” Tanya Haerin kepada Donghae yang sedang berjalan bersama temannya

“Kenapa aku harus datang?” kata Donghae dengan tampang super ketus karena merasa terganggu dengan Haerin.

“Ada yang ingin aku katakan. Ini penting sekali.”

“Hmm..“ Donghae terlihat berpikir sebentar. Ia melihat keseriusan di mata gadis itu dan ia penasaran dengan apa yang akan dikatakan Haerin.

“Baiklah, Saat istirahat kan?” Ia pun memutuskan untuk datang.

“Ne~”

“Sudah selesai kan bicaranya? Pergilah.” perintah Donghae kepada Haerin dengan nada yang jutek.

“Ne.” Haerin menjawab dengan lemah, terlalu kecewa dengan sikap Donghae.

AUTHOR POV END

**

DONGHAE POV

“Sudah selesai kan bicaranya? Pergilah.” ucapku pada Haerin. Aisshh sebenarnya aku tak tega berbicara seperti itu. Tapi aku tidak ingin imageku hancur di depan teman-temanku.

“Ne.” Suara Haerin terdengar kecil dan lemah. Kurasa dia kecewa.

Hmm kira-kira apa yang ingin dibicarakan yeoja pabo itu kepadaku?

DONGHAE POV END

**

AUTHOR POV

Waktu istirahat, di belakang sekolah

“A- Aku… ingin mengatakan sesuatu kepada Sunbae.“  ucap Haerin dengan gugup. Dan tanpa di sadarinya seorang Minho sedari tadi telah mengikutinya.

“Mwo?” tanya Donghae.

“Saranghae.” ucap Haerin spontan. Ia sedikit berteriak sambil memejamkan matanya untuk mengurangi rasa gugup yang dirasakannya.

Hening.

Tidak ada suara yang terdengar dari Donghae. Haerin pun membuka matanya. Donghae hanya menatapnya dingin dengan ekspresi wajah yang datar.

“Mian. Aku seorang bintang sekolah dan kau bukan tipeku.” Donghae berhenti sejenak, masih menatap Haerin dengan tatapan dinginnya. “Dan juga, aku tidak suka dengan sikapmu selama ini yang sangat menggangguku. Mulai saat ini jangan pernah menggangguku lagi. Ara?” lanjutnya lagi.

JLLLEEBBBBB!!!!

Bagaikan ditusuk ribuan jarum, hati Haerin remuk berkeping keping. Bulir-bulir air mata pun jatuh dari mata Haerin.

“Mianhae.. kalau sikapku selama ini membuatmu tidak nyaman. Jika itu memang yang Sunbae inginkan, aku akan berhenti… berhenti melakukan itu semua dan berhenti menyukai Sunbae. Mianhae..” Setelah mengucapkan itu semua Haerin langsung berlari dengan air mata yang membanjiri wajah manisnya menuju atap sekolah, tempat favoritnya ketika dia merasa sedih.

“Hiks… hiksss.. kenapa kau menolakku dengan cara seperti ini Oppa? Aku tahu aku bukan yeoja yang cantik, kaya dan populer seperti yeoja yang berada disekitarmu. Tapi setidaknya aku mempunyai cinta yang tulus untukmu, yang belum tentu diberikan oleh yeoja lain.” isak Haerin.

“Apa yang kurang dari perjuangan kerasku selama ini? Kenapa kau melupakanku begitu saja?” ucap Haerin  disela-sela tangisnya.

“Haerin~a uljima. Tiba-tiba Minho keluar dari persembunyiannay (?) .

“Lupakan saja Donghae Hyung, masih banyak namja yang lain. Dia tidak pantas untuk kau tangisi.“ Lanjut Minho menasehati Haerin seraya memeluk gadis itu, menenangkannya

“Hajiman Minho-ya. Neo ara?? Bagaimana pun Donghae adalah cinta pertamaku. Jadi tidak semudah itu melupakannya begitu saja. Aku butuh waktu tapi sepertinya tidak sekarang karena aku terlalu mencintainya.” Jawab Haerin yang masih terisak-isak.

Minho mengepalkan tangannya untuk menahan amarah yang sudah sampai puncak. Namun itu semua sia-sia.

“KEUMANHAE HAERIN-AH, KEUMANHAE!” Bentak Minho. Haerin tersentak sambil memandang Minho dengan ekspresi ketakutan. Baru kali ini ia melihat Minho semarah itu.

“Tak bisakah kau berhenti memikirkan Donghae Hyung, ha? Selama ini yang ada di pikiranmu hanya DONGHAE DONGHAE DONGHAE dan DONGHAE!! Tak pernahkah kau memikirkan orang-orang yang ada di sekitarmu? Cobalah sekali saja Haerin-ah, kau pikirkan orang-orang yang selalu ada untukmu.”  Haerin hanya menunduk tak berani menatap Minho.

“Mianhae Minho-ya..” ucap Haerin pelan. Minho menghela napas sambil memejamkan matanya dan langsung pergi meninggalkan Haerin begitu saja.

“Hwaa mian Minho-ya.. Kenapa kau begitu marah?” isak Haerin yang kemudian menutup wajahnya yang basah karena air mata.

Keesokan harinya

“Haerin-aaah ireona palliiiii!” Teriak Minho seraya menarik selimut Haerin. Ya, jangan heran Minho bisa masuk begitu saja ke kamar Haerin karena Minho adalah sahabat Haerin sejak masuk SMP. Tak heran jika dia bisa keluar masuk rumah Haerin. Haerin hanya menggeliat sedikit lalu melanjutkan tidurnya lagi.

Minho meniup rambut di keningnya sendiri, kesal dengan yeoja yang sulit sekali dibangunkan. “YA!!! Choi Haerin ironaaaaaa!!” Minho semakin mengeraskan suaranya.

“Aduh… Minho-ya, apa yang kau lakukan huh??” Tanya Haerin yang kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya. Namun ia juga merasa lega karena Minho tidak lagi marah seperti kemarin.

“Aigoo.. kau harus bangun. Hari ini kita ke Lotte World, Choi Haerin pabo.”

“MWOOOOOO? jinjjayo?” Seketika Haerin langsung bangun dari tempat tidurnya.

“Ne. Itu untuk menebus kesalahanku kemarin karena sudah marah-marah padamu.” Ujar Minho sambil menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Gwaenchanha, yang penting sekarang kita ke Lotte World. Yuhuuuuuu~~~ Minho kajja.” Haerin menarik tangan Minho tapi Minho menahannya.

“Mau kemana kau?”

“Katamu kan kita mau ke Lotte World???” kata Haerin dengan polosnya.

“Ck.. dasar pabo.” Cela Minho seraya mendorong kening Haerin dengan telunjuknya.

“Waeyoooo??” Haerin berkata sambil mengusap-usap keningnya dengan ekspresi kesal karena keningnya terasa sedikit sakit akibat tindakan Minho

“Apa kau akan ke Lotte World dengan piyamamu itu dan dalam keadaan belum mandi?” Haerin langsung memandang ke arah piyamanya dan tersenyum salah tingkah “Hihihii iya aku lupa kalau aku belum mandi. Hahahhahahahaha” Haerin tertawa garing ketika menyadari kebodohannya dan langsung menuju kamar mandi.

*ke Lotte Wordnya skip aja yah* kkkkee~

“Minho-ya” Panggil Haerin manja. Yeoja itu memang selalu bersikap manja kepada Minho. Entah kenapa dari dulu Haerin selalu merasa nyaman ketika bersama Minho.

“Jeongmal gomawoo~~” Haerin berkata manja kepada Minho sambil mengeluarkan aegyonya “Untuk ???” Tanya Minho dengan gayanya yang sok cool.

Haerin melirik tajam ke arah Minho yang berusaha menahan tawa.

“Ya karena sudah mengajakku jalan-jalan. Aku senang sekali. Kau selalu tau cara untuk menghiburku. Gomawoyo.” Kata Haerin, kali ini lebih serius.

“Hahaa.. gwaenchan–” Kata-kata Minho terhenti ketika Haerin tiba-tiba memeluknya.

“Jeongmal gomawo Minho-ya, mian kemarin aku sudah membuatmu marah.”

“Gwaenchana Haerin-ah, seharusnya aku yang minta maaf karena aku sudah marah-marah tak jelas padamu.” Ujar Minho seraya mengelus lembut rambut yeoja itu.

“Aku janji, mulai sekarang aku akan melupakan Donghae. Aku tidak akan memikirkannya lagi.” Seiring dengan kata-kata yang baru saja diucapkan Haerin, cairan bening keluar begitu saja tanpa diperintah dari mata indah gadis itu.

**

Donghae mulai merasa ada sesuatu yang hilang setelah kejadian di belakang sekolah beberapa hari yang lalu. Sejak kejadian itu, ia tak pernah melihat Haerin, tidak pernah ada lagi yang merecoki dan menganggunya. Seminggu ini ia sudah menolak 14 yeoja yang menyatakan cinta padanya. Itu semua dilakukan karena satu alasan, karena dia menunggu yeoja masa kecilnya. Entah kenapa, sejak kedatangan Haerin dia merasakan sesuatu yang berbeda. Ia merasa sudah lama mengenal Haerin. Hingga akhirnya ia menyadari bahwa dia telah jatuh cinta pada Haerin. Sayangnya Donghae adalah tipe namja yang memiliki gengsi yang tinggi hingga ia selalu berusaha untuk menghiraukan perasaannya itu ditambah karena alasan bahwa ia juga masih ingin menunggu teman semasa keilnya itu. Tapi entah apa yang diperbuat Haerin hingga akhirnya meruntuhkan pertahanan Donghae.

Suatu ketika Donghae pun mengetahui bahwa Haerin adalah teman semasa kecilnya.

“Ya!! Minho-ya tunggu!” Teriak Haerin di tengah lorong sekolah sambil mengejar Minho yang mengacung-acungkan sebuah surat. Minho baru saja mengambil surat dari loker Haerin, sepertinya dari pengagum rahasia yeoja itu. Tapi…..

DUUAAAAGGHHH!!

“Aduh.. kakiku.“ Rintih Haerin sambil memegangi bootsnya

“YA!!!! Neooo…” Ucapan Haerin berhenti ketika melihat orang yang menabraknya tadi adalah Donghae.

“Mian.” Ucap Donghae canggung.

“Ah.. Ne Gwaenchanha.” Ucap Haerin yang langsung meninggalkan Donghae. Sepertinya Haerin benar-benar telah mantap untuk menjauhi dan melupakan Donghae.

Donghae mematung di tempat sambil menatap kepergian Haerin. Sebenarnya dia ingin sekali mengejar Haerin dan meminta maaf, tapi lagi-lagi hanya karena sebuah gengsi Donghae urung melakukannya.

“Aishhhh.. jinjja.. Lee Donghae pabo.” Gerutu Donghae sendiri sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Ketika dia mau beranjak dari tempat itu, Eunhyuk memanggilnya.

“Hae-ya jamkkanman.”

“Ne? Wae Hyuk?”

“Sepertinya ini milik yeoja yang bertabrakan denganmu tadi.” Eunhyuk menyerahkan kalung yang bertuliskan “FISHY” kepada Donghae.

“FISHY?” Gumam Donghae. Ia membelalakkan mata ketika menyadari sesuatu. Tanpa pikir panjang Donghae pun mengejar Haerin. Donghae mencarinya di setiap sudut sekolah. Langkah Donghae berhenti ketika melihat yeoja yang sedang bergurau dengan temannya. “Senyumnya benar-benar manis. Kenapa aku baru menyadarinya?”  ujarnya pelan, bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman. Donghae segera menghampiri haerin

“Haerin-ah.” Panggil Donghae pada Haerin yang sukses membuat yeoja itu shock. Mwo? Seorang Donghae tiba-tiba mencariku?, ucap Haerin dalam hati tak percaya.

“Ne?” jawab Haerin dengan mimik wajah yang tak bisa digambarkan.

“Apa ini milikmu?” Donghae menyerahkan kalung yang bertuliskan FISHY itu.

“Ah ne, Sunbae” Haerin menjawabnya dengan kikuk. Dalam hati Haerin timbul pertanyaan apakah Donghae sudah mengetahui siapa aku?? Apakah dia akan marah?

Jantung Haerin seolah meloncat keluar ketika tiba-tiba Donghae memeluknya erat. “Mengapa kau tidak beritahu ku yang sebenarnya kalau kau adalah yeoja kecilku yang selama ini aku tunggu? Kau tau? Aku sangat merindukanmu, Haerin-ah.”

Haerin hanya diam tanpa kata, ia mematung di dalam pelukan Donghae karena masih tidak mempercayai apa yang telah terjadi sekarang. Donghae merindukannya, bahkan Donghae memeluknya. Oh My God!! Mimpi apa aku semalam.

“Mian, Sunbae.” Hanya kata-kata itu yang bisa dikatakan Haerin.

Donghae seketika merenggangkan pelukannya dan menatap mata Haerin dengan intens “Mwo? apa hanya kata ‘maaf’? Enak saja.” Kata Donghae dengan evil smilenya

“Mm..wwwoo? Memang apa yang aku inginkan, Sunbae?” Wajah Haerin sudah memperlihatkan kecemasannya. Ia sudah membayangkan kalau Donghae akan membullynya.

“Mulai sekarang kau harus memanggilku Oppa, dan kau harus menemani jalan-jalan selama sebulan ini. Ahahhahahaa.”

Haerin membulatkan matanya “MWO??? Sebulan?”

“Wae? Kau tak mau? Semua yeoja menginginkannya, ini kesempatan langka tau. Apa lagi seorang Lee Donghae langsung yang memintamu.” katanya dengan penuh percaya diri.

“Aigoo ternyata tingkat kepercayaan dirimu tinggi sekali.” Kata Haerin dengan nada mengejek dan melengos pergi begitu saja. Donghae pun langsung mengejar Haerin.

“Ya!! Mau kemana  kau?” Herin tak menjawabnya, dia malah lari ketika mengetahui Donghae mengejarnya .

Tanpa sepengetahuan mereka, ada sepasang mata yang penuh dengan kesedihan yang memperhatikan. “Kalau kau memang bahagia dengannya, aku rela Haerin-ah. Aku akan melepasmu, aku akan berusaha melupakanmu.”

Setelah kejadian Donghae memeluk Haerin, keesokannya SM High School banjir akan air mata, tentu saja semua fans Dongahe patah hati karena hal itu. Sementara itu Donghae dan Haerin semakin hari semakin dekat, kemana-mana selalu berdua. Sementara Minho mulai menjaga jarak dengan Haerin.

“Ya, Kodok!” Haerin berusaha mengejutkan Minho. Tapi sepertinya usaha Haerin tidak berhasil, Minho hanya memasang muka datar tanpa ekspresi.

“Ya! Minho-ya waegeurae? Apa yang terjadi padamu belakangan ini?“

“Aku? Apa tidak salah?” Jawab Minho ketus.

“Maksudmu?” Tanya Haerin tak mengerti.

“Bukannya kau belakangan ini asyik dengan Donghae Oppamu itu? Hingga semua orang di sekitarmu tak kau hiraukan. Apa kau menganggap dunia ini hanya milik mu berdua? Menyebalkan.“ Minho langsung pergi meninggalkan Haerin yang terpaku oleh kata-kata Minho.

“Apa maksudmu Minho-ya? Aku tak bermaksud mengacuhkanmu hikss.. bogoshippeo” Ucap Haerin pelan dengan ciran bening keluar dari kedua kelopak matanya.

3 hari kemudian

“Minho-ya! Hosh, hosh, Neo ara? Besok Donghae Hyung akan menyatakan cintanya pada Haerin.” Ucap Onew sambil terengah-engah karena mengejar Minho.

“Keuraeso?” jawab Minho datar.

“Bukannya kau menyukai Haerin? Mengapa kau tak memperjuangkannya? Apa kau benar-benar merelakan Haerin menjadi milik Donghae Hyung? Ayoo lah Minhooooo…. Ini bukan seperti Minho yang aku kenal. Setidaknya kau harus melakukan sesuatu, jangan menyerah begitu saja Minho-ya.” Ucap si dubu panjang kali lebar. Minho hanya diam mencerna semua kata-kata yang diucapkan oleh Onew.

“NE!!!” Ucap Minho tiba-tiba yang sukses membuat Onew kaget.

“Ne..? Mwo?” Tanya Onew seraya mengerjab-merjabkan matanya

“Kau benar Hyung, aku harus memperjuangkan cintaku. Tak peduli Haerin mau menerimaku atau tidak.“ Minho mengguncang-guncangkan tubuh Onew dengan semangat.

Good” ucap onew manggut-manngut dan menacungkan jempolnya pada Minho.

“Hahhahaaa… Gomawo Hyung” Minho memeluk Onew dengan erat.

“Ya! Lepaskan kau mau semua orang mengira kita gay?” kata Onew panik sambil melepaskan pelukan Minho.

“Hahahhaa… yang mereka anggap gay kan kau Hyung, bukan aku.” Minho berlari seraya menjulurkan lidahnya kepada Onew.

“Ya!! Jinjja neo!!!! Mau kemana kau.“ Onew berkata dengan gusar kemudian mengejar Minho.

**

Donghae menunggu kedatangan Haerin dengan jantung yang berdebar-debar. Hari ini Donghae berada di restaurant mewah di hotel bintang lima. Dia akan menyatakan cintanya kepada Haerin dan menebus kesalahannya tempo hari yang telah menolak Haerin dengan kasar. “Aigooo~ kenapa  aku jadi gugup begini?” Donghae menggosok-gosokan tangannya yang dingin agar mengurangi rasa gugupnya.

“Mian Oppa aku terlambat.” Sebuah suara tiba-tiba mengalihkan pandangan Donghae.

“Ah.. Waesseo?” Donghae terpaku melihat Haerin yang sangat berdeda dari biasanya. Donghae memperhatikan Haerin dari atas sampai ke bawah.

Haerin mengikuti arah pandang Donghae dengan bingung. “Wae? Apa aku aneh, Oppa?”

“Ah aniyo. Neomu yeppeoyo.” Kata Donghae sehingga membuat Haerin tersipu malu.

“Duduklah.“ Donghae berdiri kemudian menarikkan kursi untuk Haerin.

“Gomawo.”

Setelah selesai makan, mereka mengobrol dengan asyiknya. Namun ekspresi Donghae berangsur serius.

“Haerin-ah.” Donghae membuka pembicaraan seraya menggenggam kedua tangan Haerin. Yeoja itu terkesiap pelan, terkejut dengan sikap Donghae dan ia pun menjadi kikuk.

“A-ada apa, Oppa?” nada suara Haerin terdengar gugup.

“Mianhae” Ucap Donghae sambil menunduk.

“Wae?”

“Karena sikapku tempo hari yang menolakmu dengan kasar.”

“Oh itu, gwaenchanha, aku sudah melupakannya.” Haerin melemparkan senyum kepada Donghae mengisyaratkan bahwa dirinya telah baik-baik saja.

“Oleh karena itu aku mengajakmu kesini untuk menebus semua kesalahanku.”

“Ne?” Haerin memiringkan kepalanya dengan tatapan bertanya

“Haerin-ah?” Donghae terlihat ingin mengutarakan sesuatu.

“Ne?”

“Maukah kau menjadi yeojachinguku?” Seketika Haerin membelalakkan matanya tak percaya. Bersamaan dengan itu suara yang tak asing memanggilnya.

“Haerin-ah”

“Minho-ya?? Neo.. Kenapa kau ada disini?”

“Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.” Donghae memandang Minho khawatir kalau Minho akan menggagalkan semua rencanannya.

“Saranghae.” Ucap Minho tanpa ragu, cepat, padat dan jelas.

“Minho-ya..” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Haerin saking shocknya.

“Aku menyukaimu sejak dulu, sejak pertama kali kita bertemu. Aku baru menemukan keberanian untuk menyatakannya padamu” Ucap minho seraya melirik Donghae.

Perasaan Haerin yang galau, dilema, dan bingung  bercampur menjadi satu.

“Mian, mian aku tidak bisa.” Ucapan Haerin membuat dua namja itu shock.

“Aku menyanyangi kalian berdua. Sulit untuk memilih, kalian sangat baik padaku. Untuk saat ini aku tidak bisa menentukan siapa yang aku pilih. Mian jeongmal mianhae.” Haerin tersenyum lemah menatap kedua namja di depannya, meminta pengertian.

————–END——————

Hahhaaaa… mian kalau endingnya geje, karena itu yang sedang aku alami,, bingung memilih antara minho dan donghae *siapa gw #plaaakkkk

33 thoughts on “Between Two Heart

  1. halo, reader baru nih🙂 lagi blog walking dan ketemu ff ini hehe.
    Ff nya bagus😀 cuma alurnya mungkin agak kecepetan tapi tetep keren ^^ ending gantungnya aku sukaaaa soalnya emang galau bgt harus milih siapa😄

  2. aigooo. ige mwoya ? oppaku duaduanya galau garagara haerin-yang ? ckck. itu yg galau bukan authornya, minhohae jg sama galaunya😀 . drpd mereka berdua, knpa gk sama si nyetnyet ?😀 . pan die jomblo thor.. hha.

    jinjja daebakiyooo ~

  3. wah,.. ff-nya udah lama yak? ._.
    reader baru (?) telah mncul._.
    endingnya gntung amat yak thor..
    tpi, sbnarnya kta sma thor,.. kalo di tembak sma 2 cowok kyk minhohae itu sulit milihnya-_- jdi kta cri org ke empat *eh-_-
    oke, skian curcol sya yah thor di commentnya😀

    keep writing😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s