[FREELANCE] SECRET (Part6)

Title : Secret – Part 6
Author : Kim Nara a.k.a Nandits
Main Cast : Kim Jonghyun, Han Yunji (OC)
Support Cast : Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Choi Minho, Lee Taemin, Yoon Insa
Length : Sequel
Genre : Life, Romance, Friendship
Rating : PG-15
Thanks To : Neni as my Beta-Reader


A/N : Annyeonghaseyo.. Berhubung ini FF pertamaku dan karena masih dalam tahap belajar, FF ini masih ter-influenced dari mana-mana: ada dari novel-novelnya Mbak Sitta Karina, ada dari drama, bahkan ada juga dari kehidupan nyata. Kritik dan saran yang membangun diterima banget lho. Happy reading

SECRET – Part 6
Kim Nara©2011 93Lines Blog, Freelance Author

Yunji mengangkat jarinya, menunjuk ke arah luka-luka di tubuh Jonghyun. “Oppa, itu…. kenapa?” Kemudian, Yunji mendekati Jonghyun untuk melihatnya lebih jelas.

Jonghyun terkejut dengan pertanyaan Yunji, terlihat dari matanya yang langsung membesar. Ia melirik ke tempat duduk yang tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang dan betapa bahagianya ia ketika melihat tasnya tergeletak di situ.

Jonghyun segera mengambil baju di dalam tasnya dan memakainya secepat kilat, lebih cepat daripada saat ia melepaskannya. Bodohnya ia hanya membawa kaos yang sleeveless dan memperlihatkan bagian atas lengannya yang juga terdapat luka-luka. Ia menyampirkan tas di sebelah bahunya, lalu ia beranjak ke arah Yunji dan menggandengnya.

“Dongwoo, Hyukjae, teman-teman, aku duluan ya.” Jonghyun berpamitan kepada teman-temannya sambil melambaikan tangan. Yunji berjalan agak di belakang Jonghyun, masih terpana dengan luka-luka yang saat ini terlihat jelas sekali di depan matanya. Tatapannya menyapu lengan kokoh Jonghyun yang masih menggandeng tangan mungilnya.

Mereka sampai di suatu tempat dengan banyak undakan anak tangga yang sering dijadikan tempat untuk bersantai oleh banyak mahasiswa karena pohon-pohon rindang di sekitarnya membuat suasana menjadi sejuk. Jonghyun berbalik dan menatap Yunji yang masih digandengnya. Terlihat Yunji masih mengamati luka-luka di lengan Jonghyun dengan tatapan sendu yang menggambarkan bahwa ia khawatir.

Jonghyun menghela napas kemudian mencoba tersenyum. “Lihat aku.” disentuhnya dagu Yunji dengan jari telunjuk dan ibu jarinya, kemudian ia mengangkatnya dan mempertemukan matanya dengan mata Yunji. “Nan gwaenchanha, geokjeongma (aku baik-baik saja, jangan khawatir).”

Yunji terdiam memandangi namja yang tengah tersenyum di hadapannya. Ditatapnya mata Jonghyun lekat-lekat, mencari secuil kebohongan di sana tapi tidak ada. Bagaimana bisa baik-baik saja kalau tubuhnya penuh luka seperti itu? Banyak hal yang dipikirkannya sehingga tanpa ia sadari kekhawatirannya mengalir keluar. Jonghyun dapat merasakannya tatkala genggaman yeoja ini mengeras di tangannya.

“Benar Oppa tidak apa-apa?” suara Yunji bergetar. Wajar kan kalau ia ingin menangis? Dari luar Jonghyun orang yang sangat ceria dan ramah. Mana mungkin ada orang yang tega menyakitinya dan meninggalkan banyak luka di tubuhnya?

Jonghyun tertegun melihat kekasihnya sudah hampir menangis seperti itu. Luka-luka itu sudah tidak sakit lagi dan yang tertinggal hanya bekasnya saja. Jonghyun bahkan sudah tidak memikirkannya lagi. Tapi Yunji… begitu terkejut sampai ingin menangis begini?

Ditariknya Yunji ke dalam pelukannya, kemudian ia membenamkan wajahnya di pundak mungil Yunji. Jonghyun membiarkan dirinya hanyut oleh wangi tubuh dan wangi rambut kekasihnya. Yunji dapat merasakan pelukan Jonghyun yang erat, seolah memuntahkan semua kekalutan dan depresi yang mungkin saja sedang dirasakan namjachingunya ini. Yunji pun mempererat pelukannya terhadap Jonghyun, diremasnya ujung baju Jonghyun.

“Jangan dipikirkan lagi ya? Aku benar-benar tidak apa-apa.” Jonghyun berkata pelan di pundak Yunji hingga Yunji dapat merasakan hembusan napas Jonghyun yang hangat menyapu lehernya. Yunji mengangkat tangannya, kemudian mengelus punggung Jonghyun dengan lembut. Berharap semua kekalutan Jonghyun bisa menghilang dengan sentuhannya itu.

Jonghyun melepas pelukannya kemudian menatap Yunji dengan senyuman lembut yang khas sekali. Yunji terlihat menimbang-nimbang sesuatu, akhirnya ia pun bertanya kepada Jonghyun “Oppa, bisakah kau memberitahuku dari mana kau mendapatkan luka itu?”

“Lain kali akan kuberitahu. Ayo kita pergi. Minho dan Key menunggu kita di cafeteria.” Jonghyun menggandeng tangan Yunji lembut.

**

“Chagiya~, sudah keluar kelas belum?”

“Iya Oppa, ini baru saja keluar.” Yunji semakin mendekatkan handphone ke telinganya. Maklum, kalau kelas baru saja selesai, suasana jadi ribut sekali.

“Oke, aku tunggu di lobby ya.” Jonghyun pun ikut mendekatkan handphone ke telinganya.

“Oppa, sekarang aku mau ke toko buku. Ada yang harus aku beli. Oppa pulang duluan saja.”

Jonghyun mengerutkan keningnya. “Yasudah aku akan mengantarmu kalau begitu. Lebih baik aku bersamamu daripada di rumah tidak ada yang bisa ku kerjakan.”

“Geurae. Aku ke lobby sekarang ya.”

Tidak sampai lima menit, Yunji sudah sampai di lobby. Ia melihat Jonghyun sedang bersandar di dinding, menunggunya di salah satu sudut lobby sambil mendengarkan lagu dari Ipodnya. Ia kemudian menepuk pundak namja itu. “Oh sudah sampai, cepat sekali. Memangnya kamu mau beli apa?” kata Jonghyun sambil melepaskan headsetnya.

“Nanti saja aku ceritanya. Sekarang berangkat yuk, aku juga harus cepat-cepat pulang. Ppali kaja.” Yunji menarik paksa Jonghyun yang masih belum beranjak juga.

“Arasseo, arasseo, sabar dong Yunji-ah. Ini headsetku nyangkut, nih.” Jonghyun sibuk melepaskan headsetnya yang tersangkut di resleting tasnya sendiri.

15 menit kemudian.

“Sepertinya kemana pun aku pergi, asalkan diantar oleh Oppa, aku akan sampai di tempat tujuan hanya dalam waktu 15 menit.” Ujar Yunji sambil melepaskan helm dan menyerahkannya kepada Jonghyun.

“Cepat kan? Hehehe.” Jonghyun terkekeh menanggapi pernyataan Yunji. Dirapikannya poni Yunji yang masih sedikit berantakan.

“Me~rong.” Yunji menjulurkan lidahnya kepada Jonghyun. “Ya tapi jangan sering mengebut begitu ah. Nanti bisa celaka.”

“Ne chagiya~ yang penting kan aku tidak lupa ngerem.” Jonghyun melirik spion motornya sambil membenahi rambutnya sendiri.

Yunji merasa kesal sendiri karena diacuhkan oleh Jonghyun. “Ck, pokoknya harus hati-hati, Oppaaaaa.” Kata Yunji yang kemudian mengerucutkan bibirnya.

Jonghyun tersenyum melihat tingkah yeojachingunya ini. “Arasseo, arasseo. Jangan cemberut lagi, awas bibirmu jatuh.” Lalu ia tarik Yunji ke pelukannya dengan gemas.

“Ih Oppa!” Yunji menghentakkan kakinya tanda sedang kesal

“Hahahahahaha.”

Mereka berdua pun memasuki toko buku yang cukup besar itu. Tanpa dikomando, Jonghyun langsung nyelonong ke deretan rak bagian musik. Sementara Yunji berkutat di bagian stationery dan menghabiskan waktu cukup lama di situ. Berhubung Jonghyun tidak memerlukan apa pun dan ia sudah bosan melihat-lihat, akhirnya ia menghampiri Yunji yang sibuk memilih-milih barang yang akan ia beli.

“Yunji-ah, buat apa kamu beli glitter begini?” Jonghyun mengambil botol kecil yang dipegang Yunji, mengangkatnya kemudian mengamatinya.

“Terus apa lagi nih? Kamu beli kertas daur ulang juga?” Jonghyun masih saja merecoki kekasihnya yang masih sibuk memilih-milih.

Yunji akhirnya tidak tahan dengan Jonghyun yang menganggunya terus. “Aduh Oppa cerewet deh. Lebih baik Oppa bantu aku ambilkan lem yang mereknya UHU, tuh di sebelah sana.” Yunji mengacungkan jari telunjuknya ke arah rak yang terletak di pojok. (gatau ya di Korea beneran ada lem UHU apa gak haha)

Akhirnya setengah jam kemudian Yunji selesai memilih barang yang akan ia beli. Yunji berjalan menuju kasir sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru toko buku. Ah, itu dia Jonghyun Oppa, tidak sampai lima menit Yunji sudah menemukan kekasihnya itu. Yunji sudah hapal sekali dengan bentuk tubuh dan warna rambut Jonghyun.

**

Yunji memasukkan password kemudian masuk ke dalam apartemennya diikuti oleh Jonghyun yang membawakan belanjaan Yunji.

“Mau minum apa, Oppa?” Yunji meletakkan tasnya di ruang tamu kemudian berjalan ke dapur.

“Minum apa aja deh asal pake cinta.” Jonghyun menghempaskan dirinya ke sofa empuk ruang tamu Yunji. Kakinya pegal dan badannya seperti remuk.

Yunji merinding mendengar kata-kata Jonghyun. “Oppa kalau sudah capek pasti ngelantur begitu.”

Yunji membawakan dua gelas kosong beserta satu botol besar jus jeruk. Setelah menaruhnya di meja, ia duduk di karpet sambil membongkar semua belanjaannya.

“Jadi kamu ingin membuat apa dengan semua yang kamu beli?” Jonghyun menuangkan jus jeruk ke dua gelas kosong itu, kemudian ia duduk di sebelah Yunji dan menyerahkan salah satu gelas yang sudah terisi jus jeruk.

“Gomawo Oppa.” Yunji meminumnya kemudian kembali berkutat dengan segala macam pernak-pernik itu. “Lusa adalah ulang tahun perkawinan Eomma dan Appa. Aku ingin memberikan hadiah untuk mereka tapi aku tidak ingin hal yang biasa. Jadi aku ingin membuatkan mereka story book yang aku bikin sendiri.”

Merasa tertarik dengan ide Yunji, Jonghyun mulai ikut membongkar dan memperhatikan satu per satu barang yang ada di hadapannya. “Lalu story book itu nanti isinya apa?”

“Aku akan mengisinya dengan foto-foto mereka ketika bertemu, menikah, mempunyai anak, kemudian aku juga akan menulis surat yang mengungkapkan rasa terima kasihku karena mereka sudah melahirkanku dan membesarkanku hingga saat ini.”

Jonghyun terdiam sesaat, menunduk, kemudian ia tersenyum dengan tatapan sendu. “Andai aku bisa melakukan hal itu juga untuk orang tuaku.”

Yunji tertegun. Tidak seharusnya ia meminta Jonghyun membantunya melakukan hal seperti ini. Kini Jonghyun terlihat sedih, his shoulders look down. Ia menatap Jonghyun yang sedang memainkan seutas tali di tangannya.

“Mianhae Oppa..” Yunji melihat Jonghyun dengan tatapan yang sedih.

Jonghyun mengangkat kepalanya, kemudian tersenyum manis. “Aniya Yunji-ah. Aku akan membantumu. Arasseo?”

Yunji menghela napas pelan, kemudian ia mengangguk dan tersenyum. Semoga dengan membantuku, rasa rindu Oppa dengan orang tuanya bisa terobati, kata Yunji dalam hati.

Yunji mulai memberikan instruksi kepada Jonghyun untuk menggunting, melipat kertas atau menempelkan sesuatu. Sesekali Yunji akan mengalihkan perhatiannya sebentar dari tulisannya untuk memeriksa ‘tugas’ yang diberikannya kepada Jonghyun.

“Oppa, bukan seperti itu melipatnya.” Yunji mengambil kertas di tangan Jonghyun kemudian memperlihatkan cara melipat yang benar. “Begini Oppa.”

“Oh geurae, biar ku coba lagi.” Jonghyun kemudian mengambil kertas berikutnya dan melipatnya lagi.

“Ah Oppa kau salah lagiii, bukan begitu melipatnya.” Lagi-lagi Jonghyun salah melipat kertasnya sehingga Yunji kembali merebut kertas di tangan Jonghyun dan membetulkannya.

Jonghyun yang kesal karena selalu salah, akhirnya menyerah. “Ah molla, na anhalle. (aku tidak mau melakukannya lagi.)” Jonghyun melempar kertas yang bentuknya tidak karuan ke atas meja kemudian ia pun memilih duduk di sofa dan menonton TV. Yunji hanya mengangkat bahu dan kembali melanjutkan tulisannya.

Dua jam sudah Yunji berkutat dengan story book itu. Yunji menggerakkan punggungnya yang pegal. Dilihatnya jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam. “Omo, Oppa sudah malam. Kau tidak pu—“ kata-kata Yunji terhenti begitu saja ketika dilihatnya Jonghyun telah tertidur dengan posisi duduk di sofa ruang tamu.

Yunji berjinjit mendekati Jonghyun, kemudian ia mengguncangnya pelan. “Oppa, Oppa, bangun, kau harus pulang.” Tapi Jonghyun sama sekali tidak terbangun. Ia malah merubah posisinya menjadi berbaring.

Yunji tidak tega membangunkannya, dilihatnya raut wajah Jonghyun yang terlihat lelah. Kemudian Yunji menaruh bantal di bawah kepala Jonghyun dan menyelimutinya. Yunji menatap story book yang sedikit lagi selesai. Baiklah selesaikan sekarang, hwaiting Han Yunji! Yunji menyemangati dirinya sendiri.

Akhirnya story book itu pun selesai. Yunji memandang hasil karyanya dengan puas. Tiba-tiba ia mendengar sesuatu..

“Bukan aku Hyung.. Jangan salahkan aku.. Hentikan Hyung…”

Yunji menoleh ke arah Jonghyun. Kekasihnya berkata-kata dengan mata yang masih tekatup rapat. Nampaknya ia sedang bermimpi buruk, terlihat dari wajahnya yang begitu ketakutan. Jonghyun masih terlihat gelisah dalam tidurnya. Akhirnya Yunji menghampirinya.

“Ssshh, Oppa gwaenchanha.. gwaenchanha.. ssshh..” diusapnya kepala Jonghyun, dengan harapan dapat menenangkannya. Tidak lama kemudian Jonghyun kembali tertidur dengan tenang.

Yunji membetulkan selimut di tubuh Jonghyun. Pelan, diusapnya pipi Jonghyun yang lembut itu. “Oppa, waegurae? Ceritakanlah kepadaku semua yang membuatmu seperti ini.” Ditatapnya lengan Jonghyun yang penuh luka, meskipun saat ini tertutup oleh baju yang dipakainya, Yunji tidak akan pernah lupa letak luka-luka itu. Yunji membiarkan matanya terpejam saat menyapukan kecupan lama di kening Jonghyun.

**

Yunji membuka matanya perlahan ketika ia merasakan sinar matahari yang cukup menyilaukan menembus tirai jendela kamarnya. Malas sekali rasanya untuk bangun dari tempat tidurnya. Rasanya kasur dengan seprai bermotif strawberry itu mengalahkan gravitasi bumi sehingga membuatnya ingin berbaring terus di situ. Ia masih berbaring sambil menatap langit-langit, berpikir apa yang akan dilakukannya hari ini.

Tiba-tiba dia teringat bahwa Jonghyun semalam tidak pulang dan tertidur di sofa ruang tamunya. Yunji pun segera bangun, kemudian ia menyisir rambutnya yang sedikit berantakan. Dibukanya perlahan pintu kamarnya karena Yunji tidak ingin membangunkan Jonghyun yang mungkin saja masih tertidur.

Setelah pintunya sukses terbuka tanpa menimbulkan suara apa pun, Yunji berjingkat-jingkat menuju kamar mandi untuk menyikat giginya. Tapi ketika ia menoleh ke arah ruang tamu, ia tidak menemukan siapa-siapa di situ.

Yunji menegakkan tubuhnya kemudian menghampiri ruang tamu. Dilihatnya selimut telah terlipat dengan rapi yang ditumpuk bersama bantal yang semalam dipakai oleh Jonghyun. Yunji memiringkan kepalanya, bingung. Tapi kemudian ia mengangkat bahu dan memutuskan untuk segera mandi. Ketika ia melewati meja makan, dilihatnya ada sepiring sandwich dan segelas susu, serta sebuah memo berwarna biru.

Morning chagi~
Maaf ya semalam aku ketiduran di sini
Aku harus pulang sekarang karena aku ada kuliah pagi ini
Tadi aku tidak tega membangunkanmu untuk sekedar berpamitan
Aku sudah menyiapkan sarapan untukmu, dimakan ya
Saranghae ♥

Yunji tersenyum membaca memo yang ditulis Jonghyun itu. Diliriknya sandwich yang bentuknya tidak terlalu cantik itu. Ia pun mengambil sepotong dan memakannya, setelah beberapa kali mengunyah ekspresinya berubah karena terkejut. Hmm.. mashitta! Ternyata penampilan belum bisa mewakili rasa sandwich bikinan Jonghyun.

**

Yunji bersembunyi di balik dinding ketika dilihatnya Jonghyun keluar dari pintu samping café tempat ia bekerja. Yunji memang sengaja ingin mengejutkan Jonghyun dengan membawa sebuah cake yang dibuatnya sendiri. Ini sebagai bentuk balas budi Yunji kepada Jonghyun yang sudah membuatkan sandwich yang lezat.

Yunji baru saja akan keluar dari tempat persembunyiaannya ketika ia melihat seorang namja mendekati Jonghyun. Entah kenapa ia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Jonghyun dan kembali bersembunyi. Penerangan di sekitar situ memang tidak terlalu jelas tapi Yunji dapat melihat bahwa namja yang menghampiri Jonghyun memiliki garis wajah yang mirip dengan namjachingunya itu, meski sedikit lebih tegas.

Sayang sekali Yunji tidak bisa mendengar percakapan mereka yang terlihat sangat serius. Ia pun hanya mengamati mereka sambil terus bersembunyi. Tapi beberapa saat kemudian, Yunji harus membekap mulutnya sendiri karena ia terkesiap pelan melihat apa yang hampir saja namja itu lakukan.

Namja yang lebih tinggi sedikit dari Jonghyun itu tiba-tiba mengangkat tangannya yang terkepal untuk meninju Jonghyun. Namun tinjunya luput karena namja itu ternyata sedang mabuk berat. Jonghyun pun dapat menghindari tinju yang tidak stabil arahnya itu. Tidak lama kemudian, dilihatnya Jonghyun merogoh ke dalam tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang. Dijejalkannya ke dalam saku jaket yang dipakai namja mabuk itu.

Yunji terbelalak dengan tingkah laku Jonghyun. Ih Oppa, orang mabuk begitu kenapa malah dikasih uang? Ujar Yunji dalam hati. Yunji semakin mengerutkan keningnya ketika ia melihat namja mabuk itu memeluk Jonghyun sambil meracau tidak jelas.

Yunji menajamkan pendengarannya dan ia terbelalak kaget ketika mendengar namja mabuk itu berteriak “Jeongmal gomawo, naui dongsaeng!”

“Nugu?” bisik Yunji pelan. Ia mengerutkan keningnya, entah kenapa Yunji merasa luka-luka yang ada di tangan Jonghyun berhubungan dengan orang tersebut. Tapi dia siapa?

**

Seminggu kemudian.

Jonghyun mengulurkan tangan untuk menekan bel di hadapannya. Baru saja ia akan memencetnya, tiba-tiba pintu itu terbuka.

“Oh Kamjakkgiya!” Jonghyun mundur selangkah saking kagetnya. Matanya membulat membentuk puppy eyes yang lucu sekali.

“Omona!” Yunji yang sama sekali tidak menyadari ada seseorang yang berada di balik pintunya juga merasa kaget. “Oppa, apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi?”

Jonghyun masih mengelus-elus dadanya, mencoba menenangkan jantungnya yang masih berdegup kencang itu. “Aku ingin mengajakmu pergi. Tapi.. “ Jonghyun memandang Yunji dari atas sampai bawah, mengamati baju yang dipakainya. “Apa kau mau pergi ke suatu tempat?”

“Eo. Aku memang ingin pergi ke suatu tempat.” Ujar Yunji sambil mengikat tali sneakersnya.

“Ke mana? Aku akan mengantarmu.”

Yunji memiringkan kepalanya, terlihat menimbang-nimbang. Ia pun akhirnya mengangguk “Geurae, kaja.”

Jonghyun dan Yunji berjalan ke motor Jonghyun sambil berpegangan tangan dan sesekali bergurau. Jonghyun memakaikan helm kepada Yunji kemudian membereskan rambut yang sedikit berantakan. Sepasang kekasih itu tidak sadar sama sekali bahwa ada seseorang yang memperhatikan mereka sambil menunjukkan evil smirk.

**

Langkah Jonghyun terhenti ketika ia menatap sebuah bangunan mirip gapura di depannya. Dibacanya huruf-huruf hangul yang terpahat di bangunan itu. Wajahnya terlihat menegang, dilihatnya punggung Yunji yang semakin menjauh karena telah berjalan lebih dulu. Dari semua tempat di Seoul, kenapa Yunji harus ke tempat ini? Batin Jonghyun gelisah.

“Oppa, apa yang kau lakukan?” Jonghyun mengalihkan pandangannya dari tulisan di gapura ketika Yunji memanggilnya. Di tangan kiri Yunji sudah ada satu buket bunga.

“Ah.. ani.” Jonghyun segera mengontrol ekspresinya dan berjalan menghampiri Yunji. “Yunji-ah, siapa yang…..” Jonghyun berkata pelan dan lambat sambil menatap kekasihnya. Ia merasa tidak enak menanyakan hal seperti itu.

“Nanti kuceritakan. Ayo, kita harus cepat. Sebentar lagi sepertinya hujan, langit sudah sedikit mendung. Fiuh, untung saja aku bawa payung.” Yunji menggamit lengan Jonghyun manja, kemudian sedikit menariknya agar Jonghyun berjalan lebih cepat.

Jonghyun terus mengikuti langkah Yunji yang berjalan di depannya dengan tangan mungil Yunji masih mengenggam tangannya dengan erat. Tetapi entah mengapa Yunji membawanya ke tempat yang tidak asing dan sangat ia kenali. Ia melihat sekeliling sekali lagi dan ia semakin yakin ini adalah tempat yang selalu ia datangi.

Langkah Jonghyun ikut terhenti ketika Yunji menghentikan langkahnya di depan sepasang gundukan tanah. Jonghyun merasa kakinya tidak dapat menopang berat tubuhnya sendiri ketika ia melihat sepasang batu nisan di depannya.

Kim Yoon Shik

Lahir      : 27 Januari 1961

Wafat    : 6 Juni 2007

Kim Yumi

Lahir      : 10 Mei 1965

Wafat    : 6 Juni 2007


Yunji meletakkan buket bunga yang telah dibawanya kemudian mengantupkan tangannya sambil memejamkan mata dan berdoa sebentar. Tak lama kemudian Yunji membuka matanya, ia telah selesai berdoa.

“Yunji-ah, mereka…. Mereka ini siapamu?” Jonghyun merasa kerongkongannya tercekat ketika menanyakan hal ini. Tetapi ia berusaha untuk mengontrolnya agar Yunji tidak menyadarinya.

“Mereka itu.. malaikatku, Oppa.” Yunji berkata tanpa mengalihkan pandangan dari kedua batu nisan di hadapannya. “Saat aku berumur 15 tahun, sekolahku cukup dekat sehingga aku sering pulang dengan berjalan kaki dengan teman-temanku.”

Ia tersenyum sekilas kemudian kembali melanjutkan ceritanya. “Kami memang sering bersenda gurau dalam perjalanan pulang. Tapi suatu hari salah satu temanku bercanda terlalu berlebihan sehingga menyebabkan aku terdorong ke jalan raya. Saat itu aku berpikir bahwa riwayatku akan tamat begitu aku melihat ada sebuah mobil yang melaju cukup kencang ke arahku. Aku memejamkan mataku dan aku mendengar suara benturan yang sangat keras. Cukup lama aku memejamkan mataku, anehnya aku tidak merasakan apa pun meski aku sangat yakin benturan tadi pastilah sangat keras karena suaranya pun cukup mengerikan.”

Jonghyun menatap nanar ke arah Yunji yang berada di sampingnya. Sulit untuk mendeskripsikan perasaannya saat ini. Rasanya seperti ada jutaan pisau yang menyayat hatinya.

Yunji masih belum menyadari perubahan yang terjadi pada namjachingunya. Ia pun melanjutkan ceritanya. “Perlahan aku membuka mata dan aku melihat mobil yang seharusnya menabrakku sudah ada jauh dari tempatku berdiri dengan kondisi terbalik. Aku sempat mengantar mereka ke rumah sakit. Aku mendampingi Kim Ahjumma ketika ia berada dalam mobil ambulance, sedangkan Kim Ahjussi dibawa oleh ambulance yang lain. Aku terus memegang tangannya dengan tangis yang tak kunjung berhenti, kau pasti bisa membayangkan seberapa besar rasa bersalahku padanya. Tiba-tiba genggaman Kim Ahjumma mengeras di tanganku. Ternyata ia telah membuka matanya…”

*Flasback*

“Ahjumma, mianhaeyo.. ini semua salahku. Maafkan aku, bertahanlah Ahjumma.” Yunji menggenggam tangan Kim Ahjumma yang telah penuh oleh darah dengan kedua tangan mungilnya. Ia tidak bisa menghentikan air matanya yang terus mengalir. Sungguh ia merasa sangat bersalah.

Namun dengan darah yang mengalir dari kepala dan wajahnya yang semakin pucat, Kim Yumi masih bisa tersenyum. “Gwaenchanha..” bisiknya lirih dan tidak bertenaga. “Syukurlah kau selamat, Nak. Aku merasa lebih senang karena tidak membuatmu terluka.”

“Sssshh Ahjumma, lebih baik kau tidak banyak bicara. Bertahanlah Ahjumma, sebentar lagi kita sampai.” Yunji tidak pernah melepaskan tangan wanita cantik yang telah menyelamatkan nyawanya itu.

*Flasback End*

Air mata sedikit mengembang di kedua mata Yunji, namun ia menghapusnya sebelum air mata itu jatuh. “Kim Ahjussi meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit sementara Kim Ahjumma meninggal karena kehabisan darah tidak lama setelah ia masuk ruang Unit Gawat Darurat.”

Tubuh Jonghyun bergetar, tangannya dingin dan berkeringat. Rasanya semua darah yang ada di tubuhnya telah dihisap oleh sesuatu sehingga wajahnya kini sepucat mayat. Kedua kakinya sangat lemas.

Yunji merasa ada yang aneh ketika ia merasakan tangan Jonghyun yang berada di genggamannya bergetar dan berkeringat. Tak lama kemudian ia merasa Jonghyun melepaskan genggamannya itu. Yunji pun akhirnya mengalihkan pandangan ke arah Jonghyun.

“Oppa waeyo? Apa kau sakit?” Yunji terkejut ketika dilihatnya wajah Jonghyun sangat pucat. Berbeda dengan saat mereka berangkat tadi. Badannya pun menggigil hebat.

“Appa… Eomma…” bisikan lirih Jonghyun diiringi oleh sebutir cairan hangat yang keluar dari matanya, menetes begitu saja tanpa perintah. Ekspresinya sangat terkejut dan terlihat tersakiti. Perlahan Jonghyun melangkah mundur, menjauhi Yunji yang menatapnya bingung.

“Mwo? Appa dan Eomma? Apa maksudmu? Aku tidak —“ kata-kata Yunji terhenti ketika sesuatu melintas begitu saja di pikirannya. Seketika matanya membesar, tangannya beralih menutup mulutnya sebagai tanda keterkejutannya. Ia menatap Jonghyun dan kedua batu nisan itu bergantian.

Tes.

Air mata itu mengalir semakin deras di pipi Jonghyun. Marah, benci, sedih, terkejut, semuanya bercampur menjadi satu. Ketika Yunji melangkah satu kali untuk mendekati Jonghyun, ia mengambil dua langkah ke belakang, menjauhi Yunji.

“Oppa!” Yunji tidak bisa menghentikan Jonghyun yang tiba-tiba berlari meninggalkannya sendiri. Ia pun sangat terkejut dengan kenyataan bahwa orang yang meninggal demi menyelamatkan dirinya adalah orang tua dari namjachingunya sendiri. Kali ini Yunji tidak bisa menahan air mata yang jatuh. Rasa bersalah yang disimpannya rapat-rapat kini menyeruak lagi ke permukaan hatinya. Dan kali ini rasa bersalah itu di akumulasikan dengan rasa sakit ketika Jonghyun juga terlihat sangat tersakiti. Yunji jatuh terduduk sambil menangis tersedu-sedu, ia memegang dadanya yang terasa sakit. “Oppa, mianhae…”

TBC

#buat yang penasaran (emang ada? Pede banget nih authornya haha) mengenai lokasi yang aku kasih fotonya di atas, aku ngambil foto itu di Perpustakaan baru Universitas Indonesia 

22 thoughts on “[FREELANCE] SECRET (Part6)

  1. ommo?!
    #bekapmulutsendiri
    jadi ortunya Jjong meninggal gara2 ngindarin nabrak Yunji?
    Ya ampun ya ampun.. Poor Jjong, jangan sampai dia benci sama Yunji.😦
    ff ini udah kaya drama 49days aja deh, ga bole melewatkan 1 episode eh part pun. Di tiap part ada kejutan en info2. Gilaa, suka bgt!

      • iya eon, bagus banget lho..
        gak roman roman pada umumnya gitu. semuanya saling terkait. coba deh eonni tonton, siapa tau bisa nambah nambah ide buat nulis. hhehe

  2. wahhh..
    sumpah makin seru aj nii FF..
    gak prnh kbayang sblumx critax bkal jdi kyk gini..

    saeenngg, ur de bestt..🙂

    jjong oppa,, ksian bnget..😦
    yunji. kw hrus ttp kuat ngadepin jjong oppa..

    Bruan dilanjuuuutt saeng..🙂

  3. Aduh mampus tuh si yunji sm jjong gimanaaaa?
    Kalo gini tambah ribet ceritanya tp ttp suka >///<
    Eonn, mungkin bhs yg gk bakunya bs diperhalus atau diilangin? Abis rada janggal kan dr awal makenya bhs baku kan ya? ._.

    • neee, aku juga sempet bingung itu Ayya pas ngetik kenapa jadi malah jatuhnya kurang formal/baku. kayanya aku kebawa sama kehidupan sehari-hari kalo orang udah jadian kan jadi lebih informal gitu ngomongnya *ngeles aja kaya bajaj haha*
      makasih yaa Ayya, ini mengingat aku untuk selalu kosisten🙂

  4. waaa
    sepiceles… hahaha speechless mksdnya..

    pas bc tulisan nama di nisan itu udh mikir oh ini pasti ortu jjong nih.. pas bc bag yunji cerita udh mkin ykin.. trnyata… sepiceles…

    itu siapa namja yg ngikutin.. eh ngikutin g y td.. ya pokoknya yg itu.. jgn2 hyungnya jjong lg..

  5. omonaaaa.. konflik baru? aku deg2an banget eon pas part akhir2 bacanya.. gimana nasib mereka selanjutnya ya .__.

  6. eonie aku readers baru disini🙂
    salam kenal , oh ya aku mau minta pw screat yanag part 7 dong kak . boleh engga ? tapi aku lewat twitter yaa

    gomawo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s