[FREELANCE] SECRET (Part5)

Title : Secret – Part 5
Author : Kim Nara a.k.a Nandits
Main Cast : Kim Jonghyun, Han Yunji (OC)
Support Cast : Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Choi Minho, Lee Taemin, Yoon Insa
Cameo : Jessica SNSD
Length : Sequel
Genre : Romance, Friendship, Angst
Rating : PG-15
Thanks To : Neni as my Beta-Reader
A/N : Annyeonghaseyo.. Berhubung ini FF pertamaku dan karena masih dalam tahap belajar, FF ini masih ter-influenced dari mana-mana: ada dari novel-novelnya Mbak Sitta Karina, ada dari drama, bahkan ada juga dari kehidupan nyata. Kritik dan saran yang membangun diterima banget lho. Happy reading

SECRET – Part 5
Kim Nara©2011 93Lines Blog, Freelance Author

Mulut Jonghyun menganga mendengar pernyataan panjang lebar dari Yunji. Tapi sedetik kemudian ia tertawa, bahkan sampai terbahak-bahak meskipun diselingi dengan rintihan kecil yang keluar dari mulutnya karena rasa nyeri di rusuknya. Yunji terbelalak melihat reaksi Jonghyun yang sangat di luar dugaan. “Kenapa kau tertawa? Ku pikir ini sama sekali tidak lucu, Sunbae!” Yunji sangat kesal dengan Jonghyun saat ini sampai ia tidak dapat mengontrol suaranya dan setengah berteriak.

“Pffftt.. arasseo, arasseo, aku tidak akan tertawa lagi.” Jonghyun mengusap matanya yang berair karena tertawa. “Kemarilah, ayo kita bicarakan baik-baik. Tanpa emosi. Aku akan mendengarkan semua yang ingin kau katakan dan sebaliknya, kau harus mendengarkan penjelasanku.”

Yunji terlihat berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk. Tidak ada salahnya membicarakan ini baik-baik. Toh ia juga tidak ingin hubungannya dengan Jonghyun berakhir dengan amarah seperti sekarang. Yunji mengikuti Jonghyun yang keluar kamarnya dan berjalan ke arah balkon yang menghadap ke taman belakang. Jonghyun duduk di bangku kayu, kemudian diikuti oleh Yunji yang duduk di sebelahnya.

“Baiklah, soljikhi marhae (katakana padaku dengan jujur), dari awal hingga akhir.” Jonghyun menghadapkan posisi duduknya ke arah Yunji, tanda bahwa ia siap mendengarkan.

Yunji menghela nafasnya. Sambil memainkan jari-jari lentiknya –kebiasaannya ketika sedang gelisah- Yunji mulai menceritakan keseluruhan kejadian secara detail, dimulai dari ketika ia melihat Jonghyun dan seorang yeoja di kedai kopi hingga kejadian semalam. Dan Yunji baru menyadari bahwa setiap kali ia melihat mereka, pasti mereka dalam keadaan yang sangat dekat. Entah berpelukan atau pun saling menggenggam tangan. What a great timing.. batinnya.

“Dan kau langsung menarik kesimpulan begitu saja tanpa mengkonfirmasinya kepadaku??” Jonghyun bingung apakah ia harus berteriak atau tertawa. Di satu sisi, ia merasa penilaian Yunji terhadap dirinya sangat sepihak dan tidak adil. Tapi di sisi lain, kesalahpahaman ini juga sangat lucu.

“Bukankah itu semua…. sudah jelas?” Suara Yunji semakin pelan, ia mulai merasa tidak percaya diri. Iya ya, kenapa Yunji tidak mencari tahu kebenarannya lebih dulu? Pabo.. pabo.. orang yang jatuh cinta memang banyak yang bertindak bodoh.

“Kalau sudah jelas, seharusnya kau tidak salah paham.” Jonghyun menatap Yunji, sangat desperate. “Pernahkah kau berpikir bahwa itu adalah teman masa kecilku yang sudah ku anggap seperti noona kandungku?”

“Ne?? Jeongmal? Ani.. Igeo..” Yunji mulai menyadari kesalahannya. Ia mulai terlihat panik. Semua perkataan bodoh yang ia sampaikan kepada Jonghyun mulai terngiang lagi di kepalanya seperti kaset yang direwind.

Kenapa kau tidak bilang kepadaku, Sunbae? Kenapa kau membiarkanku salah paham dengan sikapmu terhadapku? Kenapa kau membiarkanku jatuh cinta kepadamu meski kau sudah mempunyai yeojachingu?

Mwoya?? Yunji baru saja mengungkapkan perasaannya dengan mulutnya sendiri kepada Jonghyun. Aissshh.. seharusnya ia tidak mengikuti emosinya yang meledak-ledak itu. Eotteokhaji?

Semburat merah mulai mewarnai pipinya. Yunji mulai merasakan wajahnya yang memanas dan jantungnya yang berdegup kencang hingga ia pikir jantungnya akan meledak.

Jonghyun tersenyum kecil melihat Yunji yang salah tingkah. Ia kemudian mengalihkan pandangannya ke langit yang teduh, menghela nafas lega, kemudian mulai menjelaskan semuanya.

“Yoon Insa. Dia adalah teman masa kecilku dan.. Hyung.” Jonghyun terdiam sebentar, kemudian melanjutkan ceritanya. “Dulu Insa Noona adalah tetanggaku dan kami sering bermain bersama sepulang sekolah. Aku, Hyung, dan Insa Noona terus bersahabat hingga hampir 9 tahun. Tapi kami mulai jarang bertemu ketika aku duduk di bangku SMA, karena Noona pindah ke luar kota. Satu tahun yang lalu tidak sengaja kami bertemu lagi dan akhirnya kami jadi sering bertemu untuk sekedar minum kopi sambil mengobrol. Dia juga sering mengunjungi kami.. ani.. mengunjungi Onew Hyung maksudnya. Karena sekarang Insa Noona itu yeojachingunya Onew Hyung. Aku yang menjodoh-jodohkan mereka hehe” Jonghyun mengakhiri ceritanya sambil melirik Yunji yang tanpa sadar mengangguk-angguk dengan ekspresinya yang polos.

Satisfied?” Jonghyun bertanya angkuh kepada Yunji sambil memamerkan smirknya.

“Mianhaeyo, Sunbae. Aku telah salah paham padamu.” Yunji menunduk sambil (lagi-lagi) memainkan jari-jarinya. Perasaannya campur aduk. Senang, karena ternyata Jonghyun belum mempunyai yeojachingu. Tapi juga malu dan gelisah, karena tanpa sadar ia mengungkapkan perasaannya kepada Jonghyun.

Jonghyun tertawa lagi. Ini benar-benar kejadian terlucu yang pernah terjadi dalam hidupnya saat kuliah. “Tidak apa-apa. Lain kali jangan segan-segan untuk bertanya kepadaku, ya. Jangan sampai salah paham lagi.” Jonghyun mengusap-usap puncak kepala Yunji. Sudah lama ia tidak melakukan hal itu.

Yunji mengangguk sambil tersenyum kecil. Tiba-tiba angin berhembus agak kencang. Hari ini memang lebih dingin dari kemarin, ditambah lagi sepertinya akan turun hujan. “Sunbae, lebih baik kita di dalam saja. Angin seperti ini tidak baik untukmu yang sedang sakit.”

“Geureu. Ayo masuk.” Kata Jonghyun sambil tersenyum ceria. Entah kenapa ia merasa sehat seketika.

**

Benar saja. Sesaat setelah Jonghyun dan Yunji masuk ke dalam rumah, hujan pun turun dengan lebat. Yunji akhirnya tertahan di rumah Jonghyun untuk menunggu hujan reda. Sebenarnya ia bisa saja meminjam payung dan langsung pulang, tetapi Jonghyun bersikeras ingin mengantarnya. Daripada Jonghyun sakit lagi, lebih baik Yunji mengalah dan berjanji akan pulang setelah hujan reda.

Jam yang melingkar di tangan kiri Yunji sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Yunji melirik ke jendela dan ternyata hujannya sudah berhenti. Ia tersenyum kecil mengingat kejadian hari ini, baru kali ini ia mengalami hal yang sangat memalukan. Yunji menggigit bibir bawahnya, sebenarnya ia gelisah, sudah pasti Jonghyun telah mengetahui perasaannya yang sebenarnya. Tapi sejak tadi siang sampai sekarang Jonghyun sama sekali tidak mengungkitnya. Apa dia lupa? Atau bahkan tidak menyadarinya? Haaah.. Yang penting sekarang hubungannya dengan Jonghyun sudah membaik. Bisa makan malam berdua seperti ini sudah cukup membuatnya sangat bahagia.

Jonghyun memakan sesuap nasi dan sesendok sup sambil mengawasi Yunji yang sedang tersenyum sendiri. Kalau ia tidak mengontrol dirinya sendiri mungkin Jonghyun juga akan lebih sering tersenyum, seperti apa yang dilakukan Yunji sekarang. Sudah lama ia merasakan suatu getaran aneh di dadanya setiap kali ia melihat yeoja mungil ini. Instingnya mengatakan bahwa ia harus selalu memperhatikan gadis ini, lebih mendalam dan lebih sering lagi.

Jonghyun masih belum mengerti benar perasaan yang berkecamuk di hatinya. Tapi ia yakin apa pun itu, ia merasakan sesuatu yang positif… dan hangat, saat Yunji ada bersamanya. Membuatnya dapat melupakan semua masalah berat yang selalu menghantuinya. Yunji akan menenangkan hatinya yang gelisah, menyanyikan lagu lembut yang akan membuatnya yakin, bahwa ia tidak pernah sendiri menghadapi semua kesulitannya. Saat ini Jonghyun ingin memeluk Yunji. Melihat siluetnya yang mungil, yang ia yakin akan pas dalam pelukannya. Saat ia tersadar dengan apa yang ia pikirkan, Jonghyun memarahi dirinya sendiri. Tapi ia tak kuasa memalingkan pandangannya ke arah yang lain.

“Ada yang lucu?” Jonghyun iseng ingin menjahili Yunji.

Yunji sedikit terkejut dan langsung mengangkat kepalanya. “Ne?”

Jonghyun meletakkan sumpitnya dan melipat kedua tangannya di meja makan. “Ada yang lucu sampai kau senyum-senyum seperti itu?”

Yunji membelalakkan matanya. Lagi-lagi dia bertingkah bodoh, sampai-sampai Jonghyun memergokinya tersenyum sendiri. “Tidak ada, Sunbae.” Yunji memalingkan wajahnya yang kemerahan. Salah tingkah.

Jonghyun tertawa, kemudian ia membawa mangkuk-mangkuk yang sudah selesai dipakai ke dapur. Yunji mengikuti di belakangnya.

“Sunbae, sebaiknya aku pulang sekarang. Hujannya sudah berhenti kok.” Yunji teringat akan tugas kuliahnya yang baru setengah selesai. Padahal harus segera dikumpulkan esok hari.

Jonghyun mengambil jaket yang tergeletak di sofa ruang TV, kemudian mengambil kunci motornya. “Aku antar.” Katanya sambil tersenyum.

Yunji menggeleng. “Jangan, Sunbae. Sebaiknya kau beristirahat saja. Kau kan belum sembuh benar.”

“Aku sudah sembuh kok. Berkat kau.” Jonghyun mengedipkan matanya “Tidak percaya? Periksa saja.” Jonghyun meraih tangan Yunji dan menempelkannya sendiri ke keningnya. “Sudah reda kan panasnya?” Jonghyun tidak percaya sama sekali dengan apa yang baru saja dilakukannya. Ia sadar betul bahwa dirinya sekarang sedang flirting kepada Yunji. Tapi Jonghyun tetap saja ingin melakukannya terus, ia tidak bisa mencegahnya.

Ya ampun, sampai kapan Sunbae akan terus-terusan membuat perutku bergejolak seperti ini? Batin Yunji. Ia menggigit bibir bawahnya untuk menahan senyum yang hampir saja muncul di depan Jonghyun. Sesuatu yang berdetak di dalam dadanya sudah mengeluarkan suara gemuruh yang terlalu keras hingga Yunji pikir Jonghyun pun mungkin saja dapat mendengarnya. Ia menarik tangannya malu-malu kemudian diam-diam menyentuhnya pelan, di tempat Jonghyun memegangnya.

“Kaja.” Jonghyun berjalan mendahului Yunji ke garasi.

**

Jonghyun menyerahkan helm half face berwarna hitam kepada Yunji. Kemudian ia memakai helmnya sendiri yang berwarna hitam juga, bedanya helm milik Jonghyun adalah helm full face. Ia kemudian naik ke motor ducati R6 hitamnya, hadiah dari Appa ketika ia masuk SMA. Yunji mengamati semua itu, ah ternyata Jonghyun Sunbae menyukai warna hitam ya..

“Ayo naik.” Yunji pun naik ke motor besar Jonghyun itu. Tapi setelah beberapa lama, Jonghyun tidak kunjung bergerak.

“Ada apa, Sunbae?” Yunji memajukan kepalanya ke depan dan sedikit memiringkannya.

Jonghyun membuka kaca helmnya kemudian sedikit menoleh ke belakang. “Apa kau ingin jatuh ketika nanti kita pergi? Seharusnya kau berpegangan padaku.”

“Ah.. Ne.” Yunji memegang pundak Jonghyun ragu-ragu.

“Ck..” Jonghyun memutar matanya kemudian ia memindahkan tangan Yunji ke sekeliling pinggangnya, membuat Yunji secara tidak langsung memeluknya dari belakang. Jonghyun pun langsung melajukan motornya.

Beberapa menit kemudian.

“Nah sampai.” Yunji turun dari motor Jonghyun dan membuka helmnya, diikuti oleh Jonghyun. Yunji masih kesulitan mengatur degup jantungnya, sesungguhnya ia merasa sangat kasihan dengan jantungnya yang hari ini bekerja terlalu keras. Keringat dingin masih membasahi telapak tangannya. Begitu kerasnya jantungnya berdegup hingga ia merasa yakin Jonghyun dapat merasakan di punggungnya.

Yunji menyerahkan helm itu kemudian membungkuk. “Terima kasih, Sunbae. Sampai jumpa.”

“Cheogi, jamkkanmanyo!” Jonghyun penasaran akan sesuatu hal dan malam ini ia harus memastikannya.

Yunji berbalik dan memandang Jonghyun dengan tatapan yang bertanya. “Waeyo?”

Jonghyun maju satu langkah, ia terlihat bingung. Jonghyun menggaruk kepalanya yang tidak gatal, menghela nafasnya pelan, kemudian tersenyum menatap Yunji. “Aku hanya ingin memastikan sesuatu.” Jantung Jonghyun berdetak lebih kencang dari pada biasanya. Ia merasa malu, tapi di saat yang bersamaan ia merasa telah timbul keberanian di dalam dirinya.

“Yang kau katakan siang tadi..” Jonghyun terhenti sesaat, menyusun kata-kata yang hendak diucapkan. Sedangkan Yunji mulai merasa tidak nyaman, ngeri akan prediksinya tentang apa yang akan dikatakan Jonghyun. Di perutnya terasa ada sesuatu yang menggelitik, yang lalu turun ke bagian kakinya, membuat kedua lututnya lemas “Apa semua itu benar?” lanjut Jonghyun.

Yunji memeluk erat map berisi tugas yang ia pegang, bola matanya bergerak-gerak gelisah. Benar kan, Jonghyun Sunbae bertanya tentang hal itu. Eeotteokhae? Yunji sejujurnya sangat panik. Jika ia menjawabnya, bisa menjadi sesuatu yang baik atau menjadi sesuatu yang buruk. Maka Yunji hanya diam sambil menunduk.

Jonghyun menatap Yunji lama, menyelami pesonanya yang akhir-akhir ini benar-benar membuat dirinya susah tidur. Mungkin hingga tadi pagi ia masih bimbang akan perasaannya. Tapi kesalahpahaman yang baru saja terjadi telah memantapkan hati Jonghyun tentang apa yang dirasakannya terhadap Yunji. Enough pretending, it’s time to face it!

“Mau jadi pacarku, Yunji-ah?”

PRUKK.

Map yang dipegang Yunji jatuh dan kertas-kertas di dalamnya berserakan keluar. “Aduh.. Maaf Sunbae.. Aku..”

“Gwaenchanha Yunji-ah.” Jonghyun tertawa halus sambil langsung membereskan kertas-kertas yang berserakan itu. Badan Yunji terasa kaku. Kini ia hanya memandangi Jonghyun yang masih bersimpuh di depannya.

“Yunji-ah.” kata Jonghyun lagi sambil tersenyum tulus. Ia menyerahkan map itu kepada Yunji. “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.”

Sunbae tidak bercanda, kan? Yunji bertanya-tanya dalam hati.

“Aku tidak perlu melihat terlalu jauh lagi Yunji-ah. Yang aku cari ada di depan mataku.. si ceroboh yang selalu bikin kerjaan seperti ini.. menjatuhkan map sampai semuanya berantakan,” lanjut Jonghyun nyengir lalu ekspresinya langsung berubah drastis, menjadi lebih serius. “Aku sama sekali tidak bercanda lho.”

Yunji mengigit bibir bawahnya, masih merasa bingung. Jonghyun Sunbae sekarang lagi ‘nembak’ aku kan? Benar atau tidak, sih? Lalu sekarang aku harus langsung menjawab? Yunji menatapi Jonghyun lama, mencari secuil kepastian di mata namja ini.

“Iya, Sunbae. Aku mau.” Yunji terkejut sendiri dengan jawaban yang meluncur keluar dari mulutnya.

Jonghyun tersenyum sumringah mendengar kata itu. ia terlihat begitu ceria seperti anak kecil. Yunji sendiri tidak dapat melukiskan betapa bahagianya ia saat ini, apalagi saat Jonghyun memeluknya erat sekali. Bukan suatu pelukan yang romantis, namun amat hangat. Pelukan bahagia dari seseorang yang paling spesial dan paling dekat dengan kita, seperti saat kita telah memenangkan sesuatu dengan gemilang. Seperti itulah pelukan Jonghyun saat ini. Jonghyun menepis ribuan volt rasa sakit yang menyetrum rusuk akibat pelukan Yunji yang ternyata tak kalah erat dengan pelukannya. Tangan sekecil itu bisa menimbulkan rasa sakit begini, Jonghyun jadi berpikir; apakah kondisi tubuhnya sebegitu parahnya?

“Ah maja.” Jonghyun melepaskan pelukannya kemudian menatap Yunji serius. “Berhenti memanggilku dengan sebutan Sunbae. Panggil aku dengan sebutan Oppa. Arasseo?”

Yunji tersenyum sambil berkata ceria. “Ne Oppa~”

Jonghyun tertawa kemudian ia meraih kedua tangan Yunji. “Saranghae..” katanya lembut. Yunji tersipu, belum terbiasa dengan hal seperti ini. Tapi akhirnya ia menjawab dengan malu-malu. “Na do..”

Jonghyun menarik Yunji dan memeluknya sekali lagi, kemudian mencium puncak kepala kekasih mungilnya itu. Sudah lama Jonghyun ingin melakukan ini. Yunji melingkarkan tangannya di tubuh Jonghyun, menghirup kuat-kuat aroma tubuh namja itu dan merasakan lekuk tubuh Jonghyun. Waaah sepertinya Sunbae, eh, Oppa sering exercise ya. Yunji tersenyum dibalik dada Jonghyun yang bidang itu.

Jonghyun mengendurkan pelukannya, tapi tidak melepaskannya. Masih dengan lengan masing-masing yang melingkar longgar di tubuh keduanya, Jonghyun menatap lama Yunji yang tersenyum manis. Jonghyun mengusap rambut Yunji kemudian mengaitkannya ke telinga Yunji. Perlahan tapi pasti, Jonghyun mendekatkan wajahnya ke wajah Yunji. Jonghyun mencium lembut bibir yeoja itu, merasakan lip gloss Yunji yang beraroma strawberry. Awalnya Yunji terkejut karena Jonghyun tiba-tiba menciumnya. Very fast, huh? Tapi akhirnya ia memejamkan mata dan mengikuti instingnya untuk membalas ciuman yang diberikan Jonghyun.

Ciuman itu terasa begitu pure. Sepertinya itu adalah saat pertama kalinya Yunji menyentuh bibir seorang namja. Jonghyun merasakan kehangatan yang menenangkan hatinya tatkala ia merasakan betapa kakunya sikap Yunji ketika ia menciumnya, menandakan bahwa dirinyalah first kiss Yunji. Udara malam yang saat itu terasa dingin, tidak membuat kedua sepasang kekasih itu mengigil. Hati keduanya terasa hangat karena perasaan mereka yang sangat bahagia. Lampu jalan yang bersinar kekuningan menjadi saksi first kiss Jonghyun dan Yunji.

**

Yunji menggeliat pelan, merasakan sinar matahari yang samar-samar menembus jendela kamarnya. Masih berbaring, Yunji mengucek matanya perlahan. Ia memandang langit-langit kamarnya dan tiba-tiba teringat kejadian semalam. Apa itu mimpi? Ia menyentuh bibirnya perlahan dan tersenyum tatkala teringat bibir Jonghyun yang lembut menyentuh bibirnya. My first kiss.. ah molla molla! Yunji mengangkat selimut tinggi-tinggi hingga menutupi kepalanya. Bagaimana ia harus bersikap di depan Jonghyun nanti?

Yunji melihat jam dinding berbentuk strawberry yang tergantung di dinding tepat di depannya. Seketika Yunji terduduk di tempat tidurnya. “Omo! Sudah jam 7. Aku terlambat, aku terlambat.”

Yunji menyambar handuk yang tergantung di kursi belajarnya dan segera pergi ke kamar mandi. Sepuluh menit kemudian dia sudah keluar dari kamar mandi. Dia memang yeoja yang tidak ribet, dia hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan di kamar mandi. Terkadang dia sendiri bingung dengan Hyeji yang bisa menghabiskan waktu hingga 20 menit hanya untuk mandi. Apa saja yang ia kerjakan di kamar mandi?

Yunji mengambil skinny jeans dan kaos lengan panjang yang ukurannya satu nomor lebih besar berwarna maroon dengan asal dari lemarinya. Kemudian ia menyisir rambut panjangnya dan mengikat tinggi di kepalanya. Ia menyapukan BB cream di kulit wajahnya dan mengoleskan lip gloss strawberry favoritnya ke bibir merah mudanya itu. Yunji mengambil tas dan map tugas, memakai sneakers Converse putihnya dengan asal, kemudian mengunci apartemen dengan terburu-buru. Jam tangan yang belum dipasangnya sudah menunjukkan pukul 07.20 dan ia harus cepat jika ingin mengejar bis.

Yunji berlari keluar apartemennya dan menuruni tangga terburu-buru hingga tidak melihat ada namja yang sudah menunggunya. “Butuh tumpangan?” Yunji menoleh cepat ke arah sumber suara yang terdengar sangat familiar.

Dilihatnya Jonghyun sedang bersandar santai di motornya. “Oppa..” Belum sadar dari rasa terkejutnya, Yunji menyadari sesuatu yang sangat kebetulan. “Oh!” Yunji melihat Jonghyun dari atas sampai bawah. Jonghyun mengenakan jeans, kaos putih polos v-neck, dan ditumpuk dengan cardigan berwarna maroon, serta sepatu Nike Shoes Sportswear Classic All Court.

Jonghyun juga menyadarinya dan berkata riang “Couple look! Wah ternyata kita benar-benar berjodoh.” katanya dengan riang. Yunji menghampiri Jonghyun sambil memakai jam tangannya. “Apa yang kau lakukan di sini, Oppa?”

“Tentu saja menjemput pacarku. Aku tahu kau akan bangun terlambat. Bagaimana tidak? Kau baru tidur jam dua pagi.” Jonghyun sedikit membungkuk sambil mengusap-usap puncak kepala Yunji.

“Eotteokhae arasseo?” Yunji memiringkan kepalanya lengkap dengan ekspresinya yang bertanya-tanya.

Jonghyun gemas sekali melihatnya, ingin rasanya ia cubit pipi kekasihnya itu. “Aku memasang CCTV di kamarmu.”

“NEE???” Bola mata Yunji hampir saja melompat keluar ketika mendengarnya.

Jonghyun terbahak-bahak melihat reaksi Yunji. Mana mungkin dia memasang CCTV di kamar orang lain? Dan Yunji keliatannya mempercayai Jonghyun. “Kau sempat mengirimkan sms padaku. Ingat?”

“Ah maja. Aku lupa.” Yunji menepuk keningnya sendiri. Kemudian ia melirik jam yang melingkar di tangan kirinya dan ekspresinya langsung panik.

“OMO, eetteokhae? Aku akan terlambat ke kampus kalau begini. Oppa, lanjutkan nanti saja mengobrolnya. Sekarang tolong antarkan aku ke kampus. Ne? Ne?” Yunji memohon kepada Jonghyun dengan tatapan memelas.

“Tenang saja. Kita bisa sampai ke kampus dalam waktu 15 menit kok hehe. Ayo naik.” Setelah memakai helm yang diberikan oleh Jonghyun, Yunji langsung naik ke atas motor Jonghyun dan Yunji pun melesat pergi ke kampus.

**

Lucu sekali.

Jonghyun baru saja dari toilet dan mendengar sesuatu tentangnya dan Yunji di koridor kampus. Ternyata berita bahwa mereka sekarang telah berpacaran sudah tersebar ke seluruh kampus. Padahal ia sama sekali belum menceritakannya kepada siapa pun, bahkan kepada sahabat-sahabatnya. Memang sih tadi pagi ia mengantar Yunji sampai kelas sambil menggandeng tangannya. Tapi apakah akan secepat itu berita menyebar. Sungguh kekuatan mulut para yeoja itu tidak terbantahkan.

Memang ada beberapa yang tidak suka dengan hubungan mereka. Buktinya saja ia sudah mendapat surat dari (boleh dibilang) anti-fans yang diselipkan di lokernya. Kebanyakan surat itu datang dari yeoja-yeoja yang patah hati karena Jonghyun. Mudah-mudahan saja Yunji tidak mendapat ancaman apa pun dari mereka. Jonghyun bertekad akan selalu menjaga Yunji selama di kampus. Yah.. untuk jaga-jaga saja.

Jonghyun berjalan menuju cafeteria. Hari ini ia dan Yunji akan makan siang bersama. Sesampainya di cafeteria, ia melihat ada sekitar lima orang yeoja yang berkumpul mengelilingi satu meja. Jonghyun mempunyai firasat buruk, ia pun mendekati meja itu perlahan.

Dilihatnya Yunji dan Hyeji sedang duduk berdua. Yeoja yang mengelilingi mereka terlihat sangat kesal. Seorang yeoja mengatakan sesuatu dan Yunji pun langsung berdiri sambil menggebrak meja. Yeoja itu mengangkat tangannya, sudah mengambil ancang-ancang untuk menamparnya. Yunji memejamkan matanya, siap menerima tamparan itu. Tapi tangan yeoja itu tidak pernah mendarat di pipinya. Ada suara seseorang yang membuatnya membuka mata.

Tepat ketika yeoja itu akan mengayunkan tangannya ke pipi Yunji, Jonghyun menahannya “Jangan pernah menyakiti yeojaku. Kalau kalian mempunyai masalah denganku, selesaikan juga denganku. Yunji tidak ada hubungannya dengan ini semua.” Jonghyun menatap para yeoja itu satu persatu.

“Oh lihatlah, sekarang mereka mau bermain drama di depan kita. Lepaskan tanganku, dasar playboy.” Yeoja kurus dengan rambut wavy yang berwarna coklat menatap sinis kepada Jonghyun.

Jonghyun menghempaskan tangan kurus itu, kemudian tertawa meremehkan. “Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku seorang playboy? Apa aku pernah berkata bahwa aku suka padamu? Apakah aku pernah berkata ingin berkencan denganmu?”

“YA Kim Jonghyun!” Yeoja itu terlihat begitu marah sehingga napasnya pun naik turun tidak karuan.

Sebelum yeoja itu berkata lebih jauh, Jonghyun sudah memotongnya terlebih dahulu. “Jangan salah paham karena aku pernah beberapa kali menolongmu. Aku hanya tidak mungkin membiarkan ada yeoja yang kesulitan. Dan jangan selalu meneleponku lagi karena sejujurnya aku merasa terganggu. Terlebih sekarang aku sudah mempunyai yeojachingu.” Jonghyun berjalan ke samping Yunji dan merangkulnya lembut. Yunji menatap wajah kekasihnya lekat-lekat. Ya memang dia tampan, senyumnya manis, suaranya indah, dan dia baik sekali kepada orang lain. Wajar jika ada orang yang salah paham.

Wajah yeoja itu sudah merah padam. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Tapi itu tidak membuat Jonghyun merasa gentar. Ia memang harus membuat ini menjadi jelas supaya Yunji tidak terkena getahnya lagi. “Maafkan aku kalau aku membuatmu salah paham selama ini. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya ku lakukan sebagai seorang namja. Tolong kau mengerti.” Jonghyun membungkuk dengan tulus, tanda bahwa ia benar-benar ingin meminta maaf.

Tanpa berkata apa-apa yeoja itu beserta dayang-dayangnya berbalik dan pergi begitu saja. Jonghyun menatap Yunji dengan cemas, kemudian meletakkan kedua tangannya di pundak mungilnya. “Gwaenchanha? Apa mereka menyakitimu sebelum aku datang?”

Yunji tersenyum kemudian menggeleng kecil. “Ani, gwaenchanha Oppa.”

“Kalian berdua lanjutkan saja mengobrolnya. Ada hal yang harus ku urus. Annyeong Yunji-ah. Sunbae, aku titip Yunji ya.” Hyeji membungkuk kepada Jonghyun, kemudian melemparkan sebuah kedipan mata kepada Yunji.

“Hyeji pengertian sekali. Tahu saja kalau aku ingin berduaan denganmu.” Jonghyun menyikut Yunji yang masih menatap Hyeji heran dengan pelan.

Mereka berdua pun memutuskan untuk makan di sebuah restoran pizza yang terletak persis di seberang kampus. Mereka memesan 1 pan personal American Favourite Pizza dan 1 porsi garlic bread. Untuk minumnya, Yunji memesan blueberry milkshake sedangkan Jonghyun memesan coke.

“Oppa.” Yunji terlihat ingin mengatakan sesuatu pada Jonghyun yang kini sedang sibuk membereskan dan memasukkan uang kembalian ke dalam dompetnya.

“Hmm?” Tanpa mengalihkan pandangannya, Jonghyun merespon panggilan Yunji, tanda bahwa ia akan tetap mendengarkan meski sedang melakukan hal yang lain.

Yunji berpikir sejenak. Tidak apa-apa ya kalau aku bertanya? Jonghyun pernah berkata untuk selalu bertanya jika ada yang membuatnya penasaran. Supaya tidak salah paham seperti kemarin dulu.

“Jessica Sunbae menyukaimu ya, Oppa?”

“Kata teman-teman sih begitu.”

“Bisa ceritakan kepadaku?” Yunji memajukan badannya, excited.

“Apa yang harus ku ceritakan? Tidak ada.” Jonghyun menggeleng sambil menatap bingung ke arah Yunji di depannya.

“Ituuu.. Oppa bilang kau selalu menolong Jessica Sunbae. Memangnya menolong apa?” Yunji berkata tidak sabar sampai ia mengepalkan tangannya karena gemas.

“Oh itu.. saat orientasi mahasiswa baru…” Jonghyun menceritakan mulai dari awal perkenalannya dengan Jessica. Saat itu, Jonghyun yang punya wajah tampan sedang dikerjai oleh seniornya untuk merayu gadis tercantik di kelasnya, yaitu Jessica. Jonghyun mengikuti saja apa yang diperintahkan oleh seniornya, meski dengan malas-malasan. Tapi salah satu seniornya mulai menyuruhnya melakukan hal yang aneh-aneh.

*Flasback*

“Ya! Coba kau cium bibirnya, lalu beritahu padaku lip gloss rasa apa yang hari ini dia pakai.”

Jonghyun mengangkat sebelah alisnya. “Bibir? Aku bukan namjachingunya.”

“Siapa yang bertanya mengenai masalah itu?! Ini perintah, bukan tawar-menawar. Cepat cium sekarang….. Atau dia kurang cantik?” senior itu berpaling kepada Jessica yang masih tertunduk, lalu berkata. “Ya, kau dibilang kurang cantik. Kasihan.”

Akhirnya Jonghyun dihukum karena menolak permintaan senior. Bukan hukuman yang biasa tapi ia disuruh untuk membersihkan toilet laki-laki yang baunya bukan main selama tiga hari. Karena hal itu, Jessica merasa tersentuh dengan perlakuan Jonghyun terhadapnya. Baru kali ini ia merasa sangat dihargai oleh seorang namja.

*Flasback End*

“Memang setelah itu beberapa kali aku menolongnya, seperti membawakan bukunya ketika dia kelihatan kesulitan di perpustakaan. Tapi aku melakukan itu murni untuk menolong Jessica, bukan karena ada hati dengannya.”

“Tapi Jessica Sunbae kan tidak tahu bahwa sebenarnya kau tidak ada maksud apa-apa. Lihatlah sekarang dia menjadi patah hati karena kita.” Yunji mengerucutkan bibirnya.

Jonghyun melipat tangannya di atas meja kemudian memajukan badannya untuk menatap Yunji lebih dekat. “Oleh karena itu aku minta maaf padanya. Aku minta maaf telah membuatnya salah paham dengan sikapku. Jujur saja setelah kesalahpahaman kita beberapa hari yang lalu, aku sangat memikirkan apa yang kau katakan kepadaku, bahwa tidak baik jika aku bersikap seperti itu kepada semua orang terutama kepada yeoja.”

Yunji mengangguk sambil tersenyum. “Hmm.. tapi bukan berarti kau berubah jahat atau sangat cuek lho. Hanya ada batasannya saja untuk berbuat baik kepada orang lain terutama yeoja.”

Jonghyun mengusap pelan puncak kepala Yunji. “Arasseo, arasseo.”

“Oh iya.” Yunji tiba-tiba teringat sesuatu. “Bagaimana luka di tanganmu, Oppa?”

“Sudah tidak apa-apa, kok. Lukanya hampir kering.”

“Jangan lupa selalu mengganti perbannya ya.” Yunji menyentuh pelan lengan Jonghyun yang terluka. Meski tidak terlihat karena tertutup cardigan, Yunji dapat merasakan perban yang terlilit di lengan kokoh kekasihnya itu.

“Iya, jangan khawatir.” Jonghyun meraih tangan mungil yang sedang mengelus luka di lengannya itu. Ia membiarkan matanya terpejam saat menyapukan kecupan di punggung tangan Yunji.

Yunji dapat merasakan wajahnya memanas, pasti sekarang ini wajahnya sudah memerah. Jonghyun mengangkat wajahnya yang tadi tertunduk kemudian tertawa melihat wajah kekasihnya semerah kepiting rebus.

“YA! KIM JONGHYUN!” Jonghyun menoleh cepat ketika mendengar namanya dipanggil dengan teriakan cempreng yang familiar. Dilihatnya Key dan Minho berjalan ke arahnya. Ekspresinya susah ditebak, mereka terlihat annoyed akan sesuatu hal. Tapi apa?

Begitu mereka sampai di hadapan sepasang kekasih itu, Key dan Minho masing-masing melihat bergantian ke Jonghyun kemudian Yunji kemudian ke Jonghyun lagi. Key akhirnya membuka suara “Kalian resmi berpacaran?” dengan ekspresi heran, senang tapi juga kesal.

Minho duduk di hadapan Jonghyun dan Yunji “Kenapa kami harus mendengar kabar gembira ini dari yeoja-yeoja yang sedang bergosip di kantin?”

Jonghyun dan Yunji saling berpandangan kemudian tersenyum kecil.

**

Yunji berjalan keluar kelas sendirian, kali ini ia tidak sekelas dengan Hyeji karena sahabatnya itu tidak mengambil mata kuliah ini. Hari ini kelas tiba-tiba dibatalkan karena dosen pengajarnya sedang sakit. Yunji melangkahkan kakinya ke hall basket yang tidak jauh dari gedung departemen musik.

Ia melongokkan kepalanya di pintu hall. Dilihatnya Jonghyun sedang melakukan sebuah pass break. Bola melambung jauh hampir dua per tiga lapangan dan berhasil ditangkap oleh Dongwoo yang langsung melakukan lay-up.

Yunji pun mencari tempat duduk yang agak di belakang. Sengaja, ia tidak ingin Jonghyun menyadari bahwa ia sedang ditonton oleh Yunji. Tidak banyak memang yang menonton pertandingan ini, hanya mahasiswa dari masing-masing departemen yang sedang bertanding saja. Mungkin karena ini bukan pertandingan resmi.

Sekarang lawan membangun serangan. Tidak kalah cepat dengan serangan yang dilakukan tim Jonghyun. Hanya beberapa detik saja pemain yang bertubuh tinggi sudah hampir melakukan shootingnya.

Tapi salah satu pemain dari tim departemen musik, yaitu Hyukjae, berhasil merebut bola. Dioperkannya langsung ke arah Jonghyun yang segera membangun serangan. Dua kali ia mengecoh lawan. Dongwoo dan Joon langsung ikut mengacaukan defend lawan. Masih bermain sendiri, Jonghyun sudah masuk ke three second area, mengecoh center lawan yang berbadan lebih besar darinya, lalu dengan begitu cepat melakukan lay-up.

Kali ini tim lawan yang mendapat giliran menyerang. Tapi baru saja setengah lapangan, terdengar bunyi peluit menandakan permainan telah usai. Kedua tim langsung bersalaman tanda sportifitas mereka.

Yunji membelalakkan matanya ketika mendengar peluit panjang. Sudah selesai? Yang benar saja. Aku baru duduk tujuh menit di sini, omelnya dalam hati sambil mengerucutkan bibirnya. Sedikit demi sedikit penonton mulai beranjak meninggalkan hall. Kemudian ia melihat Jonghyun dan Dongwoo sedang berkumpul tepat di seberang tempat Yunji duduk sekarang. Lalu, ia pun langsung menghampiri mereka.

Jonghyun masih belum menyadari kehadiran Yunji. Tinggal beberapa langkah lagi menuju tempat Jonghyun berada, tiba-tiba Dongwoo melihatnya berjalan mengendap-endap di belakang punggung Jonghyun. Yunji buru-buru meletakkan jari telunjuk di depan bibirnya mengisyaratkan agar Dongwoo tidak memberitahu Jonghyun. Dongwoo mengangguk mengerti dengan senyum kecil yang berusaha ia sembunyikan.

Dua langkah lagi, Yunji akan mengagetkan Jonghyun yang masih asyik saja mengipas-ngipas tubuhnya yang berkeringat. Namun langkah Yunji terhenti ketika tiba-tiba Jonghyun mengangkat bagian bawah kaos, bermaksud untuk membukanya.

“Ya Jonghyun-ah!” Dongwoo berteriak untuk mencegah Jonghyun tapi sudah terlambat karena Jonghyun dengan secepat kilat telah membuka kaosnya yang memang sudah basah oleh peluh.

“Ah waeee? Mengagetkanku saja. Jangan berteriak seperti itu.” Jonghyun masih sibuk mengelap keringat di sekitar dada dan lehernya. Matanya melihat ke sana ke mari, mencari botol minumnya yang hilang entah ke mana. Jonghyun berbalik dan luar biasa kaget ketika mengetahui Yunji sudah ada di belakangnya dengan tampang terkejut dan mulut yang menganga.

“Yunji-ah!” Jonghyun segera menutup bagian depan tubuhnya dengan handuk kecil yang sedang dipegangnya. Tapi itu terlambat karena Yunji sudah terlanjur melihatnya.

Yunji sempat terbengong-bengong dengan wajah yang bersemu merah. Tubuh kekasihnya itu benar-benar oke. Perutnya lumayan six-pack meski tidak seekstrim idol-idol Korea seperti Nickhun 2PM atau Siwon Super Junior. Tapi mata Yunji tiba- tiba menemukan sesuatu yang janggal. Di leher dekat collarbone Jonghyun ada bekas luka yang sepertinya cukup serius, lalu di tangannya ada beberapa luka seperti sayatan yang sudah mengering, hanya tinggal bekasnya saja.

“Yunji-ah.” Jonghyun memanggil Yunji yang masih melamun di depannya. Ia mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah Yunji. “Chagiya.. kamu belum pernah lihat namja bertelanjang dada, ya? Sampai lama begitu kagetnya.”

Yunji mengangkat jari telunjuknya, menunjuk ke arah luka-luka di tubuh Jonghyun. “Oppa, itu kenapa?

TBC

27 thoughts on “[FREELANCE] SECRET (Part5)

  1. Buat para reader, mianhae ya itu bold dan italicnya ga muncul lagi *deep bow*
    Mngkin ada kesalahan pas admin ngepost.
    Untuk ke depannya akan diperbaiki lagi

  2. haha..
    Jdi nyengir2 sndiri pas bca bgian mreka jadian..🙂

    mw jg donk liat bodyx jjong oppa..

    Mkin seru aj nih critax saeng..🙂

    Jdi pnsaran kjadian ap sih yg sbnrx dlu trjadi,,
    smpe2 jjong oppa sbgitu mndritax..😦

    dtnggu klanjutanx saeng,,

  3. menurut aku sih bekas mau bunuh diri Jonghyub saking stressnya ngadepin si Jongmin sialan *oops
    yang dileher bekas gantung diri, yang dilengan bekas sayatan pembuluh drah..
    *sotoy

    huwaaaah, makin oke nih ceritanya eon,,
    minggu depan publish lagi kan??
    kok aku suka banget ya sama ide ceitanya..🙂

    • Omo, aku gak akan tega bikin Jonghyun gantung diri atau nyayat nadinya. bayanginnya aja sedih banget :”(
      iya Insya Allah minggu depan publish lagi.
      makasih yaaaa🙂

      • itu si ratna abis nonton 49 days masih keinget2 gantung diri, nyayat tangan, trus sebentar lagi menabrakkan diri ke mobil..haha

  4. Kyaaaaaaaa….. So sweeeet banget jongji(?) moment. Pas kissing itu harusnya daun2 jatuh berguguran~ #plaak

    omo! Jadi insa pacarnya onew? /dies *brb berubah jadi insa*

    pas sica ngelabrak yunji jadi inget di egoistic marriage xD
    DAN ITU! jonghyun buka baju?????? Oh my~ *.*
    eh? tapi ada lukanya ya? O.o

    lanjut dit!

    • Itu pas mereka kissing, gue emang ngebuat seperti apa yang Jjong mau. Dia kan pernah bilang first kissnya pengen di bawah lampu jalan kekekeke.

      Ne, Insa pacarnya Onew, jadi lo pas bacanya anggap aja nama Insa berubah jadi Jinhya –> pathetic banget perasaan wakakaka.

      Gue juga sangat menantikan kapan Jonghyun buka baju beneran *eh?
      gomawo udah baca dan comment🙂

  5. hahahaha, iya kak nen. kirain Si Jjong juga stres kaya Song Yi Kyung..😀

    pokoknya minggu depan Nandit eonni harus tanggung jawab ngobatin penasaranku, itu luka apa!?! #maksa😀

  6. qhiiIU eonnie: iya bener eonni! eonnie lebih tua dari aku setahun. akhirnya ada juga yang lebih tua dari aku di sini. temen-temen admin di sini pada di bawah aku semua soalnya -___- yeay gajadi paling tua lagi!

  7. Mian baru sempet baca n’ coment sekarang. udah telat banget ya???
    Akhirnya JongJi jadian juga. chukae~
    Ya ampun~ kalau ngeliat Jong telanjang dada aku sich bukannya kaget lagi pingsan dan langsung mati juga bisa *Lebey*
    Eh author umurnya berapa emank???

    • Ya ampun gapapa kooo😉 yang penting pas selesai baca langsung meninggalkan comment kekeke.

      Aku 92 line sama kaya Amber f(x) haha. Emang Nam Hyun Young-ssi umur berapa? (dari awal aku gatau harus manggil dengan sebutan eonni apa ga, jadinya pake formal aja biar general hehehe)

      • Masih tua’n aku. aku 90 line.
        hoho mulai sekarang kamu adalah dongsaeng saya #PLAK
        aku paling tua ya disini???? >_<

  8. Nam Hyun Young Eonni:
    OMO aku ga ngira eonni 90line. Berarti seJonghyun dooong.
    Ne, mulai sekarang aku dongsaengnya Eonni hehehe

  9. Eonn, mian baru baca lagi…

    Yes, akhirnya mrk jadian. Awalnya ku kira itu cuma mimpi lho wahahha
    Aduh itu seniornya melanggar HAM tuh *apaansihsoktau ToT
    Luka luka jjong itu yg dipukul hyungnya itu kan? Parah juga ya smpe berbekas. Lanjutt ahh

    • iyaaa gpp kok Ayya🙂
      dikira mimpi karena setelahnya itu scene Yunji bangun tidur ya? hehe
      makasih yaa untuk commentnya🙂

  10. acara penembakannya bikin ngakak.. lol… yunji jg jwbnya.. hahaha ktauan ngarep.. lol…

    tidak membuat kedua sepasang kekasih itu mengigil. — gak usah pke ‘kedua’ lagi…

    lnjut ah

  11. eon padahal aku belom baca part 4 loh gara2 belum dapet email pass T__T
    tapi komen dulu ah part2 lainnya😀

    ah eon, km berhasil membuatku envy beraaaaat sama yunji. jongji couple so sweet banget ih~

  12. I am really loving the theme/design of your web site.

    Do you ever run into any internet browser compatibility problems?
    A number of my blog audience have complained about my site not operating correctly in Explorer but looks great in Opera.
    Do you have any solutions to help fix this problem?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s