[FREELANCE] I KNOW I’M SELFISH

I KNOW I’M SELFISH

Title : I Know I’m Selfish

Author : Lee Samo-nim

Cast : Onew, Jung So Yeon

Length : oneshot

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-15

A/N : FF ini sudah pernah di publish di SF3SI.

Hmm.. Pagi yang sangat indah buatku. Aku bangun dengan semangat dan berangkat ke kampus dengan pakaian yang membuatku yang bertubuh mungil ini terlihat semakin cute ditambah sedikit riasan yang membuat wajah putihku terlihat sedikit merona kemerahan. Kuliahku pun terasa sangat menyenangkan. Tentu saja karena nanti sepulang kuliah namjachinguku onew oppa – ya, namjachinguku adalah SHINee Onew – mengatakan akan menjemputku untuk makan siang bersama. Sepatu yang kukenakan hari ini pun agak berbeda. Biasanya aku hanya mengenakan flat shoes atau sneakers, hari ini aku sedikit ‘menyiksa’ diriku dengan mengenakan sepatu berhak 7cm untuk mengimbangi tinggi Onew oppa. Sepanjang pagi wajahku selalu dihiasi senyum walaupun mata kuliah hari ini adalah mata kuliah yang paling tidak kusukai dan dosen yang mengajar juga sedikit membosankan. Selesai kuliah, aku keluar kelas dengan perasaan riang dan jantung yang mulai berpacu lebih cepat. Ah, aku merindukan orang yang telah menjadi namja chinguku selama 2 tahun itu.

Drttt… drttt… drttt…

Aku melirik ponselku.

Onew-nim calling..

“Yeoboseyo. Oppa eodiyo?”, kataku masih dengan nada riang dengan senyum cerah yang menghiasi wajahku.

“Ni maem-eun yeonghwoni (di hatimu selalu),” jawabnya dengan suara lembutnya yang sepertinya mampu membuat semua wanita di dunia ini meleleh. Senyum cerah di wajahku semakin melebar hingga membuat rahangku sedikit kaku karena selalu tersenyum sejak tadi pagi.

“Arayo. Keurom jigeum eodiyo oppa?”

“So Yeon-ah, mianhae. Jeongmal jeongmal mianhae. Sepertinya kencan kita kali ini harus dibatalkan lagi. Aku ada schedule yang baru diberitahu oleh manager hyung. Kuharap kau mengerti So Yeon-ah”, senyum di wajahku memudar seketika. Lagi? Ini sudah keberapa kalinya dia membatalkan kencan kami?

“Keunde….Naneun…..bogoshippoyo oppa..” aku mulai mengerucutkan bibirku kecewa walaupun dia tidak melihatnya.

“ Kenapa kau merindukanku? Aku kan di hatimu selalu jagiya”, katanya mencoba melucu.

“hmm..keure oppa”, jawabku malas.

“Lain kali aku akan membayar kencan kita yang batal ini So Yeon-ah. Saranghae..”, haahhh..kau selalu bilang seperti itu oppa. Kencan-kencan kita yang kau batalkan kemarin pun belum kau bayar. Kau selalu mengabaikanku.

***

Hari ini hari ulang tahunku. Ini sudah sore tapi sampai sekarang namchinku yang sangat kucintai itu belum juga mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Apakah dia ingin memberi surprise padaku? Hah, aku jadi tidak sabar.

Calling Onew-nim..

“Yeob….”

“Oppa, mau menemaniku makan malam? Aku akan menunggumu walaupun kau datang sangat malam”, tanyaku penuh harap.

“Tidak usah So Yeon-ah. Makan sajalah duluan. Aku harus recording sebuah acara variety show jadi belum bisa bertemu denganmu”

“Tapi aku sedang ingin makan malam denganmu oppa. Kali iniii saja”, aku memohon.

“Ayolah So Yeon-ah. Jangan bersikap kekanakan. Mengertilah keadaanku.”, katanya lagi yang membuatku semakin kesal.

“Mwo? Kekanakan?”, aku berhenti sebentar untuk menarik napas dan menjernihkan pikiranku. Berusaha untuk tidak marah. Aku tidak ingin marah padanya.

“Hmmhh..baiklah. Ah,oppa…”, panggilku lagi sebelum dia memutus teleponnya.

“Hmm…??wae?”

“Tidak adakah hal lain yang ingin kau katakan padaku?”, dia belum mengucapkan selamat ulang tahun padaku.

“Hmm…sepertinya tidak”, jawabnya kemudian.

“Oh, baiklah” aku memutus telepon.hmm.. Dia melupakannya. Aku merasa sedikit….. ani, maksudku sangat kecewa.

Aku memutuskan untuk makan malam di luar karena setelah memeriksa kulkas, tidak ada bahan makanan yang tersisa dan aku cukup malas untuk belanja dan masak. Aku memutuskan untuk makan malam di restoran favoritku dan Onew oppa. Kami menyukai restoran ini karena menu utamanya ayam dan suasananya tenang dan sangat menghargai privasi pelanggan. Tidak mudah untuk berkencan dengan seorang Onew SHINee kau tahu? Dan ini adalah tempat yang cukup mendukung.

Suara dentingan pintu restoran bersamaan dengan sambutan pelayan restoran pada pelanggan yang baru datang membuatku mengalihkan pandanganku dari samgyetang ku. Seketika mataku membulat membuat bola mataku seakan ingin keluar dari kelopak mataku. Jantungku berhenti berdetak. Onew oppa? benarkah itu onew oppa? bersama Yoona SNSD? Bukankah Onew oppa sedang ada schedule? Pikiranku melayang pada sebuah acara variety show…..

“Yoona-ssi is in a cosmetic commersial. She winks in the end. I love that scene,”

DEG. Mungkinkah? Aku memperhatikan wanita yang sekarang sedang bergelayut di tangan Onew oppa itu. Dia cantik sekali. Jika dibandingkan denganku, dia bagaikan seekor angsa yang rupawan sedangkan aku adalah seekor itik buruk rupa. Mengapa mereka terlihat akrab sekali? Onew oppa mengacak-acak rambut Yoona yang kemudian ditepis olehnya dan kemudian mereka tertawa bersama.

Hatiku nyeri melihatnya. Seolah ada ribuan jarum berukuran kecil menusuk-nusuk hatiku menimbulkan sensasi yang sulit dijelaskan. Meninggalkan lubang-lubang kecil yang nyaris tak terlihat namun berjumlah sangat banyak di hatiku. Tanpa kusadari sendok yang kupegang terjatuh menimbulkan suara bising yang mengganggu membuat beberapa orang di restoran itu menoleh ke arahku. Sial, mereka juga sedang melihat ke arahku. Aku buru-buru bangkit dari kursiku, meletakkan uang di atas meja dan bersiap meninggalkan restoran tersebut. Namun langkahku tertahan karena ada sebuah tangan yang sekarang sedang mencengkeram pergelangan tangan kananku membuatku berbalik menghadap si orang tersebut.

“So Yeon-ah, ini tidak….”,

“Oppa, lepaskan tanganku”

“So Yeon-ah, dengarkan dulu. Ini tidak…”

“Sudahlah oppa. Aku mau pulang…” kataku sambil berusaha melepaskan tanganku dari genggamannya yang cukup kuat.

“KUBILANG DENGARKAN AKU DULU”, suaranya meninggi. Aku sedikit terhenyak mendengarnya. Dia….membentakku? Mataku mulai merah sementara cairan bening telah berkumpul di sudut mataku membentuk sebuah sungai kecil.

“Apa yang harus kudengarkan? Oppa menolak untuk makan bersama denganku malam ini dengan alasan schedule yang padat? Recording variety show baru hah? Atau…We Got Married? Kalau begitu chukkae……”, kataku sinis sambil mengeluarkan evil smile.

“So Yeon-ah jebal. Kau salah paham” suaranya mulai kembali melembut. Dia berusaha meraih pipiku dengan tangan kirinya namun buru-buru kutepis.

“Oppa… Apakah artinya aku bagimu?” aku menatapnya dengan tatapan sendu.

“Apa maksudmu? Mengapa kau bertanya seperti itu?”, jawabnya dengan raut wajah yang menunjukkan bahwa ia tidak suka aku mengajukan pertanyaan seperti itu.

“Jebal jawab saja oppa,” kataku sambil menatapnya dalam berusaha menyelami kedalaman matanya.

“Kau yeoja-ku. Yeoja yang kucintai. Kau tau itu lebih dari siapapun di dunia ini.”

“Yeoja yang kau cintai? Aku bahkan tidak tahu harus mempercayai ucapanmu atau tidak Onew-ssi,” kataku mulai bersikap sangat formal padanya.

“Onew-ssi? Kau meragukan cintaku So Yeon-ah?” katanya lirih.

“Onew-ssi, kalau kau hanya boleh memilih salah satu dan meninggalkan yang lainnya, kau memilih aku atau ayam?”, pertanyaan bodoh itu meluncur begitu saja dari bibirku.

“So Yeon-ah itu pilihan yang sangat kekanakan kau tau. Bagaimana mungkin aku membandingkan kau dengan ayam?”

“Aku atau ayam? Aku atau SHINee? Aku atau pekerjaanmu? Aku atau member-membermu? Aku atau SM? Aku atau karirmu?”, tanyaku ngotot. Bodoh kan? Walaupun aku tau jawabannya akan sangat menyakitiku, tapi aku tetap menanyakannya. Aku hanya ingin mendengar kenyataan dari bibirnya walaupun hal itu akan teramat sangat menyakitkanku.

“So Yeon-ah, bagaimana bisa aku memilih? Kau tau itu tanggung jawabku. Aku leader. Aku adalah kepala keluarga bagi SHINee,” katanya frustasi.

“See? Kau tidak memilihku. Sebenarnya aku ada di nomor berapa dalam daftarmu?”, cairan-cairan bening di sudut mataku semakin mendesak untuk keluar tapi aku harus menahannya. Aku tidak ingin menangis di hadapannya. Biarlah seluruh dunia tahu bahwa aku adalah gadis yang lemah tapi jangan sampai dia mengetahuinya.

“Tapi aku juga tidak memilih mereka. Aku tidak bisa memilih salah satu So Yeon-ah. Aku tau itu egois tapi kenapa aku harus mematahkan sayap kiriku untuk mempertahankan sayap kananku? Aku membutuhkan kedua sayapku untuk bisa terbang”

“Kalau begitu carilah sayap kanan baru untukmu Onew-ssi, karena sepertinya aku tidak bisa menjadi sayap kanan bagimu” dalam sekali hentakan, genggaman tangannya terlepas. Aku bergegas meninggalkannya yang masih berdiri mematung memandang kepergianku. Semua kemarahanku yang telah kupendam selama 2 tahun terakhir ini membuncah keluar. kesabaranku sudah mencapai titik puncaknya.

***
Onew’s POV

“KUBILANG DENGARKAN AKU DULU”, tanpa sadar suaraku meninggi. Aku membentaknya? Membentak wanita mungil yang sangat kucintai ini? Aku melihat matanya mulai memerah. Oh, aku pasti sudah sangat melukai hatinya.

“Apa yang harus kudengarkan? Oppa menolak untuk makan bersama denganku malam ini dengan alasan schedule yang padat? Recording variety show baru hah? Atau…We Got Married? Kalau begitu chukkae……”, katanya dengan nada menyindir.

“So Yeon-ah jebal. Kau salah paham” suaraku mulai melembut kembali. Aku berusaha meraih pipinya dengan tangan kiriku, ingin mengelusnya dengan lembut untuk menghentikan amarahnya. Tapi dia buru-buru menepisnya.

“Oppa… Apakah artinya aku bagimu?” pertanyaan sederhananya itu bagai petir di telingaku. Somehow that damn question makes my heart feels like stabbing in pain (minjem kata-katanya victoria di episode terkahir WGM khuntoria)

“Apa maksudmu? Mengapa kau bertanya seperti itu?” nada tidak suka terdengar jelas di suaraku.

“Jebal jawab saja oppa,”

“Kau yeoja-ku. Yeoja yang kucintai. Kau tau itu lebih dari siapapun di dunia ini”, kataku dengan perasaan campur aduk. Bukankah hal ini sudah sangat jelas?

“Yeoja yang kau cintai? Aku bahkan tidak tahu harus mempercayai ucapanmu atau tidak Onew-ssi,” Onew ssi? Apakah dia sangat marah padaku? Dia bahkan tidak mempercayai ucapanku.

“Onew-ssi? Kau meragukan cintaku So Yeon-ah?” kataku lirih. Kesedihanku tak dapat kubendung lagi.

“Onew-ssi, kalau kau hanya boleh memilih salah satu dan meninggalkan yang lainnya, kau memilih aku yang baru 2 tahun denganmu atau ayam yang sudah bersamamu sejak kau lahir?”, hah, pertanyaan macam apa itu? Apakah ini karena kata-kataku di Hello Baby?

“So Yeon-ah itu pilihan yang sangat kekanakan kau tau. Bagaimana mungkin aku membandingkan kau dengan ayam?”, kataku marah.

“Aku atau ayam? Aku atau SHINee? Aku atau pekerjaanmu? Aku atau member-membermu? Aku atau SM?”, apalagi ini? Ada apa dengannya? Mengapa dia menjadi selabil ini?

“So Yeon-ah, bagaimana bisa aku memilih? Kau tau aku memikul tanggung jawab yang sangat besar. Aku leader. Aku adalah kepala keluarga bagi SHINee,” apa secara tidak langsung dia menyuruhku meninggalkan SHINee deminya? Bagaimana bisa?

“See? Kau tidak memilihku. Sebenarnya aku ada di nomor berapa dalam daftarmu?”, aku mengepalkan kedua tanganku. Aku sangat ingin memukul sesuatu saat ini juga untuk melampiaskan emosiku yang sudah sangat memuncak.

“Tapi aku juga tidak memilih mereka. Aku tidak bisa memilih salah satu So Yeon-ah. Aku tau itu egois tapi kenapa aku harus mematahkan sayap kiriku untuk sayap kananku? Aku membutuhkan kedua sayapku untuk bisa terbang”, ah darimana aku mendapat kata-kata itu? Ternyata aku cukup romantis juga. Kuharap dia akan luluh dengan keromantisanku yang sangat langka ini.

“Kalau begitu carilah sayap kanan baru untukmu Onew-ssi,” dalam sekali hentakan, dia menarik tangannya dan berlalu meninggalkanku yang masih mencerna kata-katanya barusan. Apa aku salah dengar? Aku sangat berharap ini hanyalah mimpi. Aku melangkah secepat yang kubisa menuju kamar mandi restoran kemudian meninju cermin di hadapanku dengan marah. Darah merah segar mengalir di punggung tanganku. Aku tidak memperdulikan Yoona yang mungkin sedang menungguku dengan bingung di dalam restoran. Otakku sibuk memutar ulang kejadian tadi lagi dan lagi. Aku merasa sangat sesak. Kemana semua oksigen di dunia ini? Ataukah paru-paruku yang sudah tidak berfungsi lagi? Mengapa rasanya sangat sulit bernapas?

To: SNSD Yoona
Yoona-yah, mianhae, tapi bisakah kau pulang sendiri? Aku harus pulang duluan. Maafkan aku.

Send.

Aku pulang ke dorm dengan keadaan yang sangat berantakan. Aku benar-benar frustasi karena otakku tidak henti-hentinya memutar kejadian tadi yang menambah sesak di hatiku. Darah di punggung tanganku masih saja mengalir namun anehnya tidak terasa sakit sedikit pun. Mungkin karena sakit di hatiku mampu mengalahkan rasa sakitnya. Sedetik kemudian, sebuah catatan mencolok di kalender menarik perhatianku. Ommo.. Ulang tahun So Yeon. Aku melupakannya. Ini sudah jam 1 pagi. Pantas saja dia memaksaku makan malam dan itu jugalah alasan menjadi sangat sensitif malam ini. Kuraih ponselku dan kutekan angka 7 lama untuk menelepon yeochin ku yang sedang ngambek itu. Aku meringis kecil menyadari bahwa di panggilan cepatku pun dia hanya mendapatkan nomor 7 bukan nomor 1.

Calling Saranghaneun So Yeonnie….

Aku sudah meneleponnya berkali-kali tapi tidak ada jawaban. Apa dia sudah tidur? Baiklah hal
pertama yang akan kulakukan pagi ini adalah pergi ke apartementnya untuk meminta maaf.

***
Sekarang masih jam 6 pagi tapi aku sudah berada di depan pintu apartemen So Yeon. Terlalu pagi memang, tapi mataku tak dapat tertutup sedetik pun sejak tadi malam dan aku juga sudah tidak sanggup menahan diriku untuk kemari. Setelah menarik napas panjang, aku memberanikan diri memencet bel. Beberapa saat kemudian pintu terbuka dan muncullah dia. Gadis yang memenuhi pikiranku. Gadis yang walaupun baru bertemu tadi malam namun sudah sangat kurindukan.

“Appa wasseo?”, katanya begitu membuka pintu. Appa? Begitu melihatku dia buru-buru ingin menutup pintu tapi kalah cepat dengan kakiku yang mengganjal pintunya.

“Saengil chukkae nae saranghaneun So Yeonnie” kataku sambil memasang senyum terbaikku yang membuat mataku lenyap meninggalkan garis berbentuk bulan sabit. Dia memandangku dengan tatapan kosong selama beberapa saat.

“Kau salah orang Onew-ssi. Aku tidak berulang tahun hari ini.” kata-katanya tepat menancap di ulu hatiku.

“Mianhae, Oppa melupakannya. Oppa tidak akan mengulanginya. Yaksok, “ kataku lembut sambil mendorong pintu dan melangkah masuk ke bagian dalam apartemennya. Dia hanya menghela napas kemudian menutup pintu namun tidak bergerser sedikit pun dari posisi berdirinya tadi.

Ini pertama kalinya bagiku masuk ke dalam apartemennya. Apartemennya sangat nyaman. Minimalis namun tertata rapi. Aku membalikkan badanku menoleh lagi ke arahnya. Jadi begini penampilannya saat ada di rumah. Shirt berwarna hitam yang tampak kebesaran di badannya dipadu dengan hotpants berwarna cokelat. Hotpants? Dia tak pernah sekalipun memakainya keluar dan aku cukup bersyukur karenanya. Aku tidak akan suka bila namja-namja diluar sana melihat gadis mungilku ini dalam keadaan yang……hmm…seksi seperti sekarang ini. Rambut panjangnya yang biasanya selalu digerai kali ini dikuncir kuda membuat lehernya yang jenjang terlihat dengan jelas. Secara refleks aku menelan ludah kemudian menggeleng-gelengkan kepalaku untuk menjernihkan pikiranku karena jika dia tahu apa yang sedang kupikirkan saat ini aku yakin dia tidak akan ragu-ragu membunuhku saat ini juga.

Lingkaran hitam samar terlihat di bawah matanya. Apa dia juga tidak tidur tadi malam? Matanya juga sedikit sembab. Dia menatap ke arah tanganku yang luka dengan ekspresi yang sulit kuartikan.

“Tidak ada schedule?” tanyanya memecah keheningan.

“Nanti jam 8. Jadi sebelum jam 8 aku milikmu jagiya,” kataku sambil tersenyum lembut. Tatapan matanya berubah sendu. Omo, apa aku salah bicara lagi?

“Tapi aku ingin memilikimu selamanya. Bukan hanya sampai jam 8,” katanya sangat pelan, lebih seperti bisikan pada dirinya sendiri. Aku benar-benar sudah salah bicara.

“Kau ingin minum apa Onew ssi?” Tanyanya lagi.

“Berhenti memanggilku seperti itu So Yeon-ah. Kau tahu aku tidak menyukainya.” Kataku dengan nada tidak suka yang bahkan tidak berusaha kututupi. Dia diam. Menundukkan kepala, tak berani menatap mataku. Terlihat seperti sedang berpikir keras sebelum akhirnya dia berbicara.

“Kitaaa…. berakhir saja” jderrr… Kalimat itu teramat sangat mengejutkanku. Itu kalimat yang sangat tidak ingin kudengar. Seketika tubuhku menegang. Rahangku mengeras.

“Shireo. Aku tau aku bersalah. Mianhae So Yeon-ah. Tapi jangan begini. Masalah ini bisa kita bicarakan baik-baik,” aku berusaha membujuknya. Mwo? Putus? Memikirkannya saja sudah membuatku gila.

“Aniyo Onew ssi. Kau tidak salah. Aku yang salah. Aku yang egois. Aku ingin memilikimu sendirian. Aku ingin menjadi yang nomor 1 dalam daftarmu. Aku yang sudah lelah dengan hubungan kita ini. Jadi kau tidak perlu meminta maaf karena akulah yang salah. Setelah kupikir-pikir lagi, sepertinya aku tidak cukup mampu untuk menjadi pacar seorang idol sepertimu. Aku hanya ingin menjalani hidup yang biasa-biasa saja seperti wanita-wanita lain di luar sana,” aku menatapnya tak percaya. Apa dia serius?

Dering ponselku memecah keheningan di antara kami. Key calling… aku menatap So Yeon sekilas. Dia membuang muka. Dia pasti sangat kesal sekarang. Aku mematikan ponselku kemudian mencabut baterainya. Setidaknya untuk kali ini saja aku tidak ingin ada yang mengganggu.

“Pergilah . Ini sudah jam 07.30” katanya datar. Aku masih menatapnya tanpa berkedip sampai telepon apartementnya berdering. Aish selalu saja ada gangguan. Tapi aku tidak melihatnya bergerak selangkah pun. Dia masih berdiri mematung sampai terdengar suara voice mail dari teleponnya.

So Yeon kau sudah selesai bersiap-siap? Appa akan menjemputmu sebentar lagi. Appa tidak ingin kita ketinggalan pesawat. Saranghae nae ttal…

Mwo? Bandara?

“Aku akan ikut appa pindah ke California,” katanya sambil memandangi ujung kakinya seolah dapat membaca pikiranku. “Jadi pergilah. Kau tak mau telat kan? Aku juga sebentar lagi akan berangkat”

Kenyataan apalagi ini? dia sudah benar-benar mengejutkanku dalam 2 hari terakhir ini. apa ini balasan untukku karena terlalu mengabaikannya? Dia pasti sudah sangat lelah karena aku selalu mengabaikannya karena pekerjaanku. Bagaimanapun dia adalah yeoja chingu ku yang membutuhkan perhatianku. Mungkin selama ini dia bahkan merasa tidak punya namja chingu sama sekali karena kesibukanku yang tidak pernah punya waktu untuknya.

“Tidakkah kau pikir kepergianmu ini terlalu mendadak? Kau ingin melarikan diri dariku? Kau tidak tahu bahwa kaulah napasku?” kataku sambil menatapnya nanar. Dia mengangkat wajahnya menatap ke arahku sambil memaksakan seulas senyum yang membuat wajah cantiknya terlihat aneh. Ekspresi seperti ini jelas tidak cocok untuk wajahnya. Akan lebih cantik jika dia tersenyum dan tertawa seperti biasa.

“Oppa, aku mengerti ini tidak akan mudah. Tapi yang kita butuhkan hanyalah waktu dan kemudian kita akan baik-baik saja. Lagipula…”, dia menghembuskan napas berat sebelum melanjutkan kalimatnya yang tadi terpotong “Kau bisa membuat awal yang baru dengan wanita secantik…..err Yoona ssi. Aku percaya tidak akan butuh waktu lama bagimu untuk melupakanku bila di sisimu sudah ada Yoona-ssi” katanya sambil menggigit bibir bawahnya.

“So Yeon-ah aku dan Yoona hanya….”

“Sudahlah oppa. Pergilah. Pekerjaanmu menunggumu. Aku yakin saat ini manajermu dan member lainnya sangat menantikanmu. Bagaimana dengan konsermu bila kau tak muncul disana? Bagaimana dengan karirmu?” katanya lirih. Raut kesedihan di wajahnya membuatku ingin membunuh diriku saat ini juga. Dia kemudian berlalu masuk ke dalam kamarnya dan menutupnya.

Aku mendudukkan diri di sofa di dekat tempatku berdiri. Yang ada di pikiranku saat ini adalah Jung So Yeon yang sedang berada di balik pintu itu ntah melakukan apa. Pikiranku seakan terlalu penuh sampai-sampai tak tersisa lagi ruang bagiku untuk memikirkan konserku.

Deritan pintu mambuatku mendongakkan kepalaku dan segera berdiri. So Yeon keluar dengan penampilan rapi sambil menyeret sebuah koper berukuran lumayan besar dengan tangan kanannya. Nafasku tercekat. Dia…..benar-benar akan pergi? Dia mengalihkan pandanganku ke arahku dengan ekspresi terkejut campur bingung.

“Mmm…Oppa…belum pergi?” Dia melirik ke arah jam di meja dekat TV. Sudah jam 08.35. Aku hanya menggeleng pelan.

“Aku tidak akan pergi sebelum memastikan bahwa kau tetap berada di sisiku”

“Hmm..terserahlah” katanya cuek sambil berjalan ke arah pintu apartemennya. Saat melewatiku, aku menarik tangan kanannya sehingga koper yang diseretnya terjatuh kemudian menariknya ke dalam pelukanku.

“Kajima.. Jebal kajima..”, mataku sudah berkaca-kaca. Aku semakin mempererat pelukanku padanya yang belum bereaksi. Sepertinya dia sedikit terkejut. Beberapa saat kemudian, setelah berhasil mengumpulkan kesadarannya, dia menggeliat mencoba melepaskan pelukanku. Aku memeluknya semakin erat.

“Oppa konsermu…..” katanya sambil mendongakkan kepalanya menatapku dengan tatapan kosong.

“Kau ingin berada pada nomor 1 dalam daftarku kan?” sekilas wajahnya menunjukkan penyesalan. Air mata yang sejak tadi sudah menggenang di pelupuk mataku jatuh sudah. Pertahananku runtuh.

“Jika dianalogikan, kau adalah napasku. Nyawaku. Sementara SHINee, pekerjaanku, member-memberku, karirku adalah semangat hidupku. Tanpa nyawaku aku tidak akan bisa hidup apalagi bersemangat, tapi setidaknya tanpa semangat pun aku masih bisa hidup”

“Aku dan Yoona sama-sama diundang ke sebuah acara variety show. Namun karena beberapa hal, recordingnya dibatalkan. Karena dia mengatakan sedang ingin makan samgyetang, jadi dia kubawa ke restoran itu untuk makan malam,”

“Kenapa….emm…kenapa kalian terlihat dekat sekali? Dia…..bergelayut di tanganmu dan kau…..mengacak rambutnya” katanya sambil menunduk dengan suara yang semakin pelan hingga di akhir kata nyaris tak terdengar. Kedua sudut bibirku tertarik ke atas membentuk sebuah lengkungan.

“Hmm…Jadi itu masalahnya. Kau cemburu jagiya?” kataku sambil mengedipkan sebelah mata menggodanya. Semburat kemerahan muncul di pipinya membuat wajah cantiknya terlihat makin mempesona.

“Aigoo…maaf mengganggu. Aku tidak tahu,” kata seorang lelaki paruh baya yang sedang berdiri di pintu masuk. Dia menggaruk-garuk belakang kepalanya salah tingkah. Sementara So Yeon mendorongku kuat hingga pelukanku terlepas.

“Appa, wasseo?”, katanya sambil memeluk pria itu dan mengecup kedua pipinya membuatku sedikit cemburu. Dia tidak pernah menciumku duluan. Tunggu..appa? Pantas saja matanya tampak familiar karena So Yeon mewarisi mata itu. Jadi, dia tetap akan pergi.

“Kau sudah siap-siap Jung ahgassi? Lalu siapa pria tampan ini? kenapa kau tidak perkenalkan pada appa?,” tanya pria itu membuat So Yeon bingung harus melakukan apa. Kesedihan kembali menyelimuti wajahnya yang sedang menunduk itu. Otaknya seperti sedang berpikir keras menimbang-nimbang apa yang harus dilakukannya.

“Appa, sebentar aku ambil koperku. Onew ssi, sebaiknya kau pulang saja, aku akan segera berangkat” katanya kemudian sambil berjalan mengambil kopernya yang berada di dekatku. Hatiku benar-benar sesak. Rasa sakitnya tak dapat kuungkapkan dengan kata-kata. Tanpa berpikir panjang, aku menarik lengan So Yeon yang akan melangkah menjauhiku dengan tangan kananku kemudian meraih pinggangnya dengan tangan kiriku. Kukecup bibirnya. Bukan ciuman ‘panas’. Tapi ciuman yang penuh perasaan. Tanpa sadar butiran bening jatuh lagi dari pelupuk mataku membuat So Yeon kembali ke alam sadar dan melepas ciuman kami. Sementara pria itu, So Yeon appa hanya membelalakkan mata melihat kejadian itu. Aku tahu tidak seharusnya aku mencium anak perempuannya di hadapannya disaat aku bahkan belum memperkenalkan diri padanya.

“Onew ssi, kau membuat semuanya semakin sulit” katanya lirih.

“Onew ssi, itu namamu? Bisakah kau menjaga putriku dengan baik dan memastikan kau tidak akan membiarkannya terluka?” pria paruh baya itu akhirnya mampu mengeluarkan suara lagi.

“Appa…aniya appa. Aku akan pergi bersama appa,” katanya yakin. Belum cukupkah ciumanku tadi untuk menahan kepergiannya. Kalau saja tidak ada appanya disini saat ini, aku pasti akan meneriakinya.

“Kau menghawatirkan appa karena perceraian appa dengan eomma? Appa akan baik-baik saja So Yeon-ah. Tenang saja. Lagian, kalau kau mengikuti appa, akan sulit bagi appa mencari eomma baru” kata pria itu sambil tersenyum jahil yang langsung dibalas dengan tatapan mematikan dari So Yeon.

“So Yeon-ah, appa tidak mau ketinggalan pesawat, appa harus berangkat. Ingat, kau harus menelepon appa setidaknya 2 hari sekali dan mengunjungi appa setidaknya setahun sekali. Kau mengerti?” So Yeon memandang appanya sedih, kemudian berlari memeluknya erat sambil menangis.

“Hey kau namja tampan, tidakkah seharusnya kau membungkuk memberi salam padaku memohon agar aku mau menyerahkan gadisku padamu?” tanyanya padaku dengan nada kejam. So Yeon tertawa kecil. Aku melangkah mendekati mereka kemudian memberi salam pada calon mertuaku itu.

“Jaga dia baik-baik. Kalau kau menyakitinya, aku akan segera menjemputnya dan tidak ada kesempatan kedua buatmu. Ara?” aku tersenyum yakin lalu kami berdua mengantarnya sampai ke mobil. Abeonnim bersikeras untuk tidak perlu kami antar ke bandara. Setelah mobilnya menghilang dari pandangan kami, aku melirik ke arah So Yeon. Dia pasti sedih ditinggal oleh appanya. Kemudian aku mengarahkan lenganku ke arahnya. Dia melihatku heran.

“Mwoeyo?” tanyanya dengan kening yang sedikit berkerut.

“Kau ingin bergelayut di tanganku seperti Yoona kan?” tanyaku sambil tersenyum lembut. Dia hanya menatapku dengan tatapan datar. Sedetik kemudian dia memelukku membuatku sedikit terkesiap. Ini pertama kalinya dia mengambil inisiatif duluan. Rasanyaaa….benar-benar menyenangkan.

“Aniyo, aku lebih suka bergelayut di lehermu oppa. Aku bisa merasakan aroma tubuhmu” katanya sambil bergelayut manja di leherku. “Hmm… Lehermu hanya milikku oppa. tidak ada orang lain yang dapat bergelayut di lehermu selain aku. Kau mengerti?” katanya sambil sedikit menjauhkan badannya agar dapat menatapku. Tatapannya seakan-akan ingin menelanku.

“Kupikir aku akan kehilanganmu. Saranghae Jung So Yeon” kataku sambil menatapnya dalam. Berusaha masuk ke kedalaman matanya.

“Arayo oppa. Sekarang pergilah. Mereka pasti menunggumu. Kau sudah telat setengah jam” katanya membuatku mengernyit.

“Tenanglah. Aku tak akan pergi. Aku tidak ingin membuatmu menyesal” aku ingin protes tapi dia memotongku “aku juga tak ingin menikah dengan seorang pengangguran” katanya membuatku menjitak kepalanya sadis. Kemudian aku mengecup bibirnya sekilas. “Kalau begitu kau harus ikut supaya aku tenang” sebelum dia protes aku segera merangkul pinggangnya dan membawanya ke mobilku.

andwaeyo andwaeyo geureoke gajimayo
Jebal han beonman han beonman nal dasi anajwoyo

————-END————

9 thoughts on “[FREELANCE] I KNOW I’M SELFISH

  1. Dipikir” soyeon ny jg agak egois *ditendang soyeon
    tp ya it emang resiko pcran ma artis ayam (?),di sisi lain ksbran yeoja jg pzt ad btsnya, *ngomong apa sih gue.haha
    pkokny nice ff. Like it

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s