[FREELANCE] SECRET (Part 3)

Title                              : Secret – Part 3

Author                        : Kim Nara a.k.a Nandits

Main Cast                  : Kim Jonghyun, Han Yunji (OC)

Support Cast           : Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Choi Minho, Lee Taemin, Yoon Insa

Length                        : Sequel

Genre                           : Life, Romance, Friendship

Rating                          : PG-15

Thanks To               : Neni as my Beta-Reader

A/N                  : Annyeonghaseyo.. Berhubung ini FF pertamaku dan karena masih dalam tahap belajar, FF ini masih ter-influenced dari mana-mana: ada dari novel-novelnya Mbak Sitta Karina, ada dari drama, bahkan ada juga dari kehidupan nyata. Kritik dan saran yang membangun diterima banget lho. Happy reading J

 

SECRET – Part 3

Jonghyun memencet tombol di handphonenya, mengakhiri pembicaraan dengan seseorang. Kemudian ia masuk ke dalam kedai kopi bersamaan dengan bunyi bergemerincing yang berasal dari pintu kedai. Jonghyun memesan Ristretto, espresso dengan takaran double-strenght. Memang Jonghyun bukan pecinta kopi, ia lebih prefer minum susu atau jus daripada kopi. Tapi saat ini mungkin kopi dapat membantunya untuk mengurangi kepenatan yang menganggunya.

Jonghyun menoleh ke arah pintu masuk ketika ia mendengar suara gemerincing serupa yang berasal dari pintu kedai. Ia tersenyum dan melambaikan tangan ketika melihat siapa yang datang.

“Noona! Di sini.” Jonghyun memanggil seorang yeoja yang baru masuk ke kedai kopi itu. Sosoknya tinggi, langsing dengan rambut ikal yang tergerai indah. Kulitnya kecoklatan dan yeoja ini terlihat lembut dan menawan. She is just perfect.

So, what happened?” kata yeoja itu.

Jonghyun menghela nafas dengan berat, ekspresinya sangat menyedihkan “Aku bermimpi lagi. Mimpi itu terus berulang dan semakin sering frekuensinya.”

Yeoja yang disebut noona oleh Jonghyun hanya menatap Jonghyun yang bergerak-gerak gelisah. Ia ingin mendengar Jonghyun berbicara lebih lanjut, maka ia diam dan menunggu.

“Kau tahu, aku sudah berusaha melakukan apa yang kau sarankan kepadaku. Tapi itu semua tidak berpengaruh dan malah membuatku semakin tertekan.” Jonghyun berhenti sebentar, menatap nanar ke arah yeoja di depannya, “Apa aku gila?”

Yoon Insa, yeoja yang sedang duduk di hadapan Jonghyun, menyilangkan kakinya dengan anggun. Kemudian ia memajukan posisi duduknya dan berkata dengan santai namun lembut. “You know, kau belum pernah menceritakan sedikit pun tentang apa yang terjadi sebelum kau sering bermimpi buruk. Aku yakin mimpimu ini ada hubungannya dengan kejadian yang pernah terjadi di masa lalu. Setelah kau siap menceritakan semuanya kepadaku, aku akan berusaha membantumu.” Katanya tersenyum keibuan sambil mengenggam tangan Jonghyun yang sedikit gemetar.

Sebenarnya banyak lembaran ingatan yang tak berani disentuh terlalu sering oleh Jonghyun, karena melankoli yang muncul bisa meledak dan ia tidak punya kekuatan untuk meredamnya. Namun, akhirnya Jonghyun menghela nafas panjang, terlihat berpikir sebentar, kemudian ia mulai menceritakan semuanya. “Ku rasa semua ini berawal dari kejadian dua tahun yang lalu…”

**

Yunji berjalan dengan santai menikmati sore yang sejuk sambil menjilati es krim vanillanya. Ia memang suka sekali berjalan kaki di sore hari untuk sekedar menikmati langit berwarna jingga yang amat ia suka. Yunji mengenakan t-shirt lengan panjang kebesaran berwarna baby blue dipadu dengan hot pants putih lengkap dengan sneakers putihnya. Rambutnya yang panjang diikat satu. Terlihat fresh sekali.

Ia berhenti sebentar di sebuah kedai kopi yang tidak terlalu ramai, tertarik dengan desain interiornya yang terlihat etnik. Yunji tidak terlalu suka kopi, maka ia hanya berdiri di luar jendela dan menyapukan pandangannya ke segala penjuru kedai, mengagumi tatanan ruang yang begitu menarik.

Lalu matanya menangkap figur seseorang yang amat ia kenal di pojok kiri jendela. Eh, Jonghyun Sunbae? Apakah ia seorang diri? Batinnya senang. Ia berjalan ke arah jendela yang dekat dengan tempat Jonghyun duduk, tapi langkahnya mendadak terhenti. Tanpa sadar ia merapatkan tubuhnya sedikit ke dinding, ingin bersembunyi.

Di balik dinding itu, terlihat seorang yeoja yang sedang berbincang dengan Jonghyun. Kelihatannya sangat serius. Yeoja itu… cantik sekali. Sangat anggun dan mempesona. Dia itu siapa? Sepertinya umur mereka tidak berbeda jauh. Yunji terus menatapi mereka, penasaran apa yang mereka lakukan.

Jonghyun terlihat frustasi dan sedih sekali, ekpresi yang tidak pernah ditunjukkan kepada Yunji. Kemudian Yunji melihat yeoja itu berbicara sesuatu sambil tersenyum. Sangat cantik. Mata Yunji terbelalak dan es krim yang ia pegang terjatuh seketika ketika yeoja itu menggenggam tangan Jonghyun kemudian memeluk namja itu.

Yunji membalikkan badannya secepat mungkin, seolah pemandangan yang baru saja ia lihat bisa membuatnya buta apabila ia melihatnya lebih lama lagi. Ia berlari meninggalkan kedai itu.

Jonghyun yang dapat menunjukkan sisi terlemahnya di depan seorang yeoja, bukankah itu menandakan bahwa mereka punya hubungan khusus? Hal yang tiba-tiba muncul di pikirannya ini membuat hatinya teriris. Selama ini Yunji menyangka ada benih perasaan lain, yang mungkin saja tumbuh di perasaan mereka berdua. Tapi tidak bagi Jonghyun. Nampaknya selama ini hanya perasaannya yang berubah. Jonghyun tetap, dan akan selalu menganggapnya sebagai hoobae.

Bodoh sekali. Ternyata aku ini terlalu percaya diri juga ya? Dari awal peluang yang ada sangat tipis tetapi harapanku malah semakin meninggi. Batin Yunji sambil tersenyum pahit.

“Mungkin yeoja itu sahabatnya…” katanya pelan. Tapi tiba-tiba bayangan yeoja itu memeluk Jonghyun, kembali berputar di otaknya. Seolah ingin mementahkan asumsi positif yang ia buat.

Yunji duduk di sebuah taman. Nafasnya tersengal-sengal, bukan karena habis berlari, tapi lebih karena dadanya yang sesak. Yunji sedikit menggigil ketika angin dingin berhembus agak kencang. Sore yang tadinya cerah, entah kenapa, tiba-tiba mendung. Yunji baru menyadari ternyata ia sudah sangat menyukai Jonghyun, sehingga melihat hal seperti itu rasanya sangat menyakitkan baginya. Tapi Yunji pun tidak berhak untuk melakukan apa-apa tentang hal itu. Yunji itu siapa? Hanya seseorang yang menyukai Jonghyun, hanya seseorang yang mengalami one-sided love.

Matanya terasa memanas dan mulai berair, tak lama kemudian tangisnya pecah. Ia memeluk tubuhnya erat-erat, berharap dapat mengontrol air matanya yang kian deras mengalir. They’re so perfect together. Pikiran itu semakin membuat hatinya sakit, tapi itulah yang ia lihat tadi. Aku ingin sekali menjadi seseorang yang berarti untuk Jonghyun Sunbae! Setelah memekik keras di dalam hatinya, Yunji membiarkan dirinya terus menangis tanpa suara.

Dear stomach, sorry for all the butterflies..

Dear heart, sorry for the damage..

Dear brain, yes you were right!

**

“Terima kasih untuk hari ini, berhati-hatilah di jalan.” Jonghyun membungkukkan badannya dengan sopan.

Insa tersenyum sambil menepuk pundak Jonghyun. “Tidak usah sungkan dengan Noona. Cobalah untuk sedikit rileks dan jangan sering melamun. Aku pergi ya.”

Jonghyun tersenyum kemudian membungkuk sekali lagi. Ia memandangi mobil Insa Noona sampai menghilang di pinggir jalan. Jonghyun melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Sudah jam setengah 9 malam.

Jonghyun berjalan pelan menuju satu-satunya halte yang ada di sekitar situ. Nafasnya berembun akibat cuaca dingin pasca hujan. Jalanan sepi sekali walau biasanya pada jam ini orang baru selesai makan malam.

“Hei mau ke mana kau malam-malam begini? Sendirian pula.” Jonghyun mengangkat wajahnya, mencari sumber suara.

Kemudian ia mendengar suara lagi, seorang namja lainnya. “Ayo kita temani.” Ia tersenyum meremehkan. Pasti kumpulan lelaki kurang kerjaan yang setengah mabuk sedang menggoda perempuan-perempuan yang kebetulan lewat, batin Jonghyun.

“Tinggalkan aku sendiri.” Langkah Jonghyun terhenti ketika ia mendengar suara seorang yeoja yang sangat ia kenal. Suara yang selama ini selalu membasahi hatinya yang kering. Dengan langkah yang tergesa-gesa, ia segera berjalan ke sumber suara, sebuah lorong di ujung jalan.

Ternyata dugaan Jonghyun benar, suara yeoja itu adalah suara Yunji. Jonghyun segera menghampiri mereka dan berdiri di depan Yunji, menjadi tameng baginya. “Ada perlu apa dengan yeojaku?” ekspresi Jonghyun sangat menyeramkan, lengkap dengan tangan yang terkepal erat. Dua namja setengah mabuk itu segera pergi setelah mendengar kata-kata Jonghyun.

Jonghyun berbalik dan menatap Yunji. “Mengapa kau berkeliaran sendiri malam-malam begini? Lihat baju yang kau kenakan, udara dingin begini mengapa kau pakai hot pants?” saking khawatir dan terkejutnya dengan kejadian tadi, Jonghyun malah memarahi Yunji.

Yunji menatap Jonghyun datar, tidak berkata apa-apa dan berjalan pelan melewati Jonghyun.

Jonghyun menatap Yunji heran. Tidak susah bukan untuk sekedar mengucapkan kata terima kasih? Jonghyun mengejar Yunji dan menarik tangannya tidak begitu keras tapi cukup untuk membuat Yunji terhenti. Tapi, kenapa tangan Yunji terasa panas?

“Hei, kau kenapa? Kau sakit?” Jonghyun baru memperhatikan wajah Yunji yang pucat dan matanya yang sembab seperti habis menangis.

“Ani. Tinggalkan aku sendiri.” Yunji menarik tangannya tak bertenaga, ingin Jonghyun melepaskannya. Tapi Jonghyun tidak melepaskannya dan malah menarik Yunji semakin dekat.

“Apa yang terjadi padamu?” Jonghyun terlihat sangat khawatir dengan keadaan Yunji yang sangat berantakan ini. Bajunya terlihat agak basah. Apakah dia kehujanan tadi?

“Lepaskan aku. Aku ingin pulang, jangan pedulikan—,” Yunji kehilangan kata karena sesaat sengatan keras menghujam kepalanya. Jauh lebih pusing daripada sebelum dia bertemu dengan Jonghyun. Dan pada saat bersamaan, figur Jonghyun di depannya menjadi dua, lalu tiga, empat—banyak! Benar-benar mengabur, tidak fokus. Tangan Yunji beralih memegangi kepalanya yang pusing.

Jonghyun yang melihat Yunji agak oleng, segera menangkapnya sebelum ia terjatuh “Ya! Apa yang sebenarnya terjadi?” Jonghyun pun berjongkok di hadapan Yunji dan menggendong yeoja itu di punggungnya.

Yunji sudah tidak bertenaga untuk melawan Jonghyun. Saat ini bukan saja fisiknya yang sakit tapi hatinya juga sakit, lelah sekali. Tiba-tiba Yunji merasa mengantuk. Tanpa berkata apa-apa, Yunji menenggelamkan wajahnya di tengkuk Jonghyun hingga Jonghyun dapat merasakan suhu tubuh Yunji yang tinggi.

“Ya, Yunji-ah, apa kau tertidur? Tolong jangan membuatku khawatir.” Jonghyun berpikir cepat, ia harus menggunakan taksi untuk pulang. Terlalu lama jika ia harus menggunakan bus.

Begitu mendapatkan taksi, masalah baru datang. Jonghyun tidak tahu di mana rumah Yunji. Ia berpikir sebentar, kemudian.. “Oh iya! Tanya Hyeji saja.”

Sejak kuliah, ternyata Yunji hidup sendiri di Seoul dengan menyewa sebuah apartemen karena Yunji berasal dari Incheon. Sekarang Jonghyun kebingungan harus membawa Yunji ke mana. Kalau ia antarkan ke apartemennya, Yunji akan sendirian dan tidak ada yang merawatnya. Lebih baik dibawa ke rumah saja, pikir Jonghyun.

Onew, Key, Minho dan Taemin langsung panik melihat Jonghyun membawa seorang wanita ke rumah mereka dalam keadaan tak sadarkan diri.

“Hyung, siapa yang kau culik??” Taemin mendapat tatapan tajam dari para hyungnya karena pertanyaannya yang tidak masuk akal.

“Neo paboji? (Are you stupid?)” Key melirik Taemin gemas.

“Yunji kenapa, Hyung?” Tanya Minho

“Sepertinya Yunji kehujanan sampai dia sakit begini.” Jonghyun membawa Yunji ke kamar dan merebahkan Yunji di kasur miliknya.

“Hyung, bisakah kau memeriksanya?” Jonghyun menatap Onew dengan ekspresi memelas.

“Arasseo..” Onew pun memeriksa Yunji dengan cermat. Untuk sakit demam saja, Onew sudah sangat bisa diandalkan. Sudah beberapa kali dongsaengnya demam dan tidak perlu ke rumah sakit karena ada Onew yang bisa merawatnya.

Key menyikut Jonghyun yang masih terlihat cemas. “Kenapa kau membawanya ke sini? Kenapa tidak ke rumahnya saja?”

“Rumahnya di Incheon, Key. Dia tinggal di Seoul sendiri dengan menyewa sebuah apartemen.” Jonghyun tidak memalingkan tatapannya sedikit pun dari wajah Yunji yang masih terlihat pucat itu. Key hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.

Onew menyelesaikan pemeriksaan dengan cepat, lalu memerintahkan Key dan Taemin untuk membeli obat penurun panas, sementara Minho menyiapkan kompres. Kemudian Onew mengajak Jonghyun keluar dan berbicara dengannya.

“Jjong, kita harus mengganti bajunya..”

“NEEEE????” Onew belum menyelesaikan kalimatnya tetapi Jonghyun sudah histeris mendengar apa yang Onew bicarakan. “MALDOANDWAE!”

“Sssssst.” Onew membekap mulut Jonghyun sambil menempelkan jari telunjuk di bibirnya sendiri. “Pabo! Apa yang kau pikirkan di saat seperti ini, hah? Kalau kita tidak mengganti bajunya dengan yang kering, suhu tubuhnya tidak akan turun. Kau mau sakitnya bertambah parah?”

“Tapi Hyung yang ada di sini semuanya namja. Bagaimana mungkin salah satu dari kita mengganti pakaiannya Yunji??” Jonghyun bergidik ngeri membayangkannya.

“Singkirkan pikiran kotormu itu, yang terpenting sekarang adalah membuat Yunji sembuh. Aku tidak menyuruh kau yang mengganti pakaiannya tetapi aku hanya ingin memberitahumu saja. Biar aku yang menggantinya.” Onew berdehem sebentar “Setidaknya pikiranku tidak kotor sepertimu.” Lanjutnya lebih pelan.

“Hyung! Aku tidak berpikir kotor seperti yang kau bilang. Aku hanya takut Yunji menjadi malu nantinya setelah ia tahu bahwa yang mengganti bajunya adalah seorang namja.” Jonghyun tidak terima dengan tuduhan Onew mengenai pikiran kotor.

“Kenapa kalian berdebat seperti itu sih?” Minho datang membawa handuk kecil dan baskom berisi air dingin. “Masih ada ahjumma yang bisa membantu kita.” Minho berkata dengan tenang sambil menatap kedua hyungnya dengan tatapan kalian-berdua-sama-sama-pabo.

Onew menepuk jidatnya sendiri. “Ah maja. Aku lupa kalau mulai hari ini ahjumma akan menginap di sini.” Ahjumma yang dimaksud adalah asisten rumah tangga yang dikirim oleh orangtua Onew untuk mengurus semua keperluan di rumah itu.

“Ahjumma?” Jonghyun menatap Onew dan Minho bergantian dengan tatapan bingung.

“Nanti saja ceritanya.” Minho membuka pintu kamar Jonghyun untuk menaruh kompres, sementara Onew memanggil ahjumma untuk meminta tolong.

Beberapa saat kemudian, baju Yunji sudah diganti dengan yang kering. Key dan Taemin juga sudah membeli obat penurun panas. Onew, Minho, Key dan Taemin sudah tidur satu jam yang lalu. Sementara Jonghyun masih terjaga, menunggui Yunji yang masih terlelap. Sesekali ia mengganti kompres di kening Yunji. Jonghyun menatap wajah pucat Yunji yang sedang terlelap itu lekat-lekat. Perlahan ia sentuh pipi gadis itu dengan lembut, menyibakkan beberapa helai rambut Yunji yang jatuh menutupi wajahnya. Dalam hati ia bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi dengan Yunji? Jonghyun terus tenggelam dalam pikirannya hingga ia pun jatuh tertidur di samping Yunji.

Keesokkan harinya.

”Aigoo..” Ringis Yunji begitu ia membuka matanya dan memegangi kepalanya yang terasa sangat sakit. Yunji kembali memejamkan matanya dengan rapat. Setelah berdiam diri selama beberapa menit dan merasa sakit di kepalanya mulai mereda, Yunji membuka matanya satu persatu, takut kalau saja rasa sakit itu kembali menghantamnya.

Yunji menghembuskan nafas lega saat kepalanya tidak berdenyut-denyut lagi. Ia mengedarkan pandangannya, melihat dirinya sendiri berbaring di tempat tidur yang sama sekali asing baginya. Ia menemukan seseorang sedang tertidur di sampingnya dengan posisi yang sangat tidak nyaman. Ia mengulurkan tangannya, hendak membelai rambut namja itu, tapi tangannya terhenti di udara.

Tunggu. Bukankah terakhir kali aku menggunakan t-shirt lengan panjang? Kenapa sekarang aku memakai kemeja? Yunji bertanya-tanya dalam hati. Ekspresinya membeku ketika suatu pikiran melintas begitu saja.

“Aaaaaaaaaaaaaaaaaakkkhhhhhh!!!!”

Refleks Jonghyun membuka matanya. Disoriented. “Wae? Wae? Apa yang terjadi?” Ia baru tidur dua jam dan sekarang harus terbangun karena jeritan seseorang yang sangat mengagetkannya, benar-benar membuatnya pusing.

“Sunbae! Aku ada di mana? Kenapa kau tertidur di sampingku? Bajuku…” Yunji menaikkan selimut sampai lehernya. Ia menatap Jonghyun histeris.

Jonghyun masih bingung dengan keadaan di sekelilingnya. Pikirannya juga belum fokus. Tetapi, saat ia sadar penuh, kedua matanya membelalak panik. Jonghyun langsung berdiri dan mundur satu langkah.

“Tenanglah Yunji, biar aku jelaskan. Semalam kau diganggu oleh pemuda setengah mabuk dan aku menolongmu. Tapi sepertinya kau sakit dan Hyeji bilang kau sendirian di Seoul. Karena aku takut tidak ada yang mengurusmu, maka aku membawamu ke sini –ke rumahku. Bajumu! Yang menggantinya adalah ahjumma yang bekerja di rumah ini” Jonghyun berbicara dengan cepat karena panik. “Jadi tolong jangan berpikir macam-macam.” Lanjut Jonghyun lebih pelan.

Yunji mengangguk sekilas tanda mengerti. “Arasseoyo.. Mianhaeyo Sunbae, karena telah membuatmu kaget.”

Jonghyun tersenyum, kemudian duduk di tepi ranjang miliknya itu. Tangannya terulur, hendak memeriksa apakah suhu tubuh Yunji sudah turun atau belum. Namun tangan itu terhenti di udara ketika ia melihat Yunji sedikit bergeser dari duduknya, seolah tidak ingin Jonghyun menyentuhnya.

Jonghyun mengerutkan keningnya sesaat, tetapi kemudian ia tetap menyentuh kening Yunji. Jonghyun menghembuskan nafas lega ketika tahu suhu tubuh Yunji telah mereda.

Sementara itu, Yunji bergerak-gerak gelisah. Hatinya senang karena Jonghyun memperhatikannya. Tapi begitu ia ingat dengan apa yang ia lihat kemarin, akal sehatnya langsung mengingatkannya. Pasti karena Jonghyun Sunbae baik pada semua orang, bukan karena ada hal lainnya.. Lagipula dia sudah punya pacar.

 

Jonghyun merasa ada yang aneh dengan sikap Yunji. Semalam sikapnya sangat dingin dan sekarang Yunji terlihat tidak nyaman berada di sekitarnya. “Apa yang terjadi? Mengapa sikapmu sangat… berbeda terhadapku?”

Yunji menunduk, salah satu aktingnya demi menahan air mata yang lagi-lagi akan menetes. “Tidak apa-apa, ku mohon jangan pedulikan aku.” Yunji berkata pelan. Sial sekali ia tidak dapat menyembunyikan suaranya yang sedikit bergetar. There’s so many other fish in the sea, so why mess with the one that’s already been caught? Or yet already (credit: IJaggys). Ia memarahi dirinya sendiri karena perasaannya itu, namun Yunji pun tidak mampu mengontrol perasaannya.

Jonghyun terkesiap pelan saat menyadari suara Yunji yang bergetar. Ia menatapi wajah tersembunyi itu lama, lalu ikut menunduk, mencari mata Yunji dan Yunji malah semakin menunduk juga.

Gemas karena merasa sedang main kucing-kucingan, Jonghyun pun mengangkat dagu Yunji. Ia terkejut setengah mati. “Kenapa… kau menangis?”

Digesernya jemari Jonghyun dan Yunji mengalihkan pandangannya ke arah yang lain sambil menyeka asal-asalan air mata yang mengalir di pipinya. Cengeng. Yunji benci sekali sifat satu ini. Ia tidak ingin terlihat sebagai Yunji yang lemah di depan Jonghyun.

Jonghyun hendak meraih pergelangan tangan Yunji tapi ketukan pintu membuat perhatiannya teralih. “Masuk..”

Taemin menyembulkan kepalanya di pintu, mengintip. Tapi kemudian senyumnya mengembang. Ia masuk, kemudian menutup pintunya lagi. “Wah Noona sudah bangun ya? Apa kau sudah merasa baikan?”

Yunji bengong saja melihat Taemin karena ia belum pernah bertemu dengannya. Lucu sekali sih dia, pikirnya. “Ah iya, sudah jauh lebih baik. Terima kasih.” Yunji terbiasa bersikap sopan dengan orang yang baru dikenalnya, walaupun orang itu dongsaeng baginya.

“Sama-sama Noona. Ah iya, perkenalkan namaku Taemin. Lee Taemin.” Taemin membungkukkan badannya.

“Han Yunji imnida. Senang berkenalan denganmu.” Yunji juga membungkuk kemudian tersenyum.

“Hyung, sarapan sudah siap. Ayo Noona kita sarapan bersama.” Taemin menarik tangan Yunji untuk bangkit dari tempat tidurnya. Dalam hatinya Taemin senang sekali dengan kehadiran Yunji, akhirnya dia akan punya noona juga meski hanya noona ipar.

Jonghyun tersenyum sambil mengacak-acak rambut Taemin. Cute dongsaeng.

**

Yunji duduk dengan canggung di ruang makan. Ada empat namja yang memperhatikannya dan mereka semua tersenyum penuh arti. Sedangkan Jonghyun tetap menikmati sarapan dengan santainya.

Ternyata mereka semua sahabat Jonghyun Sunbae. Taemin yang paling ku ingat, kemudian Minho, Key dan siapa? Onew? Ah iya Onew. Kenapa mereka semua memperhatikanku seperti itu.. Yunji semakin tenggelam dengan pikirannya sendiri.

Tiba-tiba Yunji mendengar suara lembut dan hangat menginterupsi lamunannya. Ia menoleh ke arah jam dua.

“Kenapa makanmu sedikit sekali? Apa masih mual? Atau kau ingin makanan lainnya?” Onew bertanya, lengkap dengan senyum yang pasti dapat meluluhkan hati wanita mana pun.

“Dia merasa tidak nyaman karena kalian terlalu memperhatikannya.” Jonghyun berkata cuek, masih sibuk dengan makanannya. Ia merasa lapar sekali karena kemarin ia belum makan malam.

“Terima kasih ya semuanya sudah merawatku di sini, maaf merepotkan.” Yunji berkata sopan, masih belum dapat menghilangkan kecanggungannya.

“Jangan sungkan-sungkan. Kau kan orang yang dekat dengan Jonghyun, jadi kau sudah kami anggap teman.” Onew berkata sambil melirik Jonghyun usil.

“Bukan dekat saja Hyung,” Minho mulai angkat bicara. “Bisa dibilang calon pacar.”

“UHUK! Uhuk..” Jonghyun tersedak kimchi yang sedang dimakannya. Aisshhh pedas! Segera ia habiskan minum yang telah disodorkan oleh Key.

Wajah Taemin langsung sumringah, tak henti-hentinya ia bertepuk tangan. “Asyik, aku punya Noona ipar.”

Merah, pink, maroon. Semua gradasi warna merah langsung menyapu kedua wajah sunbae-hoobae ini tatkala mendengar celotehan sahabat-sahabat Jonghyun. Jonghyun langsung memasang tampang jutek bercampur malu pada mereka. Ingin rasanya ia lempar sumpit yang sedang dipegangnya ke arah mereka. Tapi, berhubung ia sendiri juga susah payah mengontrol wajahnya yang blushing tidak karuan, ia memilih diam. Yunji sendiri sejak tadi hanya tertunduk grogi. Semua orang juga pastinya tahu bahwa ia kini sedang menyembunyikan wajahnya yang sudah seperti tomat ranum.

Love is a wonderful thing!” Key beranjak dari tempat duduknya untuk mengambil buah yang sudah ia potong-potong dari kulkas.

Apanya yang love? Jonghyun dan Yunji sama-sama bergumam dalam hati setelah tersadar dari tersipunya mereka yang lumayan lama.

**

Yunji terpaksa tinggal di rumah Jonghyun lebih lama karena ia tidak diperbolehkan pulang hingga Jonghyun kembali. Jonghyun memang harus pergi sebentar karena ada urusan penting katanya. Huh, bilang saja ingin bertemu pacarnya. Yunji kesal sendiri dengan pikiran-pikirannya yang sejak tadi berusaha ia hilangkan. Ingin dilupakan, kok, malah semakin sering terpikir?

Yunji mengganti-ganti channel TV dengan bosan. Tidak ada acara yang menarik. Tiba-tiba Taemin datang sambil membawa bukunya dengan wajah yang bingung.

“Noona, apa kau tahu bagaimana menyelesaikan soal ini?” Taemin menyerahkan bukunya kepada Yunji kemudian duduk di karpet.

Yunji membaca sebentar soal itu, mencoba mencernanya. Tak lama kemudian ia pun duduk di sebelah Taemin. “Begini caranya…” Yunji pun menjelaskan cara menyelesaikan soal matematika itu dengan sabar dan teliti.

“Wah Noona pintar juga, tidak kalah dengan Onew Hyung.” Mata Taemin berbinar-binar memandang Yunji. “Bahkan aku lebih mengerti jika dijelaskan dengan Noona.” Tambahnya lagi.

Yunji tersipu malu. “Ah kau bisa saja.” Katanya singkat.

“Noona, maukah kau mengajariku matematika? Sebentar lagi aku ujian, sementara Onew Hyung sedang sibuk mempersiapkan diri untuk ujian akhir semesternya. Noona mau kan menolongku? Ya? Ya?” Taemin mulai mengeluarkan aegyonya, membuat Yunji tersenyum melihat tingkahnya.

“Arasseo, arasseo, aku akan membantumu. Aigooo.. lucu sekali kau ini.” Yunji mengusap-usap rambut Taemin. Dengan cepat, Yunji dan Taemin menjadi akrab layaknya sepasang kakak-adik.

Saking asyiknya belajar sambil sesekali mengobrol, Yunji dan Taemin tidak sadar ketika Jonghyun tiba di rumah. Jonghyun bersandar di dinding ruang TV sambil tersenyum, menikmati pemandangan yang menyentuh hatinya itu. Ia selalu merasa tenang jika melihat Yunji tersenyum seperti itu. Berbeda ketika ia melihat Yunji menangis tadi pagi, hatinya seperti terluka jika ia melihat yeoja itu menangis.

“Sampai kapan kau akan tersenyum sendiri seperti itu Hyung? Orang akan berpikir kau sudah gila.” Jonghyun terkejut dan langsung menegakkan tubuhnya. Minho dan Key terkikik melihat tingkah laku Hyungnya yang salah tingkah karena tertangkap basah sedang memperhatikan Yunji.

Yunji dan Taemin menoleh ke arah tempat Jonghyun, Minho dan Key berdiri. “Kalian sedang membicarakan apa?” ujar Taemin.

Minho masih saja terkikik sambil menutupi mulutnya dengan punggung tangan, sedangkan Key hanya tersenyum penuh arti. “Jonghyun Hyung tersenyum sendiri sambil memandangi Yunji. Memang aneh tingkah orang yang sedang jatuh cinta.”

“MWOYA!” Jonghyun menjitak kepala Key dan Minho bergantian. “Jangan dengarkan mereka Yunji-ah. Ya Taemin-ah! berhenti tersenyum seperti itu. Aku tidak seperti yang mereka bilang.” Jonghyun panik setengah mati.

Yunji tertunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya yang terasa panas karena lagi-lagi blushing. Ia mengigit bibirnya untuk menahan senyumnya yang hampir muncul. Lucu juga melihat Jonghyun panik seperti itu.

“Berhentilah mengganggu couple baru ini, mereka masih malu-malu.” Onew menjulurkan lehernya dari balkon lantai dua sambil berkata kepada dongsaengnya yang jahil. Kemudian ia pun turun ke bawah dan berjalan ke arah dapur.

“Kau tidak ada bedanya dengan mereka Hyung.” Jonghyun menatap Onew dengan kesal. Ia bingung sendiri ada apa dengan teman-temannya hari ini. Kenapa mereka menjadi jahil sekali sih?

“Hmm Taemin-ah, apa pekerjaan rumahmu sudah selesai? Sudah mengerti?” Yunji memutuskan untuk tidak terbawa dengan kejahilan Minho dan Key, ia pun mengalihkan perhatiannya kepada Taemin.

“Oh iya, Noona. Pekerjaan rumahku sudah selesai dan aku sudah mengerti. Gomawoyo Noona.” Ujar Taemin dengan gembira.

“Baiklah kalau begitu. Lebih baik aku pulang sebelum hari semakin larut.” Yunji bangkit dari sofa dan bersiap untuk berpamitan dengan semuanya.

“Kenapa harus pulang sekarang? Tinggallah di sini semalam lagi. Kau kan belum sembuh benar.” Onew berkata santai sambil menyeruput kopi yang baru saja ia buat.

Yunji membelalakkan matanya. Mana mungkin dia menyuruhku tinggal di rumah namja lebih lama dengan santainya?

“Anieyo, gwaenchanhayo, aku sudah baikan. Terima kasih atas perhatianmu, Onew-ssi.” Yunji membungkukkan badannya dengan sopan.

“Yunji-ah jangan sungkan begitu. Dan panggil aku Oppa.” Onew tersenyum sambil melirik ke arah Jonghyun.

“Hyung! Dwaesseo. Bahkan Yunji belum pernah memanggilku Oppa.” Jonghyun kesal sekali dengan Onew yang tidak berhenti menggodanya. Onew, Minho dan Key tidak ada bedanya.

“Tidak usah cemburu seperti itu Jjong. Aku hanya bercanda.” Onew tergelak melihat kegusaran Jonghyun.

“Sudahlah, jangan bercanda lagi. Aku akan mengantar Yunji pulang.” Jonghyun bersiap memakai sepatunya ketika tiba-tiba Yunji berkata “Tidak usah. Aku pulang sendiri saja, aku tidak ingin merepotkanmu lagi, Sunbae.”

Merepotkan apanya, sih? Jonghyun menoleh cepat karena ia menangkap sesuatu yang janggal dari nada suara Yunji. Baiklah, ia harus tahu apa yang membuat Yunji seperti ini karena itu cukup membuatnya jengkel. Ia menatap Yunji dengan serius. “Tidak. Aku akan mengantarmu pulang. Jangan membantah.”

Minho, Key, Onew, dan Taemin memandang Jonghyun dan Yunji bergantian. Mereka pun merasakan hawa yang tidak enak di antara keduanya. Key mengangkat bahu dan lebih dulu beranjak ke lantai atas. “Here we go, first couple fight.”

Jonghyun menatap punggung Key dengan geram. Ingin rasanya ia lempar kepala Key dengan sepatu boot yang ia pakai sekarang. Tatapan Jonghyun beralih ke tiga sahabatnya yang masih berdiri di tempat semula. Minho langsung menggaruk tenguknya, Taemin membersihkan kuku yang sama sekali tidak kotor, sedangkan Onew mengalihkan pandangannya sambil bersiul tidak jelas.

“Aku pergi dulu.” Katanya singkat.

**

Jonghyun berjalan berdampingan dengan Yunji yang terus menunduk. Rasa canggung terus menyelimuti keduanya, di samping angin malam yang tak henti berhembus menusuk tulang. Mereka berdua berjalan dengan pelan, sibuk dengan pikirannya masing-masing. Keduanya terang-terangan berusaha saling menjaga untuk tidak beradu pandang. Suasana canggung yang menyelimuti mereka terlalu nyata –tidak satu pun dari mereka yang dapat menyanggah bahwa tidak ada apa-apa di antara mereka.

Jujur saja Jonghyun sama sekali tidak mengerti mengapa Yunji bersikap dingin kepadanya. Jonghyun tahu, pasti telah terjadi sesuatu dengan Yunji, namun ia tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Sejauh yang ia ingat, terakhir kali mereka bertemu, semuanya berjalan dengan baik seperti biasa. Berkali-kali Jonghyun hampir mengungkapkan rasa penasarannya kepada Yunji tapi ia bingung harus memulainya dari mana agar Yunji mau menjawab pertanyaannya.

Apartemen Yunji sudah terlihat di ujung jalan, namun mereka masih berdiam diri. Jonghyun tidak tahan dengan suasana canggung yang terlalu lama menyelimuti mereka. Ia akhirnya mengambil beberapa langkah ke depan dan langsung berbalik menghadap Yunji. Yunji yang tidak menyadari posisi Jonghyun yang kini persis di depannya, akhirnya membentur dada bidang Jonghyun.

“Kau kenapa, Sunbae?” Yunji memicingkan mata sambil mengusap-usap keningnya.

Jonghyun menatap yeoja di depannya dengan tatapan yang susah dideskripsikan –marah, bingung, gemas, dan penasaran- “Ani, neo waegeurae? Ada alasan?”

“Ne?” Yunji murni tidak paham. “Ada alasan…?”

“Iya. Ada alasan untuk bersikap seperti ini padaku?” Jonghyun masih menatap mata bening Yunji, menunggu jawaban.

TBC

28 thoughts on “[FREELANCE] SECRET (Part 3)

  1. Wahhh !! Maaf baru komen disini
    Hehe, baca kilat malem-malem xD
    SUngguh ! FF ini beneran keren
    Aku paling gak nahan pas bagian Jjong sama hyungnya. Agak penasaran juga sih
    Ampun dah, Keynya nakal amat. Tobat bang kunci, kasian tuh si Jjong, mukanya udah kayak tomat busuk *eh, tomat seger maksudnya*
    Yunjinya salah paham … TIDAKKK !! He loves You, Yunji !
    Ngomong-ngomong, Yoo Insa itu Psikiaternya kah ? Apa psikolog ? Yah, pokoknya sejenis itu lah
    Penasaran juga sama tokoh itu xD
    Udah dulu ya
    See you at the next part ^^

  2. Yoon Insa itu siapa nya Jonghyun? Mereka berdua itu saling suka tapi sama2 malu jadinya lucu…
    Lucu ngelihat mereka digodain ama onkey2min. baca next part dulu y…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s