[FREELANCE] EPILOG I HATE NAMJA

Author : Ulie Aya’aya Wae

Title     : I Hate Namja

Genre   : Angst, Romance

 

Cast:

Park LieBeom aka Beom

Choi Minho

Kimjae

Kyuhyun & Hyori (Orang Tua Beom)

Lee Taemin (Cameo)

Sooyoung (Cameo)

 

Mistery Guest?? #hayoo tebak siapa?!

 

 

Musim semi telah tiba. Bunga-bunga merekah dengan berbagai warna yang indah, burung-burung bernyanyi dengan merdunya,  awan-awan putih terhampar luas bagaikan salju yang mencerahkan langit, semilir angin membelai dedaunan seolah membuatnya menari.

Hyori melangkah penuh semangat, berjalan menuju ruangan meja hijau yang akan merubah hidupnya, berharap meraih suatu kebahagiaan yang kemarin-kemarin belum sempat ia dapatkan.

 

TOK!!

TOK!!

TOK!!

 

Ketukan palu Hakim telah membuat hati Hyori yang tadinya was-was menjadi lega, senyuman manis seketika terkembang di wajahnya. Yah.. dia telah berhasil meraih impiannya untuk berpisah dengan Kyuhyun, sekaligus menjadi pembuktian keseriusannya dalam menanggapi pesan yang telah di tinggalkan Beom saat itu.

 

“Omma.. kesabaranmu dalam menjalani hidup ini merupakan contoh yang yang paling luar biasa untukku. Omma masih bisa tersenyum disaat semua hardikan terngiang-ngiang di telingamu.. omma masih bisa tenang disaat seutas tali hampir mencekik lehermu.. omma masih bisa ikhlas disaat sebuah pisau mencabik-cabik dagingmu. Omma.. aku bisa merasakan saat hatimu rapuh, sungguh pengorbanan yang sia-sia untukmu disaat kesabaran, keikhlasan dan pengabdianmu tidak dianggap sama sekali. Omma.. aku mohon jangan terus berpura-pura tegar didepanku.. jangan pura-pura senyum saat dihadapanku, menangislah.. saat tangisan itu bisa menghilangkan sedikit bebanmu, marahlah.. saat marah itu bisa meluapkan kekesalanmu. Omma.. jangan pernah menganggap bahwa semua kepedihan yang terjadi adalah takdir hidupmu.. berusahalah untuk merubah nasib itu, raihlah dengan tanganmu.. raihlah kebahagiaan itu..

Seandainya pisah dengan appa bisa membuatmu bahagia, maka aku akan slalu mendukungmu karna itu adalah harapanku”

 

Hyori meninggalkan ruang persidangan itu dengan hati yang tenang, tidak ada penyesalan sedikitpun. Hatinya sudah mantap memilih jalan cerai untuk hidupnya, terlebih untuk anaknya. Yup.. Hyori sangat puas karna dia telah mengabulkan permintaan Beom.

Hyori langsung pergi menemui seseorang, dia adalah salah seorang penyemangat sekaligus cahaya untuknya selama 3 bulan belakangan ini. Dia sangat perhatian dan mampu membangkitkan Hyori dari keterpurukannya. Orang itu telah membuat Hyori jatuh cinta, dia adalah Direktur salah satu Bank swasta di Seoul, Lee Taemin.

 

 

 

Minhomemulai harinya dengan membuat sarapan pagi yang special, sandwish isi ayam plus dua gelas susu hangat.Minhoberanjak keruang tengah lalu dengan gesit membereskan tumpukan sampah cemilan yang berada disana, kemudian merapihkan disc dvd yang tadi malam ditontonnya kedalam laci. Di tempat tidur masih terlihat seorang yeoja masih memeluk gulingnya, Minho menghampiri yoeja itu lalu duduk di tepian ranjang, dibelainya rambut yeoja itu kemudian mencium keningnya dengan lembut.

 

“Bangunlah.. sudah pagi!” bisikMinhopadanya. Yoeja itu menggisik matanya lalu menggeliatkan tubuhnya, seketika senyuman langsung mengembang diwajahnya saat melihat namja yang dicintainya berada di hadapannya.

 

“Morning.. oppa..” sapanya pada Minho.

 

“Cepat mandi, lalu kita sarapan!”Minhomembantu yoeja itu bangun lalu menyeretnya kekamar mandi. Yoeja itu langsung menuju meja makan setelah hampir 20 menit bermain busa di kamar mandi.

 

“Oppa, semalam.. tidur di sofa lagi??” tanyanya yang dibalas anggukan oleh Minho. “Oppa, lain kali.. kita tidur bersama saja!!” godanya yang membuatMinhotersedak mendengarnya.

“Bukannya suatu saat kita akan hidup bersama.. tidur bersama.. dan tinggal bersama??”Minhoterdiam mendengar pernyataan-pernyataan yang dilontarkan oleh yeoja dihadapannya itu.Minhotakut jawabannya akan merusak senyuman yang terkembang di wajah yeoja itu.

 

“Makanlah, kalau sudah dingin maka tidak akan enak lagi!”Minhohanya tersenyum dan mengalihkan pembicaraan kemudian langsung beranjak dari tempat duduknya tanpa berkomentar tentang penyataan yang dilontarkan yeoja itu.

 

“Oppa, apa kau tidak bisa melupakannya??” lagi-lagi pertanyaanya membuat Minho terdiam dan menghentikan langkahnya seketika, sementara si yeoja langsung menghampiriMinhodan memeluknya dari belakang.

 

“Bisakah, aku menggantikan posisi Beom, dihatimu??” tambahnya sedikit berbisik.

 

 

 

Minho POV

 

Kejadian saat itu membuat shock, entah apa yang ada dipikiran Beom sampai dia nekat melakukan hal BODOH seperti itu. Rasanya napasku terasa berat saat melihat Beom tersengal-sengal dipangkuanku. Otakku buntu sampai tidak bisa berbuat apa-apa saat melihat darah mengalir deras di pergelangan tangannya. Aku sangat terpukul dengan kejadian itu, aku sangat takut kehilangan Beom, takut tidak bisa bermain lagi dengannya, takut tidak bisa melihat lagi senyumannya, takut tidak bisa lagi bersamanya.

 

Sekarang semua ketakutan itu sirna, tapi TETAP aku tidak bisa memilikinya, karena aku telah memilih yeoja lain, dia adalah orang yang telah menyelamatkan nyawa Beom. Yup.. aku telah membuka hatiku untuk yeoja itu, yeoja yang slama 7 bulan ini selalu disampingku

Kimjae! Itulah namanya, dan aku akan berusaha untuk mencintainya.

 

End Minho POV

 

 

Kimjae POV

 

Entah apa yang membuatku ingin menolongnya, padahal aku tidak begitu menyukainya karena bagiku dia adalah sainganku. Entah karena wajah pucatnya saat itu atau tangisanMinhooppa terhadapnya yang akhirnya membuatku rela mendonorkan darah AB-ku untuknya. Ini semuanya demi Minho Oppa, aku tidak rela melihat dia terus mengangisinya, aku hanya ingin Minho Oppa bahagia.

 

End Kimjae POV

 

Flashback

 

“Kita kehabisan stok darah, adakah dari pihak keluarga yang bergolongan darah AB??” tanya seorang Dokter yang baru keluar dari ruang pemeriksaan pada beberapa orang yang sedang menunggu diluar. Hyori mengangkat tangannya sebagai jawaban.

 

“OK! Suster tolong diperiksa, setelah itu baru diambil darahnya!!” perintah Dokter itu pada Suster yang ada di sebelahnya.

 

“Ne..” Suster itu langsung membawa Hyori keruang sebelahnya untuk di check up. Setelah 30 menit Suster itu kembali dan melaporkan bahwa Hyori tidak bisa menjadi pendonor karena dia amnemia, seketika suasana kepanikan semakin mencekam, terlihat para Dokter dan Suster sedang sibuk menghubungi rumah sakit lain untuk meminta bantuan darah. Sementara keadaan si pasien semakin kritis, dia harus sesegera mungkin mendapatkan pendonor karna dia telah kehilangan banyak darah dan bisa membahyakan nyawanya.

 

Di tempat yang berbeda Hyori sedang berdoa untuk kesembuhan anaknya, air matanya mengalir deras memohon pada Tuhan dengan khusyuk, sementara diruang tunggu Minho tampak sangat panik, dia hanya mondar-mandir ga karuan, tidak tahu apa yang harus dilakukannya, matanya mulai berkaca-kaca dan raut wajahnya terlihat sangat lelah.

 

“Oppa.. gwenchanayo??” tanya seorang yeoja sambil menepak pundak Minho. Minho menatap sekilas dan tersenyum pahit padanya.

 

“Ottoke..??” ucapnya penuh kekhawatiran.

 

“Kalau darah AB itu tidak segera didapatkan, a.. apa Beom tidak bisa terselamatkan??” tanya yeoja itu dengan keraguan dan terbata-bata.

 

“Mudah-mudah pihak rumah sakit bisa segera menemukan pendonornya, apapun akan kulakukan untuk membayar jasanya!!” ucap Minho penuh harapan.

 

“Apa kau bisa mencintai, pendonor itu??” ucap yeoja itu dengan pelan tapi masih bisa terdengar jelas oleh Minho.

 

“Heh,,,,?” Minho mengernyitkan dahinya dan menatap tajam, mencoba mencerna dan memahani maksud yang di sampaikan yeoja yang sekarang duduk di sampingnya itu.

 

“Darahku, AB!”

 

End flashback

 

 

 

Dokter’s POV

 

Aku percaya kalau semua yang terjadi padaku adalah sebuah takdir. Takdir telah mempertemukanku dengan si yeoja bermuka masam yang bernama Beom. Yah begitulah saat temannya memanggil dia. Pertemuaan pertama, saat dia hendak tertabrak mobilku. Yah, malam itu aku masih mengingatnya dengan jelas, si yeoja bodoh itu berlari melintasi jalanan dengan pakaian pengantinnya tanpa menghiraukan kendaraan yang lalu lalang. Rasanya saat itu aku ingin menghardiknya, tapi disaat aku melihat ekspresi wajahnya tiba-tiba aku merasa iba. Penampilannya yang kacau membuatku ingin menolongnya. Sejak kejadian itu aku selalu penasaran terhadapnya. Entahlah, hal apa yang membuatku merasa seperti itu.

 

Pertemuaan kedua malah dia yang hendak menabrakku, dia berjalan di mall seperti orang linglung, wajahnya terus di tekuk ke bawah tanpa melihat kedepan. Sebenernya aku sengaja berdiri menghalangi jalannya karna ingin menyapanya, saat itu dia hanya menatapku sekilas kemudian bergegas lari ke lantai 2 mall itu.

 

Pertemuaan ketiga saat ditaman, aku melihatnya menyodorkan air mineral ke adikku, entahlah mulainya dari mana sampai mereka terlihat sangat akrab. Untuk pertama kalinya aku melihat dia tersenyum.. sungguh senyuman yang sangat manis sampai membuat hatiku bergetar. Pagi itu dia benar-benar sangat cantik walaupun wajahnya terlihat lelah. Emh.. pagi yang singkat, lagi-lagi aku tidak sempat berkenalan dengannya, dia buru-buru pergi setelah menerima panggilan telepon, mungkin telah terjadi sesuatu padanya.

 

Menjelang malam aku melihatnya kembali duduk di trotoar sambil menangis.. benar-benar pemandangan yang mengkhawatirkan. Senyuman manis saat pagi hari sudah berubah menjadi tangisan, sama percis saat pertama kali aku melihatnya, terlihat rapuh dan tertekan. Aku mencoba menghiburnya, menyodorkan sapu tanganku sambil berkata “Hapuslah.. aku sangat benci melihatmu menangis!” tidak disangka perkataanku itu malah membuatnya sangat marah, jujur bukan maksudku seperti itu.. aku hanya ingin melihatnya tersenyum.. tersenyum dengan bahagia.

 

“Aku melihat pemandangan yang begitu indah diwajahnya, bahkan ketika aku menutup mata, aku bisa merasakannya dalam hatiku”

 

 

 

Tujuh bulan sudah aku bersamanya, aku selalu disampingnya.. menjaga dan merawatnya, lebih tepatnya setiap hari aku mengontrol perkembangan kesehatannya. Yup.. sekarang Beom adalah pasienku, orang yang beberapa bulan lalu telah melakukan percobaan bunuh diri. Masa kritis dan penyembuhan lukanya hanya berlangsung satu bulanan, tapi sekarang dia masih bersamaku di rumah sakit. Dia mengalami despresi berat, dia tidak pernah lagi berbicara, tatapannya kosong, dan tubuhnya seolah takbertenaga, hanya kursi rodalah perantaranya untuk bergerak, dan aku adalah orang yang slalu setia mendorong kursi rodanya itu.

 

Pagi ini seperti biasa aku memulai aktivitasku, hari senin yang sebagiaan orang membencinya, aku malah sangat semangat untuk sesegera mungkin mengenakan jas putih kebanggaanku, berkutik dengan obat-obatan, suntikan, stetoskop, termometer, tensi meter dan lainnya. Bersemangat, terlebih karna aku akan segera menemuinya. Setiap hari melihatnya membuat rasa penasaranku selama ini hilang, dan yakin bahwa dia adalah si love, yah.. begitulah aku mengingatnya.

 

 

10 tahun yang lalu,

 

Aku segera pulang saat mendapat kabar omma-ku kecelakaan, suasana dirumah sangat ramai dengan saudara dekat yang menjenguk. Terlihat seorang yeoja asing berada diantara kerubunan para tamu. Entahlah siapa namanya, aku terlalu mencemaskan keadaan omma sampai tidak sempat menyapanya. Menurut kabar yang kudengar yoeja itu adalah orang yang telah membantu ommaku saat terjadi kecelakaan, dia juga orang yang telah membiayai pengobatan rumah sakit sekaligus orang yang mengantarkan omma pulang. Saat itu omma terjatuh dari sepeda motor nya karena ulah copet yang merampas tas nya hingga membuat motornya oleng, omma langsung dirujuk ke rumah sakit, tapi pihak rumah sakit tidak segera mengobati luka-nya karena alasan administrasi yang belum diurus, Beom-lah yang mewakili dan mengurus semuanya, dan sejak kejadian tersebut aku sangat terobsesi menjadi seorang Dokter. Dokter yang tanpa pandang bulu menolong pasien yang kesulitan dalam biaya.

 

Dia langsung berpamitan setelah beberapa menit berada dirumahku, aku hanya tersenyum kearahnya dan membiarkan dia pergi tanpa mengucapkan tanda terima kasih sedikitpun.

 

“Love!!” gumamku saat melihat tanda lahir berbentuk eceng di bawah telinga sebelah kanannya.

 

**

 

 

Waktu yang kunantikan akhirnya tiba, menjalankan tugasku sebagai Dokter dan memanfaatkan sedikit waktu luangku dengan cara menemaninya. Aku masuk ke kamarnya sambil membawa mawar  ke-150 untuknya, sudah hampir 4 bulan aku selalu memberikannya mawar, selain untuk mengharumkan ruangan, mawar itu juga sebagai tanda bahwa aku serius menyukainya dan ingin segera melihat kesembuhannya, aku memeriksa kesehatannya dengan sangat teliti, berharap ada satu kemajuan dari sebelumnya.

 

“Annyeong..” sapaku setelah memeriksa tubuhnya, aku duduk di tepi ranjang kemudian menggenggam tanganya.

 

“Beom-ah, berjuanglah.. sembuhlah.. apa kau tidak kasihan dengan omma dan temanmu yang slalu menitikan air matanya saat menjengukmu.. bangkitlah, demi orang-orang yang mencintaimu, Beom” tatapannya kosong, wajahnya tidak menggambarkan ekspresi sedikitpun tapi aku terus mengajaknya bicara, bercerita tentang sesuatu yang tidak penting sekalipun untuk kesembuhannya.

 

“Aku sangat ingin mengenalmu, mendekatimu, membawamu kerumah dan mengenalkanmu pada omma. Omma pasti akan senang melihatmu, omma dari dulu slalu ingin memberimu cake buatannya sebagai tanda terima kasih”

 

“Beom-ah, jebal.. sembuhlah!!” tiba-tiba buliran air mata jatuh dipelupuk mataku, entah rasa iba atau rasa sayangkuyang lambat laun semakin besar. Perasaan yang aneh, mencintai seseorang yang belum aku kenal, walaupun setiap hari aku mengajaknya bicara, tapi tidak ada reaksi sedikitpun darinya. Dia tetap pada pendiriannya, hidup seperti patung dan seperti mayat hidup. Entah rasa penasaran atau cinta yang sekarang aku rasakan, yang pasti aku selalu rindu saat jauh darinya dan selalu sesak saat melihat penderitaannya.

 

KREK!!

 

“Annyeong..” seorang Suster masuk membawakan makanan dan obar untuk si pasien. Aku dengan cepat menyeka air mataku, lalu meletakan mawar yang tadi aku bawa kedalam vas.

 

“Dok, apa anda yang akan menyuapinya??” tawar Suster yang bernama Sooyoung. Dia telah terbiasa dengan perhatiaan lebihku terhadap si pasien. Prediksi Sooyoung yang selalu membuatku terkekeh adalah ramalan asalnya yang bilang kalau aku berjodoh dengan si pasien dan akan selalu terikat selamanya. Awalnya aku menanggapi secara dingin, aku tidak pernah percaya dengan yang namanya ramalan, tapi sekarang aku selalu bertanya-tanya, apakah mungkin? Yang pasti aku sangat mengharapkannya.

 

“Dok, apa anda yang akan menyuapinya??’ tanya Sooyoung untuk kedua kalinya yang membuat lamunanku buyar.

 

“Eh.. kau saja! Aku masih ada kerjaan lain!!” jawabku sambil beranjak kearah pintu.

 

“Oh yah Sus, bisakah kau membantuku??” tambahku sambil mendongak kearah suster cantik itu.

 

“Eh…?” Sooyoung tampak heran dan penasaran terhadap permintaanku.

 

“Nanti sore, tolong.. kau percantik si pasien terus pakaikan dress putih yang ada diruanganku, aku ingin membawanya jalan-jalan.” ucapku tanpa basa-basi.

 

“Tapi, Dok?” timpal Sooyoung yang merasa khawatir.

 

“Tenanglah.. aku hanya membawanya sebentar”

 

“Ne..” balasnya sambil mengangguk, lalu aku pun melangkah meninggalkan kamar itu.

 

End Dokter’s POV

 

 

 

Beom POV

 

Dokter cute itu slalu mengajakku bicara dan bercerita, rasanya aku ingin menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang di lontarkannya dan menanggapi semua ceritanya. Tapi sayang, mulutku seolah terkunci, suaraku seolah lenyap begitu saja. Aku hanya mampu berkata-kata dalam hatiku, kata-kata yang tidak pernah bisa dia dengar. Hari ini dia menangis dihadapanku, hatikupun menjerit melihatnya, rasanya ingin aku memeluk untuk menghiburnya.

 

Seorang Suster tiba-tiba datang membawa makanan, Dokter itu pun menunduk dan menyeka air matanya, mereka terlibat obrolan serius yang mengarah tentangku sebelum akhirnya Dokter itu berlalu meninggalkan ruangan. Tiba-tiba air mataku jatuh, air mata yang dari tadi aku tahan akhirnya menetes tanpa komando meluapkan semua perasaanku.

 

“Agasshi.. gwenchana??” tanya Suster itu yang tampak cemas, dia membantu menyeka air mataku lalu tersenyum manis.

 

“Agasshi, apa kau terharu dengan perhatian Dokter tadi?? Emh.. aku percaya kalian pasti berjodoh!!” tambahnya kemudian.

 

End Beom POV

 

 

 

Dokter POV

 

Sore hari yang cerah menyambut hatiku yang senang, ini pertama kalinya aku membawa Beom keluar rumah sakit. Walaupun awalnya susah mendapat izin, tapi akhirnya aku berhasil dengan alasan bahwa suasana yang baru bisa mempercepat kesembuhannya. Aku membawanya ketaman yang sama, tempat terakhir aku melihatnya. Dia mengenakan dress putih selutut yang kubeli seminggu yang lalu, dibagian lengannya sedikit menggelembung bergelombang terbentuk seperti bunga, rambutnya tergerai indah dan sebagian terurai kedepan menutupi bahunya. Aku terus mendorong kursi roda yang ditumpanginya mengelilingi taman sambil bercerita tentang keindahan taman ini.

 

Aku berhenti dibawah pohon besar yang disekelilingnya tumbuh rerumputan halus, aku memboyong Beom kemudian membiarkannya duduk dirumput dan menyandarkan tubuhnya di pohon.

 

“Apa kau masih ingat, kita pernah bertemu ditaman ini??” aku duduk di hadapannya dan mulai berceloteh.

 

“Kita dulu duduk disana!!” telunjukku mengarah pada bangku panjang bercat putih yang dibelakangnya terdapat tanaman bunga.

 

“Saat itu, pertama kalinya aku melihatmu tersenyum, hehe.. rasanya aneh sekali, tiba-tiba hatiku berdebar.. apa kau mempunya magic sampai membuatku seperti itu??” aku terkekeh dan menyipitkan mataku mencoba menyelidik, aku menatapnya dalam-dalam dan senyuman yang tadi tersungging dibibirku lambat laun memudar karna keprihatinanku terhadapnya.

 

“Huh.. rasanya lelah sekali!!” aku mulai merebahkan tubuhku dan meletakan kepalaku dipahanya, melipat kedua tanganku didada kemudian memejamkan mataku.

 

“Beom-ah, tahu tidak kalau waktu itu.. saat kau mengangkat panggilan teleponmu, aku sudah bersiap-siap mengeluarkan ponselku untuk meminta nomormu, tapi sayang aku gagal karena kau bergegas pergi saat itu, hehe.. rasanya malu sekali kalau mengingat kejadian itu!”

 

“Waktu itu aku sangat penasaran terhadapmu, siapa namamu.. dimana rumahmu.. benar-benar sangat ingin mengenalmu.. apa kau tidak pernah merasakan hal seperti itu?? Apa kau tidak pernah ingin tahu siapa namaku?!”

 

“Harusnya waktu itu, aku memperkenalkan diri terlebih dahulu!!” aku mulai bergumam asal, kurasakan semilir angin membelai wajahku dengan lembut hingga seketika membuatku terlelap.

 

Clak!

 

Aku seketika terbangun, mataku membulat lebar dan kurasakan belaian halus menyapu rambutku.

 

End Dokter POV

 

 

 

Beom POV

 

Dia membawaku ketaman, taman yang dulu biasa aku datangi saat perasaanku sedang sedih. Dia membawaku keliling taman kemudian duduk bersantai dibawah pohon. Dia bercerita banyak tentang dirinya, samar-samar aku mulai mengingatnya, tidak disangka kalau dia adalah namja yang pernah membuatku kesal. Rasanya aneh, tidak saling kenal tapi dia sangat penasaran terhadapku.

Dia merebahkan tubuhnya kemudian meletakan kepalanya di pangkuanku, terlihat wajahnya tampak lelah, dia mulai memejamkan matanya dan bergumam pelan, tapi aku masih bisa mendengar dengan jelas apa yang diceritakannya. Aku mulai terbawa suasana, mataku berkaca-kaca karna terharu lalu seketika air mataku jatuh tepat diatas wajahnya. Dia terbangun, matanya membulat lebar karna shock melihatku menangis, aku tersenyum kearahnya kemudian membelai rambutnya dengan lembut, dia membalas senyumanku dan meraih tanganku kemudian menciumnya.

 

“Annyeong..” sapanya mencoba memperkenalkan diri.

 

“Jonen Lee Donghae imnida”

 

 

Fin.

 

 

Sequelnya ada loh ^^ judulnya “GoodBye My Baby”
Tunggu az yah hehe..
Pada kecewa yah? Beomnya ga mati? Hahaha.. abisnya author masih pengen idup XDD

 

 

 

 

11 thoughts on “[FREELANCE] EPILOG I HATE NAMJA

  1. suka.suka banget sma endingx min..

    dri atas mmbaca pnasaran si dokter siapa..
    eh terxta donghae oppa..
    #refleks brteriak..
    Haha..🙂

    good FF,, daebak thor..🙂

  2. Pengumuman : Sequel I HATE NAMJA judulnya Goodbye My Angel #sorry yg ditulis salah ckck
    Aduh keinget ama lagu wg jadi ketulis baby hehe

  3. ohh ternyata donghae toh si dokter tampan itu , ku mau dong gantiin tempatnya beom kalo gitu, hehe

    author bikin penasaran ih, aku kirain udah tamat -_-
    trus minhonya gimana? kasian dong minhonya u.u
    trus eommanya? appanya?
    huaahh author bener bener bikin penasaran ih >,<
    #readerbawelbanyakomong -_-

  4. ohh ternyata donghae toh si dokter tampan itu , ku mau dong gantiin tempatnya beom kalo gitu, hehe

    author bikin penasaran ih, aku kirain udah tamat -_-
    trus minhonya gimana? kasian dong minhonya u.u
    trus eommanya? appanya?
    huaahh author bener bener bikin penasaran ih >,<
    #readerbawelbanyakomong -__-

  5. komennya tak rapel disini dehh…
    ceritanya ngaduk2 perasaan dehh,
    tapi minhonya kasian deh.. T,T
    tag tega akuhhhh……. tersakiti….

  6. wah epilognya nggak di sangka2….
    padahal aku berharap dokter cute itu jinki oppa loh…
    tapi donghae oppa juga nggak papa kok…

  7. ooohh~~~ jadi beom gak metong…
    hahahaahha.. pinter lah author ini udah nipu saya…
    kekekekekekeke😀
    daebak!!!! d(^.^)b

    gak kecewa kog Beom masih idup… akhirnya hyori cerai…
    dan woot? dia jatuh hati sama Taeminnie?
    apakah si taemin lebih muda drpd Hyori??? O.O
    fiuhhh~~~ lega.. untung aja dokternya Beom bukan biasku (read: Onew and key)…
    kalo dia salah satu biasku… aq pasti udah patah hati n cemburu sama perhatiannya Dokter itu ke Beom… bener2 sabar dan lembut~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s