[FREELANCE] SECRET (Part 2)

Title                             : Secret – Part 2

Author                        : Kim Hana a.k.a Nandits

Main Cast                   : Kim Jonghyun, Han Yunji (OC)

Support Cast            : Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Choi Minho, Lee Taemin

Length                        : Sequel

Genre                           : Life, Romance, Friendship

Rating                          : PG-15

Thanks To               : Neni as my Beta-Reader

A/N                  : Annyeonghaseyo.. Berhubung ini FF pertamaku dan karena masih dalam tahap belajar, FF ini masih ter-influenced dari mana-mana: ada dari novel-novelnya Mbak Sitta Karina, ada dari drama, bahkan ada juga dari kehidupan nyata. Kritik dan saran yang membangun diterima banget lho. Happy reading J

SECRET – Part 2

Yunji menyembulkan kepalanya untuk melihat ke dalam ruangan tempat ia dan panitia festival biasa mengadakan rapat. Tadi dia bertemu Minho, mereka mengatakan bahwa tadi pagi Jonghyun terlihat sedikit tidak sehat. Oleh sebab itu, di sinilah Yunji, mengintip ke dalam ruang rapat dan tersenyum lega karena akhirnya ia menemukan Jonghyun.

Jonghyun terlihat sedang tertidur dengan kepala di atas satu tangannya yang dilipat di atas meja, sedangkan tangannya yang lain diluruskan begitu saja, posisi yang sebenarnya tidak nyaman untuk tidur. Yunji mendekatkan wajahnya untuk melihat wajah Jonghyun. Terlihat pucat tapi wajahnya nampak polos seperti anak kecil.

Yunji duduk perlahan di kursi yang berada di samping Jonghyun. Tangan itu bergerak dengan sendirinya, mengelus rambut Jonghyun yang lembut ketika menyentuh kulit Yunji. Tidak sengaja Yunji menyentuh kening Jonghyun dan ia dapat merasakan suhu tubuh Jonghyun yang panas.

“Jonghyun Sunbae.” Yunji memanggilnya selembut dan sepelan mungkin, tidak ingin mengejutkan Jonghyun.

Tidak ada reaksi.

“Jonghyun Sunbae.” Kali ini Yunji mengguncangkan tubuh Jonghyun sedikit.

“Hmm?” Berhasil. Ada reaksi dari Jonghyun. Ia membuka matanya yang berat dengan perlahan. Meski masih samar, ia dapat melihat wajah Yunji lengkap dengan ekspresi khawatirnya. Jonghyun tersenyum kemudian menegakkan badannya. Namun mendadak rasa pusing menjalari kepalanya. Jonghyun pun memejamkan mata sesaat untuk meredakan rasa pusingnya.

“Sunbae, gwaenchanhayo? Badanmu panas. Apa sekarang kau merasa pusing?” Yunji bertanya dengan cemas.

Jonghyun membuka matanya perlahan, takut pusingnya datang lagi. Tapi beruntung rasa pusing itu sudah mereda. Jonghyun menatap Yunji, lagi-lagi tersenyum “Gwaenchanha, hanya sedikit pusing. Tidur sebentar pasti akan lebih baik.”

Yunji meletakkan kantong putih di atas meja. Mengeluarkan semua isinya sambil berkata “Aku tahu kau pasti belum makan dan minum obat. Sebaiknya kau makan bubur ini, setelah itu minum obat dan istirahat agar keadaanmu cepat membaik.”

Tindakan Yunji membuat Jonghyun terhenyak pelan. Mengapa Yunji peduli? Jonghyun masih tertegun dengan sikap Yunji yang sangat mengkhawatirkannya hingga tanpa sadar ia terdiam terlalu lama.

“Sunbae, ayo makan dulu buburnya.” Yunji menyodorkan sendok ke arah Jonghyun.

“Oh, geu.. geurae.” Jonghyun mengambil sendok lalu memakan bubur yang dibawakan Yunji.

Dengan sabar, Yunji menunggui Jonghyun yang memakan buburnya dengan lambat dan tidak berselera. Mungkin karena sedang sakit, Jonghyun merasa semua makanan yang masuk terasa hambar. Setengah mangkuk sudah Jonghyun memakan buburnya dan ia sudah tidak kuat lagi. Kalau dipaksakan pasti makanannya akan keluar lagi.

“Sudah kenyang?” Yunji melihat Jonghyun mengangguk sekilas. Yunji membukakan bungkus obat yang dibawanya, kemudian menyerahkan kepada Jonghyun. “Ini Sunbae, minum obatnya.”

Jonghyun menerima obat itu kemudian meminumnya. “Gomawo, Yunji-ah.” katanya pelan. Jonghyun merasa sangat lemas dan tidak bertenaga sama sekali.

“Lebih baik kau cepat pulang dan istirahat di rumah, Sunbae. Jangan tidur di sini, nanti akan membuatmu tidak nyaman dan bisa-bisa semakin sakit.” Masih dengan tatapan yang memancarkan kekhawatiran yang mendalam, Yunji menatap Jonghyun yang terlihat pucat dan tidak bertenaga.

“Baiklah aku akan pulang sekarang dan beristirahat. Sekali lagi gomayo Yunji-ah.” Jonghyun bangkit dari kursinya dan mengambil tas yang tergeletak begitu saja di lantai.

“Kau pulang sendiri?” kata Yunji lagi.

Jonghyun memiringkan kepalanya, kebingungan menghadapi sikap Yunji yang sangat perhatian kepada dirinya. Kemudian ia mengangguk.

“Pulanglah bersama Minho atau Key. Itu akan lebih membuatku merasa tenang.” Yunji hendak mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Minho dan Key, namun terhenti ketika Jonghyun tiba-tiba memeluknya.
“Entah berapa kali aku harus mengatakan ini, tapi terima kasih banyak ya..” Jonghyun berbisik sangat pelan, lemah sekali, di telinga Yunji. Yunji dapat merasakan hembusan nafas dan tubuh Jonghyun yang panas. Tapi entah kenapa hatinya terasa sejuk. Diam-diam Yunji tersenyum di balik dada Jonghyun yang bidang itu.

**

Jonghyun terduduk di tempat tidurnya sambil melamun. Memikirkan apa yang terjadi tadi siang. Yunji yang perhatian pada dirinya. What a feeling.. Jonghyun tersenyum terus jika mengingatnya. Selama ini ia tidak pernah betah berada di sekitar yeoja lainnya. Mungkin karena ketampanan dan kebaikan Jonghyun, sehingga yeoja yang ada di sekitarnya selalu meminta perhatian dan bertingkah aneh, membuat Jonghyun merasa tidak nyaman. Tapi sekarang ia merasa benar-benar nyaman dengan keberadaan Yunji.

Ditambah lagi belum pernah ada yang memberikan perhatian dan mencemaskan dirinya selain sahabat-sahabatnya. Dengan Yunji yang begitu peduli padanya, membuat Jonghyun sangat bersyukur. Yunji itu… berbeda dengan yeoja yang lainnya. Entahlah, Jonghyun juga tidak mengetahui apa yang membuat Yunji berbeda.

Dan apa itu tadi? Jonghyun masih ingat betul bahwa tanpa berpikir panjang ia memeluk Yunji. Skinship seperti bergandengan tangan sudah sering mereka lakukan dan itu terasa biasa saja, mengingat hubungan mereka yang kini sudah sangat dekat seperti yeodongsaeng dengan oppanya. Tapi pelukan yang tadi itu terasa berbeda, seolah Jonghyun ingin memeluk Yunji erat dan tidak ingin melepasnya.

Tok.. Tok..

Terdengar ketukan di pintu kamar Jonghyun.

“Hyung, apa kau tidur?” Terdengar suara Taemin dari balik pintu kamarnya.

“Tidak. Masuklah Taemin-ah.”

Taemin membuka pintu kamar Jonghyun pelan sambil menyembulkan kepalanya. Ia tersenyum melihat Jonghyun yang sedang duduk dengan kaki bersila di tempat tidurnya. Kemudian Taemin masuk dan kembali menutup pintunya. Masih mengenakan baju seragam lengkap dengan tasnya, Taemin menghampiri hyungnya dengan wajah sedikit cemas.

“Kau sakit, Hyung?”

Jonghyun tersenyum memperhatikan tingkah maknae satu ini. Taemin memang paling cemas jika salah satu dari hyungnya sakit. Jonghyun menggelengkan kepalanya sekali “Sekarang sudah tidak apa-apa, Taemin-ah. Jangan khawatir.”

“Syukurlah.” Taemin menghela nafas lega. “Tapi Hyung, benar kau tidak apa-apa? Sejak kau pulang ke rumah dengan baju yang basah kuyup tempo hari, sepertinya kau tidak bersemangat. Kau benar-benar tidak ada masalah?”

Jonghyun sudah menduga. Taemin memang yang paling peka dengan keadaan sekitar. Ia tahu, pasti suatu saat Taemin akan menginterogasinya seperti sekarang ini.

“Aku tidak ada masalah apa-apa. Hanya saja aku memang sedang pusing memikirkan festival di kampusku.” Jonghyun tidak berbohong. Memang ia sedikit cemas dengan acara itu. Tapi tentu saja bukan itu yang menjadi masalah utamanya.

“Oh geurae? Ya sudah kalau begitu. Jagalah kesehatanmu, Hyung, jangan sakit lagi seperti ini. Membuat khawatir saja.” Kata Taemin lagi.

“Iya iya Taemin-ah. Jangan terlalu khawatir, aku sudah lebih baik sekarang.” Jonghyun mengacak-acak rambut Taemin sambil tertawa.

Sore itu Onew, Key, Minho dan Taemin sudah berada di rumah. Mungkin karena mendengar Jonghyun sedang sakit, mereka semua pulang ke rumah lebih awal. Ya, seperti itulah persahabatan mereka dan Jonghyun sangat bersyukur memiliki sahabat seperti mereka.

Jonghyun sedang menonton di ruang TV ketika tiba-tiba Minho duduk di sebelahnya dan menyipitkan mata, menatapnya dengan curiga.

“Hyung, kau sudah punya pacar ya?”

Jonghyun membelalakkan matanya dan menoleh ke arah Minho dengan cepat. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Tadi siang aku dan Minho bertemu dengan Yunji. Ia menanyakanmu kepada kami dan ketika kami bilang kau sakit, ia langsung terlihat cemas.” sahut Key yang datang sambil membawa beberapa camilan yang langsung direbut oleh Minho.

“Ah Yunji. Tidak, kami hanya berteman, dia sudah seperti yeodongsaeng bagiku.” Jonghyun berkata grogi. Di pikirannya sendiri ia bertanya-tanya, benarkah ia hanya menganggap Yunji sebagai yeodongsaengnya saja? Ia memang menyukainya tapi ia merasa belum mempunyai alasan yang tepat untuk mengutarakan perasaannya itu.

“Geojitmal.” Kata Minho lagi, masih dengan tatapan yang penuh kecurigaan.

“Jinjjaru. Kenapa sih kalian ini? Yunji itu menjabat sebagai wakilku untuk kepanitiaan festival ini. Panitia lainnya juga membuat gosip yang tidak-tidak tentang hubungan kami. Sekarang kalian juga berpikir begitu, membuatku tambah pusing saja. Jujur saja aku merasa tidak enak dengan Yunji karena pasti dia merasa terganggu dengan gosip itu. Aku mengakui kalau kami memang dekat tapi..” Jonghyun berbicara dengan cepat, menunjukkan bahwa dia sedang nervous. Namun ia terhenti ketika menyadari bahwa ia mengucapkan kalimat yang salah.

“Nah kan! Kalian memang dekat. Kau menyukainya ya Hyung?” Key melonjak girang.

“Wah Hyung sudah punya pacar ya sekarang? Kenalkan kepada kami dong.” Taemin tiba-tiba datang dan langsung duduk di antara Jonghyun dan Key.

Jonghyun hanya menghela nafas sambil mengusap wajahnya, kebingungan. Kenapa semua jadi seperti ini?

“Onew Hyung! Jonghyun hyung sekarang sudah punya pacar.” Kata Taemin ketika Onew sedang berjalan ke arah dapur.

“YA Taemin-ah!” Jonghyun berteriak panik sambil membekap mulut Taemin.

“Benarkah? Chukkahae Jjong. Kau mendahuluiku hahaha.” Onew pun bergabung dengan mereka di ruang TV.

Jonghyun mengibas-ngibaskan tangan di depan dadanya sambil menggeleng. “Bohong Hyung. Mereka semua bohong. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Yunji.”

“Oh namanya Yunji. Sekali-kali ajaklah dia main ke sini. Aku ingin melihat seperti apa pacar Jonghyun.” Onew terus saja menggoda Jonghyun yang sekarang ini wajahnya sudah merah padam.

“Semakin kau menyangkalnya, kami semakin yakin kalau kau menyukainya. Terlihat dari wajahmu yang merah padam dan betapa paniknya kau sekarang ini.” Key terkikik melihat Jonghyun salah tingkah.

“Aish.. bukan begitu.” Jonghyun menghela nafas. Frustasi.

**

Jonghyun mengambil tas kemudian menyandangkannya di bahunya. Ia hendak beranjak untuk pulang ketika ada seseorang yang menyapanya.

“Jonghyun-ah, kau sudah mau pulang?”

“Oh, annyeonghaseyo Jaemin Hyung.” Jonghyun menyapa pemilik café tempat ia bekerja. Jonghyun bekerja di sebuah café yang cukup terkenal sebagai penyanyi. Ia terpaksa untuk terus bekerja di tengah perkuliahannya yang sedang sibuk demi membayar biaya kuliah dan kebutuhan sehari-hari. Meski dia sudah mendapat beasiswa tapi itu hanya cukup untuk membayar dua per tiga dari biaya kuliahnya.

“Seperti biasa penampilanmu sangat memukau. Suaramu bagus sekali.” Park Jaemin memujinya tulus. Tidak salah mempekerjakan Jonghyun di cafenya ini. Jujur saja, pelanggannya semakin bertambah setelah Jonghyun bekerja di sini, terutama pelanggan wanita. Bagaimana tidak? Dengan wajahnya yang tampan dan suara yang memukau, itu sudah cukup membuat para wanita tergila-gila padanya. Kalau dia tidak salah dengar, bahkan Jonghyun sudah memiliki fansclub sendiri.

Jonghyun tersenyum “Anieyo Hyung, aku masih harus banyak belajar.” Jonghyun menanggapinya dengan kalem. Ya, memang dia merasa masih banyak kekurangan.

“Kau memang rendah hati. Ah iya, hampir saja aku lupa. Minggu depan akan ada perayaan 2 tahun café ini berdiri, bisakah kau datang untuk mengisi acara? Aku tahu jam kerjamu hanya setiap weekend, tapi banyak sekali pelanggan yang menanyakan tentang kehadiranmu. Untuk bayarannya, jangan khawatir, tentu saja bayaran kali ini akan berbeda dari biasanya.” Jaemin mencoba membujuk Jonghyun. Biasanya Jonghyun akan menolak jika ditawari menyanyi selain di hari weekend. Mungkin karena ia tidak mau waktu kuliahnya terganggu.

Jonghyun terlihat berpikir sebentar. Kemudian mengangguk. “Baiklah Hyung, aku akan datang. Kebetulan saat ini kuliah sedang slow down, jadi ku pikir aku akan bisa datang minggu depan.”

“Jeongmal? Gomapta Jonghyun-ah.” Jaemin menepuk-nepuk pundak Jonghyun, terlihat senang.

“Cheonmanhaeyo Hyung. Baiklah, aku pulang dulu.” Jonghyun membungkukkan badan.

“Oh geurae. Berhati-hatilah di jalan.” Jaemin melambaikan tangannya dan berjalan masuk ke dalam café.

Jonghyun membungkukkan badannya sekali lagi. Ia berjalan menuju halte bus sambil bersenandung kecil, moodnya sedang bagus sekali sekarang. Ia mampir ke mini market di ujung jalan untuk membeli lollipop.

Jonghyun tidak sadar ada seseorang yang terus memperhatikannya sejak ia memasuki mini market itu. Jonghyun sedang asyik menikmati lollipopnya ketika ada yang memanggilnya.

“Jonghyun-ah”

Jonghyun langsung mengenali suara itu. Ia berbalik dan mendapati Hyungnya sedang bersandar di tiang listrik tak jauh dari tempatnya berdiri. Ia mengamati sebentar, tidak langsung menghampiri Hyungnya. Namun sepertinya Jongmin sedang tidak mabuk. Jonghyun pun menghampirinya perlahan.

“Hyung.. apa yang kau lakukan di sini?” katanya ragu.

I feel like I’m dying..” bisiknya tapi terdengar jelas bagi Jonghyun.

“Wae? Apa yang terjadi?” Jonghyun mendekat ke arah hyungnya, ingin melihat lebih jelas wajah hyungnya yang terlihat pucat.

Jongmin menghambur ke arah Jonghyun, memeluknya erat. Jonghyun terlalu kaget hingga lollipop di tangannya jatuh dan ia pun hanya mematung. “Pinjamkan aku uang, Jjong. Aku butuh barang itu sekarang, aku tidak kuat, rasanya seperti terbakar. Jjong tolong aku..”

Jongmin meracau tidak karuan, terdengar sangat kesakitan. Jonghyun bingung harus berbuat apa, ia tidak tega melihat hyungnya seperti ini. Tapi Jonghyun tidak bisa membiarkan Jongmin terus tergantung dengan obat terlarang itu.

“Kita ke rumah sakit saja Hyung, itu akan lebih baik dari pada kau terus menerus mengkonsumsi obat terlarang itu.” Jonghyun mencoba membujuk Hyungnya.

“Tidak, aku tidak butuh ke rumah sakit. Rumah sakit tidak akan menolongku. Berikan saja aku uang dan aku pasti akan sembuh. Tolong Jjong, sakit sekali.” Jongmin memeluk Jonghyun makin erat, menandakan kesakitan yang amat sangat. Jonghyun merasa matanya mulai panas. Semua pertahanannya runtuh ketika melihat Hyungnya menderita seperti ini.

“Arasseo Hyung tenanglah, ini aku ada sedikit uang. Ambillah Hyung.” Jonghyun mengeluarkan honor yang baru saja ia terima.

“Gomawo Jjong, jeongmal gomawo.” Jongmin mengambil uang itu. Sebelum akhirnya ia pergi, Jongmin memeluk Jonghyun sesaat kemudian berbisik. “Saranghae Jonghyun-ah”

Jonghyun menatap punggung Jongmin yang makin menjauh. Ia menyesal memberikan uang itu kepada Jongmin, tetapi ia juga tidak tega melihat Hyungnya kesakitan. Jonghyun merasa berada di jalan yang sangat kecil dengan jurang yang sangat dalam di kanan kirinya. Ia dilema dan tidak tahu harus membagi kegelisahannya kepada siapa. Matanya semakin panas dan perlahan air mata mengalir “Hyung, jebal, keumanhe…” bisiknya lirih.

**

Music and dance festival yang diadakan Yonsei University tinggal dua hari lagi. Semua panitia sibuk menyiapkan setiap detailnya. Beberapa panitia laki-laki bahkan menginap di kampus, tak terkecuali Jonghyun. Sejak lima hari yang lalu, panitia acara sudah mulai mengerjakan dekorasi untuk panggung, mulai dari backdrop panggung sampai ke detail terkecil seperti membuat papan untuk pemenang hingga meniup dan memasang balon.

Hari sudah semakin sore, namun semangat semua panitia tidak terlihat surut sama sekali meski wajah-wajah mereka terlihat kelelahan. Jonghyun mengalihkan pandangannya sebentar dari pekerjaannya mengecat backdrop panggung. Matanya menemukan Yunji. Jonghyun tersenyum memandangi Yunji yang anehnya tidak terlihat lelah sama sekali.

Jonghyun menghampiri Yunji “Ya, Yunji-ah, bateraimu masih full ya, walaupun sudah bekerja dari pagi tadi? Semangat sekali sih?” sambil mengusap-usap kepalanya.

“Oh Jonghyun Sunbae! Bateraiku masih sangat penuh hehe. Aku senang sekali bisa terlibat di acara ini. Jujur saja aku belum pernah mengurusi acara sebesar ini.” Yunji berkata ceria sambil membetulkan kuncir rambutnya yang mulai kendur.

“Yunji-ah, bisa tolong kau ambilkan balon dan kertas krep? Ada di ruang rapat. Oh, annyeonghaseyo Jonghyun Sunbae” Hyeji melewati Yunji dan Jonghyun, terlihat sibuk, sambil membawa berbagai macam perlengkapan dibantu oleh Dongwoo.

“Ne!” kata Yunji sambil berlari menuju ruang rapat.

Jonghyun pun mengejar Yunji sambil berteriak. “Jamkkanman! Biar kubantu.”

Sesampainya di ruang rapat Yunji dan Jonghyun kebingungan mencari barang-barang yang di maksud oleh Hyeji.

“Di mana ya?” kata Jonghyun sambil mencari di sudut ruangan.

“Ini dia!” kata Yunji.

Jonghyun menoleh dan melihat Yunji yang sudah berdiri di atas kursi untuk mengambil barang di atas lemari.

“Hei hati-hati!” Yunji mendengar suara Jonghyun yang tak jauh dari tempatnya. Ia sempat melirik dan melihat Jonghyun menghampirinya.

“Tenang saja Sunbae, aku pasti — AAAKH!!!”

“HAN YUNJI!”

Kejadian itu seperti berlangsung hanya dalam kedipan mata. Yunji mendadak kehilangan keseimbangan, jatuh, dan Jonghyun yang secara refleks ingin menangkapnya ternyata kurang tepat, sehingga Yunji jatuh menimpa Jonghyun. Jonghyun merasa punggung sebelah kirinya terasa kaku dan nyeri luar biasa. Lalu ia merasa lebih dapat bernafas ketika beban di atasnya berpindah.

“Sunbae!” Pekik Yunji. “Sunbae, maafkan aku ya. Apa kau terluka? Apa kau bisa berdiri? Maafkan aku Sunbae!” Yunji sudah ingin menangis tapi ia menahannya.

“Sudahlah, Yunji, jangan menangis. Aku tidak apa-apa. Kau sendiri ada yang terluka tidak?” Jonghyun membelai kepala Yunji, tidak tega menggerutu ketika melihat Yunji yang sudah susah payah menahan tangisnya ini.

Yunji menggeleng-gelengkan kepala dengan cepat, lalu ia memperhatikan Jonghyun yang kini malah menatapinya tersenyum. Tangisnya pun kini benar-benar meledak. Yunji membantu Jonghyun bangkit. Saat menapakkan kaki kirinya, Jonghyun merasakan sakit yang luar biasa di punggungnya. Tapi ia berusaha menyembunyikannya.

Sakit sedikit seperti ini, cukup worth-it asal Yunji tidak apa-apa, batin Jonghyun sambil meringis. Ia berusaha menggerakkan lengan kirinya dan tidak bisa.

Jonghyun keluar dari ruang rapat dengan dipapah oleh Yunji. Minho yang sedang berjalan ke arah ruang rapat langsung berlari menghampiri mereka. “Kau kenapa Hyung?” Minho ikut memapah Jonghyun yang berjalan tertatih-tatih.

“Tadi Sunbae ingin menolongku ketika jatuh dari kursi tapi aku malah menimpanya…” Yunji menjelaskan kepada Minho sambil terisak.

“Ya sudah kalau begitu kita harus segera ke ruang kesehatan.” Minho melirik sedikit ke arah Hyungnya, aneh sekali, batinnya. Ia tahu betul Jonghyun sangat kesakitan, tapi kenapa Jonghyun hyung malah tersenyum sendiri? Minho menggelengkan kepalanya sekilas. Pusing. Seperti inikah orang yang sedang jatuh cinta? Rasa sakit pun seolah terabaikan.

Begitu sampai di ruang kesehatan, Jonghyun langsung diperiksa oleh dokter. Dokter itu memeriksa punggung sebelah kiri sampai ke tangannya. Sesekali Jonghyun meringis ketika Dokter menekan di suatu titik dan menanyakan apakah bagian itu terasa sakit atau tidak. Setelah memeriksa dengan teliti satu per satu, Dokter meletakkan tangan Jonghyun kembali ke sisi tubuhnya perlahan.

“Sepertinya hanya terkilir saja. Tidak ada yang patah,” ucap Dokter Cho lalu berpaling ke Yunji yang duduk di sebelah kanan Jonghyun. “Kamu tenang saja, ya.”

“Tapi…” Yunji masih merasa tidak enak hati melihat kondisi Jonghyun yang seperti ini. Seharusnya dia yang mengalami luka-luka akibat jatuh dari kursi, tetapi kini malah Jonghyun yang harus menanggung derita karena tertimpa dirinya. Ditambah lagi festival ini akan dilaksanakan dua hari lagi, Jonghyun akan sibuk mengatur jalannya acara. Semuanya pasti akan terasa berat dengan kondisi tubuh Jonghyun yang terluka seperti ini. Ah iya! Hal yang paling gawat adalah Jonghyun Sunbae kan kidal. Bagaimana dia melakukan aktivitasnya jika tangan kirinya tidak bisa digunakan? Rasanya Yunji semakin ingin bunuh diri saking merasa bersalahnya.

“Sudah tidak apa-apa. Jangan menangis lagi.” kata Jonghyun sambil mengusap lembut air mata Yunji yang mengalir di pipinya.

“Agar cepat sembuh, kau bisa pergi ke tempat pijat tradisional. Aku mempunyai kenalan di sana. Nanti akan kuberitahu alamatnya.” Dokter Cho berdiri, kemudian pamit keluar ruangan. (anggap aja ada tempat pijat tradisional di Korea)

“Lebih baik kau istirahat dulu di sini Hyung. Nanti setelah pekerjaanku selesai, kau pulang denganku saja. Motormu bisa dititipkan di sini dulu untuk sementara waktu. Besok pagi biar aku yang mengambilnya.” Akhirnya Minho membuka suara setelah beberapa lama hanya diam dan menyimak apa yang Dokter Cho bilang. “Aku pergi dulu ya Hyung, sekalian aku ingin meminta alamat pijat tradisional itu.” Minho pun keluar ruangan, meninggalkan Jonghyun dan Yunji berdua saja.

“Yunji-ah, sungguh aku merasa tidak enak harus meminta tolong kepadamu, tapi apakah kau bisa membantuku untuk mengawasi panitia yang sedang menyiapkan dekorasi acara? Kalau ada apa-apa, kau bisa langsung memberitahuku.” Jonghyun menatap Yunji dengan ekspresinya yang memelas, merasa tidak enak untuk menyuruh Yunji tapi ia juga harus bertanggung jawab dengan acara ini.

“Jangan khawatir Sunbae, aku akan mengawasinya dengan baik.” Yunji langsung mengiyakan permintaan tolong dari Jonghyun. Kalau Jonghyun meminta bulan sekali pun, rasanya Yunji akan berusaha untuk memenuhinya. Jonghyun terluka seperti ini karena dirinya dan Yunji akan melakukan apa pun demi menebus rasa bersalahnya. “Sekali lagi maafkan aku ya, Sunbae.” Yunji menundukkan badannya 90 derajat, tulus ingin meminta maaf.

“Sudah, sudah, jangan dibahas lagi masalah itu. Aku tidak mungkin membiarkan seorang yeoja jatuh begitu saja di depanku.” Kata Jonghyun sambil tertawa.

Mata Yunji kembali berkaca-kaca, membuat Jonghyun tertegun sebentar kemudian mengusap-usap kepala Yunji, “Aigooo, anak ini cengeng sekali. Ayolah segera jalankan tugas dariku, saat ini acara festival kita lebih penting dari apa pun juga.” Jonghyun mendorong Yunji pelan. Meski enggan meninggalkan Jonghyun sendiri, Yunji pun akhirnya keluar dari ruang kesehatan.

**

Sehari setelah insiden itu, Jonghyun tidak bisa pergi ke kampus untuk membantu proses dekorasi acara festival karena dipaksa beristirahat di rumah oleh sahabat-sahabatnya. Onew, Key, Minho dan Taemin tidak membiarkannya meninggalkan rumah kecuali untuk mengontrol dan mendapatkan perawatan. Kemarin sore, Minho langsung membawanya ke tempat pijat tradisional yang disarankan oleh Dokter Cho. Keesokkan harinya pun Jonghyun harus kembali ke tempat pijat itu untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.

Setelah dipijat dua kali, keadaan tangan kiri Jonghyun sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Setidaknya Jonghyun sudah bisa makan sendiri. Berbeda dengan dua hari yang lalu, untuk makan saja ia harus disuapi oleh Taemin. Memalukan.

Hari ini Jonghyun bersikukuh untuk pergi ke kampus. Tentu saja ia harus datang karena hari ini adalah hari pelaksanaan festival musik dan dance yang selama ini ia siapkan. Jonghyun sedang berjalan menuju ruang rapat untuk menyimpan tasnya ketika ia berpapasan dengan Yunji.

“Jonghyun Sunbae!” Yunji berlari menghampiri Jonghyun. Yunji tidak dapat memungkiri ia sangat senang melihat Sunbaenya itu.

“Yunji-ah, apa kau melakukan tugas yang kuberikan dengan baik?” Tanya Jonghyun penuh selidik. Sebenarnya Jonghyun sudah tahu bahwa Yunji pasti menghandle semuanya dengan baik, tanpa cela.

“Keurom! Semua persiapan sudah beres dan sesuai rencana hehe.” Yunji berkata dengan penuh percaya diri.

Jonghyun mengangguk sekali. “Bagus. Uri Yunji memang bisa diandalkan.” Jonghyun tersenyum bangga sambil menyentuh pundak Yunji.

Uri Yunji katanya? Yunji sedikit terkejut dengan kata-kata Jonghyun tadi, membuat jantungnya berdegup kencang. Yunji menunduk karena salah tingkah.

“Hmm Jonghyun Sunbae, maafkan aku ya soal dua hari yang lalu.” Ucap Yunji pelan, lalu dia menepuk pelan bahu kanan Jonghyun. “Yang sakit sebelah kanan atau kiri?”

“Kiri.”

“Masih sakit?”

“Masih. Dua hari ini sudah dipijat dan sakitnya amit-amit. Lebih baik aku dikeroyok lima orang sekaligus.”

Yunji tertawa kecil. “Maaf ya Sunbae.” Ucapnya lagi.

“Yang penting kau tidak lecet,” ucap Jonghyun dengan wajah yang ingin meyakinkan Yunji bahwa dirinya benar-benar tidak apa-apa. “Nan gwaenchanha, it’s you I’m worried about.” Kata Jonghyun pelan, namun tulus.

Yunji terhenyak mendengar kata-kata Jonghyun, lalu ia tertunduk sesaat sambil tersenyum kecil. “Terima kasih ya, Sunbae.” Yunji mengangkat kepalanya kemudian menatap Jonghyun.

Tidak apa-apa, demi kau Han Yunji, batin Jonghyun. Kini Jonghyun membiarkan kedua matanya memandangi Yunji. Di dalam hatinya ia bertanya-tanya, apa yang akan ia temukan bila menatapnya sedekat ini; Kedamaiankah? Kesejukkankah? Dapatkah Jonghyun tenggelam di dalamnya?

“Kajja. Yang lain pasti sudah menunggu kita.” Jonghyun menggenggam tangan Yunji dan menariknya pergi.

Terkejut. Yunji hanya memandangi tangan mereka yang saling terpaut dan mengikuti ke mana Jonghyun berjalan. Dalam genggaman tangan Jonghyun yang besar, Yunji dapat merasakan kehangatan yang menelusup ke celah hatinya.

TBC

28 thoughts on “[FREELANCE] SECRET (Part 2)

  1. Komennya part 1 & 2 di gabung y
    Hidupnya Jonghyun kasihan banget… Kenapa ka2 nya Jonghyun nyalahin Jonghyun atas kematian ortu dan sahabatnya… masih penasaran dengan kehidupan Jonghyun… dan dia baik banget walaupun ka2nya udah jahat ma dia…. untungnya dia punya sahabat2 yang baik…
    Kayaknya Jonghyun ma Yunji udah mulai suka nich….

    baca next part dulu y….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s