[FREELANCE] SECRET (Part 1)

Title : Secret – Part 1
Author : Kim Nara a.k.a Nandits
Main Cast : Kim Jonghyun, Han Yunji (OC)
Support Cast : Lee Jinki (Onew), Kim Kibum (Key), Choi Minho, Lee Taemin
Length : Sequel
Genre : Life, Romance, Friendship
Rating : PG-15
A/N : Annyeonghaseyo.. uyeay part 1 publish deh. Berhubung ini FF pertamaku dan karena masih dalam tahap belajar, FF ini masih ter-influenced dari mana-mana: ada dari novel-novelnya Mbak Sitta Karina, ada dari drama, bahkan ada juga dari kehidupan nyata. Kritik dan saran yang membangun diterima banget lho. Oh iya, FF ini pernah dipublish juga di blog lain. Happy reading 

SECRET – Part 1

“Kau mau ke mana hyung?”

“Diamlah kau anak kecil!”

“Hyung, kau mabuk lagi? aku mohon berhentilah mabuk-mabukan”

“Jangan pedulikan aku”

“Kau sangat menyedihkan Hyung, mau sampai kapan kau seperti ini?”

“Apa kau sudah gila, Hyung? Lebih baik kau berhenti dari pekerjaan itu sekarang.”

Kim Jonghyun terbangun dari tidurnya dengan nafas tersengal-sengal. Ia duduk di atas tempat tidur sambil menyeka keringat di keningnya. Matanya menatap liar ke tiap sudut kegelapan yang menyelimutinya. Ternyata ini kamarnya sendiri. Ah.. mimpi itu lagi,pikirnya. Ia merasa lebih tenang, mengetahui apa yang beberapa saat lalu ia rasakan hanyalah mimpi belaka.

Jonghyun bergidik ngeri. Mengapa belakangan ini dia semakin sering memimpikan kejadian di masa lalunya? Sudah dua tahun belakangan ini Jonghyun sering bermimpi buruk dan semakin hari ia semakin sering memimpikannya. Ia melirik jam yang ada di samping tempat tidurnya. Baru jam empat pagi dan he’s totally awake.

Lampu kamarnya dibiarkan menyala seluruhnya, Jonghyun mengganti bajunya yang basah oleh keringat. Kemudian ia berjalan keluar kamar dan menuju dapur. Setelah mengalami mimpi buruk itu, ia tidak bisa tidur lagi dan merasa kehausan.

Cukup lama Jonghyun termenung di meja makan, menatap kosong ke arah gelas yang ada di hadapannya. Sejenak ia merasa bingung apa yang harus ia lakukan di pagi buta ini. Akhirnya ia memutuskan untuk lari pagi saja, berharap semua kepenatannya akan hilang dengan menghirup embun pagi yang menyejukkan.

**

Jonghyun menatap yeoja yang sedang serius latihan menari itu dari kejauhan. Tanpa ia sadari, senyum hangat tersungging di bibirnya. Ia ingat ketika pertama kali melihat yeoja itu.

*Flashback*

“Hei, Jjong! Apa kau sudah bertemu dengan hoobae yang sedang dibicarakan oleh angkatan kita?” Dongwoo mengambil botol air minum di samping Jonghyun dan meminumnya sampai habis.

Mata Jonghyun membulat ketika ia melihat air minumnya dibabat habis oleh teman satu angkatannya ini. Kemudian ia mengangkat alis, terlihat berpikir. “Hoobae? Hoobae yang mana? Hoobae tahun ini ada sekitar 200 orang.” Wajahnya yang tampan terlihat kemerahan, bermandikan keringat setelah bermain basket dengan teman-temannya.

“Masa kau belum berkenalan dengannya? Baru dua hari tahun ajaran ini berlangsung, ia sudah menjadi little diva di kampus kita.” Dongwoo melanjutkan kalimatnya dengan berapi-api.

Jonghyun tersenyum kecil, kalem. “Jeongmal? Bikin penasaran saja.” Tukasnya. Ia bangkit dan mengambil tasnya lalu melilitkan handuk kecil di lehernya. “Siapa namanya?”

“Yunji. Han Yunji.” Dongwoo juga bangkit dan membereskan barang-barang yang ia bawa.

“Yunji..” ulang Jonghyun, tampak berpikir dan mencoba mereka-reka seperti apa gerangan yeoja dengan nama seperti ini.

Jonghyun lalu berjalan keluar dari hall basket dan melewati ruang latihan dance. Terdengar musik pop yang cukup keras dan ia melihat beberapa namja sedang menonton latihan dance.

Jonghyun mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya mahasiswa menonton latihan dance yang memang rutin dilaksanakan ini, mayoritas namja pula. Ia pun penasaran dan mengintip sebentar. Ada beberapa yeoja dan namja yang sedang latihan. Tapi matanya tertarik oleh satu yeoja.

Yeoja itu menari dengan lincahnya. Meski Jonghyun tidak terlalu mengerti dengan teknik dance tapi ia tahu bahwa kemampuan yeoja itu sangat baik. Tubuhnya mungil, rambutnya panjang dan wajahnya manis sekali. Ada sesuatu yang langsung menarik perhatian Jonghyun ketika melihat yeoja itu.

“Hei, lihat itu yang rambutnya panjang dan memakai baju pink. Dia yang namanya Yunji.” Jonghyun menoleh ke arah namja yang sedang berbicara dengan temannya. Oh.. jadi dia yang bernama Yunji, pikirnya. Tidak heran yeoja itu menjadi bahan perbincangan banyak orang belakangan ini. Ia memang murni memukau. Kulitnya putih, tubuhnya langsing, tidak terlalu tinggi, dan bibirnya merah muda. Cantik menjadi kata yang terlalu umum untuk mendeskripsikannya.

Jonghyun tidak berlama-lama di situ. Setelah ia tahu bahwa yeoja itu bernama Yunji, ia menoleh sekali lagi untuk melihatnya, lalu berlalu begitu saja. Tapi dengan senyum kecil yang tersungging di bibirnya.

*Flashback End*

Jonghyun menunduk sesaat, menutup lembaran pikirannya dan segera berlalu. Melihat Yunji berlatih dance seolah menjadi kebiasaan barunya sekarang. Entahlah, ia juga tidak mengerti kenapa, padahal berkenalan saja belum. Yang jelas, ia tidak pernah bisa melewatkan latihan dance yang rutin dilaksanakan itu. Tidak perlu berlama-lama untuk melihatnya, 10 menit sudah cukup. Teman-temannya sering menyuruh Jonghyun untuk berkenalan dengan Yunji, tapi ia sendiri mempertanyakan, pergi ke mana keberaniannya? Tentu saja ini bukan hal yang biasa bagi seorang Kim Jonghyun yang sangat mudah bergaul dengan orang baru, seakan-akan ia menciut di depan yeoja ini. Bahkan jatungnya seolah jatuh ke tanah setiap kali ia berpapasan dengan Yunji. Jonghyun juga tidak tahu, harus sampai berapa lama ia hanya melihatnya… dari kejauhan.

**
Jonghyun membereskan kertas-kertas yang sedikit berantakan di mejanya. Sejak tadi siang, ia berkutat dengan beberapa lembar formulir yang dikumpulkan. Hari ini adalah hari pendaftaran bagi mahasiswa yang ingin terlibat sebagai panitia dalam music and dance festival yang memang diadakan setiap tahunnya. Jonghyun terlibat dalam festival ini sebagai penanggung jawab acara. Ia baru saja menerima berkas-berkas formulir itu tadi siang dan langsung memeriksanya hingga sore ini.

Terdengar ketukan pintu yang agak keras. Tanpa melihat siapa yang datang, ia menggumam “Masuk..”

“Ne.. annyeonghaseyo Sunbaenim. Aku ingin mengumpulkan formulir pendaftaran.” Jonghyun menghentikan gerakan tangannya yang sedang merapikan kertas-kertas itu sejenak. Suara itu begitu bening dan menyejukkan hati. Ia pun mengalihkan pandangannya dari kertas-kertas di meja ke pemilik suara itu.

Deg!
Yeoja itu.. ada di hadapannya sekarang. Jonghyun berdehem sekali dan kembali membereskan kertas-kertasnya. Ia berusaha mengontrol ekspresi wajahnya, tidak ingin terlihat betapa gugupnya ia saat ini.

“Kau tahu kan bahwa waktu terakhir pengembalian formulir itu tadi siang?” Jonghyun berkata tanpa menatap Yunji. Ia berusaha mengontrol ekspresi dan nada suaranya, namun yang terdengar sekarang nada suara yang sedikit galak.

Yunji tertunduk antara takut dan bingung menghadapi Jonghyun. Ia menarik nafas kemudian mencoba menjelaskan “Joesonghaeyo Sunbaenim, tadi siang ada latihan dance. Seharusnya memang latihan dance dilaksanakan sore hari tetapi karena Seonsaengnim berhalangan hadir pada sore hari, jadi latihannya dimajukan di siang hari.” Yunji berkata takut-takut.

“Geurae? Ya sudah kalau begitu tidak apa-apa.” Jonghyun mengangkat wajahnya yang sejak tadi tertunduk kemudian menatap Yunji. Tidak lama kemudian, Jonghyun menyunggingkan senyumnya yang manis, membuat jantung Yunji hampir meledak karena berdegup terlalu kencang.

Ketampanan dan kebaikan Jonghyun memang sudah menjadi informasi umum yang diketahui semua mahasiswa di Yonsei University terutama fakultas art yang di dalamnya ada departemen musik, dance dan akting (sumpah author ngasal abis), tak terkecuali di kalangan para hoobae yang baru memulai masa perkuliahannya ini.

“Kamsahamnida Sunbaenim..” kata Yunji pelan sambil membungkukkan badannya.

“Cheonmanhaeyo…” Jonghyun pura-pura membaca formulir pendaftaran Yunji untuk melihat namanya, kemudian melanjutkan kalimatnya “hmm…. Han Yunji.” Jonghyun menatapinya agak lama, sekalian curi-curi pandang meneliti makhluk mungil di depannya. Lucu juga kalau dilihat dari dekat, seperti gulali.

Yunji merasakan tatapan dari Jonghyun, tetapi kemudian Yunji menatap balik dan tersenyum manis sekali. Membuat Jonghyun merasa pusing sesaat dan kembali menunduk sebelum wajahnya bersemu merah.

“Baiklah Sunbaenim, aku pergi dulu kalau begitu.” Yunji membungkukkan badannya, hendak pergi. Namun tidak jadi karena Jonghyun kembali bersuara.

“Kau sudah tahu bahwa besok ada sesi wawancara?”

Yunji menatap Jonghyun dengan puppy eyes nya yang memancarkan rasa terkejut dan bingung. “Jjinja? Aku belum mengetahuinya, Sunbae.”

Jonghyun ingin sekali mencubit pipi hoobaenya itu saking gemasnya. Ekspresi bingung Yunji sangat menggemaskan. Jonghyun tertawa pelan dan berkata pada Yunji “Iya, besok ada wawancara di ruangan ini jam 1 siang. Pengumumannya ada di tempat pengembalian formulir.”

Yunji tertunduk malu. “Mianhaeyo, tadi aku tidak melihatnya karena aku langsung ke sini untuk mengembalikan formulir saat melihat tidak ada siapa pun di tempat pengembalian formulir.”

“Iya, tidak apa-apa. Yang penting besok kau datang ya. Oh iya, aku belum memperkenalkan diriku secara resmi kepadamu. Kim Jonghyun imnida.” Jonghyun membungkukkan badan kemudian mengulurkan tangannya.

Yunji menyambutnya dengan jabatan yang hangat dan mantap sambil lagi-lagi tersenyum. Senyum yang membuat jantung Jonghyun berdegup kencang. “Han Yunji imnida.”

**

Jonghyun berjalan pelan sambil menendang-nendang kerikil yang bergulir di depannya. Sungguh ia tidak ingin pergi ke tempat itu sekarang. Tapi ia harus mengambil sesuatu yang penting di sana. Jonghyun sengaja memperlambat langkah kakinya. Tidak ingin sampai terlalu cepat di rumah masa lalunya –neraka- itu. Tapi mau bagaimana lagi, selambat apa pun langkah yang ia buat tetap saja akhirnya ia akan sampai juga.

Jonghyun menatap bangunan dari masa lalunya itu. Sepintas kenangan lalu yang begitu indah berkelebat dalam pikirannya, namun kenangan manis itu langsung tergantikan dengan rentetan kejadian yang benar-benar mengubah hidupnya dan hubungannya dengan kakak yang –dulunya- sangat ia hormati.

Jonghyun menggelengkan kepala, mencoba menghilangkan semua rekaman peristiwa buruk di pikirannya. Ia menghela nafas panjang untuk menguatkan hatinya yang saat ini sebenarnya sangat gelisah. Ia melangkahkan kakinya, sedikit ragu, namun akhirnya ia mantap memasuki halaman rumahnya ini.

Sebelum memasukkan password, ia mengamati sekali lagi rumahnya itu. Sangat tidak terawat dan gelap, menandakan bahwa saat ini penghuninya sedang tidak di rumah. Terlihat ekspresi lega di wajah Jonghyun yang sebelumnya terlihat tegang, cemas, dan sedikit… takut. Ia pun memasukkan password dan pintu pun terbuka.

Jonghyun langsung menyalakan semua lampu dan berjalan menuju ruangan yang dulu merupakan kamarnya. Ia menyapukan pandangan ke setiap sudut kamarnya. Masih belum berubah semenjak ia tinggalkan dulu. Jonghyun tersadar dari lamunannya dan segera membuka laci meja belajarnya. Ia ingin mencari ijazah-ijazahnya.

Sewaktu ia meninggalkan rumahnya, ia sama sekali tidak ingat dengan surat-surat pentingnya dan pergi begitu saja hanya dengan membawa satu tas ransel berisi baju-bajunya. Kini ia membutuhkan surat-surat itu untuk mencari kerja demi menghidupi dirinya.

Setelah semua yang ia butuhkan dimasukkan ke dalam tasnya, ia bergegas turun tangga dan berniat pergi secepatnya dari rumah itu. Ketika kakinya menyentuh anak tangga terakhir, terdengar suara tidak jauh dari tempat ia berdiri.

“Lihat siapa yang datang. Adik kecil sudah kembali ternyata.”

Seketika Jonghyun mematung, otot-otot lengannya menegang. Ia dapat merasakan hawa dingin di punggungnya, merasakan ada seseorang yang sedang mengamatinya dengan tatapan penuh kebencian. Perlahan ia berbalik dan ia mendapati seseorang sedang duduk di ruang TV dengan tangan kanan yang memegang longgar sebuah botol minuman.

“Aku pergi..” kata Jonghyun pelan tapi sarat dengan rasa tidak suka. Kakinya baru saja akan melangkah ketika ia mendengar orang itu terkekeh pelan.

“Kenapa buru-buru sekali? Kau tidak rindu pada Hyung-mu ini?” Jonghyun memandang waspada ke arah orang itu ketika ia mencoba bangun dari posisi duduknya, meski langkahnya sangat tidak stabil akibat pengaruh alkohol.

“Kau mabuk. Aku tidak ingin bicara denganmu saat kau sedang tidak sadar seperti ini.” Jonghyun berlalu begitu saja, namun ada tangan yang menahannya keras. Seketika Jonghyun menoleh dengan tatapan nanar. Oh tidak, jangan lagi.

“Jangan coba-coba lari dari kesalahan, Kim Jonghyun. Kau harus menebus semua kesalahan yang telah kau buat.” Seringaian itu berganti menjadi tatapan penuh amarah dari Kim Jongmin, kakak Jonghyun satu-satunya.

“Aaarggh..” Jonghyun meringis ketika Jongmin menekan kukunya ke kulit lengan Jonghyun yang putih. Ia langsung menarik tangan Jongmin paksa “Apa yang kau lakukan?!” Jonghyun tidak dapat menahan emosinya lagi dan berteriak kepada kakaknya.

Tapi itu sungguh suatu kesalahan fatal. Raut wajah Jongmin seketika menegang. Ia mendorong tubuh Jonghyun keras ke dinding, menempatkan lengannya yang kokoh di leher Jonghyun membuatnya sedikit tercekik. “Jangan pernah kau berteriak kepadaku. Kau tahu, kematian Ayah, Ibu serta sahabatku adalah kesalahanmu! Aku tidak akan memaafkanmu!” Jongmin berbisik

“Kau gila! Ayah dan Ibu meninggal karena kecelakaan dan sahabatmu itu meninggal karena kau yang menjerumuskannya ke lingkaran narkoba. Kenapa kau menyalahkanku terus?!” Jonghyun benar-benar berada di posisi yang tidak menguntungkan. Sebenarnya tenaga Jonghyun masih jauh lebih besar dari pada Jongmin yang dalam keadaan mabuk, tetapi Jonghyun tidak ingin melukai kakaknya itu.

“Itu salahmu, itu semua salahmu!!”

BUKKK!!!

Sebuah tinju melayang ke perut Jonghyun, membuat nafasnya tertahan. Jonghyun meringis, menahan rasa perih yang membakar di sekitar ulu hatinya, sementara Jongmin masih berdiri dengan gontai. Jonghyun melihat keadaan ini sebagai kesempatan, ia mendorong tubuh Jongmin hingga terduduk di sofa, kemudian ia berlari keluar rumah.

Jonghyun berlari terus sekencang-kencangnya. Tidak memperdulikan gerimis yang mulai deras. Perlahan air mata mengalir dari pelupuk matanya, melebur bersama air hujan yang mulai membasahi tubuhnya..

**

“Kau sudah pulang, Hyung?” Taemin mengalihkan pandangannya dari tugas sekolah yang tidak kunjung selesai. “Kau kehujanan? Bajumu basah kuyup begitu.” Taemin memandang Jonghyun dengan heran.

“Oh Taemin-ah, sedang mengerjakan PR ya?” Jonghyun tersenyum sekilas kemudian segera pergi ke kamarnya di lantai dua.

Taemin mengerutkan keningnya kemudian hanya mengangkat bahu dan melanjutkan tugasnya. Tak berapa lama Onew datang menghampiri Taemin dan mulai membantunya. Key sedang sibuk menyiapkan makan malam, sedangkan Minho sedang asyik main playstation di ruang TV.

Mereka semua adalah sahabat Jonghyun sejak dua tahun yang lalu. Pertemuan mereka bukan sesuatu yang istimewa. Mereka bertemu di suatu organisasi yang bergerak di bidang sosial. Menakjubkan bukan? Di tengah era globalisasi dan semakin tingginya tingkat individualisme, ada lima anak muda yang masih peduli dengan masalah sosial.

Setahun belakangan ini mereka memutuskan untuk tinggal di rumah milik Onew. Ya, Onew memang lahir di keluarga yang sangat berada. Orang tuanya pemilik pabrik daging olahan yang terkenal di Korea. Saat Onew berhasil lulus tes perguruan tinggi dan mendapat jurusan kedokteran, orang tuanya memberikan hadiah yaitu rumah yang sekarang ia tinggali. Jangan bertanya seberapa luas rumahnya. Bahkan Jonghyun, Minho, Key dan Taemin pun memiliki kamarnya masing-masing.

“Onew hyung, Minho-ah, Taemin-ah, ayo makan malam. Ah ya, Taemin-ah tolong panggilkan Jonghyun hyung.” kata Key dengan suara nyaringnya.

Taemin langsung menengadahkan kepalanya, menatap pintu kamar Jonghyun “Jonghyun hyuuuuuung, ayo makaaaaaaan!” teriaknya sekuat tenaga.

“YA! Taemin-ah, jangan berteriak di kupingku.” Kata Onew sambil menutup kedua kupingnya.

“Ehehehehe, mianhaeyo hyung.” Taemin menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tersenyum malu.

“Aigooo, bocah yang satu ini.” Kata Minho sambil mengacak rambut Taemin.

10 menit kemudian.

“Kenapa Jonghyun hyung belum turun juga?” kata Key sambil menyiapkan peralatan makan untuk setiap orang.

“Entahlah,” kata Minho sambil mengangkat bahu. “Mungkin sedang mandi.” Minho mengambil ancang-ancang untuk mengambil kimchi yang tersedia tapi kemudian Key memukul tangannya.

“Mwo??” Minho menatap Key dengan mata keroronya.

“Tunggu Jonghyun hyung dulu.” Kata Key sambil beranjak ke lantai dua.

Key mengetuk pintu Jonghyun “Hyung, makan malam sudah siap. Ayo makan dulu.”

“Oh..” Terdengar suara Jonghyun yang tidak bersemangat dari dalam kamarnya. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Jonghyun pun menuju ruang makan bersama Key.

“Kau kenapa Jjong?” ujar Onew saat Jonghyun tiba di ruang makan.

“Tidak apa-apa hyung, memang kenapa?” Jonghyun berkata sambil menyuapkan nasi.

“Tidak.. Hanya saja kau seperti tidak bersemangat. Ada masalah?” kata Onew lagi. Minho, Taemin dan Key ikut menatap Jonghyun, menunggu jawaban. Malam ini, memang Jonghyun nampak tidak fokus, lunglai, dan extremely worn-out.

Jonghyun menjadi sedikit gugup diperhatikan oleh semua orang di ruang makan seperti itu. Tapi kemudian dengan wajah –dibuat- polos, ia menggelengkan kepala dan berkata “Tidak apa-apa hyung, jinjjaru.”

Mianhe.. aku harus berbohong pada kalian…

**

“Berkas yang sudah dibagikan, itu adalah rundown acara sudah dibuat. Aku akan meminta bantuan kepada panitia lainnya untuk membantu kita saat acara berlangsung. Apakah ada saran dari teman-teman yang lain?” Hyeji menatap teman-temannya satu persatu, meminta pendapat. Ia mengalihkan pandangannya kepada Jonghyun dan sedikit mengernyitkan dahinya. “Jonghyun Sunbae, bagaimana menurutmu rundown acara yang kubuat?”

Hening. Yang ditanya hanya diam dengan tatapan kosong sambil memainkan pulpennya. Yunji yang duduk di sebelah Jonghyun menoleh dan menatap Jonghyun lama. Ia memiringkan kepalanya, merasa heran dengan sikap Jonghyun sejak rapat dimulai. Entahlah, ia merasa Jonghyun sedang tidak mood. Terlihat dari ekspresinya yang gloomy.

Yunji menyenggol Jonghyun dengan sikutnya. Jonghyun tersadar dari lamunannya dan menatap Yunji. “Wae?” Jonghyun bertanya dengan polosnya. Yunji menggerakkan dagunya ke arah Hyeji. Kemudian barulah ia sadar bahwa semua orang di ruangan itu sedang menatapnya, menunggunya membuka suara.

Jonghyun tidak fokus sejak rapat dimulai dan dia sama sekali tidak tahu apa yang ditanyakan kepadanya tadi. Dalam hati Jonghyun memarahi dirinya sendiri karena tidak mengikuti rapat dengan serius. Padahal dia merupakan penanggung jawabnya. Sungguh memalukan.

Sadar akan ketidakfokusan Jonghyun, Yunji berdehem sekali. Kini, semua mata tertuju padanya dan ia mulai angkat bicara. “Hmm rundown nya sudah cukup bagus dan detail. Tapi saranku sih lebih baik ditulis juga siapa saja panitia yang bertanggung jawab setiap acaranya. Misalnya untuk bazaar, dicantumkan seksi bazaar, perlengkapan, keamanan, dan kebersihan yang bertanggung jawab. Tapi bukan berarti panitia lainnya bisa santai saja. Yang ditulis itu berarti komando seluruhnya ada di tangan mereka. Eotteo?” Yunji berbicara panjang lebar, tangannya bergerak kesana kemari dengan lincahnya. Terkadang rambutnya yang diikat dua bergoyang-goyang mengikuti gerak tubuhnya yang tidak bisa diam.

Panitia lain terlihat mengangguk-angguk. “Ah gomawo Yunji atas sarannya. Pasti itu akan sangat membantu nantinya. Aku sungguh tidak terpikir untuk membuat rundown sedetail itu.” Hyeji berkata sambil tersenyum senang.

“Cheonmanhaeyo Hyeji-ah..” Yunji kemudian melirik Jonghyun yang sedang menatapnya. Jonghyun menggerakkan bibirnya, mengucapkan terima kasih tanpa bersuara. Yunji pun membalasnya dengan senyuman yang manis.

Diliriknya Yunji yang kini kembali asyik membaca rundown acara yang tadi sudah dibagikan. Anak ini lucu sekali sih? Tingkahnya seperti anak kecil, tidak bisa diam.. seperti bidadari yang terpeleset dari khayangan dan jatuh di bumi. Jonghyun mengakhiri lamunan manisnya dan kembali fokus pada rapat hari ini. Ia tidak ingin reputasinya jatuh karena sering melamun ketika rapat, apalagi di depan Yunji.

**

Yunji melonjak kaget ketika ia merasakan sesuatu yang sangat dingin menyentuh pipinya. Ia menoleh cepat dan menemukan Jonghyun sedang terkikik pelan sambil memegang dua buah kaleng jus jeruk dingin.

“Ah Sunbae! Membuatku kaget saja.” Yunji mengusap-usap pipinya yang dingin, ia mengerucutkan bibirnya karena sedikit kesal.

“Ahahaha apa kau tahu wajahmu sangat jelek kalau kau cemberut seperti itu?” Jonghyun menyentuh pipi Yunji dengan jari telunjuknya. Yunji melirik Jonghyun perlahan dengan tatapan angkuh dan kesal. Tapi sebenarnya dalam hati ia senang juga melihat Jonghyun sudah kembali ceria, tidak gloomy seperti tadi.

Jonghyun dan Yunji semakin dekat semenjak mereka menjadi panitia untuk acara music and dance festival di kampus mereka. Terlebih lagi Younji terpilih sebagai wakil penanggung jawab, artinya wakil Jonghyun. Mau tidak mau –meskipun memang mau- mereka sering menghabiskan waktu berdua untuk membahas ini dan itu terkait acara mereka.

Saking akrabnya hubungan Jonghyun dan Yunji, banyak panitia lainnya mengira kalau mereka sudah berpacaran. Tapi Jonghyun maupun Yunji membantah halus gosip yang berputar di kalangan panitia itu karena sampai saat ini pun hubungan mereka tidak lebih dari teman baik, sunbae-hoobae, dan sebagai partner kerja di acara yang sedang mereka urusi sekarang ini.

“Ah jinjja..” Yunji melengos sebal karena Jonghyun masih saja menggodanya.

Jonghyun menyerah, tersenyum kecil sambil menarik tangan Yunji untuk duduk di sebelahnya. “Arasseo, arasseo, jangan terlalu lama menekuk wajahmu seperti itu. Ini, aku bawakan jus jeruk.” Jonghyun menyodorkan kaleng yang dingin itu.

Yunji mengangkat sebelah alisnya, kemudian mengambil kaleng itu. “Tumben Sunbae baik kepadaku, apa yang kau inginkan dariku?” Yunji berkata cuek sambil membuka penutup kaleng itu dan meminum jus jeruknya. “Ahh.. segarnya.”

Jonghyun merengut ke arah Yunji “Ya Han Yunji, bukankah aku selalu baik kepadamu?”

Yunji tertawa kecil sambil menutup mulutnya, lucu sekali memperhatikan tingkah sunbaenya ini. Jonghyun memang baik sekali kepadanya, dari sejak awal berkenalan hingga sekarang tidak ada yang berubah sama sekali. Tapi Yunji tidak ingin menganggap lebih kebaikan yang Jonghyun berikan kepadanya. Bukankah Jonghyun memang terkenal baik kepada semua orang?

Jonghyun meminum jus jeruknya, kemudian menatap Yunji yang berada di sebelahnya. “Gomawo Yunji-ah.”

Yunji menatap balik Jonghyun dengan matanya yang bersinar penuh dengan keingintahuan, “What for?”

“Karena kau membantuku tadi saat rapat.” Jonghyun berhenti sebentar untuk meminum jus jeruknya, lalu ia melanjutkan “Aku memang sedang tidak fokus tadi, makanya tidak terlalu mendengarkan apa yang Hyeji tanyakan padaku, mianhae.” Jonghyun menatap lantai sambil tersenyum kecil.

Yunji memperhatikan Jonghyun lekat-lekat. Senyum apa itu tadi? Yunji melihat ada sesuatu yang tersembunyi dari senyum yang Jonghyun sunggingkan. Bibirnya melengkung sempurna membentuk senyum indah yang biasa ia pamerkan, tapi matanya tidak memancarkan ketulusan. Ada… kesedihan di situ?

“Apa kau sedang ada masalah, Sunbae?”

Jonghyun mengangkat wajahnya dan menatap Yunji, sedikit kaget dengan pertanyaan Younji. “Ah, ani, ani, tidak apa-apa. Hanya sedikit pusing dengan persiapan acara festival ini. Banyak yang belum ter-handle dengan baik.” Jonghyun mencari-cari alasan, bola matanya bergerak-gerak gelisah karena sedang berbohong.

Yunji lagi-lagi tersenyum, ia tahu bahwa Sunbaenya ini sedang berbohong. “Tidak apa-apa Sunbae.. kalau kau memang sedang ada masalah kau bisa cerita kepadaku. Tapi kalau kau tidak ingin membahasnya, aku bersedia menemanimu jika kau butuh teman.”

Jonghyun merasa ada sedikit rasa nyaman yang menelusup ke hatinya. Ia memejamkan matanya sesaat, sambil tersenyum hangat. Jonghyun tidak menyangkal kalau dirinya telah terbuai suasana baru yang aneh yang menggelitiknya ini, yang amat ia remehkan tapi tidak dapat ditolaknya.

Mereka duduk bersebelahan di kursi ruang rapat. Setelah ucapan Yunji tadi, tidak banyak kata yang terurai di antara keduanya. Hanya menikmati sore itu yang terasa sejuk oleh angin sisa hujan yang dingin. Jonghyun menoleh lalu menatapi Yunji lama. Ia tersenyum manis sekali ke arahnya, membuat Yunji salah tingkah.

“Sekali lagi gomawo Yunji-ah..”

TBC

41 thoughts on “[FREELANCE] SECRET (Part 1)

  1. Thor cerita nya bagus banget🙂
    Onew nya ntar dibanyakin dong di part2nya hehhehe
    Ak suka sm bahasanya gk ribet jd mudah nangkepnya (y)
    Part 2 nya jgn lama2 ya thor gk sabar hahahaha
    Hwaiting!!!😀

    • makasiiiih banget yolaaa udah nyempetin baca dan comment🙂
      kalo ada kritik dan saran bilang aja yaaa.
      oke pastinya gue kabarin kalo ada yang baru hehe🙂

    • haloooo maaf baru bales, aku baru liat hehe.
      hahaha iyaaa Jonghyun aku bikin baik di sini karena jujur aja aku malah ga bisa bayangin Jonghyun jadi bad boy :p
      Makasih udah baca dan comment🙂

  2. Eonni…
    Masa ini ep ep pertama? ._.

    Ini mah ‎​Ūϑåћ‎​ bagus, bahasanya udahh dapet banget kali eonn.
    Yg pertama aja dah kyk gini apalagi yg kedua ketiga keempat keseribu (?) ???
    Kknya jonghyun tuh napa sih -_- jadi jjong yg bikin ortunya kecelakaan terus kknya stress terus nyesatin anak orang? #plakk

    Lompat ke next chap dulu eonnn bubye

    • eh ada Ayya mampir hehe

      Iya ini FF pertama aku, hmm masalah bahasa yang udah bagus itu makasih banget buat author2 terdahulu macem Ayya dan lainnya yang secara gak langsung udah ngajarin gimana caranya mendeskripsikan sesuatu ke dalam kata-kata yang mudah dimengerti tapi tetep dapet feelnya🙂

      makasih ya Ayya udah sempetin baca dan ninggalin comment😀

  3. eonni, aku reader baru nih. baru aja nemu blog ini dan langsung ngebut baca ff mu xD

    ini ff pertama? udah bagus kok eon, udah rapi jadi enak bacanya ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s