Miss Trouble Maker

Miss Trouble Maker

Author: Deelockey

Main cast: Park Yoona, Choi Minho

Support cast: Park Yuri, Key, Onew, Joonghyun, Taemin

Length: One Shot

Genre: Romance, Friendship, family

 

Happy Reading guys🙂

Just Park Yoona POV

“one, two, three” teriak seorang yeoja dengan semangat. Gerakannya yang lincah mampu membuat semua orang berdecak kagum. Kuterus memandangnya tanpa henti.

Wajahnya yang cantik, senyumnya yang manis, tubuhnya yang mulus dan seksi membuatnya menjadi primadona di sekolahku ini. Tak hanya itu, dia juga sangat pintar dalam pelajaran, kedudukannya sebagai kapten cheers membuatnya semakin tenar

“hey Yoona, kau sedang menunggu eonnimu latihan cheers” sapa seseorang disebelahku.

“anni, aku hanya sekedar lewat saja” jawabku dingin tanpa ekspresi dan segera berlalu dari hadapannya.

Yeah, kenyataannya memang dia adalah saudara kembarku. Yang jelas dia lebih dulu lahir jadi dia menjadi eonniku sekarang. Hanya selisih beberapa menit saat kita dilahirkan. Tapi semua itu membuat perbedaan yang sangat besar diantara kami.

***

“bagaimana sekolahmu yuri?” Tanya appa disela-sela makan malam kami

“lancar tak ada masalah” ucapnya lembut, appa tersenyum kepadanya. Kemudian appa menoleh kearahku tentu saja dengan tatapan dingin. Kemudian melanjutkan makanannya. Aku tau dia tidak akan sudi menanyakan keadaanku.

“lalu, begaimana denganmu yoona?” Tanya ummaku dengan tatapan hangatnya.

“seperti biasa. Nothing special” jawabku datar

“huh, untunglah kalau kau tidak membuat masalah” tandas appaku. Umma memandang appa dengan tatapan memelas. Tidak seharusnya umma seperti itu. Memelas kepada appa hanya untuk menganggapku ada. Mengenaskan sekali. dengan segera kuselesaikan makan malamku dan kembali ke kamar dan segera tidur walaupun jam dinding masih menunjukkan pukul 7 malam.

***

“aku berangkat umma” ucapku pelan setelah memakan roti dan susu buatan umma. aku selalu sarapan sendirian dengan ditemani umma, sedangkan appa dan eonniku masih tidur.

“hati-hati yoona” ujar ummaku lembut, aku tersenyum sekilas kepadanya dan segera berjalan menuju sekolahku. Kulihat jam tanganku, pukul 5 pagi. Yah ini memang kebiasaan anehku, berangkat sekolah dipagi buta.

“hooooaaaammm” aku menguap untuk yang ke tiga kalinya. Membuatku segera berlari kesekolah dan menuju base campku. Tentu saja untuk melanjutkan tidurku.

***

“hey…. Yoona… irrona!” sayup-sayup kudengar seseorang memanggil namaku.

“yah, bangunlah!” kali ini tubuhku seperti diguncang-guncang. Aku menyipitkan mataku.

“yah, hyung. jangan seperti itu. Kasihan yoona!”

“kalau tidak seperti itu dia tidak akan bangun” dengan perlahan aku membuka mataku karena kebisingan di ruangan ini.

Bukan hanya mendengar celoteh teman-temanku tapi juga suara alat music lainnya.

“good morning chiya” sapa key sambil sibuk mengatur kunci pada gitarnya.

“well, kau tidur nyenyak sekali. ngelembur lagi?” ejek onew. Aku hanya tersenyum simpul. Tapi aku segera menyadari sesuatu.

“SHIT! Aku ketiduran sampai jam segini?!!!! Mampus” teriakku sambil menatap jam di tanganku. Pukul 10.00 dan ini adalah waktu istirahat.

“tadi pelajarannya siapa noona?” Tanya Taemin

“Victoria songsaengnim” ucapku lemah

“hahahahaha… nightmare! Good luck baby” ledek joonghyun sambil memukul drumnya.

“sialan kau. Aku ke kelas dulu. Bye” aku segera mengambil tasku dan keluar dari studio music kami.

“hey, nanti pulang sekolah latihan. Jangan telat!” jelas key.

“araaaaa!!!!!” teriakku sambil berlari tergesa-gesa.

Saat aku sampai dikelas, bisa kurasakan setiap mata tertuju padaku. Whatever, toh mereka selalu menatapku seperti itu. Dan setelah itu mereka tetap melanjutkan aktifitas mereka dan menganggapku tidak ada. Kulempar tasku di meja tempat dudukku.

“yoona, kau dipanggil Victoria songsaengnim di kantor” ucap salah satu temanku yang aku sendiri gak tau siapa namanya. Dengan malas aku berjalan menuju ruang guru. Huh, berapa kali aku melakukan kesalahan sampai-sampai aku bosan melihat ruang guru. Grutuku dalam hati.

***

Panas!

Itu yang kurasa sekarang. Peluh sudah membasahi tubuhku. Panas terik matahari membuat kulitku memerah. Yah, lebih baik seperti ini daripada orang tuaku harus dipanggil ke sekolah dan menghadap Victoria songsaengnim.

Kuambil dedaunan yang ada di halaman sekolah. Mungkin sudah keberapa ratus kalinya. Dan sialnya sekarang adalah musim gugur. Halam sekolah penuh dengan daun kering. Tapi aku harus segera menyelesaikannya, kalau tidak aku bisa di keroyok onew, joonghyun, key dan taemin gara-gara tidak ikut latihan.

Dan akhirnya, selesai juga. Aku menghembuskan nafas lega dan merebahkan diri di rerumputan karena kelelahan. Kupejamkan mataku sesaat.

Duk, duk, duk…

Aku menoleh ke sumber suara. Aku melihatnya lagi. Entah kenapa saat aku melihatnya aku selalu merasakan seperti ini. Jantungku semakin berdetak tak karuan, rasa gugup mulai menyelimutiku, mataku tak bisa lepas dari gerak-geriknya.

Blung!

Dengan mulus ia memasukkan bola basket itu ke dalam ring. Cool!

Tiba-tiba dia memandang kearahku. Aku tertunduk malu, bisa kurasakan wajahku memanas. Tubuhku lemas sekali seperti tersengat listrik. Tapi begitu dia mendekatiku aku semakin berlari menjauhinya.

Dia adalah kapten tim basket di sekolahku. Ketenarannya sebanding dengan eonniku. Badan tinggi, putih, hidung mancung, mata belo, dan cool. Choi Minho! Kau membuatku gila!

***

Sekali lagi kupastikan seluruh anggota keluarga sudah tertidur pulas. Aku segera berlari menuju kamarku dan dengan sigap keluar dari jendela rumah. Dengan langkah perlahan aku keluar dari rumahku ini. Bisa dibilang aku sudah ahli melakukan hal ini. Hampir setiap malam aku melakukannya sejak 3 tahun yang lalu.

Akhirnya aku sampai juga di kelab malam. Tentu saja aku tidak akan masuk lewat pintu depan, tapi aku masuk lewat pintu belakang khusus pekerja part time.

“huh, akhirnya kau datang juga. Ayo segera persiapkan dirimu, 10 menit lagi kita akan tampil” jelas onew selaku leader di grup bandku ini.

10 menit kemudian bandku sudah siap di panggung. Walaupun Cuma panggung sederhana tapi pengunjungnya sangat penuh. Kulirik onew sudah siap dengan suara ng-rocknya, taemin sebagai gitaris juga sudah siap, key dengan gitarnya juga sudah siap memberikan melodi terbaik, joonghyun bahkan sudah melepas bajunya dan bermain stik drumnya.

Kemudian kami memulai penampilan kami. Key dan teamin dengan liar memetik gitarnya, joonghyun malah memukul drumnya seperti orang kesetanan, suara onew yang scream sudah menggelegar di kelab ini, aku makin semangat memetik bassku dan berjingkrak-jingkrak ria.

Yeah, this is my life…

***

Hampir setengah jam kita manggung dan kini aku dan lainnya sudah kehabisan tenaga dan terduduk lemas di sofa backstage. Tapi semua itu sirna ketika boss dari kelab ini menghampiri kami.

“well, kalian memang grup band terbaik di kelab ini. Aku tidak menyesal sudah mengontrak kalian selama hampir 3 tahun. Dan ini gaji kalian untuk bulan ini. kuharap kita bisa bekerjasama lagi” boss tersebut memberikan amplop kepada onew. Kami berlima sontak tersenyum sumringah saat melihatnya. Tak ada yang lebih indah kecuali menerima gaji dengan hasil jerih payah sendiri.

“gamsahamnida…” ucap kami serempak. Saat boss tersebut sudah pergi kami membagi uang tersebut sama rata. Puas sekali rasanya.

“guys, aku beli minum dulu ya” ucapku pada mereka

“hati-hati yoona” kata key. Aku tak peduli dan langsung masuk ke kelab. Berbagai macam jenis manusia ada disini. Dari yang paling berbahaya dan paling jinak. Itu yang dimaksudkan key, aku harus berhati-hati pada pengunjung yang berbahaya.

Setelah memesan minuman kusapukan pandanganku keseluruh pengunjung di kelab ini. Tiba-iba mataku menangkap satu sosok yang sangat ku kenal. Dia sedang berbincang-bincang dengan temannya. Sepertinya dia tidak merasakan kehadiranku disini.

PRANG

Seseorang membanting botol beer dengan murka. Perasaanku langsung tidak enak. Aku harus lari dari sini sebelum…

BUGH!!!!

“BRENGSEK!!! HAJAR MEREKA!!!!!” seru seseorang dengan lantang. Seketika itu juga kelab sudah menjadi lautan orang-orang yang berkelahi.

Aku terpontang-panting tak tentu arah di dalam kerumunan yang sedang berkelahi ini. Keringat dingin mulai membasahi keningku. Posisiku tidak tepat, aku dalam bahaya. Dan benar saja, aku merasakan sebuah hantaman nyasar di pelipis bibirku. Darah segar keluar dari ujung bibirku. Aish, aku merintih kesakitan.

Saat aku sudah putus asa tiba-tiba aku merasa seseorang sudah menyeretku keluar dari gerombolan orang-rang yang sedang baku hantam itu. Kami bersembunyi di tempat yang sedikit aman. Dadaku sesak sekali, nafasku memburu seirama dengan detak jantungku.

“gwenchana?” Tanya seseorang yang menyelamatkanku. Aku tak bisa melihatnya disini sedikit gelap. Kemudian dia mendekatkan wajahnya kearahku dan mengusapkan darah di bibirku dengan ibu jarinya.

Aku terpana melihatnya, dia….

“mani appo?” tanyanya khawatir. Aku hanya menggeleng lemah. Jantungku semakin berdetak kencang, lebih cepat dari yang tadi. Posisi seperti ini membuatku sedikit, gugup. Tangan kanan minho melingkar di pinggangku dan tangan kanannya sibuk membersihkan luka di bibirku.

DOR

Aku dan minho terperanjak kaget.

“DIAM SEMUANYA, JANGAN ADA YANG BERGERAK” beberapa polisi langsung masuk kedalam kelab dan menangkap pelopor kerusuhan tadi.

“cepat keluar dari sini!” kutarik tanga minho dan mengendap-endap keluar dari tempat ini. Aku sangat hafal dimana letak pintu keluarnya.

“pergilah!” pintaku

“huh? Maksudmu?”

“kau pergilah, aku harus kembali kedalam. Teman-temanku pasti khawatir padaku” jelasku singkat

“andwe! Kita harus pergi bersama!” sergahnya semakin mengeratkan genggaman tangannya

“please…” ucapku lemah. Kutarik tanganku dengan paksa kemudian berlari masuk ke kelab. Saat aku hampir masuk ke dalam kelab tiba-tiba bahuku ditarik oleh seseorang.

“anda harus ikut kami ke kantor polisi” dan saat itu juga tanganku sudah diborgol. SHIT!

“mwo?! Saya tidak salah pak, saya tidak ikut dalam perkelahian tadi! Lepaskan saya!!!!” teriakku sambil meronta-ronta.

“lalu apa ini?” tunjuk pak polisi itu ke ujung bibirku. Polisi itu menyeretku kedalam mobilnya.

***

Aku tertunduk lemas di dalam kantor polisi. Teman-temanku lainnya sudah berada disini. Memang mereka yang kuhubungi pertama kali untuk membantuku dalam masalah ini. Setidaknya mereka bisa dijadikan saksi. Kebetulan juga mereka membawa boss kelab itu, jadi boss itu juga ikut membantuku untuk bisa lepas dari masalah. Dan untungnya aku terbebas dari semua kesalah pahaman ini. Tapi masalah akan menjadi lebih buruk lagi, sepertinya.

“apakah anda sudah menghubungi orang tua anda?” Tanya salah satu polisi kepadaku

“ne… mereka dalam perjalanan menuju kesini” jawabku lemah.

“tenang Yoona kami akan membantumu” ucap joonghyun padaku.

BRAK

Pintu kantor polisi terbuka dengan kasar. Appa datang bersama umma. Hatiku terasa sakit ketika melihat umma menangis dan memelukku erat.

“YOONA!!!!” teriak appaku geram setelah mendengar penjelasan dari pihak polisi tersebut.

“ahjussi, kami bisa jelaskan. Semuanya tidak seperti yang ahjussi pikirkan” ucap onew

“diam kau! Ini urusan keluarga kami, jangan ikut campur!” bentak appa di depan teman-temanku. Kemudian appa menyeretku masuk kedalam mobilnya.

***

“memalukan!!!!!” bentak appa. Kini aku sudah ada didalam rumah. Umma duduk disamping appa sambil menangis. sedangkan yuri, aku yakin dia sedang menguping pembicaraan kami.

“wanita macam apa kau ini??? keluyuran malam-malam? Pergi ke kelab malam? Apa aku pernah mengajarimu seperti ini?!” Tanya appa dengan amarah. Aku tetap diam sambil duduk di lantai di depan appa.

“apa selama ini aku kurang memberikanmu uang sehingga kau bekerja di tempat laknat seperti itu hah????”

“aku tidak pernah menginginkan uangmu” jawabku dingin

PLAK

Pipiku terasa panas. Appa menamparku berkali-kali. Umma semakin menangis histeris dan menahan appa agar tidak memukulku lagi.

“sudahlah, jangan memukulnya lagi. Kumohon, dia anak kita! Huhuhu” teriak umma.

“PERGI DARI HADAPANKU!!!!!” bentak appa. Dengan segera aku keluar dari ruang keluarga dan dugaanku benar. Aku

sedang mendapati yuri berada di balik pintu. Dia menatapku dengan iba.

“tidak perlu mengasihaniku” bisikku tajam. Dan berlalu dari hadapannya.

***

“AAAARRRRRRRGGGGHHHHHHHHH!!!!!!!!!!!!” aku berteriak keras di atap gedung yang kosong.

“BULLSHIT!”

“BRENGSEK!”

“KETERLALUAN!!!!!” angin malam mengiringi amarahku ini. suaraku tercekat, dadaku sesak sekali. kupukul dadaku berkali-kali berharap sesaknya menghilang. tapi yang ada malah air mataku yang keluar tanpa henti. Rasanya sakit sekali.

“KENAPA KALIAN TIDAK PERNAH MENGERTI PEREASAANKU???”

“AKU HANYA INGIN KAU MELIHATKU APPA!!!!!!”

“KENAPA KAU MEMBENCIKU SEPERTI INI?!”

“KENAPA SELALU YURI YANG KAU PUJA-PUJA? AKU JUGA ANAKMU APPA!!”

“aku juga anakmu appa!!!” ucapku frustasi dan terduduk lemas di lantai atap gedung. Aku semakin menangis sejadi-

jadinya.

“appa….”

“appa…”

***

Aku melangkah dengan gontai. Aku sudah tak memiliki tenaga lagi. Dari kemarin malam aku berjalan mengelilingi kota seoul tak tentu arah. Sekarang aku merasa ngantuk sekali dan lemas, perutku belum terisi sama sekali. aku tidak ingin pulang ke rumah. Aku tidak ingin bertemu siapapun untuk saat ini.

Akhirnya kuputuskan untuk pergi ke sekolahanku. Sekarang sudah sore, tidak mungkin onew, joonghyun, key dan taemin ada di studio. Aku bisa tidur disana untuk beberapa saat. Kupaksakan kakiku melangkah menuju ruang studio. Tapi kemudian langkahku terhenti. Aku melihat seorang namja sedang memeluk seorang yeoja. Untuk beberapa saat aku masih terpaku dengan pemandangan dihadapanku ini, dan kemudian aku menyadari bahwa air mataku sudah jatuh. tanpa pikir panjang aku berlari menjauhi mereka.

Belum reda rasa sakit hatiku akibat appaku, sekarang hatiku sudah terluka kembali gara-gara kau, Choi Minho. Kenapa harus bersamanya. kenapa harus bersama eonniku sendiri?! apa tidak ada yeoja lainnya selain yuri?! Aku semakin membencimu Yuri! AKU MEMBENCIMU!!!

***

Aku sedang berdiri di sebuah apartemen yang cukup mewah. Dengan sisa-sisa tenagaku aku masuk kedalam dan segera menuju kamar yang sangat kuhafal. Kutekan bel kamar tersebut berkali-kali. Dan kemudian kudengar suara pintu terbuka.

“omo! Yoona, gwenchana?” Tanya orang itu khawatir sambil menopang tubuhku yang hampir ambruk

“key… jangan beritahu siapa-siapa” bisikku tepat di telinganya. Dan kemudian aku tak sadarkan diri.

***

“morning yoona” sapa seorang namja

Kukerjapkan mataku, mengumpulkan nyawa-nyawaku yang masih melayang. Beberapa menit kemudian aku sudah sadar sepenuhnya.

“morning key” ucapku lemah. key yang ada disampingku membelai rambutku pelan.

“uhmm… kau tidak sekolah?” tanyaku

“aku tidak bisa meninggalkanmu dengan keadaan seperti ini” jawabnya sambilo tersenyum kepadaku

“gomawo key”

“for what?”

“sudah menampungku disini”

“hahaha… no problem baby” dia mencubit hidungku pelan.

“well, sekarang waktunya sarapan. Lihat badanmu sudah seperti orang terkena busung lapar, kantung matamu juga semakin hitam pabo. Kau sudah seperti zombie saja”

“sialan!” aku melempar key dengan bantal.

***

Sudah hampir seminggu aku berada di apartemen key, tentu saja aku juga membolos sekolah. Tidak ada seorangpun yang mengetahuinya. Termasuk onew, joonghyun dan taemin. Yang kulakukan disini hanya melamun dan menangis. entah kenapa aku menjadi orang yang sangat lemah sekarang. Dan kini aku sudah tertangkap basah sedang menangis di kamar.

“ada apa sebenarnya?” tanyanya sambil mengusap air mataku

“jangan membuatku seperti orang yang tidak berperasaan karena membiarkanmu menangis seperti ini” ujar key lagi. Aku tetap menangis tanpa mempedulikan key.

“uljima yoona, aku tidak tahan melihatmu seperti ini” kini key sudah menarikku kedalam pelukannya.

“aku lelah key” ucapku akhirnya

“ aku lelah dengan sikap appaku, sampai-sampai aku sering bertanya pada diriku sendiri apa aku ini anak kandungnya” kepegang dadaku yang terasa sakit sekali

“aku memang berbeda dengan yuri, aku tak sepintar dirinya, aku tidak bisa membanggakan appa seperti yuri. Tapi appa terus saja membeda-bedakanku dengannya. Appa mau agar aku seperti yuri. Tapi aku tidak bisa key” aku menyeka air mataku

“aku tidak tahan dengan semua tuntutan appa, dan akhirnya aku menjadi anak yang brutal seperti ini. aku selalu membuat berbagai macam masalah. Hanya itu yang bisa kulakukan agar appa sadar aku berbeda dengan yuri. Tapi semua itu malah membuat appa membenciku dan tidak menganggapku sebagai anaknya”

“walaupun aku selalu membuat masalah tapi aku berusaha agar tidak menyusahkan appaku. Kuputuskan untuk kerja part time dengan kalian. walaupun aku tau appa bisa memberikanku segalanya tapi aku tidak ingin menghambur-hamburkan uang appaku. Aku ingin hidup mandiri dengan usahaku sendiri. tapi kemarin appa malah menamparku berkali-kali dan tidak ingin melihatku lagi” suaraku semakin tercekat. Air mataku semakin turun dengan deras.

“aku ingin menjadi dokter key. Aku tau pasti semua orang akan menertawakanku dan mengejekku. Aku sadar aku tak sepintar yuri tapi aku selalu berusaha belajar dengan caraku sendiri. kau tau key, setiap pulang manggung aku tidak akan tidur. Aku selalu belajar hingga pagi hari. Itu sebabnya setiap pagi aku selalu tidur di ruang studio. Dan sekarang harapanku itu sudah musnah. Semua usahaku sia-sia key, appa suda tidak menginginkanku lagi. I’m usless, I just nothing key” aku kembali menangis sesenggukan. Key semakin mengeratkan pelukannya.

“ssst, jangan seperti itu yoona. Semua masih menginginkanmu. Kita semua membutuhkanmu. Jangan membuat pengorbananmu selama ini sia-sia yoona. Kau harus tetap menjadi dokter, hanya itu yang bisa kau tunjukkan pada appamu agar dia merasa bangga. Percayalah padaku, dia menyayangimu yoona. Walaupun sikapnya seperti itu, dia masih menganggapmu anaknya sendiri. jadi tenanglah” ucapan key membuatku merasa tenang. Aku mengangguk pelan.

“dimataku kau yang paling hebat” Key mengecup kepalaku sekilas dan kembali memelukku erat hingga aku tertidur dalam

pelukannya.

***

“DIMANA YOONA?!” aku mendengar seseorang masuk kedalam apartemen key. Aku yakin 100% itu suara yuri

“dia tidak ada disini” jawab key. Aku mendengarkan percakapan mereka dibalik pintu.

“BOHONG! KATAKAN DIMANA YOONA SEKARANG?!” teriak yuri frustasi

“kenapa mencariku?” entah setan darimana yang membuatku keluar dari persembunyian. Yuri menatapku dengan tajam kemudian menghampiriku.

PLAK

Dia menamparku cukup keras. Aku tetap diam tak bergeming sedikitpun.

“Hey! Apa-apaan kau yuri?” bentak key

“Diam kau key! Ini bukan urusanmu!” jawab yuri tak mau kalah. Yuri mencengkeram bahuku.

“sampai kapan kau akan seperti ini terus hah? Gara-gara kau umma jatuh sakit pabo! Kau benar-benar pabo yoona!” yuri menangis dihadapanku. Yah baru kali ini dia menangis seperti ini. pikiranku sudah penuh dengan umma. aku merasa berdosa sudah membuat umma jatuh sakit.

“umma sangat menghawatirkanmu” ucapnya lemah dan melepaskan cengkeramannya kemudian berajak pergi.

“semuanya tidak akan selesai jika kau menghindar seperti ini. pulanglah” walaupun pelan aku masih bisa

mendengarkannya. Aku terduduk lemas setelah melihat yuri pergi meninggalkan apartemen key. Key segera memelukku dan menenangkanku.

“ottokhe… ottokhe…” aku menangis sambil menyalahkan diriku sendiri. aku benar-benar bodoh.

***

Malam ini kuputuskan untuk pulang ke rumah. Walaupun perasaan takut masih menyelimutiku, aku takut kehadiranku tidak diinginkan oleh appa. Tapi aku tidak bisa membiarkan umma tersiksa seperti ini.

“kau yakin?” Tanya key saat sampai di depan rumahku

Aku hanya mengangguk pelan.

“kalau ada apa-apa kau harus menghubungiku. Araseo?” ucap key khawatir

“ne. gomawo key” kubuka pintu mobil key. Tapi saat aku akan keluar, key menahan tanganku.

“kau harus kuat yoona” aku tersenyum kepadanya dan memberanikan diri masuk kedalam rumah.

“akhirnya kau pulang juga” aku terlonjak kaget saat mendengar suara yuri

“umma ada di kamar” aku segera berjalan menuju kamar umma.

Kubuka kenop pintu dengan perlahan. Tubuhku terasa membeku saat melihat appa juga ada didalam kamar. Appa menatapku tajam, membuatku ragu-ragu untuk masuk ke dalam. Kupejamkan mataku saat appa mulai berjalan mendekatiku. Aku takut ditampar lagi, tapi ternyata appa malah melewatiku dan keluar dari kamar. aku kembali bernafas lega.

Kulihat umma sedang tidur di ranjangnya. Aku berjalan mendekatinya dan terduduk disampingnya. Tuhan, anak seperti apa aku ini yang sudah membuat ummaku jatuh sakit. Wajah umma pucat sekali, matanya sembab aku yakin umma pasti menangis terus. Dengan tubuh gemetar kuraih tangan umma dan kukecup pelan.

“mianhae umma…” tangisku akhirnya pecah

“mianhae umma…”

“mianhae…”

“yoona…” panggil umma ku pelan. Kutatap umma yang kini sedang memandangku sambil menangis.

“kemari sayang, kemarilah nak” ucap umma sambil merentangkan tangannya. Aku segera berhambur kedalam pelukan umma.

“mianhae umma, mianhae” ucapku sambil terisak

“jangan pergi lagi yoona, jangan tinggalkan umma” ujar umma sambil mengelus rambutku. Aku menangis semakin keras,

dan mengangguk berkali-kali. Aku tidak akan meninggalkanmu umma. hanya umma yang kumiliki saat ini.

***

Keesokan harinya aku tidak berniat untuk pergi kemanapun walaupun ini hari minggu. Kuputuskan untuk menemani umma dirumah. Setelah mandi aku segera turun ke lantai bawah dan sarapan bersama umma. untunglah keadaan umma hari ini membaik, aku lega melihat umma seperti ini.

TING TONG

“biar aku saja umma yang bukain pintu” aku segera berlari dan membukakan pintu.

“errr… anyeong” sapa seseorang dibalik pintu. aku terpaku beberapa detik.

“aku ingin bertemu eonnimu. Apa yuri ada dirumah?” bles! rasanya seperti pisau yang menancap di hatiku. Sakit sekali.

“masuklah” jawabku dingin.

“ada tamu untukmu” ucapku saat melihatnya sudah ada di meja makan bersama umma.

“kau tidak sarapan yoona?” Tanya umma

“nanti saja umma, aku sedang tidak selera makan” teriakku dan segera berlari ke dalam kamar. tentu saja untuk menangis. seharusnya aku tau kenapa dia datang kemari. Seharusnya aku tidak mengharapkannya lagi. Dasar yoona pabo! Kenapa kau suka sekali membuatku sakit hati choi minho? Sesalku dalam hati.

***

1 bulan sudah berlalu. aku dan yang lainnya juga sudah melewati ujian tulis akhir sekolah. Yang lebih menyenangkan aku sudah diterima di universitas kedokteran di seoul. Tapi sampai sekarang aku belum memberitahukannya kepada orang tuaku. Aku masih menunggu waktu yang tepat untuk membicarakan masalah ini di depan semuanya. Well, untuk masalah choi minho aku sudah mencoba untuk melupakannya. Sepertinya dia semakin dekat dengan yuri. Bodohnya aku baru menyadari bahwa aku mencintainya. He is my first love. But now, I’ll try to forget him.

Sekarang aku, onew, joonghyun, key dan taemin sedang berkumpul di studio music sekolah.

“Yeeeeey, kita rayakan keberhasilan bu dokter kita ini” teriak joonghyun sambil mengacungkan sodanya.

“hey, masih calon tau!” ralatku

“oke oke, calon bu dokter” kami semua tertawa bersam mendengar ucapan joonghyun.

“kau akan meneruskan kemana key?” Tanyaku

“uhmm, aku akan masuk jurusan designer. Hehehe” jawab key

“wow, cool” jawab kami serempak

“hey yoona apa kau tidak menanyakan kemana jurusanku dan jurusan onew?” omel joonghyun

“huuuu, mentang-mentang kalian sudah diterima di SM Entertainment” jawabku sewot

“hey, hey…. Tenang saja kalau kita sudah terkenal nanti aku tidak akan lupa pada kalian dan tetap menyayangi kalian”

ujar onew. Yah dia memang leader yang bijaksana.

“huh… semuanya ninggalin aku” ucap taemin sedih kemudian dia menangis yah dia menangis sungguhan. Magnae kami ini memang cengeng sekali walaupun saat di panggung dia terlihat sebagai lelaki sejatio_O

“cup… cup… uljima taemin ahh” ucapku sambil mengelus rambutnya.

“kita kan masih berada di seoul taemin, kita masih bisa berkumpul bersama” jelas key meyakinkan

“yah, kau ini laki-laki! Sudah jangan nangis” ucap joonghyun

“ne ne, araseo! Kalian janji tidak akan melupakanku?” tanyanya polos

“ne, yakso!!!” ucap kami serempak kemudian tertawa bersama.

***

Makan malam kali ini sama saja seperti malam-malam sebelumnya. Hambar.

“kau akan meneruskan kemana yuri?” Tanya appaku

“well, sudah kuputuskan untuk gabung dengan perusahaan appa” jawab yuri sambil tersenyum lebar.

“ini baru anakku” appa memeluk yuri. Aku menatap mereka dengan hati nelangsa. Sementara umma sibuk mengalihkan

perhatianku dari mereka. Bahkan appa tidak menanyakan masa depanku, membuatku kecewa. Sangat!

“aku ingin bicara dengan appa” ucapku setelah selesai makan. appa hanya diam saja kemudian masuk kedalam ruang

keluarga. Umma menatapku khawatir. Aku segera masuk kedalam kamarku dan mengambil beberapa berkas map.

Dengan perlahan aku mendekati appa. Dia tetap tidak menoleh sedikitpun kearahku. Aku menatapnya dengan sedih.

“mianhae appa” ucapku dengan susah payah. Appa langsung menoleh kearahku. Lidahku kelu walau mengucapkan satu kalimat saja. Tenggorokanku terasa tercekat.

“maaf aku tidak bisa membanggakan appa. Maaf aku hanya bisa membuat appa malu karena sudah memiliki anak sepertiku. Maaf aku tidak pernah membahagiakan appa. Maaf aku selalu membuat appa marah. Maaf aku selalu membuat masalah. Bahkan kata maaf tidak cukup untuk menebus dosaku. Maafkan aku appa” aku berlutut dan menangis hebat di depan appa.

“maaf, maaf, maaf, maaf, maaf, maaf…”

“sudah cukup, cukup, jangan meminta maaf lagi nak. Appa juga salah!” appa memelukku erat. bahuku terasa basah, ya Tuhan appa menangis.

“maafkan appa yang tidak pernah memahami perasaanmu. Maaf apa selalu menyamakanmu dengan yuri. Maaf appa selalu memarahimu. Maafkan appa sudah memukulmu nak. Maafkan appa” appa menangis di depanku. Baru kali ini aku melihat appa menangis. aku memeluknya lagi. Sudah lama sekali aku tidak memeluk appa seperti ini. dan aku berjanji ini terakhir kalinya aku melihat appa menangis.

Setelah beberapa menit, akhirnya kami sudah mulai tenang.

“ini untukmu appa?” aku menyodorkan map kepadanya. Appa tampak bingung tapi tetap membuka map itu. Appa membelalakkan mata saat mengetahui isi map itu kemudian kembali menangis.

“kau memang anakku yoona. Appa bangga kepadamu. Bangga sekali! appa tidak pernah sebahagia ini. selamat sayang kau akan menjadi dokter” appa memelukku hangat. Ini yang kuharapkan, terima kasih Tuhan. Aku tersenyum lega di pelukkan appa.

***

Kupejamkan mataku dan menhirup udara dalam-dalam. Kubiarkan tubuhku diterpa angin. Aku merasa baru dilahirkan kembali di dunia ini. Hidupku tanpa beban sekarang.

“hai…” kubuka mataku dan mendapati seorang namja sudah berada disampingku. Diatas atap sekolah.

“tidak merayakan kelulusan bersama teman-temanmu?” aku tetap tak mempedulikannya.

“mau apa kau kesini, yuri tidak bersamaku sekarang” ucapku dingin

“aku sedang mencarimu, bukan yuri” jawabnya enteng, kemudian dia menggenggam tanganku. Aku menatapnya dengan

bingung. Apa-apaan ini?

“aku ingin mengatakan sesuatu padamu?” jawabnya lembut. Kucoba melepaskan tanganku tapi tak bisa.

“saranghae” aku bisa mendengarkan suaranya dengan jelas. Aku terbelalak tak percaya. lelucon apa lagi ini. memang aku mencintainya tapi aku tak mau berpacaran dengan namja yang suka mempermainkan hati wanita.

“Hah, you say what??? Apa kau tidak puas hah dengan eonniku?? sekarang kau malah menyatakannya kepadaku. kau brengsek choi minho!” kudorong tubuhnya kuat-kuat, aku berlari sambil menahan air mataku. Entah mengapa aku malah merasa sakit hati mendengar pernyataannya itu, ternyata kau lelaki bajingan choi minho!

***

Aku sedang meringkuk di atas ranjangku. Ponselku terus saja berdering sejak tadi, nomor yang tidak dikenal tapi aku yakin itu pasti minho. Aku semakin tak kuasa menahan tangisku.

“hey… boleh aku masuk” ternyata itu yuri. Aku segera menyeka air mataku dan membuang muka

“wae?” tanyaku datar

“kenapa kau menangis”

“bukan urusanmu!” jawabku dingin. Dia menghembuskan nafas sebentar.

“well, I know everything about you and minho” aku mengerutkan dahi, bingung dengan ucapan yuri. Dadaku mulai berdegup tak karuan. Aku takut menerima semua kenyataan ini.

“kenapa tidak kau terima saja dia?” tanyanya to the point. Oh gosh! Wajarkah bila yuri menanyakan hal ini kepadaku? kutelan ludahku dengan susah payah.

“mana mungkin aku mengambil kekasihmu sendiri. hahahaha” aku tertawa hambar. Tidak ada respon dari yuri tapi sedetik kemudian dia tertawa keras.

“HAHAHAHAHA… kau yeoja ter bodoh yang pernah kutemui, hey kau tau darimana aku berpacaran dengan minho?” tanyanya sambil menahan tawa

“YAA! Aku tidak bodoh tau! Kau pikir aku tidak tau hah?! Aku melihatmu berpelukan dengan minho saat di sekolahan, dia juga mulai sering kemari menemuimu! Apa itu bukan bukti yang jelas?” jawabku terbawa emosi.

“mwo? Jadi saat itu kau ada di sekolah juga??? Aish, kenapa aku tidak menemukanmu! Yah, ternyata kau tidak hanya bodoh, tapi pemikiranmu juga sangat sempit sekali!” kali ini dia menjitak kepalaku. Yah untuk pertama kalinya! Sialan!!!! Ingin kutendang dia ke neraka!

“kau tahu, saat itu aku sedang mencarimu kemana-mana. Umma jatuh pingsan dan terus memanggil namamu, aku tak tega melihatnya seperti itu. minho memelukku karena aku menangis putus asa gara-gara tidak menemukanmu! Dan yang terpenting aku tidak berpacaran dengannya!” jelasnya membuatku shock setengan mati

“memang minho sempat mendekatiku, tapi ternyata dia mendekatiku hanya untuk mengorek informasi tentangmu. Yah awalnya aku kecewa juga sih, aku gak nyangka sang idola macam dia bisa menyukaimu” dia tertawa mengejek. Kali ini gentian ku getok kepalanya.

“dia sangat khawatir saat tau kau kabur dari rumah, dia membantuku mencarimu kemana-mana. Dan akhirnya saat aku memberitahukannya bahwa kau kembali ke rumah tau-tau besok paginya dia uda datang kemari. Dan bodohnya dia tetap menjadikanku tameng untuk bertemu denganmu! Ckckck” yuri menggeleng gelengkan kepalanya.

“dia benar-benar berbeda dari yang kubayangkan. Gelar mr.cool langsung sirna saat dia berhadapan denganmu! Hahahaha, seharusnya kau melihat tampangnya saat mengetahui kau kabur dari rumah. Dia seperti cacing kepanasan sibuk mencarimu kemana-mana. Dia menjadi sangat cerewet bila menceritakan hal tentangmu. Dan saat itu aku menyadari bahwa dia sangat mencintaimu”

“apa kau tidak menyukainya?” aku bertanya dengan hati-hati. Dia melamun sesaat kemudian tersenyum tulus.

“pada awalnya aku sempat menyukainya, tapi saat aku tau dia menyukaimu kubuang jauh-jauh perasaanku itu. dan aku yakin saat ini kau juga sangan mencintainya bukan? Ternyata usahaku tidak sia-sia untuk merelakannya padamu” jawabnya membuatku lega.

“by the way, chukkae! aku tak mengangka miss trouble maker ini bisa jadi seorang dokter” dia mengulurkan tangannya dan kubalas dengan senang hati.

“gomawo eonni” dia sedikit kaget saat aku memanggilnya dengan sebutan ‘eonni’. Seumur hidup baru kali ini aku memanggilnya seperti itu. kemudian dia memelukku erat.

“kenapa tidak dari dulu saja kita seperti ini. aku merasa kita lebih pantas bersikap seperti ini daripada selalu bermusuhan setiap hari. Mianhae” ucapnya dengan suara terisak. aku hanya mengangguk dan ikut menangis bersamanya.

“well, cepat kau temui minho sebelum dia mati kedinginan. Aku tau dia masih menunggumu di atap sekolah. Minho sangat keras kepala, dia tidak akan main-main bila itu tentangmu!” gertak yuri menyadarkanku. Aku segera mengambil jaket dan berlari keluar dari kamar. tapi aku ingat akan sesuatu dan kembali menemui yuri di kamarku.

“kau tau, ini pertama kalinya kita berbicara dalam waktu lebih dari 5 menit! Rekor untuk kita, dan kuharap ini akan terus berlanjut selamanya, thank you sist!” kulambaikan tanganku kepadanya. Dia tertawa mendengar ucapanku.

***

Aku terus berlari menuju sekolahku, kulihat senja mulai menampakkan semburat sinarnya. Kunaiki tangga menuju atap sekolah dengan susah payah. keringat terus menetes di tubuhku. Aku tak peduli, yang kuinginkan hanya segera bertemu dengan minho!

BRAK

Kudorong pintu atap dengan keras, dan aku mendapati seorang namja duduk meringkuk sambil memandang ponselnya. Minho segera berdiri saat menyadari kehadiranku. Segala pikiran berkecamuk dalam benakku, aku tak tau harus berbuat apa. Kemudian minho berjalan kearahku.

“Yoona, aku bisa jelaskan semua ini kepadamu. Ini hanya salah paham. Aku dan eonnimu hanya…” belum sempat dia melanjutkan ucapannya aku sudah berlari dan memeluknya erat.

“cukup jangan diteruskan, aku sudah tau semuanya” kutarik nafasku dalam-dalam.

“kau yakin ingin memiliki kekasih sepertiku?” tanyaku padanya

“kalau tidak yakin tidak mungkin aku rela menunggumu sampai sekarang”

“kau tau aku selalu membuat masalah?”

“sangat tau!” jawabnya mantap

“kau tau aku tak secantik yuri?” dia hanya mengangguk sambil tertawa kecil

“kau yang tercantik dimataku”

“kau tau aku tak sepintar yuri?”

“aku tau bu dokter” jawab minho sambil menekankan kata bu dokter

“kau tau ak…”

“sssst! Bagiku kau lebih segalanya dari pada yuri dan yeoja-yeoja lainnya!” ucapnya sambil menutup mulutku dengan jari telunjuknya.

“tidak ada yang bisa kau banggakan dariku” ucapku sambil menatapnya lekat-lekat

“aku bangga memiliki yeoja chingu pabo sepertimu” aku tertawa mendengar jawabannya.

“sudah hampir malam, ayo pulang” aku berjalan meninggalkannya yang masih diam ditempat.

“yaa! Kau belum menjawab pertanyaanku tadi!” gerutunya sambil berjalan disampingku

“pertanyaan yang mana?” tanyaku pura-pura tak tau

“aaaiisshh… apa aku harus mengucapkannya lagi?” wajahnya memelas, aku ingin tertawa melihatnya.

“saranghae” ucapku cepat dan berlari meninggalkannya

“apa??? Kau bilang apa tadi????” teriaknya dibelakangku

“tidak ada siaran ulang, lalalala” ucapku sambil tertawa, tiba-tiba…

CUP

Dia mencium pipiku dan berlari meninggalkanku. Kini giliran aku yang berdiri mematung tak percaya.

“jagi, sampai kapan kau akan berdiri disini terus? Atau aku harus menciummu lagi untuk menyadarkanmu?” minho mengedipkan matanya.

“aaarrrgggh! Kau nakal sekali minho!!!!” aku berlari mengejarnya, sementara minho terus saja menertawakanku.

Sepertinya tahun ini adalah tahun terindah untukku. Aku sudah mendapatkan kembali keluargaku yang utuh dan menyayangiku. Aku akan menjadi dokter yang sudah menjadi cita-cita terpendamku sejak kecil. Aku masih ditemani oleh sahabat-sahabat yang sangat kucintai. Dan tentu saja yang lebih indah dari itu semua adalah aku mendapatkan kekasih yang mencintaiku apa adanya. Terimakasih Tuhan🙂

FIN

29 thoughts on “Miss Trouble Maker

  1. Omo… Keren keren😄
    Awalnya bener bener sad.. Itu seakan semua nggak berpihak ke Yoong eonnie.. Aigoo..
    Tapi akhirannya sweet banget..😄
    Rada kesel sih sama Mino oppa yang jadiin Yul eon tameng, ampe salah paham kan tuh Yoong eonnie..
    Kukira Key oppa suka sama Yoong eonnie, tapi nggak tau deh (?)
    Dan, ehmm, mian baru comment, baru ketemu FF ini, aigoo aku ketinggalan banget ya.. –‘
    Okelah, lanjut bikin FF bagus lagi ne thor?’-‘)9

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s